Claim Missing Document
Check
Articles

Koreografi dan Fungsi Tari Gagrak Maritim di Kampung Seni Kota Tegal Zairani, Ero Siska; Cahyono, Agus
Jurnal Seni Tari Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v9i2.40473

Abstract

Tari Gagrak Martim merupakan tari kreasi baru yang didalamnya termuat konsep, teori maupun prinsip-prinsip koreografi. Mempelajari Tari Gagrak Maritim berdasarkan koreografinya merupakan penelitian mengenai bentuk atau konsep tekstual. Fungsi tari sebagai media pendidikan kemudian dapat menjadi bahasan konsep kontekstual pada penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan koreografi dan fungsi Tari Gagrak Maritim di Kampung Seni Kota Tegal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengemukakan bahwa koreografi Tari Gagrak Maritim terdiri dari bentuk dan proses koreografi. Bentuk Tari Gagrak Maritim meliputi gerak, tema, pola lantai, iringan, tata rias, tata busana dan properti. Proses koreografi Tari Gagrak Maritim meliputi proses eksplorasi, improvisasi dan komposisi. Fungsi Tari Gagrak Maritim meliputi fungsi multilingual, multidimensional dan multikultural.
A Revitalization of Tandhakan Wedok Dance in Jatiguwi Village, Sumberpucung District, Malang Regency Prima, Empiri Tahya; Cahyono, Agus; Jazuli, Muhammad
Catharsis Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v9i2.39850

Abstract

Tandhakan Wedok Dance grows and develops in the Jatiguwi Village environment. This dance has already existed since 1930 and it does not know who its creator. However, the Tandhakan Wedok Dance was inactive in 1932-1990. Around 1990 the Tandhakan Wedok Dance was just remade by Mbah Madyo and Mbah Chatam. The purpose of this study is to describe, analyze, and interpret narratively about a revitalization of Tandhakan Wedok Dance by using an anthropological dance approach. This study is focused on the Tandhakan Wedok Dance, including the revitalization of the Tandhakan Wedok Dance with the research location of Jatiguwi Village, Sumberpucung District, Malang Regency. The techniques used for the data collection in this study are observation, interviews, and documentation. The results of the research are as follows: the stages of the revitalization process which consists of reformulating new views, communication, organization, adaptation, cultural transformation, and routines. The Tandhakan Wedok Dance presentation consists of movement, music accompaniment, make-up and clothing, and floor patterns. The Tandhakan Wedhok Dance movements are divided into elements of motion which are divided into four, consisting of elements of the head, hands, body, and feet. The motion motives consist of 25 motives of motion. The motion phases are divided into 20 phrases. Sentences of motion/ types of movements of the Tandhakan Wedok Dance namely stationary motion, various motor movements, and various connecting motion. Paragraphs or motion groups have three groups, namely gawang forward, core, gawang backward. 15 musical instruments used in the Tandhakan Wedok Dance. The makeup used is beautiful makeup and for fashion, namely cundhuk penthul, sunggar, jasmine flower, suweng, necklace, long cloth for dodotan, belt, sampur/ shawl, and jarik. There are nine floor patterns of the Tandhakan Wedhok dance.
Community-Based Art Education as a Cultural Transfer Strategy in the Jaran Kepang Art Performance of Semarang Regency Kusumastuti, Eny; Rohidi, Tjetjep Rohendi; Hartono, Hartono; Cahyono, Agus
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 21, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v21i1.30181

Abstract

Jaran Kepang Semarangan is a community based art product. It is a product that has existed in between generations. This research reviews community-based art education as a means to transfer the culture of Jaran Kepang performance. This research is qualitative research with an interdisciplinary approach of sociology to discuss community-based art education and anthropology to dig deeper into the system of knowledge, values, and beliefs within the performance of Jaran Kepang. The research includes a field study in Semarang Regency. The researchers collected the data through observation, interviews, and documentation. The researchers validated the data through triangulation of technique, sources, theory, and times. The data were analysed based on the theories of Janet Adshead along with Miles and Huberman. The research finds that 1) there is a change of community-based art education, including the system of knowledge, values, and beliefs; 2) the transfer of Jaran Kepang is similar to the theory of Cavalli-Sforza and Feldman under the scheme of AGIL (Adaptation, Goal-attainment, Integration, Latent-pattern-maintenance). There is a shift of inheritance system which is from vertical transmission (intergeneration of family) to horizontal transmission or planned regeneration via social media, training, and performance; 3) the development of Jaran Kepang Semarangan is categorized into five types, which are ritualistic ceremony; entertainment of people who hold events, such as marriage, circumcision, gratitude events; rayonan; and entertainment in tourist attraction, cultural festival, or dance competition.
Dampak Program Kemitraan terhadap Kelayakan Usahatani dan Pendapatan Petani Jagung di Kecamatan Sumberpucung, Jawa Timur Hamyana, Hamyana; Cahyono, Agus; Rahmi, Ainu
Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v5n1.2021.p79-90

Abstract

One of the problems faced by maize farmers in Sumberpucung District, Malang, East Java, is the relatively small scale of the business, which has implications for high production costs. Efforts that can be taken to resolve these problems include a partnership pattern. This study aims to determine the feasibility of a partnership pattern and to analyze its effect on the income of maize farmers in Sumberpucung District. The research method is survey. Marginal benefit cost ratio (MBCR) analysis aims to determine the feasibility of partnership pattern farming and simple linear regression analysis is used to determine the effect of partnerships on income. The research object is the maize farmers who have partnered and who have not partnered in Sumberpucung District. The sampling technique used stratified proportional random sampling with a sample size of 76 people who were determined using the Slovin formula. The results showed that the income of partnership-patterned maize farmers was greater than that of non-partnership maize farmers with a difference of Rp. 7,573,000 / ha. Analysis of the marginal benefit cost ratio (MBCR) with a value of 9.98 (> 1) proves that the partnership pattern of maize farming is feasible to apply. This means that each additional cost of Rp. 1 will increase the benefits of farmers by 9.98. Regression analysis shows that the partnership has a significant effect on the income of maize farmers. Hypothesis testing shows the significance value of the partnership variable is 0.000 (<0.05). Thus H_1 is accepted, which means that the partnership has a significant effect on farmers’ income.
NILAI BUDAYA DALAM PERTUNJUKAN RAPAI GELENG MENCERMINKAN IDENTITAS BUDAYA ACEH Verulitasari, Esti; Cahyono, Agus
Catharsis Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertunjukan Rapai Geleng sebagai salah satu kesenian tradisi Aceh, merupakan hasil kesatuan antara agama dengan kebudayaan. Hal ini menjadikan Rapai Geleng bagian dari kehidupan masyarakat Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memahami identitas budaya Aceh yang tercermin pada pertunjukan Rapai Geleng. Metode yang digunakan kualitatif dengan pendekatan Antropologi Budaya. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi dan teknik analisis data yang digunakan mengikuti langkah analisis model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pertunjukan Rapai Geleng, terbukti sebagai cerminan identitas budaya Aceh. Dari beberapa nilai budaya yang telah dijelaskan,sebagian masuk dalam faktor pembentuk identitas budaya berdasarkan kepercayaan, bahasa, dan pola prilaku. Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai-nilai budaya yang terdapat dalam pertunjukan Rapai Geleng merupakan refleksi atau cerminan dari kehidupan masyarakat Aceh yang merupakan identitas budaya Aceh.
NILAI BUDAYA PERTUNJUKAN MUSIK TERBANGAN PADA MASYARAKAT SEMENDE Septiana, Opta; Sumaryanto, Totok; Cahyono, Agus
Catharsis Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terbangan sebagai musik pengiring nyanyian yang berisi tentang pujian kepada Nabi Muhammad Saw untuk mengingatkan dan memberikan nasihat yang baik kepada pelaku maupun penonton. Pertunjukan musik terbangan dikemas sesuai dengan aturan adat istiadat masyarakat Semende sehingga tercermin nilai-nilai budaya pada setiap aktivitas sebelum pertunjukan, pada saat pertunjukan dan setelah pertunjukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memahami nilai budaya yang terkandung dalam pertunjukan musik terbangan pada prosesi pernikahan adat tunggu tubang masyarakat Semende. Metode yang digunakan pada penelitian ini metode kualitatif dan pendekatan Antropologi Seni. Sumber data pada penelitian ini menggunakan sumber primer dan sekunder dengan teknik perngumpulan data observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknik keabsahan data yang digunakan yaitu triangulasi sumber sedangkan teknik analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, penyajian data, dan memverifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya tercermin dalam pertunjukan musik terbangan tercermin ketika manusia berhubungan dengan lima aspek yaitu tuhan, manusia, alam, kerja dan waktu sehingga menghasilkan nilai religi, tanggung jawab, gotong royong, solidaritas, nilai ekonomi dan nilai cinta budaya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi masyarakat kedepannya.
Makna Simbolik Pertunjukan Linda dalam Upacara Ritual Karia di Kabupaten Muna Barat Sulawesi Tenggara Ardin, Ardin; Cahyono, Agus; Hartono, Hartono
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17032

Abstract

Linda merupakan tarian tradisional suku Muna yang disajikan ketika puncak upacara ritual karia atau pingitan. Pertunjukan Linda juga sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada para penonton yang telah membantu kelancaran acara, rasa syukur kepada para peserta karia yang telah melewati tahapan ritual yang begitu rumit dan sebagai simbol pembersihan diri bagi gadis-gadis karia atau pingitan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik pertunjukan Linda dalam upacara ritual karia di Kabupaten Muna Barat Sulawesi Tenggara. Metode yang digunakan kualitatif dengan pendekatan Antropologi Seni, Sosiologi Seni dan Pendidikan Seni. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi dan teknik analisis data yang digunakan adalah melakukan interpretasi berdasarkan konsep pertunjukan, gaya, isi tarian, dan konsep interpretasi spesifik. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertunjukan Linda mempunyai makna sebagai proses pendewasaan, pembersihan seorang gadis remaja dan sebagai simbol moral atau etika. Linda is the traditional dance in tribe Muna that serves in the peak of Karia ceremony. The performance of karia is to represent thankgiving to the spectators that has assisted the best performances, blessing toward karia actors who have decreased complicated steps in the ritual and as the symbol of ritual for the karia girls. This study aimed at describing symbolic meaning from performance of karia in District West Muna, Southeast Sulawesi. The method of this study was qualitative with art education approach. The techniques of collecting data were observation, interview, and documentary study. The triangulation used interpretation based on concept of performance, style, content of dance, and concept of specific interpretation. The result indicated that performance of Linda has the meaning as the process of maturation, ritual for girls, and as a symbol of ethics.
Proses Kreasi Tari Alusu’ sebagai Tari Penyambutan di Kabupaten Bone Imran, Fitrya Ali; Cahyono, Agus; Rohidi, Tjetjep Rohendi
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17033

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses kreasi sebagai tari penyambutan di Kabupaten Bone. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data secara menyeluruh menggunakan prosedur analisis Miles dan Huberman yang dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan, untuk teknik analisis tari menggunakan prosedur Jannet Adshead yaitu Discerning dan Describing. Hasil penelitian ditemukan bahwa proses kreasi dilakukan pada tahun 2005 oleh koreografer Abdul Muin, dan dibantu oleh Andi Youshand selaku budayawan dan Andi Mappasissi selaku pemangku adat dalam hal menemukan ide. Melalui proses kreasi yakni eksplorasi, improvisasi dan komposisi, tari Alusu’ terbentuk menjadi delapan ragam gerak di antaranya, Mappakaraja, Sere Alusu’, Sere Bibbi’, Sere Mangkok, Sere Massampeang, Sere Maloku, Sere batita, dan Pabbitte. Gerakan yang dihasilkan dengan karakter gaya gerak Abdul Muin sebagai penari Bissu, dan dipengaruhi oleh keadaan geografis Kabupaten Bone, sehingga menghasilkan gerak yang lebih dinamis. Di sisi lain, elemen pendukung tari Alusu’ seperti musik iringan, kostum, tata rias, properti, dan desain lantai disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. This study aims at describing creation process as a welcoming dance in Bone Subdistrict. This study is qualitative in nature. The data are collected through observations, interviews, and documentations study. The data analysis techniques apply Miles and Huberman’s procedures, starting from data collection; data reduction; data presentation; and data verification or drawing conclusion. Meanwhile, dance analysis techniques utilize Jannet Adshead’s ones which are discerning and describing. The results show that creation process was done in 2005 by Abdul Muin as the choreographer, collaborated with Andi Youshand as cultural observer and Andi Mappasissi as local custom leader in finding ideas. Through the creation process covering exploration, improvisation, and composition, Alusu’ dance was formed in eight moves that are Mappakaraja, Sere Alusu’, Sere Bibbi’, Sere Mangkok, Sere Massampeang, Sere Maloku, Sere batita, and Pabbitte. The moves are characterised by the style of Abdul Muin’s as Bissu dancer, also influenced by Bone’s geographical condition, which finally make those more dynamic. Besides, some other additional elements such as music, costume, make up, properties, and floor design are adjusted by current people’s need.
Wayang Kulit Wong Lakon Menjunjung Langit Mencium Bumi : Kajian Teks Pertunjukan Arisyanto, Prasena; Cahyono, Agus; Hartono, Hartono
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17034

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pertunjukan Wayang Kulit Wong pada lakon Menjunjung Langit Mencium Bumi. Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Penelitian difokuskan pada lakon Menjunjung Langit Mencium Bumi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan konsep bentuk pertunjukan dengan empat langkah analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa Wayang Kulit Wong merupakan bentuk pertunjukan yang baru. Wayang Kulit Wong merupakan gabungan dari pertunjukan wayang wong dan wayang kulit purwa. Wayang Kulit Wong dapat dipentaskan oleh siapapun, dimanapun, kapanpun tanpa ada syarat tertentu. Cerita yang dibawakan bisa bersumber dari berbagai hal. Musik pengiring dapat dipilih sesuai dengan kreativitas sutradara. Wayang Kulit Wong merupakan contoh pengembangan seni tradisi. Wayang Kulit Wong juga dapat digunakan sebagai materi apresiasi dan kreasi seni pada bidang pendidikan seni. The purpose of this research is to analyze the performances of the Wayang Kulit Wong on Menjunjung Langit Mencium Bumi story. Qualitative research method used in this study. The research focused on Menjunjung Langit Mencium Bumi story. The data collection techniques used are observation, interviews, document studies. Technique of the data analysis using the concept of form performances with four steps of data analysis. The research result indicates that Wayang Kulit Wong is a form of new performances. Wayang Kulit Wong is a combination of performing wayang kulit purwa and wayang wong. Wayang Kulit Wong can be performed by anyone, anywhere, at any time without any specific terms. The story presented is sourced from various things. Music accompanist can be selected in accordance with the director's creativity. Wayang Kulit Wong is an example of the development of artistic traditions. Wayang Kulit Wong can also be used as a matter of appreciation and creation of art in the field of art education.
Nilai-nilai Piil Pesenggiri pada Tari Melinting di Desa Wana Lampung Timur Juwita, Dwi Tiya; Cahyono, Agus; Jazuli, Muhammad
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17035

Abstract

Tari Melinting merupakan tari tradisional Lampung.ciri khas kebudayaan Lampung Timur yang sampai saat ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan implementasi nilai-nilai Piil Pesenggiri pada tari Melinting. Penelitian ini menggunakan pendekatan interdisiplin dengan melibatkan disiplin ilmu Antropologi Seni dan Sosiologi Seni. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara, dan studi dokumen. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, nilai-nilai Piil Pesenggiri yang diimplementasikan pada tari Melinting tertuang ke dalam piil, nemui nyimah, nengah nyappur, bajuluk beadek, dan sakai sambaian. Nilai-nilai tersebut antara lain, nilai religius, harga diri, kerja keras, sopan santun, toleransi, komunikatif, intelektual, kebersamaan, kesamaan, menghargai alam, prestise, tanggung jawab, tolong menolong, adil, dan bijaksana. Melinting dance is a hallmark of East Lampung culture that today, still continues to be preserved by it local community. This thesis aims to discover the symbolic meaning and the Piil Pesenggiri values inside of Melinting dance. The research uses an interdisciplinary approach involving Anthropology and Sociology of Art dicipline of science. The method used is a qualitative method. Data collection techniques consist of observation, interview and document study. Data authenticity technique used triangulation techniques. Data analysis technique is conducted by reducing the data, presenting the data, and drawing conclusions. The researching results shows that, the values of Piil Pesenggiri implemented on Melinting dance implied inside the piil, nemui nyimah, nengah nyappur, bajuluk beadek, and sakai sambaian. Those values are the religiouness, dignity, hard work, good manners, tolerance, communicative, intellectual, togetherness, equality, respect for nature, prestige, responsibility, helping each other, fair, and wise.
Co-Authors A, Heryanto AA Sudharmawan, AA Adi Prasetyo, Alfian Eko Widodo Adi, Brian Trinanda Kusuma Afwa, Mughny El. Agus Utomo Akhmad Rizqon Khamami Amsari, Uli Andri Pranolo ANGGRAINI, ERNA Arbi, Bahtiar Ardin Ardin, Ardin ARIF HIDAJAD Arista Pratama, Pande Putu Yogi Arisyanto, Prasena Arisyanto, Prasena Ary, Deasylina da Astari, Andi Tenri Juli Astuti , Yuli Tri Astuti, Andi Arie Astuti, Yuli Tri Atikoh, Alisahatun Bin Saearani, Muhammad Fazli Taib Bintang Hanggoro Putro Candra, Ronald Dewi, Asfarah Karina Dewi, Ikasari Minali Djuli Djatiprambudi Dwi Tiya Juwita Efrizal Eko Raharjo Eko Sugiarto Eny Kusumastuti Esti Verulitasari, Esti Evadila Evadila Fahruddin, Ari Irfan Fallah, Saiful Guntaris, Endik Hadinata, Vanda Hamyana Hapsari, Priska Diyan Hartono Hartono Hartono, Rudi HERA, TRENY Hosaini, Hosaini I Wayan Adnyana Ibnan Syarif, M Ida Zulaeha Ikha Sulis Setyaningrum Imran, Fitrya Ali Imran, Fitrya Ali Iryanti, Veronica Eny Jazuli, Jazuli Jazuli, Muhamad Julitasari, Putri Ajeng Wulan Kurniati, Fatia Kusumaningtyas, Chandra Dewi Lestari , Wahyu M Jazuli M. Jazuli Malarsih Malarsih Malarsih, M Muhammad Fazli Taib Bin Saearani, Muhammad Fazli Muhammad Jazuli Murtiyoso, Onang Nadia Sigi Prameswari Nike Suryani nirwanto, bagus Notosutanto Arhon Dhony, Nugroho Nur Sahid Opta Septiana, Opta Oriana Tio Parahita Nainggolan Pahlawi, Lukman Ahmad Imron Pantjawati Sudarmaningtyas Pratama, Pande Putu Yogi Arista Prima, Empiri Tahya Rahmi, Ainu Rohman, Fadlur Saputra, Dani Nur Saragih, Febi Ariani Setyaningrum, Gus Miyana Nela Solly Aryza SUHARTO Suharto Suharto Sularso Sularso, Sularso Sumasno Hadi Sunarto Sunarto Suparti Suparti suryaningrum, Feradilla anggun Suwardi Suwardi Syah Sinaga, Fajry Sub'haan Syahrul Syah Sinaga syakir syakir Syarif, M. Ibnan Taqi, Ahmad Yazid Teguh Teguh Tjetjep Rohendi Rohidi, Tjetjep Rohendi Totok Sumaryanto, Totok Udi Utomo Vivine Nurcahyawati Wadiyo Wadiyo Wahyu Lestari Wandah Wibawanto Widodo Widodo Yanti, Meipur Zairani, Ero Siska Zakiyati, Nur Muaffah