Kekerasan dalam pacaran merupakan fenomena yang mengkhawatirkan di kalangan mahasiswa, sering kali dinormalisasi dan dipertahankan meski menimbulkan dampak buruk. Penelitian kualitatif fenomenologis ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman mahasiswi di Kota Padang yang bertahan dalam hubungan pacaran penuh kekerasan, dengan fokus pada peran disonansi kognitif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tiga partisipan dan dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Temuan penelitian mengungkap bahwa partisipan mengalami berbagai bentuk kekerasan (verbal, fisik, psikologis, seksual) dan kontrol yang sistematis. Untuk meredakan ketegangan psikologis antara keyakinan akan hubungan yang dicintai dan realita disakiti, mereka melakukan mekanisme reduksi disonansi kognitif, seperti merasionalisasi kekerasan sebagai hal wajar, memaknai kontrol sebagai perhatian, dan membenarkan ketahanan hubungan berdasarkan investasi emosional atau finansial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa normalisasi kekerasan merupakan strategi kognitif aktif untuk mempertahankan konsistensi psikis. Implikasinya, intervensi pencegahan perlu menjangkau aspek restrukturisasi kognitif di samping edukasi tentang relasi sehat.