Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Perbandingan Penentuan Formula Tinggi Badan Berdasarkan Panjang Telapak Tangan Antara Suku Batak Toba Dengan Suku Sunda Zansen, Jakaria; Ingrid Marbun, Doaris; Lubis, Adriansyah; Herawati, Netty; Simatupang, Panusunan
Journals of Ners Community Vol 14 No 2 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i2.2636

Abstract

Tinggi badan sebagai hasil pengukuran maksimum dari panjang tulang-tulang tubuh yang membentuk poros tubuh (the body axis), diukur dari puncak kepala (vertex) ke titik terendah tubuh dari tulang kalkaneus (tuberositas calcanei) yang disebut tumit (heel).Tinggi badan merupakan salah satu parameter dari pertumbuhan dan kesehatan manusia. Antropometri merupakan pengukuran terhadap manusia. Pada umumnya pengukuran tinggi badan korban pada proses identifikasi forensik adalah hal yang mudah, jika kondisi tubuhnya utuh, ataupun potongan-potongan tubuhnya lengkap, sehingga dapat disusun dan dilakukan pengukuran tinggi badan. Metode dalam antropologi forensik yaitu dapat digunakan untuk identifikasi ialah antropometri yaitu dengan cara mengukur bagian-bagian tubuh. Pengukuran antropometri berdasarkan tinggi badan, panjang dan lebar kepala, sidik jari, bentuk hidung, telinga, dagu, warna kulit, warna rambut, tanda pada tubuh, serta DNA.Penelitian ini adalah penelitian deskritif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Menggunakan sampel dua suku di indonesia yaitu suku sunda dan batak toba yang telah memenuhi kriteria inklusi. Total sampel adalah 94 sampel, dimana yang diambil pada sampel adalah tinggi badan dan panjang telapak tangan.Formula untuk merumuskan tinggi badan berdasarkan panjang telapak tangan adalah : Suku Sunda dengan jenis kelamin Laki-laki : Tb (laki-laki)= 60.427 + 6.017 (panjang telapak tangan kanan), Tb (laki-laki)= 56.151 + 6.253 (panjang telapak tangan kiri). Jenis kelamin perempuan : Tb (perempuan)= 104.409 + 3.131 (panjang telapak tangan kanan), Tb (perempuan)= 107.486 + 2.937 (panjang telapak tangan kiri), Suku Batak Toba dengan jenis kelamin laki-laki Tb (laki-laki)= 67.558 + 5.604 (panjang telapak tangan kanan), Tb (laki-laki)= 66.824 + 5.645 (panjang telapak tangan kiri). Jenis kelamin perempuan :Tb (perempuan)= 95.287 + 3.686 (panjang telapak tangan kanan) Tb (perempuan)= 99.139 + 3.441 (panjang telapak tangan kiri).
Perbedaan Pola Sidik Bibir Pada Suku Batak Dan Suku Jawa Di Kecamatan Medan Selayang Kota Medan Nicomama Hutabarat, Bartimeus; Lubis, Adriansyah; Arviandi, Rizki; Gafar Parinduri, Abdul; Herawati, Netty
Journals of Ners Community Vol 14 No 3 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i3.2830

Abstract

Angka kejadian bencana massal di Indonesia meningkat dalam beberapa tahun terakhir, baik yang disebabkan oleh alam maupun faktor kelalaian manusia. Pentingnya peran identifikasi telah diatur dalam peraturan Undang-Undang No. 36 tahun 2009 pasal 118 ayat pertama, bahwa setiap dokter harus bersedia membantu proses identifikasi korban jika diminta oleh penyidik. Sidik bibir merupakan suatu pola berupa celah atau fisur yang terdapat pada permukaan mukosa bibir. Sidik bibir merupakan suatu pola berupa celah atau fisur yang terdapat pada permukaan mukosa bibir. Ilmu yang mempelajari tentang pola sidik bibir disebut Cheiloscopy. Sidik bibir digunakan untuk identifikasi individu karena memiliki sifat unik dan stabil. Dalam suatu kasus kriminal, sidik bibir dapat tertinggal, pada gelas kaca, jendela kaca, sedotan limun, dan beberapa objek lain yang terdapat pada TKP. Sidik bibir yang terdapat pada permukaan objek tersebut dapat dibandingkan dengan sidik bibir dari tersangka ataupun korban, sehingga hasil analis dari sidik bibir tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu alat bukti untuk kepentingan identifikasi
Environmental Communication of the Kapuas River Clean Action by the Pontianak Young Generation Herawati, Netty; Sunyata, Lina; Lukitowati, Suci; Magdalena Wuysang, Julia
ETHOS: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 12 No. 2 (2024): (Juni, 2024) Ethos: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (Sains
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/ethos.v12i2.3501

Abstract

This article aims to increase the perception, experience, and communication of the young generation of Pontianak City in maintaining the cleanliness of the Kapuas River. The most considerable pollution of the river comes from household waste. River hygiene socialization often involves the people of riverside areas, as if they are the ones responsible for river cleanliness. The river cleanup action so far is also considered just ceremonial. This P.K.M. (community service) focuses on two activities: the digital campaign and the collective movement #AksiBersihSungaiKapuas. The digital campaign is carried out ten days ahead of World Environment Day. It contains education and recordings of the actual actions of Pontianak’s Young Generation. 134 digital campaigns are using the hashtag #AksiNyataBersihSungaiKapuas. Meanwhile, the Collective Movement is held on World Environment Day every June 5. A total of 2 tons of garbage was collected in the Kapuas River clean-up action. Plastic waste, water hyacinth, and household waste are the most common. The young generation of Pontianak City is not only a spectator but a subject in education and disseminating the habit of maintaining the cleanliness of the Kapuas River environment.
FENOMENA KEKERASAN SEKSUAL DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM DI KOTA LANGSA Bakry, Askia Ul Haq; Arizqia, Putri Ghina; Dahily, Thifany Rizky Putri; Hasna, Raini; Yanti, Risma; Herawati, Netty
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i1.43286

Abstract

Kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan merupakan kasus yang perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang sangat serius dari berbagai pihak, karena kasus kekerasan seksual hingga saat ini masih menjadi fenomena gunung es yang hanya tampak puncaknya saja. Provinsi Aceh yang dikenal sebagai “Serambi Mekkah” karena kuatnya identitas keislaman, menghadapi ironi berupa tingginya angka kekerasan seksual, termasuk yang terjadi di lembaga pendidikan seperti pesantren. Kasus kekerasan seksual yang terjadi di pesantren menjadi ramai sorotan publik dan semakin banyak terungkap. Menurut Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA), kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Aceh menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Penelitian ini merupakan jenis laporan kasus di bagian Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada bulan Oktober 2023. Subjek kasus mencakup dua orang pasien berusia 21 dan 17 tahun dengan kekerasan seksual oleh pemuka agama di sebuah pesantren di kota Langsa. Laporan kasus ini memberikan rincian kasus seperti deskripsi pasien, skenario klinis, hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan anogenital dan kaitannya dengan medikolegal. Pada kedua korban ditemukan adanya luka robek pada selaput dara dan terkesan luka lama. Berdasarkan kasus kekerasan seksual ini kedua korban hanya adanya robekan selaput dara. Meskipun robekan selaput dara tampak luka lama namun dapat dijadikan sebagai bukti kasus sebagai bukti kasus pelecehan seksual. Pernyataan kedua korban juga dapat memperkuat bukti adanya kejadian pelecehan seksual. Sesuai Aspek Medikolegal yang berlaku di Aceh, pelaku dapat terkena pidana pelecehan seksual yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 dan Qanun Jinayat yang diatur pada Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014.
Regulasi Emosi Suami yang Melakukan Perkawinan Poligami di Desa Tlogosadang Herawati, Netty; Rohmah, Nailur; Mahmudiyah, Nur
Jurnal Psikologi Terapan Vol 5 No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jpt.v5i1.8215

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui regulasi emosi suami yang melakukan perkawinan poligami di desa Tlogosadang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Empat orang Subjek dalam penelitian ini adalah suami yang melakukan perkawinan poligami di desa Tlogosadang. Metode pengambilan data dengan observasi dan wawancara. Analisis yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, verifikasi data, dan validitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emosi yang dirasakan subjek speerti marah, sedih, merasa lelah, tidak semuanya ditunjukkan kepada istri dan anak-anak mereka, dan apa yang dilakukan setiap subjek adalah pergi keluar sejenak untuk minum kopi di toko, mencari udara segar, pergi ke ladang, merokok, berkumpul dengan teman-teman, dan mendekatkan diri kepada Allah, seperti berpuasa, beribadah dan melakukan salah satu hobinya, yaitu memasak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua subjek tidak ingin melampiaskan emosinya pada istri dan anak-anaknya, sehingga setiap subjek lebih memilih untuk menjauh agar tidak mengeluarkannya pada istri dan anak-anaknya. Adapun cara Subjek menyembunyikan emosi adalah dengan lebih suka diam, lalu pergi keluar dan kembali ketika emosi mereka lebih tenang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa startegi regulasi emosi yang dilakukan subjek dapat menjadikan subjek  lebih baik. Perubahan karakter subjek terlihat pada suka berbicara, dengan mengatur emosi agar lebih tenang. Karakter marah, ketika mengatur emosi menjadi lebih sabar. Karakter sering berkelahi dengan istrinya, ketika mengatur emosi menjadi lebih tenang dan suka membantu pekerjaan istrinya.
Hubungan Status Gizi Dengan Siklus Menstruasi Pada Siswi Madrasah Aliyah Negeri Trimurti, Armanda; Merilla Erizon, Dessy; Komalasari, Centia; Herawati, Netty; Handayani, Meri
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55382/jurnalpustakakeperawatan.v2i1.1145

Abstract

Menstruasi adalah proses peluruhan lapisan dalam/ endometrium yang banyak mengandung pembuluh darah dari uterus melalui vagina. Siklus menstruasi pada setiap orang tidak sama. Perbedaan siklus ini ditentukan oleh beberapa faktor, misalnya gizi, stres dan usia.permasalahan yang ada di MAN Kota Solok adalah dari 15 responden terdapat 13 orang siswi yang siklus menstruasinya tidak teratur dan 2 orang yang teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan siklus menstruasi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi Madrasah Aliyah Negeri Kota Solok sebanyak 339 orang. Teknik sampel yang digunakan adalah proposional random sampling yaitu dengan pengambilan sampel secara acak dimana pengambilan sampel dari 15 lokal secara sebanding dengan banyaknya sampel dalam masing-masing lokal. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 11 Januari sampai dengan 15 Januari 2023. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner melalui teknik wawancara dan pengukuran langsung di olah secara komputerirasi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa 57.3% responden mengalami siklus menstruasi tidak teratur, 42.7% responden memiliki status gizi kurus di Madrasah Aliyah Negeri Kota Solok. Ada hubungan yang signifikan antara variabel status gizi dengan siklus menstruasi di Madrasah Aliyah Negeri Kota Solok. Diharapkan kepada petugas kesehatan untuk dapat bekerjasama dengan pihak sekolah dalam memberikan penyuluhan kesehatan pada siswi minimal 1 kali sebulan di aula sekolah, khususnya penyuluhan tentang pemenuhan gizi yang seimbang dan pemeliharaan kesehatan reproduksi remaja dengan menggunakan media lembar balik dan membagikan leaflet.
Efektivitas Perawatan Luka Modern terhadap Penyembuhan Luka Gangren Pada Pasien Diabetes Mellitus Komalasari, Centia; Herawati, Netty; Tri Murti, Armanda; Salsabila, Anisa
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55382/jurnalpustakakeperawatan.v2i2.1146

Abstract

Luka gangren merupakan kondisi serius akibat kematian jaringan tubuh (nekrosis) yang umumnya disebabkan oleh infeksi berat, gangguan aliran darah, atau trauma. Penanganan luka gangren pada pasien DM memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berstandar, termasuk pemilihan metode perawatan luka yang sesuai. Tujuan penelitian menganalisis efektivitas perawatan luka modern terhadap penyembuhan luka gangren pada pasien diabetes mellitus di ruang rawat inap Rumah Sakit M. Natsir. Penelitian ini di lakukan di Rumah Sakit M. Natsir pada bulan Juni dari tanggal 20 - 30 Juni 2023.Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang efektivitas perawatan luka modern terhadap penyembuhan luka gangren pada pasien diabetes mellitus di ruang rawat inap didapatkan hasil uji statistik dengan uji hipotesis Wilcoxon, diperoleh p value proses penyembuhan luka p=0,001 (p ? 0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara nilai proses penyembuhan luka sebelum dan sesudah pemberian intervensi modern dressing. Saran bagi pasien dan keluarga adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penanganan luka diabetes menggunakan perawatan luka modern terhadap peningkatan jaringan kulit pada pasien luka diabetes. Peneliti berharap keluarga ikut serta dalam memberikan tindakan yang telah diajarkan dan dapat membantu dalam upaya merawat luka diabetes.
Makna Etos Kerja Pada Perempuan Madura Lutfianah, Mita; Herawati, Netty
MOTIVA: JURNAL PSIKOLOGI Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/mv.v6i2.6477

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna etos kerja pada perempuan Madura. Peneliti ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Informan pada penelitian kali ini adalah perempuan sudah menikah (istri) yang bekerja membantu perekonomian keluarga di Madura sebanyak 7 orang, pekerjaan yang diteliti antara lain petani, nelayan pencari kerang, pedagang, guru madrasah, dan karyawan. Instrumen dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, verifikasi data dan keabsahan data. Hasil penelitian ini menunjukkan para perempuan bekerja dengan tujuan membantu suami untuk mencari nafkah untuk perekonomian keluarga yang meliputi biaya hidup dan biaya pendidikan anak, para perempuan tersebut melakukan pekerjaannya secara bertanggung jawab. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa pada setiap informan memiliki makan etos kerja menurutnya masing-masing, dan dari semua makna etos kerja terdapat tanggung jawab terhadap pekerjaanya, sehingga dapat disimpulan bahwa bahwa etos kerja pada perempuan Madura adalah kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaanya secara bertanggung jawab. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat tiga ciri-ciri etos kerja pada perempuan Madura yang dominan yaitu (a) disiplin waktu, (b) pekerja keras, (c) menjaga semangat kerja/ giat bekerja. Dan ciri-ciri pendukung yaitu (a) patang menyerah/ tidak mudah putus asa, (b) jujur/ setulus hati dalam bekerja, (c) siap akan resiko, (d) patuh pada peraturan, (e) tekun/ulet.Kata Kunci: Etos Kerja, Perempuan Bekerja, MaduraAbstract: This study aims to determine how the description of the work ethic of Madurese women. This researcher uses a quatitative approach with the phenomenological method. The informants in this study were married women (wives) who worked to help the family economy in Madura as Many as 7 people, the occupations studied included farmers, fishermen, traders madrasa teachers and employees. The instrument in this study was an interview. The analysis used in this study is data reduction, data presentation, data verification and data validity. The results of this study indicate that women work with the aim of helping their husbands to earn a living for the family economy which includes living expenses and children’s education costs, these women do their work responsibly. The results also show that each informant has a work ethic according to him, and from all meanings of work ethic there is responsibility for his work, so it can be concluded that the work ethic of Madurese women is a person’s ability to carry out his work responsibly. The results of this study indicate that the characteristics of the Madurese women's work ethic are different for each informant, the difference is caused by the informant's work factor. So from the differences in these characteristics, three dominant characteristics of the work ethic of Madurese women can be found, namely (a) time discipline, (b) hard worker, (c) maintaining work spirit/hard work. And the supporting characteristics are (a) never give up/don't give up easily, (b) honest/sincere in work, (c) ready to take risks, (d) obey the rules, (e) diligent/ tenacious. Keywords: Work Ethic, Working Women, Madura.
IDENTIFICATION OF PROFILES OF STREET CHILDREN AND MITIGATION INTERVENTION PLANS Herawati, Netty; Rohmah, Nailur
MOTIVA: JURNAL PSIKOLOGI Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/mv.v7i1.7915

Abstract

Abstract: The treatment of street children so far is uncompromising and less serious, ignoring their rights and freedoms as citizens to be protected by the state. Therefore, the aim of this study is to create mitigation and intervention plans on street children. The approach in this study used surveys with cluster sampling techniques because they were limited to areas in Bangkalan district. The sample group consisted of girls and boys, aged 8 to 18, who worked on the street for at least a month before the survey. There's a total of 43 respondents. The results showed that based on the age of respondents, 8-10 years was 16.3%, 12-15 years was 23.3% and 16-18 years was 60.5%. Based on the level of education, respondents did not pass SD was 18.6%; passed SD 23.2%, not passed SMP 37.2% and passed SMP 20.9%. According to street activities carried out: begging 13.9%, playing music 30.2%, cleaning car glass 11.6%, street clowns 9.3% and trade 34.9%, according to the results, then mitigation measures can be taken by increasing public care, not giving in the street when begging but can be through social foundations or official government institutions such as social services. Internal intervention planning can be done by providing work skills training, financial management training and psycho-education for psychological formation. Externally, governments can help in economic and social empowerment. Governments can facilitate through localization of trade activities in conducting business, providing capital assistance with loan savings system. In conclusion, it is necessary to work comprehensively with governments, communities and social institutions to care for each other to improve the well-being of street children in various aspects, both economic, social and psychology.Keywords:  street children, mitigation, intervention plan
IMPLEMENTATION OF THE KUA REVITALIZATION PROGRAM IN THE SOUTHEAST PONTIANAK DISTRICT RELIGIOUS AFFAIRS OFFICE surkiya, surkiya; Herawati, Netty; Pudjianto, S.Y.
JPASDEV : Journal of Public Administration and Sociology of Development Vol 5, No 1 (2024): JPASDEV : Journal of Public Administration and Sociology of Development
Publisher : Fakultan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jpasdev.v5i1.71009

Abstract

This research is entitled "Implementation of the KUA Revitalization Program at the Office of Religious Affairs in Southeast Pontianak District". This study aims to analyze the Factors Influencing the Implementation of the Sub-District KUA Revitalization Program at the Southeast Pontianak District Religious Affairs Office. The KUA Revitalization Program is an implementation of the Decree of the Minister of Religion Number 758 of 2021 concerning Revitalization of the District Religious Affairs Office. Revitalization of the sub-district KUA aims to improve religious services to the community and improve the quality of life for religious people. However, in reality the Revitalization of the Sub-district KUA at the Southeast Pontianak Sub-District KUA is not yet in accordance with the Decree of the Minister of Religion Number 758 of 2021 concerning Revitalization of the District Religious Affairs Office, so the author tries to analyze the factors that influence the implementation of the KUA Revitalization using George Edward III's theory. According to George Edward III, the factors that influence implementation consist of four variables, namely, communication, resources, disposition and bureaucratic structure. The author examined the KUA of Southeast Pontianak District using descriptive research with a qualitative approach. The recommendation from this research is that the Southeast Pontianak Subdistrict KUA must follow the technical guidelines for the revitalization of the Subdistrict KUA that have been established by the Ministry of Religion.  Keywords: revitalization, implementation, KUA