Claim Missing Document
Check
Articles

Pembuatan Video Pembelajaran Berbasis Android Bagi Guru Madrasah Ibtidaiyah Darussalam Kartasura Muhammad Nur Kholis; Imam Makruf; Moh. Ashif Fuadi; Muhammad Zaenuri
MANGENTE: JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 2, No 2 (2023): PELATIHAN LITERASI, KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN DAN KETAHANAN KELUARGA
Publisher : IAIN AMBON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/mangente.v2i2.3382

Abstract

Pandemi covid-19 yang melanda seluruh negara di dunia menyebabkan perubahan yang sangat signifikan dari berbagai macam aspek kehidupan termasuk Pendidikan. Pendidikan di Indonesia yang pada mulanya mayoritas didominasi dengan pembelajaran secara tatap muka fisik, saat ini harus menggunakan pembelajaran model daring (on line) tidak hanya pada jenjang perguruan tinggi tapi juga jenjang sekolah bahkan sekolah dasar. Perubahan tersebut mengharuskan guru mencari cara yang ideal untuk menyampaikan materi ajar. Berbagai macam cara dilakukan oleh para guru, mulai dari menggunakan media whatsapp, google meet bahkan aplikasi zoom. Sedangkan proses pembelajaran yang berjalan masih menggunakan bentuk penugasan kepada siswa dengan menggunakan media komunikasi seperti Whatsapp. Sehingga kegiatan terbilang kurang menarik dan tidak efektif. Video pembelajaran menjadi salah satu solusi yang tepat..  Maka diperlukan pelatihan dan pendampingan pembuatan video pembelajaran berbasis Android. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah Participatory Action Research (PAR) dengan langkah assesmen, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut. Hasil dari pengabdian ini setelah dilakukan pelatihan dan pendampingan ditemukan indikator peningkatan ketrampilan guru dalam pengembangan media pembelajaran berbasis android. Dari semua peserta pelatihan, semuanya dapat membuat video pembelajaran berbasis android walaupun masih ditemukan peserta yang kesulitan dalam menggunakan fitur-fitur yang ada dalam aplikasi. Bagi peserta yang masih kesulitan menggunakan aplikasi tersebut diberikan pendampingan sebagai upaya tindak lanjut melalui Whatsapp atau email.
Pesantren Tradition and the Existence of Tarekat Syattariyah in the Java War of 1825-‎‎1830‎ Moh Ashif Fuadi; Moh. Mahbub; Martina Safitry; Usman Usman; Dawam Multazamy Rohmatulloh; M. Harir Muzakki
TSAQAFAH Vol. 18 No. 1 (2022): Tsaqafah Jurnal Peradaban Islam
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v18i1.7666

Abstract

The Java War had its unique influence on the development of pesantren. Prince Diponegoro plays the struggle against the invaders with some of his soldiers who come from among the pesantren. After his defeat in the Java War of 1825-1830, many Diponegoro warriors spread to teach religion. This research will discuss the sustainability of the struggle of Diponegoro warriors in pesantren and the Islamic treasures of the Java War, such as strengthening pesantren traditions and the existence of tarekat syattariyah (syattariyah order). This research is classified as historical research through Kuntowijoyo's historical research methods: topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. This research yielded several conclusions, namely: First, after its defeat in the Java war, the struggle of Diponegoro warriors with a cleric-santri background continued through the establishment of pesantren with a change in strategy more to intellectual strengthening. Second, intellectual traditions during the Java War, one of which was through the study of yellow books typical of pesantren with fiqh and Sufi patterns such as Fatḥ al-Qarîb and Tuḥfah al-Mursalah ila Rûḥ al-Nabiy. Third, the existence of the tarekat syattariyah that had an anti-colonial character at that time was quite popular in Java, made the order followed by prince Diponegoro and some of his soldiers. Fourth, when compared to the Padri War, the typology of da'wah struggle developed by Diponegoro warriors is more moderately patterned identically to Walisongo's accommodating character.
KAJIAN HISTORIS TAREKAT QADIRIYAH NAQSYABANDIYAH AL-MANDHURIYAH TEMANGGUNG: Eksistensi dan Pengaruh Sosial Keagamaannya Muhammad Husna Rosyadi; Moh. Ashif Fuadi; Latif Kusairi; Martina Safitry; Qisthi Faradina Ilma Mahanani
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 4 No. 1 (2023): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v4i1.7428

Abstract

Abstrak Penelitian ini menjelaskan tentang dinamika tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah di Temanggung yang disebarkan oleh K.H. Mandhur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, yakni pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi dan penulisan sejarah. Penulis menitikberatkan pada sumber primer berupa peninggalan catatan-catatan K.H. Mandhur, dan wawancara terhadap keturunan K.H. Mandhur serta data pendukung penelitian terdahulu dari sumber buku, artikel, atau berita online. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa: K.H. Mandhur merupakan seorang kiai yang berpengaruh di Temanggung, sehingga pesatnya perkembangan tarekat qodiriah wa naqsyabandiyah di Temanggung tak lain adalah karena perannya dalam menyebarkan tarekat tersebut. Adapun sanad tarekat K.H. Mandhur berasal dari Kiai Umar Payaman yang juga merupakan murid Syekh Zarkasi Berjan murid Syekh Abdul Karim al-Bantani. K.H. Mandhur mulai mengenalkan tarekat sebelum Indonesia merdeka yakni sekitar tahun 1920 di daerah Ngebel dan mulai berpindah tahun 1950 mengajarkan tarekat tersebut di pusat Kota Temanggung sampai wafatnya pada tahun 1980. Sepeninggal K.H. Mandhur, kepemimpinan tarekat diteruskan oleh putranya yaitu K.H. Ahmad Bandnudji sampai sekarang. Eksistensi TQN al-Mandhuriyah terbukti membawa dampak sosial-keagamaan dengan adanya interaksi sosial antar jamaah dari berbagai daerah dengan saling bersilaturahmi dan kegiatan para jamaah seperti manakiban, sewelasan, tawajjuhan, peringatan haul K.H. Mandhur, khalwat, selapanan badal. Kata Kunci: Tarekat, TQN al-Mandhuriyyah, K.H. Mandhur, Temanggung.
Islamic Press in Surakarta (914-1926): A Study of Medan Moeslimin and Islam Bergerak Nor Huda Ali; Moh. Ashif Fuadi; Moh. Mahbub; Kamila Adnani
Islamica: Jurnal Studi Keislaman Vol. 17 No. 2 (2023): March
Publisher : Postgraduate Studies of Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/islamica.2023.17.2.214-243

Abstract

This study describes the changing function of two Islamic presses, namely Medan Moeslimin and Islam Bergerak, in Surakarta, Central Java, Indonesia, in the transition of the 19th and 20th centuries. By historical methods through newspaper archival sources, the study produced conclusions; first, these two media were initially used as a means to “defend Islam” from some articles in the media that blasphemed Islam and, at the same time, straightened it out. In addition, the two Islamic media became an alternative source of Islamic scholarship, especially among reformist-modernist Muslims. Second, the two media were loaded with ideological interests. In their development, they had shifted their orientation from “defenders of Islam” to defenders of the spirit of nationality and universal humanity. Third, the change in orientation was inseparable from the critical role of Hadji Mohammad Misbach (1876-1926), the owner and manager of the two media, who experienced an ideological shift from orthodox Muslim towards socialist and nationalist one at once.
Transformasi Pesantren: Kajian Historis Integrasi Pendidikan Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo Moh Ashif Fuadi; Ilham Ade Kurniawan; I’anatul Mufarrihah
Studi Multidisipliner: Jurnal Kajian Keislaman Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padngsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/multidisipliner.v9i2.5549

Abstract

Penelitian ini menggambarkan perkembangan pesantren An-Nawawi Berjan dalam hal integrasi pendidikan. Penelitian ini tergolong penelitian sejarah karena mengungkap sejarah dinamika pesantren pada kurun waktu tertentu. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan sejarah, penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa: petama Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo didirikan oleh Kiai Zarkasyi salah seorang mursyid tarekat qadiriyah wa naqsyabandiyah, sehingga pada perkembangannya pesantren tersebut mempunyai basis tarekat yang kuat kemudian dilanjutan oleh Kiai Nawawi (w. 1982) dan sekarang Kiai Ahmad Chalwani. kedua, Pesantren An-Nawawi Berjan pada masa kepemimpinan Kiai Ahmad Chalwani atau cucu dari pendiri mengintegrasikan kurikulum salaf (tradisional) berbasis kitab kuning dengan kurikulum sekolah formal mulai pada tingkatan Madrasah Tsanawiyah maupun Madrasah Aliyah. Ketiga, pengaruh pesantren an-Nawawi Berjan sekarang mengalami perkembangan yang cukup signifikan dengan banyaknya lembaga pendidikan yang ada di dalamnya mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi, KBIH An-Nawawi dan mengadakan kegiatan sosial guna pengembangan masyarakat Islam. Dalam bidang perekonomian Pesantren An-Nawawi berupaya meningkatkan pengelolaan unit-unit usaha di kopontren An-Nawawi.
Methodological Study of Tafsir Yasin by K.H. Abd. Basith Ulama from Madura Ulfatun Hasanah; Moh. Ashif Ashif Fuadi; Fitrotul Muzayanah
Studi Multidisipliner: Jurnal Kajian Keislaman Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padngsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/multidisipliner.v10i1.7635

Abstract

This study explains the study of Tafsir Yasin through books by Nusantara scholars. K. H. Abdul Basith AS from Madura is quite productive in producing works, including the book of Tafsir Yasin. Through qualitative methods with a literature study approach, this study resulted in conclusions: first, the interpretation of surah yasin by K.H. Abd. Basith presents the values of the Qur'an in life as a form of interpretation that ma'tsur, tahlili, and adabi-ijtima'i. Second, the 83 verses are divided into 14 parts with explanations of verses and advice on social reality. This reason is due to the initial purpose of writing the tafsir, which was to provide an understanding to the unfamiliar public of the meaning contained in the reading of surah yasin. Third, it is also to make people aware that the recitation of surah yasin is not solely because of customs and traditions, such as the yasinan tradition by the majority of the nahdliyin, but because of the many privileges and virtues contained in it.
Menyoal Ketimpangan Relasi Kuasa dan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren: Sebuah Tinjauan Kritis Moh Ashif Fuadi; Mega Alif Marintan; Qisthi Faradina Ilma Mahanani; Muhammad Aslambik
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.222.148-160

Abstract

Fenomena kekerasan seksual yang terjadi di kalangan pesantren menjadi perhatian  banyak pihak, karena sejatinya pesantren merupakan lembaga yang dianggap aman untuk belajar para santri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor ketimpangan relasi kuasa dan persepsi santri terhadap pencegahan kekerasan seksual di pesantren. Penelitian ini menggunakan mix method dengan pendekatan kuantitatif dalam pengambilan data survei dan pendekatan kualitatif dalam menganalisis data dari responden melalui observasi, wawancara dan studi pustaka dari berbagai sumber tertulis dan media online. Hasilnya yaitu, pertama, perilaku kekerasan seksual khususnya di pesantren merupakan dampak dari ketimpangan relasi kuasa. Kedua, upaya pencegahan kekerasan seksual di pesantren dilakukan dengan monitoring dari pesantren, mau’idzoh atau nasehat kyai, aturan resmi tentang batasan antara laki-laki dengan perempuan, dan kajian kitab kuning tentang pendidikan seksual dan pemahaman gender melalui kitab ‘Uqūdu al-Lujain, Qurratul ‘Uyūn, Fathul Izār, dan fikih wanita. Ketiga, kasus kekerasan seksual yang dilakukan oknum pesantren melalui doktrinnya, dapat menurunkan tingkat kepercayaan sehingga perlu tindakan pencegahan dengan kerjasama yang terintegrasi dan penegakan hukum yang seimbang. [ The phenomenon of sexual violence in Islamic boarding schools (pesantren) has become everybody’s concern lately. This institution should be considered safe place  for santri to live and learn.This study aims to determine the influence of inequality factors on power relations in sexual violence and to know students' perceptions of the prevention of sexual violence in pesantren. This study uses a mixed-method with a quantitative approach in taking survey data and a qualitative approach in analyzing data from respondents through observation, interviews and literature studies from various written sources and online media. The results are, first, sexual violence in pesantren predominantly stems from disparities in power relation. Second, Prevention strategies within pesantren encompass close monitoring, mau'idzoh (advice) guidance from kyai, establishment of clear boundaries between genders, and incorporating sex education and gender awareness through Kitab Kuning texts through the book of 'Uqū du al-Lujain, Qurratul 'Uyūn, Fathul Izār, and fikih women. Third, cases of sexual violence committed by pesantren through their doctrines can reduce trust so that preventive measures  are needed with integral cooperation and balanced law enforcement.]
TRACES OF HADRAMAUT’S INTELECTUALISM IN THE 20THCENTURY IN NUSANTARA ANDTHE ROLE OF ITS PESANTREN ALUMNI Fuadi, Moh. Ashif; Kusairi, Latif; Rohmatulloh , Dawam Multazamy; Perkasa, Adrian
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 20 No 1 (2022): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 20 No. 1 Tahun 2022
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.185 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v20i1.1036

Abstract

ABSTRACT This research discusses the traces of Hadramaut intellectualism through the relationship of the scholarlygenealogy of Hadramaut ulamawith the 20thcentury Nusantara ulama. In addition, it analyzes thetypo-logy of Hadramaut Pesantrens and the role oftheir alumni in developing the da’wah movement in Indonesia. This research is a literature reviewstudythrough a library research approach, focusing onbooks, articles, and online news, strengthenedby interviews and field observations. This research foundthat: first, theHadramaut Pesantrenis connected through the sending of Indonesian students to Darul Musthafa, Rubath Tarim, and al-Ahgaff University;the three institutions show an inclusive character that is still suitable to be applied in Indonesia. Second, the influence of Hadramaut intellectualism can be seen through the relationship betweenthe scholarlygenealogy of Hadramaut ulamaand Nusantara ulamain the book of safinat al-najā, sulām al-taufīq, muqoddimatu al-hadromiyyah, all of which became the reference books of Nusantara ulamain compiling sharah or explanations of the book of kāsyifat al-sajā, faidh al-hijā 'alā naili al-rojā, nadzam nailul roja, kasyful hijāfī tarjamati safīnat al-najā, tanwīru al-hijā fī nadzmi safīnat al-najā,i'ā nat al-rafīq 'alā nadzmi sulām al-taufīq, inqōdzu al-ghorīq fī nadzmi sulām al-taufīq, mirqōtu al-shu'ūdi al-tashdīq fī syarhi sulām al-taufīq and mauhibatu dzi al-fadhli al-hasyīyati 'alā mukhtashor afādhol. Third, the influence of Hadramaut alumni, especially the alawiyyin circles, still has a fairly strong proselytizing influence in Indonesia after the first batch of 30 students in 1998 Darul Musthafa returned to Indonesia and developed da'wah by establishing taklim assemblies or Pesantrens. Keywords: Hadramaut, Intellectualism, Nusantara, Pesantren   ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang jejak intelektualismeHadramautmelalui hubungan genealogi keilmuan ulama Hadramaut denganulama NusantaraAbad ke-20, dan juga menganalisis tipologipesantren Hadra-maut dan peranan alumninyadalam mengembangkan gerakan dakwah di Indonesia. Penelitian ini menggunakanpendekatanstudi pustaka (library research) melalui buku, artikel, dan berita online,diperkuat dengan wawancara dan penelusuran lapangan(observasi). Penelitian ini meng-hasilkan kesimpulan bahwa:pertama, jaringan pesantren Hadramaut ter-hubung melalui pengiriman santri Indonesia ke Darul Musthafa, Rubath Tarim, dan Universitas al-Ahgaff yang ketiga lembaga tersebut menunjuk-kan karakter inklusif yang masih cocok diterapkan di Indonesia. Kedua,pengaruhintelektualisme Hadramaut dapat dilihat melaluihubungan genealogi keilmuan ulama Hadramaut dan ulama Nusantaradalamkitab safinatal-najā,sulām al-taufīq, muqoddimatu al-hadromiyyah,yang se-muanya menjadi kitab rujukan ulama Nusantara dalam menyusun syarah atau penjelasan kitabkāsyifat al-sajā, faidh al-hijā ‘alā naili al-rojā, nadzam nailul roja, kasyful hijā fī tarjamati safīnat al-najā, tanwīru al-hijā fī nadzmi safīnat al-najā,i’ānat al-rafīq ‘alā nadzmi sulām al-taufīq, inqōdzu al-ghorīq fī nadzmi sulām al-taufīq, mirqōtu al-shu’ūdi al-tashdīq fī syarhi sulām al-taufīqdan mauhibatu dzi al-fadhli al-hasyīyati ‘alā Mukhtashor Bafādhol. Ketiga, pengaruh alumni Hadramaut terutama kalangan alawiyyinsampai saat ini masih memiliki pengaruh dakwah yang cukup kuat di Indonesia setelah 30 santri angkatan pertama tahun 1998Darul Musthafapulang ke Indonesiadan mengembangkan dakwah dengan mendirikan majelis taklim atau pesantren  Kata kunci: Hadramaut, Intelektualisme, Nusantara, Pesantren
GENEALOGI WALISONGO DALAM KITAB ULAMA NUSANTARA: STUDI KOMPARATIF KITAB TARIKH AL-AULIA’ DENGAN AHLA AL-MUSAMARAH Fuadi, Moh Ashif
JURNAL ISLAM NUSANTARA Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Ta'lif wa An-Nasyr (LTN) PBNU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.264 KB) | DOI: 10.33852/jurnalnu.v5i1.267

Abstract

Wacana pembahasan perbandingan genealogi Walisongo dalam karya ulama nusantara mengundang perhatian untuk dikaji. Tulisan ini membahas kajian genealogi walisongo dalam turast pesantren melalui kitab Ahlā al-Musāmarah fī Hikāyāt al-Auliyā’ al-‘Asyrah karya Syekh Abul Fadhol Senori dan kitab Tarikh Auliya’ karya KH. Bisri Mustofa. Mereka berdua merupakan dua ulama’ Nusantara yang karyanya membahas tentang para wali di Jawa.  Penelitian ini tergolong penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian memperlihatkan bayaknya persamaan genealogi Walisongo antara kitab Ahlā al-Musāmarah fī Hikāyāt al-Auliyā’ al-‘Asyrah karya Syekh Abul Fadhol Senori dengan Kitab Tarikh Auliya’ karya KH. Bisri Mustofa baik dari segi nama tokoh maupun toponimnya. Namun juga terdapat sedikit perbedaan genealogi Walisongo dari masing-masing kitab tersebut. Keduanya merupakan kitab karya kiai pesantren pesisir pantai utara yang cukup produktif dalam menghasilkan kitab kuning khas pesantren.
Sufism and Religious Moderation in Counter Radicalism Bindaniji, Muhamad; Fuadi, Moh Ashif
JURNAL ISLAM NUSANTARA Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Ta'lif wa An-Nasyr (LTN) PBNU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.874 KB) | DOI: 10.33852/jurnalnu.v6i1.329

Abstract

The discourse of religious moderation is still an interesting discussion, especially among academics. Some circles greeted religious moderation with a positive and negative responses. This study aims to formulate the concept of religious moderation based on other approaches or not the same as in general, such as Sufism, renewal of thought, secularization, and local wisdom. Through the library research method strengthened by interviews, observations, and sources of written documents, whether articles, books, or online news, this research concluded that Sufism could prevent radical behavior because it is precisely radical inward, in contrast to extremists who are radically patterned outwards. Second, the enlightenment of religious thought, mainly carried out by the Nahdlatul Ulama circle, plays a strategic position in stemming radical thinking. Third, the accusations of religious moderation that are considered projects of religious secularization are very unfounded and excessive because they do not fit the context of space and time. Fourth, one of the moderate indicators is to appreciate local wisdom, not that it means that you must like or follow the existing traditions and culture.