Claim Missing Document
Check
Articles

Penyebaran Islam dalam Khazanah Pesantren: Analisis Kitab Ahla al-Musāmarah fī Hikāyāt al-Auliyā’ al-‘Asyrah: The Spread of Islam in Pesantren Tradition: An Analysis of the Book of Ahla al-Musāmarah fī Hikāyāt al-Auliyā' al-'Asyrah Fuadi, Moh Ashif; Mahbub, Moh.
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 18 No. 1 (2023): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v18i1.2640

Abstract

This study discusses the channel of Islamization in the traditional treasures of Pesantren, Islamic boarding schools, especially on a book by Indonesian scholar namely Kiai Abul Fadhol, Ahla al-Musāmarah fī Hikāyāt al-Auliyā' al-'Asyrah. This research uses library research by going through the book's main sources and strengthened by books, articles, and other written sources. The results of the study show that the channel of Islamization in the review of the book is through: first, the medium of marriage, like The King to a Cempan lady and marriage between members of the Walisongo family, secondly, education centered at the Pesantren Ampel Denta which produces a network of students as well as the tasawuf approach among the congregation. Furthermore, regarding the term of Wali Sepuluh (Ten Saints) stated in the title, there is no significant difference between the characters intended by the author of the book and the Walisongo figure. From the text, it can be seen that Kiai Fadhol was a prolific scholar who argued that the collapse of the Majapahit Kingdom was due to an attack from the Demak Sultanate led by Raden Patah. Finally, we can found that the character of the da'wah developed includes good wisdom and calls.
Study of The Shift in The Function from Religious Education to Rehabilitation: Pesantren Al-Jannatu DÄrul Ma'wa Condromowo Ngawi Fuadi , Moh. Ashif; Arisandi , Bustomi
Al-Insyiroh: Jurnal Studi Keislaman Vol. 8 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : LPPPM STAI Darul Hikmah Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35309/alinsyiroh.v8i2.216

Abstract

Pesantren also accompanied the beginning of the journey and development of Islam. As an educational institution that breathes Islam, Pesantren can grow and develop. In this study, the author chose Pesantren al-Jannatu DÄrul Ma’wa Condromowo as the subject of the study. Pesantren Condromowois a Salaf Pesantren that focuses its attention on people who have mental illness in addition to continuing to teach religious sciences. This study aims to see the process of shifting the function of pesantren, what context is behind the change in function, and how the implications of changing the function of pesantren. This research uses historical research methods with stages of topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. The historical analysis is supported by literature studies, interviews, and observations. This result shows that several things background the development and changes of Pesantren. In the external context of the changes that occur in the case of increasing the percentage of mentally ill students every year, the impact of modernization, and the view that pesantren is a place of treatment for alternative In the internal context, change occurs due to the science and attitude of the Kiai in responding to the changes that occur. The implication is that there is a new typology in the world of pesantren, namely Pesantren Rehabilitation.
Islam and Politics in Indonesia : Historical Perspective Qisthi Faradina Ilma Mahanani; Mega Alif Marintan; Irma Ayu Kartika Dewi; Fuadi, Moh Ashif
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 3 No. 1 (2022): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.164 KB) | DOI: 10.22515/isnad.v3i1.5395

Abstract

This research explains the dynamic perspective of Islam and politics in Indonesia. The relationship between Islam and the political situation in Indonesia is not always harmonious. With qualitative methods through the study of literature, this research resulted in the conclusion that Islamic and political ndication are two aspects that converge in its development that has never been interrupted from the previous period. The existence of Islam in Indonesia is largely determined by the objective conditions built by the Muslims themselves through qualifications and political capacities that are insightful in the formation of the intellectuality of their people. The condition of Muslims today has indeed progressed, but institutionally politically it has regressed. Therefore, discussing Islamic and political issues is felt increasingly urgently by Muslims themselves. The engineering of the conversation and its implementation includes a doctrinal Understanding of Islam that is contextual to the political growth of the nation, a coaching system that can liberate people from material and spiritual backwardness, and leadership that is not only charismatic, but also dedicative and professional. Keywords: Islam, Politic, Perspective, Historical
KAJIAN HISTORIS TAREKAT QADIRIYAH NAQSYABANDIYAH AL-MANDHURIYAH TEMANGGUNG: Eksistensi dan Pengaruh Sosial Keagamaannya Husna Rosyadi, Muhammad; Fuadi, Moh. Ashif; Kusairi, Latif; Safitry, Martina; Mahanani, Qisthi Faradina Ilma
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 4 No. 1 (2023): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v4i1.7428

Abstract

Abstrak Penelitian ini menjelaskan tentang dinamika tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah di Temanggung yang disebarkan oleh K.H. Mandhur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, yakni pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi dan penulisan sejarah. Penulis menitikberatkan pada sumber primer berupa peninggalan catatan-catatan K.H. Mandhur, dan wawancara terhadap keturunan K.H. Mandhur serta data pendukung penelitian terdahulu dari sumber buku, artikel, atau berita online. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa: K.H. Mandhur merupakan seorang kiai yang berpengaruh di Temanggung, sehingga pesatnya perkembangan tarekat qodiriah wa naqsyabandiyah di Temanggung tak lain adalah karena perannya dalam menyebarkan tarekat tersebut. Adapun sanad tarekat K.H. Mandhur berasal dari Kiai Umar Payaman yang juga merupakan murid Syekh Zarkasi Berjan murid Syekh Abdul Karim al-Bantani. K.H. Mandhur mulai mengenalkan tarekat sebelum Indonesia merdeka yakni sekitar tahun 1920 di daerah Ngebel dan mulai berpindah tahun 1950 mengajarkan tarekat tersebut di pusat Kota Temanggung sampai wafatnya pada tahun 1980. Sepeninggal K.H. Mandhur, kepemimpinan tarekat diteruskan oleh putranya yaitu K.H. Ahmad Bandnudji sampai sekarang. Eksistensi TQN al-Mandhuriyah terbukti membawa dampak sosial-keagamaan dengan adanya interaksi sosial antar jamaah dari berbagai daerah dengan saling bersilaturahmi dan kegiatan para jamaah seperti manakiban, sewelasan, tawajjuhan, peringatan haul K.H. Mandhur, khalwat, selapanan badal. Kata Kunci: Tarekat, TQN al-Mandhuriyyah, K.H. Mandhur, Temanggung.
SAFARI MAULID EMPAT PULUH HARI MAJELIS AL-KHOIROT: Sejarah, Dinamika dan Maknanya Fuadi, Moh Ashif; Moh Mahbub; Qisthi Faradina el-Mahanani
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 5 No. 02 (2024): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v5i02.10951

Abstract

Ekspresi perayaan kelahiran Nabi Muhammad mempunyai bentuk yang beragam salah satunya melalui kegiatan safari maulid. Penelitian ini bertujuan untuk membahas fenomena safari maulid empat puluh dari sisi kajian historis dan makna. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan studi dokumentasi, observasi dan wawancara. Untuk memperdalam makna safari maulid empat puluh menggunakan pendekatan fenomenologis. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa, pertama, tradisi safari maulid empat puluh hari berasal dari kalangan alawiyyin untuk menyemarakkan bulan kelahiran Nabi Muhammad. Kedua, pelaksanaan safari maulid empat puluh hari mempunyai makna proses penggemblengan spiritual sebagaimana empat puluh hari merupakan jumlah bilangan tirakat pada umumnya. Ketiga, praktik perayaan kelahiran nabi di bulan maulid berdasarkan jumlah hari mempunyai model yang beragama yaitu satu hari, dua belas hari, dan tiga puluh hari di bulan kelahiran nabi. Keempat, berdasarkan simbol-simbol dalam pelaksanaan maulid, pohon uang yang dibagikan kepada para jamaah mempunyai makna bersedekah agar nikmat yang diberikah semakin bertambah dengan keberkahan bulan kelahiran nabi, sedangkan atribut gantungan makanan atau peralatan rumah tangga yang ambil para jamaah saat maḥallu al-qiyām atau setelah doa akhir maulid mempunyai makna bahwa barang-barang atau makanan yang berada dalam kegiatan maulid akan mempunyai banyak memberkahi. Berdasarkan fenomenologis, walaupun tidak semuanya memahami makna empat puluh hari, namun praktik pengamalan safari maulid nabi empat puluh hari dapat menumbuhkan kebiasaan (habituasi) baik dalam mencintai dan meneladani nabi. Kata Kunci: Historis; Makna; Safari Maulid; Empat Puluh; Al-Khoirot
”GEJOLAK SINGGASANA SANG ADIPATI” Dinamika Suksesi Mangkunegara IX Tahun 1987-1993 Aryadito Fathurrohman; Latif Kusairi; Aly Mashar; Moh. Ashif Fuadi
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 01 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i01.12196

Abstract

Penelitian ini membahas dinamika suksesi di Pura Mangkunegaran, khususnya dalam pergantian kepemimpinan dari K.G.P.A.A. Mangkunegara VIII ke K.G.P.A.A. Mangkunegara IX pada periode 1987-1993. Pura Mangkunegaran memiliki sistem suksesi yang unik karena berada dalam struktur politik tradisional yang tetap bertahan di era modern. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Sumber utama diperoleh dari dokumen arsip, literatur akademik, dan sumber primer terkait Pura Mangkunegaran, Monumen Pers Nasional Surakarta, dan Perpustakaan Reksa Pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suksesi Mangkunegara IX tidak berlangsung secara sederhana, melainkan melibatkan berbagai dinamika politik dan sosial yang berakar dari sejarah panjang Pura Mangkunegaran. Konflik internal dan perbedaan pandangan di antara anggota keluarga kerajaan menjadi faktor utama yang mempengaruhi jalannya transisi kepemimpinan. Selain itu, beberapa kebijakan yang diterapkan oleh Mangkunegara IX dianggap kontroversial oleh sebagian pihak sehingga menimbulkan ketegangan dalam lingkup internal keraton. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai kompleksitas sistem suksesi di Pura Mangkunegaran serta bagaimana tradisi kerajaan tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Studi ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi kajian sejarah, khususnya dalam memahami mekanisme suksesi dalam lingkungan politik tradisional di Indonesia. Kata Kunci: Suksesi; Pura Mangkunegaran; Mangkunegara IX.
Jejak Intelektual Kiai Sholeh Darat: Pemikiran dan Warisan Intelektual dalam Sejarah Islam Nusantara Abad ke-19 Rahmantika, Dini; Moh. Ashif Fuadi; Retno Sundary
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 6 No. 02 (2025): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v6i02.13155

Abstract

Kiai Muhammad Soleh bin Umar al-Samarani (Kiai Soleh Darat) merupakan salah satu ulama Nusantara paling berpengaruh pada abad ke-19 yang berperan penting dalam transmisi dan popularisasi keilmuan Islam di Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran, kontribusi, dan warisan intelektual Kiai Soleh Darat, khususnya dalam konteks dialektika Islam dan budaya Jawa. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan sejarah, penelitian ini menunjukkan bahwa Kiai Soleh Darat tidak hanya berfungsi sebagai penerjemah, tetapi juga sebagai pengarang produktif yang menghadirkan karya-karya orisinal dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon. Karyanya meliputi bidang tafsir, fikih, tasawuf, dan akidah, dengan corak pemikiran yang menekankan harmonisasi antara syariat dan hakikat. Penggunaan aksara Pegon menjadi strategi efektif dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat awam, sekaligus menjadi upaya pelestarian budaya literasi lokal di tengah tekanan politik dan budaya kolonial Belanda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Kiai Soleh Darat menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan tradisi keilmuan pesantren dan turut membentuk wajah Islam Jawa yang moderat, kontekstual, dan membumi. Kata Kunci: Kiai Soleh Darat; Islam Nusantara; Aksara Pegon; Karya Pegon; Abad ke-19
Pendidikan Sebagai Sarana Emansipasi Sosial: Kajian terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran 1912–1944 Ahmad Dzaky Benson Irani; Nor Huda; Moh Ashif Fuadi; Aan Ratmanto; Adrian Perkasa
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 7 No. 01 (2026): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v7i01.13183

Abstract

Penelitian ini menganalisis tentang peran Studiefonds Mangkunegaran sebagai instrumen filantropi pendidikan dalam mendorong transformasi sosial masyarakat pada era kolonial. Sebagai inisiatif mandiri, lembaga ini hadir untuk mengatasi hambatan ekonomi masyarakat dalam mengakses pendidikan modern demi meningkatkan derajat sosial. Dengan menggunakan metode historis yang bersumber pada arsip primer Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran, kajian ini mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan pemicu utama modernitas di Praja Mangkunegaran. Studiefonds yang didirikan pada tahun 1912 berdasarkan Pranatan Pustaka Praja (Rijksblad) 15 Oktober 1913 ini pada awalnya bersifat eksklusif bagi golongan sentono dan priyayi. Namun, kebijakan tahun 1915 menandai pergeseran signifikan melalui pemberian akses peringanan biaya pendidikan bagi masyarakat umum. Program tersebut tidak hanya membantu pembiayaan sekolah, tetapi juga membentuk mobilitas sosial baru melalui lahirnya kelompok terdidik pribumi yang kemudian berperan dalam birokrasi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Kehadiran Studiefonds menunjukkan adanya kesadaran elite Mangkunegaran terhadap pentingnya pendidikan sebagai sarana kemajuan dan emansipasi sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan model kemandirian finansial pribumi sebagai bentuk resistensi terhadap restriksi pendidikan kolonial, yang memberikan kontribusi penting bagi historiografi pendidikan serta kajian filantropi di Indonesia, khususnya dalam konteks modernisasi masyarakat Jawa pada awal abad ke-20. Kata Kunci: Pendidikan; Pura Mangkunegaran; Studiefonds