Claim Missing Document
Check
Articles

Ground type resistance earthing system using bar electrodes Hardi, Gery Ulayya; Taufiq; Putri, Raihan; Nasution, Fakhruddin Ahmad
Jurnal Mandiri IT Vol. 11 No. 3 (2023): January: Computer Science and Field.
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/mandiri.v11i3.191

Abstract

Providing a return line for short-circuit currents or fault currents to a low-resistance ground, a grounding system is useful for achieving a uniform potential voltage over a given area of buildings and equipment. Because a large voltage difference can occur if a fault current is forced to ground against high resistance. Placement of the electrode to be planted is one of the elements to obtain a low grounding resistance value. Grounding resistance measurements, which will serve as a guide for the grounding system design process, are required during the planning stage for certain types of grounding systems. The problem is how the grounding resistance is affected by the buried depth of the rod conductor and the soil-type resistance. Therefore, it is very important to conduct research and testing to determine the extent to which these parameters influence. The experimental results of measuring resistance on dry and wet soils are on dry soil 30 cm obtained 98.48 Ω, 60 cm obtained 37.07 Ω, 90 cm obtained 20.52 Ω, 120 cm obtained 19.77 Ω, and for wet soil at a depth of 30 cm obtained 43.34 Ω, 60 cm obtained 22.21 Ω, 90 cm obtained 15.43 Ω, 120 cm obtained 11.66 Ω.
URGENSI MAQASID SYARIAH DALAM MENILAI TREN THRIFTING: SEBUAH SOLUSI ATAU ANCAMAN Fahmi Makraja; Elya Fitriyani; Nisa Afifah; Tajul Iflah; Raihan Putri
Iqtishaduna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Vol 7 No 1 (2025): Oktober
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/iqtishaduna.v7i1.61732

Abstract

Abstrak Tren thrifting, atau jual beli pakaian bekas, telah menjadi fenomena global yang populer, terutama di kalangan generasi muda. Fenomena ini didorong oleh berbagai faktor, mulai dari isu keberlanjutan lingkungan, ekonomi, hingga ekspresi gaya hidup. Namun, di balik popularitasnya, thrifting memunculkan berbagai pertanyaan etis dan moral, terutama ketika dianalisis dari perspektif Maqasid Syariah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji urgensi Maqasid Syariah sebagai kerangka evaluasi yang komprehensif untuk menilai tren thrifting. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi pustaka, tulisan ini menganalisis fenomena thrifting dengan menimbang maslahat (manfaat) dan mafsadat (kerugian) yang ditimbulkannya. Hasil Penelitian ini menjawab bahwa berdasarkan analisis menggunakan Maqasid Syariah, tren thrifting memiliki dua sisi yang kontras. Sebagai solusi, thrifting sejalan dengan prinsip hifz al-mal (menjaga harta) karena menawarkan akses sandang yang terjangkau dan mengurangi limbah tekstil. Hal ini juga mendukung hifz al-bi'ah (menjaga lingkungan) dengan mempromosikan ekonomi sirkular. Namun, sebagai ancaman, thrifting berpotensi merusak hifz al-mal makro karena mengancam industri tekstil lokal. Selain itu, aspek hifz al-nafs (menjaga jiwa/kesehatan) dapat terabaikan jika pakaian bekas tidak disanitasi, dan dapat mendorong perilaku israf (pemborosan) yang bertentangan dengan etika Islam. Dengan demikian, thrifting adalah solusi hanya jika dilakukan secara etis dan bertanggung jawab. Kata Kunci: Thrifting, Maqasid Syariah, Keberlanjutan, Ekonomi Sirkular, Etika Islam.   Abstract The trend of thrifting, or buying and selling used clothing, has become a popular global phenomenon, especially among the younger generation. This phenomenon is driven by various factors, ranging from environmental sustainability issues, economics, to lifestyle expressions. However, behind its popularity, thrifting raises various ethical and moral questions, especially when analyzed from the perspective of Maqasid Syariah. This study aims to examine the urgency of Maqasid Syariah as a comprehensive evaluation framework for assessing the thrifting trend. Using a qualitative approach and literature review, this paper analyzes the thrifting phenomenon by weighing the maslahat (benefits) and mafsadat (drawbacks) it entails. The findings of this study indicate that, based on an analysis using Maqasid Syariah, the thrifting trend has two contrasting sides. As a solution, thrifting aligns with the principle of hifz al-mal (preserving wealth) by offering affordable clothing and reducing textile waste. It also supports hifz al-bi'ah (preserving the environment) by promoting a circular economy. However, as a threat, thrifting has the potential to undermine macro hifz al-mal by jeopardizing the local textile industry. In addition, the aspect of hifz al-nafs (preserving life/health) can be neglected if used clothing is not sanitized, and can encourage israf (wasteful) behavior that is contrary to Islamic ethics. Thus, thrifting is a solution only if it is done ethically and responsibly. Keywords: Thrifting, Maqasid Syariah, Sustainability, Circular Economy, Islamic Ethics.
Online Based Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) Management Training In Gampong Panggoi: Pelatihan Pengelolaan Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) Berbasis Online Di Gampong Panggoi Faisal, Faisal; Raihan Putri; Tasyukur; Fitria Mardhatillah; Tunnur, Layla Tunnur; Diras
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2024): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v8i3.16762

Abstract

BMT services that are still manual cause customers difficulties in transactions, information services and consultations as a result of ineffective services. The development of BMT has succeeded in becoming a reliable microfinance institution, expected to be a substitute for loan sharking practices that are considered detrimental to MSMEs in prolonged debt. The problem in this service is that BMT services are still manual, causing customers difficulty to transact and the lack of information obtained. The service method carried out is training which aims to provide training to Gampong apparatus and Gampong Panggoi BMT administrators in terms of online-based BMT management to make it easier to transact and get wide information. As a result of this training, Gampong Panggoi has been able to manage BMT Babul Huda Panggoi online. This online management has been able to run information systems and services using technology by not ruling out sharia aspects and safeguarding customer data and applying the precautionary principle.
Edukasi Penerapan Sistem ATS Antara PLN dan PLTS di SMA Negeri 2 Kesuma Bangsa Meliala, Selamat; Akmal, Syarifah; Amani, Yasir; Putri, Raihan; Muhammad Jalil, Saifuddin
Jurnal SOLMA Vol. 12 No. 3 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v12i3.13126

Abstract

Background: Background: Electricity sources originating from PLN often cause sudden power outages that we don't know about, so this is very dangerous for sensitive electronic devices such as computers. To provide knowledge of automatic switch technology for quick transfers in selecting one source that is on quickly so that there is no momentary power outage on the computer load. Method: SMA Negeri 2 Kesuma Bangsa, the number of participants was 30 students, providing direction or education to participants in the form of ATS technology and providing insight into the use and design of ATS technology. As well as providing questionnaires before and after education on ATS implementation and scoring scores regarding understanding of the technology. Results: The student community was very enthusiastic about participating in the event and they understood the implementation of ATS between PLN and PLTS. Conclusion: Rooftop solar panels are used to increase additional power by 8 pieces with a capacity of 200 WP per piece and in the computer laboratory at SMAN 2 Kesuma Bangsa they can be used because the flashing is very small so there will be no momentary shutdown which will cause data loss.
Sinergi Lintas Lembaga dan Masyarakat Dalam Penanganan Pengungsi di Lhokseumawe: Model Pendampingan Berbasis Kearifan Lokal dan Hukum Faisal, Faisal; Muksalmina, Muksalmina; Muammar, Muammar; Putri, Raihan; Setia Saputra, Nanda
Abdi Nusantara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 4 (2025): ABDI NUSANTARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : PT Media Edukasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64198/abdinusantara.v1i4.64

Abstract

Aceh dikenal sebagai wilayah yang memiliki praktik baik dalam penanganan pengungsi, khususnya pengungsi luar negeri yang terdampar di wilayah pesisir. Kota Lhokseumawe menjadi salah satu daerah yang aktif dalam penanganan pengungsi melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat sinergi lintas lembaga dan masyarakat dalam penanganan pengungsi melalui model pendampingan yang berbasis kearifan lokal Aceh dan pendekatan hukum yang berkeadilan. Metode pengabdian dilakukan melalui diskusi kelompok terarah (FGD), sosialisasi hukum, serta pendampingan komunitas yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai hak dan kewajiban pengungsi, peran dan tanggung jawab masing-masing lembaga, serta pentingnya internalisasi nilai kearifan lokal Aceh seperti peumulia jamee dalam memperkuat pendekatan kemanusiaan. Model pendampingan ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam penanganan pengungsi yang berkelanjutan, humanis dan berkeadilan di tingkat lokal.
Negotiating Customary Law and Fiqh Norms: The Transformation of the Mepahukh Tradition in the Indigenous Marriage Practices of the Alas People in Southeast Aceh Muhammad Adib Alfarisi; Raihan Putri; Dina Fadhila; Ezzerouali, Souad
Indonesian Journal of Sharia and Socio-Legal Studies Vol. 1 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Sharia and Socio-Legal Studies
Publisher : Elkuator Research and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ijssls.1.1.9

Abstract

Custom-based matchmaking practices in Muslim communities often experience tension between cultural authority and religious normative frameworks. However, comprehensive studies exploring the negotiation between local traditions and fiqh (Islamic jurisprudence) norms in contemporary contexts remain limited. This article examines the transformation of mepahukh, a customary courtship ritual performed during wedding celebrations among the Alas people in Southeast Aceh, through the lens of negotiation between customary law and fiqh-oriented norms. Utilizing a socio-legal approach and a fieldwork-based research design, this study draws on primary data collected through semi-structured interviews with eight key informants, including a village head, customary leaders, local religious authorities, and young people, as well as non-participant observation of the ritual’s implementation. The findings reveal that while mepahukh continues to function as a social mechanism for strengthening marital alliances and reproducing ethnic identity, it is increasingly subject to normative scrutiny due to negative perceptions of ikhtilāṭ (unsupervised interaction between non-maḥram men and women) and concerns regarding moral permissiveness. In response to growing criticism from religious authorities, the Alas community has adopted adaptive strategies, including family deliberations, procedural restrictions, and enhanced roles for customary and religious leaders. This article argues that mepahukh is not a static cultural artifact but a dynamic space for value negotiation within the inter-legalities between customary and Islamic law. The sustainability of this tradition depends on the community’s ability to reformulate its practices in ways that are ethical, context-sensitive, and aligned with both cultural norms and religious principles. [Praktik perjodohan berbasis adat dalam masyarakat muslim kerap menghadapi ketegangan antara otoritas kultural dan kerangka normatif agama. Namun demikian, kajian komprehensif yang secara mendalam mengeksplorasi dinamika negosiasi antara tradisi lokal dan norma fikih dalam konteks kontemporer masih relatif terbatas. Artikel ini menganalisis transformasi tradisi mepahukh—sebuah ritus perjodohan adat yang dilaksanakan pada malam hari dalam rangkaian pesta perkawinan masyarakat Alas di Aceh Tenggara—dalam kerangka negosiasi antara hukum adat dan norma-norma fikih. Dengan menggunakan pendekatan sosio-legal dan desain penelitian berbasis lapangan, artikel ini mengandalkan data primer dari wawancara semi-terstruktur dengan delapan informan kunci, yang terdiri atas kepala desa, tokoh adat, otoritas keagamaan, dan pemuda-pemudi yang terlibat, serta observasi non-partisipatif terhadap pelaksanaan tradisi tersebut. Temuan menunjukkan bahwa meskipun mepahukh tetap berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk membentuk aliansi pernikahan dan mereproduksi identitas etnik, praktik ini semakin mendapat tekanan normatif akibat persepsi negatif terhadap ikhtilāṭ (interaksi bebas antara laki-laki dan perempuan non-mahram) dan kekhawatiran atas kemerosotan moral. Merespons kritik dari kalangan tokoh agama, komunitas Alas menunjukkan kapasitas adaptif melalui musyawarah keluarga, pembatasan teknis, serta penguatan peran tokoh adat dan agama. Artikel ini berargumentasi bahwa mepahukh bukanlah artefak budaya yang statis, melainkan ruang negosiasi nilai yang berlangsung dalam konteks interlegalitas antara hukum adat dan norma fikih. Keberlanjutan tradisi ini bergantung pada kapasitas komunitas untuk mereformulasi praktiknya secara etis, kontekstual, dan selaras dengan prinsip budaya maupun agama.]
ANALISA RUGI - RUGI DAYA AKIBAT HARMONISA PADA SISTEM DISTRIBUSI 20 KV DENGAN PENGGUNAAN SINGLE TUNED FILTER PENYULANG LG -02 PT PLN ULP LANCANG GARAM Nur hidayat, Muhammad; Salahuddin, Salahuddin; Meliala, Selamat; Asran, Asran; Putri, Raihan
Jurnal Energi Elektrik Vol. 14 No. 2 (2025): Jurnal Energi Elektrik
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jee.v14i2.21150

Abstract

Sistem tenaga listrik adalah kumpulan perangkat serta peralatan listrik yang bertujuan untuk menyalurkan tenaga listrik dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan terhadap perkembangan dan pertumbuhan jumlah penduduk. Tetapi pada proses penyaluran energi listrik terkadang mengalami gangguan secara acak pada fungsi peralatan,peningkatan beban, dan pengaruh harmonisa, sehingga dapat menyebabkan rugi-rugi daya yang menyebabkan kerugian baik dari pihak konsumen maupun pihak layanan penyedia energi. Penelitian ini bertujuan untuk mensimulasikan dan menganalisis kinerja sistem distribusi tenaga listrik menggunakan software MATLAB Simulink sebagai alat bantu simulasi. Model yang dibangun meliputi komponen transformator, jaringan distribusi, beban linier dan beban non-linier, Kemudian divariasikan untuk mempelajari efeknya terhadap rugi daya, dan harmonisa dalam sistem. Selain itu, penelitian ini menggunakan single tuned filter sebagai solusi peredam harmonisa yang dihasilkan oleh beban non-linier. Berdasarkan hasil analisis data dan simulasi yang dilakukan, harmonisa yang dihasilkan pada THDv sebesar 7.25%, untuk nilai THDi sebesar 10.60%, dan berdasarkan analisis data yang dilakukan, arus yang mengalir pada rangkaian sebesar 58.07A. Pada rugi-rugi daya, rugi yang dihasilkan sebesar 0.105Kw.
GREEN WAKAF: STRATEGI PEMANFAATAN INSTRUMEN KEUANGAN ISLAM UNTUK KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN Makraja, Fahmi; Apridayanti, Rahayu; Shalahuddien, Ilham Akbar; Putri, Raihan; Al Fajri, Mirza
EKOMBIS: JURNAL FAKULTAS EKONOMI Vol 12, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/ekombis.v12i1.14026

Abstract

Waqf is an Islamic financial instrument that has great potential to contribute to social and economic development. However, its utilization in the context of environmental sustainability, or what is known as Green Waqf, is still not optimal. This study aims to analyze strategies for utilizing the wakaf instrument to support environmental sustainability through Green Wakaf. The research method employed is a qualitative literature review, examining various concepts of wakaf, green finance, and their implementation in various countries. The results of the study indicate that there are several strategies that can be applied to optimize Green Wakaf. First, a funding strategy, which involves combining cash wakaf and productive wakaf to finance environmentally friendly projects such as renewable energy, waste management, and organic farming. Second, a partnership strategy, which involves collaborating between wakaf institutions, the government, the private sector, and civil society to increase the scale and impact of projects. Third, product innovation strategy, namely by developing new waqf models that are relevant to environmental issues, such as green stock waqf and green sukuk. The implementation of these strategies is expected to make Green Waqf an effective Islamic financial instrument to promote sustainable development. Thus, waqf not only plays a role in poverty alleviation, but also becomes a concrete solution in overcoming global environmental challenges.Keywords: Waqf, Islamic Finance, Green Waqf, Environmental Sustainability, Green Finance.
Pemberdayaan Masyarakat melalui Sosialisasi Pembuatan Pestisida Alami Berbasis Daun Pepaya di Desa Alue Raya Husna, Fathayatul; Malini , Fitri; Sofiyan, Sofiyan; Ernawati, Ernawati; Mauliadi, Syahrol; Mordia, Pela; Yulis, Sari; Putri, Raihan; Putra, Muhammad Iqbal Kelana
Aksi Kita: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-FEBRUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/875eqg34

Abstract

Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan dalam kegiatan pertanian dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan, salah satunya pestisida alami yang terbuat dari daun pepaya. Pestisida alami dari daun papaya dipercaya memiliki tingkat efektivitas yang baik dalam mengendalikan organisme pengganggu. Kandungan bahan aktif dalam daun pepaya relatif aman bagi manusia maupun hewan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai manfaat dan penerapan pestisida alami. Metode implementasi dilakukan melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi menggunakan pestisida berbasis daun pepaya yang telah disiapkan sebelumnya oleh tim pelaksana. Tujuan dari pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat, mendorong Masyarakat agar mampu mengolah pestisida alami sendiri, mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia, serta mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Alue Raya mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang manfaat pestisida alami dan menunjukkan minat untuk menerapkannya secara mandiri dalam praktik pertanian. Kegiatan ini berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Co-Authors Abdul Muthalib, Muchlis Abdullah, Ahmad Zaidi bin Adi Syahputra Ritonga Akbar, Farhan Akmal, Syarifah Al Fajri, Mirza Al-Ani, Waleed Khalid Ahmed Almuyasir, Almuyasir Andhika Jaya Putra Andik Bintoro Apridayanti, Rahayu Arnawan Hasibuan Askarov, Rafael Asran Asran Asran, Asran Asri Asri Badriana, Badriana Daulay, Muhammad Arif Savinsada Dedi Fariadi Dheo Pratama Dina Fadhila Diras Elvi Idriana Elya Fitriyani Erawati, Henyy Ernawati Ernawati Ezwarsyah Ezwarsyah Ezzerouali, Souad Fachroji, Rizqan Fahmi Makraja Faisal Faisal Faisal Faisal Faisal Manurung Fakhruddin Ahmad Nasution Farabi, Sayed Muhammad Fatahillah, Fatahillah Fathayatul Husna fatimah Fatimah Fitria Mardhatillah Fuadi, Wahyu Gery Ulayya Hardi Gunawan, Khairul Habib Muharry Yusdartono Hardi, Gery U. Hardi, Gery Ulayya Hasibuan, Arlina I Made Ari Nrartha Ikhsan, Khairul Isa, Muzamir Isra, Raihan Juliadi, Endri Kartika Kartika Kartika, K Khairun Nisa Khairun Nisa M Sayuti Maizuar, M Malini , Fitri Maryana Maryana Mauliadi, Syahrol Meriatna Meriatna Misbahul Jannah Misbahul Jannah Mordia, Pela Muammar Muammar Muammar Muammar, Muammar Muchlis Abdul Muthalib Muhammad Adib Alfarisi Muhammad Afdal Muhammad Daud Muhammad Daud muhammad ilham manishe Muhammad Luthfi Muhammad Muhammad Muhammad Reza Muhammad, M Mukhlis Mukhlis Mukhlis Mukhlis Muksalmina Muksalmina Nasution, Fakhruddin A Nisa Afifah Nratha, I Made Ari Nur Hidayat, Muhammad Nurdin Nurdin Nurfebruary, Nanda Sitti P Purwanto Putra, Gusti Randa Affinda Putra, Muhammad Iqbal Kelana Rahman, Irfan Fatur Ramji, D. R. Rian Rahmad Riswanda Rizkan Tiara Roasdiana, Rosdiana Robi Kurniawan Rosdiana Rosdiana Rosdiana Rosdiana Sadli, M. Saifannur Saifannur Saifuddin Muhammad Jalil Saifuddin Saifuddin Salahuddin Salahuddin Salahuddin Salahuddin Salahuddin, S Selamat Meliala Selly Nofrianti Setia Saputra, Nanda Shalahuddien, Ilham Akbar Siti Sonya Nadzilla Sofiyan Sulaiman Sulaiman Tajul Iflah Tasyukur Taufiq Taufiq Taufiq Taufiq Teuku Multazam Tunnur, Layla Tunnur Widyana Verawaty Siregar Yasir Amani Yulhana, Irma Yulis, Sari Zulfadli Zulfadli Zulnazri, Z Zuraida Zuraida