Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Strategi Pembinaan Karakter Berbasis Pancasila untuk Rehabilitasi Anak Binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas Ii Bandung Sulistijaningsih, Sri; Nurihsan, Juntika; Nurdin, Encep Syarief; Sabri, Muhammad; Munawir, Ahmad
Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 10, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um019v10i1p35-44

Abstract

This study aims to identify character building programs and analyze obstacles in implementing character building programs for the rehabilitation of children in the Bandung Class II Special Children’s Rehabilitation Center. A qualitative descriptive approach was used to analyze Pancasila-based character building programs for the rehabilitation of children. The results of the study indicate that character development for the rehabilitation of juvenile offenders at the Bandung Class II Special Juvenile Rehabilitation Center is implemented through formal education programs as well as religious, intellectual, and national awareness character development programs, health, sports and arts, law and society, and independence. The challenges faced in character development efforts for the rehabilitation of juvenile offenders at the Special Juvenile Correctional Facility Class II Bandung include limited facilities and infrastructure, insufficient collaboration with educational institutions and local governments, a shortage of qualified educators and trainers, inadequate facilities, insufficient funding allocation, and poorly structured supervision. Efforts to address these challenges in character development for children in the Special Children’s Rehabilitation Center Class II Bandung can be achieved by improving human resource quality, enhancing facilities and infrastructure, optimizing budgets, fostering inter institutional collaboration, and developing a more structured evaluation system.
AGAMA MAINSTREAM, NALAR NEGARA DAN PAHAM LINTAS IMAN: Menimbang Philosophia Perennis Sabri, Muhammad; Musyahidah, Siti
Jurnal Diskursus Islam Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v3i1.196

Abstract

  Titah, isyarat, atau pun hukum yang dikalamkan Tuhan dari langit, selamanya punya dimensi profan. Di sana—di setiap napas nubuat kudus—ada jejak tegas yang tersisa: bahwa Yang Abadi sekekalnya saling membelah dengan bumi yang guyah. Dan, kebenaran selalu hadir dalam bentang sejarah yang aneka, di tangan agung seorang utusan yang cemerlang, tapi unik. Cahaya dan gelap acapkali saling bertukar tangkap dengan semesta-kode langit yang tak tunai dalam kalam. Sejak itu agama menemukan sangkarnya di bumi. Jejak agama-agama, karena itu, bukan sepenuhnya petanda langit, tapi juga geliat peristiwa bumi. Dalam The Transcendent Unity of Religions (1976), Fritjhof Schuon mengenalkan philosophia perennis—sebuah kearifan antik—yang mengandaikan kaitan seluruh eksistensi yang ada dengan Realitas Mutlak. Wujud kearifan itu disebut “Tradition” yang hanya dapat dicapai melalui Intellectus—istilah yang dipopulerkan Plotinus—sebagai ungkapan lain dari soul atau spirit. Manifestasi “Tradition” yang diyakini kaum perennial sebagai berasal dari Tuhan, memiliki paras yang jamak dalam sejarah: agama-agam, filsafat, kearifan, seni, tradisi, ritus, simbol, doktrin, dan seterusnya. Sejatinya, dasar-dasar teoretis kearifan philosophia perennis tentang “Tradition” terdapat dalam jantung setiap agama dan tradisi autentik: tradisi Budha menyebutnya dharma, Taoisme (tao), Hinduisme (sanathana), Islam (al-dîn), Patuntung (lalang), dan sebaginya. Dengan cara—yang dalam philosophia perennis disebut sebagai “transenden” itu—semua ritus, doktrin dan simbol keagamaan terpaut dalam sebuah scientia sacra (“pengetahuan-suci”) yang melampaui bentuk formal agama. Di titik ini—Indonesia sebagai bangsa Plural—patut mempertimbangkan perspektif philosophia perennis, yang mengandaikan the heart of religions: bahwa di dalam jantung setiap agama dan tradisi autentik merengkuh misi dan pesan kebenaran yang sama. Jika ini menjadi tumpuan kesadaran kolektif—maka Indonesia sebagai bangsa plural—bisa menjadi rumah besar bersama yang nyaman, indah, dan damai.
HMI, CAK NUR DAN GELOMBANG INTELEKTUALISME ISLAM INDONESIA JILID 2 Sabri, Muhammad
Jurnal Diskursus Islam Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v2i2.6527

Abstract

Artikel ini menjawab pertanyaan bagaimana posisi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia dan kaitannya dengan fenomena kegairahan intelektualisme Islam. Munculya gelombang baru intelektualisme Islam di Indonesia ditujukan dengan yang disebut sebagai “kelompok pembaruan pemikiran Islam” di Indonesia. Gerakan ini muncul merupakan respons Islam terhadap gagasan modernisasi di tanah air. Atau fenomena tersebut merupakan respons intelektual kaum Muslim terhadap situasi sosio-historis yang melingkari kehidupan bangsa Indonesia saat itu. Dalam mencermati perjalanan sejarahnya yang telah melampaui usia setengah abad, dinamika HMI adalah sebuah catatan yang berkembang, dan diyakini sebagai salah institusi yang telah memainkan peran fungsional-historisnya dalam mozaik sejarah perjuangan Indonesia. Peran-peran historis yang telah secara inheren melekat dalam tubuh HMI semestinya menjadi energi gerak dalam satu misi besar: transformasi sosial menuju Indonesia baru dengan visi intelektualisme Islam yang kompatibel. Untuk mengantisipasi perubahan masyarakat yang cepat, maka upaya-upaya mengubah orientasi, cara-pandang, metode, paradigma, dan gerak juang HMI, dengan sendirinya menjadi sebuah kemestian sejarah, khususnya dalam “membayangkan” masa depan bangsanya.ABSTRACTThis article answers the question of how the position of the Islamic Student Association (HMI) as an oldest Islamic student organization in Indonesia and its relevance to the phenomenon of Islamic intellectual excitement.  The emergence of a new wave of Islamic intellectualism in Indonesia is marked by the so-called “group of Islamic thought reform”. Its presence is a response to the idea of modernization in Indonesian country. In other words, the phenomenon is a response of Muslim scholars to social and historical atmospheres encircling the Indonesian life at that time.  By looking at its historical path that has exceeded the age of half a century, HMI's dynamics is a growing record and is believed as an institution which has played its functional and historical role in mosaic story of Indonesian struggle. These historical roles that have been inherently embedded in the body of HMI should be the energy of motion in one tremendous mission; social transformation toward new Indonesia with compatible vision of Islamic intellectualism. To anticipate rapid social changes, HMI’s efforts of changing orientations, perspectives, methods, paradigms, and also struggle moves become a historical necessity, particularly in “reflecting” the future of the nation.    
INTERNALISASI DAN INSTITUSIONALISASI KEBIJAKAN EKONOMI PANCASILA Lia Kian; Muhammad Sabri
Pancasila: Jurnal Keindonesiaan 2021: VOLUME 1 ISSUE 1, APRIL 2021
Publisher : Badan Pembinaan Ideologi Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52738/pjk.v1i1.23

Abstract

Eksistensi Ekonomi Pancasila sudah ada dengan Pancasila sebagai landasan idealnya dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusionalnya dan juga terjabarkan dalam ketetapan MPR tentang politik ekonomi dalam demokrasi ekonomi.  Untuk mewujudkan kebijakan ekonomi Pancasila diperlukan reformulasi kebijakan ekonomi Pancasila melalui Kementerian dan Lembaga yang diperuntukkan bagi Masyarakat, Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha.  Internalisasi dan Institusionalisasi kebijakan ekonomi adalah upaya untuk mengatasi permasalahan pembangunan karakter kebangsaan tentunya dapat diperkuat guna menangkal pengaruh dari luar  negeri maupun dari dalam negeri  di antaranya adalah globalisasi, radikalisme, intoleran, transnasional, transformasi budaya asing, kesenjangan ekonomi dan praktik-praktik monopoli. Pendekatan dalam tulisan ini dengan melihat Pancasila sebagai landasan falsafah, proses internalisasi dan Institusionalisasi dalam rumusan kebijakan ekonomi menjadi landasan berpikir dengan melihat dan mengkaji pemikiran Soekarno, Mohammad Hatta, Boediono dan Mubyarto. Ajaran Pancasila memiliki makna nilai-nilai dari setiap Sila Pancasila sebagai satu kesatuan yang utuh menjadi suatu sistem dalam bangunan kehidupan berbangsa, termasuk dalam hal ini untuk pengembangan kebijakan ekonomi Pancasila di Indonesia.
Freedom of Religion and Religious Relations (Construction of Sukarno's Thought) Muhammad Salahuddin; Muhammad Sabri
Pancasila: Jurnal Keindonesiaan 2022: VOLUME 2 ISSUE 2, OCTOBER 2022
Publisher : Badan Pembinaan Ideologi Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52738/pjk.v2i2.119

Abstract

The question of religious connections is constantly linked to the concept of religious freedom, which is a basic human right. This understanding of religion and religiousity must be maintained in order to obtain a tolerance attitude among religious groups. This is essential in development because religion and God are vital to human activity. The principles of the Oneness of God in the Pancasila  s state foundation are the result of the   Indonesian national figures thought about the problems raised above. The final dialogue of the Indonesian nation's founding fathers is the oneness og God as the foundation of all other of Panscasila principles. This article further elaborates on Sukarno's concept of divinity by combining the concepts of perennial philosophy, systems theory, and paradigm shift, which are related to the context of religious life in Indonesia.
Pancasila sebagai Pilar dalam Mengatasi Cyberbullying Nurcholish Madjid Datu; M. Tahir Kasnawi; Rahmat Muhammad; Muhammad Sabri; Nur Indrayanti
Pancasila: Jurnal Keindonesiaan 2024: VOLUME 4 ISSUE 2, OCTOBER 2024
Publisher : Badan Pembinaan Ideologi Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52738/pjk.v4i2.529

Abstract

Penelitian ini menyoroti eskalasi cyberbullying sebagai akibat dari perkembangan teknologi dan internet, dengan penguatan nilai-nilai Pancasila dalam membentuk perilaku yang positif di era digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan fenomena cyberbullying dan dampaknya serta penguatan nilai-nilai pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia dari perspektif Social Learning Theory sebagai langkah strategis untuk mencegahnya. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari jurnal-jurnal atau artikel-artikel yang relevan dengan penelitian ini. Berdasarkan analisis data dalam penelitian ini, ditemukan bahwa perilaku cyberbullying dapat dipengaruhi oleh observasi dan peniruan perilaku negatif yang diamati oleh individu di sekitarnya yang dapat menimbulkan dampak buruk seperti depresi, kecemasan, dan gangguan mental pada korban serta tingkat stres yang tinggi dan gangguan sosial pada pelaku. . Penerapan nilai-nilai Pancasila dapat membantu mengatasi dan mencegah cyberbullying dengan menciptakan lingkungan digital yang lebih ramah, menghargai perbedaan, dan memperlakukan setiap individu secara adil dan setara.
Habituation-Based Religious Character Education Grounded in Pancasila: Evidence from a Juvenile Correctional Setting in Indonesia Sri Sulistijaningsih; Encep Syarief Nurdin; Juntika Nurihsan; Muhammad Sabri
Pancasila: Jurnal Keindonesiaan 2025: VOLUME 5 ISSUE 2, OCTOBER 2025
Publisher : Badan Pembinaan Ideologi Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52738/pjk.v5i2.795

Abstract

The Reform Era of 1998, followed by rapid globalization and technological advancement, has profoundly affected the moral foundation of Indonesia’s younger generation. Data from the Indonesian Child Protection Commission (KPAI, 2022) show that West Java ranks highest in child protection cases, contributing to the increasing number of juvenile offenders at the Class II Juvenile Correctional Institution (LPKA) in Bandung, particularly in cases involving sexual misconduct. This situation demands a character development strategy that transcends administrative correction and focuses on moral and spiritual formation grounded in Pancasila, especially its first principle, Belief in the One and Only God. This study aims to design and evaluate a religious character development strategy using a habituation method implemented through supplementary classes. Employing a mixed-methods exploratory sequential design, the research began with qualitative data collection through observation, interviews, and document analysis, followed by quantitative analysis using pre-test and post-test data examined through the Wilcoxon Signed-Rank Test. The findings revealed that 29 out of 30 participants showed improved post-test scores, indicating significant positive changes in religious values, discipline, and spiritual awareness. These results confirm the effectiveness of the habituation-based strategy in fostering religious character and suggest that the model can be adopted by other juvenile correctional institutions to cultivate responsible, spiritually conscious youth with strong commitment to religious and national values.