Claim Missing Document
Check
Articles

GILL, KIDNEY, INTESTINE, AND LIVER STRUCTURES OF Pangasianodon hypophthalmus REARED UNDER BIOFLOC SYSTEM AND PHOTOPERIOD MANIPULATION Alfred Nobel Pardede; Windarti Windarti; Efawani Efawani
Asian Journal of Aquatic Sciences Vol 5 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/ajoas.5.1.71-80

Abstract

Pangasianodon hypophthalmus is a freshwater fish that can grow well in dark condition. In no light condition, fishes are more responsive to feed provided. However, phytoplankton may not grow well, and as a consequence the water quality was poor and it negatively effects the fish health in general. The combination of biofloc and photoperiod manipulation systems is expected to improve the water quality as well as the fish health. To understand health status of the fish in general, the histological structure gill, kidney and liver was investigated. Sample were fixed in 5% formalin, paraffin processed and Haematoxylin Eosin stained. There were 2 factor, 3 treatment applied, namely natural (control), 18G (18 hours dark), 24G (24 hours dark) and 3 repetition. Parameter measured were survival rate and histological structure of gill, kidney, intestine and liver. Results shown that there are not difference of histological structure of the organs of fish reared under biofloc and manipulated photoperiod systems. There were light abnormalities in the gill, such as hyperplasia, hypertrophy, oedema and necrosis. There is no negative effect of biofloc system and photoperiod manipulation in structure of fish organ as there is only light abnormalities that can be cured when the water quality is good.
Growth Rate and Mortality of Giant Freshwater Prawn (Macrobrachium rosenbergii) In Kuala Cenaku Village, Riau Province Ade Hermawita; Muhammad Fauzi; Deni Efizon; Windarti Windarti
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 27, No 3 (2022): October
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.27.3.280-285

Abstract

The growth rate and mortality rate of giant prawns (Macrobrachium rosenbergii) in the Kuala Cenaku River, Indragiri Hulu Regency, Riau Province were carried out based on carapace length frequency data collected from May to July 2020. This study aims at the growth rate and mortality of giant prawns in the Kuala Cenaku River. For estimating dynamic population, data were analysed by using FiSAT II. The growth parameter of tiger shrimp was 0,78/year with carapace asymptotic length (L) of 84,8 mm, total mortality rate (Z), natural mortality rate (M), fishing mortality rate (F) were 2,35/year and 1,16/year, 1,19/year, respectively, while and exploitation rate (E) estimated 0,50. The exploitation rate of Tiger Freshwater Prawn in Kuala Cenaku River was fully exploited and tend to overexploited so that it needed to manage wisely and carefully
UJI SLIDE AGLUTINASI UNTUK MENDETEKSI PENYAKIT ENTERIC SEPTICEMIA OF CATFISH (ESC) PADA IKAN PATIN (Pangasius pangasius) Nanang Muhson; Iesje Lukistyowati; Windarti .
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 1 (2020): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.167 KB) | DOI: 10.29406/jr.v8i1.1476

Abstract

Aglutinasi merupakan reaksi antibodi dan antigen dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan test kit untuk mendeteksi keberadaan bakteri yang menyebabkan penyakit ikan dengan cepat. Untuk memahami apakah reaksi antigen-antibodi E. ictaluri dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit Enteric Septicemia of Catfish (ESC), sebuah penelitian telah dilakukan dari September hingga Desember 2018. Antibodi diproduksi dari kelinci yang diimunisasi E. ictaluri yang tidak aktif (dosis bertingkat, periode 4 minggu, 0,5; 1; 2; dan 3 ml / minggu masing-masing). Serum Antibodi dipanen pada minggu ke-5. Antibodi itu kemudian digunakan untuk mendeteksi keberadaan E. ictaluri pada ikan yang terinfeksi. Sepuluh ikan patin diinfeksi dengan E. ictaluri aktif (1 ml, 106CFU / ikan, injeksi intraperitoneal). Tiga hari setelah infeksi dan ikan menunjukkan gejala penyakit ESC, isolat E. ictaluri diambil dengan mengekstraksi hati dan ginjal dan kemudian isolat tersebut ditanam di media TSA selama 24 jam. Isolat E. ictaluri kemudian disebarkan dalam kaca slide, dan dicampur dengan antibodi E. ictaluri. Reaksi antigen-antibodi itu dipelajari. Reaksi positif ditunjukkan oleh adanya butiran, sedangkan reaksi negatif tidak menghasilkan butiran-butiran seperti pasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antigen E. ictaluri yang dikumpulkan dari ikan yang terinfeksi ESC bereaksi positif terhadap antigen E. ictaluri dan butiran terbentuk dalam waktu 1 menit setelah antigen - antibodi direaksikan. Antibodi E. ictaluri menunjukkan reaksi negatif terhadap antigen bakteri lain. The accuracy of Rapid Diagnostic Test based antigen – antibody agglutination is identic with the result of E. ictaluri detection using PCR. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa Uji Aglutinasi Slide dapat digunakan sebagai Tes Diagnostik Cepat untuk mendeteksi penyakit ESC pada ikan patin.
Pengaruh Manipulasi Fotoperiod dan Pakan yang diperkaya Kunyit terhadap Pertumbuhan Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) Rizky Janatul Magwa; Windarti .; Morina Riauwaty Siregar
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2020): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.825 KB) | DOI: 10.29406/jr.v8i2.1630

Abstract

Ikan patin (Pangasius hypophthalmus) yang dipelihara ditempat gelap dapat ditingkat efektifitasnya, salah satunya adalah dengan manipulasi fotoperiod dan pakan yang diperkaya dengan kunyit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh manipulasi fotoperiod dan pakan yang diperkaya kunyit terhadap aspek biologi ikan patin. Penelitian ini dilakukan pada bulan juli – september 2019 di Laboratorium Biologi Perairan Universitas Riau. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok yaitu 3 kelompok fotoperiod (12 jam gelap dan 12 jam  terang (G12T12), 18 jam gelap dan  6 jam terang (G18T6), 24 Jam Gelap (G240T) dan 4 perlakuan kunyit (0g, 0,5g, 0,7g, 0,9 g/ kg pakan) dengan ulangan sebanyak 3 kali. Ikan patin berukuran 6-8 cm dan berat 4-5 g. Ikan patin dipelihara di kolam  terpal (75x50x60cm) sebanyak 36 kolam dengan masing masing kolam berisi 25 ekor ikan.  Penyamplingan dilakukan setiap 14 hari sekali dengan 3 ekor ikan/perlakuan. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan panjang, laju pertumbuhan harian, kelulushidupan, faktor kondisi, Efisiensi dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik terdapat pada G24K0,7 (24 jam gelap dan kunyit 0,7 g) dengan rata-rata bobot tubuh 55,8 g, panjang mutlak  rata-rata 189,3 mm dengan laju pertumbuhan harian sebesar 5,17% dan Efisensi pakan dengan nilai 86%, nilai FCR 1,16, serta kelulushidupan mencapai 97%. Sehingga perlakuan dengan 24 gelap dan kunyit 0,7 g dapat mempengaruhi aspek biologi ikan patin.
ANALISIS MORFOMETRIK DAN POLA PERTUMBUHAN IKAN JUARO (Pangasius polyuranodon) DI PERAIRAN SUNGAI KAMPAR DAN SUNGAI SIAK PROVINSI RIAU Lauura Hermala Yunita; Windarti .; Muhammad Fauzi
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2020): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.351 KB) | DOI: 10.29406/jr.v8i2.1649

Abstract

Pangasius polyuranodon commonly inhabit rivers in Riau such as Kampar and Siak Rivers. Evironmental condition of those rivers, however, are different. The Siak River has bad water quality, while that of the Kampar River is better and thus affects the morphological characteristic of the fish in general. To understand the morphological charateristic of fish from both rivers, a study has been conducted in March – June 2019. Fish was sampling once and they were analyzed in the laboratory. Results shown that general characteristics of the fish from both sampling areas are similar. The length-weight relationship, however, shoun that fish from the Siak River was smaller than that of the Kampar River. There was 170 – 360 mm TL, 41 – 474 gr BW and b value was 3,00 (isometric) for the fish of the Kampar River and there was 160 - 290 mm TL, 23 – 100 gr BW and b value was 1,83 (negative allometric). Secondary sexual characteristic of the fish from the Kampar River occured at around 250 mm TL, while that of the Siak River was 190 mm TL. Based on data obtained it can be concluded fish from the Kampar River growing faster than fish from the Siak River.
Struktur jaringan insang ikan jambal siam yang diberi pakan mengandung tepung kunyit Sri Wahyuni; Morina Riauwaty; Windarti .
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 1 (2020): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.232 KB) | DOI: 10.29406/jr.v8i1.1462

Abstract

Kunyit merupakan salah satu tanaman herbal yang memiliki sifat antibakteri dan antioksidan, serta mampu meningkatkan sistem imun ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat struktur jaringan yang diberi pakan mengandung tepung kunyit sebelum dan setelah diuji tantang bakteri A. hydrophila. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 2019 di Laboratorium Parasit dan Penyakit Ikan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan menerapkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan lima taraf, yaitu Kn (pemberian pakan tanpa diberi tepung kunyit dan tanpa diinfeksi bakteri A. hydrophila), Kp (Pemberian pakan tanpa diberi tepung kunyit dan diinfeksi bakteri A. hydrophila), P1 (tepung kunyit dengan dosis 0,5 g/kg pakan), P2 (dosis 0,7 g/kg pakan),P3 (dosis 0,9 g/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur jaringan insang ikan jambal siam yang diberi penambahan tepung kunyit dalam pakan dalam keadaan normal dan setelah diuji tantang dengan bakteri A. hydrophila mengalami beberapa kerusakan. Dosis terbaik penambahan tepung kunyit pada pakan adalah 0,7 g/kg pakan (P2) hanya mengalami kerusakan berupa hyperplasia dan deformasi lamella dengan kategori normal dan skor HAI 1,33.
PENGARUH FOTOPERIOD DAN PAKAN YANG BERBEDA TERHADAP INDEKS MORFOANATOMI IKAN SELAIS (Ompok hypopthalmus) Lulu Pratiwi; Windarti .; Syafriadiman .
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2020): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.543 KB) | DOI: 10.29406/jr.v8i2.1653

Abstract

Pertumbuhan dan reproduksi ikan dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal termasuk fotoperiod. Fotoperiod maupun pakan juga mempengaruhi perkembangan gonad. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga Oktober 2018, untuk mengetahui pengaruh fotoperiod dan jenis pakan. Ikan dipelihara dalam bak  fiber berukuran 140 x 60 x 40 cm, dan diletakkan dibawah tenda plastik yang dilengkapi dengan lampu 35 watt (2100 Lumen). Terdapat 3 fotoperiod yang berbeda, yaitu 12 jam terang 12 jam gelap (12T12G), 16 jam gelap (16G8T), dan 24 jam gelap (24G) dan terdapat 3 kombinasi pakan dengan 70% pakan terdiri dari 15% udang dan 15% jangkrik (15U15J), 10% udang dan 20% jangkrik (10U20J), dan 20% udang dan 10% jangkrik (20U10J). Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok. Penyamplingan dilakukan sebanyak 6 kali, sekali seminggu. Parameter yang diukur adalah panjang total, bobot tubuh, faktor kondisi (FK), indeks gonadosomatik (IGS), indeks hepatosomatik (IHS) dan indeks viscerasomatik (IVS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fotoperiod an jenis pakan mempengaruhi pertumbuhan namun tidak mempengaruhi reproduksi ikan. Hasil terbaik terdapat pada perlakuan 24G10U20J, dengan TL 20,58 cm, BB 48,98 g dan FK 0,5 pada akhir penelitian. Pada semua perlakuan, ikan mencapai TKG 3  pada minggu ke-6, namun hanya 2 ekor ikan yang mencapai TKG 4 pada perlakuannn 16G8T20U10J. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan O. hypopthalmus dalam keadaan gelap total memberikan hasil terbaik dalam pertumbuhan ikan, namun tidak mempengaruhi reproduksinya.
Perbandingan Hematologi Pangasianodon hypophthalmus yang dipelihara di Keramba Jaring Apung Sungai Siak dan Kolam Terpal dengan Manipulasi Fotoperiode Joyce Simanjuntak; Windarti Windarti; Efawani Efawani
Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol 11, No 1 (2023): Maret
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.11.1.p.61-68

Abstract

Pangasianodon hypophthalmus merupakan ikan nokturnal dan pemelihara ikan dalam manipulasi fotoperiode dapat mempengaruhi fisiologi ikan secara umum, termasuk kondisi hematologinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi hematologi ikan yang dipelihara dengan fotoperiode terkontrol dan ikan dari keramba jaring apung di Sungai Siak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus – Desember 2019. Metode yang digunakan adalah RAK dengan menerapkan manipulasi fotoperiode, dengan 3 perlakuan yaitu 24D (24 jam gelap), 18G6T (18 jam gelap dan 6 jam terang), dan 12G12T (12 jam gelap dan 12 jam terang), 3 ulangan. Ikan dipelihara di kolam terpal (70 x 50 x 60 cm) yang diisi air sebanyak 150 L dan dilengkapi dengan pompa sirkulasi dan aerator, serta padat tebar 30 ekor ikan/wadah (7,5 inci dan sekitar 4 g BB). Ikan diberi pakan pelet ikan komersial sebanyak 3 kali/hari sebanyak 4% dari bobot ikan/hari. Ikan dari keramba jaring di Sungai Siak dipelihara dengan penyinaran alami. Parameter yang diukur adalah jumlah sel eritrosit dan leukosit, kadar hematokrit dan leukosit serta diferensiasi leukosit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi darah ikan pada semua perlakuan serta ikan dari Sungai Siak adalah sama. Kondisi darah mereka menunjukkan bahwa mereka sehat. Jumlah eritrosit dan leukosit berkisar antara 1.646.632 - 2.753.333 dan 54,732 - 55,654 sel/mm3. Kadar hematokrit dan leukokrit berturut-turut adalah 23-36,2% dan 1,1-2,3%. Persentase sel leukosit masing-masing adalah 71,33% - 82,33% limfosit, 4,67-18,67% trombosit, 4,67 - 17,33% monosit dan 0 - 1,00% neutrofil. Data yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa manipulasi fotoperiode tidak berpengaruh negatif terhadap kondisi darah Pangasianodon sp. secara umum
Survival and Growth of Pangasianodon hypopthalmus Fed with Moringa oleifera Enriched Pellets and Reared in Tank With Aquaponic System and Dark Condition Windarti Windarti; Sofyan Husein Siregar; Asmika Harnalin Simarmata; Joko Samiaji
Jurnal Natur Indonesia Vol 21, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jnat.21.1.1-6

Abstract

Pangasianodon hypophthalmus grows well in a dark tank completed with an aquaponic system.  To improve the growth, a feed supplement made from Moringa oleifera might be used as it is rich in protein, vitamins A, B, C, and minerals. To understand the effect of  M.oleifera addition in the feed of fish, research has been conducted in June-July 2022. M. oleifera leaves were dried and powdered and then mixed with commercial fish feed pellets. There were 4 treatments of M. oleifera dosages, namely T0 (no M. oleifera), T1 (10 g/kg), T2 (15 g/kg), and T3 (20 g/kg). The fish was reared in a 100L container (30 fishes/tank, around 4 g BW and 8 cm TL), covered with a dark-colored tarp, and completed with the aquaponic system using Ipomoea aquatica. The feed was given 2 times/day, ad libitum. Samplings were conducted once/10 days, for 40 days. Results showed that the survival of fish in all treatments was 93.3 – 98.89%. The growth of fish, however, was different. There was no difference in fish body weight (BW), total length (TL), and specific growth rate (SGR) of fish fed with Moringa, they were around 23.5 g BW, 5.8 cm TL, and 4.3 cm SGR respectively. While those of the control fish were 13.0 g BW, 4.23 cm TL, and 2.89% per day SGR respectively. The fish that was fed with Moringa-enriched pellets showed the highest Feed Efficiency (90.42-97.46%) and the lowest FCR (1.03 – 1.11). While in the fish that was not fed with Moringa showed the lowest   FE (75.48%) and the highest FCR (1.33%). Data obtained indicate that Moringa positively improves the growth of fish as well as improving feed efficiency
Kidney Structure of Pangasianodon hypophthalmus Fed with Fermented Red Ginger and Infection by Aeromonas hydrophila Morina Riauwaty; Windarti Windarti; Mariani Natalina Linggasari
Jurnal Natur Indonesia Vol 21, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jnat.21.1.36-41

Abstract

Red ginger contain antioxidant that can be used to enhance the immune system of fish. A study was conducted from September to December 2021 to understand the kidney structure of Pangasianodon hypophthalmus that fed with red ginger fermented pellets. The fermented red ginger juice was obtained by juicing 500 g of red ginger in 3L water, boiled and mixed with 175 ml molasses, 65 ml yogurt and 50 mg yeast and then was fermented for seven days. The fermented red ginger juice was obtained by juicing 500 g of red ginger in days. The fermented red ginger juice was mixed with fish feed pellets, namely T1 (150 mL/Kg), T2 (175 mL/Kg), T3 (200 mL/Kg), Cn (no red ginger juice and no infection), Cp (no red ginger juice and infection by A. hydrophila). The fish were reared in 30L aquaria. Fish sample was P. hypophthalmus fingerling (10-12 cm and 5-7 g), 10 fishes/aquarium. The fish were fed 3 time a day, adlibitum. In the 30th day, A. hydrophila was injected to the treated fish   (0.1.ml of 108 cells/ml, subcutan injection). In the 14th after the infection kidney sample was collected and processed for histological study. Result shown that there were differences in kidney tissue of fish in each treatment. The worst condition was obtain in Cp, while the best was in T2. The renal structure of Cp showed abnormalities such as hemorrhage, cell necrosis, enlarged Bowman's cyst, and tubular degeneration, while the T2 kidney showed mild lesions specifically haemorrhagic. This fact indicates that fermented red ginger can improve fish immunity against A. hydrophila infection
Co-Authors Ade Hermawita Afifah, Nida Farah Ahmed Al-Harbi Alfiati Silfi Alfred Nobel Pardede Alim Isnansetyo Andi Wicaksono Andika Bharada Rizky Soeharto Anggraini Sukmawati Annavi, Riski Aras Mulyadi Arnoli, Zulmi Asep Permana Asmika Harnalin Simarmata Asshabri, Fadli Asyiqin, Nur Ayi Yustiati Betzy Victor Telaumbanua Bintal Amin Budijono, Budijono Claurisa Priskila Hutagalung Cyntia Uli Artha Sihombing Daroe Iswatiningsih Deillia Rusmirani Deni Efizon Deni Erizon Dessy Yoswaty Dewita Dewita Dian Handayani Dian Handayani Dimas Gusriansyah Eddiwan Eddiwan Eddiwan Kamaruddin Efawani Efawani Efawani Efawani Efawani, Efawani Efawani, Efawani Eko Prianto, Eko Endro Siswanto Eni Sumiarsih ENNIE CHAHYADI, ENNIE Erizon, Deni Fadilah, Annisa Farhan Ramdhani Farikhah Farikhah, Farikhah Fauzi , Muhammad Febriyola, Jenika Fiki Harjuni Gusnar Simangunsong Gusriansyah, Dimas Hafli, R. Diddin Mifdhol Haiyul Fadhli hermawati , Ade Hermawita, Ade Herwandi, Zeldi Hutagalung, Claurisa Iesje Lukistyowati Irene, Christin Irwan Effendi Irwan Effendi Irwan Irwan Iskandar Putra Isma Mulyani J. Wiratama, Prano Jernihtayanti, Jernihtayanti Joko Prastowo Joko Samiaji Joyce Simanjuntak Junianto Junianto Karsih, Okta Rizal Khatijah, Yayak Kurniasih Kurniasih Kurniasih Kurniasih Lapeti Sari Lauura Hermala Yunita Litavia, Widya Lulu Pratiwi M. Putra, Ridwan Mahdiyah, Evfi Mariani Natalina Linggasari Mariani Natalina Linggasari Masjudi, Heri Mega Novia Putri Mery Sukmiwati Mira Rahmita Sari Mira Rahmita Sari Morina Morina Morina Riauwaty Mufidah, Muna Muhammad Fauzi Muhammad Rizal Razman Mulyani, Isma Mutia Pradina Nanang Muhson Nano Rizki Syahfutra Nano Rizky Syahfutra Nasution, Aprilia Safitri Netta Emagiana Br Tarigan Nicken, Nicken Niken Ayu Pamukas Nisfi Maulidia Nasution Nofri Sandria Nur Asiah Nur Maulida Safitri Nurhendra, Novelin Nanda Nadhita Nursyirwani, Nursyirwani Nurwijayanti Okta Rizal Karsih Padmayni, Padmayni Pardede, Alfred Nobel Pradina, Mutia Pradita, Yuni Pulungan, Amar Doli Putra, Ridwan Putri, Dwika Hanifah Putri, Mega Novia Radhiyah Radhiyah Radhiyah Radhiyah Ranika Paramita Ridwan Manda Putra Rina D’rita Sibagariang Rina Firliana Rini Indriati Riri Ezraneti Riski Annavi Riswan, M Rizky Janatul Magwa Rizky Ulva Romie Jhonnerie Ronal Kurniawan Rusliadi Rusliadi Rusliadi Rusliadi Rusliadi Rusliadi Rusmirani, Deilia Saberina Hasibuan Sahputri, Herliza Khairani Salsabila, Izzaty Saputra, Raja Darmawan Saragih, Deliana Sari, Desi Maya Sari, Fadhila Cynthia Sari, Mira Rahmita Sarumaha, Herman Septy Heltria Simangunsong, Gusnar Simanjuntak, Joyce Simbolon, Mastiur Afridayanti Sinaga, Martianna Siregar, Morina Riauwaty Siregar, Rizky Febriansyah Sofyan Husein Siregar Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sukendi Sukendi Sumarto, Sumarto Suparmi Suparmi Supiana, Supiana Surbakti, Yuli Anggreani Putri Br Syafriadiman, Syafriadiman Syahfutra, Nano Syahputra, Tomi Syahril Nedi Syamsiar, Syamsiar Tanjung, Nevy Arizky Tarigan, Netta Thamrin Thamrin Titrawani Titrawani Tomi Syahputra Tumanggor, Josua Setiawan Vera Anggraini Wulandary, Marchya Audhya Yoppie Wulanda Yudho Harjoyudanto Yuliati Yuliati Zulmi Arnoli