p-Index From 2021 - 2026
6.301
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Systematic Literature Review: Civic Engagement dalam konteks Digital Citizenship Alvinca, Muhammad Fikri; Suyato
Jurnal Inovasi Pendidikan dan Teknologi Informasi (JIPTI) Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Inovasi Pendidikan dan Teknologi Informasi (JIPTI)
Publisher : Information Technology Education Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52060/jipti.v6i1.2587

Abstract

Civic engagement includes social and political dimensions, and the two dimensions are interrelated in line with this. In this study, the author uses the Scientific Procedures and Rationales for Systematic Literature Reviews protocol (SPAR-4-SLR). In the protocol, there are three stages and six sub-stages. The stages consist of Assembling, Arranging, and Assessing, and the sub-stages consist of Identification, Acquisition, Organization, Purification, Evaluation, and Reporting. Furthermore, the author used thematic, descriptive, and bibliometric analysis techniques. In bibliometric analysis, the author used the VOSviewer application version 1.6.20. The study's results using the Systematic Literature Review (SLR) method using the SPAR-4-SLR protocol show the breadth of research developments related to digital citizenship and civic engagement in various topics and various types of studies or methods. The diversity of country and institutional backgrounds of the authors of articles related to Digital Citizenship and Civic Engagement from each article also shows the broad interest value in the category.
PERAN MAHASISWA MEREDUKSI STIGMA NEGATIF REYOG PONOROGO MELALUI PENDEKATAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL Siswanto, Galih; Qurniawan, Alvin Putra; Elsya.R, Kharisma Delsy; Suyato, Suyato
JURNAL PEKAN : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Vol 11, No 1 (2026): JURNAL PEKAN
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpk.v11i1.6450

Abstract

Reyog Ponorogo merupakan sebuah kesenian non benda yang berasal dari kota Ponorogo yang tumbuh dari kepercayaan animisme dan dinamisme jaman dulu. Keragaman jenis Reyog yang bervariasi menimbulkan perbedaan dari segi pertunjukannya yang membuat berbagai pemikiran negatif muncul di kalangan masyarakat. Peran mahasiswa perlu ditingkatkan menjadi agen penggerak untuk memberikan alternatif solusi yang terjadi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana peran mahasiswa mereduksi stigma negatif reyog ponorogo melalui pendekatan kearifan lokal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus dalam pengembangan budaya Reyog Santri ponorogo. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara dan observasi. Teknik analisis data dengan reduksi, display dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kesenian Reyog Ponorogo kerap dihadapkan pada berbagai stigma negatif di masyarakat, seperti anggapan bahwa kesenian ini sarat akan hal mistis, menyimpang dari norma agama, erotis, hingga dianggap ketinggalan zaman. Untuk mengatasi hal ini, mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran krusial dalam meluruskan stigma tersebut dengan cara mengkaji dan mensosialisasikan nilai-nilai sejarah, filosofis, serta pesan budi pekerti luhur yang sebenarnya tertanam kuat dalam setiap tokoh dan elemen seni Reyog serta mahasiswa dapat menjadi pionir dalam pengembangan inovasi Reyog Santri. Hasil penelitian ini juga memberikan rekomendasi agar para generasi muda membuat komunitas seni di daerahnya masing-masing agar menjadi bagian pengembangan nilai-nilai filosofis moral budaya di tengah-tengah perkembangan teknologi dan budaya secara global.Kata kunci: Reyog; Ponorogo; Mahasiswa; Kearifan lokal
CIVIC CULTURE DALAM NGIDANG NGOBENG SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN PPKN BERBASIS BUDAYA LOKAL Amanda, Diva; Suyato, Suyato
JURNAL PEKAN : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Vol 11, No 1 (2026): JURNAL PEKAN
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpk.v11i1.6445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai sosial yang terkandung dalam tradisi  Ngidang Ngobeng serta menganalisis relevansinya sebagai sumber pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang berbasis budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kajian literatur dengan menelaah berbagai artikel ilmiah, buku, dan hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tradisi lokal, civic culture, dan pembelajaran PPKn. Data dikumpulkan melalui penelusuran, seleksi, serta analisis isi terhadap literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi  Ngidang Ngobeng mengandung nilai kewarganegaraan diantaranya yaitu, gotong royong, kesetaraan, kebersamaan, solidaritas sosial, partisipasi, tanggung jawab, dan religiusitas. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam pola interaksi sosial, tata pelaksanaan, serta peran setiap individu selama tradisi berlangsung. Dalam konteks PPKn, tradisi ini relevan sebagai sumber pembelajaran kontekstual karena mampu menghubungkan nilai-nilai Pancasila dan kewarganegaraan dengan pengalaman nyata peserta didik. Dengan demikian, tradisi  Ngidang Ngobeng berpotensi dimanfaatkan untuk memperkuat pembentukan karakter, kesadaran sosial, dan sikap kewarganegaraan generasi muda melalui pembelajaran berbasis budaya lokal. Kata kunci:  Ngidang Ngobeng, PPKn, Budaya
Internalisasi Nilai-Nilai Demokrasi Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SMAN 1 Kota Batu Lutfiana, Rose Fitria; Suyato, Suyato; Rizki, Ascosenda Ika; Wibowo, Arif Prasetyo
Jurnal Civic Hukum Vol. 11 No. 1 (206): Mei 2026
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jch.v11i1.44451

Abstract

This study aims to analyze the internalization of democratic values through the implementation of the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) under the theme “Voice of Democracy” in the student council election at SMAN 1 Kota Batu.  Studies on the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) have largely focused on program implementation and general character formation, while the internalization of democratic values through school-based democratic practices remains underexplored. This research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through interviews, observation, and document analysis.  The research instruments include interview guidelines, observation guidelines, and documentation study guidelines. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing, while data trustworthiness was ensured through source and technique triangulation. The findings show that the student council election within P5 functions as a school-based democratic laboratory, not merely as an electoral routine. The internalization of democratic values occurs through three main stages: nomination and campaign, candidate debate, and voting and vote counting. These stages foster students’ responsibility, tolerance, reciprocity awareness, open-mindedness, sportsmanship, honesty, and procedural discipline. The study concludes that P5 under the “Voice of Democracy” theme provides a substantive democratic learning experience and contributes to strengthening students’ democratic attitudes within the framework of the Pancasila Student Profile.
Penerapan pendidikan berbasis keseteraan gender dalam upaya mencegah kekeresan seksual di sekolah Sahira, Emilia; Arpannudin, Iqbal; Suyato, Suyato
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um022v8i22025p288-302

Abstract

Implementation of gender equality-based education in preventing sexual violence in schools This article aims to analyze the implementation of gender equality-based education as a preventive strategy in preventing sexual violence in the school environment. This research uses a qualitative method with a literature study approach, which includes analyzing academic journals, educational policies, and relevant official documents. The results of the study show that gender equality education is able to increase students' critical awareness of the issue of sexual violence, form social norms that reject violence, and create an inclusive and safe school environment. This education also encourages the active involvement of teachers and students in building a culture of mutual respect. However, resistance to gender education arising from various social and political actors indicates the need for a contextual and culturally sensitive approach. In conclusion, gender equality-based education is not only important as an effort to protect students, but also as a means of social and cultural transformation in the education system. Its implementation must be holistic, sustainable, and involve all elements of society in order to have a real impact in preventing sexual violence in schools. This article makes a conceptual contribution to the development of education policies that are more equitable and responsive to gender issues. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pendidikan berbasis kesetaraan gender sebagai strategi preventif dalam mencegah kekerasan seksual di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yang mencakup analisis terhadap jurnal akademik, kebijakan pendidikan, serta dokumen-dokumen resmi yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan kesetaraan gender mampu meningkatkan kesadaran kritis siswa terhadap isu kekerasan seksual, membentuk norma sosial yang menolak kekerasan, serta menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman. Pendidikan ini juga mendorong keterlibatan aktif guru dan siswa dalam membangun budaya saling menghormati. Namun, resistensi terhadap pendidikan gender yang muncul dari berbagai aktor sosial dan politik menandakan perlunya pendekatan yang kontekstual dan sensitif terhadap budaya lokal. Kesimpulannya, pendidikan berbasis kesetaraan gender tidak hanya penting sebagai upaya perlindungan terhadap peserta didik, tetapi juga sebagai sarana transformasi sosial dan kultural dalam sistem pendidikan. Implementasinya harus dilakukan secara holistik, berkelanjutan, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat agar dapat berdampak nyata dalam mencegah kekerasan seksual di sekolah. Artikel ini memberikan kontribusi konseptual dalam pengembangan kebijakan pendidikan yang lebih adil dan responsif terhadap isu gender.
Digital citizenship's ambiguity in cancel culture: from moral activism to cyberbullying Sari, Yunita; Mulyono, Budi; Murdiono, Mukhamad; Suyato, Suyato
Jurnal Studi Komunikasi Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Communications Science, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/jsk.v10i1.11210

Abstract

This study analysed critical discourse on digital citizens' comments regarding the Ridwan Kamil-Lisa Mariana case and interprets the concept of digital citizenship. This study used a qualitative approach with Fairclough's Critical Discourse Analysis (text, discourse practice, and socio-cultural practice). Data was collected using netnography techniques from 4,289 comments on the YouTube platform from six news and entertainment channels. The data was processed with NVivo 15 and visualised through matrix coding queries and word clouds. The results of the study show: 1. Critical discourse analysis on the text dimension shows that digital citizens' comments often use religious and moral diction such as ‘adultery’, ‘sin’, ‘mistress’, ‘cheap’, which function as labelling and symbolic punishment. The discourse practice dimension shows that comments easily spread following viral trends, so that emotional opinions are more quickly accepted than clarifications, resulting in moral activism turning into collective surveillance. The socio-cultural dimension is related to religious culture and social control in Indonesia, but in the digital space, these values have changed into mass pressure and digital vigilantism. 2. The shift from activism to bullying occurs due to virality, accompanied by negative labelling and religious undertones. Digital citizens tend to ignore four crucial elements related to digital citizenship, such as ethics, law, literacy, and rights and responsibilities. Therefore, these four elements need to be strengthened so that online participation does not turn into bullying.
The Role Of Civic Education In The Formation Of A Democratic Society (Udin Sarifudin Winataputra's Perspective) Tiar Hajunilato; Samsuri samsuri; Suyato suyato
Journal of Social Research Vol. 3 No. 11 (2024): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v3i11.2264

Abstract

This article has the aim of providing a theoretical review of the role of Citizenship Education in the formation of a democratic society through the views or perspective of Prof. Dr. Udin Sarifudin Winataputra, M.A., This research tries to build and obtain results from the theoretical and empirical foundations of Citizenship Education both among the public as well as students and teachers in the world of education, which aims to be able to develop a concept of the role of Citizenship Education in forming a democratic society. In this article, it can be concluded that Citizenship Education has three main roles or functions in the formation of a democratic society, namely developing civic intelligence, cultivating civic responsibility, and encouraging citizen participation both among the community and among education. The three functions or roles of civics education are also in line with the three components of civics education, namely citizenship knowledge, civic values and attitudes, and citizenship skills.
Rekonstruksi Civic Virtue Digital Berbasis Piil Pesenggiri dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Indonesia Ahmad Nur'Afief Dwianugraha; Yayuk Hidayah; Suyato; Puji Wulandari Kuncorowati; Sumantin Sitorus
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/decive.v5i8.4304

Abstract

Era disrupsi nilai memicu krisis etika berupa disinformasi, polarisasi, dan degradasi moral yang mengancam stabilitas sosial. Tantangan ini diperburuk oleh dominasi perspektif Barat dalam pendidikan kewarganegaraan digital yang kurang menyentuh akar budaya lokal. Penelitian ini bertujuan merumuskan kerangka kerja pendidikan kewarganegaraan digital berbasis etnopedagogi Piil Pesenggiri sebagai strategi mitigasi disrupsi nilai di Indonesia. Melalui pendekatan kualitatif studi pustaka, ditemukan bahwa nilai-nilai Juluk Adek, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan dapat direkonstruksi menjadi fondasi civic virtue digital meliputi integritas identitas, etika komunikasi empatis, partisipasi inklusif, dan kolaborasi kolektif yang bertanggung jawab. Hasil kajian menunjukkan internalisasi kearifan lokal Lampung ini berfungsi sebagai "benteng moral" yang menjembatani identitas digital dengan nilai sosial masyarakat. Simpulan penelitian menegaskan bahwa rekonstruksi etnopedagogi ini sangat krusial untuk membangun karakter warga digital yang bertanggung jawab sekaligus membumikan nilai-nilai luhur keindonesiaan dalam ekosistem global yang homogen demi penguatan identitas nasional yang berkelanjutan di masa depan secara komprehensif utuh.
Civic Culture dalam Integrasi Tradisi Ngalungi Sapi di Dukoh Dresi Wetan Kasmi Kasmi; Suyato; Puji Wulandari Kuncorowati; Alil Rinenggo
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/decive.v5i7.4330

Abstract

Arus globalisasi saat ini berdampak pada terkikisnya identitas budaya lokal dan karakter kewarganegaraan di kalangan generasi muda. Kondisi ini menuntut adanya langkah nyata dalam memperkuat ketahanan budaya, salah satunya melalui integrasi tradisi lokal ke dalam sistem pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tradisi Ngalungi Sapi di Dukoh Dresi Wetan dapat dijadikan sumber pengembangan civic culture dalam Pendidikan Kewarganegaraan. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa tradisi ini memanifestasikan nilai civic skills melalui gotong royong pembuatan ketupat, serta civic disposition dalam praktik weweh sedulur. Selain itu, ritual pengalungan ketupat mencerminkan etika lingkungan sebagai bentuk civic virtue, acara selametan memperkokoh aspek spiritualitas masyarakat. Secara teoretis, nilai-nilai tersebut sejalan dengan pilar pengetahuan, keterampilan, dan watak kewarganegaraan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi kearifan lokal Ngalungi Sapi sangat efektif sebagai strategi pembelajaran kontekstual untuk mempertebal tanggung jawab sosial dan jati diri nasional di tengah tantangan era digital.
Peran Nilai Dalihan Na Tolu dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik sebagai Dimensi Pengetahuan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Sumantin Sitorus; Suyato Suyato; Puji Wulandari Kuncorowati; Ahmad Nur'Afief Dwianugraha; Kasmi Kasmi
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/decive.v5i6.4336

Abstract

Kajian ini menelaah kedudukan nilai “Dalihan Na Tolu” dalam pembentukan karakter peserta didik remaja sebagai dimensi pengetahuan serta relevansinya bagi Pendidikan Kewarganegaraan. Gejala permasalahan moral, berkurangnya penghormatan sosial, dan rendahnya penghayatan terhadap budaya lokal memperlihatkan kebutuhan akan penguatan pendidikan karakter yang lebih kontekstual. Pendekatan yang dipakai berupa Systematic Literature Review dengan acuan PRISMA 2020, melalui penelusuran pada database Scopus, selama periode 2022–2026, sehingga diperoleh 18 artikel layak telaah. Sintesis data memperlihatkan bahwa nilai somba marhula-hula, manat mardongan tubu, dan elek marboru berperan dalam menumbuhkan sikap hormat, tanggung jawab, solidaritas, empati, serta kesadaran sosial peserta didik. Temuan tersebut menempatkan dalihan na tolu sebagai civic values berbasis kearifan lokal yang menguatkan civic culture, civic knowledge, dan civic disposition. Kebaruan kajian ini terletak pada penegasan budaya lokal sebagai sumber pembelajaran kewarganegaraan kontemporer.
Co-Authors Afriani, Febi Ahmad Nur'Afief Dwianugraha Ahmad Ridwan Ali Masykur Fathurrahman Alil Rinenggo Alrakhman, Riza Amanda, Diva Aprilianata, Aprilianata Ari Hudrianto Ariani Songli Ariani Songli Arif Prasetyo Wibowo Arpannudin, Iqbal ayu ramadhani Devi, Indra Dian Satria Charismana Elsya.R, Kharisma Delsy Ernita, Tiara Estiva, Estiva Firmansyah, Akmal Hanum, Fatikhah Fauziah Harahap, Nur Indri Yani Hidayah, Yayuk IFFAH NURHAYATI, SRI HARTINI, ANANG PRIYANTO, Ismiyani, Yayuk Jawatir Pardosi Johan Dwi Saputro Kasmi Kasmi Lutfia Septiningrum Maria Antoneta Karbeka Maria Antoneta Karbeka Marzuki Marzuki Marzuki Maulana, Daffa Fakhri Muhammad Fikri Alvinca Muhammad Syamsuddin Mukhamad Murdiono Mulyono, Budi Nurlatifa Nurlatifa, Nurlatifa Puji Wulandari Kuncorowati Qurniawan, Alvin Putra Rahayu, Yayuk Muji Ranita Eka Desti Rahmawati Ranita Eka Desti Rahmawati Rizki, Ascosenda Ika Rizky Anisa Salsabila Rose Fitria Lutfiana Roul Alvaro Prasetyo Sahira, Emilia Samsuri Samsuri Samsuri Samsuri Samsuri Saputri, Ravita Mega Sekarsari, Peni Setiawati Simanjuntak, Tika Paskayati M Simbolon, Ali Mustopa Yakub Siswanto, Galih Siti Aulia, Syifa Sukarti, Sri Endang Edi Sumantin Sitorus Sumantin Sitorus Sunarso Sunarso Supri Hartanto Hartanto Sutrisno, Cucu Syafawati, Zulfah Lis Syafitri, Aisyah TAYIB, ADE SOPYAN HADI Tiar Hajunilato Toba Sastrawan Manik Wahyu Cahyana Putra Wijaya, Dian Azizah Sadriansyah Yayuk Hidayah Yayuk Hidayah Yayuk Ismiyani Yuanjaya, Pandhu Yudha, Muhamad Yunita Sari Zai, Ronaldo Zulkifli Alamsah Sutanto