Claim Missing Document
Check
Articles

UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG INFEKSI PNEUMONIA PADA ANAK SERTA PEMANFAATAN POTENSI LOKAL UNTUK INDONESIA BEBAS PNEUMONIA Sy Pakaya, Mahdalena; Zuriati Uno, Wiwit; Ain Thomas, Nur; Ar’syifa Wijaya, Hudan
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 6 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i6.2543-2549

Abstract

Infeksi pernapasan akut yang menyerang paru-paru dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Meskipun penyakit ini dapat menyebabkan kematian pada semua kelompok usia, bayi dan balita adalah yang paling rentan. Anak-anak di bawah dua tahun lebih rentan terhadap pneumonia daripada orang dewasa. Dari 6,6 juta balita yang meninggal dunia, 1,1 juta di antaranya adalah pneumonia, dan 99 persen dari kasus ini terjadi di negara berkembang. Di Indonesia, pneumonia sangat umum di kalangan anak-anak usia 1-4 tahun, dengan kasus tertinggi terjadi pada orang-orang dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah (2,74%). Pada tahun 2013, insiden pneumonia tertinggi terjadi pada anak usia 12-23 bulan, meningkat menjadi 6,0% pada tahun 2018. Di Provinsi Sulawesi Selatan, prevalensi pneumonia tercatat sebesar 1,2% pada tahun 2022, dengan angka tertinggi di Kota Pare-Pare (2,57%). Berdasarkan karakteristik balita, populasi tertinggi ditemukan pada usia 24-35 bulan (1,67%), jenis kelamin perempuan (1,21%), dan tinggal di pedesaan (1,56%). Dibandingkan dengan penyakit lain, pneumonia menyebabkan kematian lebih tinggi. Salah satu metode utama untuk menangani infeksi adalah penggunaan antibiotik; namun, sekitar 40-62% penggunaan antibiotik tidak tepat, yang dapat menyebabkan resistensi obat atau Multi Drug Resistance Organisms (MDROs). Penelitian Ettore menunjukkan bahwa efek samping seperti ruam kulit, urtikaria, diare, mual, dan muntah dapat terjadi setelah penggunaan antibiotik pada anak-anak. Penggunaan antibiotik harus dilakukan dengan hati-hati pada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka belum matang dan lebih rentan terhadap infeksi. Respon tubuh anak terhadap berbagai obat. Tubuh anak berbeda dengan tubuh orang dewasa dalam hal penyerapan, distribusi, metabolisme, dan eliminasi obat. Ini dapat memengaruhi efektivitas dan efek samping obat. Banyak tanaman lokal saat ini digunakan sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit, seperti infeksi. Daun miana (Coleus scutellarioides) dan jeruk nipis (Citrus aurantifolia) adalah tanaman yang sering digunakan oleh masyarakat dan diyakini dapat mencegah dan mengobati penyakit saluran pernapasan. Untuk menghentikan infeksi pneumonia di Indonesia, sangat penting untuk memberikan pendidikan tentang pneumonia dan manfaat tanaman herbal lokal Gorontalo untuk mencegah infeksi pneumonia pada anak.
Evaluasi Waktu Tunggu Pelayanan Resep Obat Pasien Rawat Jalan yang Dilayani di Instalasi Farmasi RSUD. dr. Zainal Umar Sidiki Kab. Gorontalo Utara Alamri, Mutia; Tuloli, Teti Sutriyati; Thomas, Nurain
Health & Medical Sciences Vol. 3 No. 2 (2026): February
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/phms.v3i2.570

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengevaluasi waktu tunggu pelayanan resep obat pasien rawat jalan yang dilayani di Instalasi Farmasi RSUD dr. Zainal Umar Sidiki Kabupaten Gorontalo Utara berdasarkan SPM rumah sakit. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional, dilakukan secara prospektif pada periode 15–22 Oktober 2025. Sebanyak 302 resep dianalisis, terdiri atas 13 resep racikan dan 289 resep non-racikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata waktu tunggu resep racikan adalah 26 menit, sedangkan rata-rata waktu tunggu resep non-racikan adalah 9,2 menit. Nilai maksimum waktu tunggu tercatat 47 menit untuk racikan dan 57 menit untuk non-racikan, sementara nilai minimum masing-masing adalah 12 menit dan 1 menit. Standar deviasi resep racikan sebesar 1,6 menit menunjukkan variasi waktu tunggu yang stabil, sedangkan non-racikan memiliki standar deviasi lebih tinggi yaitu 17,37 menit karena dipengaruhi jumlah resep dan fluktuasi kunjungan pasien. Kesimpulan penelitian ini yaitu waktu tunggu pelayanan resep racikan dan non-racikan di instalasi farmasi RSUD dr. Zainal Umar Sidiki telah memenuhi standar waktu tunggu pelayanan resep yang ditetapkan oleh SPM rumah sakit, yaitu ≤60 menit untuk racikan dan ≤30 menit untuk non-racikan. Dengan demikian, mutu pelayanan resep di instalasi farmasi dapat dikategorikan baik dan masih perlu dipertahankan serta ditingkatkan melalui optimalisasi alur kerja dan penguatan manajemen pelayanan farmasi.
Pengaruh Konsentrasi Tween 80 terhadap Pembentukan Nanopartikel Polimerik Pullulan–Glabridin Irmayanti, Irmayanti; Ain Thomas, Nur; Paneo, Mohamad Aprianto; Suyadi, A. Mu’thi Andy; Papeo, Dizky Ramadani Putri
-
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jrpi.v3i1.36595

Abstract

Nanoparticle-based drug delivery systems have been widely developed to enhance the solubility, stability, and bioavailability of hydrophobic bioactive compounds such as glabridin. Glabridin is a major flavonoid derived from Glycyrrhiza glabra with various pharmacological activities; however, its application is limited due to poor water solubility and susceptibility to degradation. This study aimed to evaluate the effect of Tween 80 concentration on the physicochemical characteristics of pullulan–glabridin polymeric nanoparticles prepared using the nanoprecipitation method. Pullulan was employed as a biodegradable and biocompatible polymer matrix, while Tween 80 was used as a non-ionic surfactant at concentrations of 0.4%, 0.6%, and 0.8%. The nanoparticles were freeze-dried and characterized for particle size, polydispersity index (PDI), zeta potential, entrapment efficiency (EE), drug loading (DL), and Fourier Transform Infrared (FTIR) analysis. The results showed that increasing Tween 80 concentration significantly improved nanoparticle characteristics. Nanoparticles with sizes of 105–145 nm, lower PDI values, and enhanced colloidal stability were obtained. The highest EE (87.60%) and DL (8.76%) were achieved at 0.8% Tween 80. FTIR analysis confirmed the absence of chemical degradation or interaction, indicating stable nanoparticle formation.
Inovasi Kue Cup Brudel Fungsional : Formulasi Jahe, Kunyit, dan Ubi Ungu Sebagai Pangan Sehat Untuk Kesehatan Jantung dan Tulang Paneo, Mohamad Aprianto; Thomas, Nurain; Polamolo, Cristian; Lihawa, Karmila; Raji, Andre; Latif, Multiani S; Pomalango, Zulkifli B
Jurnal Pengabdian Masyarakat Farmasi : Pharmacare Society Vol 5, No 1 (2026)
Publisher : State University of Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/phar.soc.v5i1.34986

Abstract

Program pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan inovasi produk pangan fungsional melalui pembuatan kue cup brudel berbahan dasar kunyit, jahe, dan ubi ungu yang mendukung kesehatan jantung dan tulang. Tujuan utama dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan aspek produksi dan pemasaran digital pada UMKM Rumah Brudel li Ummu Azzam, serta memperkenalkan bahan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan konsumen. Program ini dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan pelatihan dalam proses produksi, pengelolaan bahan baku sehat, pembuatan SOP produksi, serta penerapan strategi pemasaran digital melalui platform media sosial. Selain itu, dilakukan uji coba pasar dengan melibatkan kelompok dewasa dan lansia untuk mengumpulkan feedback mengenai rasa dan manfaat produk. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan dalam aspek produksi, dengan 82% responden melaporkan peningkatan dalam kemampuan mengolah bahan fungsional dan efisiensi produksi. Di sisi pemasaran, 82% responden mengungkapkan peningkatan kemampuan dalam membuat konten promosi dan menggunakan platform digital secara lebih efektif. Produk ini juga mendapatkan penerimaan positif dari konsumen terkait cita rasa dan manfaat kesehatan, dengan jangkauan pemasaran yang lebih luas berkat strategi pemasaran digital yang diterapkan. Program ini berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat pemasaran digital UMKM Rumah Brudel li Ummu Azzam. Inovasi produk kue cup brudel fungsional tidak hanya meningkatkan kualitas produk tetapi juga memperluas pasar, memberikan dampak positif terhadap kesehatan masyarakat, serta meningkatkan daya saing UMKM di pasar lokal dan digital.
Biopotential of Gorontalo Hulu’u Fish (Giuris margaritacea) Albumin in a Novel Spray Gel Formulation for the Treatment of BurnWounds: In Vivo Evaluation in Rats Paneo, Mohamad Aprianto; Djuwarno, Endah Nurrohwinta; Habibie, Sitty Ainsyah; Thomas, Nurain; Latif, Multiani S.; Munafri, Nur Alifia Karina; Anasiru, Rayhan Firman
Science and Technology Indonesia Vol. 11 No. 2 (2026): April
Publisher : Research Center of Inorganic Materials and Coordination Complexes, FMIPA Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26554/sti.2026.11.2.389-404

Abstract

This study aimed to evaluate the efficacy of different concentrations of Hulu’u fish albumin-based spray gels in promoting wound healing in burn injuries in male white rats. The formulations included 10%, 15%, and 20% concentrations of Hulu’u fish albumin, which were compared to a commercial snakehead fish albumin gel (positive control) and a spray gel base without albumin (negative control). Wound diameter reduction was assessed over seven days. The results indicated a clear dose response relationship, with the 20% Hulu’u fish albumin formulation (F3) achieving the most significant reduction in wound diameter, averaging 1.57 mm (range: 1.5–1.6 mm), representing a 91.8% improvement compared to the negative control group, which showed an average reduction of 19.13 mm (range: 18.1–19.7 mm). The Positive Control (snakehead fish albumin gel) demonstrated a moderate reduction with an average of 6.97 mm (range: 6.6–7.6 mm). The 10% Hulu’u fish albumin (F1) and 15% Hulu’u fish albumin (F2) formulations showed moderate improvements, with average reductions of 4.73 mm (range: 4.4–5.1 mm) and 4.5 mm (range: 4.7–3.9 mm), respectively. These findings suggest that higher concentrations of Hulu’u fish albumin, particularly the 20% formulation, offer superior wound healing properties, outperforming both the negative control and the commercial snakehead fish albumin gel. The study highlights the potential of Hulu’u fish albumin as a novel bioactive compound for burn wound treatment and warrants further investigation for clinical applications.
Formulation of 70% Ethanol Extract Cream of Ketapang Leaf (Terminalia catappa L.) and Efficacy Test for Cut Wound in Mice (Mus muscullus) Thomas, Nurain; Ramadhani, Fika Nuzul; Rasdianah, Nur; Paneo, Mohamad Aprianto; Toana, Kadaria
Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP) Vol 6, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jecp.v6i1.1458

Abstract

A laceration (vulnus scissum) is characterized by straight, regular wound edges, typically resulting from sharp object trauma. Ketapang leaves (Terminalia catappa L.) contain bioactive compounds, including flavonoids, saponins, tannins, sterols, alkaloids, and terpenoids, which possess anti-inflammatory properties and the potential to accelerate wound recovery. This study aimed to evaluate the effectiveness of an extract cream derived from T. catappa leaves on laceration healing in mice (Mus musculus). The extract was obtained via maceration using 70% ethanol, followed by phytochemical screening. The cream base was optimized to meet pharmaceutical standards, with evaluations encompassing organoleptic properties, pH, dispersibility, adhesion, viscosity, and freeze-thaw stability. Three formulations were developed with varying extract concentrations: F1 (15%), F2 (20%), and F3 (25%). The in vivo efficacy test involved five groups of mice. Results indicated that all three formulations met the criteria for physical stability. In terms of healing duration, the negative control group required 21 days, while the positive control group achieved healing in 10 days. Among the treatment groups, F1 (15%) and F2 (20%) showed healing times of 18 and 16 days, respectively. Notably, F3 (25%) exhibited the highest efficacy with a healing time of 10 days, comparable to the positive control. Statistical analysis using One-Way ANOVA confirmed these findings with a p-value < 0.05.
Co-Authors Abas, Siti Nur Rahmatiya Abto, Nazarudin Adam Mustapa, Mohammad Akuba, Julianti Alamri, Mutia alkatiri, ahmad alkatiri Alpian Panu, Muhamad Anasiru, Rayhan Firman Andi Makkulawu Anggai, Rifka Anggraini Anggun Sasmita Ibrahim Ar’syifa Wijaya, Hudan Ariani H. Hutuba Arista Idris, Pinkan Astuti, Zulfa Amalia Bakari, Mohamad Fadly Basri, Rakhmadana Fitraeni Bioto, Yakob Cristian Polamolo Datu, Novanza L.M.N Devie Ariany Daud Dr. Apt. Hamsidar Hasan S.Si.,M.Si Dwy Jayanto Palay, Rendy Ekawaty Prasetya Endah Nurrohwinta Djuwarno Faradila Ratu Cindana Fika Nuzul Ramadhani Fujiana Abd Karim Gita Potabuga Grasela Mbae Habibie, Sitty Ainsyah Hamsidar Hamsidar Hamsidar Hasan Harwanto, Yelisnawati Hiola, Faramita Hutuba, Ariani Irmayanti Irmayanti, Irmayanti Ishak Isa Julianty Akuba Kahar, Oktaviani LATIF, MULTIANI S Latif, Multiani S. Lihawa, Karmila Madania Madania, Madania Madania, Madania Mahdalena Sy Pakaya Makkulawu, Andi Malopo, Ekaria Revalya Mamu, Safira Mahadewi Manno, Mohamad Reski Maryadi Moh. Rivai Nakoe Mohamad Adam Mustapa Mohamad Aprianto Paneo Mohi, Mega Agustiwi Moo, Faradila Ratu Cindana Mo’o, Faradila Ratu Cindana Muhammad Taupik Muhammad Taupik Multiani S Latif Mumtazah, Naharil Munafri, Nur Alifia Karina Nabila Novreini Djunaidi Nakii, Siti Fatmawaty Nur Oktaviana Nur Rasdianah Pakaya, Juniarista Jessica Pakaya, Lutfiah Pakaya, Nikmasari Papeo, Dizky Ramadani Putri Pido, Nur Huda Puluhulawa, Lisa Efriani Rahmatia Is. Kaluku Raji, Andre Rismayani, Nur Robert Tungadi Robert Tungadi Robiatun Rambe Sabrina, Putri Febbiyanti Sapiun, Zulfiayu Selvi Marcellia Sidangoli, Adiva Sri Nur&#039;ain E. Ahmad Suleman, Putri Rawe Suleman, Windy Riani Suryadi, A. Mu'thi Andy Suryadi, A. Mu’thi Andy Suryadi, A.Mu'thi Andy Suryadi,, A. Mu'thi Andy Susanti Pakaya Suyadi, A. Mu’thi Andy Teti Sutriyati Tuloli Thamrin, Rahmulia Timo, Nur Kharisma Ekaputri Toana, Kadaria Tomu, Anita Faradiana Pratiwi R. Wanda Gita Van Gobel Widy Susanti Abdulkadir Widy Susanti Abdulkadir Widy Susanti Abdulkadir Widysusanti A.K Wiwit Zuriati Uno Yasin, Sulistya Yayah Rachmatiyah Yuni Sarah Manoppo Zulkifli B. Pomalango Zulmai Rani Zuriati Uno, Wiwit