Meugang merupakan salah satu praktik budaya paling tua dan penting dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tradisi yang dilaksanakan menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Idul Adha ini tidak sekadar berfungsi sebagai kegiatan konsumsi daging, tetapi menjadi simbol religius dan kultural yang berperan dalam memperkuat identitas masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis relevansi tradisi Meugang dalam pembentukan identitas kultural-keagamaan masyarakat Tradisi Aceh dengan menelusuri sejarah, nilai-nilai religius, serta fungsi sosial yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, termasuk kajian historis Sejarah terhadap tradisi Meugang. Hasil analisis menunjukkan bahwa Meugang berperan sebagai media pewarisan nilai Islam, penguatan solidaritas sosial, serta pengikat identitas kultural masyarakat Aceh. Tradisi ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga berfungsi sebagai sarana internalisasi nilai syukur, sedekah, silaturahmi, dan penghormatan terhadap hari-hari besar Islam. Dengan demikian, Meugang memiliki relevansi yang signifikan dalam menjaga kesinambungan identitas kultural keagamaan masyarakat Aceh di tengah dinamika modernisasi. Temuan ini menegaskan pentingnya pelestarian tradisi Meugang sebagai bagian integral dari warisan budaya dan pendidikan nilai di Aceh.