Claim Missing Document
Check
Articles

Aktifitas Anti Bakteri Sediaan Foot Spray Ekstrak Kulit Jeruk Lemon (Citrus limon(L.)) dan Daun Teh (Camelia sinensis L(L.)) terhadap Staphylococcus epidermidis Zahara, Fitria Siti; Nasution, Muhammad Amin; Lubis, Minda Sari; Yuniarti, Rafita
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Ilmiah MANUSIA DAN KESEHATAN
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v8i1.3508

Abstract

Indonesia adalah salah satu Negara ber-iklim tropis yang memiliki 2 cuaca yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Pada saat musim kemarau suhu melonjak derastis sehingga produksi keringat cenderung meningkat. Kaki adalah salah satu bagian tubuh yang banya mengeluarkan keringat, karena pada kaki sering ditutupi dengan penggunaan kaus kaki dan sepatu yang mengakibatkan bau kaki. Bau kaki menjadi permasalahan yang banyak dialami oleh masyarakat dimana bau kaki mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri dan dapat mengganggu kenyamanan orang lain. Bau kaki sendiri disebabkan oleh adanya penumpukan keringat yang dipicu oleh bakteri pada permukaan kulit, salah satunya bakteri Staphylococcus epidermidis. Penelitian ini dilakukan degan metode eksperimental. Dimana kombinasi kulit jeruk lemon dan daun teh diformulasikan menjadi sediaan foot spray dengan beberapa konsentrasi ekstrak yaitu 0.5%, 1% dan 1,5%. Kemudian sediaan foot spray melewati uji evalusai sediaan dan uji aktifitas anti bakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis.Hasil akhir penelitian menunjukkan sediaan footspray ekstrak jeruk lemon dan dauun teh telah melewati pengujian cycling test baik secara organoleptis yang meliputi bentuk, warna, aroma dan pH sediaan telah memenuhi persyaratan. Sedangkan untuk hedonic test formulasi yang paling diminati oleh sukarelawan adalah formula I dengan konsentrasi 0,5% dan dilakukan uji iritasi kepada sukarelawan, menunjukkan ketiga formulasi tidak menyebabkan iritasi pada kulit. Dalam pengujian aktivitas antibakteri dari ketiga formulasi, formula 1 dengan konsentrasi 0,5% menunjukkan aktifitas antibakteri termasuk kategori sedang, sedangkan pada formulasi 2 dan 3 dengan konsentrasi masing masing 1% dan 1,5% menunjukkan aktifitas antibakteri kuat dengan diameter zona hambat berturut-turut formula 1 dengan konsentrasi 0,5% 7,93mm, formula 2 dengan konsentrasi 1% 11,4mm, dan formula 3 dengan konsentrasi 1,5% 13,96mm terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Shampo Nano Ekstrak Bonggol Nanas (ananas comosus (l.) Merr) Sebagai Antiketombe Lubis, Nurazizah; Lubis, Minda Sari; Yuniarti, Rafita; Rani, Zulmai
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Ilmiah MANUSIA DAN KESEHATAN
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v8i1.3509

Abstract

Bonggol nanas merupakan bagian tengah buah nanas, bonggol nanas positif mengandung meabolit sekunder flavonoid, alkaloid, saponin yang dapat bersifat sebagai antijamur. Malasezia furfur merupakan flora normal pada kulit kepala yang akan bersifat pathogen dan berkembang secara cepat dengan kelebihan kelenjar keringat. Pertumbuhan jamur Malasezia furfur secara cepat dapat menyebakan ketombe. Tujuan peneliitian ini adalah untuk mengetahui sedian Shampo ekstrak, nanoekstrak dan sedian nano ekstrak bonggol Nanas (Ananas comosus) memenuhi Uji Evaluasi fisik yang baik menurut SNI, dan apakah sedaian Shampo ekstrak, nanoekstrak dan sedian nano ekstrak bonggol Nanas (Ananas comosus) dapat menghambat pertumbuhan jamur Malasezia furfur. Penelitian ini menggunakan metode True Experimental. Pada penelitian ini bonggol nanas diekstraksi, ekstrak dinanopartikel dan diformulasikan menjadi sedian shampo ekstrak, nanoekstrak dan nanosedian ekstrak. pengukuran ukuran partikel sedian dengan Particle Size Analysis (PSA), uji evaluasi fisik sedian dan uji aktivitas antijamur terhadap jamur Malasezia furfur. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ekstrak dan nanoekstrak dapat digunakan sebagai antiketombe dalam sedian shampo. Sedian shampo memenuhui uji evaluasi fisik yang baik sesuai SNI. Pada uji aktivitas antiketombe dimater daya hambat terhadap jamur Malasezia furfur yaitu Blanko memiliki daya hambat kategori lemah, sedian shampo ekstrak (21,21 mm), sedian shampo nanoekstrak (17,91 mm), dan nanosedian shampo nanoekstrak (14,11 mm), kontrol positif ketokonazol (22,55 mm), pembanding sedian shampo yang beredar dipasaran (18,88 mm) dan control negatif tidak memiliki daya hambat
ANALISIS DRUG RELATED PROBLEMS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN TYPHOID FEVER DI RUMAH SAKIT X MEDAN Afifah, Puan Ibni; Sari, Syilvi Rinda; Lubis, Minda Sari; Yuniarti, Rafita
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.35298

Abstract

Demam tifoid (tipes) adalah suatu penyakit sistemik yang bersifat akut disebabkan oleh bakteri salmonella typhii. Berdasarkan data dari World Health Organization tahun 2019 terdapat 9 juta kasus demam tifoid setiap tahunnya, tingginya prevalensi kejadian demam tifoid serta dampak yang ditimbulkannya membawa akibat pada tingginya konsumsi obat. Kebutuhan antibiotik di rumah sakit yang meningkat tajam, hal ini memunculkan permasalahan pengobatan yaitu kejadian DRPs. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian Drug Related Problems terhadap kondisi pasien demam tifoid di Rumah Sakit X Medan. Jenis penelitian ini deskriptif non eksperimental dengan menggunakan desain penelitian yang bersifat cross sectional. Pengambilan data secara retrospektif melalui penelusuran rekam medik pasien demam tifoid di Rumah Sakit X Medan. Pada penelitian ini memakai beberapa pengujian meliputi karakteristik pasien, jenis antibiotik yang dipakai, penggunaan obat rasional (POR), dan DRPs pasien demam tifoid. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa karakteristik pasien demam tifoid diperoleh sejumlah 200 pasien, untuk pemilihan antibiotik yang paling banyak dipakai golongan sefalosporin yaitu obat ceftriaxone sebanyak 867 obat, untuk POR yang kategori tepat diagnosa 189 dan tidak tepat diagnosa 11 pasien, untuk tepat indikasi penyakit 196 dan yang tidak tepat 4 pasien, hasil identifikasi DRPs yaitu terapi obat yang tidak perlu & tidak efektif (8,16%), terapi obat tambahan (38,78%), reaksi obat yang merugikan diantaranya efek samping obat (16,33%) dan interaksi obat (36,73%). Farmasis berkontribusi dalam penyelesaian masalah yang berkaitan dengan manajemen terapi antibiotik pada pasien demam tifoid sehingga pengobatan menjadi optimal.
The Antibacterial Activity Test Of Leaf Extract Nanoparticles Of Senggani (Melastoma Candidum D.Don) Against Cutibacterium Acnes And Staphylococcus Epidermidis Bacteria Tia Nazilla; Muhammad Amin Nasution; Minda Sari Lubis; Rafita Yuniarti
Jurnal EduHealth Vol. 15 No. 04 (2024): Jurnal EduHealt (inpres), Year 2024
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to explore and delve deeper into the reasons families request passive euthanasia, the illnesses and conditions that lead individuals to consider such actions, and how the principle of patient autonomy is applied in euthanasia practices at KH. Daud Arif Regional General Hospital, Kuala Tungkal. The research employs a qualitative approach through literature review studies. Data were collected from journals, books, and previous studies, focusing on the withdrawal of life-support measures and the ethical principle of autonomy. The collected information was analyzed to support the research. Based on the findings, decisions regarding euthanasia, particularly passive euthanasia, should ideally be made by patients when they are mentally capable. However, in critical conditions where the patient is incapacitated, the responsibility is transferred to the patient's family, who can make decisions on their behalf, including opting for passive euthanasia. While active euthanasia remains illegal in Indonesia, passive euthanasia, such as the cessation of life-support interventions, is permitted under certain legal frameworks, such as Ministry of Health Regulation No. 37 of 2014. This regulation also emphasizes the importance of therapeutic contracts between patients and healthcare providers. The reasons families or patients choose passive euthanasia at KH. Daud Arif Regional General Hospital, Kuala Tungkal, include prolonged physical suffering and a significant decline in quality of life. The illnesses or conditions considered for passive euthanasia include chronic, incurable diseases that cause ongoing suffering, such as heart disease, kidney failure, or illnesses with poor prognoses.
Formulation And Evaluation Of Anti-Aging Face Spray Preparation With Ethanol Extract Of Shoe Flower (Hibiscus Rosa-Sinensis L.) And DPPH Method Antioxidant Activity Test Syafa Nadira Ashiilah; Rafita Yuniarti; Minda Sari Lubis; Zulmai Rani
Jurnal EduHealth Vol. 16 No. 01 (2025): Jurnal EduHealt, Edition January - March, 2025
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beauty is one of the aspects pursued by women, particularly in terms of skin care. Among the skincare products commonly used by Indonesians is face spray, which offers various benefits, such as protecting against free radicals from ultraviolet rays, preventing premature aging, and addressing dry skin. Antioxidant effects are more effective when formulated in topical preparations, such as cosmetics, compared to oral administration. Hibiscus flower is a plant that contains flavonoids, which function as antioxidants capable of protecting the skin from free radical damage, moisturizing, and enhancing skin circulation. This research is experimental in nature. In this study, ethanol extract face sprays from hibiscus flowers were prepared with concentrations of 0.1%, 0.3%, 0.5%, and 0.7%. The face sprays underwent evaluations for physical quality, preference tests, irritation tests, antioxidant activity tests, and anti-aging effectiveness tests. The anti-aging effectiveness data were analyzed using SPSS with a parametric ANOVA test. Based on the physical quality evaluation, the best formulation was the face spray with a 0.5% extract concentration. It exhibited stable organoleptic characteristics, a pH within the skin’s range of 5–7.26, good spreadability, no coarse particles or clumps, and stability during a 28-day stability test at room temperature (25°C) and a cycling test over 6 cycles. Moreover, it did not irritate the skin. The antioxidant activity test revealed that face sprays with 0.1% and 0.3% extract concentrations showed moderate antioxidant activity, while those with 0.5% and 0.7% concentrations demonstrated strong antioxidant activity. In the anti-aging effectiveness test, all formulations exhibited anti-aging effects.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA EKSTRAK ASETON DAUN ALPUKAT (PERSEA AMERICANA MILL.) Yadi, Hervi; Pertiwi, Nia Novranda; Lubis, Minda Sari; Nasution, Muhammad Amin
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.32480

Abstract

Antioksidan merupakan molekul yang dapat mencegah atau memperlambat sel mengalami kerusakan akibat radikal bebas dengan cara melengkapi kekurangan elektron dari radikal bebas. Antioksidan dapat menyerap atau menetralkan radikal bebas sehingga mampu mencegah penyakit-penyakit degeneratif seperti kardiovaskuler, karsinogenis, dan penyakit lainnya. Karena antioksidan dapat mendonorkan elektronnya untuk menghentikan reaksi berantai radikal bebas yang dapat merusak tubuh. Tanaman yang memiliki khasiat sebagai antioksidan yang telah diuji salah adalah alpukat. Selain itu alpukat juga dikenal berkhasiat sebagai antibakteri karena kandungan senyawa antibakteri seperti, alkaloid, dan flavonoid pada buah, biji dan daunnya. Selain itu daunnya juga mengandung polifenol, dan buahnya mengandung tanin Tanaman alpukat (Persea americana Mill.) merupakan tanaman yang telah banyak berkontribusi sebagai obat tradisional. Daun alpukat mengandung beberapa senyawa kimia yang dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan. Senyawa kimia yang terkandung pada tanaman alpukat diantaranya seperti saponin, alkaloid, flavonoid, dan tanin. Tahapan penelitian ini meliputi pengolahan bahan tumbuhan, pembuatan ekstrak etanol, pemeriksaan karakterisasi, skrining fitokimia dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa kimia metabolit sekunder serta aktivitas antioksidan pada daun alpukat (Persea americana Mill.). Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat eksperimental. Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil analisis aktivitas antioksidan pada daun alpukat dengan menggunakan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl memiliki nilai IC50 49,659 ppm dan nilai IC50 vitamin C sebesar 3,8445 ppm. Dengan kategori sangat kuat.
UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK ETANOL, FRAKSI ETIL ASETAT DAN N HEKSAN DAUN KUPU-KUPU (BAUHINIA PURPUREA L.) TERHADAP MENCIT YANG DIINDUKSI ALOKSAN Siregar, Rina Paramitha; Nasution, Muhammad Amin; Lubis, Minda Sari; Yuniarti, Rafita
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.35864

Abstract

Salah satu penyakit yang menyebabkan kematian terbesar di dunia adalah Diabetes Melitus (DM) yaitu berada di posisi ke-6 diantara penyakit lain, Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita DM di dunia posisi ke-6. Salah satu alternatif terapi yang memiliki efek samping lebih sedikit dan aman ialah pengobatan dengan bahan alam Tanaman yang diduga mempunyai khasiat sebagai penurun glukosa darah ialah tanaman kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) karena mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, saponin dan glikosida yang dapat berfungsi sebagai antidiabetes. Penelitian ini meliputi karakterisasi simplisia, skrining fitokimia dan uji aktivitas antidiabetes. Aktivitas antidiabetes ekstrak etanol, fraksi n-heksan dan etil asetat daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) pada mencit putih jantan dilakukan dengan menggunakan metode uji induksi aloksan secara intraperitonial. Kelompok Na-CMC 0,5%, kelompok glibenklamid 0,01%. Ekstrak etanol, fraksi n-heksan dan etil asetat  yang diberikan secara oral dengan dosis 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB. Data hasil penelitian di analisis secara ANOVA (Analysis of Variance) menggunakan uji Duncan. Hasil karakteristik simplisia daun bakung diperoleh kadar air 9,88%, kadar sari larut dalam air 17,02%, kadar sari larut dalam etanol 6,78%, kadar abu total 13,09%, dan kadar abu tidak larut asam 0,34%. Hasil skrining fitokimia simplisia dan ekstrak etanol daun bakung menunjukkan adanya alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid/triterpenoid. Uji efek antidiabetes menggunakan mencit putih yang dibagi dalam 8 kelompok. Dari uji yang telah dilakukan kelompok fraksi etil asetat dengan dosis 400 mg/kg BB yang memberikan efek yang lebih baik dibanding kontrol positif (Glibenklamid) dalam menurunkan kadar gula darah pada mencit. 
Penentuan Kadar Hidrokuinon dan Asam Retinoat Pada Krim Malam Yang Dijual Dikota Medan Secara Spektrofotometri Ultraviolet Metode Dual Wavelenght Fauziah Zain; Nia Novranda Pertiwi; Minda Sari Lubis; Rafita Yuniarti
Bulletin of Community Engagement Vol. 4 No. 3 (2024): Bulletin of Community Engagement
Publisher : CV. Creative Tugu Pena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51278/bce.v4i3.1498

Abstract

Night cream is a mixture of chemicals and/or other ingredients with the property of whitening the skin or lightening black spots on the skin that is used at night. Hydroquinone is a compound that is often used as a bleach in cosmetics. Excessive use can have dangerous effects on the skin because it can cause skin disorders and can even cause skin cancer. Retinoic acid is prohibited from being used in whitening creams because it can cause dry skin, burning sensation, carcinogenic and teratogenic. This research aims to determine the presence of hydroquinone and retinoic acid compounds and to determine the levels of hydroquinone and retinoic acid in night cream preparations sold in the city. Medan.  In this study, 4 samples were taken with different trademarks and given the initials A, B, C, D. At the sample testing stage, color reagents were tested qualitatively and quantitative tests were used using UV spectrophotometry with the dual Wavelength method.  Based on the results of research conducted on 4 night cream samples, all night cream samples in the city of Medan contained hydroquinone and retinoic acid compounds and the levels obtained in each sample were that the levels in hydroquinone in night cream A, 2.184%, in night cream B were 2.713%. %, in night cream C 2.543%, and in night cream D 4.402%. Retinoic acid was found in night cream A 0.032%, in night cream B 0.033%, in night cream C 0.039, and in night cream D 0.0023%.
Formulation And Evaluation Of Anti-Aging Face Spray Preparation From Ethanol Extract Of Rosemary Leaf (Salvia Rosmarinus Spenn.) And Antioxidant Activity Test Using The DPPH Method Inna Myesha; Rafita Yuniarti; Minda Sari Lubis; Zulmai Rani
Jurnal EduHealth Vol. 16 No. 01 (2025): Jurnal EduHealt, Edition January - March, 2025
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The skin's need to prevent premature aging requires skincare products with antioxidant content. A popular skincare product used today is face spray. Face sprays containing active ingredients as antioxidants are beneficial in preventing premature aging. One of the plants known for its antioxidant properties is rosemary leaf (Salvia rosmarinus Spenn.). The development of face spray with the addition of rosemary leaf extract is a form of utilizing plants in cosmetic products. This study is an experimental research. In this study, rosemary leaf ethanol extract face spray was formulated with concentrations of 0%, 0.5%, 1%, 3%, and 5%. Evaluation included physical quality, hedonic test, irritation test, antioxidant activity test, and anti-aging effectiveness test. Anti-aging data were analyzed using SPSS. Based on physical quality evaluation, the face spray formula with the best physical quality was found at extract concentrations of 1%, 3%, and 5%, with observations indicating stable organoleptic properties, pH within the skin range of 4.5-6.5, good spreading ability, no coarse particles or clumping, and stable formulations after 28 days of room temperature stability testing (25°C) and 6 cycle cycling tests. The formulations also showed no irritation to the skin. In the antioxidant activity test, the 0.5% extract concentration exhibited moderate antioxidant activity, while concentrations of 1%, 3%, and 5% showed strong antioxidant activity. In the anti-aging effectiveness test using a skin analyzer, each formula demonstrated significant differences in skin changes with a p-value of <0.05.
Formulation of Transparent Solid Soap Using Aloe Vera Leaf Flesh (Aloe vera (L.) Burm.f.) as Antioxidant Ritonga, Oktavia; Lubis, Minda Sari; Dalimunthe, Gabena Indrayani; Yuniarti, Rafita
Indonesian Journal of Science and Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2024): Indonesian Journal of Science and Pharmacy
Publisher : Pustaka Media Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63763/ijsp.v2i2.75

Abstract

Aloe vera is a plant whose components have many benefits, aloe vera also functions as an antioxidant that can ward off free radicals. The purpose of this study was to determine transparent soap with variations in aloe vera concentration that meet the physical quality of transparent soap and to determine antioxidant activity after formulation. This research uses an experimental method. In this study, aloe vera was formulated in the form of transparent soap. The physical evaluation carried out includes organoleptic test, water content test, pH test, foam height test and antioxidant activity test. Based on the results of the study it is known that. Antioxidant activity test of aloe vera leaf meat has antioxidant activity classified as moderate with IC50 108 µg/ml, while the activity of transparent soap using aloe vera has antioxidant activity classified as very weak with IC50 obtained for F0 of 980.2290, F1: 482.3775, F2: 464.7310, F3: 407.5596 µg/ml. The conclusion of this study is that transparent soap using aloe vera meets the requirements of visual quality evaluation according to SNI and has antioxidant activity with a very weak category.
Co-Authors A'dilah, Nur Adani, Bazlina Adela Octi Dwiyani Adjelie, Tiara Afifah, Puan Ibni Alfi Wahyudi Nasution Alma Dhita Shafira Amaliana, Amaliana Andjelie, Tiara Anggraini, Dea Puspa Anny Sartika Daulay Anugrah, Bayu Ariandi Arianti, Sellin Arina Aulia Fitri, Aulia Aulia, Meisyah Ayuningrum, Annisa Bambang Hermanto Chairina Milda Cindy Marlina Tambunan Cut Dian Mala Luthfia D Elysa Putri Mambang D. Elysa Putri Mambang D. Elysa Putri Mambang D.Elysa Putri Mambang Debi Meilani Dena, Mutia Denni Bahari Dewa, Fasca Dewi, Sri Harti Dikki Miswanda Dinda Sari Utami Efendi, Tania Tiara Ellyza, Chella Emmy Wiriandini Fauziah Zain Fithri Pulungan, Ainil Fitri Febriani Fitri, Nurul Fitri, Raissa Gabena Indrayani Dalimunthe Haris Munandar Nasution Hasibuan , Fika Miah Sasmitha Hendraputra, Hardy Handoko Heru Adha Prayogo Husna, Miftahul Hutagalung , Septi Ratna Cempaka Hutagalung, Riris Br Ika Fitriani Indah Nasution Inna Myesha Junia Fitri Hayani Juwita, Sukma Karismawati Karlina Butar Butar Khoyrill Muttiin Kiki Rawitri Krisna Juniharta Napitupulu Lestari, Seri Lestari, Sri Indah Linda, Rosa Lisda Mayanti Lubis, Nadya Frestika Lubis, Nurazizah Lubis, Zulkifli Ismail M. Arya Wiguna Madani Sirait maghfirah, Suci Mambang, D Elysa Putri Matondang , Fikriyah Hafni Maulana Putri, Yasinta Meutia, Cut Meylisa Pratami Br Sinaga Miftahul Jannah Milwani Harahap Miranza, Nona Misna Rosalinda Hutabarat Mohd. Bilal Muhammad Amin Nasution Muhammad Tegar Tri Rizky Nadia Salsabilla Nasution , Muhammad Amin Nasution, M Pandapotan Nasution, M. Pandapotan Nasution, Vevi Sarah Nia Novranda Pertiwi Ningtias, Anggitha Novi Yuliandari Novita Sari, Helsa Novriani Putri Santia Nur Asia, Nur Nuratika, Eli Nurfadilla, Kiki Nurul Salsa Abya Ritonga Nurwijayanti Pulungan, Anili Fithri Purba , Intan Sabila Putri Purba, Juvantri Fablo Puteri, Cut Intan Annisa Putri , Adilla Rafita Yuliarti Rafita Yuniarti Rafita Yuniarti Rafita Yuniarti Rahma Maulidia Fitri Rahmi, Sofia Ramadhan , Yusril Rambe, Sitiapsah Rapita Yuniarti Rati , Yuliandini Rati Satri Situmorang Rezky , Deswita Ina Riani, Nur Aslin Ridwan Taher Lubis Ridwanto Ridwanto Ritonga , Nur Sakina Ritonga , Septi Ani Ritonga, Oktavia Rohmah, Roihanah Rosalinda Mahdalena Sinaga Rosalinda Mahdalena Sinaga Safitri , Nurhaliza Sagita Marina Simatupang Sandika, M Teguh Sari, Syilvi Rinda Savika, Anggraini Selvicahyani, Selvicahyani Shinta Mida Ariani Harahap Sihotang, Laura Indah Restu silalahi, zahra salsabila Sinaga, Rosalinda Mahdalena Sindi, Sindi Siregar , Misbah Siregar , Runisya Maugin Utami Siregar, Hikmatussabaria Siregar, Rina Paramitha Siti Aisyah Jamil Siti Anisa Sitinjak, Iyustri Ririn Slamet Indarjo Sri Harti Sri Mulia Ningsih Siregar Sri Murni Sri Ria Ranti Sri Wahyuni Sulwiyatul K Sani Supiyani, Supiyani Surendro, Yasmeen Nazhifah Amani Syafa Nadira Ashiilah Syafira, Nona Syafirna, Nada Tia Nazilla Titin Agustina Trisha Wulan Erja Ummu Safura Sirait Vera Kristiana Wan Dian Safina Widya, Rizka Wilda Septia Winda Aulia Yadi, Hervi Yayuk Putri Rahayu Yayuk Putri Rahayu Yayuk Yuliana Yuni Sartika Yuniarti , Rafita Yuniarti, Rafita Yuniarti, Rapita Zahara, Fitria Siti Zahira Ahmad, Madani Zannah , Muhamad Ziza Putri Aisyia Fauzi Zulhij, Fizrya Zulmai Rani