cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 575 Documents
Pengaruh Self-Compassion terhadap Regulasi Emosi Dewasa Awal Bekerja Dimoderasi Resiliensi Hanifah Juliyanti Sholih; Siti Qodariah
Bandung Conference Series: Psychology Science 887-894
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24116

Abstract

Abstract. Working young adults face demands that require adequate emotion regulation, yet many respond to workplace pressure with maladaptive patterns such as emotional suppression. Self-compassion is theorized to support adaptive emotion regulation, while resilience is often assumed to strengthen this relationship. This study examined the effect of self-compassion on emotion regulation among working young adults (aged 18-40), and tested whether resilience moderates this relationship. A quantitative correlational design was used, involving 551 working young adults selected through non-probability sampling. Data were collected using the Self-Compassion Scale, the Emotion Regulation Questionnaire, and the Connor-Davidson Resilience Scale, all in validated Indonesian adaptations. Data were processed through reverse scoring, Method of Successive Interval transformation, and analyzed using Moderated Regression Analysis. Results showed that self-compassion had a significant positive effect on emotion regulation (B = 0.167, p < 0.001). However, resilience did not significantly moderate this relationship (ΔR² = 0.001, p = 0.351), although it showed a significant main effect. These findings suggest self-compassion is a robust predictor of emotion regulation regardless of resilience level, and highlight the statistical difficulty of detecting interaction effects in field research. Abstrak. Dewasa awal yang bekerja menghadapi tuntutan yang menuntut kapasitas regulasi emosi memadai, namun banyak yang merespons tekanan pekerjaan dengan pola maladaptif seperti penekanan emosi. Self-compassion diyakini mendukung regulasi emosi yang adaptif, sementara resiliensi kerap diasumsikan memperkuat hubungan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh self-compassion terhadap regulasi emosi pada dewasa awal yang bekerja (usia 18-40 tahun), serta menguji apakah resiliensi berperan sebagai moderator dalam hubungan tersebut. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional, melibatkan 551 dewasa awal yang bekerja yang dipilih melalui non-probability sampling. Data dikumpulkan menggunakan Self-Compassion Scale, Emotion Regulation Questionnaire, dan Connor-Davidson Resilience Scale, seluruhnya dalam versi adaptasi Bahasa Indonesia yang telah tervalidasi. Data diolah melalui reverse scoring, transformasi Method of Successive Interval, dan dianalisis menggunakan Moderated Regression Analysis. Hasil penelitian memperlihatkan self-compassion mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap regulasi emosi (B = 0,167, p < 0,001). Namun, resiliensi tidak terbukti signifikan memoderasi hubungan tersebut (ΔR² = 0,001, p = 0,351), meskipun menunjukkan pengaruh utama yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan self-compassion merupakan prediktor regulasi emosi yang kuat terlepas dari tingkat resiliensi, sekaligus menyoroti kesulitan statistik dalam mendeteksi efek interaksi pada penelitian lapangan.
Pengaruh Self-Compassion terhadap Psychological Well-Being pada Perempuan Involuntary Single Dewasa Awal di Kota Bandung Fadiya Zahrani; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 895-904
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24126

Abstract

Abstract. Early adult women who are involuntarily single often experience psychological and social problems that affect their psychological well-being. Involuntarily single women may experience loneliness, negative self-perceptions, negative social stereotypes, and psychological distress resulting from their single status. One factor that is presumed to contribute to psychological well-being is self-compassion, which refers to an individual's ability to treat themselves with kindness and compassion while facing difficulties or failures. This study aimed to examine the effect of self-compassion on psychological well-being among early adult women who are involuntarily single. This study used a quantitative approach using a causal research design. The participants were 391 early adult women selected using a convenience sampling technique. Data were collected using the Self-Compassion Scale and Ryff's Psychological Well-Being Scale. The results showed that self-compassion had a positive effect on psychological well-being (p < .001, R² = .414). The results indicate that self-compassion contributed 41.4% to psychological well-being. These findings suggest that lower levels of self-compassion are associated with lower levels of psychological well-being among involuntarily single early adult women in Bandung. Abstrak. Perempuan involuntary single dewasa awal seringkali menghadapi berbagai masalah psikologis dan sosial yang mempengaruhi psychological well-being. Perempuan involuntary single mengalami perasaan kesepian, persepsi diri negatif, menerima stereotip sosial negatif, dan mengalami stres psikologis akibat status lajang. Salah satu dari faktor yang diduga berkontribusi dalam psychological well-being ialah self-compassion, yaitu kemampuan individu dalam bersikap baik dan penuh kasih sayang pada dirinya sendiri ketika menghadapi hambatan atau kegagalan. Penelitian ini ditujukan guna mengetahui pengaruh self-compassion terhadap psychological well-being pada perempuan dewasa awal yang berada dalam kondisi involuntary single. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desan penelitian kausalitas. Subjek penelitian berjumlah 391 perempuan dewasa awal dan diperoleh menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen Self-Compassion Scale dan instrumen Ryff’s Psychological Well-Being Scale. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa self-compassion memiliki pengaruh positif terhadap psychological well-being (p < .001 dan R2 = .414). Oleh karenanya, didapatkan jika self-compassion memberikan kontribusi sebesar 41.4% terhadap psychological well-being.Temuan ini menyatakan bahwa rendahnya self-compassion menurunkan tingkat psychological well-being pada perempuan involuntary single dewasa awal di Kota Bandung.
Studi Komparatif Sensitivitas Interpersonal Mahasiswa Fatherless Emosional Berdasarkan Gender Irna Tri Meliana; Stephani Raihana Hamdan
Bandung Conference Series: Psychology Science 905-912
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24143

Abstract

Abstract. Emotional fatherlessness has become an increasingly important topic in developmental psychology because it reflects the lack of emotional involvement of fathers in parenting. This condition may affect not only emotional development but also individuals' ability to establish healthy interpersonal relationships. This study aimed to examine differences in interpersonal sensitivity between male and female university students experiencing emotional fatherlessness. A quantitative comparative study with a cross-sectional design was conducted involving 170 university students aged 18–25 years who met the criteria for emotional fatherlessness based on the Nurturant Fathering Scale (NFS). Interpersonal sensitivity was measured using the Interpersonal Sensitivity Measure (IPSM). Data were analysed using descriptive statistics and an independent sample t-test. The findings revealed a significant difference in interpersonal sensitivity between male and female students with emotional fatherlessness (p = 0.035). Female students demonstrated higher interpersonal sensitivity than male students. These findings indicate that inadequate emotional involvement of fathers may influence psychosocial development differently across genders. The results are expected to contribute to psychoeducational programmes highlighting the importance of fathers' emotional involvement and to support the development of gender-sensitive psychological interventions. Abstrak. Fenomena fatherless emosional menjadi salah satu isu yang semakin banyak dikaji dalam psikologi perkembangan karena berkaitan dengan rendahnya keterlibatan emosional ayah dalam proses pengasuhan. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi perkembangan emosi individu, tetapi juga berpotensi memengaruhi kemampuan membangun hubungan interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sensitivitas interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang mengalami kondisi fatherless emosional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif cross-sectional. Partisipan penelitian berjumlah 170 mahasiswa berusia 18–25 tahun yang memenuhi kriteria fatherless emosional berdasarkan Nurturant Fathering Scale (NFS). Sensitivitas interpersonal diukur menggunakan Interpersonal Sensitivity Measure (IPSM). Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan sensitivitas interpersonal yang signifikan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan dengan kondisi fatherless emosional (p = 0,035). Mahasiswa perempuan memiliki tingkat sensitivitas interpersonal yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa laki-laki. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman rendahnya keterlibatan emosional ayah memberikan dampak yang berbeda terhadap perkembangan psikososial berdasarkan gender. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan program psikoedukasi mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan serta pengembangan intervensi psikologis yang mempertimbangkan kebutuhan laki-laki dan perempuan.
Pengaruh Work-Life Balance terhadap Quiet Quitting melalui Work Stress Karyawan GenZ Diana Mutiara; Dinda Dwarawati
Bandung Conference Series: Psychology Science 913-920
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24167

Abstract

Abstract. Generation Z employees, who now dominate the global and Indonesian workforce, tend to be more selective in defining work commitment and are reportedly more vulnerable to work stress than previous generations. One work behavior frequently associated with this generation is quiet quitting, a form of psychological withdrawal in which employees only fulfil minimum job requirements without formally resigning. This study examined the effect of work-life balance on quiet quitting through work stress as a mediator among Generation Z employees in Cilegon City. A quantitative, cross-sectional, correlational design was used with 108 Generation Z employees (born 1997-2005) selected through convenience sampling. Data were collected using three adapted Likert-scale instruments and analyzed with linear regression and the Hayes PROCESS Macro (Model 4, 5,000 bootstrap samples). Results showed that work-life balance had a significant negative effect on both work stress and quiet quitting, while work stress had a significant positive effect on quiet quitting. Work stress was found to partially mediate the effect of work-life balance on quiet quitting (indirect effect = -0.186; 95% CI: -0.364 to -0.009). These findings indicate that low work-life balance increases quiet quitting both directly and indirectly through elevated work stress, offering practical implications for organizations seeking to manage engagement among their Generation Z workforce. Abstrak. Generasi Z yang saat ini mulai mendominasi angkatan kerja global maupun Indonesia cenderung lebih selektif dalam memaknai komitmen kerja dan dilaporkan lebih rentan mengalami stres kerja dibandingkan generasi sebelumnya. Salah satu perilaku kerja yang banyak dikaitkan dengan generasi ini adalah quiet quitting, yaitu bentuk penarikan diri secara psikologis di mana karyawan hanya memenuhi tuntutan pekerjaan minimum tanpa mengundurkan diri secara formal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh work-life balance terhadap quiet quitting melalui work stress sebagai mediator pada karyawan Generasi Z di Kota Cilegon. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional dan korelasional, melibatkan 108 karyawan Generasi Z (lahir 1997-2005) yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan tiga skala Likert yang telah diadaptasi dan dianalisis dengan regresi linear serta PROCESS Macro Hayes (Model 4, bootstrapping 5000 sampel). Hasil penelitian menunjukkan bahwa work-life balance berpengaruh negatif dan signifikan terhadap work stress maupun quiet quitting, sedangkan work stress berpengaruh positif dan signifikan terhadap quiet quitting. Work stress terbukti memediasi secara parsial pengaruh work-life balance terhadap quiet quitting (indirect effect = -0,186; 95% CI: -0,364 sampai -0,009). Temuan ini menunjukkan bahwa rendahnya work-life balance meningkatkan kecenderungan quiet quitting baik secara langsung maupun melalui peningkatan work stress, sehingga memberikan implikasi praktis bagi organisasi dalam mengelola keterlibatan kerja karyawan Generasi Z.
Gambaran Sikap Politik Mahasiswa Universitas Islam Bandung Reval Pey Adrian; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science 921-930
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24171

Abstract

Abstract. Political attitude reflects an individual's evaluative tendency toward political issues, actors, and institutions, and among students it is increasingly shaped by political information circulating on social media. This study describes the political attitude of Universitas Islam Bandung (UNISBA) students, viewed overall and through its three components: cognitive, affective, and conative, based on the attitude model of Rosenberg and Hovland (1960). A quantitative descriptive approach with a cross-sectional survey design was used. The population consisted of 7,361 active undergraduate students of UNISBA in the 2025/2026 academic year, with 437 students selected through proportionate stratified sampling across ten faculties. Data were collected using a political attitude scale developed by the researcher, consisting of 6 items selected through Confirmatory Factor Analysis, using a 1-5 Likert scale, and analyzed descriptively through frequency distribution and three-level categorization (low, moderate, high). The results show that the majority of respondents fall into the moderate category, both for overall political attitude (60.4%) and for each dimension: cognitive (54.9%), affective (74.4%), and conative (53.1%). These findings indicate that UNISBA students generally have a fairly balanced, not yet fully critical nor apathetic, political attitude, highlighting the need for continued political literacy efforts on campus. Abstrak. Sikap politik menggambarkan kecenderungan evaluatif individu terhadap isu, aktor, dan institusi politik, yang pada mahasiswa semakin dibentuk oleh arus informasi politik yang beredar di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap politik mahasiswa Universitas Islam Bandung (UNISBA), baik secara umum maupun melalui tiga komponennya, yaitu kognitif, afektif, dan konatif, berdasarkan model sikap Rosenberg dan Hovland (1960). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain survei cross-sectional. Populasi penelitian adalah 7.361 mahasiswa aktif program sarjana UNISBA tahun akademik 2025/2026, dengan 437 mahasiswa sebagai responden yang dipilih melalui teknik proportionate stratified sampling dari sepuluh fakultas. Pengumpulan data menggunakan skala sikap politik yang disusun oleh peneliti, terdiri dari 6 item hasil seleksi Confirmatory Factor Analysis, dengan skala Likert 1-5. Data dianalisis secara deskriptif melalui distribusi frekuensi dan kategorisasi tiga jenjang (rendah, sedang, tinggi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori sedang, baik pada sikap politik secara umum (60,4%) maupun pada masing-masing dimensi, yaitu kognitif (54,9%), afektif (74,4%), dan konatif (53,1%). Temuan ini mengindikasikan bahwa sikap politik mahasiswa UNISBA secara umum cenderung cukup seimbang, belum sepenuhnya kritis namun juga tidak apatis, sehingga penguatan literasi politik di lingkungan kampus tetap diperlukan.
Peran Perceived Social Support sebagai Moderator Hubungan Loneliness dengan Psychological Well-Being Rahma Isnadia Nurhaliza; Lilim Halimah
Bandung Conference Series: Psychology Science 931-940
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24178

Abstract

Abstract. New migrant college students face a transitional phase requiring simultaneous academic, social, and emotional adjustment. Separation from family and their home environment reduces routine social support, increasing vulnerability to loneliness, which in turn affects psychological well-being. However, not all students with high loneliness levels experience an equivalent decline in psychological well-being; some remain psychologically resilient, indicating other factors that strengthen or weaken this relationship. This study examines the role of perceived social support as a moderator in the effect of loneliness on psychological well-being among new migrant college students in Bandung City. This research uses a quantitative approach with a causal-moderation design. A total of 385 respondents were selected through convenience sampling. Measurements used the UCLA Loneliness Scale (Russell, 1996), the Ryff Psychological Well-Being Short Scale (Ryff, 1989), and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (Zimet et al., 1988). Data were analyzed using SEM-PLS via SmartPLS 4. Results show loneliness significantly affects psychological well-being (β = -0.437; p < 0.001), perceived social support significantly affects psychological well-being (β = 0.510; p < 0.001), and perceived social support was found to significantly to moderate by weakening the influence of loneliness on psychological well-being (β = -0.085; p = 0.008). Abstrak. Mahasiswa baru perantau menghadapi fase transisi yang menuntut penyesuaian akademik, sosial, dan emosional secara bersamaan. Keterpisahan dari keluarga dan lingkungan asal mengurangi dukungan sosial rutin sehingga meningkatkan kerentanan terhadap loneliness, yang berdampak pada rendahnya psychological well-being. Namun, tidak semua mahasiswa dengan loneliness tinggi mengalami penurunan psychological well-being yang setara, sebagian tetap mampu bertahan secara psikologis, mengindikasikan adanya faktor lain yang memperkuat atau memperlemah hubungan tersebut. Penelitian ini bertujuan menguji peran perceived social support sebagai moderator dalam pengaruh loneliness terhadap psychological well-being pada mahasiswa baru perantau di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas-moderasi. Sebanyak 385 responden dipilih melalui convenience sampling. Pengukuran menggunakan UCLA Loneliness Scale (Russell, 1996), Ryff Psychological Well-Being Short Scale (Ryff, 1989), dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (Zimet et al., 1988). Analisis data menggunakan SEM-PLS melalui SmartPLS 4. Hasil menunjukkan loneliness berpengaruh signifikan terhadap psychological well-being (β = -0,437; p < 0,001), perceived social support berpengaruh signifikan terhadap psychological well-being (β = 0,510; p < 0,001), serta perceived social support terbukti signifikan memoderasi dengan memperlemah pengaruh loneliness terhadap psychological well-being (β = -0,085; p = 0,008).
Bagaimana Leisure Boredom Meningkatkan Internet Gaming Disorder pada Gamers Mochamad Fauzi Hardiroy; Lilim Halimah
Bandung Conference Series: Psychology Science 941-948
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24219

Abstract

Abstract. Internet Gaming Disorder has become a global concern as a problematic form of online gaming behavior with significant psychological and social consequences, particularly among young adults. One condition believed to heighten this risk is leisure boredom, a subjective perception that available leisure time fails to provide adequate engagement, satisfaction, or stimulation. This study aims to determine how leisure boredom increases Internet Gaming Disorder among Mobile Legends: Bang Bang gamers in the emerging adulthood stage (18-25 years) in Bandung City. Using a quantitative approach with a cross-sectional design, this study involved 250 gamers showing mild to severe indications of IGD. Leisure boredom was measured using the Leisure Boredom Scale (Iso-Ahola & Weissinger, 1990), while IGD was measured using the Gaming Addiction Scale (Lemmens et al., 2009). Data were analyzed using simple linear regression. The results show that leisure boredom contributed R²= 7.2% to changes in IGD, while the remaining 92.8% was influenced by other factors outside the studied variables. This contribution is relatively small, so its impact on IGD is not particularly evident. Further research is recommended to include mediator or moderator variables to explain the dynamics of this influence more comprehensively. Abstrak. Internet Gaming Disorder kini menjadi sorotan dunia sebagai perilaku bermain game online yang bermasalah dengan dampak psikologis dan sosial signifikan, terutama pada dewasa muda. Salah satu kondisi yang diduga meningkatkan risiko ini adalah leisure boredom, yaitu persepsi subjektif bahwa waktu luang belum memberikan keterlibatan, kepuasan, atau rangsangan yang memadai. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana leisure boredom berkontribusi terhadap Internet Gaming Disorder pada gamers Mobile Legends: Bang Bang usia emerging adulthood (18-25 tahun) di Kota Bandung. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, penelitian ini melibatkan 250 gamers dengan indikasi IGD tingkat mild hingga severe. Leisure boredom diukur menggunakan Leisure Boredom Scale (Iso-Ahola dan Weissinger, 1990), sedangkan IGD diukur dengan Gaming Addiction Scale (Lemmens et al., 2009). Data dianalisis menggunakan uji regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan leisure boredom berkontribusi sebesar R²= 7,2% terhadap perubahan IGD, sementara 92,8% sisanya dipengaruhi faktor lain di luar variabel penelitian. Kontribusi ini cenderung kecil sehingga dampaknya terhadap IGD tidak terlalu tampak. Penelitian lanjutan disarankan menggunakan variabel mediator atau moderator agar dinamika pengaruh leisure boredom terhadap IGD dapat dijelaskan lebih menyeluruh.
Keputusan Bertahan pada Perempuan yang Menjalani Hubungan Toxic dari Masa Pacaran Hingga Pernikahan Tasya Verona; Temi Damayanti Djamhoer
Bandung Conference Series: Psychology Science 949-956
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24222

Abstract

Abstract. Toxic relationships can have detrimental effects on individuals, causing suffering and decreasing well-being. However, many women choose to remain in toxic relationships, even from courtship to marriage. This study aims to understand the decision to stay among women who experience toxic relationships continuously from courtship to marriage. This research uses a qualitative phenomenological approach with Giorgi's Descriptive Phenomenological Analysis (DPA) method. Participants were three women who married at age 18-29 (emerging adulthood), were aware of their partner's toxic behavior before marriage, and married voluntarily. Data were collected through semi-structured interviews and analyzed using the Five Components of Decision Making framework (Ranyard, 1997) and the Investment Model (Rusbult, 1980). The results reveal eleven essential themes: (1) attachment foundation at the start of the relationship; (2) normalization and disregard of toxic behavior; (3) lack of protective social support; (4) social pressure to stay; (5) hope for change as a driver to stay; (6) limited coping strategies; (7) escalation of violence and control after marriage; (8) hope-disappointment cycles hindering exit; (9) sunk cost bias and structural dependence; (10) emotional dependence; and (11) entrapment in normative status as wife and mother. Furthermore, this study finds that motives initially serving as reasons such as hope for economic stability and pride in partner's social status transform after marriage into forms of structural dependence that trap women within the relationship. Abstrak. Hubungan toxic dapat berdampak buruk bagi yang menjalaninya, salah satunya dapat menimbulkan penderitaan dan menurunkan kesejahteraan individu. Namun, banyak perempuan tetap memutuskan bertahan pada hubungan toxic, bahkan sejak masa pacaran hingga pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami keputusan bertahan pada perempuan yang menjalani hubungan toxic secara berkesinambungan dari masa pacaran hingga pernikahan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan metode Descriptive Phenomenological Analysis (DPA) dari Giorgi. Partisipan berjumlah tiga orang perempuan yang menikah pada usia 18–29 tahun (emerging adulthood), menyadari perilaku toxic pasangan sebelum menikah, serta menikah secara sukarela. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan kerangka Five Components of Decision Making (Ranyard, 1997) dan Investment Model (Rusbult, 1980). dulthood), menyadari perilaku toxic pasangan sebelum menikah, serta menikah secara sukarela. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan kerangka Five Components of Decision Making (Ranyard, 1997) dan Investment Model (Rusbult, 1980). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan bertahan mencakup sebelas tema esensial, yaitu: (1) fondasi keterikatan di awal relasi; (2) normalisasi dan pengabaian perilaku toxic; (3) minimnya dukungan sosial yang protektif; (4) tekanan sosial untuk bertahan; (5) harapan akan perubahan sebagai pendorong bertahan; (6) strategi koping yang terbatas; (7) eskalasi kekerasan dan kontrol setelah pernikahan; (8) siklus harapan-kekecewaan yang menghambat keluar dari relasi; (9) bias sunk cost dan ketergantungan struktural; (10) ketergantungan emosional; serta (11) keterjebakan pada status normatif sebagai istri dan ibu. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa motif yang semula menjadi alasan seperti harapan akan stabilitas ekonomi maupun kebanggaan atas status sosial pasangan bertransformasi pascapernikahan menjadi bentuk ketergantungan struktural yang menahan perempuan di dalam relasi tersebut.
Pengaruh Social Comparison terhadap Self-Presentation Mahasiswa Pengguna Instagram Dimediasi Self-Esteem Adzra Kalya; Rizka Hadian Permana
Bandung Conference Series: Psychology Science 957-966
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24235

Abstract

Abstract. The increasing use of Instagram among university students encourages social comparison, a process in which individuals evaluate themselves by comparing with others. This process may influence how individuals construct and present themselves (self-presentation) on social media. This study aimed to examine the effect of social comparison on self-presentation among Instagram-using university students, with self-esteem as a mediating variable. A quantitative approach with a cross-sectional correlational design was employed. The participants consisted of 150 active Instagram users aged 18–25 years in Bandung City, selected using purposive sampling. Data were collected using the Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM), the Self-Presentation Strategies via SNS Scale, and the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). Data were analyzed using path analysis with JASP version 0.19. The results indicated that social comparison had a significant negative effect on self-esteem (β = −0.201, p < .001). Furthermore, social comparison had a significant direct effect only on the supplication dimension of self-presentation (β = −0.071, p = .036), while no significant effects were found on the ingratiation and enhancement dimensions. Self-esteem also significantly predicted only the supplication dimension (β = −0.286, p < .001) and partially mediated the relationship between social comparison and supplication. These findings suggest that the influence of social comparison on self-presentation among Instagram users varies across different dimensions of self-presentation. Abstrak. Penggunaan Instagram yang semakin tinggi di kalangan mahasiswa mendorong terjadinya social comparison, yaitu proses individu membandingkan dirinya dengan orang lain. Proses tersebut berpotensi memengaruhi cara individu menampilkan dirinya (self-presentation) di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh social comparison terhadap self-presentation pada mahasiswa pengguna Instagram dengan self-esteem sebagai variabel mediator. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional cross-sectional. Partisipan penelitian berjumlah 150 mahasiswa aktif pengguna Instagram berusia 18–25 tahun di Kota Bandung yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM), Self-Presentation Strategies via SNS, dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). Analisis data dilakukan menggunakan path analysis melalui perangkat lunak JASP versi 0.19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa social comparison berpengaruh negatif signifikan terhadap self-esteem (β = −0,201; p < 0,001). Selain itu, social comparison hanya berpengaruh langsung terhadap dimensi supplication pada self-presentation (β = −0,071; p = 0,036), sedangkan tidak berpengaruh signifikan terhadap dimensi ingratiation maupun enhancement. Self-esteem juga hanya berpengaruh signifikan terhadap dimensi supplication (β = −0,286; p < 0,001) dan berperan sebagai mediator parsial pada hubungan antara social comparison dan dimensi supplication. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh social comparison terhadap self-presentation pada mahasiswa pengguna Instagram bergantung pada dimensi self-presentation yang ditampilkan.
Pengaruh Self-Compassion terhadap Body Dissatisfaction pada Laki-Laki "Member Gym" Pengguna Media Sosial Gheisya Vellani Putri; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 967-976
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24240

Abstract

Abstract. The rapid growth of digital technology has positioned social media as a space that reinforces lean and muscular body ideals, while the competitive atmosphere of gym environments intensifies body-image pressure, particularly among young adult men who train actively. This exposure contributes to a rising prevalence of body dissatisfaction. In facing this negative self-evaluation, self-compassion is considered to play a protective role in helping individuals cope with appearance-related pressure. This study aimed to examine the effect of self-compassion on body dissatisfaction among male gym members who are active social media users. A quantitative approach with a predictive-correlational, cross-sectional design was used. The sample consisted of 127 male gym members who use social media, obtained through purposive sampling. Data were analyzed using simple linear regression. The results showed that self-compassion had a significant negative effect on body dissatisfaction (β = -0.686; p < 0.001). The coefficient of determination (R² = 0.471) indicates that self-compassion accounted for 47.1% of the variance in body dissatisfaction. Higher self-compassion was associated with lower body dissatisfaction. These findings highlight the importance of developing self-compassion as a strategy to help men cope with pressure related to ideal body standards Abstrak. Paparan standar tubuh ideal di media sosial seiring berkembangnya teknologi digital menempatkan media sosial sebagai ruang pembentukan tren visual penampilan yang menonjolkan tubuh lean dan muscular, sementara lingkungan gym menciptakan atmosfer kompetitif yang memicu tingginya kesenjangan citra tubuh, khususnya pada laki-laki dewasa awal yang aktif berlatih di gym, sehingga dapat meningkatkan body dissatisfaction. Dalam menghadapi pemaknaan negatif ini, self-compassion berperan membantu individu menghadapi tekanan terkait penampilan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-compassion terhadap body dissatisfaction pada laki-laki member gym pengguna media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif dan studi cross-sectional. Subjek penelitian berjumlah 127 laki-laki member gym pengguna media sosial yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-compassion berpengaruh negatif secara signifikan terhadap body dissatisfaction (β = -0,686; p < 0,001). Nilai koefisien determinasi (R² = 0,471) menunjukkan bahwa self-compassion menjelaskan 47,1% variasi body dissatisfaction. Semakin tinggi self-compassion, semakin rendah body dissatisfaction pada laki-laki member gym pengguna media sosial. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengembangan self-compassion sebagai salah satu upaya membantu individu menghadapi tekanan terkait standar tubuh ideal.