cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 575 Documents
Narrative Review: Self-Compassion dalam Hubungan Attachment dengan Emotional Dependency Wanita Dewasa Awal Ratu Fahira Nurazkiya; Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science 1073-1082
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24312

Abstract

Abstract. Emotional dependency is a relational pattern characterized by an excessive need for a romantic partner, which places early adult women at risk of low well-being, jealousy, and even susceptibility to intimate partner violence. Attachment has consistently been identified as one of the main antecedents of this pattern, while self-compassion has recently emerged as a candidate protective factor. This study aims to review existing research on the relationship between attachment and emotional dependency, and the role of self-compassion within that relationship, among early adult women, using a narrative review approach. Eleven empirical and review articles published between 2018 and 2025 that met the inclusion criteria were examined. The findings indicate that insecure attachment particularly anxious/preoccupied and fearful attachment consistently predicts higher emotional dependency, while secure attachment is associated with healthier relational patterns. Emotional dependency, in turn, is linked to negative consequences such as addictive behaviors, tolerance of intimate partner violence, and lower life satisfaction. Self-compassion shows a moderating role, buffering the psychological impact of insecure attachment and emotional dependency, as well as contributing directly to improved relationship satisfaction. These findings suggest that self-compassion is a promising component for psychological interventions aimed at reducing maladaptive emotional dependency in early adult women. Abstrak. Emotional dependency (ketergantungan emosional) merupakan pola relasional yang ditandai dengan kebutuhan berlebihan terhadap pasangan romantis, yang menempatkan wanita dewasa awal pada risiko rendahnya kesejahteraan, kecemburuan, hingga rentannya mengalami kekerasan dalam pacaran/pasangan. Attachment secara konsisten diidentifikasi sebagai salah satu anteseden utama pola ini, sementara self-compassion belakangan muncul sebagai kandidat faktor protektif. Studi ini bertujuan untuk meninjau penelitian terkait hubungan antara attachment dan emotional dependency, serta peran self-compassion di dalamnya, pada wanita dewasa awal, melalui pendekatan narrative review. Sebelas artikel ilmiah dan tinjauan yang dipublikasikan antara 2018–2025 dan memenuhi kriteria inklusi ditelaah dalam kajian ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa attachment tidak aman khususnya tipe cemas/preokupasi dan takut (fearful) secara konsisten memprediksi tingkat emotional dependency yang lebih tinggi, sementara attachment aman berkaitan dengan pola relasi yang lebih sehat. Emotional dependency, pada gilirannya, berkaitan dengan konsekuensi negatif seperti perilaku adiktif, toleransi terhadap kekerasan dalam hubungan, serta rendahnya kepuasan hidup. Self-compassion menunjukkan peran moderasi, meredam dampak psikologis dari attachment tidak aman dan emotional dependency, serta berkontribusi secara langsung terhadap peningkatan kepuasan hubungan. Temuan ini menunjukkan bahwa self-compassion merupakan komponen yang menjanjikan bagi intervensi psikologis untuk mengurangi emotional dependency yang maladaptif pada wanita dewasa awal.
Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Burnout pada Bhabinkamtibmas Polres Sukabumi Kota Davina Riviyani Syabani; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 1083-1092
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24318

Abstract

Abstract. Burnout is a state of psychological exhaustion resulting from prolonged, unmanaged work stress that can affect Bhabinkamtibmas, the community policing officers of the Indonesian National Police. Perceived Organizational Support (POS), an employee's belief that the organization values their contribution and cares about their wellbeing, is theorized as a job resource that may reduce burnout. This study examined the influence of POS on burnout among Bhabinkamtibmas officers of Polres Sukabumi Kota. A quantitative, non-experimental correlational design was used, involving the entire population of 93 officers across 15 police sectors. Data were collected using the Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) and the Maslach Burnout Inventory-Human Services Survey (MBI-HSS), and analyzed with simple linear regression. Results showed that POS had a significant negative influence on burnout (β = -0.469; t = -5.070; p < 0.001), explaining 22% of the variance in burnout (R² = 0.220). Most officers reported a high level of POS (53.8%), while most reported a low level of burnout (51.6%). These findings indicate that the higher the organizational support perceived by officers, the lower their burnout, suggesting that strengthening organizational support may help protect the psychological wellbeing of Bhabinkamtibmas officers. Abstrak. Burnout merupakan kondisi kelelahan psikologis akibat stres kerja berkepanjangan yang berisiko dialami oleh Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas). Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menurunkan burnout adalah Perceived Organizational Support (POS), yaitu persepsi anggota terhadap dukungan yang diberikan oleh organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh POS terhadap burnout pada Bhabinkamtibmas Polres Sukabumi Kota. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional non-eksperimental melibatkan seluruh populasi sebanyak 93 anggota Bhabinkamtibmas di 15 Polsek. Data dikumpulkan menggunakan Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) dan Maslach Burnout Inventory-Human Services Survey (MBI-HSS), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POS berpengaruh negatif dan signifikan terhadap burnout (β = -0,469; t = -5,070; p < 0,001) dengan kontribusi sebesar 22% (R² = 0,220). Sebagian besar responden memiliki tingkat POS yang tinggi (53,8%), sedangkan pada variabel burnout sebagian besar responden berada pada kategori rendah (51,6%). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan organisasi yang dipersepsikan anggota, semakin rendah tingkat burnout yang dialami, sehingga penguatan dukungan organisasi dapat menjadi salah satu upaya menjaga kesejahteraan psikologis Bhabinkamtibmas.
Kajian Adult Attachment pada Long Distance Relationship Lizzia Marsha Husein Nasution; Stephani Raihana Hamdan
Bandung Conference Series: Psychology Science 1093-1102
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24327

Abstract

Abstract. Long Distance Relationships (LDRs) have become increasingly common among individuals in the emerging adulthood stage due to educational demands, occupational commitments, and geographical separation. Physical distance presents significant challenges for couples in maintaining emotional closeness, effective communication, trust, and relationship satisfaction. Individual differences in coping with these challenges are influenced, in part, by adult attachment, a pattern of attachment that develops early in life and continues to shape romantic relationships in adulthood. This study aims to examine the role of adult attachment in explaining the dynamics of long-distance romantic relationships through a literature review approach. The study employed a narrative literature review by examining books as well as national and international scholarly articles related to adult attachment and Long Distance Relationships. The findings indicate that secure attachment contributes to more open communication, higher levels of trust, and greater ability to maintain relationships adaptively. In contrast, anxious attachment and avoidant attachment are associated with greater relationship uncertainty, difficulties in establishing emotional intimacy, and lower relationship satisfaction. Overall, the review highlights that adult attachment theory provides an important conceptual framework for understanding the psychological dynamics experienced by individuals involved in long-distance romantic relationships. Abstrak. Long Distance Relationship (LDR) merupakan bentuk hubungan romantis yang semakin banyak dijalani oleh individu pada masa emerging adulthood akibat tuntutan pendidikan, pekerjaan, maupun faktor geografis. Keterpisahan secara fisik menyebabkan pasangan menghadapi tantangan dalam mempertahankan kedekatan emosional, komunikasi, kepercayaan, serta kepuasan hubungan. Perbedaan kemampuan individu dalam menghadapi tantangan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh adult attachment, yaitu pola kelekatan yang berkembang sejak masa awal kehidupan dan berlanjut hingga hubungan romantis pada masa dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran adult attachment dalam menjelaskan dinamika hubungan romantis jarak jauh melalui pendekatan studi literatur. Metode yang digunakan adalah narrative literature review dengan menelaah berbagai buku serta artikel ilmiah nasional dan internasional yang membahas adult attachment dan Long Distance Relationship. Hasil kajian menunjukkan bahwa secure attachment berkontribusi terhadap komunikasi yang lebih terbuka, tingkat kepercayaan yang lebih tinggi, dan kemampuan mempertahankan hubungan secara adaptif. Sebaliknya, anxious attachment dan avoidant attachment berkaitan dengan meningkatnya ketidakpastian hubungan, kesulitan membangun kedekatan emosional, serta rendahnya kepuasan hubungan. Kajian ini menunjukkan bahwa teori adult attachment menjadi kerangka konseptual yang penting dalam memahami dinamika psikologis individu yang menjalani hubungan romantis jarak jauh.
Work-life balance dan Quiet quitting: Peran Mediasi Kepuasan Kerja pada Pekerja Generasi Z Malika Sandya Putri; Rizka Hadian Permana
Bandung Conference Series: Psychology Science 1103-1112
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24425

Abstract

Abstract. The phenomenon of quiet quitting is increasingly common among Generation Z workers, who tend to withdraw from active engagement at work by performing only the minimum tasks stated in their job description. This study aims to examine the effect of work-life balance on quiet quitting and to analyze the mediating role of job satisfaction in explaining the mechanism of this relationship among Generation Z workers in Bandung City. A quantitative approach with a causal design was employed. The sample consisted of 262 Generation Z workers in Bandung who had worked for at least six months, selected through convenience sampling. Data were collected through an online questionnaire measuring quiet quitting, work-life balance, and job satisfaction, and were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) with SmartPLS 4. Descriptive results show that the work-life balance of Generation Z workers in Bandung falls into the high category, while their quiet quitting tendency is reflected through detachment, lack of motivation, and lack of initiative. Job satisfaction is reflected in positive evaluations of nine job aspects. Work-life balance negatively and significantly affects quiet quitting (β = -0.471, p < 0.05), and job satisfaction is proven to partially mediate this relationship with a smaller but significant effect (β = -0.145, p < 0.05). These findings imply that organizations should attend not only to work-life balance policies but also to strategies that enhance the job satisfaction of Generation Z employees Abstrak. Fenomena quiet quitting makin banyak terjadi di kalangan pekerja generasi Z, yang memperlihatkan perilaku menarik diri dari keterlibatan aktif di tempat kerja dengan hanya menjalankan tugas minimal sesuai deskripsi pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh work-life balance terhadap quiet quitting, serta menganalisis peran kepuasan kerja sebagai variabel mediator yang menerangkan mekanisme hubungan diantara work-life balance dan quiet quitting pada pekerja generasi Z di Kota Bandung. Penelitian memakai pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Sampel penelitian sejumlah 262 pekerja generasi Z di Kota Bandung yang telah bekerja minimal enam bulan, dipilih mempergunakan teknik convenience sampling. Pengumpulan data dilaksanakan melalui kuesioner online yang mengukur quiet quitting, work-life balance, dan kepuasan kerja. Analisis data memakai Structural Equation Modeling (SEM) dengan SmartPLS 4. Hasil deskriptif memperlihatkan bahwa work-life balance pekerja Generasi Z di Kota Bandung berada pada kategori tinggi, sedangkan kecenderungan quiet quitting tergambar melalui perilaku pembatasan keterlibatan kerja yang tercermin dari tiga dimensi, yaitu keterpisahan, kurangnya motivasi, dan kurangnya inisiatif. Kepuasan kerja tercermin dari penilaian positif terhadap sembilan aspek pekerjaan. Hasil penelitian memperlihatkan work-life balance berdampak negatif dan signifikan kepada quiet quitting (β = -0,471, p < 0,05), dan kepuasan kerja terbukti berperan sebagai mediator parsial dengan pengaruh yang signifikan namun lebih rendah (β = -0,145, p < 0,05). Studi ini memberikan implikasi bagi organisasi untuk tidak hanya berfokus pada kebijakan keseimbangan kerja-kehidupan, tetapi juga pada upaya peningkatan kepuasan kerja pekerja Generasi Z.
Keterkaitan Keterlibatan Karir dan Persepsi Kemampuan Mendapatkan Pekerjaan: Kajian Literatur Mutia Rohadatul Aisy; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1113-1122
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24445

Abstract

Abstract. This study aims to examine the effect of technostress on job satisfaction among employees at PT X. The research method used is quantitative with a causal approach. Data were collected through questionnaires that measured the levels of technostress and job satisfaction. The subjects consisted of 106 employees of PT X, selected using a purposive sampling technique. The technostress variable was measured using the Technostress Scale based on Tarafdar et al.'s (2007) theory, adapted by Alma Nissa Salsabila (2022). The job satisfaction variable was measured using the Job satisfaction Survey (JSS) developed by Spector (1997), adapted by Salsabila Syani et al. (2021). Data analysis was conducted using simple linear regression with IBM SPSS Statistics version 26. The results of the study showed that the majority of employees experienced high levels of technostress (77.4%) and low levels of job satisfaction (50.94%). Regression analysis indicated that technostress had a significant negative effect on job satisfaction (p = 0.000 < 0.05; R² = 0.227; β = -0.747). These findings indicate that the research hypothesis is accepted, meaning that higher levels of technostress experienced by employees are associated with lower levels of job satisfaction Abstrak. Perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat menuntut mahasiswa tingkat akhir untuk memiliki persepsi kemampuan mendapatkan pekerjaan yang positif, salah satunya melalui keterlibatan aktif dalam pengembangan karir. Artikel ini menyajikan kajian naratif mengenai keterlibatan karir dan persepsi kemampuan mendapatkan pekerjaan, dua konstruk yang dipandang penting dalam kesiapan mahasiswa menghadapi transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja. Keterlibatan karir ditelaah melalui kerangka perilaku karir proaktif dari Hirschi, sedangkan persepsi kemampuan mendapatkan pekerjaan ditelaah melalui model multidimensional dari Rothwell. Artikel-artikel ilmiah yang relevan ditelaah dan disintesiskan secara deskriptif untuk memaparkan landasan teori, dimensi, dan anteseden dari masing-masing konstruk, serta keterkaitan konseptual dan empiris antarkeduanya berdasarkan penelitian terdahulu. Pembahasan menunjukkan bahwa keterlibatan karir, sebagai bentuk perilaku karir proaktif, secara teoretis maupun empiris berkaitan dengan bagaimana mahasiswa menilai kemampuannya sendiri untuk mendapatkan pekerjaan, meskipun kekuatan dan konsistensi hubungan ini masih bervariasi antarkonteks dan populasi. Career Construction Theory digunakan sebagai kerangka untuk memandang keterlibatan karir sebagai perilaku adaptif yang berkontribusi membentuk evaluasi mahasiswa terhadap peluang kerjanya. Kajian ini dimaksudkan untuk memberikan landasan konseptual bagi penelitian empiris lebih lanjut mengenai kontribusi keterlibatan karir terhadap persepsi kemampuan mendapatkan pekerjaan pada mahasiswa tingkat akhir, khususnya dalam konteks Indonesia
Pengaruh Safety Climate terhadap Safety Behavior pada Pengemudi Truk Tangki Crude Palm Oil (CPO) Lisiyana; Evi Kurniasari Purwaningrum; Silvia Eka Mariskha
Bandung Conference Series: Psychology Science 1123-1130
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24505

Abstract

Abstract. Occupational safety in Crude Palm Oil (CPO) transportation is a critical concern due to the high risk of work-related accidents faced by tanker truck drivers. One factor that is assumed to influence safety behavior is safety climate, which refers to employees' perceptions of safety practices within the workplace. This study aimed to analyze the effect of safety climate on safety behavior among CPO tanker truck drivers at CV Bismillah Maju Bersama. A quantitative approach with a correlational design was employed. The study involved 65 drivers selected using a total sampling technique. Data were collected using the Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50) and a safety behavior scale, then analyzed using simple linear regression with IBM SPSS. The results indicated that safety climate had a positive and significant effect on safety behavior (t = 41.785; p < 0.001). The correlation coefficient (R = 0.982) demonstrated a very strong relationship, while the coefficient of determination (R² = 0.965) indicated that safety climate accounted for 96.5% of the variance in safety behavior. It can be concluded that improving the workplace safety climate enhances drivers' safety behavior. Therefore, organizations should strengthen management commitment, safety communication, training, and continuous supervision to foster safer work practices Abstrak. Keselamatan kerja pada aktivitas pengangkutan Crude Palm Oil (CPO) menjadi perhatian penting karena tingginya risiko kecelakaan yang dihadapi pengemudi truk tangki. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi perilaku keselamatan (safety behavior) adalah safety climate, yaitu persepsi pekerja terhadap penerapan keselamatan di lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh safety climate terhadap safety behavior pada pengemudi truk tangki CPO di CV Bismillah Maju Bersama. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel berjumlah 65 pengemudi yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui Nordic Occupational Safety Climate Questionnaire (NOSACQ-50) dan skala safety behavior, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan IBM SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa safety climate berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety behavior (t = 41,785; p < 0,001). Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,982 menunjukkan hubungan yang sangat kuat, sedangkan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,965 menunjukkan bahwa safety climate memberikan kontribusi sebesar 96,5% terhadap safety behavior. Disimpulkan bahwa peningkatan safety climate di lingkungan kerja akan mendorong terbentuknya safety behavior yang lebih baik. Oleh karena itu, perusahaan perlu memperkuat komitmen manajemen, komunikasi keselamatan, pelatihan, dan pengawasan secara berkelanjutan
Paparan Media Sosial terhadap Self Esteem dan Body Dissatisfaction iqlima nurillah azzahra; Yunita Sari
Bandung Conference Series: Psychology Science 1131-1140
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24606

Abstract

Abstract. Appearance focused social media has become a primary space for adolescents and young adults to evaluate themselves through exposure to curated and edited images of the “ideal” body. This study aims to synthesize empirical evidence on the relationship between exposure to social media and beauty influencers and self esteem as well as body dissatisfaction through a narrative review. The research method involved a systematic review of 12 articles from online databases (2016–2026), selected based on inclusion criteria. The results revealed that content and activities focused on appearance were more consistently associated with body dissatisfaction than the duration of social media use. Upward appearance comparison emerged as the most consistent mechanism linking exposure to idealized images with body dissatisfaction. Meanwhile, self esteem is influenced by context and the tendency to compare oneself to others. This study provides a foundation for the development of more effective policies and prevention programs. Abstrak. Media sosial yang berpusat pada penampilan menjadi ruang utama bagi remaja dan dewasa muda untuk mengevaluasi diri melalui paparan citra tubuh ideal yang dikurasi dan diedit.Studi ini bertujuan menggabungkan bukti empiris mengenai hubungan paparan media sosial dan beauty influencer dengan self esteem serta body dissatisfaction melalui narrative review. Metode penelitian melibatkan tinjauan sistematis terhadap 12 artikel dari database online (2016–2025), yang diseleksi berdasarkan kriteria inklusi . Hasil penelitian mengungkapkan konten dan aktivitas berfokus pada penampilan lebih konsisten berkaitan dengan body dissatisfaction dibandingkan durasi penggunaan media sosial. Upward appearance comparison menjadi mekanisme yang paling konsisten dalam menghubungkan paparan citra ideal dengan body dissatisfaction. Sedangkan self esteem dipengaruhi konteks serta kecenderungan membandingkan diri. Studi ini memberikan dasar untuk pengembangan kebijakan dan program pencegahan yang lebih efektif.
Sensation Seeking dan Penggunaan Alkohol Mahasiswa Bandung Shifa Nuriyah Azzahra; Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science 1141-1148
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24681

Abstract

Abstract. This study aimed to determine the effect of sensation seeking on alcohol use among university students in Bandung City. Alcohol use among university students is a risk behavior that continues to increase, yet research on the underlying psychological factors, particularly sensation seeking, remains very limited in the Indonesian context. This study used a quantitative approach with a simple linear regression design. A total of 128 university students in Bandung City who had consumed alcohol at least once in the past three months were selected through purposive sampling. Data were collected using the Brief Sensation Seeking Scale (BSSS) to measure sensation seeking and the Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT) to measure alcohol use. Results showed that 74.2% of respondents fell into the high sensation-seeking category, and 66.4% fell into the possible alcohol dependence category. Regression analysis showed that sensation seeking had a significant effect on alcohol use (p = 0.000), with a positive regression coefficient (B = 1.595). The R Square value of 0.349 indicated that sensation seeking contributed 34.9% to the variation in alcohol use, while the remaining 65.1% was influenced by other factors. Thus, the research hypothesis was accepted: the higher the sensation seeking of university students, the higher their level of alcohol use. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sensation seeking terhadap penggunaan alkohol pada mahasiswa di Kota Bandung. Penggunaan alkohol pada mahasiswa merupakan perilaku berisiko yang terus meningkat, namun kajian mengenai faktor psikologis yang mendasarinya, khususnya sensation seeking, masih sangat terbatas dalam konteks Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linear sederhana. Sebanyak 128 mahasiswa di Kota Bandung yang pernah mengonsumsi alkohol minimal satu kali dalam tiga bulan terakhir dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Brief Sensation Seeking Scale (BSSS) untuk mengukur sensation seeking dan Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT) untuk mengukur penggunaan alkohol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 74,2% responden berada pada kategori sensation seeking tinggi, dan 66,4% responden berada pada kategori kemungkinan ketergantungan alkohol. Analisis regresi menunjukkan bahwa sensation seeking berpengaruh signifikan terhadap penggunaan alkohol (p = 0,000), dengan koefisien regresi positif (B = 1,595). Nilai R Square sebesar 0,349 menunjukkan bahwa sensation seeking memberikan kontribusi sebesar 34,9% terhadap variasi penggunaan alkohol, sementara 65,1% dipengaruhi oleh faktor lain. Dengan demikian, hipotesis penelitian diterima, yaitu semakin tinggi sensation seeking yang dimiliki mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat penggunaan alkohol yang ditunjukkan.
Gambaran Need to belong pada Individu Emerging adulthood Pengguna Media Sosial Jeconia Nasywa Pandita; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1165-1172
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24724

Abstract

Abstract. Need to belong is one of the most fundamental psychological needs driving individuals to form and maintain positive, stable, and meaningful interpersonal relationships. This article examines need to belong as a fundamental psychological need in emerging adulthood and explains its relevance to social media use based on previous research. Using a literature review method, relevant scientific articles and theoretical books published mainly within the past ten years were descriptively analyzed to synthesize findings on the concept, aspects, factors, and impacts of need to belong. The results show that need to belong comprises the drive to affiliate with others and the need for social acceptance, shaped by a sense of identity, security, and orderliness, and producing broad effects on individuals' cognitive, emotional, and behavioral functioning. This need becomes increasingly salient during emerging adulthood alongside developmental tasks such as identity formation, autonomy, and intimacy, and its fulfillment is now largely facilitated through social media features such as likes, comments, and other forms of feedback. In conclusion, need to belong not only explains the dynamics of direct interpersonal relationships but also serves as a relevant theoretical framework for understanding broader psychological and social phenomena, including social media use among emerging adults. Abstrak. Need to belong merupakan salah satu kebutuhan psikologis paling mendasar yang mendorong manusia membentuk dan mempertahankan hubungan interpersonal yang positif, stabil, dan bermakna. Artikel ini mengkaji need to belong sebagai kebutuhan psikologis fundamental pada emerging adulthood serta menjelaskan relevansinya dalam konteks penggunaan media sosial berdasarkan penelitian terdahulu. Metode yang digunakan adalah literature review, dengan mengkaji artikel ilmiah dan buku teori yang relevan, terutama publikasi sepuluh tahun terakhir, yang dianalisis secara deskriptif untuk mensintesis temuan mengenai konsep, aspek, faktor, dan dampak need to belong. Hasil kajian menunjukkan bahwa need to belong tersusun atas dorongan untuk menjalin hubungan dengan orang lain dan kebutuhan akan penerimaan sosial, yang dipengaruhi oleh sense of identity, security, dan orderliness, serta memberikan dampak luas pada aspek kognitif, emosional, dan perilaku individu. Kebutuhan ini semakin relevan pada fase emerging adulthood seiring tugas perkembangan identitas, otonomi, dan keintiman, dan pemenuhannya kini banyak difasilitasi oleh media sosial melalui fitur seperti likes, komentar, dan umpan balik lainnya. Dapat disimpulkan bahwa need to belong tidak hanya menjelaskan dinamika hubungan interpersonal, tetapi juga menjadi kerangka teoritis penting untuk memahami perilaku penggunaan media sosial pada emerging adulthood.
Studi Kontribusi Beban Kerja terhadap Cyberloafing pada Karyawan Perbankan Kota Bandung Nasywa Zhafirah; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 1173-1182
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24821

Abstract

Abstract. High job demands in the banking sector may increase employees' tendency to engage in cyberloafing, defined as using the internet for non-work-related purposes during working hours and regarded as a form of workplace deviance. This study aimed to examine the contribution of workload to minor cyberloafing and serious cyberloafing among banking employees in Bandung City. A quantitative non-experimental approach with a one-way correlational and cross-sectional design was employed. A total of 144 banking employees were recruited using a convenience sampling technique. Workload was measured using the NASA Task Load Index (NASA-TLX), while cyberloafing was assessed using the Indonesian-adapted Cyberloafing Scale. Data were analyzed using simple linear regression. The results showed that most respondents reported high levels of workload and minor cyberloafing, whereas serious cyberloafing was generally low. Workload made a positive and significant contribution to minor cyberloafing (R² = 0.408, p < .001) and serious cyberloafing (R² = 0.153, p < .001). These findings indicate that increased workload is more strongly associated with minor cyberloafing than serious cyberloafing. Organizations are encouraged to manage workload more effectively, and future studies should examine additional factors influencing cyberloafing. Abstrak. Tingginya tuntutan kerja pada sektor perbankan berpotensi meningkatkan kecenderungan karyawan menggunakan internet untuk kepentingan di luar pekerjaan (cyberloafing), yang dipandang sebagai bentuk workplace deviance. Penelitian ini bertujuan mengetahui kontribusi beban kerja terhadap minor cyberloafing dan serious cyberloafing pada karyawan perbankan di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional satu arah dan metode cross-sectional. Responden penelitian berjumlah 144 karyawan perbankan yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Beban kerja diukur menggunakan NASA Task Load Index (NASA-TLX), sedangkan cyberloafing diukur menggunakan Cyberloafing Scale yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat beban kerja dan minor cyberloafing yang tinggi, sedangkan serious cyberloafing berada pada kategori rendah. Beban kerja berkontribusi positif dan signifikan terhadap minor cyberloafing (R² = 0,408; p < 0,001) dan serious cyberloafing (R² = 0,153; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan beban kerja lebih berkaitan dengan munculnya minor cyberloafing dibandingkan serious cyberloafing. Organisasi disarankan mengelola beban kerja secara lebih proporsional, sedangkan penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan faktor lain yang memengaruhi cyberloafing.