cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 575 Documents
Studi Kontribusi Core Self-Evaluation terhadap Thriving at Work Tenaga Kesehatan Alya Putri; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 977-984
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24241

Abstract

Abstract. Thriving at Work is a positive psychological state characterized by vitality and continuous learning, enabling employees to perform optimally despite workplace demands. In healthcare settings, high workloads, rapid changes in healthcare services, and increasing professional responsibilities require healthcare workers to maintain both energy and continuous development. One personal factor that may enhance Thriving at Work is Core Self-Evaluation, which reflects individuals' fundamental evaluations of their own worth, competence, emotional stability, and control over life events. This study aimed to examine the contribution of Core Self-Evaluation to Thriving at Work among healthcare workers in Cianjur Regency. A quantitative correlational design was employed involving 124 healthcare workers selected through convenience sampling. Data were collected using the Core Self-Evaluations Scale and the Thriving at Work Scale. The data were analyzed using simple linear regression after meeting the assumptions of normality, linearity, and homoscedasticity. The findings revealed that Core Self-Evaluation had a significant positive contribution to Thriving at Work (p < 0.001), explaining 57.6% of the variance (R² = 0.576). These findings indicate that healthcare workers with higher Core Self-Evaluation are more likely to experience greater vitality and continuous learning in the workplace. Abstrak. Thriving at Work merupakan kondisi psikologis positif yang ditandai dengan adanya vitality dan learning dalam bekerja. Pada tenaga kesehatan, kondisi ini penting untuk mendukung kualitas pelayanan di tengah tingginya tuntutan kerja dan perubahan yang terus terjadi dalam lingkungan pelayanan kesehatan. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap Thriving at Work adalah Core Self-Evaluation, yaitu penilaian mendasar individu terhadap kemampuan, nilai diri, stabilitas emosi, dan kendali atas kehidupannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi Core Self-Evaluation terhadap Thriving at Work pada tenaga kesehatan di Kabupaten Cianjur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 124 tenaga kesehatan yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan adalah Core Self-Evaluations Scale dan Thriving at Work Scale. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana setelah memenuhi uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Core Self-Evaluation berkontribusi secara positif dan signifikan terhadap Thriving at Work dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,576. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi Core Self-Evaluation yang dimiliki tenaga kesehatan, semakin tinggi pula tingkat Thriving at Work yang mereka alami.
Pengaruh Keyakinan Diri Mencari Bantuan terhadap Professional Help Seeking Behavior pada Mahasiswa Aulia Salsabila Maulana; Endah Nawangsih
Bandung Conference Series: Psychology Science 985-994
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24249

Abstract

Abstract. College students are in the emerging adulthood phase, during which they are vulnerable to various stresses and mental health disorders. The availability of services at universities is not yet sufficient to help students and encourage them to seek help; therefore, internal factors are needed to strengthen their readiness. This study aims to examine the influence of self-efficacy for seeking help on professional help-seeking behavior. This study uses a non-experimental quantitative design with a causal approach. The sample consisted of 391 active undergraduate students aged 18–25 in Bandung, selected using convenience sampling. Self-efficacy for seeking help was measured using the Self-Efficacy for Seeking Mental Health Care (SE-SMHC) scale, while professional help-seeking behavior was assessed using the Help-Seeking Behavior scale. The results show that both dimensions of self-efficacy for seeking help collectively have a significant effect (= 8.4% & p<.001). However, when analyzed partially, only the Confidence in Coping dimension had a significant effect (p=.003), while Confidence in Knowledge did not (p=.108). These findings indicate that confidence in coping with emotional and social consequences is more decisive. Therefore, it is recommended to provide interventions that build students’ courage to face emotional and social consequences. Abstrak. Mahasiswa berada pada fase emerging adulthood yang rentan terhadap berbagai tekanan serta gangguan kesehatan mental. Ketersediaan layanan di perguruan tinggi belum cukup untuk bisa membantu mahasiswa dan mendorong mereka untuk mengakses, maka diperlukan faktor internal diri yang memperkuat kesiapan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh keyakinan diri mencari bantuan terhadap profesional help seeking behavior Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif non-eksperimental dengan pendekatan kausalitas. Sampel berjumlah 391 mahasiswa aktif program sarjana berusia 18-25 tahun di Kota Bandung yang diambil menggunakan teknik convenience sampling. Keyakinan diri mencari bantuan diukur menggunakan Self Efficacy for Seeking Mental Health Care (SE-SMHC), sedangkan Profesional Help Seeking Behavior menggunakan alat ukur pengembangan Help Seeking Behavior. Hasil menunjukan kedua dimensi keyakinan diri mencari bantuan secara bersama-sama berpengaruh signifikan (R²= 8.4% & p<.001). Namun, secara parsial hanya dimensi Confidence in Coping yang berpengaruh signifikan (p=.003) sedangkan Confidence in Knowledge tidak (p=.108). Temuan ini mengindikasikan bahwa keyakinan menghadapi konsekuensi emosional dan sosial lebih menentukan. Maka merekomendasikan untuk dapat memberikan intervensi yang membangun keberanian mahasiswa untuk menghadapi konsekuensi emosional dan sosial.
Cinta di Era Algoritma: Tinjauan Naratif pada Fenomena Fictophilia Nasywa Annisa Salsabilla; Yunita Sari
Bandung Conference Series: Psychology Science 995-1002
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24250

Abstract

Abstract. The rapid advancement of digital technology has intensified interactions with fictional characters, giving rise to fictophilia, a strong emotional and/or sexual attraction toward fictional characters. Despite growing scholarly interest, empirical evidence on its psychological impacts remains limited. This study reviewed empirical research on the psychological impacts of fictophilia using a narrative literature review based on Ferrari's framework. Literature was searched in Google Scholar, Springer Nature, and ScienceDirect. Articles were screened using predefined inclusion and exclusion criteria with Rayyan AI and synthesized thematically. Of 86 identified articles, four empirical studies met the inclusion criteria. The findings indicate that fictophilia is associated with attachment dynamics, influences romantic partner preferences, and may provide emotional closeness while partially fulfilling affective needs. However, relationships with fictional characters cannot replace the reciprocity, trust, and commitment found in human relationships. Evidence regarding the role of fictophilia in emotion regulation and coping also remains limited, highlighting the need for further research Abstrak. Perkembangan teknologi digital telah meningkatkan intensitas interaksi individu dengan karakter fiksi sehingga memunculkan fenomena fictophilia, yaitu ketertarikan emosional dan/atau seksual yang kuat terhadap karakter fiksi. Meskipun semakin banyak dikaji, bukti empiris mengenai dampak psikologis fictophilia masih terbatas dan tersebar pada berbagai jenis media. Penelitian ini bertujuan meninjau penelitian terkait dampak psikologis fictophilia melalui pendekatan narrative literature review. Penelitian menggunakan metode narrative literature review dengan kerangka Ferrari. Pencarian literatur dilakukan melalui Google Scholar, Springer Nature, dan ScienceDirect. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi menggunakan Rayyan AI, kemudian disintesis secara tematik. Dari 86 artikel yang diidentifikasi, empat artikel empiris memenuhi seluruh kriteria dan dianalisis dalam tinjauan ini. Hasil sintesis menunjukkan bahwa fictophilia berkaitan dengan dinamika kelekatan, mempengaruhi preferensi pasangan romantis, serta berpotensi memberikan pengalaman kedekatan emosional dan memenuhi sebagian kebutuhan afektif. Meskipun demikian, hubungan dengan karakter fiksi belum mampu menggantikan aspek relasional yang bergantung pada resiprositas, kepercayaan, dan komitmen dalam hubungan antarmanusia. Selain itu, bukti empiris mengenai peran fictophilia dalam regulasi emosi dan coping masih terbatas sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut yang menguji kedua aspek tersebut secara langsung.
Pengaruh Perceived Employability terhadap Career Anxiety Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Psikologi Gya Adhwa Ramadhani; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science 1003-1012
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24256

Abstract

Abstract. This study aims to examine the effect of perceived employability (PE) on career anxiety (CA) among senior students in the Faculty of Psychology at Bandung Islamic University. A quantitative method using a cross-sectional survey was employed, involving a sample of 150 active students (study population) from the 2019–2022 cohorts who were not yet employed full-time. The instruments used were the Self-Perceived Employability Scale and the Career Anxiety Scale. The results showed that 73.3% of students had high levels of PE, while 80.7% had moderate levels of CA. Simple linear regression analysis with Weighted Least Squares (WLS) correction using SPSS revealed a negative relationship (β = -0.441) with a significance level of p < 0.001 and R² = 0.132, meaning that PE explains 13.2% of the variance in CA. These findings are consistent with Lazarus and Folkman’s Cognitive Appraisal Theory, which positions PE as a psychological resource in secondary appraisal to mitigate negative emotional responses. The higher the PE, the lower the perceived CA. The implications of this study emphasize the importance of building a positive perception of one’s abilities and managing career anxiety adaptively, as well as encouraging proactive career exploration when facing the job search process. Abstrak. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh perceived employability (PE) terhadap career anxiety (CA) pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung. Metode kuantitatif dengan survei cross-sectional melibatkan 150 sampel (studi populasi) mahasiswa aktif Angkatan 2019-2022 yang belum bekerja full-time. Instrumen menggunakan Self-Perceived Employability Scale dan Career Anxiety Scale. Hasil menunjukkan 73,3% mahasiswa memiliki PE tingkat tinggi, sedangkan 80,7% berada pada CA tingkat sedang. Analisis regresi linear sederhana dengan koreksi Weighted Least Square (WLS) menggunakan SPSS menunjukkan hubungan negatif (β = -0,441) dengan signifikansi p < 0,001 dan R² = 0,132, artinya PE mampu menjelaskan 13,2% varians CA. Temuan ini konsisten dengan Cognitive Appraisal Theory Lazarus & Folkman, yang memosisikan PE sebagai sumber daya psikologis dalam secondary appraisal untuk meredam respons emosional negatif. Semakin tinggi PE, semakin rendah CA yang dirasakan. Implikasi penelitian menekankan pentingnya membangun persepsi positif terhadap kemampuan diri dan mengelola kecemasan karier secara adaptif, serta mendorong eksplorasi karier proaktif dalam menghadapi proses pencarian kerja.
Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Komitmen Organisasi: Work Meaningfulness sebagai Mediator Desrita Aulia Dewi; Rizka Hadian Permana
Bandung Conference Series: Psychology Science 1013-1024
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24257

Abstract

Abstract. As the challenges of managing human resources increase, organizations need to ensure that employees have a strong commitment to the organization to support the achievement of its goals. This study examines the effect of Perceived Organizational Support (POS) on organizational commitment and tests the mediating role of work meaningfulness among hospitality sector employees in DKI Jakarta. A quantitative approach with a correlational design and cross-sectional time frame was used, involving 160 active employees selected through convenience sampling, each with a minimum tenure of one year. Data were collected using the Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) developed by Eisenberger et al. (1986), the Organizational Commitment Questionnaire (OCQ) developed by Mowday et al. (1982b), and the Work and Meaning Inventory (WAMI) developed by (Steger et al., 2012). Data were analyzed using Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS 4. Findings show that POS has a positive and significant effect on organizational commitment (0.387; p = 0.000 < 0.05), and that work meaningfulness partially mediates the relationship between POS and organizational commitment (0.250; p = 0.000 < 0.05). These findings indicate that the higher employees perceived organizational support, the higher their organizational commitment, both directly and through increased work meaningfulness. Abstrak. Seiring dengan meningkatnya tantangan dalam mengelola sumber daya manusia, organisasi perlu memastikan bahwa karyawan memiliki komitmen organisasi yang tinggi untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Perceived Organizational Support (POS) terhadap komitmen organisasi serta menguji peran work meaningfulness sebagai mediator pada karyawan sektor hospitality di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan studi waktu cross-sectional, melibatkan 160 karyawan aktif yang dipilih melalui teknik convenience sampling dengan masa kerja minimal satu tahun. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) yang dikembangkan oleh Eisenberger et al. (1986), Organizational Commitment Questionnaire (OCQ) yang dikembangkan oleh Mowday et al. (1982b), dan Work and Meaning Inventory (WAMI) yang dikembangkan oleh (Steger et al., 2012). Analisis data menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Perceived Organizational Support (POS) berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi (0,387; p = 0,000 < 0,05) serta work meaningfulness terbukti memediasi secara parsial pengaruh antara POS terhadap komitmen organisasi (0,250; p = 0,000 < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi persepsi karyawan terhadap dukungan organisasi, maka semakin tinggi pula komitmen organisasi yang dimiliki, baik secara langsung maupun melalui peningkatan work meaningfulness yang dirasakan karyawan.
Karakteristik Gamers Mobile Legends: sebuah Tinjauan Demografis Hanung Firmansyah Rachman; Fanni Putri Diantina
Bandung Conference Series: Psychology Science 1025-1032
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24268

Abstract

Abstract. Mobile Legends: Bang Bang is one of the most popular Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) games in Indonesia, attracting players across a wide range of demographic backgrounds. This article aims to describe the demographic characteristics of Mobile Legends gamers based on gender, age, occupational status, and daily playing duration. This descriptive quantitative study involved 191 respondents selected through purposive sampling, with criteria including being 18–25 years old and having actively played Mobile Legends for at least six months. Data were collected through an online questionnaire and analyzed using frequency distribution. The results show that the majority of respondents were male (60.2%), aged 21–22 years (35.6%), status as college students (42.9%), and played for 1–3 hours per day (30.9%). These findings indicate that the typical Mobile Legends gamer profile in this study is a male, early-adult, student who engages in moderate daily play sessions. This demographic profile provides a contextual basis for further research on gaming behavior, motivation, and psychological outcomes among MOBA players. Abstrak. Mobile Legends: Bang Bang merupakan salah satu game Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) yang paling populer di Indonesia dan diminati oleh pemain dengan latar belakang demografi yang beragam. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik demografi gamers Mobile Legends berdasarkan jenis kelamin, usia, status pekerjaan, dan durasi bermain harian. Penelitian deskriptif kuantitatif ini melibatkan 191 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling, dengan kriteria berusia 18–25 tahun dan aktif bermain Mobile Legends minimal enam bulan terakhir. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (60,2%), berusia 21–22 tahun (35,6%), berstatus mahasiswa (42,9%), dan bermain selama 1–3 jam per hari (30,9%). Temuan ini mengindikasikan bahwa profil umum gamers Mobile Legends dalam penelitian ini adalah laki-laki, berada pada fase dewasa awal, berstatus mahasiswa, dengan intensitas bermain harian yang tergolong sedang. Profil demografi ini memberikan dasar kontekstual bagi penelitian lanjutan mengenai perilaku bermain, motivasi, dan aspek psikologis lain pada pemain MOBA.
Pengaruh Fear of Negative Evaluation terhadap Online Self-Disclosure melalui Interpersonal Trust Naira Ammara Putri Raharjo; Siti Qodariah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1033-1042
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24272

Abstract

Abstract. Instagram second accounts have become a space where female university students express their thoughts, feelings, and personal experiences to a more limited audience. However, concerns about being negatively evaluated may influence their willingness to engage in online self-disclosure. This study aimed to examine the mediating role of interpersonal trust in the relationship between Fear of Negative Evaluation (FNE) and online self-disclosure among female university students using Instagram second accounts in Bandung. A quantitative non-experimental design was employed involving 359 participants selected through convenience sampling. Data were collected using the Brief Fear of Negative Evaluation Scale (BFNE) adapted into Indonesian by Hernawati and Putri (2025), the Interpersonal Trust Scale based on Rotenberg's (1994, 2010) framework and adapted by Mahayani and Bajirani (2025), and the Revised Self-Disclosure Scale (RSDS) adapted to the online communication context by Ariani et al. (2020). Data were analyzed using Hayes' PROCESS Macro Model 4 (Hayes, 2013) with 5,000 bootstrap samples. The results showed that FNE significantly influenced online self-disclosure and interpersonal trust, while interpersonal trust significantly influenced online self-disclosure. However, interpersonal trust did not mediate the relationship between FNE and online self-disclosure. Abstrak. Second account Instagram menjadi ruang bagi mahasiswi untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman pribadi kepada lingkaran pengikut yang lebih terbatas. Namun, kekhawatiran terhadap penilaian negatif dari orang lain dapat memengaruhi kecenderungan melakukan online self-disclosure. Penelitian ini bertujuan menguji peran interpersonal trust sebagai mediator dalam pengaruh Fear of Negative Evaluation (FNE) terhadap online self-disclosure pada mahasiswi pengguna second account Instagram di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan melibatkan 359 mahasiswi yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Brief Fear of Negative Evaluation Scale (BFNE) yang diadaptasi oleh Hernawati dan Putri (2025), Skala Interpersonal Trust berdasarkan kerangka Rotenberg (1994, 2010) yang diadaptasi oleh Mahayani dan Bajirani (2025), serta Revised Self-Disclosure Scale (RSDS) yang diadaptasi ke konteks komunikasi daring oleh Ariani dkk. (2020). Analisis data menggunakan PROCESS Macro Model 4 (Hayes, 2013) dengan bootstrapping 5.000 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FNE berpengaruh signifikan terhadap online self-disclosure dan interpersonal trust, serta interpersonal trust berpengaruh signifikan terhadap online self-disclosure. Namun, interpersonal trust tidak terbukti memediasi hubungan antara FNE dan online self-disclosure.
Frozen Grief Disenfranchised Grief: Frozen Grief sebagai Satu Tema pada Pemilik Kucing yang Bersedih Shofi Rahimah Halim; Fanni Putri Diantina
Bandung Conference Series: Psychology Science 1043-1052
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24275

Abstract

Abstract. The loss of a pet cat can trigger profound grief comparable to losing a family member; however, it often lacks social recognition, thereby developing into disenfranchised grief. Under such conditions of minimal validation, the individual's grieving process may become obstructed, giving rise to the phenomenon of frozen grief a state of being stuck in non-adaptive grief stages. This study aims to explore the experience of frozen grief among cat owners experiencing disenfranchised grief following the death of their companion animals. A qualitative approach using van Manen's (2016) hermeneutic phenomenological design was employed to deeply understand the meaning of participants' lived experiences. Five participants aged 22–23 years who had lost their cats within 6-48 months and experienced social invalidation participated in semi-structured interviews. Data were analyzed using hermeneutic phenomenological thematic reflection. The findings reveal that frozen grief manifests in three main patterns: (1) denial and avoidance as self-protective mechanisms against the reality of loss; (2) rigid and stagnant continuing bonds behaviors; and (3) feelings of being stuck that hinder the adaptation process to loss. This study confirms that frozen grief is a direct psychological consequence of the lack of safe spaces for mourning due to social invalidation. Social validation and recognition of the human-animal bond are crucial factors that can prevent stagnation in the grieving process and promote more adaptive grief resolution Abstrak. Kehilangan kucing peliharaan dapat memicu kedukaan mendalam yang setara dengan kehilangan anggota keluarga, namun sering kali tidak memperoleh pengakuan sosial sehingga berkembang menjadi disenfranchised grief. Dalam kondisi minim validasi tersebut, proses berduka individu dapat terhambat dan memunculkan fenomena frozen grief, yaitu kebuntuan dalam menjalani tahapan kesedihan yang adaptif. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman frozen grief pada pemilik kucing yang mengalami disenfranchised grief setelah kehilangan hewan peliharaannya. Pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi hermeneutik van Manen (2016) digunakan untuk memahami makna pengalaman hidup partisipan secara mendalam. Lima partisipan berusia 22–23 tahun yang kehilangan kucing dalam kurun waktu 6–48 bulan terakhir dan mengalami invalidasi sosial berpartisipasi dalam wawancara semi-terstruktur. Analisis data menggunakan refleksi tematik fenomenologi hermeneutik. Temuan menunjukkan bahwa frozen grief termanifestasi dalam tiga pola utama: (1) denial dan avoidance sebagai bentuk perlindungan diri dari realitas kehilangan; (2) perilaku mempertahankan continuing bonds yang bersifat kaku dan stagnan; serta (3) perasaan terjebak (stuck) yang menghambat proses adaptasi terhadap kehilangan. Penelitian ini menegaskan bahwa frozen grief merupakan konsekuensi psikologis langsung dari minimnya ruang aman untuk berduka akibat invalidasi sosial. Validasi dan pengakuan sosial terhadap makna hubungan manusia-hewan menjadi faktor krusial yang dapat mencegah kebuntuan proses berduka dan mendorong resolusi kesedihan yang lebih adaptif
Pengaruh Adverse Childhood Experiences terhadap Depresi pada Individu Dewasa Awal di Kota Bandung Marsella Choerunnisa; Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science 1053-1062
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24276

Abstract

Abstract. Depression is a psychological condition characterized by emotional, cognitive, and behavioral symptoms that can impair daily functioning. One factor believed to contribute to depression is Adverse Childhood Experiences (ACE). This study aimed to examine the effect of Adverse Childhood Experiences (ACE) on depression among young adults in Bandung. A quantitative approach with a causal design was employed involving 111 young adults aged 18–29 years selected through purposive sampling. ACE was measured using the Adverse Childhood Experience Questionnaire (ACE-Q), while depression was assessed using the Beck Depression Inventory-II (BDI-II). Data were analyzed using ordinal logistic regression with IBM SPSS Statistics 25. The results showed that only the abuse category had a significant effect on depression levels (β = 0.485; p = 0.003), whereas neglect (β = 0,203; p = 0,469) and household dysfunction (β = -0,252; p = 0,068) were not significant predictors. The Nagelkerke R-Square value of 0.104 indicates that the model explained 10.4% of the variance in depression levels. These findings suggest that, among the ACE categories, only experiences of abuse significantly influenced depression among young adults in Bandung. Abstrak. Depresi merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan gejala emosional, kognitif, dan perilaku yang dapat mengganggu fungsi individu dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu faktor yang diduga berperan terhadap munculnya depresi adalah Adverse Childhood Experiences (ACE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Adverse Childhood Experiences (ACE) terhadap depresi pada individu dewasa awal di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kausalitas pada 111 individu dewasa awal berusia 18–29 tahun di Kota Bandung yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran ACE menggunakan Adverse Childhood Experience Questionnaire (ACE-Q), sedangkan depresi diukur menggunakan Beck Depression Inventory-II (BDI-II). Data dianalisis menggunakan regresi logistik ordinal dengan bantuan IBM SPSS Statistics 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya kategori abuse yang berpengaruh signifikan terhadap tingkat depresi (β = 0,485; p = 0,003), sedangkan neglect (β = 0,203; p = 0,469) dan household dysfunction (β = -0,252; p = 0,068) tidak berpengaruh signifikan. Nilai Nagelkerke R-Square sebesar 0,104 menunjukkan bahwa model menjelaskan 10,4% variasi tingkat depresi. Dengan demikian, hanya pengalaman abuse dalam kategori ACE yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap depresi pada individu dewasa awal di Kota Bandung.
Perfeksionisme, Ruminasi, dan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa: Kajian Literatur Rizka Nur Fauziyah; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 1063-1072
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24282

Abstract

Abstract. Academic procrastination is one of the most common problems experienced by final-year university students during the completion of their undergraduate thesis. Previous studies have consistently associated perfectionism with academic procrastination; however, the findings remain inconclusive. This inconsistency suggests that other psychological mechanisms may explain the relationship, particularly rumination. This study aimed to examine the relationship between perfectionism, rumination, and academic procrastination using a narrative literature review approach. A total of fifteen studies were analyzed narratively to identify conceptual patterns, similarities and differences across findings, and existing research gaps. The synthesis indicates that perfectionism activates a discrepancy between individuals' actual and ideal self-schemas, which can be directed through two opposing cognitive pathways. Brooding disconnects individuals from their future self, reinforcing repetitive negative self-focused thinking that increases academic procrastination, whereas reflection keeps individuals oriented toward problem-solving, functioning adaptively to reduce procrastination tendencies. These findings emphasize the importance of distinguishing between the two dimensions of rumination to better understand the psychological mechanisms underlying academic procrastination among final-year university students. Abstrak. Prokrastinasi akademik merupakan salah satu permasalahan yang banyak dialami mahasiswa tingkat akhir selama proses penyusunan skripsi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perfeksionisme berhubungan dengan prokrastinasi akademik, namun hasil yang diperoleh masih belum konsisten. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya mekanisme psikologis lain yang berperan dalam hubungan kedua variabel tersebut, salah satunya adalah ruminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara perfeksionisme, ruminasi, dan prokrastinasi akademik melalui pendekatan narrative literature review. Sebanyak lima belas artikel yang relevan dianalisis secara naratif untuk mengidentifikasi pola hubungan antarkonsep, persamaan maupun perbedaan temuan penelitian, serta kesenjangan penelitian yang masih ada. Hasil sintesis menunjukkan bahwa perfeksionisme memicu kesenjangan antara skema diri aktual dan skema diri ideal, yang kemudian dapat diarahkan pada dua jalur kognitif yang berlawanan. Brooding memutus hubungan individu dengan diri di masa depan sehingga memperkuat pola pikir negatif berulang yang meningkatkan prokrastinasi akademik, sedangkan reflection menjaga individu tetap berorientasi pada pemecahan masalah sehingga berperan adaptif dalam menurunkan kecenderungan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa pemisahan dimensi ruminasi penting dilakukan untuk memahami mekanisme psikologis yang mendasari prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir.