cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 575 Documents
Pengaruh Self-Compassion terhadap Work engagement pada Perawat Divisi Rawat Inap Zahra Zahirah Andhika; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 785-794
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24004

Abstract

Abstract. Self-compassion is an attitude of compassion toward oneself when facing difficulties or stress at work, while work engagement is a positive psychological state characterized by enthusiasm, dedication, and full involvement in one’s work. Nurses in the inpatient division face simultaneous physical, administrative, and emotional work demands, which have the potential to reduce their psychological energy and work engagement. This study aims to determine the effect of self-compassion on work engagement among nurses in the inpatient division at RSI Assyifa in Sukabumi. The study used a quantitative approach with a correlational design. The study sample consisted of 84 nurses in the inpatient division, selected using a population-based approach. Data were collected from primary sources via questionnaires using the Self-compassion Scale (SCS) and the Utrecht Work engagement Scale-17 (UWES-17), and analyzed using simple linear regression. The results showed a significant positive relationship between self-compassion and work engagement (p = 0.000 < 0.05), with a correlation coefficient (R) of 0.612 and a coefficient of determination (R²) of 37.4%. These findings indicate that nurses with higher levels of self-compassion tend to cope with job demands more adaptively, thereby maintaining their energy, dedication, and engagement at work. Thus, self-compassion is one of the factors that plays a role in enhancing work engagement among inpatient division nurses, although there are other factors that also influence it. Abstrak. Self-compassion merupakan sikap welas asih terhadap diri sendiri ketika menghadapi kesulitan atau tekanan dalam pekerjaan, sedangkan work engagement merupakan kondisi psikologis positif yang ditandai vigor, dedication, dan absorption dalam pekerjaan. Perawat divisi rawat inap menghadapi tuntutan kerja yang bersifat fisik, administratif, dan emosional secara bersamaan, sehingga berpotensi menurunkan energi psikologis dan keterlibatan kerja. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh self-compassion terhadap work engagement pada perawat divisi rawat inap di RSI Assyifa Kota Sukabumi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 84 perawat divisi rawat inap, dipilih menggunakan pendekatan studi populasi. Data dikumpulkan dari sumber primer melalui kuesioner menggunakan instrumen Self-Compassion Scale (SCS) atau Skala Welas Diri (SWD) dan Utrecht Work engagement Scale-17 (UWES-17), diolah menggunakan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan terdapat pengaruh positif antara self-compassion terhadap work engagement (p = 0,000 < 0,05), dengan koefisien korelasi (R) sebesar 0,612 dan koefisien determinasi (R²) sebesar 37,4%. Temuan ini mengindikasikan perawat dengan self-compassion lebih tinggi cenderung menghadapi tuntutan pekerjaan secara lebih adaptif sehingga tetap mempertahankan vigor, dedication, dan absorption dalam bekerja. Dengan demikian, self-compassion merupakan salah satu faktor yang berperan meningkatkan work engagement pada perawat divisi rawat inap, meskipun masih terdapat faktor lain yang turut memengaruhinya.
Pengaruh Technostress terhadap Job satisfaction pada Karyawan PT X Hana Fathonah Jumarnis; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science 795-804
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24055

Abstract

Abstract. This study aims to examine the effect of technostress on job satisfaction among employees at PT X. The research method used is quantitative with a causal approach. Data were collected through questionnaires that measured the levels of technostress and job satisfaction. The subjects consisted of 106 employees of PT X, selected using a purposive sampling technique. The technostress variable was measured using the Technostress Scale based on Tarafdar et al.'s (2007) theory, adapted by Alma Nissa Salsabila (2022). The job satisfaction variable was measured using the Job satisfaction Survey (JSS) developed by Spector (1997), adapted by Salsabila Syani et al. (2021). Data analysis was conducted using simple linear regression with IBM SPSS Statistics version 26. The results of the study showed that the majority of employees experienced high levels of technostress (77.4%) and low levels of job satisfaction (50.94%). Regression analysis indicated that technostress had a significant negative effect on job satisfaction (p = 0.000 < 0.05; R² = 0.227; β = -0.747). These findings indicate that the research hypothesis is accepted, meaning that higher levels of technostress experienced by employees are associated with lower levels of job satisfaction. Abstrak.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh technostress terhadap job satisfaction pada karyawan PT X. Technostress merupakan tekanan psikologis yang dialami individu akibat penggunaan teknologi dalam pekerjaan, meliputi dimensi techno-overload, techno-invasion, techno-complexity, techno-insecurity, dan techno-uncertainty. Sementara itu, job satisfaction merupakan persepsi individu terhadap berbagai aspek pekerjaan, seperti gaji, promosi, tunjangan, imbalan, pengawasan, prosedur kerja, hubungan dengan rekan kerja, sifat pekerjaan, dan komunikasi organisasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 106 karyawan PT X yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel technostress diukur menggunakan Technostress Scale berdasarkan teori Tarafdar et al. (2007) yang diadaptasi oleh Alma Nissa Salsabila (2022), sedangkan job satisfaction diukur menggunakan Job satisfaction Survey (JSS) berdasarkan teori Spector (1997) yang diadaptasi oleh Salsabila Syani et al. (2021). Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi linear sederhana dengan bantuan IBM SPSS Statistics 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas karyawan memiliki tingkat technostress tinggi (77,4%) dan job satisfaction rendah (50,94%). Uji regresi menunjukkan bahwa technostress berpengaruh negatif dan signifikan terhadap job satisfaction (p = 0,000; R² = 0,227; β = -0,747). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi technostress yang dialami karyawan, semakin rendah job satisfaction yang dirasakan
Pelecehan Avatar Roblox dan Memudarnya Rasa Jijik pada Dewasa Awal Nabila Alya Rachman; Suci Nugraha
Bandung Conference Series: Psychology Science 805-812
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24081

Abstract

Abstract. Roblox, an online gaming platform with approximately 151.5 million daily active users, has been documented as a site of cybersexual harassment through user-controlled avatars, including unwanted sexual comments, gestures, and roleplay. Because avatars are experienced as an extension of the self, such experiences may elicit disgust, an emotion associated with rejection of contamination and moral violation, in addition to more commonly studied responses such as fear or anxiety. This quantitative correlational study examined the relationship between cybersexual harassment experience through Roblox avatars and disgust sensitivity among 300 young adults (18–25 years) recruited through convenience sampling. Data were collected using an adapted Online Sexual Harassment Scale (ω = .95) and the Three Domain Disgust Scale, then analyzed using Spearman rank correlation. Results showed a significant, weak, negative correlation between harassment experience and disgust sensitivity (ρ = -0.365, p < .001), confirmed by a chi-square test (χ²(1) = 6.231, p = .013), and consistent across all three disgust domains (pathogen, sexual, moral). Higher harassment experience was associated with lower disgust sensitivity, suggesting a possible emotional normalization process. These findings highlight the importance of user awareness regarding the risk of desensitization to online sexual harassment. Abstrak. Roblox, platform gim daring dengan sekitar 151,5 juta pengguna aktif harian, telah terdokumentasi sebagai salah satu ruang terjadinya pelecehan seksual siber melalui avatar yang dikendalikan pengguna, termasuk komentar seksual yang tidak diinginkan, gestur, dan roleplay bernuansa seksual. Karena avatar dialami sebagai perpanjangan diri penggunanya, pengalaman tersebut berpotensi memunculkan rasa jijik (disgust), emosi yang berkaitan dengan penolakan terhadap kontaminasi dan pelanggaran moral, selain respons emosional lain yang lebih umum diteliti seperti rasa takut atau cemas. Penelitian kuantitatif korelasional ini bertujuan mengetahui hubungan antara pengalaman pelecehan seksual siber melalui avatar Roblox dengan tingkat rasa jijik pada 300 dewasa awal (18–25 tahun) yang direkrut melalui teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan adaptasi Online Sexual Harassment Scale (ω = ,95) dan Three Domain Disgust Scale, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Spearman Rank. Hasil menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan, lemah, dan berarah negatif antara pengalaman pelecehan seksual siber dengan tingkat rasa jijik (ρ = -0,365, p < 0,001), yang dikonfirmasi oleh uji Chi-Square (χ²(1) = 6,231, p = 0,013), serta konsisten pada ketiga domain rasa jijik (pathogen, seksual, moral). Semakin tinggi pengalaman pelecehan, semakin rendah sensitivitas rasa jijik yang dilaporkan, mengindikasikan kemungkinan terjadinya normalisasi emosional. Temuan ini menegaskan pentingnya kesadaran pengguna terhadap risiko menurunnya sensitivitas emosional akibat paparan pelecehan seksual daring.
Studi Kontribusi Proactive Personality terhadap Employee Voice Behavior Adinda Lavina Khansa; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 821-828
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24089

Abstract

Abstract. Rapid changes in the world of work require employees to actively convey ideas, suggestions, and concerns related to their work, known as employee voice behavior (EVB), comprising promotive voice and prohibitive voice. Proactive personality is expected to encourage this behavior among employees of information technology companies. This study examined the contribution of proactive personality to EVB among employees of information technology companies in Bandung City. This study used a non-experimental quantitative approach with a correlational (cross-sectional) design involving 116 employees, selected through convenience sampling. Data were analyzed using simple linear regression separately for each EVB dimension. Results showed that proactive personality contributed positively and significantly to promotive voice (R² = 0.495; t = 10.563; p < .001) and prohibitive voice (R² = 0.478; t = 10.226; p < .001), indicating that employees with higher proactive personality tend to be more active in proposing improvements as well as raising concerns about potential work-related problems. It is concluded that proactive personality is a consistent predictor of both voice dimensions. Abstrak. Dinamika dunia kerja menuntut karyawan untuk aktif menyampaikan ide, saran, maupun kekhawatiran terkait pekerjaan, dikenal sebagai employee voice behavior (EVB), mencakup promotive voice dan prohibitive voice. Proactive personality diperkirakan mendorong munculnya perilaku ini pada karyawan perusahaan teknologi informasi. Penelitian ini menguji kontribusi proactive personality terhadap EVB pada karyawan perusahaan teknologi informasi di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional (cross-sectional) pada 116 karyawan, dipilih melalui convenience sampling. Data dianalisis dengan regresi linear sederhana secara terpisah pada tiap dimensi EVB. Hasil menunjukkan proactive personality berkontribusi positif dan signifikan terhadap promotive voice (R² = 0,495; t = 10,563; p < 0,001) dan prohibitive voice (R² = 0,478; t = 10,226; p < 0,001), mengindikasikan karyawan yang lebih proaktif cenderung lebih aktif menyampaikan usulan perbaikan maupun kekhawatiran atas potensi masalah kerja. Disimpulkan bahwa proactive personality merupakan prediktor yang konsisten bagi kedua dimensi voice.
Studi Kontribusi Work Life Balance terhadap Quiet Quitting pada Karyawan Perbankan Talitha Karida Sugara; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 829-836
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24090

Abstract

Abstract. The phenomenon of “quiet quitting” has garnered increasing attention since the COVID-19 pandemic, in line with changing work patterns and rapid industrial transformation. This phenomenon has emerged as a result of various workplace demands, such as heavy workloads, stress, and anxiety. This study aims to analyze the contribution of work-life balance to quiet quitting among banking employees in Bandung. The study employs a quantitative approach with a cross-sectional correlational design involving 136 banking employees selected using convenience sampling. The research instruments consisted of the work-life balance scale developed by Fisher et al. (2009) and adapted by Gunawan (2019), as well as the Quiet Quitting Scale by Galanis et al. (2023), adapted by Sejati et al. (2025). Data were analyzed using multiple linear regression with the aid of SPSS. The results indicate that the majority of respondents exhibited low work-life balance and high levels of quiet quitting. Work-life balance accounted for 37.6% of the variance in quiet quitting (R² = 0.376) and had a significant simultaneous effect (p < 0.001). Partially, the WIPL and PLIW dimensions had a significant positive effect on quiet quitting; WEPL had no significant effect; while PLEW had a significant negative effect with the largest beta coefficient (β = -0.360), indicating that the greater the positive influence of personal life on work, the lower the tendency toward quiet quitting. These findings suggest that improving work-life balance particularly through support for employees personal lives has the potential to reduce the tendency toward quiet quitting among banking employees in Bandung Abstrak. Fenomena quiet quitting semakin mendapat perhatian setelah pandemi Covid-19 seiring perubahan pola kerja dan pesatnya transformasi industri. Kondisi ini berkembang akibat berbagai tuntutan kerja, seperti beban kerja, stres, dan kecemasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi work life balance terhadap quiet quitting pada karyawan perbankan di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional cross-sectional terhadap 136 karyawan perbankan yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Instrumen penelitian berupa skala work life balance yang dikembangkan Fisher et al. (2009) dan diadaptasi oleh Gunawan (2019), serta Quiet Quitting Scale dari Galanis et al. (2023) yang diadaptasi oleh Sejati et al. (2025). Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki work life balance rendah dan quiet quitting tinggi. Work life balance berkontribusi sebesar 37,6% terhadap quiet quitting (R² = 0,376) dan berpengaruh signifikan secara simultan (p < 0,001). Secara parsial, dimensi WIPL dan PLIW berpengaruh positif signifikan terhadap quiet quitting, WEPL tidak berpengaruh signifikan, sedangkan PLEW berpengaruh negatif signifikan dengan koefisien beta terbesar (β = -0,360), yang menunjukkan bahwa semakin besar pengaruh positif kehidupan pribadi terhadap pekerjaan, semakin rendah kecenderungan quiet quitting. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan work life balance, terutama melalui dukungan kehidupan pribadi, berpotensi menurunkan kecenderungan quiet quitting pada karyawan perbankan di Kota Bandung.
Quarter Life Crisis pada Mahasiswa: Kajian Literatur Faktor Protektif dan Risiko Luzhain Syafyra; Andhita Nurul Khasanah
Bandung Conference Series: Psychology Science 837-844
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24096

Abstract

Abstract. College students are facing a crucial developmental transition known as emerging adulthood, a phase characterized by intense identity exploration and instability, making them vulnerable to experiencing a quarter-life crisis. Although quarter-life crisis is often described as stressful experience, it does not always lead to psychological suffering. Some individuals are able to navigate it with self-acceptance, while others experience a prolonged crisis that disrupts daily activities. This literature review aims to examine psychological factors that act as protective factors that help individuals navigate quarter-life crisis more adaptively, as well as the risk factors that can exacerbate the experience. Using a literature review approach, literature search was conducted through academic databases using relevant keywords. The results indicate that personal growth initiative, self-compassion, psychological well-being, and social support act as protective factors that increase tolerance for uncertainty, strengthen self-acceptance, and provide the psychological stability necessary to face a quarter-life crisis. Conversely, family pressure, a tendency to do social comparison, and intolerance of uncertainty were found to exacerbate the crisis by increasing feelings of inferiority and avoiding challenges necessary for personal growth. These findings suggest that quarter-life crisis is not a uniform experience but rather the result of interactions between protective and risk factors. Abstrak. Mahasiswa tengah menghadapi transisi perkembangan penting yang dikenal dengan istilah emerging adulthood yaitu fase yang ditandai dengan eksplorasi identitas dan ketidakstabilan tinggi yang membuat mahasiswa rentan mengalami quarter life crisis. Meskipun quarter life crisis seringkali digambarkan sebagai pengalaman yang selalu menekan, fenomena ini tidak selalu berujung pada penderitaan psikologis. Sebagian individu mampu menjalaninya dengan penerimaan diri sementara sebagian lainnya mengalami krisis berkepanjangan yang menganggu aktivitas sehari-hari. Kajian literatur ini bertujuan untuk menelaah faktor-faktor psikologis yang berperan sebagai faktor pelindung yang membantu individu menjalani quarter life crisis secara lebih adaptif, serta faktor risiko yang dapat memperparah pengalaman quarter life crisis. Dengan menggunakan pendekatan literature review, Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data akademik menggunakan kata kunci yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa personal growth initiative, self-compassion, psychological well-being, dan dukungan sosial berperan sebagai faktor pelindung yang meningkatkan toleransi terhadap ketidakpastian, memperkuat penerimaan diri, serta memberikan stabilitas psikologis yang diperlukan untuk menghadapi quarter life crisis. Sebaliknya tekanan keluarga, kecenderungan untuk melakukan perbandingan sosial, dan intolerance of uncertainity ditemukan dapat memperburuk krisis dengan meningkatkan perasaan rendah diri dan penghindaran terhadap tantangan yang diperlukan untuk perkembangan diri. Temuan ini menunjukkan bahwa quarter life crisis bukan pengalaman yang seragam melainkan hasil interkasi antar faktor pelindung dan risiko.
Hubungan Self-Compassion dan Efikasi Diri Akademik pada Mahasiswa Kedokteran Raniandra Nurhanifa Ahmad; Dewi Rosiana; Tia Inayatillah
Bandung Conference Series: Psychology Science 853-860
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24101

Abstract

Abstract. Medical students face substantial academic demands throughout their education, alongside the rapid advancement of digital technology. These conditions may increase the risk of academic challenges, making self-compassion and academic self-efficacy important psychological factors. This study aimed to examine the direction and strength of the relationship between self-compassion and academic self-efficacy among medical students. A quantitative approach with cross-sectional correlational design was employed. The participants consisted od 391 medical students recruited using convenience sampling. Data were collected using Self-Compassion Scale (Neff, 2003), adapted by Sugianto et al. (2020), and The Academic Self-Efficacy Scale (Sigone & Caroli, 2014), adapted by Darmayanti et al. (2021). The result revealed a significant positive correlation of moderate strength between self-compassion and academic self-efficacy (r= 0.471. p < .001). Students with higher self-compassion tended to report higher academic self-efficacy. These findings are expected to contribute to the development of research on psychological factors that support medical students in coping with academic demands in the digital era. Abstrak. Mahasiswa kedokteran menghadapi tuntutan akademik yang tinggi selama masa pendidikan, disertai perkembangan teknologi yang semakin pesat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya hambatan akademik, sehingga self-compassion dan efikasi diri akademik menjadi faktor psikologis yang penting. Penelitian ini bertujuan mengetahui arah dan kekuatan hubungan antara self-compassion dan efikasi diri akademik pada mahasiswa kedokteran di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasi cross-sectional. Partisipan berjumlah 391 mahasiswa kedokteran yang diperoleh melalui convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Self-Compassion Scale (Neff, 2003) yang diadaptasi oleh Sugianto et al. (2020) dan The Academic Self-Efficacy Scale (Sigone & Caroli, 2014) yang diadaptasi oleh Darmayanti et al. (2021). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan dengan kekuatan sedang antara self-compassion dan efikasi diri akademik (r= 0.471. p < .001). Mahasiswa dengan self-compassion yang lebih tinggi cenderung memiliki efikasi diri akademik yang lebih tinggi. Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam pengembangan kajian mengenai faktor psikologis yang mendukung mahasiswa kedokteran menghadapi tuntutan akademik di era digital.
Pengaruh Work Family Conflict terhadap Turnover Intention pada Guru SMP Swasta Annisa Maharani; Anna Rozana
Bandung Conference Series: Psychology Science 861-868
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24102

Abstract

Abstract. Teachers in private junior high schools who are married and have children perform simultaneous roles as educators and family members, creating the possibility of work-family conflict and Turnover intention. This study aimed to examine the effect of work-family conflict on Turnover intention among private junior high school teachers in Lembang District. The study used a quantitative causal design. Participants were 95 private junior high school teachers who were married, had children aged up to 21 years, had at least one year of work experience, and worked in junior high schools in Lembang District. Data were collected through questionnaires using the Work-family conflict Scale developed by Carlson et al. (2000) and adapted by Kuntari (2018), and a Turnover intention scale based on Mobley et al. (1978) adapted by the researcher. Data were analyzed using multiple linear regression. The results showed that work-family conflict was in the moderate category (54.7%), while Turnover intention was also in the moderate category (55.8%). Work interference with family (WIF) and family interference with work (FIW) jointly had a significant positive effect on Turnover intention (F = 154.893; p < .001), with an adjusted R² of .766. Thus, work-family conflict explained 76.6% of the variation in Turnover intention, while the remaining 23.4% was explained by other factors. Abstrak. Guru SMP swasta yang telah menikah dan memiliki anak menjalankan peran sebagai pendidik sekaligus anggota keluarga sehingga berpotensi mengalami konflik antara tuntutan pekerjaan dan keluarga. Konflik tersebut dapat berkembang menjadi keinginan untuk meninggalkan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh work-family conflict terhadap Turnover intention pada guru SMP swasta di Kecamatan Lembang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Responden berjumlah 95 guru SMP swasta yang telah menikah, memiliki anak hingga usia 21 tahun, memiliki masa kerja minimal satu tahun, dan bekerja di Kecamatan Lembang. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Work-family conflict Scale Carlson et al. (2000) yang telah diadaptasi oleh Kuntari (2018), serta skala Turnover intention berdasarkan Mobley et al. (1978) yang diadaptasi oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan work-family conflict berada pada kategori sedang (54,7%), sedangkan Turnover intention juga berada pada kategori sedang (55,8%). Secara simultan, work interference with family (WIF) dan family interference with work (FIW) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Turnover intention (F = 154,893; p < 0,001), dengan adjusted R² sebesar 0,766. Artinya, work-family conflict menjelaskan 76,6% variasi Turnover intention, sedangkan 23,4% sisanya dijelaskan oleh faktor lain.
Studi Kontribusi Job Crafting terhadap Meaningful Work pada Pegawai Administrasi Publik Ferlitha Amalia; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 869-876
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24105

Abstract

Abstract. Public administration employees work in a structured environment that is oriented toward public service; thus, job crafting has become one of the strategies employees use to shape a meaningful work experience. This study aims to examine the characteristics of job crafting and meaningful work and to analyze the contribution of job crafting dimensions to meaningful work among public administration employees in Sukabumi City. The study employed a quantitative approach with a cross-sectional design and involved 110 public administration employees in Sukabumi City. Data were collected using the Job Crafting Scale (JCS) by Tims et al. (2012) and the Work and Meaning Inventory (WAMI) by Steger et al. (2012), which had been adapted by Fajri et al. (2023), and were subsequently analyzed using multiple linear regression. The results indicate that job crafting and meaningful work fall into the high category, with the “Increasing Social Job Resources” dimension being the highest-scoring job crafting dimension. The research model explains 44.8% of the variation in meaningful work (R² = 0.448). Therefore, the higher the level of job crafting performed by employees, the higher the level of meaningful work they experience in their jobs. Abstrak. Pegawai administrasi publik bekerja dalam lingkungan yang terstruktur dan berorientasi pada pelayanan masyarakat, sehingga job crafting menjadi salah satu upaya pegawai dalam membentuk pengalaman kerja yang bermakna (meaningful work). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran job crafting dan meaningful work serta menganalisis kontribusi dimensi-dimensi job crafting terhadap meaningful work pada pegawai administrasi publik di Kota Sukabumi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 110 pegawai administrasi publik di Kota Sukabumi. Data dikumpulkan menggunakan Job Crafting Scale (JCS) dari Tims et al. (2012) dan Work and Meaning Inventory (WAMI) dari Steger et al. (2012) yang telah diadaptasi oleh Fajri et al. (2023), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa job crafting dan meaningful work berada pada kategori tinggi, dengan dimensi Increasing Social Job Resources sebagai dimensi job crafting tertinggi. Model penelitian menjelaskan 44,8% variasi meaningful work (R² = 0,448). Dengan demikian, semakin tinggi job crafting yang dilakukan pegawai, semakin tinggi pula meaningful work yang dirasakan dalam pekerjaannya.
Pengaruh Persepsi Konflik Orang Tua terhadap Fear of Marriage pada Perempuan Nadia Firani Lulu Azmi; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science 877-886
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24107

Abstract

Abstract. Fear of marriage refers to persistent fear, anxiety, doubt, or discomfort when individuals consider marriage as a long-term commitment. Experiences in the family of origin, particularly how interparental conflict is remembered and interpreted, may shape expectations regarding marital stability. This study examined the effect of perceived interparental conflict on fear of marriage among early adult women in Bandung. A quantitative, non-experimental cross-sectional design was used. Participants were 161 unmarried women aged 21-29 years who lived in Bandung, had witnessed interparental conflict, and were recruited through convenience sampling with screening questions. Data were collected using the 8-item Perceptions of Interparental Conflict-Short Form and the 20-item Gamophobia Scale. The Indonesian adaptations showed good internal consistency (Cronbach's alpha = .872 and .940, respectively). Simple linear regression indicated that perceived interparental conflict had a positive and significant effect on fear of marriage (B = 1.143, t = 13.657, p < .001). The model explained 54.0% of the variance in fear of marriage (R² = .540). Thus, stronger perceived exposure to frequent, angry, and dysfunctional interparental conflict was associated with higher fear of marriage. These findings underline the relevance of family-of-origin experiences when understanding concerns about long-term marital commitment. Abstrak. Fear of marriage merupakan rasa takut, cemas, ragu, atau tidak nyaman yang menetap ketika individu mempertimbangkan pernikahan sebagai komitmen jangka panjang. Pengalaman dalam keluarga asal, khususnya cara konflik orang tua diingat dan dimaknai, dapat membentuk ekspektasi mengenai kestabilan pernikahan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh persepsi konflik orang tua terhadap fear of marriage pada perempuan dewasa awal di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain non-eksperimental cross-sectional. Responden berjumlah 161 perempuan belum menikah berusia 21-29 tahun, berdomisili di Kota Bandung, pernah menyaksikan konflik orang tua, dan diperoleh melalui convenience sampling dengan pertanyaan penyaring. Data dikumpulkan menggunakan Perceptions of Interparental Conflict-Short Form yang terdiri atas 8 item dan Gamophobia Scale yang terdiri atas 20 item. Adaptasi Bahasa Indonesia menunjukkan reliabilitas yang baik dengan Cronbach's alpha masing-masing sebesar 0,872 dan 0,940. Analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa persepsi konflik orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap fear of marriage (B = 1,143; t = 13,657; p < 0,001). Model menjelaskan 54,0% variasi fear of marriage (R² = 0,540). Artinya, semakin tinggi paparan konflik orang tua yang dipersepsikan sering, penuh kemarahan, dan disfungsional, semakin tinggi fear of marriage. Temuan ini menegaskan pentingnya pengalaman keluarga asal dalam memahami kekhawatiran terhadap komitmen pernikahan jangka panjang.