p-Index From 2021 - 2026
9.337
P-Index
This Author published in this journals
All Journal E-Journal of Tourism Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Jurnal Master Pariwisata (JUMPA) Jurnal Hubungan Internasional JUSS (Jurnal Sosial Soedirman) Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Jurnal Bina Praja Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial WIDYABHAKTI Jurnal Ilmiah Populer Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Jurnal Inovasi Ilmu Sosial dan Politik Tourism Scientific Journal Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Jurnal Abdi Insani Bakti Cendana: Jurnal Pengabdian Masyarakat Prosiding Conference on Research and Community Services Nusantara Science and Technology Proceedings Global and Policy Journal of International Relations Jurnal Bisnis Indonesia Jurnal Pewarta Indonesia Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Tulisan Ilmiah Pariwisata (TULIP) Jurnal Kajian Pariwisata KARYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Pengabdian Multidisiplin Indonesian Community Journal Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Global Focus Sewagati: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia INCOME: Indonesian Journal of Community Service and Engagement Jurnal Adijaya Multidisiplin Jurnal Informasi Pengabdian Masyarakat Masip: Jurnal Manajemen Administrasi Bisnis dan Publik Terapan JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Journal of Community Service (JCOS) JOSAR (Journal of Students Academic Research) Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional Fajar Barista : Jurnal Kajian Bahasa dan Pariwisata Karunia: Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat Indonesia RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal SIYAR (Social Issues by Academic Researhers) Journal Pesona Pariwisata Inspirasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Kreativasi: Journal of Community Empowerment
Claim Missing Document
Check
Articles

Tantangan Pembentukan Identitas Kampung Besek dan Pemberdayaan Perempuan di Desa Tegaren Joko Mijiarto; Wahyuni Wahyuni; Praja Firdaus Nuryananda; W.K. Faizin Ahzani
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Vol 13, No 1 (2022): Jurnal Khasanah Ilmu - Maret 2022
Publisher : Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.495 KB) | DOI: 10.31294/khi.v13i1.11405

Abstract

Desa Tegaren yang terletak di Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, memiliki potensi tinggi untuk menjadi destinasi pariwisata baru di Jawa Timur. Sebagai salah satu kawasan penyangga wisata daerah kabupaten, Desa Tagaren memiliki kawasan embung yang terletak di dataran tinggi. Kekayaan alam ini semakin memberikan nuansa pariwisata di Tegaren. Potensi lainnya adalah kekayaan budaya masyarakat Tegaren yang mana hampir 95% dari penduduk di Tegaren memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengrajin besek bambu. Kebudayaan kerajinan besek bambu ini merupakan warisan dari para sepuh di desa tersebut. Penelitian yang kami lakukan menggunakan pendekatan community based tourism (CBT) dan asset-based community development (ABCD). Penelitian yang kami lakukan di Desa Tegaren berusaha menelaah peran perempuan di Desa Tegaren yang meningkatkan keberdayaannya melalui usaha kerajinan besek bambu. Penelitian ini menggunakan metode observasi partisipatif yang kami lakukan selama kurang lebih dua tahun berjalan. Hasil kajian yang kami kembangkan dari penelitian ini mendapati bahwa keinginan untuk membentuk sebuah konsep desa wisata di Desa Tegaren juga mendapat dukungan dan partisipasi besar dari para penduduk perempuan di desa. Tiga temuan dari penelitian ini adalah terdapat tiga tantangan dalam pembentukan identitas kampung besek berdasarkan peran perempuan di Tegaren, yakni posisi sosio-kultural perempuan yang masih belum memiliki rekognisi sosial di masyarakat, ketimpangan harga beli dan harga jual, serta adanya potensi penurunan minat terhadap kerajinan besek oleh generasi muda.
Besek Tegaren: ABCD, CBT, dan Glokalisasi dalam Satu Kemasan Herlina Suksmawati; Megahnanda Alidyan; Roziana Febrianita; Praja Firdaus Nuryananda
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 2, No 1 (2021): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v2i1.29848

Abstract

Desa Tegaren adalah salah satu desa di Kabupaten Trenggalek yang diarahkan untuk mengembangkan kepariwisataannya. Desa Tegaren sendiri menyimpan potensi yang besar dalam hal eduwisata. Atraksi eduwisata yang paling utama adalah besek (proses pembuatan besek). Hampir 100% penduduk perempuan di Desa Tegaren memiliki pekerjaan tambahan sebagai pengrajin besek. Oleh karena itu, besek telah membentuk ekosistem dan sendi-sendi kehidupan di Desa Tegaren. Dengan menggunakan pendekatan ABCD dan CBT, tim pengabdian masyarakat membantu masyarakat Desa Tegaren dalam pengembangan eduwisata di desa mereka. ABCD dan CBT digunakan sebagai pendekatan yang lebih mengutamakan masyarakat lokal, sehingga dua pendekatan ini mampu meminimalisir permasalahan konflik horizontal yang terjadi antar pemangku kepentingan. Dalam pelaksanaan kegiatan, tim pengabdian masyarakat juga berhasil mengartikulasikan konsep glokalisasi sebagai salah satu konsep yang digunakan untuk menambah nilai global dari komoditas besek. Hal ini tercermin dari adanya program Bekurban yang diadakan untuk menjadi reaksi lokal atas permasalahan global sampah plastik di laut. Dengan masuknya norma global dalam besek, maka eduwisata di Desa Tegaren berpotensi tidak hanya mewujud sebagai eduwisata lokal, tapi juga bisa mewujud sebagai eduwisata global.
Recreation Opportunity Spectrum Analysis of Strategic Area Tourism Destination Pelang Region Herlina Suksmawati; Leily Suci Rahmatin; Praja Firdaus
E-Journal of Tourism Volume 8 Number 2 (September 2021)
Publisher : Centre of Excellence in Tourism Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24922/eot.v8i2.77562

Abstract

Tourism planning and development should be adjusted based on regional characteristics and applicable policies, but over time, tourism planning often pays less attention to the carrying capacity of the region. So there is a need for an analytical study of tourism planning that is tailored to the characteristics of the region to create sustainable tourism. This research was conducted at the Pelang Regional Tourism Destination, Trenggalek Regency using Recreation Opportunity Spectrum Analysis and the concept of Attractions, Amenities, Access, Ancillary to see tourism potential. The research methodology used is Qualitative Description with the methods of collecting observation data, documentation studies and in-depth interviews. Tourism development in the Pelang Regional Tourism Destinations based on regional tourism development planning is included in the concept of natural tourism development with collaborative management between stakeholders, but in the current development implementation when viewed from the Recreation Opportunity Spectrum analysis there is no clear management system and the Pelang Tourism Destinations are classified as the characteristics of semi-primitive areas have not paid attention to aspects of appropriate land use functions, especially in the development of tourism supporting infrastructure.
Bamboonomic: Ekonomi Bambu Pendukung Desa Wisata Tegaren Jojok Dwiridhotjahjono; Prihandono Wibowo; Praja Firdaus Nuryananda
JURNAL MASTER PARIWISATA Volume 06, Nomor 02, Januari 2020
Publisher : Magister Tourism Study, Faculty of Tourism, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JUMPA.2020.v06.i02.p01

Abstract

Tegaren village is the biggest besek producer in Trenggalek, East Java. In collaboration with UPN "Veteran" of East Java, the people of Tegaren then developed an educational tourism that made besek as the main tourist attraction. Using the asset based community development (ABCD) method, leadership, and tourist gaze 3.0, the research team sought to make a scientific contribution to the development of the Tegaren’s tourism. After proceeding for one year, Tegaren’s people, especially women who made besek, began to feel the impact of improving the quality of life by the existence of a tourism village. There are three scientific arguments why besek, or bamboo, is used as the backbone of the development of the Tegaren’s tourism and later we call it as bamboonomic, namely 1) bamboo and besek have long been one of the heart of Tegaren’s life, 2) the tourism which was built based on natural assets and cultural assets creates ways of feeling as conceived in tourist gaze 3.0, and 3) this tourism is able to bring up and come up with leadership that brings Tegaren more advanced and prosperous. Keywords: besek, asset based community development, tourism, village, bamboo
APLIKASI MODEL ENAM BINA PADA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN NELAYAN DESA TASIKMADU, TRENGGALEK Budi Prabowo; Didiek Tranggono; Praja Firdaus Nuryananda
Prosiding Conference on Research and Community Services Vol 1, No 1 (2019): Prosiding Conference on Research and Community Services)
Publisher : STKIP PGRI Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesisir merupakan kawasanyang identik dengan kondisi kumuh dan masyarakat yang masih sangat tergantung dengan sistem kerja patriarki. Sehingga standar kehidupan banyak petani laut/nelayan berada di skala menengah ke bawah.Oleh karena itu, karya tulis ini memberikan deskripsi konseptual maupun praktikal untuk sebuah model pemberdayaan perempuan nelayan berbasiskan potensi lokal, yakni model enam bina. Pemberdayaan model enam bina merupakan hasil dari penelitian selama dua tahun dengan obyek penelitian masyarakat pesisir di Kabupaten Sidoarjo (daerah pantai utara/pantura) dan Kabupaten Trenggalek (daerah pantai selatan/pansela). Model ini memiliki tiga tahapan, yakni look-think-act. Dengan tahapan tersebut, pelaksanaan pemberdayaan kemudian berfokus pada enam aspek, yakni bina sumber daya alam, bina sumber daya manusia, bina lembaga, bina program, bina usaha, dan bina lingkungan. Karya tulis ini akan memaparkan aplikasi dari model enam bina pada masyarakat pesisir desa Tasikmadu, Kabupaten Trenggalek, sekaligus menjadi pemutakhiran dari penelitian yang dilaksanakan sebelumnya. Kegiatan pemberdayaan melalui model enam bina di Desa Tasikmadu dilaksanakan dengan pemberian penyuluhan dan pelatihan produksi bakso ikan. Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian satu buah alat cetak bakso ikan kepada Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sumber Rejeki dan Sumber Barokah dengan harapan akan mempermudah perputaran ekonomi masyarakat. Dengan rangkaian kegiatan tersebut, maka sudah terlaksanakan bina sumber daya alam, bina sumber daya manusia, dan bina lembaga. Adapun bina usaha, bina program, dan bina lingkungan masih akan menjadi agenda pengabdian kepada masyarakat pada pendampingan selanjutnya. Hasil dari pemberdayaan model enam bina ini menjadi krusial bagi para perempuan nelayan, karena pemberdayaan ini dapat melepaskan ketergantungan pada sistem kehidupan ekonomi yang patriarki.
DIALOG GLOBALISASI DAN IDENTITAS: STUDI KASUS FESTIVAL BANCAKAN SALAK DI JOMBANG Herlina Suksmawati; Dias Pabyantara; Praja Firdaus Nuryananda
Prosiding Conference on Research and Community Services Vol 1, No 1 (2019): Prosiding Conference on Research and Community Services)
Publisher : STKIP PGRI Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidak bisa dipungkiri bahwa globalisasi merupakan exogenous driving force akan banyak perubahan sosial dan politik selama beberapa dekade terakhir. Sebuah fenomena sosial politik yang semakin kentara dalam perkembangan ini adalah tercerabutnya identitas sebuah entitas sosial politik, termasuk masyarakat yang ada di Indonesia. Dengan angka penetrasi internet yang semakin tinggi, tercerabutnya budaya ini terasa sampai ke daerah. Namun, bukan berarti kearifan lokal masyarakat Indonesia hilang begitu saja. Bancakan Salak adalah salah satu budaya kontemporer yang berusaha untuk mempertahankan unsur-unsur kearifan lokal. Kata “bancakan” sendiri bermakna sebagai “bentuk rasa syukur” dengan menggelar makan bersama. Salak, pada sisi yang lain, adalah komoditas perkebunan utama di Dusun Pengajaran, Desa Galengdowo, Kec. Wonosalam, Jombang. Bancakan Salak menjadi sangat menarik untuk diteliti jika dikaitkan dengan tergerusnya budaya karena globalisasi. Maka, penelitian ini mencari tahu seluk beluk perjuangan pemerintah desa Galengdowo untuk tetap melestarikan budaya dan kearifan lokal yang ada di tengah pusaran globalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mix method). Adapun instrumen penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data primer maupun sekunder adalah wawancara, observasi, dan kuisioner. Dengan tiga instrumen tersebut, diharapkan tim peneliti mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana sejarah Bancakan Salak dan mengapa tradisi Bancakan Salak dibuat lagi oleh pemerintah desa Galengdowo.
BAMBOONOMICS: UPAYA MENINGKATKAN KAPASITAS EKONOMI DESA TEGAREN MELALUI KERAJINAN BAMBU Jojok Diwridhotjahjono; Prihandono Wibowo; Praja Firdaus N
Prosiding Conference on Research and Community Services Vol 1, No 1 (2019): Prosiding Conference on Research and Community Services)
Publisher : STKIP PGRI Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tegaren merupakan sebuah desa di Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek yang memiliki predikat sebagai desa dengan produksi besek paling tinggi di Kabupaten Trenggalek. Besek sendiri adalah semacam media (tempat) untuk menaruh makanan atau barang lainnya. Besek terbuat dari bambu yang kemudian dianyam. Kerajinan besek ini merupakan penopang hidup hampir semua penduduk perempuan di Desa Tegaren. Namun, permasalahan muncul ketika besek tidak memberikan penghasilan yang cukup besar bagi para perempuan di Desa Tegaren. Dengan memberikan pelatihan dan wawasan yang lebih bagi warga Desa Tegaren, khususnya penduduk perempuan, maka diharapkan akan ada peningkatan kapasitas ekonomi desa yang semakin meninggi. Metode pelaksanaan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini melalui studi banding, pelatihan, sekaligus memberikan pendampingan kepada warga Desa Tegaren untuk terus meningkatkan kapasitas ekonomi mereka melalui komoditas anyaman bambu. Sebagai obyek studi banding dipilihlah sentra kerajinan bambu Bambu Indah yang terletak di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek. Posisi kedua desa yang masih satu wilayah kabupaten sebenarnya memudahkan Desa Tegaren untuk bisa terus melakukan kunjungan. Pada saat dilakukan studi banding, diperolehlah tiga hasil kesepakatan antara pemerintah Desa Tegaren dengan sentra Bambu Indah, yakni 1) Desa Tegaren akan mengirimkan dua-tiga orang pengrajin untuk melakukan pelatihan anyaman bambu secara intensif, 2) akan dikirimkan dua produk “kursi malas” ke Desa Tegaren sebagai bahan pembelajaran pengembangan produk komoditas bambu, dan 3) sentra Bambu Indah setuju untuk memberdayakan sumber daya manusia Desa Tegaren jika ada pemesanan besek dan pincuk. Program pendampingan ini akan terus berlanjut sebagaimana Desa Tegaren telah menjadi salah satu desa binaan UPN “Veteran” Jawa Timur.
Society Empowerment Using Assistance 6 in Tasikmadu with Bakso Ikan Budi Prabowo; Didiek Tranggono; Praja Firdaus Nuryananda
Nusantara Science and Technology Proceedings 4th International Seminar of Research Month
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/nstp.2019.0426

Abstract

This paper provides conceptual and practical descriptions for a model of empowering women fishermen based on local potential. The model is called the six-model model. The six developments model is the result of two years of research with objects of coastal community research in Sidoarjo Regency and Trenggalek Regency. This model has three stages, namely look-think-act. With this stage, the implementation of empowerment then focuses on six aspects, namely natural resource development, human resource development, institutional development, program development, business development, and environmental development. This paper will explain the application of the six communit development model in the coastal community of Tasikmadu village, Trenggalek Regency, as well as updating the previous research by utilizing the commodity of Bakso Ikan. Empowerment activities through the six development model in Tasikmadu Village were carried out by providing counseling and training on fish meatball production. After that, it was continued with the provision of a piece of fishball molding equipment to the Joint Business Group (KUB) Sumber Rejeki and Sumber Barokah in the hope that it would facilitate community economic turnover. With this series of activities, natural resource development, human resource development, and institutional development have been carried out. The business development, program development, and environmental development will still be the agenda of community service in the next assistance.
Riding Globalization: Bancak Salak and The Remaining Identity Herlinda Suksmawati; Dias Pabyantara; Praja Firdaus Nuryananda
Nusantara Science and Technology Proceedings 4th International Seminar of Research Month
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/nstp.2019.0427

Abstract

Globalization is believed to be the exogenous driving force that has changed many social and political changes in the last few decades. Deprived of the identity of a socio-political entity, including the people in Indonesia, is a socio-political phenomenon that has become increasingly apparent in recent developments. Supported by increasingly high internet penetration rates, this uprooted culture is even felt in rural areas. But, that does not mean that the local wisdom of Indonesian people can then be lost. Bancakan Salak is one of the cultures of Indonesian people who retain elements of local wisdom. The word "bancakan" itself means "form of gratitude" and is manifested in the form of holding a meal together. While salak is the main plantation commodity in the Galengdowo village, Wonosalam district, Jombang. Bancakan Salak becomes interesting to study when it is associated with the loss of local culture due to globalization. Therefore, this study looks at the efforts of the Galengdowo village government to preserve the culture and local wisdom in the village. This study uses a mixed approach (mixed method). The research instruments used were interviews, observation, and questionnaires to obtain primary and secondary data. With these three instruments, it is hoped that the research team will get a clear picture of the history of the Bancakan Salak and why the Bancakan Salak tradition was remade by the Galengdowo village government.
ABCD Model Implemented to Underdeveloped Villages in Trenggalek Regency Didiek Tranggono; Praja Firdaus Nuryananda; Andre Yusuf Trisna Putra
Nusantara Science and Technology Proceedings 4th International Seminar of Research Month
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/nstp.2019.0431

Abstract

Trenggalek Regency is an area located in the southern part of East Java Province. Due to its geographical position in the south and the lack of transportation facilities, Trenggalek Regency is a developing area with relatively slow progress. There are also still many underdeveloped villages. This research will discuss three underdeveloped or developing villages in Trenggalek. Tegaren village was once a village with IDT status (Inpres Desa Tertinggal), the consequence of which was often to get assistance from the government. Meanwhile, Winong Village is a village that is also included in a backward village. Tasikmadu village in Watulimo District is a prototype of a coastal village that is still classified as being left behind even though it is located in a tourist area. The research we have done is an implementation of the ABCD (Asset Based Community Development) model by Christopher Dureau that focuses on asset utilization. For the implementation of the ABCD method, this research uses a mixed method with interviews, observations, and questionnaires. This research will focus on community development and empowerment in underdeveloped villages of Trenggalek Regency by focusing on village assets. The problem that then arises is that both Tasikmadu, Winong, and Tegaren Villages are typical villages that do not yet have or have not maximized the village assets they have. A preliminary finding by the research team is that the empowerment of underdeveloped rural communities is strongly supported by a strong level of education and institutional leadership system.
Co-Authors ., Trisfani A. Muammar Alawi A. Muammar Alawi Abdul Rezha Efrat Najaf Ade Kusuma Ade Kusuma Adnyana, Made Bambang Afghani, Kevin Al Agung Mustika Rizki Al Fitriani, Alisya Qathrunnada Alawi, A. Muammar Alfattama, Lona Chinsia Alfiandi Imam Mawardi Alla, Muhammad Anbiya Fath Amanda Nazhira Firdaus Amelia Hilda Risky Jenny Eden Amin, Mochamad Sahlan Andre Yusuf T. Putra Andre Yusuf Trisna Putra Anggresta, Pujana Anindyah, Sukma Ardiansyah, Muhammad Irfanny Arin Setiyowati Atabuy Frit Elisa Yonce Athaya Aza Nabil Hibrizi Ayu Rikza Bagus Ariz Faishal Berlianty, Evanie Zahra Bilqis, Thufailah Nafiisah Budi Prabowo Budi Prabowo Budi Prabowo Budi Prabowo Budi Prabowo Dava Praya Syafa Kurniawan Devinta Permata A Dias Pabyantara Swandita Mahayasa Didiek Tranggono Didiek Tranggono Djenggala Prasandi Dwi Ari Suryaningrum, Dwi Ari Dwi Wahyuni, Nurul Dwi Wahyuningtyas Eka Elsha Septiyana Elfrida Laras Candrakusuma Eliada Samuel Pasaribu Evi Triandini Evi Triandini Fadilla Ryandini Femy Atha Fredella Firdaus Nuryananda Garsione Agni Andrea Gege, Rendy Hamdan, Arva Rizqullah Handayani, Ruci Hapsari, Renitha Dwi Herlina Sukmawati Herlina Suksmawati Herlina Suksmawati Herlina Suksmawati Herlina Suksmawati Herlina Suksmawati Herlinda Suksmawati Hidayat, Rusdi Hidayat, Rusdi Hilman Hasibur Rohman Hindah Muchtamilatur Rochmah Idhoh Fitriana, Nisa Hafi Imam Taufik Jauharie, Mochamad Jojok Diwridhotjahjono Jojok Dwiridhotjahjono Jojok Dwiridhotjahjono Jojok Dwiridotjahjono Jojok Dwiridotjahjono Joko Mijiarto Joko Mijiarto Joko Mijiarto Joko Mijiarto, Joko Kartika Ramadhani, Savira Kemuning Radhita Cahyani Kusuma, Ade Leily Suci Rahmatin Leily Suci Rahmatin Leily Suci Rahmatin Lestari, Mufida Diah Maulana, Hendra Mawardi, Alfiandi Imam Megahnanda Alidyan Muammar Alawi Mubah, Ahmad Safril Muhammad Dedy Yanuar Mustika, Yesi Rahma Netta Aprillia Andaresta Putri Netta Aprillia Andaresta Putri Noor Rizkiyah Nur Cahyo Wibowo Nur Cahyo Wibowo Pandana, Zacky Alifirano Prabowo, Budi - Prasandi, Djenggala Prasetyo, Erlangga Wahyu Prihandono Wibowo Prihandono Wibowo Prima, Rama Putra Primawardana Probo Darono Yakti Pujana Anggresta Purwadi MP. Ir Putra, Chrystia Aji Rahmatin, Leily Suci Raihan Nur Rafi RASDIYAH, RESA Rasyidah, Resa Renitha Hapsari Renitha Hapsari Rikza, Ayu Risqi Firdaus Setiawan Riva Dika Adhilni Rosita, Putri Aulia Roziana Febrianita Rudiany, Novita Putri Rusdi Hidayat Nugroho Rusmiati, Siti Binik S, Dedik Fitra Septiandini Saskia Putri, Setiawan, Tho’at Setiyowati, Arin Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sukmawati, Herlina Suksmawati, Herlina Suksmawati, Herlina - Tegar Mohamad Arif Wicaksono Tho’at Setiawan Tiska Khoirotun Nisa Tita Ayu Rospricilia Tjahjono, Jojok Dwirido Tri Lathif Mardi Suryanto Tri Lathif Mardi Suryanto Trisna P, Andre Yusuf Trisna, Andre Yusuf Utami, Wulan Anggit W.K. Faizin Ahzani Wahyu Dwi Lestari WAHYUNI Wahyuni Wahyuni Wahyuni Wibowo, Nur Cahyo Wulan Anggit Utami Wulan Anggit Utami Zein, Isynariyah