Permasalahan utama yang dihadapi oleh Kelompok Petani Garam Grinting (KPGG) adalah rendahnya harga jual garam krosok akibat persaingan dan kurangnya diversifikasi produk. Sebagai kontribusi nyata, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) memberikan solusi berupa pelatihan pembuatan garam bata, sebagai upaya inovasi produk olahan garam. Metode kegiatan yang digunakan adalah pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan interaktif, melalui empat tahapan utama: identifikasi masalah awal (pre-test), penyampaian materi (ceramah), demonstrasi praktik pembuatan garam bata, dan evaluasi hasil (post-test). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan dan keterampilan peserta sebesar 50%, dibuktikan dengan kenaikan skor rata-rata post-test menjadi 4,29. Oleh karena itu, direkomendasikan program pendampingan lanjutan yang fokus pada fasilitasi akses pasar dan penguatan manajemen kelembagaan untuk menjamin keberlanjutan usaha.