Claim Missing Document
Check
Articles

Pendidikan Kesehatan Tentang Tablet Tambah Darah dan Anemia pada Ibu Hamil di Kelurahan Manggar Nur Fadilah; Vistra Veftisia
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 2 No. 2 (2023): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia in pregnancy is the condition of a mother with hemoglobin Hb levels ≤ 11 gr/dl in the first and third trimesters or Hb levels <10.5 gr/dl in the second trimester. Basic factors that influence the occurrence of deficiency anemia include knowledge, education, socio-economic and husband's support. Direct factors that influence anemia are compliance with Fe tablet consumption, parity, pregnancy spacing, nutritional status, diet, antenatal care (ANC) infections and maternal age. Lack of knowledge, not complying with taking Fe tablets, not maintaining a diet, and low economic status will have a greater impact on pregnant women experiencing anemia. It is hoped that further education will be maximized regarding the importance of consuming food sources of Fe and Fe tablets as well as knowledge of balanced nutrition guidelines for pregnant women through counseling. Pregnant women and their families are expected to be more proactive in increasing knowledge about anemia and balance this by continuing to consume Fe tablet supplements. Anemia can be caused by various things, including iron deficiency, vitamin B12 deficiency, folic acid deficiency, infectious diseases, congenital factors and bleeding. The need for additional iron during pregnancy is approximately 1000 mg, which is needed for fetal growth, placenta and bleeding during pregnancy. delivery that excretes an average of 250 mg of iron. In addition, pregnant women's iron requirements increase by 25% compared to non-pregnant women. These needs are very difficult to fulfill just from food alone. Therefore, Blood Supplement Tablets (TTD) are needed to prevent and treat iron deficiency anemia. Obstacles that often occur are fulfilling TTD drinking and understanding the benefits of TTD. The role of Health Workers is expected to be able to provide an explanation of the dangers of anemia to pregnant women and the fetus they are carrying, and understand the benefits of consuming TTD. The activity was carried out using the method of providing Health Education about Anemia and Blood Supplement Tablets (TTD) using a two-way discussion method in delivering material with an active participation approach. The data collection instrument is a pretest and posttest questionnaire. It was found that there was an increase in knowledge among pregnant women after the counseling was carried out. It is hoped that this counseling will be a means of conveying information which will later become an effort to prevent and overcome anemia.   Abstrak Anemia pada kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin Hb ≤ 11 gr/dl pada trimester satu dan tiga atau kadar Hb <10,5 gr/dl pada trimester pada trimester dua. Faktor dasar yang mempengaruhi terjadinya anemia  defisiensi besi antara lain pengetahuan, pendidikan, sosial ekonomi dan dukungan suami, faktor langsung yangn mempengaruhi anemia adalah kepatuhan konsumsi tablet Fe, paritas, jarak kehamilan, status gizi, pola makan,infeksi antenatal care (ANC) dan umur ibu. Kurangnya pengetahuan, tidak patuh mengkonsumsi tablet Fe, tidak menjaga pola makan, dan status ekonomi yang rendah akan berpeluang lebih besar mengalami anemia pada ibu hamil. Diharapkan lebih memaksimalkan edukasi terkait pentingnya mengkonsumsi makanan sumber Fe dan tablet Fe serta pengetahuan pedoman gizi seimbang bagi ibu hamil melalui penyuluhan. Ibu hamil dan keluarga diharapkan lebih proaktif dalam meningkatkan pengetahuan mengenai anemia serta diimbangi dengan tetap mengkonsumsi suplemen tablet Fe. Anemia dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain defisiensi zat besi, defisiensi vitamin B12, defisiensi asam folat, penyakit infeksi, faktor bawaan dan perdarahan.Kebutuhan tambahan zat besi selama kehamilannya adalah lebih kurang 1000 mg, yang diperlukan untuk pertumbuhan janin, plasenta dan perdarahan saat persalinan yang mengeluarkan rata-rata 250 mg besi. Selain itu, kebutuhan zat besi pada wanita hamil meningkat 25% dibandingkan wanita yang tidak hamil. Kebutuhan tersebut sangat sulit dipenuhi hanya dari makanan saja. Oleh karena itu, diperlukan Tablet Tambah darah (TTD) untuk mencegah dan menanggulangi anemia gizi besi. Kendala yang sering terjadi adalah kepatuhan minum TTD dan pemahaman manfaat TTD. Peran Tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang bahaya anemia terhadap ibu hamil dan janin yang dikandungnya, dan memahami manfaat konsumsi TTD. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan dengan metode pelaksanaan pemberian Pendidikan Kesehatan tentang Anemia dan Tablet Tambah Darah (TTD) dengan metode two way dicussion dalam penyampaian materi dengan pendekatan partisipasi aktif. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner pretest dan posttest. Didapatkan ada peningkatan pengetahuan pada ibu hamil setelah dilakukan penyuluhan. Penyuluhan ini diharapkan menjadi sarana pemberian informasi yang nantinya menjadi upaya mencegah dan menanggulangi anemia.
Pengaruh Penyuluhan Kesehatan MP ASI terhadap Peningkatan Pengetahuan Ibu Balita di Dusun Gelangan Desa Tlogomulyo Siswati; Vistra Veftisia
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 3 No. 1 (2024): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nutrition is an important component in life. Fulfillment of nutrition does not only focus on the type and amount but must pay attention to the method, quantity, age of babies and toddlers. For babies aged 0-6 months, nutrition can be met with breast milk alone. However, after the age of 6 months, additional nutrition is needed in the form of complementary foods for breast milk (MP ASI), which are foods/drinks with balanced nutrition for toddlers aged 6-24 months. Providing MP-ASI is a gradual process of transitioning intake from breast milk to semi-solid family food in terms of type, quantity, frequency, texture and consistency according to the needs of toddlers. Providing correct MP-ASI affects the child's growth and development process and his intelligence. However, inappropriate MP-ASI will cause problems in children's nutritional status, one of which is malnutrition. A phenomenon that is still often encountered is the mother's lack of understanding in providing appropriate complementary foods. The problem of lack of maternal knowledge affects the growth and development of toddlers. Based on the problems that arise, community service activities are needed to overcome these problems. This activity began with a pre-test related to MP ASI which was attended by 10 mothers of stunted toddlers who then provided material about MP ASI and continued with an evaluation in the form of a post test. From this activity, the result was an increase in the knowledge of mothers of toddlers about MP ASI.   Abstrak Nutrisi merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan. Pemenuhan nutrisi tidak hanya berfokus pada jenis dan jumlahnya saja tetapi harus memperhatikan cara, kuantitas, umur bayi dan balita. Bagi bayi usia 0-6 bulan, nutrisi dapat dipenuhi dengan ASI saja. Namun, setelah usia 6 bulan dibutuhkan gizi tambahan berupa Makanan Pendamping ASI (MP ASI) yang merupakan makanan/ minuman dengan zat gizi seimbang bagi balita usia 6-24 bulan. Pemberian MP-ASI merupakan proses transisi asupan dari ASI menuju makanan keluarga semi padat secara bertahap baik jenis, jumlah, frekuensi, tekstur dan konsistensinya sesuai kebutuhan balita. Pemberian MP-ASI yang benar, berpengaruh pada proses tumbuh kembang anak dan kecerdasannya. Namun, MP-ASI yang tidak sesuai akan menimbulkan masalah dalam status gizi anak salah satunya masalah gizi kurang/ gizi buruk. Fenomena yang masih banyak ditemui adalah kurangnya pemahaman ibu dalam pemberian MP ASI yang tepat. Masalah kurangnya pengetahuan ibu ini mempengaruhi tumbuh kembang balita. Berdasarkan masalah yang muncul, maka diperlukan kegiatan pengabdian masyarakat untuk mengatasi hal tersebut. Kegiatan ini diawali dengan pre test berkaitan dengan MP ASI yang diikuti oleh 10 ibu balita stunted kemudian memberikan materi tentang MP ASI dan dilanjutkan dengan evaluasi berupa post test. Dari kegiatan tersebut didapatkan hasil adanya peningkatan pengetahuan ibu balita tentang MP ASI.
Asuhan Kebidanan Continuity of Care Ny. U Umur 32 Tahun di PMB X dengan Anemia Ringan dan Engorgement Dian Cahya Putri; Vistra Veftisia
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 3 No. 1 (2024): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Continuity of care is the provision of obstetric care starting from pregnancy, childbirth, postpartum, neonate to deciding to use family planning. This aims to help, monitor, and detect the possibility of complications that accompany the mother and baby from pregnancy to the use of birth control. The midwifery care method at PMB X is through home visits by providing counseling according to the needs of the mother. Midwifery care given to Mrs." U" lasts from pregnancy, postpartum delivery, neonates, to family planning with the frequency of pregnancy visits as much as 1 time, childbirth 1 time, postpartum 4 times, neonatal 3 times and birth control as much as 1 time. To Mrs." U" pregnancy process experiencing mild anemia is caused by improper consumption of Fe tablets and complaints of oedema in the legs. The management given during pregnancy is providing counseling about anemia, danger signs of anemia in pregnancy TM III, KIE nutrition, how to consume Fe tablets and KIE how to deal with oedema in the legs, namely soaking with warm water. In the process of childbirth, the mother experienced a long partus so that induction was given, in the second phase the mother was led by a bengejan for 1 hour and the management had been carried out according to the 60 steps of APN. In the midwifery care during the 3rd day of the postpartum period, the mother complained that the breasts felt full, hot and hard (engorgement) so the author provided Breast Care care to overcome swollen breasts in the mother. In providing obstetric care, mothers have been given counseling and have decided to use Implant Birth Control at 30 Postpartum Days. continuity of care that has been carried out on Mrs. U" during pregnancy, childbirth, postpartum, newborn and family planning.It is hoped that the midwife profession in providing continuous midwifery care (continuity of care) will always implement midwifery management, maintain and improve competence in providing care in accordance with midwifery service standards. Abstrak Asuhan kebidanan berkelanjutan (Continuity Of Care) yaitu pemberian asuhan kebidanan mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, neonatus hingga memutuskan menggunakan KB. Hal ini bertujuan sebagai upaya untuk membantu, memantau, dan mendeteksi adanya kemungkinan timbulnya komplikasi yang menyertai ibu dan bayi dari masa kehamilan sampai dengan ibu menggunakan KB. Metode asuhan kebidanan di PMB X melalui kunjungan rumah dengan memberikan konseling sesuai dengan kebutuhan ibu. Asuhan kebidanan yang diberikan kepada Ny.”U” berlangsung dari masa kehamilan, bersalin nifas, neonatus, sampai KB dengan frekuensi kunjungan hamil sebanyak 1 kali, persalinan 1 kali, nifas 4 kali, neonatus 3 kali serta KB sebanyak 1 kali. Pada Ny.”U” proses kehamilan mengalami anemia ringan diakibatkan oleh cara konsumsi tablet Fe yang belum benar dan keluhan oedema pada kaki. Penatalaksanaan yag diberikan pada masa kehamilan yaitu memberikan konseling tentang anemia, tanda bahaya anemia di kehamilan TM III, KIE nutrisi, KIE cara mengkonsumsi tablet Fe dan KIE cara mengatasi oedema pada kaki yaitu merendam dengan air hangat. Pada proses persalinan ibu mengalami partus lama sehingga di berikan tindakan induksi, pada kala II ibu di pimpin bengejan selama 1 jam dan penatalaksanaan telah dilakukan sesuai 60 langkah APN. Pada asuhan kebidanan masa nifas hari ke-3 ibu mengeluhkan payudara merasa penuh, panas dan keras(engorgement) sehingga penulis memberikan asuhan Breast Care untuk mengatasi payudara bengkak pada ibu. Dalam memberikan asuhan kebidanan KB ibu telah diberikan konseling dan telah memutuskan untuk menggunakan KB Implan pada 30 Hari Postpartum. Asuhan kebidanan berkelanjutan (Continuity Of Care) yang telah dilakukan pada Ny.”U” saat hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir dan keluarga berencana. Diharapkan profesi bidan dalam memberikan asuhan kebidanan berkelanjutan(Continuity Of Care) selanjutnya selalu menerapkan manajemen kebidanan, mempertahankan dan meningkatkan kompetensi dalam memberikan asuhan sesuai dengan standar pelayanan kebidanan.
Yoga Seri Postur Pahlawan untuk Mengurangi Ketidaknyamanan Ibu Hamil Trimester II dan III di Dusun Krajan Desa Wringin Putih Andini Putri; Eka Sularsih; Vistra Veftisia
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 3 No. 1 (2024): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pregnancy is fertilization or union of spermatozoa and ovum and continued with nidation or implantation. In the process of pregnancy physiological and psychological changes occur due to an increase in estrogen and progesterone In the process of pregnancy it is not uncommon for pregnant women to experience discomfort which although it is physiological but still needs to be given a prevention and treatment, One of the midwifery care provided to reduce discomfort in pregnant women is yoga. Yoga is a skill of cultivating the mind, in the form of a comprehensive personality development technique both physically, psychologically and spiritually.  The problem that is still widely encountered is the discomfort of back pain in second trimester and third trimester pregnant women. Based on the problems that arise, community service activities are needed to overcome this. The methods used are descriptive, active participation, interviews and literature study The activity began with an opening and a pre-test, secondly delivering material about yoga to pregnant women as well as doing yoga movements to overcome back pain, thirdly closing and a post-test. The instrument used was a questionnaire regarding knowledge of yoga in the second trimester and third trimester for pregnant women. Outreach media, using power points and leaflets. From this activity, it was found that there was an increase in knowledge of pregnant women after being given counseling about yoga for second and third trimester discomfort in pregnant women.   Abstrak Kehamilan merupakan fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan di lanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Dalam proses kehamilan terjadi perubahan fisiologis dan psikologis karena adanya peningkatan estrogen dan progesterone Dalam proses kehamilan tidak jarang ibu hamil akan mengalami ketidaknyamanan yang meskipun hal itu adalah fisiologis namun tetap perlu diberikan suatu pencegahan dan perawatan, Salah satu asuhan kebidanan yang diberikan untuk mengurangi ketidaknyamanan pada ibu hamil tersebut adalah yoga. Yoga merupakan keterampilan mengolah pikiran, berupa teknik pengembangan kepribadian secara menyeluruh baik fisik, psikologis dan spiritual.  Permaslahan yang masih banyak ditemui yakni ketidaknyamanan nyeri punggung pada ibu hamil trimester II dan trimester III. Berdasarkan masalah yang muncul, maka diperlukan kegiatan pengabdian masyarakat untuk mengatasi hal tersebut. Metode yang digunakan yaitu deskriftif, partisipasi aktif, wawancara  dan study literatur Kegiatan diawali dengan pembukaan dan pree test , kedua penyampaian materi tentang yoga pada ibu hamil sekaligus praktik melakukan gerakan yoga untuk mengatasi nyeri punggung, ketiga penutup dan post tes. Instrument yang digunakan adalah kuesioner tentang pengetahuan yoga trimester II dan trimester III untuk ibu hamil. Media penyuluhan ,menggunakan power point dan leaflet Dari kegiatan tersebut didapatkan ada peningkatan pengetahuan ibu hamil setelah setelah diberikan penyuluhan tentang yoga untuk ketidaknyaman trimester II dan III pada ibu hamil.
Asuhan Kebidanan Continuity Of Care Ny.D Umur 29 Tahun di Puskesmas Unter Iwes Kabupaten Sumbawa NTB Hasmawati; Vistra Veftisia
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 3 No. 1 (2024): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Continuity of care is the provision of obstetric care from pregnancy, childbirth, puerperium, neonates to decide to use birth control. This is intended as an effort to help monitor and detect possible possibilities The onset of complications that accompany the mother and baby from the time of pregnancy until the mother uses birth control. Midwifery care methods at Puskesmas Unter iwes sumbawa NTB and through home visits by providing counseling according to the needs of mothers. The obstetric care given to Mrs." D" lasts from pregnancy, childbirth, puerperium, neonates to birth control with a frequency of pregnancy visits 2 times, childbirth 1 time, puerperium 4 times, neonates 4 times, and birth control 2 times. On Mrs." D" the process of pregnancy runs physiologically, there are no problems or complications, even though in TM II the mother has back pain. The entire delivery process took place normally and smoothly without any complications or complications and management has been carried out according to 60 APNs. In obstetric care, the puerperium period is normal and smooth.  In providing obstetric care for birth control, mothers have been given counseling and decided to use Implant KB Continuity of care that has been carried out on Mrs. "D" during pregnancy, childbirth, puerperium, newborns, and family planning obtained examination results within normal limits and no accompanying complications. It is expected that the midwife profession in providing continuous midwifery care (continuity of care) will then always apply midwifery management, maintain and improve competence in providing care according to midwifery service standards.   Abstrak Asuhan kebidanan berkelanjutan (continuity of care) yaitu pemberian asuhan kebidanan sejak kehamilan, bersalin, nifas, neonatus hingga memutuskan menggunakan KB. Hal  ini  bertujuan  sebagai  upaya  untuk  membantu memantau dan mendeteksi adany kemungkinan. timbulnya komplikasi yang menyertai ibu dan bayi dari masa kehamilan sampai ibu menggunakan KB. Metode asuhan kebidanan di Puskesmas Unter iwes sumbawa NTB dan melalui kunjungan rumah dengan memberikan konseling sesuai kebutuhan Ibu. Asuhan kebidanan yang diberikan pada Ny.”D” berlangsung dari masa kehamilan, bersalin, nifas, neonatus sampai KB dengan frekuensi kunjungan hamil sebanyak 2 kali, persalinan 1 kali, nifas 4 kali, neonatus 4 kali,serta KB sebanyak 2 kali. Pada Ny.”D” proses kehamilan berjalan dengan fisiologis tidak ada masalah maupun komplikasi walaupun pada TM II ibu mengalami nyeri punggung. Seluruh proses persalinan berlangsung normal dan lancar tanpa ada penyulit atau komplikasi dan penatalaksanaan telah dilakukan sesuai 60 langkah APN. Pada asuhan kebidanan masa nifas normal dan lancar. Dalam memberikan asuhan kebidanan KB ibu telah diberikan konseling dan memutuskan menggunakan KB Implan Asuhan kebidanan berkelanjutan (continuity of care) yang telah dilakukan pada Ny. “D” saat hamil, bersalin, masa nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana didapatkan hasil pemeriksaan dalam batas normal dan tidak ada penyulit yang menyertai. Diharapkan profesi bidan dalam memberikan asuhan kebidanan berkelanjutan (continuity of care) selanjutnya selalu menerapkan manajemen kebidanan, mempertahankan dan meningkatkan kompetensi dalam memberikan asuahan sesuai standar pelayanan kebidanan.
Pendidikan Kesehatan dan Demontrasi Akupresur untuk Mengurangi Mual dan Muntah pada Kehamilan di Desa Pungkit Hasmawati; Hanis Permayanti; Vistra Veftisia
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 3 No. 1 (2024): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The gestation period starts from conception to the birth of the fetus. The duration of normal pregnancy is 280 days (40 weeks or 9 months and 7 days) calculated from the first and last menstruation. Pregnancy is divided into 3 months, the first trimester starts from conception to 3 months, the second trimester from the fourth month to 6 months. The third quarter is from the 7th to the 9th month. During pregnancy there is discomfort felt by pregnant women and varies in each trimester of pregnancy, for example bleeding at the beginning of pregnancy, nausea and vomiting, symptoms of preeclampsia, high fever and anemia.  Mua vomiting is a physiological thing, but if it is not treated immediately, it will become a pathological thing. Handling nausea and vomiting can be done pharmacological and non-pharmacological methods. Non-pharmacological treatment is the only one with acupressure. Acupressure comes from the words accus and pressure, which means needle and press. Acupressure is a term used to provide stimulation (stimulation) of acupuncture points with pressure techniques or mechanical techniques. Emphasis is done in place of needle puncture performed on acupuncture with the aim of smoothing the flow of vital energy throughout the body. Therefore, this service activity is expected to be able to communicate about acupressure to reduce nausea and vomiting in pregnancy. The activity began with a pre-test assessment then health education about acupressure and then an acupressure demonstration for pregnant women which was attended by 10 pregnant women. The next activity is evaluation with post-test. From these activities, there was an increase in adolescent knowledge after being given health education and acupressure demonstrations to reduce nausea and vomiting in pregnancy.   Abstrak Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari)  di hitung dari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 bulan, triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempatsampai 6 bulan.Triwulan ketiga dari bulan ke 7 sampai 9 bulan. Selama kehamilan ada Ketidaknyamanan yang dirasakan oleh ibu hamil dan berbeda-beda pada setiap trimester kehamilannya, Misalnya pendarahan di awal kehamilan, mual muntah, gejala preklamsia, deman tinggi dan anemia.  Mua muntah merupakan hal yang fisiologis akan tetapi apabila tidak segera diatasi akan menjadi hal yang patologis. Penangan mual muntah ini dapat dilakukan secara farmakologi dan Non farmakologi. Penangan secara non farmakologi slaah satunya dengan Akupresur. Akupresur berasal dari kata accus dan pressure, yang berarti jarum dan menekan. Akupresur merupakan istilah yang digunakan untuk memberikan rangsangan (stimulasi) titik akupunktur dengan teknik penekanan atau teknik mekanik. Penekanan dilakukan sebagai pengganti penusukan jarum yang dilakukan pada akupunktur dengan tujuan untuk melancarkan aliran energi vital pada seluruh tubuh. Maka diperlukan kegiatan pengabdian ini diharapkan diharapkan dapat mengkomunikasikan tentang akupresur untuk mengurangi mual muntah pada kehamilan. Kegiatan diawali dengan penilaian pre-test kemudian pendidikan kesehatan tentang akupresure lalu demontrasi akupresur pada ibu hamil yang dihadiri oleh 10 ibu hamil. kegiatan selanjutnya adalah evaluasi dengan post-test. Dari kegiatan tersebut didapatkan ada peningkatan pengetahuan ibu hamil Setelah diberikan pendidikan kesehatan dan demontrasi akupresure untuk mengurangi mual muntah pada kehamilan.
Asuhan Kebidanan Continuity Of Care Ny.E.S.M Umur 34, Ibu G3P2A0 Tahun di Puskesmas Haliwen Kabupaten Belu – NTT Kai Buti, Yovita; Veftisia, Vistra
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 3 No. 1 (2024): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Continuous midwifery care (continuity of care), namely providing midwifery care from pregnancy, delivery, postpartum, neonate until the decision to use family planning. This aims to help monitor and detect possible complications that accompany the mother and baby from pregnancy until the mother uses family planning. Midwifery care methods at the Haliwen Community Health Center, Belu Regency - NTT and through home visits by providing counseling according to the mother's needs. The midwifery care provided to Mrs. In Mrs. "E.S.M" the pregnancy process in TM I and TM II proceeded physiologically but in TM III the mother experienced bleeding in the birth canal due to placenta previa. So the birth process takes place via Sectio Saeceria because the mother experienced bleeding in the first stage of labor and a hystectomy was carried out because of bleeding in the fourth stage. In midwifery care the postpartum period runs normally and smoothly. The mother was no longer given birth control midwifery care because the mother had had a hystrectomy (continuity of care) which had been carried out on Mrs. "E.S.M" during pregnancy, childbirth, postpartum period, newborns, examination results are within normal limits and there are no accompanying complications. It is hoped that the midwife profession, in providing continuous midwifery care (continuity of care), will always apply midwifery management, maintain and improve competence in providing care according to midwifery service standards.   Abstrak Asuhan kebidanan berkelanjutan (continuity of care) yaitu pemberian asuhan kebidanan sejak kehamilan, bersalin, nifas, neonatus hingga memutuskan menggunakan KB. Hal  ini  bertujuan  sebagai  upaya  untuk  membantu                   memantau            dan      mendeteksi       adanya Kemungkinan timbulnya komplikasi yang menyertai ibu dan bayi dari masa kehamilan sampai ibu menggunakan KB. Metode asuhan kebidanan di Puskesmas Haliwen Kabupaten Belu - NTT dan melalui kunjungan rumah dengan memberikan konseling sesuai kebutuhan Ibu. Asuhan kebidanan yang diberikan pada Ny.”E.S.M” umur 34 tahun, ibu G3P2A0 berlangsung dari masa kehamilan, bersalin, nifas, neonatus sampai KB dengan frekuensi kunjungan hamil sebanyak 3 kali, persalinan 1 kali, nifas 4 kali, neonatus 4 kali,. Pada Ny.”E.S.M” proses kehamilan TM I dan TM II berjalan dengan fisiologis tetapi pada TM III ibu mengalami Perdarahan pada Jalan Lahir karena Plasenta Previa. Sehingga proses persalinan berlangsung secara Sectio Saeceria karena Ibu mengalami Perdarahan pada Kala I Persalinan dan dilakukan Histektomi karena Perdarahan pada Kala IV. Pada asuhan kebidanan masa nifas berjalan normal dan lancar. Ibu tidak diberikan lagi asuhan kebidanan KB karena ibu telah dilakukan Histrektomi (continuity of care) yang telah dilakukan pada Ny. “E.S.M” saat hamil, bersalin, masa nifas, bayi baru lahir, didapatkan hasil pemeriksaan dalam batas normal dan tidak ada penyulit yang menyertai. Diharapkan profesi bidan dalam memberikan asuhan kebidanan berkelanjutan (continuity of care) selanjutnya selalu menerapkan manajemen kebidanan, mempertahankan dan meningkatkan kompetensi dalam memberikan asuahan sesuai standar pelayanan kebidanan.
Peningkatan Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Personal Hygiene Mafudiah, Lalita; Vistra Veftisia
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 3 No. 1 (2024): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The puerperium period begins 2 hours after the birth of the placenta until 6 weeks (42 days) after that. puerperium is from the word puer which means baby and Parous means to give birth. So, puerpurium means the period after giving birth to the baby, which is the period of recovery, starting from the time the delivery is completed until the uterine apparatus returns like pre- pregnancy(Handayani, Rini & Mulyati, Sri, 2117). One of the needs during the postpartum period is to maintain personal hygiene. Personal hygiene is an activity to meet daily needs, which can be known as daily life activities. This activity is learned over time and becomes a lifelong habit. Personal hygiene activities involve not only what to do (personal hygiene of bathing, dressing, toilet and eating) but also how much, when, where, with whom and how(Wati, 2023). From the results of the study in East Jomin Village, there are 10 postpartum mothers, of which 5 of the postpartum mothers do not do Personal Hygiene due to the lack of knowledge of mothers about Personal Hygiene. Based on the problems that arise, community service activities are needed to overcome this. The activity began with a pre-test related to Personal Hygiene during the postpartum period, then the delivery of material counseling method with a total of 10 postpartum mothers. The next activity is evaluation with Post-Test. From these activities, there was an increase in the knowledge of postpartum mothers after being given counseling on Personal Hygiene.   Abstrak Masa nifas (puerperium) adalah dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya Plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. puerperium yaitu dari kata puer yang artinya bayi dan Parous artinya melahirkan. Jadi, puerpurium berarti masa setelah melahirkan bayi yaitu masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat alat kandungan kembali seperti pra hamil (Handayani, Rini & Mulyati, Sri, 2117). Salah satu kebutuhan pada masa nifas yaitu menjaga kebersiahan diri (Personal Hygiene). Personal hygiene merupakan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, yang bisa dikenal dengan aktivitas kehidupan sehari-hari. Aktivitas   ini   dipelajari   dari   waktu   ke   waktu   dan menjadi   kebiasaan seumur   hidup.   Kegiatan personal.
Penerapan Akupresure untuk Mengurangi Nyeri Haid pada Remaja Putri Priskila, Antika; Rizki, Milya; Khayati, Yulia Nur; Veftisia, Vistra
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 3 No. 1 (2024): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dysmenorrhea is a painful condition that occurs during menstruation and can significantly disrupt daily activities. This menstrual pain is a common complaint among many women and is considered a symptom rather than a disease. The primary cause of dysmenorrhea is the increase in prostaglandin F2 alpha levels in the body. When progesterone hormone levels decrease, prostaglandin levels rise, leading to increased uterine muscle tone and excessive uterine contractions. One midwifery care intervention to reduce menstrual pain or dysmenorrhea is acupressure, which involves massaging or applying pressure to specific meridian points on the body. Dysmenorrhea remains a prevalent issue among adolescent girls in Kenteng Village, yet there has been no intervention to address this problem. Menstrual pain or dysmenorrhea can affect the daily activities of adolescent girls, causing difficulty in concentration, emotional conflicts, tension, anxiety, disruption of the learning process, discomfort, and decreased participation in learning activities. Based on these issues, a community service activity was deemed necessary. The program began with an opening session and a pre-test, followed by the delivery of material on acupressure to reduce menstrual pain and a practical session on acupressure techniques. The activity concluded with a closing session and a post-test, attended by 17 adolescent girls. The results showed an increase in the knowledge of adolescent girls about acupressure to reduce menstrual pai.   Abstrak Dismenore adalah rasa nyeri yang terjadi saat menstruasi dan bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Nyeri haid ini merupakan keluhan umum yang dialami oleh banyak perempuan dan merupakan gejala, bukan penyakit. Penyebab utama dismenore adalah peningkatan prostaglandin F2 alfa dalam tubuh. Ketika kadar hormon progesteron menurun, prostaglandin akan meningkat, yang kemudian menyebabkan peningkatan tonus atau kekakuan otot rahim dan kontraksi rahim yang berlebihan. Salah satu asuhan kebidanan yang dapat diberikan untuk mengurangi nyeri haid atau dismenore adalah akupresure. Akupresure adalah pemijatan atau penekanan pada  titik-titik  meridian tubuh. Permasalahan nyeri haid atau dismenore ini masih banyak terjadi pada remaja putri di dusun kenteng namun belum ada penanganan untuk mengatasinya.  Padahal, nyeri haid atau dismenore dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari remaja putri diantaranya sulit berkonsentrasi, konflik emosional, ketegangan, kecemasan, dan mengganggu proses belajar, merasa kurang nyaman, penurunan keaktifan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan  masalah yang muncul, maka diperlukanlah kegiatan pengabdian masyarakat untuk mengatasi hal tersebut. Kegiatan diawali dengan pembukaaan dan pree test , kedua penyampaian materi tentang Akupresure untuk mengurangi nyeri haid pada remaja putri sekaligus praktik melakukan akupresure untuk mengurangi nyeri haid, ketiga penutup dan post tes yang di hadiri oleh 17 remaja putri. Dari kegiatan tersebut didapatkan ada peningkatan pengetahuan remaja putri tentang akupresure untuk mengurangi nyeri haid pada remaja putri.
Pendewasaan Usia Perkawinan ( PUP ) Dengan Pendekatan Active Learning di SMK PGRI 1 Salatiga Listiyaningsih, Moneca Diah; Veftisia, Vistra; Ismiriyam, Fiktina Vifri
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 2 No. 2 (2020): Indonesian Journal of Community Empowerment November Vol.2 No.2
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.034 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v2i2.755

Abstract

Teenage marriage is still common in Indonesia, even though the impact of it is obvious. This marriage can also cause mental, social and economic problems that may lead to domestic violence. The factor of teenagers’ less knowledge about the age of safe marriage has not been widely understood, so many teenagers are easily influenced by unhealthy relationship, and some of them decide not to continue their study. The implementation of the activity was carried out at SMK PGRI 1 Salatiga with the method of providing health education about PUP by using an active learning approach divided into 3 stages of implementation. The data collection instrument was questionnaires. Before being given the health education about PUP, a small proportion of them had less knowledge about the age of marriage with the score of 67, namely 13 students (14.3%), 2 students (2.2%) got 50 and 58 score (2.2%), most students or 31 students (34.1%) got 75 score, 18 students (19.8%) got 83 score, 20 students (22.0%) got 92 score, and 4 students (4.4%) got 100 score. After getting the health education, 35 students (38.5%) got 83 score, 32 students (35.2%) got 92 score, and 3 students (3.3%) got 100 score. However there were still some students who had less knowledge getting 67 score as many as 4 students (4.4%) and 58 score as many as 3 students (3.3%). Marriage Age Maturing (PUP) is a program that can be implemented to increase students’ knowledge about marriage.AbtrakPernikahan remaja masih banyak terjadi, meskipun dampak pernikahan pada usia remaja ini sudah nyata terlihat. Masalah lainnya adalah masalah mental,sosial dan ekonomi yang bisa berdampak pada kekerasan dalam rumah tangga. Faktor pengetahuan remaja tentang usia perkawinan yang aman belum banyak dipahami, sehingga banyak remaja yang mudah terpengaruh oleh pergaulan yang bebas, dan banyak juga yang memutuskan untuk tidak melanjukankan sekolah. Pelaksanan kegiatan dilaksanakan di SMK PGRI 1 Salatiga dengan metode pemberian promosi kesehatan Pendewasaan Usia Pernikahan (PUP) dengan pendekatan active learning yang terbagi menjadi 3 tahap pelaksanaan. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner. Sebelum diberikan promosi kesehatan pendewasaan usia perkawinan sebagian kecil memiliki pengetahuan kurang tentang usia perkawinan dengan nilai 67 yaitu 13 siswa (14.3%), nilai 50 dan 58 sebanyak 2 siswa (2.2%), siswa memiliki pengetahuan baik tentang usia perkawinan paling banyak siswa mendapat nilai 75 sebanyak 31 siswa (34.1%), nilai 83 sebanyak 18 siswa (19.8%), nilai 92 sebanyak 20 siswa (22.0%) dan ada yang mendapat nilai 100 sebanyak 4 siswa (4.4%)’. Sesudah diberi promosi kesehatan yang memiliki pengetahuan baik tentang usia perkawinan dengan nilai 83 sebanyak 35 siswa (38.5%), nilai 92 sebanyak 32 siswa (35.2%), dan yang mendapat nilai 100 sebanyak 3 siswa (3.3%). Namun masih ada siswa dengan pengetahuan kurang yang mendapat nilai 67 yaitu sebanyak 4 siswa (4.4%) dan nilai 58 3 siswa (3.3%). Pendewasaan Usia Pernikahan ( PUP ) merupakan salah satu program yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang pernikahan.
Co-Authors Abda Abda Afriyani, Luvi Dian Ali Djamhuri Ana Oktavia Ana Zully Astuti Andi Fawiloy Andini Putri Angelina Chika Pury Putri Anggraeni Indri Hapsari Aprilia, Nia Ari Andayani Ari Widayaningsih Ari Widyaningsih Asti Puspita Azelia Dewianti Bunga Asmara Clarisa Martila Cantika Dewi Nuraini Suci Dewianti, Azelia Dian A, Luvi Dian Ayu Dian Cahya Putri Dian Cahya Putri Didik Tamtomo, Didik Dina Fitrianingtyas Eka Sularsih elviatun nisa, risha nur Eny Ruth Sinaga Erna Rahayu Eti Salafas Evitasari Evy Yuliastuti Fatresia Fhitriani, Insiyah Nur Fiktina Vifri Ismiriyam Fitria Prabandari Ginaya Dinda Putri Haerani Hanik Ekowati Hanis Permayanti Hapsari Windayanti Haryati Hasmawati Heldina Hutahaean Heni Setyowati Hidayanti, Nur Hidayati, Anis Inayatul Hidayah Indriani Kasih Sabwan Isfaizah Izzah, Lu’luul Fitrotul Kai Buti, Yovita Kumalasari, Kafita Kurniawati Tri Utami Lailatur Rohmah Lidia Arjulia Sari Linda, Prisma Lisjarwati Listyaningsih, Moneca Diah Lutfiyah, Elly Luvi Dian A Lu’luul Fitrotul Izzah Mafudiah, Lalita Mardhiyana, Dyna Margita Widi Esti Martinha Pinto Martiningsih Masruroh Masruroh . Maya Kurnia Dewi Maya Kurnia Dewi, Maya Kurnia Mei Wulansari Meisya Tiara Herlina MIFTAHUL JANNAH Moneca Diah Listiyani Moneca Diah Listiyaningsih Muhammad Mustain Mulyani Mulyani Muskhofah Oviyanti Nafi’ah Nelly Anggriyani Nia Aprilia Ninik Christiani Nova Harianti Nur Fadilah Nur Hidayanti Nurdiana Nurhayati Nurul Fadilah Priskila, Antika Purnamasari , Ita Putri Ayuni Sari Putri, Risma Aliviani Reni Mustikaningrum Renny Anjelina Retno Ginanjar Rifqi Roshifah Rinawati Rinawati Rinawati Rinawati Rinda Murtiningsih Rini Susanti Rizki, Milya Rizky Febria Suseno Rositasari, Ina Ruliana Isna Rosida Ryan Nabela Maharani Sabwan, Indriani Kasih Salma, Siti Samsi Rohmini Sari, Lidia Arjulia Sari, Putri Ayuni Shinta Lutfiani Shintya Putriningrum Sholikha Siswati Siswati Siti Hardi Yanti Cahyati Sofiyanti, Ida Sri Sutarti Sry Wahyuni Sulistiyani Syahrianti Tandean, Delvianti Thisna Damayanty Tina, Agus Titik Nor Hidayah Tyas Pujiana, Ratna Uci Nurmala Umi Sholehah Wahyu Hastuti Utami Wahyu Kristiningrum Wening Dwijayanti Widyaningsih, Ari Wijayanti Wulandari, Retna Yeni Susanti Yulia Nur Khayati Yulianti Yulinda Yasa Putri Zahrotussalamah Zone Asia Alva Berty