Claim Missing Document
Check
Articles

Kesesuaian Pemeriksaan Aglutinasi Lateks Dengan BTA Mikroskopis untuk Mengidentifikasi Pasien Tuberkulosis Prima O Damhuri; Netti Suharti; Efrida Efrida; Masrul Basyar; Andani E Putra
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i1S.1159

Abstract

Pemeriksaan aglutinasi merupakan teknik pemeriksaan yang sederhana, cepat, murah, dan tidak memerlukan keahlian kusus dalam pemeriksaannya. Uji aglutinasi lateks merupakan suatu pemeriksaan berdasarkan reaksi aglutinasi yang terbentuk akibat interaksi antara antigen dan antibodi. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan dilaboratorium kesehatan untuk mengidentifikasi Mycobacterium tuberculosis adalah pemeriksaan Bakteri Tahan Asam (BTA) mikroskopis. Tujuan: Mengetahui kesesuaian antara pemeriksaan aglutinasi lateks dan pemeriksaan BTA mikroskopis untuk mengidentifikasi pasien tuberkulosis. Metode: Penelitian ini merupakan uji diagnostik aglutinasi lateks menggunakan antibodi poliklonal dengan rangcangan crossectional. Pemeriksaan dilakukan terhadap 100 orang pasien suspek tuberkulosis di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari Januari 2018 sampai dengan Januari 2019. Sampel sputum direaksikan dengan reagen lateks dan diamati ada tidaknya terbentuk. Kesesuaian pemeriksaan uji aglutinasi lateks dibandingkan dengan pemeriksaan BTA mikroskopis. Hasil: Nilai koefisien kappa sebesar 0,473 (p=0,000) menunjukkan kesepatan antara pemeriksaan aglutinasi lateks dan BTA mikroskopis cukup (k 0,41-0,60). Simpulan: Uji aglutinasi lateks dengan pemeriksaan BTA mikroskopis untuk mengidentifikasi pasien tuberkulosis pada sampel sputum memiliki nilai kesepakatan yang cukup.
Gambaran Profil Lipid Pasien Perlemakan Hati Non-Alkoholik Vanny Syafitri; Arnelis Arnelis; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.234

Abstract

AbstrakPenyakit perlemakan hati non-alkoholik (non-alcoholic fatty liver disease) merupakan kondisi klinis yang sering ditemukan dalam bidang hepatologi. Salah satu faktor risiko penyakit ini adalah dislipidemia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi profil lipid pasien perlemakan hati non-alkoholik dengan dislipidemia. Penelitian dilakukan secara retrospektif di RS DR. M. Djamil Padang terhadap pasien perlemakan hati non-alkoholik dengan dislipidemia periode 2010–2013. Dari 118 pasien perlemakan hati non-alkoholik dengan dislipidemia hanya 43 subyek yang memenuhi kriteria penelitian. Rata-rata umur subjek penelitian pada laki-laki adalah 48,53±11,92 tahun dan perempuan 49,58±11,01 tahun. Subjek penelitian didominasi oleh perempuan dengan perbandingan 1,5:1 terhadap laki-laki. Didapatkan pasien hiperkolesterolemia sebanyak 61,82% , hipo-HDL-emia 86,05%, hiper-LDL-emia 44,19%, hipertrigliseridemia 55,81%. Kesimpulannya, pada perlemakan hati non-alkoholik ditemukan kadar kolesterol total dan trigliserida yang tinggi, kadar LDL yang normal serta kadar HDL yang rendah.Kata kunci: Profil lipid, perlemakan hati non-alkoholik, dislipidemiaAbstractNon-alcoholic fatty liver disease is a clinical condition that is often found in the field of hepatology. One of the risk factors for this disease is dyslipidemia. This study was conducted to determine distribution and frequency of the lipid profile patients non-alcoholic fatty liver with dyslipidemia.A retrospective study was conducted at DR. M. Djamil Padang hospital to patients of non-alcoholic fatty liver with dyslipidemia within 2010-2013. A total of 118 non-alcoholic fatty liver with dyslipidemia patients only 43 subjects who met the study criteria.The average age of the subjects were males 48.53±11.92 years and women 49.58±11.01 years. Subject is dominated by women against men with 1.5:1 ratio. This study observed that patient with hypercholesterolemia as much as 61.82%, hypo-HDL-emia 86.05%, hyper-LDL-emia 44.19%, hypertriglyceridemia 55.81%.It can be concluded patient of non-alcoholic fatty liver disease with dyslipidemia has high total cholesterol and triglyceride levels, normal LDL levels and low HDL levelsKeywords:Lipid profile, non-alcoholic fatty liver disease, dyslipidemia
102 Jurnal Kesehatan Andalas. 2015; 4(1) Pola Komplikasi Kronis Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Inap di Bagian Penyakit Dalam RS. Dr. M. Djamil Padang Januari 2011 - Desember 2012 Dwi Amelisa Edwina; Asman Manaf; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.207

Abstract

AbstrakDiabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia. DM tipe 2 adalah yang paling sering ditemukan. Komplikasi kronis DM tipe 2 yaitu mikrovaskular dan makrovaskular yang dapat menurunkan kualitas hidup penderita. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang insidensi penderita DM tipe 2 dengan komplikasi kronis. Penelitian deskriptif ini dilakukan dengan mengambil data pada rekam medik penderita DM tipe 2 dengan komplikasi kronis yang dirawat inap di bagian Penyakit Dalam RS.Dr. M. Djamil, Padang Januari 2011-Desember 2012. Penelitian dilakukan dari Februari 2013-April 2013 di bagian rekam medik RS. Dr. M. Djamil Padang. Data didapatkan sebanyak 261 pasien, dari jumlah tersebut didapatkan 197 pasien memiliki komplikasi kronis DM tipe 2. Data dikategorikan berdasarkan jenis komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita dengan komplikasi kronis makrovaskular (66,5%) dan mikrovaskular (81,7%). Terdapat perubahan insidensi dalam dua tahun yaitu dari tahun 2011 dengan 2012. Komplikasi kronis yang paling sering terjadi adalah nefropati diabetik (42,6%) pada perempuan <60 tahun.Kata kunci: diabetes melitus, komplikasi mikrovaskular, komplikasi makrovaskularAbstractDiabetes mellitus is a group of metabolic diseases with characterized by hyperglycemia. Type 2 diabetes is the most common disease in the world. Chronic complications of type 2 diabetes are microvascular and macrovascular complications that can reduce the quality of life of patients. The objective of this study was to obtain a picture of the incidence of type 2 diabetic chronic complications. This descriptive study was conducted by taking medical record data of hospitalized type 2 diabetic patients with chronic complications inInternal Medicine Department Dr. M. Djamil hospital, Padang on January 2011-December 2012. The study was conducted from February 2013-April 2013 at the hospital medical record Dr. M. Djamil, Padang. This study was conducted on 261 patients, from that number 197 patients have chronic complications of type 2 diabetes mellitus. Data were categorized by type of macrovascular and microvascular complications.The results showed that patients with chronic complications of macrovascular (66,5%) and microvascular (81,7%). There is a change in incidence from 2011 to 2012. The most common of chronic complications is diabetic nephropathy (42.6%). Chronic microvascular and macrovascular complications are different incidence in two years, the most common is diabetic nephropathy which often occurs in women <60 years.Keyword: diabetes mellitus, microvascular complication, macrovacular complication.
Analisis Kadar Kreatinin Serum Sebelum dan Setelah Terapi Tenovofir pada Penyandang HIV di RS Dr. M. Djamil Padang Periode 2012-2013 Regina Ivanovna; Efrida Efrida; Roza Kurniati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i2.93

Abstract

AbstrakPenyakit ginjal merupakan penyebab kematian nonAIDS paling tinggi pada penyandang HIV. Penggunaan regimen anti- retroviral diselidiki memiliki kontribusi terhadap kejadian penyakit ginjal. Disfungsi tubulus ditemukan pada penyandang HIV dengan terapi tenofovir. Pemeriksaan kreatinin digunakan untuk skrining kerusakan ginjal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar kreatinin sebelum dan setelah terapi tenofovir. Telah dilakukan penelitian secara kohort retrospektif terhadap penyandang HIV dengan terapi tenofovir di RS dr. M. Djamil Padang periode 2012-2013. Dilakukan pemeriksaan kreatinin serum sebelum dan setelah terapi tenofovir dengan metode Jaffe. Data kadar kreatinin serum didapatkan melalui rekam medik. Hasil perbedaan rata-rata kadar kreatinin serum sebelum dan setelah terapi tenofovir dianalisis menggunakan uji T berpasangan. Sebanyak 18 subyek penelitian dipilih dari jumlah total 652 penyandang HIV rawat inap dan rawat jalan. Sebanyak 196 penyandang HIV memakai terapi tenofovir (30%). Rentang lama pemberian terapi tenofovir adalah 2-57 minggu. Pada hasil penelitian, didapatkan perbedaan rata-rata kadar kreatinin serum yang bermakna sebelum dan setelah terapi tenofovir sebesar 0,7± 0,2 mg/dLdan 0,9 ± 0,5 mg/dL (P<0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kreatinin serum setelah terapi tenofovir pada penyandang HIV.Kata kunci: HIV, tenofovir, kreatinin serumAbstractKidney disease is the highest nonAIDS related mortality among HIV patients. The use of antiretroviral therapy is investigated to contribute in kidney disease. Tubular dysfunction is found in HIV patients with tenofovir therapy. Creatinine test is used to screen kidney dysfunction. The aim of this study was to determine the mean difference of serum creatinine level before and after tenofovir administration.A cohort retrospective research was carried out in DR..M. Djamil Hospital upon HIV patients with tenofovir within 2012-2013. Serum creatinine test was conducted before and after administration of tenofovir with automatic machine and Jaffe reaction. The result of mean difference of serum creatinine before and after administration of tenofovir is analised by paired T test.Eighteen research subjects is determined from total amount of in and out patient. A total of 196 patients were administered with tenofovir (30%). The range of tenofovir administration was between 2-57 weeks. From the research, obtained a significant mean difference before (0,7± 0,2 mg/dL) and after (0,9 ± 0,5 mg/dL) administration of tenofovir (P<0,05).The conclusion of this study is there is increasing of serum creatinine level before and after administration of tenofovir.Keywords: HIV, tenofovir, serum creatinine
Pola Kuman dan Uji Kepekaan pada Pasien Community Acquired Pneumonia di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2016 Narlis Narlis; Ellyza Nasrul; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i3.1041

Abstract

Community acquired pneumonia (CAP) merupakan infeksi yang paling sering menyebabkan sepsis dan dapat menimbulkan kematian. Pertimbangan pemilihan antimikroba yang tepat dan menghindari penggunaan yang berlebihan perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya resistensi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pola kuman dan uji kepekaan pasien CAP di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif terhadap 201 sampel sputum pasien CAP yang diperiksa kultur kemudian dilanjutkan dengan pewarnaan Gram dan uji biokimia untuk mengidentifikasi bakteri. Uji kepekaan antimikroba menggunakan metode difusi cakram. Penelitian dilakukan di Laboratorium Sentral RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2016 hingga Desember 2016. Data ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Mikroorganisme yang ditemukan adalah Klebsiella pneumonia (55,23%), Staphylococcus aureus (25,87%), Streptococcus pneumonia (7,96%), Pseudomonas aeruginosa (5,97%), Staphylococcus epidermidis (2,9%), Acinetobacter baumani (1,99%), Proteus vulgaris (0,49%). Antimikroba yang paling sensitif adalah Meropenem (78,7%), sedangkan antimikroba resisten dengan persentase tertinggi adalah Ampisilin (90%), Amoksisilin (89,4%), Eritromisin (73,5%), Amoksisilin + Klavulanat (64,6%), dan Kloramfenikol (61,7%). Mikroorganisme yang paling banyak ditemukan adalah Klebsiella pneumonia (55,23%). Meropenem merupakan antimikroba sensitif dengan persentase paling tinggi (78,7%) sedangkan antimikroba resisten dengan persentase paling tinggi adalah ampisilin (90%).
Gambaran Kadar Troponin T dan Creatinin Kinase Myocardial Band pada Infark Miokard Akut Rendi Dwi Prasetyo; Masrul Syafri; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.171

Abstract

AbstrakInfark Miokard Akut (IMA) adalah kematian sel miokardium akibat terlepasnya plak aterosklerotik dari salah satu arteri koroner yang mencetuskan terjadinya agregasi trombosit, pembentukan trombus, dan spasme koroner. Diagnosis IMA dapat dilakukan dengan cara: anamnesis, abnormalitas Elektrokardiogram (EKG), peningkatan Creatinin Kinase Myocardial Band (CKMB), dan cardiac specific troponin (cTn)T. Diagnosis IMA dapat ditegakkan jika terdapat minimal dua dari tiga kriteria yang harus dipenuhi, yaitu: anamnesis, abnormalitas EKG, dan peningkatan aktivitas enzim jantung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar troponin T dan CKMB pada pasien IMA di RS. Dr. M. Djamil Padang periode 1 Januari 2012 - 31 Desember 2012. Penelitian dilakukan secara retrospektif deskriptif terhadap 54 sampel rekam medik pasien IMA yang dirawat inap di bagian penyakit dalam dan jantung RS. Dr. M. Djamil Padang periode 1 Januari 2012 - 31 Desember 2012. Kadar troponin T diperiksa dengan metode chemiluminescent dan CKMB diperiksa dengan metode enzymatic immunoassay with serum start. Hasil penelitian ini menunjukkan umur terbanyak pasien IMA adalah 40-60 tahun berjumlah 30 orang (55,56%). Jenis kelamin terbanyak pasien IMA adalah laki-laki berjumlah 39 orang (72,22%). Pasien IMA yang memiliki kadar CKMB ≥24 U/L berjumlah 35 orang (64,82%). Pasien IMA yang memiliki kadar troponin T ≥0,1 ng/mL berjumlah 44 orang (81,48%). Didapatkan peningkatan kadar troponin T dan CKMB pada pasien IMA.Kata kunci: infark miokard akut, troponin t, CKMBAbstractAcute Myocardial Infarction (AMI) is a muscle necrosis of the heart caused by rupture atherosclerotic plaque from one of coronary artery that cause platelet aggregation, thrombus formation, and coronary spasm. Diagnosis of AMI can be made by some way : anamnesis, electrocardiogram (ECG) abnormalities, increase levels of creatinine kinase myocardial band (CKMB) and cardiac specific troponin (cTn)T. Diagnosis of AMI can be established if obtained at least two of three criteria : anamnesis, ECG abnormalities and increase of levels cardiac enzymes. The objective of this study was to determine the troponin T levels and CKMB in AMI at RS. Dr. M. Djamil Padang period January 1st, 2012 - December 31th, 2012. The study was conducted with retrospective descriptive with 54 medical records sample of treated patients AMI at internal medicine and cardiology department of RS. Dr. M. Djamil Padang from January 1st, 2012 - December 31th 2012. Troponin T level checked with chemiluminescent method and CKMB checked with enzymatic immunoassay with serum start method. The results of this study indicate that the most age of the patients of AMI are 40-60 years old, 30 people (55,56%). The most gender of AMI are male, 39 people (72,22%). Patients AMI with CKMB levels ≥24 U/L are 35 people (64,82). Patients AMI with troponin T levels ≥0,1 ng/mL are 44 people (81,48%). There are increased in troponin T levels and CKMB in patients of AMI.Keywords: acute myocardial infarction, troponin t, ckmb
Imunopatogenesis Treponema pallidum dan Pemeriksaan Serologi Efrida Efrida; Elvinawaty Elvinawaty
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.203

Abstract

AbstrakSifilis adalah penyakit menular seksual yang sangat infeksius, disebabkan oleh bakteri berbentuk spiral, Treponema pallidum subspesies pallidum. Penyebaran sifilis di dunia telah menjadi masalah kesehatan yang besar dengan jumlah kasus 12 juta pertahun. Infeksi sifilis dibagi menjadi sifilis stadium dini dan lanjut. Sifilis stadium dini terbagi menjadi sifilis primer, sekunder, dan laten dini. Sifilis stadium lanjut termasuk sifilis tersier (gumatous, sifilis kardiovaskular dan neurosifilis) serta sifilis laten lanjut. Sifilis primer didiagnosis berdasarkan gejala klinis ditemukannya satu atau lebih chancre (ulser). Sifilis sekunder ditandai dengan ditemukannya lesi mukokutaneus yang terlokalisir atau difus dengan limfadenopati. Sifilis laten tanpa gejala klinis sifilis dengan pemeriksaan nontreponemal dan treponemal reaktif, riwayat terapi sifilis dengan titer uji nontreponemal yang meningkat dibandingkan dengan hasil titer nontreponemal sebelumnya. Sifilis tersier ditemukan guma dengan pemeriksaan treponemal reaktif, sekitar 30% dengan uji nontreponemal yang tidak reaktifKata kunci: sifilis, Treponema pallidum, serologiAbstractSyphilis is a sexually transmitted disease that is highly infectious, caused by a spiral -shaped bacterium, Treponema pallidum subspecies pallidum. The spread of syphilis in the world has become a major health problem and the common, the number of 12 million cases per year. Infectious syphilis is divided into early and late-stage syphilis. Early-stage syphilis is divided into primary, secondary, and early latent. Advanced stage of syphilis include tertiary syphilis (gumatous, cardiovascular syphilis, and neurosyphilis) and late latent syphilis. Primary syphilis is diagnosed by clinical symptoms of the discovery of one or more chancre (ulcer). Secondary syphilis is characterized by the finding of localized mucocutaneous lesions or with diffuse lymphadenopathy. Latent syphilis without clinical symptoms of syphilis with a nontreponemal and treponemal reactive examination, history of syphilis therapy in nontreponemal test titer increased compared with the results of previous nontreponemal titers. Tertiary syphilis is found guma with reactive treponemal examination, approximately 30% of the non- reactive nontreponemal testKeywords: syphilis, Treponema pallidum, serologi
Korelasi Kadar Adiponektin dengan Indeks Aterogenik Plasma pada Penyandang Obes Kartika Aulia Sari; Rismawati Yaswir; Tuty Prihandani; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i3.1335

Abstract

Kadar adiponektin dalam plasma secara signifikan menurun pada penyandang obes. Adiponektin telah dilaporkan memiliki efek langsung anti-aterosklerosis. Indeks Aterogenik Plasma (IAP) dihitung sebagai log10(TG/ HDL-C), merupakan biomarker aterosklerosis. IAP dapat menjadi biomarker baru untuk risiko dan prognosis penyakit kardiovaskular. Tujuan: Menentukan korelasi kadar adiponektin dengan indeks aterogenik plasma pada penyandang obes. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik dengan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah 30 orang penyandang obes dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) ≥25 kg/m2 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek penelitian melakukan pemeriksaan darah di Instalasi Laboratorium Sentral RSUP. Dr. M. Djamil Padang pada bulan Januari 2019 sampai September 2019. Pemeriksaan kadar adiponektin dengan metode enzyme linked immunoassay (ELISA). Pemeriksaan kolesterol high density lipoprotein (HDL) dan trigliserida menggunakan alat kimia klinik otomatis. Data univariat diolah dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan rerata (standar deviasi). Data bivariat dianalisis dengan uji korelasi Pearson, bermakna secara statistik jika p˂0,05. Hasil: Rerata umur adalah 34,5 (6,2) tahun. Rerata kadar adiponektin adalah 2,5 (1,1) μg/mL. Rerata indeks aterogenik plasma (IAP) adalah 0,29 (0,17), termasuk risiko tinggi untuk penyakit kardiovaskular. Uji korelasi Pearson menunjukkan korelasi negatif sangat lemah antara adiponektin dengan IAP dan tidak bermakna secara statistik (r=-0,114, p=0,550). Simpulan: Tidak terdapat korelasi antara kadar adiponektin dengan indeks aterogenik plasma pada penyandang obes.Kata kunci: adiponektin, indeks aterogenik plasma, obes
Uji Diagnostik C-Reactive Protein pada Pneumonia Bakteri Komunitas Anak Ikhsan Marzony; Finny Fitry Yani; Efrida Efrida
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.391-395

Abstract

Latar belakang. Polymerase chain reaction (PCR) merupakan teknik untuk menentukan agen penyebab pneumonia dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, tetapi harganya mahal dan tidak tersedia di semua tempat. C-reactive protein (CRP) juga dapat digunakan untuk memprediksi infeksi bakteri dan memiliki keunggulan yang lain, yakni harganya yang murah dan hampir tersedia di semua laboratorium.Tujuan. Mengetahui sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif, dan nilai prediksi negatif CRP pada pneumonia bakteri komunitas anak.Metode. Penelitian cross sectional pada 62 subjek di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS. Dr. M. Djamil Padang dari Desember 2013 sampai Oktober 2014. Subjek dipilih dengan teknik konsekutif. Dilakukan uji CRP dan teknik PCR sebagai baku emas. Duapuluh tiga sampel diekslusi karena menderita penyakit jantung bawaan (7), sepsis (6), telah mendapatkan antibiotik (4), dan orang tua menolak pemeriksaan (6) sehingga total sampel menjadi 39 anak.Hasil. Sebagian besar subjek penelitian adalah laki-laki (59%) dan kelompok umur terbanyak 2-11 bulan (48,7%). Sensitivitas CRP dengan cut off point 8 mg/L adalah 51,6%, spesifisitas 75%, nilai prediksi positif 88,8%, nilai prediksi negatif 28,6%. Pada cut off point 10 mg/L, sensitivitas CRP adalah 41,9%, spesifisitas 87,5%, nilai prediksi positif 92,9%, nilai prediksi negatif 28%.Kesimpulan. C-reactive protein tidak dapat digunakan sebagai uji tapis terhadap pneumonia bakteri komunitas anak.
SKRINING PENYAKIT KECACINGAN DAN GANGGUAN VISUS PADA SISWA SD DI KELURAHAN SUNGAI PISANG KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG Cimi Ilmiawati; Siti Nurhajjah; Nur Afrainin Syah; Mohamad Reza; Efrida Efrida; Eka Nofita; Hasmiwati Hasmiwati; Selfi Renita Rusjdi; Nuzulia Irawati; Sukri Rahman; Elmatris Elmatris; Desmawati Desmawati; Nur Indrawaty Lipoeto; Afriwardi Afriwardi
BULETIN ILMIAH NAGARI MEMBANGUN Vol 2 No 4 (2019)
Publisher : LPPM (Institute for Research and Community Services) Universitas Andalas Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.025 KB) | DOI: 10.25077/bina.v2i4.114

Abstract

Sungai Pisang Village is a village that has only been accessible by smooth road roads in the past year in Padang City. Previously this village was only accessible by sea and by lousy road. This condition causes the Pisang River community to lag in socio-economic and health aspects. This activity aims to screen for worms in elementary school students in Sungai Pisang village because worms are closely related to environmental health and affect the quality of human resources experiencing growth and development. Screening for worms is carried out by examining fecal preparations. This activity also aims to check visual acuity in elementary students and make references for sharp vision correction to learn well. Visual acuity checks were carried out using a Snellen card. The results of the examination showed that 3/143 students had worms and 3/273 students had visual disturbances. Students with worms are recommended to go to the Puskesmas to be given deworming medicine, and students with visual impairments are facilitated for examination by an ophthalmologist and given glasses if needed.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Ade Asyari Afdal Afdal Afriwardi Afriwardi Aghnia Jolanda Putri Akmal M. Hanif Al Hafiz Al Hafiz Alifah Amirah Almurdi Almurdi Alya Binti Azmi Amanda, Dela Sasqia Amirah Zatil Izzah Andani E Putra Andani Eka Putra Angela Lovena Anggia Perdana Harmen Anggun Hatika Riska Arnelis Arnelis Arni Amir Asman Manaf Asterina Asterina Atika Indah Sari Bakma, Isphandra Basorudin Besri, Hanifa Zahra Bestari Jaka Budiman Budi Setyastuti Cindi Aulia Ali Desmawati Desmawati Deswita Sari Desywar Desywar Desywar Desywar Desywar Desywar Desywar Desywar Desywar Desywar Desywar, Desywar Devi Gusmaiyanto Devi Gusmaiyanto Dhea Syapira Dia Rofinda, Zelly Dia Dian Eka Putri Dian Eka Putri, Dian Eka Dian Pertiwi Dian Pertiwi Doan Atrya Dolly Irfandy Dona Mirsa Putri Donaliazarti Donaliazarti Dwi Amelisa Edwina Dwi Yulia Dwi yulia Dwitya Elvira Dwitya Elvira, Dwitya Effy Huriyati Efiariza, Nurul Navela Ega Purnamasari Eka Musmita Sabebegen Eka Nofita Elfira Yusri Elfira Yusri Elisda Yusra Ellyza Nasrul Ellyza Nasrul Elmatris Sy Elvinawaty Elvinawaty Endang Primawaty Harahap Endrinaldi Erni Rouza Erni Rouza, Erni Eryati Darwin Eryati Darwin Eti Yerizel Ety Yerizel Ety Yerizel Eugeny Alia Eva Chundrayetti Fachzi Fitri Fadhilaturrizqie Siregar Fadil Oenzil Fathiyyatul Khaira, Fathiyyatul Febria Prima Utari Fika Tri Anggraini Finny Fitry Yani Fiona Septi Mulya Firdawati Firdawati Fitrina, Dewi Wahyu Franesia - Dwirahmana Gestina Aliska Ghina Zartin Hanifah Maani Hanny Hafiar Harahap, Endang Primawaty Hardisman Harnavi Harun Hasibuan, Sukriadi Hasmiwati Hendra Permana Herman, Deddy Hidayat, Hedo Husni Husni Husni Husni Husni Husnil Kadri Ida Parwati Ida Rahmah Burhan Ihsan, Rafiq Ike Sri Redjeki Ikhsan Marzony Ilhamifithri Ilhamifithri Ilmiawati, Ilmiawati Ima Septia Indah Fitriani Indah Fitriani Indah Sulastuti, Katarina Indra Ihsan Isphandra Bakma Jacky Munilson Jacky Munilson Jamsari Jamsari Johannas Kartika Aulia Sari Kenny Lestari, Rahmi Lillah Lillah M. Daffa Almuzaki Malinda Meinapuri Mamik Widyastuti Masrul Basyar Masrul Basyar Masrul Syafri Mayetti Mayetti Mega Redha Putri Meri Wulandari Mira Purwinanty Mohamad Reza Mulya, Fiona Septi Nanda Oktavia Nanda Oktavia Nanda Oktavia Narlis Narlis Nasution, Irfan Sazali Nayla Raihani Malau Netti Suharti Nirza Warto Novialdi . Nur Afrainin Syah Nur Indrawati Lipoeto Nur Indrawaty Lipoeto Nuryanto Nuzulia Irawati Oktavia, Nanda Prihandani, Tuty Prima O Damhuri Puja, Annisa Fitria Putri Yuriandini Yulsam Putri, Andina Ayu Rahmadina, Rahmadina Rahmadina, Rahmadina Rahmatini . Raisa Putri Secioria Ramadhani, Jihan Rara Aulia Alzazira Raveinal Regina Ivanovna Rendi Dwi Prasetyo Reni Asprilia Reni Lenggogeni Reza , Mohamad Rikarni Rikarni Rike Puspasari Rismawati Yaswir Rismawati Yaswir Rismawati Yaswir Rizanda Machmud Rizqy Auliya Lubis Rossy Rosalinda Roza Kurniati Rudy Afriant Russilawati, Russilawati Sabebegen, Eka Musmita Saptino Miro Saputra, Riyadi Sari, Kartika Aulia Selfi Renita Rusjdi Setya Widyawati Silvia Rega Siti Nurhajjah Sofitri Sofitri Sri Vanny Suhirman Suchi Ilmi Herman Sukri Rahman Sunardi Susmiati Susmiati Syarifah Tridani Fitria Syofiati Syofiati Syofiati Syofiati Syofiati Syofiati Syofiati Trisuliandre, Muhammad Rizki Tuty Prihandani Ulti, Zifa Amanda Ulya Uti Fasrini Vanny Syafitri Vika Rahma Velina Wahid , Irza Yan Edward Yanni, Mefri Yessi Yestiani Yhosie Anto Chicamy Yosa, Nelvia Okta Yulia, Dwi Yulistini, Yulistini Yusrawati Yusrawati Yusri Dianne Jurnalis Yustini Alioes Zahira, Aisyah Dhia Zelly Dia Rofinda Zhuhra, Rahma Tsania Zurayya Fadila