Claim Missing Document
Check
Articles

Gambaran Kejadian Persalinan Disfungsional pada Pasien Anemia dalam Kehamilan di RSUP Dr. M. Djamil Periode 2010–2012 Mega Redha Putri; Joserizal Serudji; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.296

Abstract

AbstrakPersalinan disfungsional (distosia akibat kelainan tenaga) merupakan masalah persalinan dunia dan merupakan salah satu indikasi dilakukannya intervensi selama persalinan dengan tingkat kekerapan kejadian sebesar 4-40%. Persalinan disfungsional dapat disebabkan oleh anemia dalam kehamilan. Kekuatan kontraksi uterus atau his ibu hamil dengan anemia kurang dari normal, lemah dan dalam durasi yang pendek sehingga tidak cukup kuat untuk melahirkan janin dan ibu hamil akan cepat lelah, akibatnya persalinan dapat mengalami perlambatan atau terhenti. Semakin berat anemia, semakin berat manifestasi klinis yang muncul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kejadian persalinan disfungsional pada pasien anemia dalam kehamilan berdasarkan derajat anemia di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan data retrospektif bagian rekam medik RSUP. Dr. M. Djamil Padang periode 2010-2012. Data yang digunakan sebanyak 61 sampel. Hasil penelitian menunjukkan distribusi kejadian persalinan disfungsional paling tinggi pada anemia derajat ringan yaitu sebanyak 4 orang (8,7%), anemia derajat sedang sebanyak 1 orang (8,3%) dan anemia derajat berat 0%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat anemia dalam kehamilan tidak mempengaruhi angka kejadian persalinan disfungsional.Kata kunci: anemia dalam kehamilan, persalinan disfungsional, distosia, ibu hamil AbstractDysfunctional labor (dystocia due to abnormal labor) is a worldwide labor problem and one of the indications for intervention during labor with prevalence rate 4-40%. Dysfunctional labor can be caused by anemia in pregnancy. The strength of uterine contractions or his in pregnant women with anemia is less than normal, weak and short in duration so it is not strong enough to bear the fetus and the pregnant women will get tired, causing a slow or stopped. The more severe anemia, the more severe clinical manifestations appear. The objective of this study was to know the incidence of dysfunctional labor in patients with anemia on pregnancy based on the degree of anemia in Dr. M. Djamil Hospital Padang. This research was a descriptive study using retrospective data from medical record of Dr M. Djamil Hospital Padang on period 2010-2012. The samples used were 61 samples. The results showed the distribution of the high incidence of dysfunctional labor is mild anemia as many as 4 people (8.7%), on moderate anemia is 1 person (8.3%) and there is none on the severe degree (0%). The study shows that the degree of anemia in preganacy doesn’t affect the incidence of dysfunctional labor.Keywords: anemia in pregnancy, dysfunctional labor, dystocia, pregnant woman
Profil Klinis Pasien Fibrilasi Atrium di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 1 Januari – 31 Desember 2017 Alya Binti Azmi; Mefri Yanni; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i1S.1148

Abstract

Fibrilasi Atrium (FA) merupakan aritmia tersering di seluruh dunia dengan tingkat insidensi yang terus meningkat. Pasien FA secara umumnya memiliki kelainan struktural pada atrium. Terapi umum adalah antikoagulan untuk pencegahan stroke dan pengendalian laju dan irama jantung. Tujuan: Mengetahui profil klinis pasien FA di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 1 Januari sampai 31 Desember 2017. Metode: Ini adalah penelitian deskriptif. Data sekunder diambil dari rekam medik RSUP Dr. M. Djamil Padang pada November–Desember 2018 secara total sampling. Populasi penelitian adalah semua pasien FA di Instalasi Pusat Jantung Terpadu RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 1 Januari sampai 31 Desember 2017. Sampel penelitian adalah semua pasien FA yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Dari 56 sampel penelitian didapatkan proporsi laki-laki dan perempuan sama banyak (50,0%). Pasien dengan jenis FA valvular dan nonvalvular adalah sebanyak 50,0%. Mayoritas pasien FA usia ≥ 60 tahun (48,2%). Sebanyak 50,0% pasien mempunyai etiologi penyakit katup jantung. Pasien yang mempunyai komorbiditas penyakit ginjal kronik adalah sebanyak 25,0%. Keluhan terbanyak adalah sesak nafas (37,5%). Mayoritas pasien mempunyai skor CHA2DS2-VASc ≥ 2 (83,9%) dan skor HAS-BLED 0–2 (83,9%). Tatalaksana tersering dilakukan adalah terapi kendali laju (82,1%). Terapi antikoagulan yang sering diberikan pada pasien adalah jenis antikoagulan baru (57,1%). Komplikasi terbanyak adalah gagal jantung (82,1%).
Korelasi Kadar Adiponektin dengan Kadar Glukosa Puasa pada Penyandang Obes Isphandra Bakma; Rismawati Yaswir; Desywar Desywar; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i3.1340

Abstract

Akumulasi lemak tubuh abnormal dan berlebih pada obesitas menyebabkan low grade inflammation sel adiposit yang berkontribusi terhadap penurunan kadar adiponektin. Adiponektin berperan dalam metabolisme glukosa, sehingga kondisi hipoadiponektinemia dapat menyebabkan gangguan metabolisme glukosa. Tujuan: menentukan korelasi kadar adiponektin dengan kadar glukosa puasa pada penyandang obes. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik dengan rancangan potong-lintang terhadap 25 orang penyandang obes yang bekerja di Instalasi Laboratorium Sentral RSUP Dr. M. Djamil Padang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dilakukan mulai bulan September 2018 sampai September 2019. Kadar adiponektin diperiksa dengan metode Elisa two-step sandwich enzyme immunoassay dan kadar glukosa puasa diperiksa dengan metode heksokinase. Data dianalisis dengan uji korelasi Pearson, bermakna jika p<0,05. Hasil: Subjek penelitian terdiri dari laki-laki 8 orang (32,0%) dan perempuan 17 orang (68,0%). Rerata umur adalah 33,5 (6,0) tahun dengan rentang 23-52 tahun. Rerata indeks massa tubuh adalah 34,0 (3,6) kg/m2. Rerata kadar adiponektin adalah 2,8 (1,5) μg/mL dan rerata kadar glukosa puasa adalah 92,8 (11,4) mg/dL. Uji korelasi Pearson menunjukkan korelasi negatif lemah antara log-adiponektin dengan kadar glukosa puasa dan tidak bermakna secara statistik (r= -0,217, p= 0,298). Simpulan: Tidak terdapat korelasi kadar adiponektin dengan kadar glukosa puasa pada penyandang obes.Kata kunci: adiponektin, glukosa puasa, inflamasi adiposit, obesitas
Hubungan Karakteristik Klinis dengan Pemulihan Respons Imun Penderita HIV-1 yang Mendapat Terapi Antiretroviral di RSUP Dr. M. Djamil Padang Elisda Yusra; Efrida Efrida; Elmatris Sy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i3.899

Abstract

Beberapa faktor telah diteliti berhubungan dengan pemulihan respons imun penderita HIV, diantaranya faktor demografi, faktor klinis, dan faktor pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki hubungan karakteristik klinis dengan pemulihan respons imun penderita HIV-1 yang mendapat terapi antiretroviral di RSUP Dr. M. Djamil. Ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional dengan metode purposive sampling. Pemulihan respons imun dinilai dari jumlah sel T CD4 setelah ≥1 tahun terapi antiretroviral. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien HIV yang berobat di Poliklinik Voluntary Conseling and Testing (VCT) RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2010-2016. Besar sampel adalah sebanyak 70 penderita HIV. Hasil penelitian ini mendapatkan 40 subjek penelitian berada pada stadium III 85,9% dan stadium IV 71,4% tidak mengalami pemulihan respons imun. Riwayat koinfeksi lain sebanyak 68,6% tidak mengalami pemulihan respons imundiantaranya 13 subjek penelitian yang memiliki riwayat koinfeksi lain, 11 (84,6%) tidak terjadi pemulihan respons imun. Sebanyak 57 subjek penelitian yang tidak memiliki riwayat koinfeksi lain, sebanyak (64,9%) juga tidak terjadi pemulihan respons imun. Hasil uji Chi-Square didapatkan stadium klinis saat terdiagnosis (p=0,002), faktor risiko penularan (p=0,036), dan koinfeksi lain (p=0,204). Simpulan penelitian ini bahwa faktor-faktor yang terbukti berhubungan dengan pemulihan respons imun penderita HIV adalah stadium klinis saat terdiagnosis dan faktor risiko penularan, sedangkan yang tidak berhubungan adalah riwayat koinfeksi lain.
Gambaran Status Gizi Anak Talasemia β Mayor di RSUP Dr. M. Djamil Padang Dona Mirsa Putri; Fadil Oenzil; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.367

Abstract

Abstrak  Talasemia merupakan penyakit kronik yang membutuhkan transfusi setiap bulan, karena eritrosit lebih cepat lisis dibandingkan eritrosit normal. Komplikasi dan efek penyakit ini banyak, antara lain pertumbuhan, perkembangan, dan status gizinya. Penelitian ini bertujuan  mengetahui gambaran  status gizi anak talasemia β mayor Penelitian iniadalah penelitian deskriptif yang  dilakukan pada bulan Februari 2012 - Maret 2013 di RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan sampel anak talasemia β mayor. Pemeriksaan yang dilakukan adalah mengukur tinggi badan, berat badan, dan lingkar lengan. Hasil pemeriksaan dimasukkan dalam tabel persentil NCHS dan penilaian status gizi berdasarkanDepartemen Kesehatan Repubik Indonesia.Hasil penelitian ini terdapat 15 anak talasemia β mayor, dengan rata-rata umur kelompok 5-10 tahun. Frekuensi terbanyak indeks tinggi badan per umur yaitu 70%-90% (60%.). Frekuensi terbanyak indeks berat badan per umur adalah 60%-80% (66.7%). Frekuensi terbanyak indeks lingkar lengang atas per umur adalah 70%-85% (80%). Simpulan dari hasil penelitian status gizi anak talasemia β mayor adalah gizi kurang.Kata kunci: Status gizi, talasemia β mayorAbstract Thalassemia is a chronic disease who needs blood tranfusion every month because the abnormal erythrocyte has short life time compared with the normal erythrocyte. There are so many complications and effects of this disease, such as growth and nutritional status. The aim of this research is to describe chlidren's nutritional status with thalassemia beta major. This research is a descriptive research. It has been done since February 2012 - March 2013 at RSUP Dr.  M. Djamil Padang. The sampling is children with thalassemia beta major. The examination are stature, weight, and upper arm circumference and the result is entered into NHCS percentil and assessment of Nutritional based on health department of Indonesia. From this research, there are 15 children who are suffering thalassemia betamajor, and most of them is about 5-10 years old. The highest insident of stature per age index is 70-90% (60%). The highest insident of weight per age index is 60%-80% (66,7%). The highest insident of upper arm circumference per age is 70%-85% (80%).The conclusion of this research that the nutritional status children with thalassemia beta major is low nutrional.Keywords: nutritional status, thalassemia beta major
Korelasi Kadar Adiponektin dengan Kadar Kolesterol High Density Lipoprotein pada Penyandang Obes Fiona Septi Mulya; Efrida Efrida; Zelly Dia Rofinda
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v10i3.1716

Abstract

Adiponectin and HDL cholesterol have a protective cardiovascular effect. Adiponectin levels decrease in obese people. This causes ATP-binding cassette transporter A1 expression and apolipoprotein A-I synthesis in hepatocytes to decrease, resulting in impaired HDL cholesterol synthesis. Objectives: To determined the correlation between adiponectin levels with HDL cholesterol levels in obese. Methods: This was the analytic study with a cross-sectional design of 59 obese people who met inclusion and exclusion criteria at RSUP dr. M. Djamil Padang, from January to August 2019. Research subjects were grouped into two groups based on WHO Asia Pacific body mass index (BMI) classification. First-degree obesity group (25.0 £ BMI <30.0 kg/m2) and second-degree obesity group (BMI ≥ 30.0kg/ m2). Adiponectin levels were examined by the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method and HDL cholesterol levels by the enzymatic colorimetric method. Data analyzed by Pearson correlation test, significant if p <0.05. Results: Research subjects 59 people (17 men, 42 women), average age 35 (8.04) years. Adiponectin levels in the first-degree obesity group were higher than second-degree obesity group, with a mean difference between groups 1.03 μg/mL (CI: 95%: 0.14 - 1.92, p = 0.02). Results showed adiponectin levels positively correlated with HDL cholesterol levels of moderate strength (r = 0.45) and statistically significant (p = <0.001). The results of the population subanalysis show relatively similar patterns. First-degree obesity population (r = 0.55; p = 0.002), second-degree obesity population (r = 0.41; p = 0.026). Conclusions: Adiponectin levels correlate with HDL cholesterol levels.Keywords: adiponectin, HDL cholesterol, obesity
Perbandingan Nilai Hematokrit dan Jumlah Trombosit antara Infeksi Dengue Primer dan Dengue Sekunder pada Anak di RSUP. Dr. M. Djamil Febria Prima Utari; Efrida Efrida; Husnil Kadri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i1.789

Abstract

Virus dengue terdiri dari empat serotipe DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN 4. Infeksi dengue primer adalah infeksi pertama kali oleh salah satu dari empat serotipe virus yang ditandai dengan trombositopenia dan hemokonsentrasi. Infeksi sekunder adalah infeksi kedua oleh serotipe virus yang berbeda dari infeksi sebelumnya ditandai juga dengan trombositopenia dan hemokonsentrasi. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan nilai hematokrit dan jumlah trombosit antara infeksi dengue primer dan sekunder pada anak yang dirawat di RSUP. Dr. M. Djamil. Penelitian ini adalah penelitian retrospektif dengan pendekatan analitik komparatif tidak berpasangan yang dilakukan di Bagian Rekam Medik RSUP Dr. M. Djamil. Sampel dalam penelitian ini adalah data pasien DBD (Demam Berdarah Dengue) anak yang memenuhi kriteria inklusi berupa; usia < 18 tahun, mempunyai data umur, jenis kelamin, pemeriksaan nilai hematokrit, jumlah trombosit, dan serologis di rekam medik pasien. Sampel berjumlah 30 yang terdiri dari 15 sampel infeksi dengue primer dan 15 sampel infeksi dengue sekunder. Nilai hematokrit dan jumlah trombosit yang dijadikan data dalam penelitian ini adalah pemeriksaan hematokrit dan trombosit saat pasien masuk rumah sakit. Metode analisis perbandingan dilakukan dengan menggunakan uji t tidak berpasangan (unpaired t-test). Hasil penelitian ini menunjukkan nilai rerata hematokrit infeksi dengue primer 37%, lebih rendah dibandingkan dengue sekunder 42% dan terdapat perbedaan bermakna secara statistik (p<0,05). Jumlah rerata trombosit infeksi dengue primer 72.400 sel/mm3 , lebih tinggi dibandingkan dengue sekunder 51.733 sel/mm3, tetapi tidak berbeda bermakna secara statistik (p>0,05).
Pola Infeksi Oportunistik yang Menyebabkan Kematian pada Penyandang AIDS di RS Dr. M. Djamil Padang Tahun 2010-2012 Aghnia Jolanda Putri; Eryati Darwin; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.174

Abstract

AbstrakInfeksi oportunistik merupakan penyebab kematian utama pada 90% penyandang AIDS (Acquired Immuno-deficiency Syndrome). Peningkatan masif kematian akibat infeksi oportunistik meningkatkan angka mortalitas penyan-dang AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola infeksi oportunistik yang menyebabkan kematian pada penyandang AIDS di RS Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2010-2012. Penelitian retrospektif dilakukan di RS Dr. M. Djamil Padang terhadap rekam medik penyandang AIDS dengan penyebab kematian infeksi oportunistik pada tahun 2010-2012. Hasil penelitian disajikan menggunakan tabel. Sebanyak 31 subyek penelitian diteliti dari jumlah total 132 penyandang AIDS rawat inap. Kelompok umur tertinggi pada subyek penelitian adalah 25-34 tahun dengan lama rawat 1-36 hari. Subyek penelitian didominasi oleh laki-laki dengan perbandingan 3:1 terhadap perempuan. Infeksi oportunistik penyerta terbanyak adalah kandidiasis oral dan tuberkulosis. Pada hasil penelitian, didapatkan infeksi oportunistik penyebab kematian pada penyandang AIDS terbanyak adalah bronkopneumonia (9 orang) dan yang paling sedikit adalah meningitis dan bronkitis kronis (1 orang). Mekanisme sebab kematian terbanyak adalah syok sepsis dan yang paling sedikit adalah herniasi serebri. Kesimpulan hasil studi ini menunjukkan infeksi oportunistik utama yang menyebabkan kematian pada penyandang AIDS di RS Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2010-2012 adalah gangguan sistem respirasi seperti bronkopneumonia dan tuberkulosis. Syok sepsis merupakan mekanisme sebab kematian terbanyak.Kata kunci: infeksi oportunistik, AIDS, kematianAbstractOpportunistic infections (OI) are the leading cause of death in 90% of people living with AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). The massive increasing number of death from opportunistic infections contributes to AIDS. The study was conducted to determine distribution of opportunistic infections as cause of death to people living with AIDS in Dr. M. Djamil Padang hospital within 2010-2012. A retrospective study was conducted at Dr. M. Djamil Padang hospital towards people with AIDS whom died by opportunistic infections within 2010-2012. The results of study are presented using tables. A total of 31 subjects were selected from 132 hospitalized people with AIDS. The group age of subjects was 25-34 years old with range of length of stay 1-36 days. Subjects are dominated by men against women with 3:1 ratio. Oral candidiasis and tuberculosis is the main secondary opportunistic infections in this study. This study observed that the major opportunistic infection in people with AIDS as leading cause of death is bron-chopneumonia (9 patients) and the least are meningitis (1 patient) and chronic bronchitis (1 patient). Most of death me-chanisms are due to septic shock and less likely due to cerebral herniation. It can be concluded that the main oppor-tunistic infection that causes death in people with AIDS is caused by respiratory disease such as broncopneumonia and tuberculosis. Septic shock is the leading mechanism of cause of death among all.Keywords: opportunistic infections, AIDS, death
Korelasi Kadar Protein C-Reaktif dengan Rasio Kolesterol Total / HDL pada Penyandang Obes di RSUP Dr M Djamil Padang Nanda Oktavia; Ellyza Nasrul; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v10i2.1714

Abstract

C-reactive protein is an acute-phase protein produced by the liver in response to inflammation. Dyslipidemia can trigger the inflammatory reaction in the blood vessels, causing atherosclerosis. The ratio of total cholesterol/High Density Lipoprotein (HDL) is considered as one of the sensitive predictor lipid ratio for the cardiovascular disease risk factor. Objectives: To determined the correlation of C reactive protein between cholesterol levels with total cholesterol/HDL ratio in obese people. Methods: This study was an analytical study with a cross-sectional design of 59 people who met the inclusion and exclusion criteria at the RSUP Dr. M. Djamil Padang from January to September 2019. Research subjects consisted of first degree obesity (25.0 ≤IMT <30.0 kg/m2) and second degree (≥30.0 kg/m2). C reactive protein levels were measured as high-sensitivity C-reactive protein. Total cholesterol and HDL levels were measured using automated clinical chemicals with the enzymatic colorimetric method. Data were analyzed by Pearson, significant if p <0.05. Results: The study subjects were 59 people (17 men and 22 women) with an average age was 35 (8.04) years. CRP levels in stage II obesity were slightly higher than grade I, with a mean difference between groups of 0.26 mg/L (95% CI: -1.80-1.2; p=0.74). The average ratio of total cholesterol/HDL levels in the obese group I and II was 5.13 and 4.80 (p=0.93). The correlation showed a very weak positive (r=0.12) and was statistically not significant (p=0.35). The results of the subanalysis showed relatively similar patterns between the first-degree obesity population (r=0.10; p=0.58) and second-degree (r=0.16; p=0.41). Conclusion: There is no significant correlation between protein C-reactive and total cholesterol/HDL ratio.Keywords: Obesity, C-Reactive Protein, total cholesterol/HDL ratio
Kesesuaian Pemeriksaan Aglutinasi Lateks Dengan BTA Mikroskopis untuk Mengidentifikasi Pasien Tuberkulosis Prima O Damhuri; Netti Suharti; Efrida Efrida; Masrul Basyar; Andani E Putra
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i1S.1159

Abstract

Pemeriksaan aglutinasi merupakan teknik pemeriksaan yang sederhana, cepat, murah, dan tidak memerlukan keahlian kusus dalam pemeriksaannya. Uji aglutinasi lateks merupakan suatu pemeriksaan berdasarkan reaksi aglutinasi yang terbentuk akibat interaksi antara antigen dan antibodi. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan dilaboratorium kesehatan untuk mengidentifikasi Mycobacterium tuberculosis adalah pemeriksaan Bakteri Tahan Asam (BTA) mikroskopis. Tujuan: Mengetahui kesesuaian antara pemeriksaan aglutinasi lateks dan pemeriksaan BTA mikroskopis untuk mengidentifikasi pasien tuberkulosis. Metode: Penelitian ini merupakan uji diagnostik aglutinasi lateks menggunakan antibodi poliklonal dengan rangcangan crossectional. Pemeriksaan dilakukan terhadap 100 orang pasien suspek tuberkulosis di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari Januari 2018 sampai dengan Januari 2019. Sampel sputum direaksikan dengan reagen lateks dan diamati ada tidaknya terbentuk. Kesesuaian pemeriksaan uji aglutinasi lateks dibandingkan dengan pemeriksaan BTA mikroskopis. Hasil: Nilai koefisien kappa sebesar 0,473 (p=0,000) menunjukkan kesepatan antara pemeriksaan aglutinasi lateks dan BTA mikroskopis cukup (k 0,41-0,60). Simpulan: Uji aglutinasi lateks dengan pemeriksaan BTA mikroskopis untuk mengidentifikasi pasien tuberkulosis pada sampel sputum memiliki nilai kesepakatan yang cukup.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Ade Asyari Afriwardi Afriwardi Aghnia Jolanda Putri Akmal M. Hanif Al Hafiz Almurdi Almurdi Alya Binti Azmi Amirah Zatil Izzah Andani E Putra Andani Eka Putra Angela Lovena Anggun Hatika Riska Arnelis Arnelis Asman Manaf Asterina Asterina Atika Indah Sari Bakma, Isphandra Besri, Hanifa Zahra Bestari Jaka Budiman Chicamy, Yhosie Anto Desmawati Desmawati Desywar Desywar Desywar Desywar Desywar Desywar Desywar, Desywar Devi Gusmaiyanto Dia Rofinda, Zelly Dia Dian Eka Putri Dian Eka Putri, Dian Eka Dian Pertiwi Dian Pertiwi Dona Mirsa Putri Donaliazarti Donaliazarti Dwi Amelisa Edwina Dwi Yulia Dwitya Elvira, Dwitya Effy Huriyati Efiariza, Nurul Navela Ega Purnamasari Eka Musmita Sabebegen Eka Nofita Elisda Yusra Ellyza Nasrul Ellyza Nasrul Elmatris Elmatris Elmatris Sy Elvinawaty Elvinawaty Endang Primawaty Harahap Endrinaldi Eryati Darwin Eti Yerizel Ety Yerizel Eugeny Alia Fachzi Fitri Fadil Oenzil Fathiyyatul Khaira, Fathiyyatul Febria Prima Utari Finny Fitry Yani Fiona Septi Mulya Fitria, Syarifah Tridani Fitrina, Dewi Wahyu Hanifah Maani Hanny Hafiar Harahap, Endang Primawaty Hasmiwati Hendra Permana Herman, Deddy Husni Husni Husnil Kadri Ida Parwati Ike Sri Redjeki Ilhamifithri Ilhamifithri Ilmiawati, Ilmiawati Ima Septia Indah Fitriani Isphandra Bakma Jacky Munilson Jamsari Jamsari Kartika Aulia Sari Lestari, Rahmi Lillah Lillah Malinda Meinapuri Masrul Basyar Masrul Syafri Mefri Yanni Mega Redha Putri Mira Purwinanty Mohamad Reza Mulya, Fiona Septi Nanda Oktavia Narlis Narlis Netti Suharti Nirza Warto Novialdi . Nur Afrainin Syah Nur Indrawati Lipoeto Nur Indrawaty Lipoeto Nuzulia Irawati Oktavia, Nanda Prihandani, Tuty Prima O Damhuri Puja, Annisa Fitria Putri Yuriandini Yulsam Rahmadina, Rahmadina Rahmatini . Ramadhani, Jihan Regina Ivanovna Rendi Dwi Prasetyo Reni Lenggogeni Rikarni Rikarni Rike Puspasari Rismawati Yaswir Rizanda Machmud Rizqy Auliya Lubis Rossy Rosalinda Roza Kurniati Rudy Afriant Russilawati, Russilawati Sabebegen, Eka Musmita Saptino Miro Sari, Deswita Sari, Kartika Aulia Selfi Renita Rusjdi Siti Nurhajjah Sofitri Sofitri Suchi Ilmi Herman Sukri Rahman Syarifah Tridani Fitria Syofiati, Syofiati Trisuliandre, Muhammad Rizki Tuty Prihandani Ulya Uti Fasrini Vanny Syafitri Vika Rahma Velina Yan Edward Yulia, Dwi Yulistini, Yulistini Yusrawati Yusrawati Yusri Dianne Jurnalis Yusri, Elfira Yustini Alioes Zahira, Aisyah Dhia Zelly Dia Rofinda Zhuhra, Rahma Tsania