Claim Missing Document
Check
Articles

Kepadatan Nyamuk Anopheles spp. dan Korelasinya terhadap Faktor-Faktor Meteorologi di Desa Sungai Nyamuk, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara Sugiarto Sugiarto; Upik Kesumawati Hadi; Susi Soviana; Lukman Hakim
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.653 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.274

Abstract

Abstract Correlation between Man Biting Rate (MBT) and meteorologist factors is important to anticipate malaria case fluctuation. The aim of this study was to analyze the correlation between Anopheles spp. density and meteorologist factors in Sungai Nyamuk Village, a malaria endemic area in North Kalimantan. The density of Anopheles spp. was obtained from human landing collection (HLC) from 6 p.m to 6 a.m. Pearson product-moment was used to analyze the correlation between MBR and meteorologist factors. The results showed that rainfall was related to MBR and Anopheles density was related to malaria cases. However, temperature and humidity were not related to Anopheles density. Rainfall can be used as an indicator in an early warning system to anticipate malaria case fluctuation. Abstrak Korelasi antara angka menggigit Anopheles (man biting rate-MBR) dengan faktor-faktor meteorologi sangat penting untuk mengantisipasi fluktuasi kejadian kasus malaria. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi kepadatan Anopheles spp. dengan faktor-faktor meteorologi di Desa Sungai Nyamuk, daerah endemis malaria di Kalimantan Utara. Kepadatan nyamuk Anopheles spp. didapatkan dari umpan orang (human landing collection-HLC) (pengamatan 18.00-06.00). Pearson Product Moment Test digunakan untuk menganalisis korelasi antara angka menggigit Anopheles (MBR) dengan faktor-faktor meteorologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan mempunyai hubungan bermakna dengan kepadatan (MBR), sedangkan kepadatan Anopheles mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian kasus malaria. Suhu udara dan kelembaban tidak mempunyai hubungan bermakna dengan kepadatan Anopheles (MBR). Curah hujan dapat dijadikan sebagai salah satu indikator dalam penerapan sistem kewaspadaan dini untuk mengantisipasi fluktuasi kejadian kasus malaria.
Kajian Pengendalian Malaria di Provinsi Sumatera Utara dalam Upaya Mencapai Eliminasi Malaria Lukman Hakim; Upik Kesumawati Hadi; Sugiarto Sugiarto
Jurnal Vektor Penyakit Vol 12 No 1 (2018): Edisi Juni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.823 KB) | DOI: 10.22435/vektorp.v12i1.286

Abstract

Abstract North Sumatera province was the largest contributor to malaria positive cases for Sumatera island in 2016. This study aim was to analyze the malaria situation in North Sumatera, subsequently taken into consideration for the preparation of a strategic plan to achieve the elimination of malaria in the region. Malaria case data, figures on Slide Positivity Rate, Annual Parasite Incidence, and plasmodium species were derived fromthe entire districts and cities of the North Sumatera province. Data were collected from 2010 - 2016. The data were analyzed qualitatively or descriptively. The results showed the Annual Parasite Incidence in North Sumatera had tended to decline from 0.91 per 1000 population in 2010 to 0.27 per 1000 population in 2016. The results showed the number of Slide Positivity Rate increased from 8.80 % in 2010 to 17.06 % in 2013 but decreased to 8.71 % in 2016. Target elimination of malaria in North Sumatera (2020) can be achieved when the discovery of cases of malaria, such as the enhanced efforts in intensification and extension, followed by improvement of malaria case management and vector control. Abstrak Provinsi Sumatera Utara termasuk daerah malaria penyumbang terbanyak kasus positif malaria di Pulau Sumatera pada tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis situasi malaria di Provinsi Sumatera Utara, selanjutnya menjadi bahan pertimbangan untuk penyusunan rencana strategis dalam tercapainya eliminasi malaria di wilayah ini. Data kasus malaria, angka Slide Positivity Rate, angka Annual Parasite Incidence, jenis Plasmodium dan lainnya diperoleh dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Data dikumpulkan dari tahun 2010-2016. Analisis data dilakukan secara kualitatif atau descriptive analysis. Hasil penelitian menunjukkan saat ini angka Annual Parasite Incidence malaria di Provinsi SumateraUtara sudah cenderung menurun dari 0,91 per 1000 penduduk pada tahun 2010 menjadi 0,27 per 1000 penduduk pada tahun 2016. Namun, angka Slide Positivity Rate dari pada tahun 2010 mempunyai kecenderungan meningkat dari 8,80 % pada tahun 2010 meningkat terus sampai 17,06% pada tahun 2013, walaupun menurun lagi menjadi 8,71 % pada tahun 2016. Target eliminasi malaria di Sumatera Utara tahun 2020 dapat dicapai apabila penemuan kasus malaria, seperti upaya intensifikasi dan ekstensifikasi ditingkatkan, diikuti dengan perbaikan penatalaksanaan kasus, dan pengendalian vektor.
Ragam Spesies dan Karakteristik Habitat Nyamuk di Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan Supriyono Supriyono; Suriyani Tan; Upik Kesumawati Hadi
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 11 No 1 (2019): Jurnal Aspirator Volume 11 Nomor 1 2019
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1445.822 KB) | DOI: 10.22435/asp.v11i1.186

Abstract

Filariasis merupakan penyakit tular vektor yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria. Infeksi cacing ini selain mengakibatkan tingginya morbiditas dan kerugian sosial ekonomi, juga dapat menurunkan tingkat produktivitas masyarakat. Upaya pengendalian sudah dilakukan melalui program pengendalian vektor, namun belum maksimal. Hal ini disebabkan kurangnya informasi tentang bioekologi nyamuk vektor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah jenis nyamuk, kepadatan, perilaku, karakteristik habitat, dan peranannya dalam penularan filariasis. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan April 2015 di Desa Hamarung dan Desa Hukai, Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan. Penangkapan nyamuk dilakukan dengan metode Bare Leg Collection mulai dari pukul 18.00–06.00 WITA. Seluruh nyamuk hasil penangkapan diidentifikasi dan dibedah. Pengumpulan larva dilakukan pada habitat perkambangbiakan potensial. Hasil penelitian menemukan 15 spesies nyamuk yang terdiri dari lima genus yaitu Culex, Mansonia, Anopheles, Armigeres, dan Aedes. Lima jenis nyamuk yang banyak tertangkap adalah Cx. tritaeniorhynchus (36,80%), Cx. quinquefasciatus (29,60%), Ma. dives (11,73%), Ma. annulata (10,04%), dan Ma. uniformis (4,62%). Puncak aktivitas Cx. quinquefasciatus dan Cx. tritaeniorhynchus mengisap darah orang di kedua desa terjadi pada pukul 21.00–00.45. Berdasarkan jenis habitat, nyamuk genus Culex, Mansonia, dan Anopheles cenderung terdapat dalam satu habitat yaitu rawa. Hasil pembedahan nyamuk tidak ditemukan larva cacing filaria (L1, L2, L3).
Perilaku Nyamuk Mansonia dan Potensi Reservoar dalam Penularan Filariasis di Desa Gulinggang Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan Supriyono Supriyono; Suryani Tan; Upik Kesumawati Hadi
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 9 No 1 (2017): Jurnal Aspirator Volume 9 Nomer 1 2017
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.81 KB)

Abstract

Mansonia is the one of mosquitoes that can transmit filariasis in Indonesia. The research wasconducted to determine diversity of Mansonia in Gulinggang Village Balangan District South KalimantanProvince and the role of reservoir on transmitting filariasis. The research was conducted in January until Mei2015 with cross sectional data collection. Adult mosquitoes were collected by Bare Leg Collection method onthree houses, which have patients with positive filaria. Adult mosquitoes collecting were done in indoor andoutdoor start from 18.00-06.00. Blood sampling were done on cats that maintenance by the origin people toobserve of microfilaria. The result showed there were five species of Mansonia i.e. Ma. uniformis, Ma. dives,Ma. annulifera, Ma. annulata, and Ma. bonneae. Ma. uniformis was the most collected mosquitoes indoorbiting (37.99%), and Ma. dives was the most outdoor biting (56.80%). The biting activity of Ma. uniformiswas peak indoors at 18:00–18:45 and outdoor at 20:00–20:45. The biting activity of Ma. dives was peakoutdoor at 19:00-19:45. Eight from ten (80%) domestic cats were positive of microfilaria. Based on theresult, it was conclude that filariasis in Gulinggang village was supported by the existence of domestic catand the vectors.
Determinasi Strain Aedes aegypti (Linn.) yang Rentan Homozigot dengan Metode Seleksi Indukan Tunggal Isfanda Isfanda; Upik Kesumawati Hadi; Susi Soviana
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 9 No 1 (2017): Jurnal Aspirator Volume 9 Nomer 1 2017
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.991 KB)

Abstract

Aedes aegypti is a type of mosquito that can carry dengue virus, yellow fever and chikunguya. Thespread of this mosquito is very broad, covering almost all tropical regions worldwide. This study aims todetermine the vulnerability status of homozygous Ae. aegypti. Sample of Ae. aegypti is mosquito strain fromHealth Entomology Laboratory Bogor Institute of Agriculture and at random sampling. Ae. aegypti eggswhich comes from the breeders hatched separately. Insecticide‐treated paper (impregnated paper)malathion, bendiokarb and deltamethrin are use for insecticides testing using WHO test kit. The analysisshowed that the mosquito Ae. aegypti tested with a single sib‐selection method and were exposed to theinsecticide malathion, propoksur, and showed an increasing trend sipermetrin vulnerability homozygous ateach generation. As for the fourth generation (F4) has not shown changes into a strain that is homozygoussusceptible to three types of insecticides. The formation of homozygous susceptible strains take over fivegenerations.
Karakteristik Habitat dan Keberadaan Larva Aedes spp. pada Wilayah Kasus Demam Berdarah Dengue Tertinggi dan Terendah di Kota Tasikmalaya Muhammad Umar Riandi; Upik Kesumawati Hadi; Susi Soviana
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 9 No 1 (2017): Jurnal Aspirator Volume 9 Nomer 1 2017
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.564 KB)

Abstract

Dengue hemorrhagic fever is a vector-borne disease caused by dengue virus and transmitted by Aedes spp. controlling the mosquito population is currently the only means to prevent dengue outbreaks. The highest dengue case in Tasikmalaya City until July 2015 was in Cikalang village dan the lowest in Cibunigeulis village. This research was an observational study with a cross-sectional design with the aim to determine vector density and Aedes sp. presence risk factor based on habitat characteristic in the highest and lowest dengue cases regions. Aedes spp. breeding sites and their characteristic were examined indoor and outdoor at 100 house each in Cikalang dan Cibunigeulis village. The result showed that in Cikalang, larval presence was mostly found in a non-water-reservoir containers (18.4%), indoor (6.5%), made of cement/soil/rubber (11.1%), open lid (7.5%), <1 litre volume (14.6%), without draining (22.2%), without larvivorous fish (6.5%), with temephos poured (20.3%), and water company household water source (7,7%). As in Cibunigeulis larval habitats was mostly found in a non-water-reservoir containers (8.7%), indoor (0.9%), made of plastic/ceramic/metal/glass (0.9%), open lid (1.1%), <1 litre volume (4%), without draining (2.2%), without larvivorous fish (0.9%), without temephos poured (0.9%), and non-water company household water source (0.9%). Binary logistic regression analysis showed that household water source (p=0,021, OR=13,78) and drainage (p=0,001, OR=0,101) as a risk factor in Aedes larvae inhabit at Cikalang village and none for Cibunigeulis village. These results showed the importance effect of containers draining factor to the presence of Aedes spp. larvae in the highest dengue cases region.
Studi Epidemiologi dan Gambaran Program Eliminasi Filariasis Limfatik di Kabupaten Bogor Muhammad Nirwan; Upik Kesumawati Hadi; Susi Soviana; Surachmi Setyaningsih; Fadjar Satrija
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1206.961 KB) | DOI: 10.22435/asp.v12i2.2710

Abstract

Abstract. Filariasis is still a health problem in Bogor Regency. The discovery of filariasis sufferers has growing during the year since 2004 until now with a total of 117 people. The mass prevention drug administration program (POPM) has been implemented since 2015. This study aims to identify the epidemiological distribution of clinical filariasis sufferers and an overview of the achievement of filariasis elimination program in Bogor district. The research using descriptive design with a quantitative approach. The data in this study used secondary data from Bogor District Health Office and Bogor Central Bureau of Statistics. Data were analyzed descriptively and identify differences and relationships between variables used the chi-square test. The results of the study showed the epidemiological distribution of filariasis in Bogor Regency with predominantly female patients (59.8%) and productive age (36-45 years). The results from chi-square test showed that there was a significant difference between the age groups and theincidence of filariasis from year to year with a P value (0.000) <0.05, while the relationship between sex and the incidence of filariasis from year to year did not show a significant difference with the P value ( 0.07)>0.05. The spread of filariasis tends to fluctuate and continues to increase (75%). The results of the relationship test showed that there was no significant relationship between the number of cases and the level of family welfare with a P value (0.279)>0.05. The implementation of POPM, both treatment outcomes and treatment success rates, has exceeded the national target. Abstrak. Filariasis masih merupakan masalah kesehatan di Kabupaten Bogor. Penemuan penderita filariasis terus berkembang dari tahun ke tahun sejak tahun 2004 hingga sekarang dengan jumlah penderita sebesar 117 orang. Program pemberian obat pencegahan massal (POPM) telah dilaksanakan sejak tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengidentifikasi sebaran epidemiologi penderita filariasis klinis serta gambaran pencapaian program eliminasi filariasis di kabupaten Bogor. Desain penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dari dinas kesehatan Kabupaten Bogor dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor. Data dianalisis secara deskriptif dan untuk melihat perbedaan dan hubungan antar variabel digunakan uji chisquare. Hasil studi menunjukkan sebaran epidemiologi filariasis di Kabupaten Bogor dengan penderita dominan pada perempuan (59,8%) dan umur produktif (36-45 tahun). Hasil uji chi-square menunjukkan ada perbedaan signifikan antara kelompok umur dengan kejadian Filariasis dari tahun ke tahun dengan P value (0,000) < 0,05, sedangkan hubungan antara jenis kelamin dan kejadian Filariasis dari tahun ke tahun tidak menunjukkan perbedaan signifikan dengan P value (0,07) > 0,05. Penyebaran filariasis cenderung fluktuatif dan terus bertambah wilayahnya (75%). Hasil uji hubungan menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara jumlah kasus dengan tingkat kesejahteraan keluarga dengan P value (0,279) > 0,05. Pelaksanaan POPM baik angka capaian pengobatan dan angka keberhasilan pengobatan sudah melebihi dari target nasional.
Habitat Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai Vektor Potensial Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Ranomeeto Barat, Provinsi Sulawesi Tenggara Asti Tri Pramadani; Upik Kesumawati Hadi; Fadjar Satrija
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Aspirator Volume 12 Nomor 2 2020
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.426 KB) | DOI: 10.22435/asp.v12i2.3269

Abstract

Abstract. Dengue hemorrhagic fever (DHF) is still a problem in some countries, resulting in 390 million infections a year in the world. DHF vaccine has not found so the treatment is focused on vector controls. Entomological data describing the bio ecology of vectors in the region can help vector control diseases moreeffectively. The study aims at assessing distribution, characteristic and risk factors in the habitat of Aedes larvain the DHF endemic region of West Ranomeeto subdistrict of Southeast Sulawesi province. This study is ananalytic observational study with a sectional study approach. Data collection was carried out using singlelarva method in 600 houses by purposive sampling. Data analysis uses chi square’s descriptive analysis andlogistics multinomial regression. The result shows larva density in Sindangkasih higher than Jati Bali. Ae.aegypti dominated in Sindangkasih and Ae. albopictus dominated in Jati Bali. Buckets, dispenser tray,refrigerator tray, container made of cements and plastics and container with volume <1 L and 20-100 L arerisk factors affected the exixtence of larvae in Sindangkasih (p<0.05). Plastic containers and dark-coloredcontainer are risk factors that influence the larva’s existence in Jati Bali (p<0.05). Differences in charateristicsof the larvae affect mosquito oviposition in Sindangkasih and Jati Bali. Therefore, it is important to monitorvector populations dynamic and breeding mosquito to prevent outbreak. Abstrak. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit arbovirus yang masih menjadi masalah di beberapa negara dan mengakibatkan 390 juta orang terinfeksi per tahun di dunia. Belum ditemukannya vaksin DBD, penanganan difokuskan pada pengendalian vektor. Data entomologi yang menggambarkan bioekologi vektor di wilayah dapat membantu pengendalian penyakit tular vektor lebih efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi, karakteristik serta faktor risiko habitat larva Aedes spp di daerah endemis DBD Kecamatan Ranomeeto Barat Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Pengumpulan data dilakukan dengan single larva method di 600 rumah secara purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif chi square dan regresi logistik multinomial. Hasilnya menunjukan kepadatan larva di Sindangkasih lebih tinggi daripada Jati Bali. Ae. aegypti mendominasi di Sindangkasih dan Ae. albopictus mendominasi di Jati Bali. Ember, tatakan dispenser, penampungan air pada kulkas, wadah berbahan semen dan plastik, serta wadah bervolume air >1 L dan 20-100 L merupakan faktor risiko yang memengaruhi keberadaan larva di Sindangkasih (p<0,05). Wadah berbahan plastik dan wadah berwarna gelap merupakan faktor risiko yang memengaruhi keberadaan larva di Jati Bali (p<0,05). Adanya perbedaan karakteristik habitat larva yang memengaruhi perilaku oviposisi nyamuk di Sindangkasih dan Jati Bali. Oleh karena itu, penting dilakukan pemantauan dinamika populasi vektor, dan perkembangbiakan nyamuk untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus.
Potency of Cockroaches (Periplaneta americana and Blattella germanica) as Vector of Salmonellosis on Ships in Baubau Port Adi Supryatno; Sri Murtini; Upik Kesumawati Hadi
Jurnal Riset Veteriner Indonesia (Journal of The Indonesian Veterinary Research) VOLUME 2 NO. 2, JULY 2018
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jrvi.v2i2.4515

Abstract

ABSTRACT Cockroaches are insects that act as mechanical vectors of pathogenic agents to humans such as Salmonella sp. The aim of this study was to identify the presence of Salmonella sp. in cockroach bodies on cargo and passenger ships. This research was conducted at Baubau Port from October to December 2017. A total of 24 ships were examined consisting of 12 passenger ships and 12 cargo ships. Cockroaches were collected from rooms inside each ship namely galley, bridge, deck and bathroom. A total of 3 196 cockroaches caught consisting of Periplaneta americana (69.50%), Blattella germanica (29.60%), Periplaneta brunnea (0.66%), Pseudophorapsis sp. (0.03%), Pycnoscelus surinamensis (0.03%), Periplaneta australasiae (0.03%), and Neuphoeta cinerea (0.03%). The presence of Salmonella sp. were examined for cockroach species with a large number of population, namely Periplaneta americana and Blattella germanica. A total of 95.3% of the 42 cockroaches examined in the laboratory contained Salmonella sp.. Based on this research it can be concluded that the cockroaches collected from the ships leaning at Baubau Port can serve as a vector of salmonellosis for both ship crew and passengers. Keywords: Cockroaches, Ships, Salmonella sp, Salmonellosis
FORMULASI LARVASIDA NABATI BERBASIS MINYAK BIJI KAMANDRAH (Croton tiglium L.) TERSTANDAR SEBAGAI PENCEGAH PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE Evul Winoto; Dyah Iswantini; Irmanida Batubara; Upik Kesumawati Hadi
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 2 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v24n2.2013.%p

Abstract

ABSTRAKKamandrah (Croton tiglium L.) merupakan tanaman obat yang banyak terdapat di Kalimantan. Biji kamandrah banyak dimanfaatkan sebagai obat pencahar, racun ikan, dan pembunuh jentik nyamuk. Penelitian ini bertujuan mendapatkan formula minyak biji kamandrah untuk larvasida nabati yang efektif, aman dan mendapatkan minyak kamandrah terstandar sebagai bahan baku larvasida nabati. Analisis fisiko kimia minyak biji kamandrah hasil budidaya di Sukabumi memberikan hasil kadar air 0,33%, keasaman 0,09%, viskositas 4,1 cP, berat jenis 0,9425 g ml-1, indeks bias 1,4788 serta kadar asam lemak bebas 1,65%. Hasil uji ini lebih baik dibanding dengan tanpa budidaya dari Kalimantan dan Sukabumi. Uji menggunakan spektrofotometri menunjukkan kandungan piperine minyak biji kamandrah hasil budidaya Sukabumi sebesar 0,046%; tanpa budidaya dari Sukabumi dan Kalimantan masing-masing 0,043% dan 0,037%. Kandungan piperine berpengaruh terhadap hasil uji efikasi larva nyamuk Aedes aegypti instar III, nilai LC50 pengamatan 24 jam minyak kamandrah hasil budidaya Sukabumi sebesar 114,4 ppm, minyak kamandrah tanpa budidaya dari Sukabumi dan Kalimantan masing-masing 125,2 dan 212,9 ppm. Formulasi larvasida metode granulasi basah terhadap minyak biji kamandrah hasil budidaya Sukabumi menunjukkan, kandungan minyak kamandrah 15% dengan emulsifier gom arab memberikan hasil paling efektif dengan nilai LC50 24 jam sebesar 210,01 ppm. Uji stabilitas formula larvasida nabati minyak biji kamandrah yang disimpan pada temperatur 30, 40 dan 50oC selama 28 hari menunjukkan tidak ada perubahan fisik pada granul. Selama penyimpanan terjadi peningkatan kandungan piperine dalam formula larvasida antara 0,6-234%. Uji durabilitas formula larvasida terhadap larva A. aegypti menunjukkan penurunan potensi larvasida sampai di bawah 50% pada hari ke 12 setelah aplikasi. 
Co-Authors . Sugiarto Adi Riyadhi Adi Supryatno Affan Zufar Agus Setiyono Agustin Indrawati Al Kholik, Idho Anugrah Alya, Syifa Amalan Tomia Ambar Retnowati Ambar Retnowati Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Angga Puji Nugraha April Hari Wardhana Apriyanto Apriyanto Ari Tjahyadi Rafiuddin ARSHI Veterinary Letters FKH IPB ASEP SAEFUDDIN Asti Tri Pramadani Aulia Andi Mustika Azery Bin Kamiring Bayu Febram Prasetyo Bina Ikawati Bina Ikawati Daowen Zhang Darminto . Darminto . Dimas Novianto Dimas Novianto Djumali Mangunwidjaja Dwi Astuti Dwi Djayanti Gunandini Dwi Jayanti Gunandini Dyah Iswantini Dyah Widiastuti Dyah Widiastuti Eko Prasetyo Nugroho Elok Budi Retnani Etih Sudarnika Ety Rahmawati Evul Winoto Evul Winoto Fadilla, Zahara Fadly Rian Saputra Fahmi Khairi Fahmi Khairi Handoko Handoko Handoko Handoko IETJE WIENTARSIH Imam Hanafi Indrawati Sendow Indrawati Sendow Irmanida Batubara Isfanda Isfanda Isna Lailatur Rohmah Isra Wahid jek managerxot Jodi Vanden Eng Jusniar Ariati Kedang, Virgilius Martin Kelake Kermelita, Deri Khairi, Fahmi Lisa Hidayati Lukman Hakim Lukman Hakim Lukman Hakim Lukman Hakim Lukman Hakim Lukman Hakim Lukman Hakim Lukman Hakim Martin Malole Mila Karmila Mirnawati Sudarwanto Muhammad Nirwan Muhammad Umar Riandi Ni Putu Indah Purnami Nirwan, Muhammad Noper Tulak Novianto, Dimas Pratitis S Wibowo Pratitis S Wibowo Puguh Wahyudi Rahayu, Jasti Rahminiwati, Min Rianto, Rama Adi Rini Hidayati Risa Tiuria Riski Muhammad Rita Kusriastuti Rizaldi Boer Rosihan Rosman Safika S, Safika Singgih Harsoyo Sigit Singgih Harsoyo Sigit Sjafrida Manuwoto Sophia, Hana Faizah sri murtini . Sri Nur Rahmi Nur Rustam Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sugiarto Sumiati Tomia Supriyono Supriyono Supriyono, Supri Surachmi Setiyaningsih Surachmi Setyaningsih Surachmi Setyaningsih Suriyani Tan Suryani Tan Susan M Noor Susan M Noor Susi Soviana Syarif Hidayat Syifa Alya Syifa Alya Tatty Syafriati Tri Ramadhani Tri Ramadhani Umi Cahyaningsih Uus Saepuloh Vina Yuliani, Vina Virgilius Martin Kelake Kedang Wendi Afriyanda William A. Hawley Winarto, Tytha Nadhifa Wiwin Winarsih Yanri Rizky Natanael Simangunsong Yonny Koesmaryono Zubaidah Irawati Zubaidah Irawati