Claim Missing Document
Check
Articles

The Impact of Clinical Pathway Application on The Quality and Quantity of Antibiotic Use in Inpatient Patients With Tyfoid Fever at Fmc Bogor Hospital Gandes Winarni; Shirly Kumala; Hesty Utami R
Contagion: Scientific Periodical Journal of Public Health and Coastal Health Vol 4, No 2 (2022): CONTAGION
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/contagion.v4i2.14921

Abstract

Typhoid fever is a global health problem, especially in developing countries, one of which is Indonesia. The incidence of resistance to the use of antibiotics in the treatment of typhoid fever can occur due to inappropriate use of antibiotics. This study aims to determine the impact of the application of clinical pathways on the quality and quantity of antibiotic use in typhoid therapy at FMC Bogor Hospital. This research is a descriptive analytic study conducted retrospectively which was analyzed using the Gyssens and ATC/DDD methods. The research data was taken from patient medical records for the period January-December 2018 and January-December 2020 which met the inclusion criteria. The results showed that from 115 medical records of typhoid fever patients, ceftriaxone was used as the most widely used antibiotic for typhoid therapy. The quality of antibiotic use as much as 40% was declared rational before the use of clinical pathways and as much as 57.3% after the use of clinical pathways (category 0), while the other 60% were irrational (categories I-VI) and after CP as much as 42.7% were included in category 0, the rest fall into the irrational category (Categories I-VI) which includes the use of antibiotics that are not appropriate for the administration interval, the use of antibiotics that are too long, the use of antibiotics that are too short, there are other antibiotics that are more effective, and there are other antibiotics that are less toxic /safer. The quantity of antibiotic use was stated to exceed WHO standards, namely the use of ceftriaxone by 81 DDD/100 patient days before the clinical pathway and 92.4 DDD/100 patient days after the clinical pathway. Based on the results of statistical tests, it was obtained 1) There were differences in the quality of antibiotic use between before and after the implementation of the clinical pathway in inpatients with typhoid fever at FMC Bogor Hospital; 2) There are differences in the quantity of antibiotic use between before and after the implementation of the clinical pathway in inpatients with typhoid fever at FMC Bogor Hospital. The results of this study are expected to be a consideration for the hospital as material for evaluation and improvement in order to increase the rationality of using antibiotics.
PERBANDINGAN AKTIVITAS TABIR SURYA DAN ANTIOKSIDAN : EKSTRAK ETANOL 70% DAN 96% DARI RIMPANG BANGLE (Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.,): COMPARISON OF SUNSCREEN AND ANTIOXIDANT ACTIVITIES: 70% AND 96% ETHANOL EXTRACT FROM BANGLE (Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.,) RHIZOME Nur Aji; Shirly Kumala; Esti Mumpuni; Deni Rahmat
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i2.557

Abstract

Rimpang Zingiber montanum memiliki potensi sebagai antioksidan dan tabir surya. Pelarut etanol merupakan pelarut yang diijinkan dalam pembuatan ekstrak untuk bahan obat tradisional. Etanol 70% dan 96% lazim digunakan dalam proses ekstraksi namun belum diketahui bagaimana pengaruh kedua konsentrasi etanol terhadap kandungan senyawa aktif dan aktivitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan karakteristik,  aktivitas antioksidan, dan tabir surya dari ekstrak Z. montanum yang dimaserasi dengan pelarut etanol 70% dan 96%. Penelitian ini menggunakan metode komparatif kuantitatif. Penelitian dibagi dalam tiga tahap, yaitu :  uji parameter ekstrak, aktivitas antioksidan, dan tabir surya. Data aktivitas antioksidan dan tabir surya antara ekstrak Z. montanum dengan pelarut etanol 70 dan 96% dilakukan uji banding dengan t-tes. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak, kadar fenol total, dan kadar kurkuminoid total dari ekstrak etanol 96% memiliki nilai yang lebih tinggi. Aktivitas antioksidan walaupun memiliki aktivitas sangat kuat, kedua ekstrak berbeda signifikan (t hitung > t tabel)  antara ekstrak etanol 70%  memiliki nilai konsentrasi hambatan 50% (IC50) 11,25 µg/mL, sedangkan ekstrak etanol 96%  sebesar 11,67 µg/mL. Aktivitas tabir surya kedua ekstrak tidak berbeda secara signifikan (t hitung < t tabel)  dengan nilai SPF tertinggi pada konsentrasi 100 µg/mL dengan kategori daya proteksi tinggi. Semua parameter ekstrak menunjukkan ekstrak etanol 96% memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol 70%. Aktivitas antioksidan kedua ekstrak memiliki nilai yang berbeda signifikan, walaupun keduanya memiliki aktivitas sangat kuat. Sedangkan aktivitas tabir surya keduanya tidak berbeda signifikan. Kata kunci : Zingiber montanum, Antioksidan, Tabir Surya, Etanol 70%, Etanol 96%
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK METANOL 80% BLACK GARLIC TUNGGAL SEBAGAI ANTIHIPERURISEMIA TERHADAP TIKUS: EFFECTIVENESS TEST OF 80% METHANOL EXTRACT SINGLE BULB BLACK GARLIC AS AN ANTIHYPERURICEMIC IN RATS Abdul Aziz Setiawan; Shirly Kumala; Dian Ratih L.; Nancy Dewi Yuliana; Rochimah; Saru Noliqo Rangkuti
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i2.755

Abstract

Black garlic tunggal (BG) adalah produk fermentasi bawang putih tunggal pada suhu, dan kelembaban terkontrol selama 29 hari, sehingga mengalami reaksi Maillard. Penelitian terkait efektivitas antihiperurisemia BG belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antihiperurisemia dari ekstrak metanol 80% BG. Metodologi penelitian bersifat eksperimental berupa studi in vivo, hewan uji yang digunakan yaitu tikus putih jantan galur Sprague Dawley, dibagi menjadi 6 kelompok, kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif (Allopurinol 27 mg/kg BB tikus), kelompok perlakuan ekstrak metanol 80% BG dosis 62,5 mg/kg BB, 125 mg/kg BB, dan 187,5 mg/kg BB tikus. Sampel uji dan kontrol diberikan secara peroral selama 7 hari berturut-turut, lalu hari ke-8 diinduksi kalium oksonat secara intraperitonial dan pengambilan darah melalui sinus orbital, kemudian dilakukan pengujian dan dianalisis dengan oneway ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan kelompok kontrol positif dan perlakuan I, II, III ekstrak metanol 80% black garlic tunggal mempunyai rata-rata sebesar 2,63; 3,99; 3,60 dan 2,75 mg/dl. Hasil Post Hoc LSD menunjukkan kelompok kontrol positif tidak memiliki perbedaan bermakna dengan kontrol normal dan ekstrak metanol 80% BG dosis 187,5 mg/kg BB tikus. Kesimpulan penelitian ini adalah studi in vivo ekstrak metanol 80% BG hari ke-29 mempunyai efektivitas sebagai antihiperurisemia pada tikus galur Sprague dawley. Kata Kunci: Black garlic tunggal, persen kadar asam urat, antihiperurisemia
Aktivitas Antioksidan Metabolit Sekunder Kapang Endofit daun tanaman Bawang Dayak (Eleutherine Americana (Aubl.) Merr.) secara In Vitro Shirly Kumala; Gabriel Gabriel
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4464.183 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v11i2.37

Abstract

Tanaman bawang dayak (Eleutherine Americana (Aubl.) Merr.) merupakan tanaman obat yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Metabolit sekunder yang berkhasiat sebagai antioksidan dapat diperoleh dengan membutuhkan banyak tanaman bawang Dayak. Oleh karena itu dicari alternative lain dengan memanfaatkan mikroba endofit sebagai sumber metabolit sekunder yang akan membuat produksi bahan baku obat alam lebih efisien dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji metabolit sekunder kapang endofit daun bawang dayak yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Metode penelitian ini menggunakan teknik inokulasi tanam langsung pada permukaan media pertumbuhan PDA (Potato Dextrose Agar). Identifikasi morfologi kapang dilakukan secara makroskopik (visual) dan mikroskopik (slide culture). Hasil isolasi kapang endofit ini didapatkan 4 isolat. Isolat difermentasi dengan metode goyang kemudian diekstraksi dengan pelarut etil asetat. Ekstrak yang diperoleh, dilanjutkan dengan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode peredaman radikal bebas DPPH, Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa ekstrak etil asetat metabolit sekunder dari keempat isolat berpotensi sebagai antioksidan Ekstrak Etil asetat dari isolat d.IEP.1.2 memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dengan nilai IC50 terendah yaitu 82,9750 µg/mL.
Benchmarking Kondisi Industri Bahan Baku Obat di Dunia Anwar Wahyudi; Iha Haryani Hatta; Shirly Kumala
Sanskara Ekonomi dan Kewirausahaan Vol. 1 No. 03 (2023): Sanskara Ekonomi dan Kewirausahaan (SEK)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/sek.v1i03.149

Abstract

Pengembangan industri bahan baku obat perlu melihat berbagai aspek penting dalam rangka mendapatkan pembelajaran penting untuk mengembangankan industri didalam negeri. Kunci keberhasilan dibeberapa negara dapat menjadi contoh berharga dan tahapan yang harus dipelajari untuk diterapkan dalam negara-negara berkembang. Metode yang diterapkan deskriptif komparatif, hal ini ditujukan untuk memberikan gambaran secara lengkap dan komprehensif dari setiap negara yang melakukan pengembangan industri bahan baku obat. Hasil akhirnya memberikan suatu gambaran bahwa terdapat empat komponen penting yang berperan dan perlu menjadi perhatian dalam proses pengembangan industri bahan baku obat yaitu 1) Pemerintah, 2) Pasar, 3) Lembaga riset dan 4) Investasi.
Analysis of The Effect of Chronic Disease Management Program (Prolanis) on Patient Satisfaction Level for Hypertensive Patients at Baros Health Center and Rangkasbitung Health Center in Lebak Regency, Banten Province Restu Restiani; Shirly Kumala; Prih Sarnianto
Daengku: Journal of Humanities and Social Sciences Innovation Vol. 3 No. 5 (2023)
Publisher : PT Mattawang Mediatama Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35877/454RI.daengku1935

Abstract

In order to overcome hypertension which has become a serious public health problem, the Government through BPJS Health is taking a proactive approach. One of them is by involving first-level health facilities (FKTP), especially Health centers, to carry out promotive and preventive efforts known as the Chronic Disease Management Program (Prolanis). Prolanis' goal is to encourage people with chronic diseases, for example, hypertension, to achieve an optimal quality of life so as to prevent complications. This study aims to find out that the implementation of Prolanis can indeed increase patient satisfaction with mild and moderate hypertension at the Health center so that it is feasible to be funded by BPJS Health by knowing the characteristics and satisfaction of hypertensive patients at two Puskesmas, namely the Baros Health Center which has implemented Prolanis and the Rangkasbitung Health Center which has not implemented Prolanis. Data were obtained through questionnaires distributed to hypertensive patients in two health centers, namely the Baros Health Center and Rangkasbitung Health Center. The independent variables used in the study are patient characteristics Meanwhile, the dependent variable is patient satisfaction. Data were analyzed by means of different test analyses using SPSS version 23.0. The results showed that the characteristics of the patients were different for the Baros Health Center and Rangkasbitung Health Center. Judging from satisfaction based on its characteristics, age has different satisfaction both at the Baros Health Center and at the Rangkasbitung Health Center. Judging from the patient's satisfaction related to knowledge and also Prolanis services in general for the Baros Health Center area it is higher (satisfied) and similarly, the blood pressure is more controlled compared to the Rangkasbitung Health Center.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA KIMIA ANTI VARICELLA ZOSTER DARI DAUN PETAY (Parkia speciosa Hassk.) Sofyan Ramani; Shirly Kumala; Partomuan Simanjuntak
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 7, No 1 (2018): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v7i1.753

Abstract

Senyawa kimia dari daun petay (Parkia spesiosa Hassk.) yang berpotensi sebagai anti varicellazoster virus (VZV) telah diisolasi dan ditentukan struktur kimianya. Isolasi dilakukan dengan caramaserasi daun petay dengan etilasetat dan pemurnian dengan kromatografi kolom ( SiO2 : n-heksan –etilasetat 10 : 1 sampai 2 : 1) memberikan isolat murni yang berbentuk kristal berwarna putih.Berdasarkan interpretasi data spektrometer UV, IR, 1HNMR, MS dan membandingkan dengan data1HNMR, senyawa tersebut ditetapkan sebagai senyawa ‘Taraxerol’ C30H50O BM 426,16.
FORMULASI GEL KOMBINASI EKSTRAK KERING LIDAH BUAYA (Aloe vera. (L) brum. f.) DAN EKSTRAK KENTAL DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum ruiz & pav) UNTUK ANTIBAKTERI PENYEBAB JERAWAT . Suhaimi; Teti Indrawati; Shirly Kumala
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v3i2.67

Abstract

Ekstrak kering lidah buaya dan ekstrak kental daun sirih merah mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan fenol yang mempunyai aktivitas sebagai antibakteri penyebab jerawat. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi sediaan gel antibakteri penyebab jerawat kombinasi ekstrak lidah buaya dan ekstrak kental daun sirih merah yang stabil secara fisik, kimia dan mikrobiologi serta memiliki efektivitasnya. Formulasi gel kombinasi esktrak kering lidah buaya dan ekstrak kental dan sirih merah sebanyak 4 formula menggunakan gelling agent, carbophol serta bahan tambahan lainnya. Sediaan yang dihasilkan dievaluasi dan diuji aktivitasnya. Evaluasi sediaan meliputi pemeriksaan organoleptis, homogenitas, uji kemampuan menyebar, viskositas, sifar alir, pH dan uji mikrobiologi. Uji aktivitas meliputi pertumbuhan terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus. Hasil evaluasi didapatkan formula terbaik yaitu formula 1 yang mengandung 1,56 % kombinasi ekstrak kering lidah buaya dan ekstrak kental daun sirih merah kemudian di uji stabilitas pada suhu kamar (25-30oC) dan suhu 60oC selama 3 minggu. Hasil uji stabilitas menunjukan tidak ada perbedaan yang signifikan selama penyimpanan.
PERBANDINGAN AKTIVITAS TABIR SURYA DAN ANTIOKSIDAN : EKSTRAK ETANOL 70% DAN 96% DARI RIMPANG BANGLE (Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.,): COMPARISON OF SUNSCREEN AND ANTIOXIDANT ACTIVITIES: 70% AND 96% ETHANOL EXTRACT FROM BANGLE (Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.,) RHIZOME Nur Aji; Shirly Kumala; Esti Mumpuni; Deni Rahmat
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i2.557

Abstract

Rimpang Zingiber montanum memiliki potensi sebagai antioksidan dan tabir surya. Pelarut etanol merupakan pelarut yang diijinkan dalam pembuatan ekstrak untuk bahan obat tradisional. Etanol 70% dan 96% lazim digunakan dalam proses ekstraksi namun belum diketahui bagaimana pengaruh kedua konsentrasi etanol terhadap kandungan senyawa aktif dan aktivitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan karakteristik,  aktivitas antioksidan, dan tabir surya dari ekstrak Z. montanum yang dimaserasi dengan pelarut etanol 70% dan 96%. Penelitian ini menggunakan metode komparatif kuantitatif. Penelitian dibagi dalam tiga tahap, yaitu :  uji parameter ekstrak, aktivitas antioksidan, dan tabir surya. Data aktivitas antioksidan dan tabir surya antara ekstrak Z. montanum dengan pelarut etanol 70 dan 96% dilakukan uji banding dengan t-tes. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak, kadar fenol total, dan kadar kurkuminoid total dari ekstrak etanol 96% memiliki nilai yang lebih tinggi. Aktivitas antioksidan walaupun memiliki aktivitas sangat kuat, kedua ekstrak berbeda signifikan (t hitung > t tabel)  antara ekstrak etanol 70%  memiliki nilai konsentrasi hambatan 50% (IC50) 11,25 µg/mL, sedangkan ekstrak etanol 96%  sebesar 11,67 µg/mL. Aktivitas tabir surya kedua ekstrak tidak berbeda secara signifikan (t hitung < t tabel)  dengan nilai SPF tertinggi pada konsentrasi 100 µg/mL dengan kategori daya proteksi tinggi. Semua parameter ekstrak menunjukkan ekstrak etanol 96% memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol 70%. Aktivitas antioksidan kedua ekstrak memiliki nilai yang berbeda signifikan, walaupun keduanya memiliki aktivitas sangat kuat. Sedangkan aktivitas tabir surya keduanya tidak berbeda signifikan. Kata kunci : Zingiber montanum, Antioksidan, Tabir Surya, Etanol 70%, Etanol 96%
OPTIMASI RASIO VOLUME PELARUT DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP RENDEMEN EKSTRAK BATANG KECOMBRANG (Etlingera eltior) SERTA PROFIL METABOLIT SEKUNDER MENGGUNAKAN LC-MS/MS: EFFECT OF SOLVENT VOLUME RATIO AND TIME OF EXTRACTION ON THE YIELD EXTRACT OF KECOMBRANG STEM (Etlingera elatior) AND SECONDARY METABOLITE PROFILING USING LC-MS/MS Syilvi Adini; Shirly Kumala; Siswa Setyahadi; Sofi Nurmay Stiani; Yusransyah
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i1.713

Abstract

Kecombrang (Etlingera elatior) merupakan salah satu tanaman asli Indonesia yang digunakan sebagai obat. Walaupun semua bagian tanaman ini dapat dimanfatkan, bagian batang merupakan yang paling banyak digunakan sebagai obat.  Metabolit sekunder yang terkandung dalam batang kecombrang memiliki banyak aktivitas farmakologi. Proses ekstraksi metabolit sekunder dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah volume pelarut dan waktu ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio volume pelarut dan waktu ekstraksi optimal pada proses ekstraksi batang kecombrang yang memberikan rendemen tertinggi dan untuk mengetahui profil metabolit sekunder yang terkandung di dalamnya. Batang kecombrang dimaserasi dengan metode maserasi kinetik menggunakan pelarut metanol dengan rasio volume pelarut 1:10, 1:20 dan 1:30 selama 60 menit. Kemudian hasil rendemen tertinggi dari variasi volume pelarut dioptimasi lebih lanjut menggunakan variasi waktu ekstraksi 15, 30, 60, 90, 120 dan 180 menit. Pengujian profil metabolit sekunder dilakukan menggunakan LC-MS/MS. Hasil optimasi menunjukan bahwa volume pelarut dengan rendemen tertinggi terdapat pada rasio 1:30 dan variasi waktu pada menit ke 120 menit. Esktrak metanol batang kecombrang menunjukkan adanya senyawa biondinin A, methyl kushenol C, trichosanic acid dan malvalic acid. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi optimal ekstraksi batang kecombrang adalah pada rasio volume pelarut 1:30 selama 120 menit dan profil metabolit sekundernya biondinin A, methyl kushenol C, asam punisik dan asam malvalic. Kata kunci: Batang kecombrang, optimasi, rendemen, LC-MS/MS
Co-Authors . Desi . Suhaimi . Syamsudin . Yuliani Abdul Aziz Setiawan Adini, Syilvi Ahmad Subhan Aji, Nur Anwar Wahyudi Anwar, Yelfi Ariyani Kiranasari Ariyani Kiranasari Armansyah, Septiyana Lia Atut Ruswita Aulena, Desi Nadya Ayuditiawati, Meita Bekti, Novi Dyah Purnama Bekti, Novi Dyah Purnama Datubara, Martaulina Elisabet Delina Hasan Deni Rahmat Dian Indriani Dian Ratih L. Didik Tulus Dimas Adrianto Dosi Ahmad Yani Dwi Aryanti, Anindita Dwi Fitriyani, Dwi Dwi Hapsari Juniarti Dwi Windi Sapitri Elvina Dhiaul Iftitah Erlita Agustina Esti Mumpuni Esti Mumpuni, Esti Fachry Abda El Rahman Farida, Yunahara Faridah Faridah Fauzi Setyo Fandheo Febbyasi Megawaty Gabriel Gabriel Gabriel, Gabriel Gandes Winarni Gumilar Adhi Nugroho Halim, Marta Hasan, Delina Herru Setiawan Hersunaryati, Yetti Heru Santosa Heru Santosa Hery Prambudi Hesty Utami Hesty Utami R Huda, Badrul I Ketut Suada Iha Haryani Hatta Indarwati Indarwati Kurota Aini Lea P. Retnoningsih Leonardus B.S. Kardono Lestari Rahayu Lies Putriana Mardiastuti, . Mardiastuti, . Marlin M. Raunsai Mochtar, Dede Mochtar, Dede Nancy Dewi Yuliana Nancy Raisa Nancy Raisa, Nancy Noor, Laili Savitri Nur Aji Nurmaini Nurmaini Partomuan Simanjuntak Partomuan Simanjuntak Pasanema, Dimas A. M. Pasanema, Dimas A. M. Pasaribu, Rita Kristina Pieter Hazmen Pratama, Anton Pratiwi Pujilestari Sudarmono Prih Sarnianto Priyo Wahyudi R, Hesty Utami Rachmani, Rum Rachmani, Rum RAHMAT, DENI Raihan, Dany Ramadaniati, Hesty Utami Restu Restiani Reubun, Yonathan Tri Atmodjo Reza Agung Sriwijaya Risma Marisi Tambunan, Risma Marisi Rita Kristina Pasaribu Robert Utji Rochimah Ros Sumarny RR. Ella Evrita Hestiandari Ruskar, Dandung Sarnianto, Prih Saru Noliqo Rangkuti Sembiring, Rinawati Sesilia A. Keban Sesilia Andriani Keban Setiadi, Feri Setiyarini, Setiyarini Shanny, Fransisca Shanny, Fransisca Simanjuntak, Partomuan Siswa Setyahadi Siswa Setyahadi Siti Jabal Mastura Sofyan Ramani Sri Widyastuti Stiani, Sofi Nurmay Sugiastuti, Fenty Suhaimi Suhaimi Suhaimi, . Syarifah Aini Teti Indrawati Umilawati Rawi Utami R, Hesty Violeta, Violeta Wahyudi Uun Widiyastuti, Asih Yati Sumiyati, Yati Yusransyah, Yusransyah Zaidan, Sarah