Abstract Literasi digital penting diberikan kepada perempuan, tak terkecuali di daerah transisi. Transisi merujuk pada situasi desa yang bergeser dari sosial budaya pedesaan ke perkotaan dengan berbagai konsekuensinya. Tulisan ini bertujuan untuk memetakan aset dan potensi Perempuan muslim desa Sidorukun manyar, mendeskripsikan perencanaan aksi edukasi digital, dan mendeskripsikan pelaksanaan aksi dan evaluasi edukasi digital. Metode yang digunakan adalah model pemberdayaan Asset-based Community Development (ABCD). Literasi digital di kalangan perempuan daerah transisi masih minim, dibutuhkan intervensi berbagai pihak dengan beragam program edukasi dan sosialisasi digital. Perempuan daerah transisi sudah aktif di media sosial sebatas sebagai pengguna. Penipuan berbasis online dengan modus kencan online, jasa peminjaman uang, dan belanja online juga ditemukan. Kekerasan berbasis gender lebih banyak pada kasus visual dan verbal. Edukasi ini memberikan pemahaman ragam platform sosial media dan penggunaanya, kemampuan bersosial media dengan bijak, sigap dan tanggap dalam menghadapi berbagai modus penipuan online. Pelaksanaan aksi ini merekomendasikan perlunya aksi yang massif perluasan dan percepatan literasi digital perempuan dengan metode brainstorming, sharing session, dan diskusi.