Claim Missing Document
Check
Articles

Apakah Talak Raj’i Memutuskan Ikatan Pernikahan atau Tidak Ningsih, Fitri; Musyahid, Achmad; Akmal, Andi Muhammad
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 2, No 11 (2025): June, 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine whether talak raj’I, in Islamic law, terminates the marriage bond or not. Talak raj’I is a single or double divorce in which the husband has the right to reconcile during the iddah period. Talak, in Islam, is a means to terminate the marriage bond between husband and wife. However, not all divorces have the same impact. Talak raj’I is a type of divorce that gives the husband the right to reconcile his wife during the iddah period. This study will examine in more depth the consequences of talak raj’I, especially whether the divorce terminates the marriage bond or not, and how it has implications for marital status. This study uses a qualitative approach with a library research method. Data were collected from various sources such as classical fiqh books, contemporary fiqh books, and related laws and regulations, especially the Compilation of Islamic Law (KHI). Data analysis was carried out descriptively-qualitatively to understand the concept of talak raj’I and its implications for marriage bonds.
Kaidah yang Berkaitan dengan Kondisi Menyulitkan Lasepe, Risky Rinaldi; Akmal, Andi Muhammad; Musyahid, Achmad
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 1 (2025): Agustus
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaidah fikih al-masyaqqah tajlibut taysir (kesulitan mendatangkan kemudahan) merupakan prinsip penting dalam hukum Islam, terutama ketika seorang mukallaf menghadapi kondisi menyulitkan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan umat Islam untuk merespons dinamika kehidupan kontemporer yang sering diwarnai oleh dilema hukum, di mana dua keburukan tidak dapat dihindari sekaligus. Studi ini bertujuan mengkaji makna, dalil, syarat, dan penerapan kaidah dalam situasi darurat dan problematika kekinian. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui studi pustaka, wawancara, dan analisis data lapangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kaidah ini merupakan derivasi dari prinsip umum “ad-dharar yuzal” dan sejalan dengan maqashid al-syari’ah. Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadis, seperti QS. Al-Baqarah: 286 dan sabda Rasulullah “agama ini mudah”, menjadi landasan kuat dalam penerapannya. Kaidah ini juga diperkuat oleh pendapat ulama klasik dan kontemporer, serta memiliki hubungan erat dengan kaidah-kaidah fikih lainnya. Contoh aplikatif ditemukan pada kebolehan tayamum menggantikan wudhu, atau rukhsah saat safar dan sakit. Kesimpulannya, pemahaman dan penerapan kaidah ini menjadi penting dalam menjawab tantangan hukum Islam masa kini, dengan syarat tidak bertentangan dengan nash dan tidak disalahgunakan untuk kemaksiatan. Edukasi dan sosialisasi fikih kaidah harus ditingkatkan agar umat Islam mampu mengambil keputusan yang maslahat, proporsional, dan sesuai tuntunan syariah dalam situasi sulit
Menggabungkan Pelaksanaan Dua Ibadah Sejenis dalam Pelaksanaannya Menurut Kaidah Fiqh Taqwim, Andi Ahsan; Musyahid, Achmad; Akmal, Andi Muhammad
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 1 (2025): Agustus
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.15814849

Abstract

This paper discusses the rules of jurisprudence regarding the combination of two similar acts of worship in one implementation with one intention. In the practice of worship, a Muslim is often faced with a condition where two acts of worship that have the same type and purpose occur at the same time. Based on the rules of jurisprudence: “If two similar acts of worship come together then their implementation is combined and it is sufficient to carry out one of them if both have the same purpose”, then this combination is permitted with certain conditions. This research uses a qualitative method based on literature study by reviewing relevant literature regarding the rules of jurisprudence and their application. The results of the discussion show that combining two similar worship services is permissible if it meets conditions such as: the type of worship is the same, the time is the same, it is not a qadha or accompanying worship service, and the intention of a larger worship service if there is a difference in degree. Examples of implementation include: janabah bathing at the same time as Friday bathing, tawaf ifadhah and tawaf wada’, as well as sunnah ablution, qabliyah and tahiyyatul mosque prayers simultaneously. In conclusion, this rule shows the ease in Islamic law while maintaining the validity and value of worship.
Kaidah Terkait Mafsadat yang Saling Berhadapan Nurdiyanto, Irwan; Musyahid, Achmad; Akmal, Andi Muhammad
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 1 (2025): Agustus
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam realitas kehidupan yang kompleks, manusia sering dihadapkan pada dilema moral dan hukum yang melibatkan dua keburukan (mafsadat) yang tidak dapat dihindari sepenuhnya. Syariat Islam menawarkan solusi sistematis melalui kaidah fikih: “Jika dua mafsadat saling bertentangan, maka diperhatikan yang lebih besar bahayanya dengan melakukan yang lebih ringan.” Kaidah ini merupakan turunan dari prinsip dasar “kemudharatan harus dihilangkan” (al-darar yuzal) dan selaras dengan tujuan utama syariat (maqashid al-syari’ah), yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Artikel ini mengkaji makna teoritis dan aplikatif dari kaidah tersebut dengan menelaah konstruksi bahasanya, landasan dalil dari Al-Qur’an dan Hadis, serta penguatan dari para ulama seperti Al-Suyuthi dan As-Syatibi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kaidah ini menjadi kerangka penting dalam pengambilan keputusan hukum Islam, terutama dalam isu-isu kontemporer yang tidak memungkinkan penghindaran mafsadat secara total. Contoh penerapan termasuk kebolehan aborsi demi menyelamatkan nyawa ibu dan wacana etis tentang euthanasia pada penderita AIDS stadium akhir. Temuan ini menegaskan bahwa penerapan keburukan yang lebih ringan bukan bentuk pembolehan mutlak, melainkan sebagai langkah darurat untuk mencegah kerusakan yang lebih besar. Studi ini menyimpulkan bahwa pemahaman dan penerapan kaidah ini sangat penting agar umat Islam mampu membuat keputusan yang bijak dan sesuai syariat dalam situasi sulit. Diperlukan upaya edukasi dan sosialisasi kaidah-kaidah fikih agar umat mampu merespons tantangan etis masa kini dengan cermat.
Hukum Itu Beredar Pada ‘Illatnya A, Asrullah; Musyahid, Achmad; Akmal, Andi Muhammad
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 1 (2025): Agustus
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The concept of ‘illat in the proposal of fikih as the basis of the establishment and change of Islamic law. By raising the principle of “al-ḥukmu yadūru ma‘a ‘illatihi wujūdan wa ‘adaman” (the law revolves along with its ‘illat, existence or non-existence), the author explains that social change and cultural context can affect the applicability of Islamic law. ‘Illat is defined as a real property that is the rational basis of a Sharia law’. This article studies the various definitions of ‘illat according to the scholars usul fikih and describe the kinds of ‘illat based on the permanence of the Shari’ah’ and considerations of goodwill. Thus, an understanding of ‘illat becomes essential in order to ensure that Islamic law remains relevant, fair, and contextual in responding to the dynamics of community life. This article demonstrates that the flexibility of Islamic law does not conflict with divine principles, but precisely reflects the mercy and benevolence that are its goals.
Aligning Fiqh Disaster with Indonesia’s Management Disaster Policy: A Maqāṣid Methodology Review Arief, Ahmad; Sultan, Lomba; Amin, Abd. Rauf Muhammad; Musyahid, Achmad; Syarif, Muhammad Fazlurrahman
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol. 19 No. 1 (2025)
Publisher : Sharia Faculty of State Islamic University of Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/mnh.v19i1.12872

Abstract

This study aims to align the principles of fiqh of disasters with Indonesia’s disaster management policies, particularly Law No. 24 of 2007. It seeks to explore how Islamic legal objectives can enrich and complement Indonesia's disaster governance framework. Using a maqāṣid based analytical approach, the research identifies and categorizes key elements within the maqāṣid framework, including concepts, objectives, values, societal groups, universal laws, divine commands, and textual evidences. These components are then systematically examined to evaluate their relevance and alignment with national disaster management strategies. The findings reveal a significant divergence in the interpretation of disaster and disaster management stakeholders between the two paradigms. Indonesian law defines disaster in technical-administrative terms, while fiqh emphasizes theological dimensions, such as divine awareness and submission to God’s will. Furthermore, the integration of religion as a vital element in disaster management remains insufficiently addressed in current policy frameworks. This study offers a novel integration of maqāṣid al-sharīʿah into the context of disaster management, proposing a theological-ethical dimension often overlooked in secular policy discourse. It bridges religious jurisprudence with contemporary disaster governance. The research suggests that involving religious leaders, institutions, and the Ministry of Religious Affairs in all disaster stages of prevention, response, and recovery can strengthen community resilience by fostering spiritual preparedness, psychological support, and culturally grounded disaster literacy.
LEGISLASI PRODUK HUKUM ISLAM: PROSES, TANTANGAN, DAN IMPLEMENTASI DI INDONESIA Heriana, Heriana; Hasan, Hamzah; Musyahid, Achmad
Jurnal AL-SYAKHSHIYYAH Jurnal Hukum Keluarga Islam dan Kemanusiaan Vol 7 No 1 (2025): Volume 7, Nomor 1, Juni 2025
Publisher : IAIN BONE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/as-hki.v7i1.7908

Abstract

This article examines the products of Islamic legal thought, which have a broad impact on Muslim communities and can serve as a strong foundation for legal principles. The aim of this study is to explore the existence, issues, and application of Islamic legal instruments within the legal system. The research employs a qualitative method, utilizing bibliometric and textual approaches, along with descriptive analysis.The findings reveal that Islamic law has developed in Indonesia through the products of four schools of legal thought: fiqh (Islamic jurisprudence), fatwas by religious scholars, court decisions (ijtihad), statutory regulations, and sociological legal theories. The challenges in legislating Islamic legal thought in Indonesia include low legal awareness, discrimination, the pluralistic legal system, internal debates among Muslims, lack of education, and political dynamics. Addressing these challenges requires an integrative approach involving all elements of society to foster better understanding and support for the implementation of Islamic law within the national framework.
Keluar Dari Perbedaan Pendapat Ulama (Khilaf) Adalah Sesuatu Yang Dianjurkan (Sunnah/Mustahab) Jailuddin, Syuaib; Musyahid, Achmad; Akmal, Andi Muhammad
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 1 (2025): Agustus
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.15836661

Abstract

Makalah ini membahas kaidah fikih al-khurūj min al-khilāf mustaḥabb yang berarti "keluar dari perselisihan adalah sesuatu yang disukai". Kaidah ini merupakan prinsip penting dalam fiqih Islam yang bertujuan untuk menjaga kehati-hatian dan menghindari perbuatan yang berpotensi salah menurut sebagian pendapat ulama. Dalam konteks khilafiyah, kaidah ini menganjurkan umat Islam untuk memilih pendapat yang dapat mencakup semua pandangan agar ibadah dan amalnya terhindar dari kekurangan atau ketidaksahan. Pembahasan dalam makalah ini mencakup pengertian bahasa dan istilah kaidah, sumber-sumber syar’i dari Al-Qur’an, hadis Nabi SAW, serta contoh-contoh aplikatif dalam berbagai bidang fiqih seperti wudhu, shalat berjamaah, dan shalat Jumat yang bertepatan dengan hari raya. Melalui pendekatan normatif dan deskriptif, makalah ini menekankan pentingnya sikap bijak dan toleran dalam menghadapi perbedaan pendapat serta pentingnya mengedepankan prinsip kehati-hatian sebagai bentuk perlindungan terhadap keabsahan ibadah. Dengan demikian, kaidah ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memiliki nilai praktis tinggi dalam kehidupan sehari-hari umat Islam
Analisis Falsafah Tasyri’ Terhadap Makkalu Dapureng Wekka Pitu: Integrasi Adat Bugis dan Fiqh munakahat Tentang Kesiapan Menikah Mutmainnah, Iin; Hasim, Hasanuddin; Musyahid, Achmad; Sultan, Lomba
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 6 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/patj6z03

Abstract

Penelitian ini mambahas tentang tradisi masyarakat bugis dalam nilai-nilai makkalu dapureng wekka pitu yang diintegrasikan dengan fiqh munakahat tentang kesiapan menikah. Analisis falsafah tasyri’ digunakan untuk menggali nilai-nilai yang terkadung dalam hukum perkawinan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif empiris untuk memecahkan masalah tentang makkalu dapureng wekka pitu yang menjadi tradisi dari masyarakat bugis. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu observasi, wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam makkalu dapureng wekka pitu  sejalan dengan konsep fiqh munakahat dalam konsep tanggung jawab seorang suami kepada istri. Hal inilah yang perlu dikuatkan bagi setiap laki-laki yang akan menikah agar tidak mudah dalam mengambil keputusan pernikahan tanpa ada persiapan dalam kesanggupan pemenuhan tanggung jawab kepada perempuan.
Kaidah yang Berkaitan dengan Kondisi Membahayakan Zikri, Abdalul; Akmal, Andi Muhammad; Musyahid, Achmad
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 6 (2025): July 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.15853950

Abstract

The fiqh principle of "ad-Dhararu yuzalu" (poverty must be removed), is one of the five main principles in ushul fikih that plays a central role in shaping welfare-oriented Islamic legal policies. This principle asserts that all forms of harm, hardship, and danger—both to the individual and to society—must be avoided or eliminated. Through the approach of syariah-evidence from the Qur’an and hadith, as well as an analysis of various derivative rules, this paper explains the forms of mudharat and the mechanisms of syariah in responding to them. Application examples from various fields such as ubudiyah, muamalah, and crime are presented to demonstrate the flexibility of this principle in daily life. This principle is also fundamental in granting rukhsah (legal relief) in emergency conditions, on the principle that an emergency cannot be overcome by another equal or greater emergency. Thus, the principle of “ad-Dhararu yuzalu” serves as an important guideline in responding to contemporary issues, while demonstrating the solutive and adaptive character of Islamic law to social dynamics.