Claim Missing Document
Check
Articles

Tokoh-Tokoh Tasawuf Islam dan Relevansinya bagi Dunia Modern: Ibnu Athaillah as-Sakandary, al-Muhasibi dan Abd. Qadir al-Jilani Nurnajmi, Nurnajmi; Afrizal, Afrizal; Perdana, Taslim; Saputra, Riki; Rusydi, Rusydi
Midaduna: Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 2 (2025): Islamic Studies Journal
Publisher : Edupedia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini menggambarkan tentang tiga tokoh tasawuf Islam yang krusial dalam penyucian jiwa, pembentukan karakter serta penghayatan spiritual kepada sang Pencipta, tasawuf sebagai warisan klasik dan juga memiliki peran yang signifikan dalam membangun peradaban Islam yang beretika dan beradab. Penelitian mengenai tiga tokoh sufi yang besar ini tidak hanya bersifat historis, tetapi juga memberikan kontribusi teoretis dan praktis untuk pengembangan Studi Islam kontemporer, terutama dalam aspek etika, pendidikan, dan peradaban Islam. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif melalui metode studi pustaka (library research). Pengumpulan data dilakukan dari sumber-sumber literatur primer, termasuk karya-karya asli para tokoh seperti Al-Hikam oleh Ibnu Athaillah, Ar-Ria’yah li Huquqillah oleh Al-Muhasibi, dan Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq oleh Abdul Qadir al-Jilani. Selain itu, juga digunakan literatur sekunder yang mencakup buku, jurnal, dan hasil penelitian ilmiah yang berkaitan. Bertujuan untuk mendeskripsikan secara komprehensif biografi dan pemikiran tiga tokoh tasawuf Islam klasik: Ibnu Athaillah, Al-Muhasibi, dan Abdul Qadir al-Jilani. Menganalisis kontribusi pemikiran mereka terhadap perkembangan tasawuf dan spiritualitas Islam. Mengkaji relevansi ajaran mereka dalam konteks modernitas Islam dan pembentukan peradaban Islam yang berkeadaban (civilized Islam). Relevansi ketiga tokoh ini nyata dalam arah pendidikan Islam modern yang humanistik, transendental, dan berkarakter, yang mampu menyeimbangkan rasionalitas dengan spiritualitas, serta pengetahuan dengan nilai-nilai moral ilahiah. Kesimpulan artikel ini adalah bahwa konsep tazkiyah al-nafs berfungsi sebagai dasar filosofis dan teologis yang kuat dalam pembentukan karakter Islami. Meskipun ketiganya memiliki pendekatan yang berbeda, mereka semua menekankan signifikansi penyucian jiwa sebagai pusat dari transformasi individu dan masyarakat
Ontologi Ilmu dalam Perspektif Barat dan Islam Marlina, Silvia; AM, Rusydi; Saputra, Riki
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.36862

Abstract

Artikel ini membahas ontologi ilmu dalam perspektif Barat dan Islam dengan tujuan menelaah hakikat keberadaan, struktur realitas, serta dasar metafisik yang membentuk perkembangan ilmu pengetahuan dalam kedua tradisi intelektual tersebut. Penelitian ini menggunakan metode literature review melalui penelusuran komprehensif terhadap karya klasik, modern, dan kontemporer, serta analisis kritis terhadap gagasan para filsuf Barat seperti Plato, Aristoteles, Descartes, dan Heidegger, serta pemikir Muslim seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Ibn Rushd. Hasil kajian menunjukkan bahwa ontologi Barat lebih berorientasi pada pemisahan antara dunia fisik dan metafisik, serta berfokus pada rasionalitas dan observasi empiris. Sementara itu, ontologi Islam berakar pada prinsip tauhid, memandang realitas secara holistik, dan menempatkan Tuhan sebagai sumber keberadaan dan kebenaran. Perbedaan ini memengaruhi konsep kausalitas, sifat ilmu, dan pendekatan terhadap realitas. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi kedua perspektif dapat memperkaya pengembangan ilmu kontemporer dengan memadukan kekuatan analitis Barat dan kedalaman spiritual Islam sehingga menghasilkan paradigma keilmuan yang lebih utuh, bermakna, dan berorientasi pada kemaslahatan.
INTEGRATION OF EPISTEMOLOGY: MEDIEVAL ISLAMIC PERSPECTIVES ON THE HIERARCHY OF KNOWLEDGE, THE QUR’AN, AND PHILOSOPHY Armalena, Armalena; Fadli, Syahrul; Mardianis, Mardianis; Saifullah, Saifullah; Saputra, Riki
Journal International Dakwah and Communication Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah Pariangan Batusangkar, West Sumatra, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55849/jidc.v6i1.1205

Abstract

Mainstream narratives often label the Medieval period as a time of global intellectual stagnation, whereas Islamic civilization actually recorded a golden age through the integration of theology, philosophy, and science, reaching its pinnacle. This study seeks to reconstruct the concept of knowledge (‘ilm) in the medieval Islamic tradition and to map the interrelation between the authority of revelation and rationality. The author applies a library research method with content analysis techniques on the thoughts of key figures such as Al-Farabi, Ibn Rushd (Averroes), and Ibn al-Haytham. The analysis identifies three fundamental points: first, medieval Islamic epistemology was holistic, eliminating the dichotomy between sacred and profane spheres; second, the Qur’an serves as an epistemological constitution that legitimizes empirical observation through the doctrine of the "Two Books" (Tadwini and Takwini); and third, philosophy and science are positioned as collective obligations (fardhu kifayah) consistent with the message of revelation. This study concludes that addressing the crisis of modern knowledge dichotomy requires a renewed adoption of the classical spirit of epistemological integration.
Pemikiran Al-Kindi dan Relevansinya bagi Pendidikan Islam Putra, Rizki Eka; Budi, Budi; AM, Rusydi; Saputra, Riki
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37049

Abstract

Al-Kindi merupakan tokoh sentral dalam tradisi filsafat Islam klasik yang dikenal dengan gelar Faylasūf al-‘Arab. Sebagai pelopor filsafat Islam abad ke-9 M, Al-Kindi berperan penting dalam mentransformasikan warisan filsafat Yunani ke dalam kerangka pemikiran Islam serta membangun fondasi epistemologi yang mengintegrasikan akal dan wahyu. Artikel ini bertujuan menganalisis konstruksi pemikiran Al-Kindi dan relevansinya terhadap pengembangan paradigma pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui penelaahan karya-karya Al-Kindi dan literatur terkait filsafat serta pendidikan Islam, yang dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Kindi berhasil mensintesiskan rasionalitas filsafat dengan prinsip tauhid secara harmonis. Ia menegaskan bahwa kebenaran bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga tidak terdapat pertentangan hakiki antara filsafat dan agama. Filsafat diposisikan sebagai instrumen intelektual untuk memahami kebenaran wahyu, sementara wahyu menjadi sumber kebenaran tertinggi yang membimbing akal. Dengan demikian, akal dipandang sebagai anugerah Ilahi yang berfungsi untuk menyingkap hakikat realitas, namun tetap berada dalam koridor nilai-nilai ketuhanan. Sintesis ini melahirkan paradigma keilmuan yang menempatkan ilmu agama dan ilmu rasional dalam satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi. Implikasi pemikiran Al-Kindi bagi pendidikan Islam sangat signifikan, terutama dalam merumuskan sistem pendidikan yang menyeimbangkan dimensi intelektual, spiritual, dan moral. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan kesadaran tauhid peserta didik. Integrasi akal dan wahyu dalam pemikirannya menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan Islam yang holistik, integratif, dan transformatif. Oleh karena itu, pemikiran Al-Kindi tetap relevan sebagai fondasi epistemologis dalam membangun paradigma pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan insan beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.