Claim Missing Document
Check
Articles

PERUBAHAN KEBIASAAN HIDUP DALAM RANGKA PENCEGAHAN PENYAKIT OTITIS EKSTERNA Amira Nabila; Tsurayya Fathma Zahra; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis eksterna merupakan salah satu penyakit inflamasi telinga luar yang menyerang meatus akustikus externa pasien dan disebabkan oleh mikroorgnisme seperti bakteri, virus, dan jamur. Otitis eksterna diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan onset waktu dan penyebarannya. Penyakit ini memiliki banyak faktor predisposi si seperti dari iklim, suhu, dan kebiasaan hidup seperti berenang dan  membersihkan telinga sendiri. Artikel ini akan membahas mengenai review penyakit otitis eksterna mulai dari pengertian, klasifikasi, etiologi, diagnosis, tatalaksana, dan khususnya mengenai pencegahan otitiseksterna dari segi kebiasaan hidupnya. dengan adanya artikel ini, diharapkan dapat membantu pembaca dalam memahami penyakit otitis eksterna dimana hal ini dapat sangat berguna untuk mengaplikasikan cara pencegahannya dalam kehidupan sehari-hari.Kata kunci: Otitis Eksterna, Pencegahan, Kebiasaan.
Literature Review Diagnosis dan Tatalaksana Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL) Faridi Pani; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL) merupakan kondisi terjadinya kehilangan sebagian atau keseluruhan pendengaran sensorineural dengan kriteria audiometri berupa penurunan pendengaran >30 dB atau setidaknya pada 3frekuensi berturut-turut yang berlangsung dalam kurun waktu 72 jam atau lebih cepat. Insidensi SSNHL di Amerika Serikatsebanyak 5-27 per 100.000 atau 4.000-66.000 kasus per tahunnya. Insidensi SSNHL meningkat seiring bertambahnya usia.Sebagian besar kasus SSNHL masih belum diketahui secara pasti namun beberapa peneliti mengemukakan teorinya bahwaSSNHL Sebagian besar disebabkan oleh kelainan vascular. Metode penelitian ini dimulai dengan melakukan penelusuranartikel di Pubmed dan Google Scholar dalam rentang tahun yang telah ditentukan oleh peneliti dan menggunakan katakunci Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL), diagnosis Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL), dan tatalaksanaSudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL). Hasil penelitian ini menemukan diagnosis Sudden Sensorineural Hearing Loss(SSNHL) dapat dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik. dan pemeriksaan penunjang Tatalaksana SSNHL meliputipemberian terapi sesuai dengan etiologi atau jika etiologi tidak diketahui dapat diberikan kortikosteroid sistemik dan jugakortikosteroid intratimpani. SSNHL memiliki angka perbaikan yang cukup tinggi, yaitu 60-65%. Kata kunci: diagnosis, Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL), tatalaksana
HUBUNGAN ANTARA KEJADIAAN SINUSITIS DENGAN RIWAYAT INFEKSI COVID 19 Fayza Syachrani; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinusitis merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada mukosa sinus paranasal. Gejala umum dari penyakit ini berupa nyeri atau tekanan pada wajah, sekret hidung, kongesti, dan hiposmia ataupun anosmia. SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, menginfeksi mukosiliar pada epitel hidung manusia yang mengakibatkan hilangnya silia. Hilangnya silia telah mewakili salah satu kelainan ultrastruktural yang paling mencolok pada sel yang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Sinusitis dan COVID-19 merupakan infeksi yang sama-sama menyerang saluran napas atas, sehingga tak mengherankan apabila terdapat beberapa gejala yang sama pada kedua penyakit tersebut. Selain menyerang lokasi yang sama, patofisiologi dari keduanya pun saling berkaitan, sehingga sinusitis dan COVID-19 diduga dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui Hubungan Kejadian Sinusitis dengan Riwayat Infeksi COVID-19 sekaligus menjelaskan mekanisme hubungan tersebut. Proses pengumpulan sumber data dilakukan melalui pencarian pada google scholar dan Pubmed NCBI dengan kata kunci “Sinusitis” dan “COVID 19”. Hasil dari pencarian literatur yang telah dilakukan, pasien dengan riwayatinfeksi COVID 19 kemungkinan dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan pada rongga sinusnya melalui mekanisme penurunan sistem imun dan juga disfungsi pada endotel barrier sel. Sebaliknya, pasien dengan riwayat sinusitis sebelumnya kemungkinan dapat menurunkan risiko terjadinya keparahan gejala akibat infeksi COVID-19 akibat berkurangnya ekspresi dari reseptor ACE2, yang merupakan reseptor utama masuknya virus corona, akibat sinusitis.Kata Kunci: COVID-19, Reseptor ACE2, Sel Penghalang, Sinusitis
Retinoblastoma: Diagnosis dan Tatalaksana Terkini Nahrassyiah Rahma Putri; Zheva Aprillia Yozevi; Rani Himayani; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retinoblastoma merupakan tumor malignan pada retina yang biasanya terjadi pada anak berusia dibawah lima tahun. Tumor ini dapat berupa tumor endofitik (di dalam vitreous), eksofitik (di dalam ruangsubretinal), atau campuran dari keduanya. Retinoblastoma merupakan tumor intraokuler primer yang paling banyak ditemui pada masa kanak-kanak dan menempati 3% dari seluruh tumor pada anak. Manifestasi klinis retinoblastoma bergantung pada stadium penyakitnya. Lesi awal seringkali terlewatkan tanpa terdiagnosis, kecuali oftalmoskopi indirek dilakukan. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantudiagnosis retinoblastoma, yaitu pemeriksaan mata, ocular ultrasonography dan Magnetic Resonance Imaging (MRI), oftalmoskopi direk, CT scan, pemeriksaan sistemik, dan pemeriksaan genetik. Tujuan primertatalaksana retinoblastoma adalah untuk menyelamatkan nyawa pasien. Terdapat beberapa metode untuk mengatasi retinoblastoma – fokal (cryotherapy, laser photocoagulation, transpupillary thermotherapy,transscleral thermotherapy, plaque brachytherapy), lokal (external beam radiotherapy, enukleasi), dan sistemik (kemoterapi).Kata kunci: Retinoblastoma, Diagnosis, Tatalaksana
Etiologi, Diagnosis, Prognosis, dan Tatalaksana Nurul Fadhilah Az-zahro; Rani Himayani; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tonsilitis atau umum dikenal sebagai radang amandel adalah peradangan pada tonsil tepatnya di bagian cincin waldayer. Etiologi dari tonsilitis dapat disebabkan oleh virus dan bakteri. Prevalensi tonsilitis di Indonesia mencapai 3,8% dan lebih sering terjadi pada anak-anak usia lima sampai lima belas tahun. Penegakan diagnosis dari tonsilitis dapat dilakukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat dari berbagai keluhan pasien, berupa keluhan lokal dan keluhan sistemik. Pemeriksaan fisik tonsil dilakukan dengan bantuan spatula lidah, salah satu hal yang perlu dinilai adalah besarnya tonsil.Besar tonsil dibagi menjadi T0, T1, T2, T3, dan T4. Secara umum, prognosis dari tonsilitis adalah baik dan jarang terdapat komplikasi. Tatalaksana pada pasien dengan tonsilitis dapat dilakukan secara operatif dan non-operatif. Pada sebagian besar pasien, tonsilitis adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri atau self limiting disease. Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan jurnal nasional dan internasional dengan kata kunci pencarian berikut: diagnosis, etiologi, prognosis, dan tatalaksana.  Kata Kunci:  Diagnosis, Etiologi, Prognosis, Tatalaksana.
Konjungtivitis: Etiologi, Klasifikasi, Manifestasi Klinis, Komplikasi, dan Tatalaksana Rifka Putri Dewi; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konjungtivitis adalah penyakit yang mengacu pada peradangan konjungtiva, pembengkakan pembuluh darah, nyeri, gatal, dan cairan yang keluar dari mata. Konjungtivitis dapat menyerang semua kalangan masyarakat dari usia, demografis, atau status sosial ekonomi. Meskipun biasanya sembuh sendiri dan jarang menyebabkan kehilangan penglihatan, penting untuk menyingkirkan penyebab mata merah yang mengancam penglihatan. Etiologi konjungtivitis dapat dibedakan menjadi menular dan tidak menular. Manifestasi klinis pada konjungtivitis berbeda sesuai dengan etiologinya. Komplikasi pada konjungtivitis akutjarang terjadi. Namun, pasien yang tidak menunjukkan perbaikan dalam 5-7 hari harus dirujuk ke dokter mata untuk evaluasi lebih lanjut. Tatalaksana pada konjungtivitis harus tepat dan sesuai berdasarkan penyebab dan gejalanya. Terapi yang diberikan berbeda-beda antara setiap jenisnya. Terapi spesifik konjungtivitis tergantung pada temuan antigen mikrobiologisnya. Terapi dapat dimulai dengan antibiotik topikal spektrum luas. Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan jurnal nasional dan internasional dengan kata kunci pencarian berikut: etiologi, klasifikasi, komplikasi, konjungtivitis, manifestasi klinis, tatalaksana. Kata Kunci:  Etiologi, Klasifikasi, Komplikasi, Konjungtivitis, Manifestasi Klinis, Tatalaksana
Penggunaan Anestesi Sedasi dalam Prosedur Endoskopi Saluran Cerna Dilla Syahra Noor Fitri; Ari Wahyuni; Suharmanto Suharmanto; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp67-74

Abstract

Sedasi dapat didefinisikan sebagai penurunan tingkat kesadaran yang disebabkan oleh obat. Sedasi merupakan komponen anestesi umum dan menjadi bagian penting dalam prosedur endoskopi saluran cerna. Endoskopi saluran cerna menimbulkan banyak ketidaknyamanan pada pasien yang menjalaninya karena menimbulkan risiko nyeri perut, keram perut, dan distensi abdomen akibat prosedur kolonoskopi serta risiko tersedak dan mual muntah akibat prosedur esofagogastroduodenoskopi (EGD). Sedasi membantu meningkatkan toleransi pasien terhadap ketidaknyamanan dan rasa sakit pada saat menjalani prosedur endoskopi. Sedasi akan membantu mengurangi kecemasan pasien, meningkatkan hasil pemeriksaan, dan mengurangi ingatan pasien terhadap prosedur yang dijalani. Kebutuhan sedasi ditentukan oleh beberapa faktor, termasuk jenis endoskopi, durasi prosedur, tingkat kesulitan endoskopi, status fisik pasien, dan preferensi dokter. Sedasi terbagi menjadi beberapa tingkatan berdasarkan dengan tingkat depresi pada level kesadaran yaitu minimal sedation, moderate sedation, deep sedation hingga general anesthesi. Protokol regimen sedasi untuk prosedur gastrointestinal endoscopy (GIE) masih sangat bervariasi. Midazolam dan Propofol adalah obat yang paling sering digunakan dalam sedasi endoskopi yang biasanya dikombinasikan dengan analgesik Fentanil.
HUBUNGAN ANTARA HORMONE REPLACEMENT THERAPY DENGAN RISIKO KANKER PAYUDARA PADA WANITA PASCAMENOPAUSE: THE ASSOCIATION BETWEEN HORMONE REPLACEMENT THERAPY AND BREAST CANCER RISK IN POSTMENOPAUSAL WOMEN Devya Aulia; Windarti, Indri; Graharti, Risti; Sangging, Putu Ristyaning Ayu
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 14 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v14i2.1064

Abstract

Kanker payudara adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita, dengan insidensi global meningkat akibat faktor genetik, lingkungan, hormonal, dan gaya hidup, di mana estrogen dan progesteron mendorong proliferasi sel payudara melalui reseptor estrogen yang dapat memicu transformasi malignan. Pada wanita pascamenopause, penurunan estrogen diatasi dengan Hormone Replacement Therapy (HRT), yang meredakan gejala menopause dan mencegah osteoporosis, namun meningkatkan risiko kanker payudara. Kajian literatur ini meninjau hubungan HRT dengan risiko kanker payudara berdasarkan bukti epidemiologis, mekanisme biologis, dan temuan klinis. Metode yang digunakan adalah narrative review melalui pencarian artikel di PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar (2019–2025) dengan kata kunci “hormone replacement therapy”, “breast cancer risk”, dan “HRT breast cancer”, mencakup RCT, kohort, atau studi prospektif. Hasil telaah menunjukkan bahwa terapi estrogen tunggal menurunkan risiko kanker payudara 22% (HR 0.78; 95% CI 0.65–0.93) pada wanita pascahisterektomi, sedangkan kombinasi estrogen–progestin meningkatkan risiko 28% (HR 1.28; 95% CI 1.13–1.45). Studi kohort mengonfirmasi peningkatan risiko pada penggunaan kombinasi lebih dari lima tahun, terutama pada wanita dengan indeks massa tubuh rendah dan densitas payudara tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan risiko terutama disebabkan oleh komponen progestin, sementara estrogen sendiri memiliki efek minimal. Stratifikasi risiko individu penting dalam mempertimbangkan manfaat dan risiko jangka panjang terapi HRT.
Perkembangan Strategi Pengobatan β-Thalassemia Santhi, Komang Ria Yuliana; Sangging, Putu Ristyaning Ayu; Jausal, Anisa Nuraisa; Ismunandar, Helmi
Medula Vol 15 No 4 (2025): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v15i4.1663

Abstract

β-thalassemia is an inherited blood disorder caused by mutations in the β-globin gene that reduce or eliminate β-globin chain synthesis, leading to hypochromic microcytic anemia and significant morbidity worldwide. The disorder is prevalent in South Asia, Southeast Asia, the Mediterranean, the Middle East, India, and Africa, with approximately 1.5% of the global population identified as carriers. Severe complications, including iron overload, skeletal deformities, heart failure, and multi-organ damage, contribute to its substantial global health burden. This narrative literature review synthesizes evidence from PubMed, Cochrane, and Google Scholar to examine conventional and emerging therapeutic strategies for β-thalassemia, with particular emphasis on recent advances in gene therapy. Standard management relies on regular blood transfusions and iron chelation, which remain supportive and are associated with long-term complications. Hematopoietic stem cell transplantation is the only established curative treatment, especially effective in pediatric patients with matched HLA donors, although its availability is limited. Novel pharmacologic agents, such as luspatercept and mitapivat, have demonstrated reductions in transfusion requirements and improvements in hemoglobin production. Additional approaches, including fetal hemoglobin induction and modulation of iron metabolism, show encouraging potential. A major breakthrough is CRISPR-based gene therapy using exagamglogene autotemcel (Casgevy), approved by the FDA and EMA in 2024, with phase 3 trials reporting transfusion independence in more than 90% of patients and significant quality-of-life improvements. Despite persistent challenges related to cost, access, and long-term safety, these advances indicate a paradigm shift toward precision medicine with curative potential for β-thalassemia.
Hubungan Jenis Kelamin, Usia, dan Pekerjaan dengan Kejadian Anemia pada Pasien Tuberkulosis Paru di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek Bandar Lampung pada Bulan Januari - Agustus 2022 Fathunnisa, Ridha Riano; Sangging, Putu Ristyaning Ayu; Utami, Winda Trijayanthi; Soleha, Tri Umiana
Medula Vol 16 No 1 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i1.1754

Abstract

Pulmonary tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis and is classified as a chronic multisystem infection with diverse clinical manifestations. Hematological abnormalities are frequently observed in tuberculosis patients and are generally associated with non-immunological mechanisms. Anemia is one of the most common abnormalities. All chronic infections, including tuberculosis, can induce anemia through various pathogenic pathways. However, most studies indicate that suppression of erythropoiesis mediated by inflammatory factors plays a major role in the development of anemia in tuberculosis patients. This study aimed to describe the characteristics of anemia and identify factors associated with its occurrence in patients with pulmonary tuberculosis. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted. Data were obtained from the medical records of pulmonary tuberculosis patients with anemia at the Medical Records Unit of RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung from January to December 2022. A total of 85 patients who met the inclusion criteria were included and analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test. Univariate analysis showed that most patients had normocytic normochromic anemia, accounting for 66 patients or 77.6%, while microcytic hypochromic anemia was observed in 19 patients or 22.4%. Anemia was more common in male patients, with a proportion of 74.1%. Bivariate analysis demonstrated a significant association between age and anemia occurrence, with a p value of 0.024. No significant association was found between occupation and anemia or between sex and anemia. This study concludes that age is the only factor associated with anemia among pulmonary tuberculosis patients at RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung.
Co-Authors Adinda Husna Cahyana Agung Ikhssani Agustyas Tjiptaningrum Ahmad Duta Al-Ihya Al Ayubi, M. Mahdi Alghani, Sulthan Rafi Almaina Puteri Jasmine Almaina Amira Nabila Andi Nafisah Angelica Philia Christy Anggraeni Janar Wulan Annisarahma, Lyvia Aprilia, Intan Rahma Ardian Reza Putra Arfa Salma Firnandya Ari Irawan Ari Irawan Ari Wahyuni Aulia Nur Fitriatsani Aurelia, Faizah Zahra Aurora Awindya Nareswari Azizah Nur Rahmah Bagus Pratama Brigitta Shinta dewi Carissa Aprilia Y Cholyviona W.S Handhayani Citra Yuliyanda Pardilawati Cut Karel Dithia Daffa Fahreiza Daffa Fahreiza Darma, I Wayan Dika Aditia Devina Hardianto Devira Fitriani Kamal Devya Aulia Dian Isti Angraini Dilla Syahra Noor Fitri Dimas, Dimas Dzakwan Cedri Ketierteu Ellysa Angguman Putri Ety Apriliana Evan Christian Christian Fadila Gustiani Daraz Fadilah Alwiyah Faiq Razaan Razaan Farid Hammadi Faridi Pani Farraz Kanya Syahra Fathunnisa, Ridha Riano Fayza Syachrani Fityah Zabrina Hidayat Ganesha Rahman Hakim Ghina Salsabila Fenty PNR Gusnirwan, Alief Hanifah Qollama Astrid Hanna Mutiara Helmi Ismunandar Hendri Busman Herlambang, Geri Indra Imtinan Khoirunnisa Indah Kurnia Putri Waruwu Indah Salsabila Indri Windarti Intanri Kurniati Isabela Irene Pangestu Jausal, Anisa Nuraisa Jhons Fatriyadi Suwandi Josephine, Felicia Key Julianti, Dinul Aliya Kalih, Abigael Ludwina Kamila Nastiti Karima, Nisa Keziah Tirtawijaya Khairun Nisa Kurnia Fithrananda Kurniawaty, Evi Laja, Rana Salsabila Putri Lintang Lestari Cahya Sawitri Mafalda Marzon Maria Devi Melni Armadani Mentari Putri Maharani Mira Yustika Mochamad Fauzan Dava Muhamad Zaidan Algifari Muhammad Ammar Naufal Muhammad Arsy Kamal Faadhil Muhammad Fitra Wardhana Sayoeti Muhammad Maulana Muhammad Ricky Ramadhian Muhammad Rizki Akbar, Muhammad Rizki Mukhbita, Khalila Alya Mukhlis Imanto, Mukhlis Nabila Alsa Sagia Nabila Shafira Nabila Yoli Rahmadani Nadhia Wihelga Nahrassyiah Rahma Putri Ni Ketut Diah Ayu Pramisswari Ni Putu Sari Widiyani Noval Ramadirta Nurul Fadhilah Az-zahro Nurul Utami Oktafany Oktafany Oktoba, Zulpakor Pardilawati, Citra Yulianda Pardilawati, Citra Yuliyanda Prasetyo, Muhammad Purwono Purnama Sari, Faraztya Putra, Rangga Pratama Wahyuono Qoriba, Fathan RA Genta Syakira Hatta Rachel Agustin Inggrid Zefanya Rachmantiawan, Aldiano Rafi Gutra Aslam rahmawati, selvi Rahmi Zuraida Raihanah Nabilah Rani Himayani Rani Himayani Rani Himayani Rasmi Zakiah Oktarlina Ratna Dewi Puspita Sari Recky Patala Regita Dwi M Reisyah Syahfira Rifka Putri Dewi Rika Lisiswanti Risti Graharti Rizqiani Astrid Nasution Rudiyanto, Waluyo Salsabila Haqya Kusuma Salshabilla, Annisa Santhi, Komang Ria Yuliana Satria, Rasha Andhika Selvi Marcellia Sembiring, Dustin Delano Pranata Setiorini, Anggi Shiddiq, Muhammad Nasrullah Nur Shinta Nareswari, Shinta Simanungkalit, Jesica Natalia Sinulingga, Anselmus Libreya Siti Shafira Elfreda Suharmanto Suryani Agustina Daulay Susianti Susianti Sutarto Sutarto Sutyarso Sutyarso Syahrani Alya Murfi Syalwa Meutia Syiva Ulhayah Tamaulina Br Sembiring Tiasti, Jania Tri Umiana Soleha Tsurayya Fathma Zahra Utami, Winda Trijayanthi Wardani, Nanda Fitri Yashila Rahimah Zahira TS, Shifa Tanjia Zahra, Siti Aqila Zayatri Nurul Jannaty Zheva Aprillia Yozevi