Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA KEJADIAAN SINUSITIS DENGAN RIWAYAT INFEKSI COVID 19 Fayza Syachrani; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinusitis merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada mukosa sinus paranasal. Gejala umum dari penyakit ini berupa nyeri atau tekanan pada wajah, sekret hidung, kongesti, dan hiposmia ataupun anosmia. SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, menginfeksi mukosiliar pada epitel hidung manusia yang mengakibatkan hilangnya silia. Hilangnya silia telah mewakili salah satu kelainan ultrastruktural yang paling mencolok pada sel yang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Sinusitis dan COVID-19 merupakan infeksi yang sama-sama menyerang saluran napas atas, sehingga tak mengherankan apabila terdapat beberapa gejala yang sama pada kedua penyakit tersebut. Selain menyerang lokasi yang sama, patofisiologi dari keduanya pun saling berkaitan, sehingga sinusitis dan COVID-19 diduga dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui Hubungan Kejadian Sinusitis dengan Riwayat Infeksi COVID-19 sekaligus menjelaskan mekanisme hubungan tersebut. Proses pengumpulan sumber data dilakukan melalui pencarian pada google scholar dan Pubmed NCBI dengan kata kunci “Sinusitis” dan “COVID 19”. Hasil dari pencarian literatur yang telah dilakukan, pasien dengan riwayatinfeksi COVID 19 kemungkinan dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan pada rongga sinusnya melalui mekanisme penurunan sistem imun dan juga disfungsi pada endotel barrier sel. Sebaliknya, pasien dengan riwayat sinusitis sebelumnya kemungkinan dapat menurunkan risiko terjadinya keparahan gejala akibat infeksi COVID-19 akibat berkurangnya ekspresi dari reseptor ACE2, yang merupakan reseptor utama masuknya virus corona, akibat sinusitis.Kata Kunci: COVID-19, Reseptor ACE2, Sel Penghalang, Sinusitis
Retinoblastoma: Diagnosis dan Tatalaksana Terkini Nahrassyiah Rahma Putri; Zheva Aprillia Yozevi; Rani Himayani; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retinoblastoma merupakan tumor malignan pada retina yang biasanya terjadi pada anak berusia dibawah lima tahun. Tumor ini dapat berupa tumor endofitik (di dalam vitreous), eksofitik (di dalam ruangsubretinal), atau campuran dari keduanya. Retinoblastoma merupakan tumor intraokuler primer yang paling banyak ditemui pada masa kanak-kanak dan menempati 3% dari seluruh tumor pada anak. Manifestasi klinis retinoblastoma bergantung pada stadium penyakitnya. Lesi awal seringkali terlewatkan tanpa terdiagnosis, kecuali oftalmoskopi indirek dilakukan. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantudiagnosis retinoblastoma, yaitu pemeriksaan mata, ocular ultrasonography dan Magnetic Resonance Imaging (MRI), oftalmoskopi direk, CT scan, pemeriksaan sistemik, dan pemeriksaan genetik. Tujuan primertatalaksana retinoblastoma adalah untuk menyelamatkan nyawa pasien. Terdapat beberapa metode untuk mengatasi retinoblastoma – fokal (cryotherapy, laser photocoagulation, transpupillary thermotherapy,transscleral thermotherapy, plaque brachytherapy), lokal (external beam radiotherapy, enukleasi), dan sistemik (kemoterapi).Kata kunci: Retinoblastoma, Diagnosis, Tatalaksana
Etiologi, Diagnosis, Prognosis, dan Tatalaksana Nurul Fadhilah Az-zahro; Rani Himayani; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tonsilitis atau umum dikenal sebagai radang amandel adalah peradangan pada tonsil tepatnya di bagian cincin waldayer. Etiologi dari tonsilitis dapat disebabkan oleh virus dan bakteri. Prevalensi tonsilitis di Indonesia mencapai 3,8% dan lebih sering terjadi pada anak-anak usia lima sampai lima belas tahun. Penegakan diagnosis dari tonsilitis dapat dilakukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat dari berbagai keluhan pasien, berupa keluhan lokal dan keluhan sistemik. Pemeriksaan fisik tonsil dilakukan dengan bantuan spatula lidah, salah satu hal yang perlu dinilai adalah besarnya tonsil.Besar tonsil dibagi menjadi T0, T1, T2, T3, dan T4. Secara umum, prognosis dari tonsilitis adalah baik dan jarang terdapat komplikasi. Tatalaksana pada pasien dengan tonsilitis dapat dilakukan secara operatif dan non-operatif. Pada sebagian besar pasien, tonsilitis adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri atau self limiting disease. Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan jurnal nasional dan internasional dengan kata kunci pencarian berikut: diagnosis, etiologi, prognosis, dan tatalaksana.  Kata Kunci:  Diagnosis, Etiologi, Prognosis, Tatalaksana.
Konjungtivitis: Etiologi, Klasifikasi, Manifestasi Klinis, Komplikasi, dan Tatalaksana Rifka Putri Dewi; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konjungtivitis adalah penyakit yang mengacu pada peradangan konjungtiva, pembengkakan pembuluh darah, nyeri, gatal, dan cairan yang keluar dari mata. Konjungtivitis dapat menyerang semua kalangan masyarakat dari usia, demografis, atau status sosial ekonomi. Meskipun biasanya sembuh sendiri dan jarang menyebabkan kehilangan penglihatan, penting untuk menyingkirkan penyebab mata merah yang mengancam penglihatan. Etiologi konjungtivitis dapat dibedakan menjadi menular dan tidak menular. Manifestasi klinis pada konjungtivitis berbeda sesuai dengan etiologinya. Komplikasi pada konjungtivitis akutjarang terjadi. Namun, pasien yang tidak menunjukkan perbaikan dalam 5-7 hari harus dirujuk ke dokter mata untuk evaluasi lebih lanjut. Tatalaksana pada konjungtivitis harus tepat dan sesuai berdasarkan penyebab dan gejalanya. Terapi yang diberikan berbeda-beda antara setiap jenisnya. Terapi spesifik konjungtivitis tergantung pada temuan antigen mikrobiologisnya. Terapi dapat dimulai dengan antibiotik topikal spektrum luas. Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan jurnal nasional dan internasional dengan kata kunci pencarian berikut: etiologi, klasifikasi, komplikasi, konjungtivitis, manifestasi klinis, tatalaksana. Kata Kunci:  Etiologi, Klasifikasi, Komplikasi, Konjungtivitis, Manifestasi Klinis, Tatalaksana
Penggunaan Anestesi Sedasi dalam Prosedur Endoskopi Saluran Cerna Dilla Syahra Noor Fitri; Ari Wahyuni; Suharmanto Suharmanto; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp67-74

Abstract

Sedasi dapat didefinisikan sebagai penurunan tingkat kesadaran yang disebabkan oleh obat. Sedasi merupakan komponen anestesi umum dan menjadi bagian penting dalam prosedur endoskopi saluran cerna. Endoskopi saluran cerna menimbulkan banyak ketidaknyamanan pada pasien yang menjalaninya karena menimbulkan risiko nyeri perut, keram perut, dan distensi abdomen akibat prosedur kolonoskopi serta risiko tersedak dan mual muntah akibat prosedur esofagogastroduodenoskopi (EGD). Sedasi membantu meningkatkan toleransi pasien terhadap ketidaknyamanan dan rasa sakit pada saat menjalani prosedur endoskopi. Sedasi akan membantu mengurangi kecemasan pasien, meningkatkan hasil pemeriksaan, dan mengurangi ingatan pasien terhadap prosedur yang dijalani. Kebutuhan sedasi ditentukan oleh beberapa faktor, termasuk jenis endoskopi, durasi prosedur, tingkat kesulitan endoskopi, status fisik pasien, dan preferensi dokter. Sedasi terbagi menjadi beberapa tingkatan berdasarkan dengan tingkat depresi pada level kesadaran yaitu minimal sedation, moderate sedation, deep sedation hingga general anesthesi. Protokol regimen sedasi untuk prosedur gastrointestinal endoscopy (GIE) masih sangat bervariasi. Midazolam dan Propofol adalah obat yang paling sering digunakan dalam sedasi endoskopi yang biasanya dikombinasikan dengan analgesik Fentanil.
Perkembangan Strategi Pengobatan β-Thalassemia Santhi, Komang Ria Yuliana; Sangging, Putu Ristyaning Ayu; Jausal, Anisa Nuraisa; Ismunandar, Helmi
Medula Vol 15 No 4 (2025): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v15i4.1663

Abstract

β-thalassemia is an inherited blood disorder caused by mutations in the β-globin gene that reduce or eliminate β-globin chain synthesis, leading to hypochromic microcytic anemia and significant morbidity worldwide. The disorder is prevalent in South Asia, Southeast Asia, the Mediterranean, the Middle East, India, and Africa, with approximately 1.5% of the global population identified as carriers. Severe complications, including iron overload, skeletal deformities, heart failure, and multi-organ damage, contribute to its substantial global health burden. This narrative literature review synthesizes evidence from PubMed, Cochrane, and Google Scholar to examine conventional and emerging therapeutic strategies for β-thalassemia, with particular emphasis on recent advances in gene therapy. Standard management relies on regular blood transfusions and iron chelation, which remain supportive and are associated with long-term complications. Hematopoietic stem cell transplantation is the only established curative treatment, especially effective in pediatric patients with matched HLA donors, although its availability is limited. Novel pharmacologic agents, such as luspatercept and mitapivat, have demonstrated reductions in transfusion requirements and improvements in hemoglobin production. Additional approaches, including fetal hemoglobin induction and modulation of iron metabolism, show encouraging potential. A major breakthrough is CRISPR-based gene therapy using exagamglogene autotemcel (Casgevy), approved by the FDA and EMA in 2024, with phase 3 trials reporting transfusion independence in more than 90% of patients and significant quality-of-life improvements. Despite persistent challenges related to cost, access, and long-term safety, these advances indicate a paradigm shift toward precision medicine with curative potential for β-thalassemia.
Hubungan Jenis Kelamin, Usia, dan Pekerjaan dengan Kejadian Anemia pada Pasien Tuberkulosis Paru di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek Bandar Lampung pada Bulan Januari - Agustus 2022 Fathunnisa, Ridha Riano; Sangging, Putu Ristyaning Ayu; Utami, Winda Trijayanthi; Soleha, Tri Umiana
Medula Vol 16 No 1 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i1.1754

Abstract

Pulmonary tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis and is classified as a chronic multisystem infection with diverse clinical manifestations. Hematological abnormalities are frequently observed in tuberculosis patients and are generally associated with non-immunological mechanisms. Anemia is one of the most common abnormalities. All chronic infections, including tuberculosis, can induce anemia through various pathogenic pathways. However, most studies indicate that suppression of erythropoiesis mediated by inflammatory factors plays a major role in the development of anemia in tuberculosis patients. This study aimed to describe the characteristics of anemia and identify factors associated with its occurrence in patients with pulmonary tuberculosis. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted. Data were obtained from the medical records of pulmonary tuberculosis patients with anemia at the Medical Records Unit of RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung from January to December 2022. A total of 85 patients who met the inclusion criteria were included and analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test. Univariate analysis showed that most patients had normocytic normochromic anemia, accounting for 66 patients or 77.6%, while microcytic hypochromic anemia was observed in 19 patients or 22.4%. Anemia was more common in male patients, with a proportion of 74.1%. Bivariate analysis demonstrated a significant association between age and anemia occurrence, with a p value of 0.024. No significant association was found between occupation and anemia or between sex and anemia. This study concludes that age is the only factor associated with anemia among pulmonary tuberculosis patients at RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung.
Evaluasi kadar CRP High Sensitivity sebagai Marker Risiko Kardiovaskular pada Dewasa Muda: Indonesia Rachmantiawan, Aldiano; Sangging, Putu Ristyaning Ayu
Medula Vol 16 No 3 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i3.1773

Abstract

Atherosclerosis and cardiovascular disease originate from chronic low grade inflammatory processes, making high sensitivity C reactive protein or hs CRP widely studied as a cardiovascular risk marker, including in young adults. This study is a narrative review of 16 articles published between 2019 and 2025 that examine hs CRP in young adults aged 18 to 45 years and its association with cardiometabolic risk factors, cardiovascular disease events, and clinical outcomes. The review findings indicate that in overweight or obese young adults, elevated hs CRP levels are associated with central obesity, atherogenic dyslipidemia, impaired fasting glucose, and higher blood pressure. In addition, irregular sleep patterns and short term variability in diastolic blood pressure are also linked to increased hs CRP levels, suggesting the presence of subclinical inflammation early in life. In older populations and in patients with established cardiovascular disease, high hs CRP levels are reported to predict cardiovascular disease incidence, carotid plaque formation, cardiometabolic multimorbidity, functional disability, and short term mortality. However, hs CRP is not associated with the progression of coronary artery calcification and demonstrates substantial intra individual variability. Overall, hs CRP has potential value as an additional marker to identify young adults at higher cardiovascular risk. Nevertheless, hs CRP is not sufficient as a single screening tool and should be interpreted alongside traditional cardiovascular risk factors and lifestyle patterns. Repeated measurements are recommended to improve risk assessment accuracy and to account for biological variability in hs CRP levels.
Peran Laju Endap Darah dalam Evaluasi Penyakit Inflamasi Kronik Purnama Sari, Faraztya; Sangging, Putu Ristyaning Ayu; Graharti, Risti
Medula Vol 16 No 3 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i3.1821

Abstract

Chronic inflammation is a persistent immune response resulting from continuous inflammatory stimuli, such as chronic infections, autoimmune diseases, and metabolic disorders, and plays a significant role in the pathogenesis of various chronic diseases. Continuous evaluation of inflammatory activity requires laboratory parameters that are easily accessible and capable of reflecting long-term inflammatory processes. The erythrocyte sedimentation rate (ESR) is a non-specific hematological test that remains widely used in clinical practice to assess systemic inflammation. Elevated ESR values occur as a result of changes in acute-phase proteins, particularly fibrinogen and immunoglobulins, which promote erythrocyte aggregation and accelerate the sedimentation process. This review article aims to discuss the role of ESR in the evaluation of chronic inflammatory diseases, including the mechanisms underlying ESR elevation, its advantages, limitations, and comparison with other inflammatory biomarkers. ESR has advantages in representing stable chronic inflammation, its simplicity, and relatively low cost; however, it also has limitations, including low specificity and a slow response to changes in inflammatory activity. Therefore, ESR should be interpreted comprehensively in conjunction with clinical evaluation and other inflammatory biomarkers to support optimal management of chronic inflammatory diseases.
POLYGENIC RISK SCORE SEBAGAI PREDIKTOR DIABETES MELLITUS TIPE 2: SYSTEMATIC RIVIEW Ni Ketut Diah Ayu Pramisswari; Ety Apriliana; Selvi Marcellia; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Nusantara Hasana Journal Vol. 5 No. 8 (2026): Nusantara Hasana Journal, January 2026
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v5i8.1881

Abstract

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a multifactorial metabolic disease with a significant genetic contribution. Polygenic risk score (PRS) has been developed to integrate the cumulative effects of multiple genetic variants to improve T2DM risk prediction. This Systematic review aimed to evaluate the role of PRS in predicting T2DM incidence, disease progression, and related complications across different populations. This study was conducted in accordance with the PRISMA guidelines, with a literature search performed using the PubMed database and keywords related to PRS and T2DM. Included studies were observational in design and assessed the association between PRS and T2DM incidence or clinical outcomes. Three main studies with case-control, cross-sectional, and cohort designs were analyzed. The results demonstrated that PRS was significantly associated with increased T2DM risk, disease progression, and metabolic complications such as liver fibrosis, including in the context of organ transplantation. Integration of PRS with traditional clinical risk factors improved predictive performance. PRS has the potential to support precision-based T2DM risk stratification, although further cross-population validation is still required.
Co-Authors Adinda Husna Cahyana Agung Ikhssani Agustyas Tjiptaningrum Ahmad Duta Al-Ihya Alghani, Sulthan Rafi Almaina Puteri Jasmine Almaina Amira Nabila Ananda, Yovani Tria Andi Nafisah Angelica Philia Christy Anggraeni Janar Wulan Annisarahma, Lyvia Ardian Reza Putra Arfa Salma Firnandya Ari Irawan Ari Irawan Ari Wahyuni Aulia Nur Fitriatsani Aurora Awindya Nareswari Azizah Nur Rahmah Bagus Pratama Brigitta Shinta dewi Carissa Aprilia Y Cholyviona W.S Handhayani Citra Yuliyanda Pardilawati Cut Karel Dithia Daffa Fahreiza Daffa Fahreiza Devina Hardianto Devira Fitriani Kamal Devya Aulia Dian Isti Angraini Dilla Syahra Noor Fitri Dimas Dimas Dzakwan Cedri Ketierteu Ellysa Angguman Putri Ety Apriliana Evan Christian Christian Fadila Gustiani Daraz Fadilah Alwiyah Faiq Razaan Razaan Farid Hammadi Faridi Pani Farraz Kanya Syahra Fathunnisa, Ridha Riano Fayza Syachrani Fityah Zabrina Hidayat Ganesha Rahman Hakim Ghina Salsabila Fenty PNR Gusnirwan, Alief Hanifah Qollama Astrid Hanna Mutiara Helmi Ismunandar Hendri Busman Herlambang, Geri Indra I Wayan Dika Aditia Darma Imtinan Khoirunnisa Indah Kurnia Putri Waruwu Indah Salsabila Indri Windarti Intanri Kurniati Isabela Irene Pangestu Jausal, Anisa Nuraisa Jhons Fatriyadi Suwandi Josephine, Felicia Key Julianti, Dinul Aliya Kalih, Abigael Ludwina Kamila Nastiti Karima, Nisa Keziah Tirtawijaya Khairun Nisa Kurnia Fithrananda Kurniawaty, Evi Laja, Rana Salsabila Putri Lintang Lestari Cahya Sawitri Mafalda Marzon Maria Devi Melni Armadani Mentari Putri Maharani Mira Yustika Mochamad Fauzan Dava Muhamad Zaidan Algifari Muhammad Ammar Naufal Muhammad Arsy Kamal Faadhil Muhammad Maulana Muhammad Ricky Ramadhian Muhammad Rizki Akbar, Muhammad Rizki Mukhlis Imanto, Mukhlis Nabila Alsa Sagia Nabila Shafira Nabila Yoli Rahmadani Nadhia Wihelga Nahrassyiah Rahma Putri Ni Ketut Diah Ayu Pramisswari Ni Putu Sari Widiyani Noval Ramadirta Novita Carolia Nurul Fadhilah Az-zahro Nurul Utami Oktafany Oktafany Oktoba, Zulpakor Pardilawati, Citra Yulianda Pardilawati, Citra Yuliyanda Purnama Sari, Faraztya Qoriba, Fathan RA Genta Syakira Hatta Rachel Agustin Inggrid Zefanya Rachmantiawan, Aldiano Rafi Gutra Aslam rahmawati, selvi Rahmi Zuraida Raihanah Nabilah Rani Himayani Rani Himayani Rani Himayani Rasmi Zakiah Oktarlina Ratna Dewi Puspita Sari Regita Dwi M Reisyah Syahfira Rifka Putri Dewi Rika Lisiswanti Risti Graharti Rizqiani Astrid Nasution Rudiyanto, Waluyo Salsabila Haqya Kusuma Salshabilla, Annisa Santhi, Komang Ria Yuliana Selvi Marcellia Sembiring, Dustin Delano Pranata Setiorini, Anggi Shinta Nareswari, Shinta Simanungkalit, Jesica Natalia Sinulingga, Anselmus Libreya Siti Shafira Elfreda Suharmanto Suryani Agustina Daulay Susianti Susianti Sutarto Sutarto Sutyarso Sutyarso Syahrani Alya Murfi Syalwa Meutia Syiva Ulhayah Tamaulina Br Sembiring Tiasti, Jania Tri Umiana Soleha Tsurayya Fathma Zahra Utami, Winda Trijayanthi Wardani, Nanda Fitri Yashila Rahimah Zayatri Nurul Jannaty Zheva Aprillia Yozevi