Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA KEJADIAAN SINUSITIS DENGAN RIWAYAT INFEKSI COVID 19 Fayza Syachrani; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinusitis merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada mukosa sinus paranasal. Gejala umum dari penyakit ini berupa nyeri atau tekanan pada wajah, sekret hidung, kongesti, dan hiposmia ataupun anosmia. SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, menginfeksi mukosiliar pada epitel hidung manusia yang mengakibatkan hilangnya silia. Hilangnya silia telah mewakili salah satu kelainan ultrastruktural yang paling mencolok pada sel yang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Sinusitis dan COVID-19 merupakan infeksi yang sama-sama menyerang saluran napas atas, sehingga tak mengherankan apabila terdapat beberapa gejala yang sama pada kedua penyakit tersebut. Selain menyerang lokasi yang sama, patofisiologi dari keduanya pun saling berkaitan, sehingga sinusitis dan COVID-19 diduga dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui Hubungan Kejadian Sinusitis dengan Riwayat Infeksi COVID-19 sekaligus menjelaskan mekanisme hubungan tersebut. Proses pengumpulan sumber data dilakukan melalui pencarian pada google scholar dan Pubmed NCBI dengan kata kunci “Sinusitis” dan “COVID 19”. Hasil dari pencarian literatur yang telah dilakukan, pasien dengan riwayatinfeksi COVID 19 kemungkinan dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan pada rongga sinusnya melalui mekanisme penurunan sistem imun dan juga disfungsi pada endotel barrier sel. Sebaliknya, pasien dengan riwayat sinusitis sebelumnya kemungkinan dapat menurunkan risiko terjadinya keparahan gejala akibat infeksi COVID-19 akibat berkurangnya ekspresi dari reseptor ACE2, yang merupakan reseptor utama masuknya virus corona, akibat sinusitis.Kata Kunci: COVID-19, Reseptor ACE2, Sel Penghalang, Sinusitis
Retinoblastoma: Diagnosis dan Tatalaksana Terkini Nahrassyiah Rahma Putri; Zheva Aprillia Yozevi; Rani Himayani; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retinoblastoma merupakan tumor malignan pada retina yang biasanya terjadi pada anak berusia dibawah lima tahun. Tumor ini dapat berupa tumor endofitik (di dalam vitreous), eksofitik (di dalam ruangsubretinal), atau campuran dari keduanya. Retinoblastoma merupakan tumor intraokuler primer yang paling banyak ditemui pada masa kanak-kanak dan menempati 3% dari seluruh tumor pada anak. Manifestasi klinis retinoblastoma bergantung pada stadium penyakitnya. Lesi awal seringkali terlewatkan tanpa terdiagnosis, kecuali oftalmoskopi indirek dilakukan. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantudiagnosis retinoblastoma, yaitu pemeriksaan mata, ocular ultrasonography dan Magnetic Resonance Imaging (MRI), oftalmoskopi direk, CT scan, pemeriksaan sistemik, dan pemeriksaan genetik. Tujuan primertatalaksana retinoblastoma adalah untuk menyelamatkan nyawa pasien. Terdapat beberapa metode untuk mengatasi retinoblastoma – fokal (cryotherapy, laser photocoagulation, transpupillary thermotherapy,transscleral thermotherapy, plaque brachytherapy), lokal (external beam radiotherapy, enukleasi), dan sistemik (kemoterapi).Kata kunci: Retinoblastoma, Diagnosis, Tatalaksana
Etiologi, Diagnosis, Prognosis, dan Tatalaksana Nurul Fadhilah Az-zahro; Rani Himayani; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tonsilitis atau umum dikenal sebagai radang amandel adalah peradangan pada tonsil tepatnya di bagian cincin waldayer. Etiologi dari tonsilitis dapat disebabkan oleh virus dan bakteri. Prevalensi tonsilitis di Indonesia mencapai 3,8% dan lebih sering terjadi pada anak-anak usia lima sampai lima belas tahun. Penegakan diagnosis dari tonsilitis dapat dilakukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat dari berbagai keluhan pasien, berupa keluhan lokal dan keluhan sistemik. Pemeriksaan fisik tonsil dilakukan dengan bantuan spatula lidah, salah satu hal yang perlu dinilai adalah besarnya tonsil.Besar tonsil dibagi menjadi T0, T1, T2, T3, dan T4. Secara umum, prognosis dari tonsilitis adalah baik dan jarang terdapat komplikasi. Tatalaksana pada pasien dengan tonsilitis dapat dilakukan secara operatif dan non-operatif. Pada sebagian besar pasien, tonsilitis adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri atau self limiting disease. Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan jurnal nasional dan internasional dengan kata kunci pencarian berikut: diagnosis, etiologi, prognosis, dan tatalaksana.  Kata Kunci:  Diagnosis, Etiologi, Prognosis, Tatalaksana.
Konjungtivitis: Etiologi, Klasifikasi, Manifestasi Klinis, Komplikasi, dan Tatalaksana Rifka Putri Dewi; Putu Ristyaning Ayu Sangging; Rani Himayani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konjungtivitis adalah penyakit yang mengacu pada peradangan konjungtiva, pembengkakan pembuluh darah, nyeri, gatal, dan cairan yang keluar dari mata. Konjungtivitis dapat menyerang semua kalangan masyarakat dari usia, demografis, atau status sosial ekonomi. Meskipun biasanya sembuh sendiri dan jarang menyebabkan kehilangan penglihatan, penting untuk menyingkirkan penyebab mata merah yang mengancam penglihatan. Etiologi konjungtivitis dapat dibedakan menjadi menular dan tidak menular. Manifestasi klinis pada konjungtivitis berbeda sesuai dengan etiologinya. Komplikasi pada konjungtivitis akutjarang terjadi. Namun, pasien yang tidak menunjukkan perbaikan dalam 5-7 hari harus dirujuk ke dokter mata untuk evaluasi lebih lanjut. Tatalaksana pada konjungtivitis harus tepat dan sesuai berdasarkan penyebab dan gejalanya. Terapi yang diberikan berbeda-beda antara setiap jenisnya. Terapi spesifik konjungtivitis tergantung pada temuan antigen mikrobiologisnya. Terapi dapat dimulai dengan antibiotik topikal spektrum luas. Artikel ini menggunakan metode literature review dari berbagai rujukan jurnal nasional dan internasional dengan kata kunci pencarian berikut: etiologi, klasifikasi, komplikasi, konjungtivitis, manifestasi klinis, tatalaksana. Kata Kunci:  Etiologi, Klasifikasi, Komplikasi, Konjungtivitis, Manifestasi Klinis, Tatalaksana
Penggunaan Anestesi Sedasi dalam Prosedur Endoskopi Saluran Cerna Dilla Syahra Noor Fitri; Ari Wahyuni; Suharmanto Suharmanto; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v11i2.pp67-74

Abstract

Sedasi dapat didefinisikan sebagai penurunan tingkat kesadaran yang disebabkan oleh obat. Sedasi merupakan komponen anestesi umum dan menjadi bagian penting dalam prosedur endoskopi saluran cerna. Endoskopi saluran cerna menimbulkan banyak ketidaknyamanan pada pasien yang menjalaninya karena menimbulkan risiko nyeri perut, keram perut, dan distensi abdomen akibat prosedur kolonoskopi serta risiko tersedak dan mual muntah akibat prosedur esofagogastroduodenoskopi (EGD). Sedasi membantu meningkatkan toleransi pasien terhadap ketidaknyamanan dan rasa sakit pada saat menjalani prosedur endoskopi. Sedasi akan membantu mengurangi kecemasan pasien, meningkatkan hasil pemeriksaan, dan mengurangi ingatan pasien terhadap prosedur yang dijalani. Kebutuhan sedasi ditentukan oleh beberapa faktor, termasuk jenis endoskopi, durasi prosedur, tingkat kesulitan endoskopi, status fisik pasien, dan preferensi dokter. Sedasi terbagi menjadi beberapa tingkatan berdasarkan dengan tingkat depresi pada level kesadaran yaitu minimal sedation, moderate sedation, deep sedation hingga general anesthesi. Protokol regimen sedasi untuk prosedur gastrointestinal endoscopy (GIE) masih sangat bervariasi. Midazolam dan Propofol adalah obat yang paling sering digunakan dalam sedasi endoskopi yang biasanya dikombinasikan dengan analgesik Fentanil.
Hubungan Jenis Kelamin, Usia, dan Pekerjaan dengan Kejadian Anemia pada Pasien Tuberkulosis Paru di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek Bandar Lampung pada Bulan Januari - Agustus 2022 Fathunnisa, Ridha Riano; Sangging, Putu Ristyaning Ayu; Utami, Winda Trijayanthi; Soleha, Tri Umiana
Medula Vol 16 No 1 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i1.1754

Abstract

Pulmonary tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis and is classified as a chronic multisystem infection with diverse clinical manifestations. Hematological abnormalities are frequently observed in tuberculosis patients and are generally associated with non-immunological mechanisms. Anemia is one of the most common abnormalities. All chronic infections, including tuberculosis, can induce anemia through various pathogenic pathways. However, most studies indicate that suppression of erythropoiesis mediated by inflammatory factors plays a major role in the development of anemia in tuberculosis patients. This study aimed to describe the characteristics of anemia and identify factors associated with its occurrence in patients with pulmonary tuberculosis. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted. Data were obtained from the medical records of pulmonary tuberculosis patients with anemia at the Medical Records Unit of RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung from January to December 2022. A total of 85 patients who met the inclusion criteria were included and analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test. Univariate analysis showed that most patients had normocytic normochromic anemia, accounting for 66 patients or 77.6%, while microcytic hypochromic anemia was observed in 19 patients or 22.4%. Anemia was more common in male patients, with a proportion of 74.1%. Bivariate analysis demonstrated a significant association between age and anemia occurrence, with a p value of 0.024. No significant association was found between occupation and anemia or between sex and anemia. This study concludes that age is the only factor associated with anemia among pulmonary tuberculosis patients at RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung.
HUBUNGAN NEUTROPHIL-TO-LYMPHOCYTE RATIO DENGAN DERAJAT HIPERTENSI DAN DERAJAT KARDIOMEGALI PADA PASIEN HIPERTENSI Ramadhian, Muhammad Ricky; Josephine, Felicia Key; Wardani, Nanda Fitri; Sangging, Putu Ristyaning Ayu
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v10i2.6868

Abstract

Latar belakang: Hipertensi yang tidak terkontrol merupakan penyebab timbulnya berbagai komplikasi kardiovaskuler. Kardiomegali sering ditemukan pada pasien gagal jantung sebagai akibat dari hipertensi berat dan tidak terkontrol. Pada foto toraks disebut kardiomegali jika nilai cardiothoracic ratio lebih dari 50%, dan diklasifikasikan menjadi derajat ringan, sedang dan berat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan NLR dengan derajat hipertensi dan derajat kardiomegali pada pasien hipertensi. Metode: Penelitian  ini bersifat deskriptik analitik dengan desain potong lintang. Variabel yang dianalisis adalah NLR dengan derajat hipertensi dan NLR dengan derajat kardiomegali. Hasil: Dari 31 subjek penelitian, sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebesar 64,5%. Kelompok usia terbanyak adalah 59-64 tahun, yaitu sebesar 29%. Subjek penelitian didominasi oleh hipertensi derajat 1 dan derajat 2, masing-masing sebesar 45,2%. Nilai NLR minimum adalah 0,96 dan nilai maksimum 14,33 dengan simpangan baku 4,07. Uji korelasi Spearman menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,421 dengan signifikansi 0,021 (p<0,05) untuk hubungan NLR dengan derajat hipertensi, serta koefisien korelasi (r) sebesar 0,341 dan signifikansi 0,061 (p>0,05) untuk hubungan NLR dengan derajat kardiomegali. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara NLR dengan derajat hipertensi, dan hubungan yang positif antara NLR dengan derajat kardiomegali walaupun tidak signifikan secara statistik.
Case Report: Nicotine Addiction-Adolescence obsession Mira Yustika; Agung Ikhssani; Putu Ristyaning Ayu Sangging
Jurnal teknologi Kesehatan Borneo Vol 2 No 2 (2021): Jurnal Teknologi Kesehatan Borneo
Publisher : POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jtkb.v2i2.40

Abstract

Nicotine dependence is a chronic relapse defined as a compulsive desire to use it, regardless of social consequences, loss of control over intake, and appearance of withdrawal symptoms. Nicotine dependence develops over time as a person continues to use nicotine. The most commonly used tobacco product is cigarettes, but any form of tobacco use and use of e-cigarettes can lead to dependence. Nicotine dependence is a serious public health problem because it causes continued tobacco use, which is one of the leading preventable causes of death worldwide, causing more than 8 million deaths per year. The result of the journal review is that preventing the use of tobacco products among adolescents is critical to ending nicotine addiction worldwide. The impact caused by nicotine tends to be bad, so stopping is the way out. Different levels of influence should be considered in interventions aimed at adolescent smokers, including psychological influences, addictions, peers and parents. This review article contains about the effect of nicotine on adolescents and what strategies can be done to stop the problem.
HUBUNGAN ANTARA HORMONE REPLACEMENT THERAPY DENGAN RISIKO KANKER PAYUDARA PADA WANITA PASCAMENOPAUSE: THE ASSOCIATION BETWEEN HORMONE REPLACEMENT THERAPY AND BREAST CANCER RISK IN POSTMENOPAUSAL WOMEN Devya Aulia; Windarti, Indri; Graharti, Risti; Sangging, Putu Ristyaning Ayu
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 14 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v14i2.1064

Abstract

Kanker payudara adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita, dengan insidensi global meningkat akibat faktor genetik, lingkungan, hormonal, dan gaya hidup, di mana estrogen dan progesteron mendorong proliferasi sel payudara melalui reseptor estrogen yang dapat memicu transformasi malignan. Pada wanita pascamenopause, penurunan estrogen diatasi dengan Hormone Replacement Therapy (HRT), yang meredakan gejala menopause dan mencegah osteoporosis, namun meningkatkan risiko kanker payudara. Kajian literatur ini meninjau hubungan HRT dengan risiko kanker payudara berdasarkan bukti epidemiologis, mekanisme biologis, dan temuan klinis. Metode yang digunakan adalah narrative review melalui pencarian artikel di PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar (2019–2025) dengan kata kunci “hormone replacement therapy”, “breast cancer risk”, dan “HRT breast cancer”, mencakup RCT, kohort, atau studi prospektif. Hasil telaah menunjukkan bahwa terapi estrogen tunggal menurunkan risiko kanker payudara 22% (HR 0.78; 95% CI 0.65–0.93) pada wanita pascahisterektomi, sedangkan kombinasi estrogen–progestin meningkatkan risiko 28% (HR 1.28; 95% CI 1.13–1.45). Studi kohort mengonfirmasi peningkatan risiko pada penggunaan kombinasi lebih dari lima tahun, terutama pada wanita dengan indeks massa tubuh rendah dan densitas payudara tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan risiko terutama disebabkan oleh komponen progestin, sementara estrogen sendiri memiliki efek minimal. Stratifikasi risiko individu penting dalam mempertimbangkan manfaat dan risiko jangka panjang terapi HRT.
HUBUNGAN NEUTROPHIL-TO-LYMPHOCYTE RATIO DENGAN DERAJAT HIPERTENSI DAN DERAJAT KARDIOMEGALI PADA PASIEN HIPERTENSI Ramadhian, Muhammad Ricky; Josephine, Felicia Key; Wardani, Nanda Fitri; Sangging, Putu Ristyaning Ayu
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Hipertensi yang tidak terkontrol merupakan penyebab timbulnya berbagai komplikasi kardiovaskuler. Kardiomegali sering ditemukan pada pasien gagal jantung sebagai akibat dari hipertensi berat dan tidak terkontrol. Pada foto toraks disebut kardiomegali jika nilai cardiothoracic ratio lebih dari 50%, dan diklasifikasikan menjadi derajat ringan, sedang dan berat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan NLR dengan derajat hipertensi dan derajat kardiomegali pada pasien hipertensi. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptik analitik dengan desain potong lintang. Variabel yang dianalisis adalah NLR dengan derajat hipertensi dan NLR dengan derajat kardiomegali. Hasil: Dari 31 subjek penelitian, sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebesar 64,5%. Kelompok usia terbanyak adalah 59-64 tahun, yaitu sebesar 29%. Subjek penelitian didominasi oleh hipertensi derajat 1 dan derajat 2, masing-masing sebesar 45,2%. Nilai NLR minimum adalah 0,96 dan nilai maksimum 14,33 dengan simpangan baku 4,07. Uji korelasi Spearman menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,421 dengan signifikansi 0,021 (p<0,05) untuk hubungan NLR dengan derajat hipertensi, serta koefisien korelasi (r) sebesar 0,341 dan signifikansi 0,061 (p>0,05) untuk hubungan NLR dengan derajat kardiomegali. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara NLR dengan derajat hipertensi, dan hubungan yang positif antara NLR dengan derajat kardiomegali walaupun tidak signifikan secara statistik.
Co-Authors Adinda Husna Cahyana Agung Ikhssani Agustyas Tjiptaningrum Ahmad Duta Al-Ihya Aldiano Rachmantiawan Alghani, Sulthan Rafi Almaina Puteri Jasmine Almaina Amira Nabila Andi Nafisah Angelica Philia Christy Anggraeni Janar Wulan Anisa Nuraisa Jausal Annisarahma, Lyvia Ardian Reza Putra Arfa Salma Firnandya Ari Irawan Ari Irawan Ari Wahyuni Aulia Nur Fitriatsani Aurora Awindya Nareswari Azizah Nur Rahmah Bagus Pratama Brigitta Shinta dewi Carissa Aprilia Y Cholyviona W.S Handhayani Citra Yuliyanda Pardilawati Cut Karel Dithia Daffa Fahreiza Daffa Fahreiza Devina Hardianto Devira Fitriani Kamal Devya Aulia Dian Isti Angraini Dilla Syahra Noor Fitri Dimas Dimas Dzakwan Cedri Ketierteu Ellysa Angguman Putri Ety Apriliana Evan Christian Christian Fadila Gustiani Daraz Fadilah Alwiyah Faiq Razaan Razaan Faraztya Purnama Sari Farid Hammadi Faridi Pani Farraz Kanya Syahra Fathunnisa, Ridha Riano Fayza Syachrani Fityah Zabrina Hidayat Ganesha Rahman Hakim Ghina Salsabila Fenty PNR Gusnirwan, Alief Hanifah Qollama Astrid Hanna Mutiara Helmi Ismunandar Hendri Busman Herlambang, Geri Indra I Wayan Dika Aditia Darma Imtinan Khoirunnisa Indah Kurnia Putri Waruwu Indah Salsabila Indri Windarti Intanri Kurniati Isabela Irene Pangestu Jhons Fatriyadi Suwandi Josephine, Felicia Key Julianti, Dinul Aliya Kalih, Abigael Ludwina Kamila Nastiti Karima, Nisa Keziah Tirtawijaya Khairun Nisa Komang Ria Yuliana Santhi Kurnia Fithrananda Kurniawaty, Evi Laja, Rana Salsabila Putri Lintang Lestari Cahya Sawitri Mafalda Marzon Maria Devi Melni Armadani Mentari Putri Maharani Mira Yustika Mochamad Fauzan Dava Muhamad Zaidan Algifari Muhammad Ammar Naufal Muhammad Arsy Kamal Faadhil Muhammad Maulana Muhammad Ricky Ramadhian Muhammad Rizki Akbar, Muhammad Rizki Mukhlis Imanto, Mukhlis Nabila Alsa Sagia Nabila Shafira Nabila Yoli Rahmadani Nadhia Wihelga Nahrassyiah Rahma Putri Ni Ketut Diah Ayu Pramisswari Ni Putu Sari Widiyani Noval Ramadirta Novita Carolia Nurul Fadhilah Az-zahro Nurul Utami Oktafany Oktafany Oktoba, Zulpakor Pardilawati, Citra Yulianda Pardilawati, Citra Yuliyanda Qoriba, Fathan RA Genta Syakira Hatta Rachel Agustin Inggrid Zefanya Rafi Gutra Aslam rahmawati, selvi Rahmi Zuraida Raihanah Nabilah Rani Himayani Rani Himayani Rani Himayani Rasmi Zakiah Oktarlina Ratna Dewi Puspita Sari Regita Dwi M Reisyah Syahfira Rifka Putri Dewi Rika Lisiswanti Risti Graharti Rizqiani Astrid Nasution Rudiyanto, Waluyo Salsabila Haqya Kusuma Salshabilla, Annisa Selvi Marcellia Sembiring, Dustin Delano Pranata Setiorini, Anggi Shinta Nareswari, Shinta Simanungkalit, Jesica Natalia Sinulingga, Anselmus Libreya Siti Shafira Elfreda Suharmanto Suryani Agustina Daulay Susianti Susianti Sutarto Sutarto Sutyarso Sutyarso Syahrani Alya Murfi Syalwa Meutia Syiva Ulhayah Tamaulina Br Sembiring Tiasti, Jania Tri Umiana Soleha Tsurayya Fathma Zahra Utami, Winda Trijayanthi Wardani, Nanda Fitri Yashila Rahimah Yovani Tria Ananda Zayatri Nurul Jannaty Zheva Aprillia Yozevi