Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

PANDANGAN IMAM NAWAWI DAN YUSUF AL QARDHAWI TENTANG PEKERJAAN DOMESTIK DALAM KELUARGA PERSPEKTIF TEORI MUBADALAH Kholiq, Abdul; Akbarizan, Akbarizan; Ismail, Hidayatullah; Harmanto, Adi; Pasla, Jimli
HUKUMAH: Jurnal Hukum Islam Vol 7, No 2 (2024): HUKUMAH
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hukumah.v8i2.853

Abstract

Imam Nawawi berpandangan bahwa kewajiban mengerjakan tugas pekerjaan domestik dalam rumah tangga adalah mutlak dibebankan kepada suami. Sebaliknya, Yusuf al Qardhawi berpandangan bahwa tugas pekerjaan domestik tersebut adalah kewajiban seorang istri. Penelitian ini menjadi menarik, sebab kedua pandangan yang berbeda tersebut akan dilihat melalui lensa teori mubadalah yang tengah berkembang dan dianggap sebagai pendekatan yang berparadigma progresif hari ini, dengan rumusan masalah: Bagaimana pandangan imam Nawawi dan Yusuf al Qarhawi prihal kewajiban pekerjaan domestik dalam rumah tangga jika dilihat dalam perspektif mubadalah? Penelitian ini berjenis library research yang dianalisis secara deskriptif-analitis dengan menggunakan teori mubadalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tugas pekerjaan rumah tangga atau domestik dalam perspektif teori mubadalah adalah tanggung jawab bersama atau kewajiban bersama antara suami dan istri yang bersifat fleksibel, alih-alih dominan. Oleh karena itu, pandangan imam Nawawi yang menjadikan suami, secara dominan, sebagai pihak yang berkewajiban mengerjakan tugas-tugas domestik dan istri hanya berkewajiban semata dalam memberikan layanan seksual kepada suaminya adalah tidak selaras dengan pandangan mubdalah. Demikian halnya dengan pandangan Yusuf Al Qardhawi yang menjadikan tugas domestik sebagai kewajiban dominan istri sedangkan suami memiliki kewajiban dominan untuk mencari nafkah adalah tidak sejalan dengan pandangan teori mubadalah.
Hadis – Hadis Tarbawi Tentang Islamisasi Pendidikan dan Perkembangannya Ismail, Hidayatullah; Ma’ali, Dasman Yahya; Novendri , Mochammad
Jurnal Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Kramat Jati Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Kramat jati
Publisher : Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kramat Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55943/jipmukjt.v5i2.276

Abstract

Pendidikan merupakan upaya manusia untuk tumbuh dan mengembangkan potensi bawaan lahir baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat dan budaya. Namun, pendidikan modern yang cenderung didominasi oleh teori-teori Barat seringkali mengabaikan aspek spiritual dan moral. Dalam konteks ini, pendidikan Islam harus hadir sebagai solusi alternatif pendidikan yang cenderung diwarnai oleh teori-teori dari dunia barat. Pendidikan Islam harus hadir sebagai solusi alternatif permasalahan pendidikan yang diakibatkan oleh sistem pendidikan materialistis. Pendidikan dalam perspektif Islam lebih condong pada ta'dīb untuk penggunaan istilah pendidikan dalam Islam. Istilah ta'dīb dalam struktur konseptualnya mencakup unsur-unsur ilmu (ilm), pengajaran (ta'līm), dan pendidikan budi pekerti yang baik (tarbiyah). Pendidikan Islam berperan sangat penting dalam pembentukan kepribadian Islam karena semua ini tidak terlepas dari tujuan pendidikan Islam yang diinisiasi, yaitu dalam rangka pembentukan kepribadian Islam. Lebih lanjut, bentuk-bentuk Islamisasi pendidikan yang dapat terlihat di Nusantara antara lain seperti wayang, standardisasi pembelajaran/kurikulum, dan halal bi halal.
Standarisasi kewajiban nafkah keluarga dalam Al-Quran dan Hadits Fatah, Nasrul; Ridwan, Ridwan; Ismail, Hidayatullah
Al-Aulia: Jurnal Pendidikan dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 10 No. 2 (2024): Al-Aulia: Jurnal Pendidikan dan Ilmu-Ilmu Keislaman
Publisher : Unit Pelaksana Teknis Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (UPT-P4M) STAI Auliaurrasyidin Tembilahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46963/aulia.v10i2.2297

Abstract

A marriage cannot be separated from the consequences of providing maintenance from a husband to his wife and children. At the level of reality, the provision of maintenance is often a polemic and a source of problems in family life. It is even used as an excuse to end the marriage relationship or delay the marriage. The data shows that of the existing number of divorces, the reason for maintenance is one of the highest causes, as well as the decline in marriage rates due to a feeling of lack of stability on the part of prospective husbands. For this reason, this study seeks to explore the theological guidance from the Qur'an and Hadith regarding the standardization of the obligation of maintenance from a husband to his family. This research is conducted with a maudhu'i or thematic interpretation approach. From this research it was found that in the Qur'an and hadith there is no standard provision regarding the amount of nafkah that must be given, but rather adjusts to the ability and condition of the husband. If it is in a spacious situation, then nafkah should be given with a spacious amount. Conversely, if it is in a tight situation, it should be adjusted.  
Prinsip Keharmonisan Keluarga Dalam Al Qur’an: Studi Kontekstual Terhadap Tantangan Modern Yuda, M Fikri; Winarko, Arbi; Ismail, Hidayatullah; Husti, Ilyas
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 1 (2025): June 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i1.6479

Abstract

Artikel ini membahas prinsip keharmonisan keluarga dalam perspektif Al-Qur’an, dengan pendekatan kontekstual terhadap tantangan modern. Keharmonisan keluarga ideal dijelaskan melalui konsep sakīnah, mawaddah, dan rahmah sebagaimana termaktub dalam Qs. Ar-Rūm ayat 21. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya ketakwaan dan nilai spiritual sebagai pondasi, serta bagaimana musyawarah (syūra) dan etika komunikasi Islami memperkuat hubungan keluarga di era digital yang penuh tantangan, seperti penyalahgunaan media sosial dan dominasi gawai. Metode yang digunakan berupa studi kepustakaan dengan analisis deskriptif kualitatif dari tafsir kontemporer, jurnal mutakhir, dan praktik keluarga Muslim modern. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pendidikan karakter Qur’ani, penguatan nilai akhlak di rumah, strategi penanaman nilai Islami pada anak, serta dukungan sekolah dan masyarakat menjadi faktor penopang ketahanan keluarga. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya sinergi antara orang tua, lembaga pendidikan, dan komunitas dalam mewujudkan keluarga Qur’ani yang harmonis, tangguh, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
IMPLEMENTASI KONSEP MAWADDAH WA RAHMAH DALAM KELUARGA ISLAM MODERN Almadison, Almadison; Anla Pater, Rizki; Ismail, Hidayatullah; Husti, Ilyas
ANDREW Law Journal Vol. 4 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : ANDREW Law Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61876/alj.v4i1.66

Abstract

Makna dan Pemahaman Konsep Mawaddah wa Rahmah dalam Al-Qur’an, Konsep mawaddah wa rahmah dalam QS. Ar-Rum ayat 21 menggambarkan fondasi spiritual dan emosional dalam relasi suami istri. Mawaddah mencerminkan cinta yang aktif dan penuh perhatian, sedangkan rahmah adalah kasih sayang yang melahirkan empati dan pengorbanan. Kedua nilai ini tidak hanya merupakan anugerah ilahi, tetapi juga menjadi prinsip moral yang menuntun relasi pasangan agar tidak semata-mata bersifat fisik atau kontraktual, melainkan transendental dan berorientasi pada ketenangan batin (sakinah). Implementasi Nilai Mawaddah wa Rahmah dalam Kehidupan Keluarga Islam Modern, Dalam konteks keluarga Islam kontemporer, nilai mawaddah wa rahmah dapat diimplementasikan melalui komunikasi yang empatik, pembagian peran yang adil, dan penciptaan ruang spiritual bersama seperti shalat dan diskusi keagamaan. Meskipun tantangan zaman membuat relasi rumah tangga menjadi lebih kompleks, pasangan yang menjadikan cinta dan kasih sayang sebagai nilai utama akan lebih mampu membangun keluarga yang harmonis, resilien, dan religius. Tantangan dan Strategi Penguatan Nilai Mawaddah wa Rahmah, Tantangan utama yang dihadapi keluarga Muslim masa kini meliputi pengaruh teknologi digital, perubahan peran gender, tekanan ekonomi, dan melemahnya pendidikan spiritual. Strategi penguatan yang dapat dilakukan antara lain melalui pendidikan pranikah berbasis nilai Qur’ani, komunikasi keluarga yang sehat, pemanfaatan dakwah digital, serta peran aktif lembaga agama dan negara dalam mendukung ketahanan keluarga. Dengan pendekatan yang adaptif dan berbasis nilai ilahiah, mawaddah wa rahmah tetap relevan sebagai fondasi keluarga harmonis di era kontemporer.
Kurikulum Qur’ani Pendidikan Dasar ditinjau dari Periodesasi Makiyah Ismail, Hidayatullah; Fatah, Nasrul
POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam Vol 9, No 2 (2023): Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/potensia.v9i2.26138

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yang bertujuan membahas konsep kurikulum pendidikan dalam al-Qur’an pada periode Makiyah. Kurikulum Qur’ani yang dimaksud adalah sebuah panduan atau konsep kurikulum pendidikan yang didasarkan pada tuntunan al-Qur’an dan penjelasan langsung dari Rasulullah saw. Keberhasilan kurikulum Qur’ani telah terbukti dengan lahirnya generasi hebat dimasa awal perkembangan Islam yaitu para sahabat yang menjelma menjadi pemimpin dunia. Makiyah dan Madaniyah tidak hanya tentang periodesasi turunya al-Qur’an, melainkan juga memiliki makna dan tujuan serta kurikulum pengajaran bagi para aktor pelaku sejarah pada masa turunnya. Kurikulum Qur’ani pada periode Makiyah merupakan hasil turunan dari karakteristik ayat-ayat Makiyah. Secara umum kurikulum Makiyah memiliki beberapa tema substantif yaitu: Orientasi pada pondasi keimanan, pembiasaan ibadah, penanaman akhlak terpuji, sederhana, mengesankan dan intens, pendekatan dengan kisah dan alam semesta. Mengingat periode Makiyah adalah periode awal turunya al-Qur’an, maka kurikulum Makiyah sesuai untuk jenjang pendidikan awal atau pendidikan dasar.
THE ROLE OF MEDIATION IN MUSLIM FAMILY DISPUTE RESOLUTION: QURANIC PERSPECTIVE AND CONTEMPORARY LEGAL PRACTICE Mustafid; Safrizal, Safrizal; Ismail, Hidayatullah
Syakhsia Jurnal Hukum Perdata Islam Vol 26 No 1 (2025): Januari-Juni
Publisher : Islamic Civil Law Departement of Shari'a Faculty at Islamic State University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37035/syaksia.v26i1.12281

Abstract

Mediation is one of the dispute resolution methods recommended in Islam and implemented in the contemporary legal system, including in the resolution of Muslim family disputes. This study aims to analyze the role of mediation in resolving Muslim family conflicts based on the perspective of the Qur'an and the legal practices applicable in religious courts. This research is a literature study with a qualitative approach through juridical-normative and sociological methods. Primary data include the Qur'an, Hadith, and regulations related to mediation, such as Law No. 7 of 1989. Secondary data are in the form of books, journals, and scientific articles. Data collection is carried out through text review and analyzed descriptively analytically.This study shows that mediation (Ishlah) in Islam is considered the best solution to resolve disputes, as emphasized in the Qur'an. However, its effectiveness is still hampered by low success, lack of awareness, and limited regulations and facilities. Although it has a strong foundation in Islam and positive law, its implementation needs to be strengthened to reduce the divorce rate. The synergy between legal institutions, mediators, and the community is required to increase awareness and improve the mediation system to be more effective in resolving Muslim family disputes reasonably and harmoniously.
Pemanfaatan Kaidah Tafsir dalam Menafsirkan Nasikh dan Mansukh pada Al-Quran Insi, Sajidan; Fatimah, Fatimah; Akbar, Ali; Ismail, Hidayatullah
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.5167

Abstract

Penelitian ini membahas pemanfaatan kaidah tafsir dalam menafsirkan konsep nasikh dan mansukh dalam Al-Qur’an, yang merupakan aspek fundamental dalam memahami dinamika syariat Islam. Latar belakang penelitian ini yaitu pentingnya pemahaman terhadap nasikh-mansukh guna menghindari kekeliruan dalam penetapan hukum serta menjaga konsistensi tafsir ayat-ayat Al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, menggunakan sumber primer seperti Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān karya al-Suyuthi, serta literatur sekunder lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kaidah tafsir yang tepat, seperti prinsip bahwa nasakh hanya bisa ditetapkan dengan dalil qat’i serta pengutamaan takhsis daripada nasakh, berperan penting dalam memahami ayat-ayat yang tampak kontradiktif. Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman yang keliru terhadap konsep nasikh-mansukh dapat menimbulkan kesalahan dalam penetapan hukum Islam. Oleh karena itu, penguasaan kaidah tafsir menjadi syarat mutlak bagi mufassir dan mujtahid. Penelitian ini juga menyoroti perbedaan pandangan ulama mengenai keberadaan nasakh, serta urgensi memahami konteks dan kronologi turunnya ayat dalam penafsiran yang sahih.
PERLINDUNGAN HAK-HAK KELUARGA DALAM AL-QUR'AN: PERSPEKTIF ADVOKASI ISLAM Nazri Arif, Nurhilal; Rahmani, Ilham; Ismail, Hidayatullah
Berajah Journal Vol. 5 No. 1 (2025): Berajah Journal
Publisher : CV. Lafadz Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47353/bj.v5i1.576

Abstract

The family is the most fundamental social institution in society, serving as a place for the education of values, love, and protection (Nasaruddin Umar, 1999). However, in reality, many of the rights of family members are ignored or even violated. The Qur’an, as the primary source of Islamic teachings, places great emphasis on the protection of rights within the family, including those of husbands, wives, children, and other relatives (M. Quraish Shihab, 2002). This study aims to examine the concept of protecting family rights in the Qur'an through an Islamic advocacy approach, namely how these scientific values can be implemented in the context of modern social-humanitarian issues. The method used is library research with qualitative analysis of relevant Qur'anic verses and the views of classical and contemporary exegetes (Harun Nasution, 1985). The results of the study show that the Qur'an emphasises the principles of justice, compassion (rahmah), and social responsibility as the main foundations of family protection (Sayyid Qutb, 2000). In addition, Islamic advocacy plays an important role in fighting for and protecting these rights, whether through educational, social, or legal approaches. This study recommends the integration of Qur’anic values into family social advocacy to create family resilience and justice in contemporary Islamic society.
Integrasi Hadis Dengan Sains: Membaca Tunjuk Ajar Rasulullah Dalam Menguap Dan Antisipasi Dislokasi Rahang Yasti, Suci Amalia; Hasbi, M. Ridwan; Putra, Masyhuri; Ismail, Hidayatullah
Al-Qudwah Vol 1, No 2 (2023): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i2.24759

Abstract

Every command and prohibition conveyed by Prophet Muhammad (S.A.W.) fundamentally contains implicit meanings for the well-being of his community. Even seemingly trivial matters, such as yawning, have significance. In hadiths, it is mentioned that when someone yawns, they should observe certain etiquettes to prevent jaw dislocation. This article aims to understand the form of integration between Hadith and Science in relevant contexts, etiquettes of yawning as described in hadiths, and ways to prevent or address jaw dislocation. The research method used is content analysis, connecting the content of hadiths with health sciences. A modernist approach is employed, incorporating scientific studies, particularly in health sciences, to provide a broader and deeper understanding of the hadiths. The results of this research indicate that Prophet Muhammad (S.A.W.) provided examples of etiquette during yawning in the hadiths. Among these etiquettes are restraining the mouth as much as possible, covering the mouth, and avoiding making noise while yawning. The correlation between the hadiths and jaw dislocation is that these etiquettes serve to anticipate jaw-related illnesses. Failure to observe these etiquettes during yawning may lead to opening the mouth too wide, potentially causing jaw dislocation. Opening the mouth excessively can cause the jaw joints to shift from their original positions, hindering the proper functioning of the jaw joints. If not promptly addressed, jaw dislocation may require surgery or the replacement of the jaw with a new one or a prosthetic jaw. Abstrak: Setiap perintah dan larangan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw pada hakikatnya mengandung makna yang tersirat yaitu untuk kebaikan bagi umatnya. Walaupun hal tersebut terkesan sesuatu yang sepele seperti menguap. Di dalam hadis disebutkan bahwa ketika seseorang menguap hendaknya menggunakan adab-adabnya agar terhindar dari penyakit dislokasi rahang yang diakibatkan oleh menguap. Tujuan artikel ini untuk mengetahui bentuk integrasi hadis dan sains yang berkaitan adab-adab ketika menguap yang dijelaskan dalam hadis dan cara mencegah atau mengatasi penyakit dislokasi rahang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode konten analisis yang menghubungkan kandungan hadis dengan ilmu kesehatan. Pendekatan modernis menggunakan kajian ilmiah seperti ilmu kesehatan agar dapat memahami hadis lebih luas dan memberikan pemahaman yang dalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam hadis Rasulullah Saw telah memberikan contoh adab ketika menguap. Di antara adabnya yaitu menahan mulut semampunya, menutup mulut dan jangan mengeluarkan suara. Korelasi antara hadis dengan penyakit dislokasi rahang ini adalah bahwa adab-adab menguap berguna untuk mengantisipasi penyakit rahang, karena jika tidak melakukan adab-adab menguap akan menyebabkan mulut terlalu lebar. Sehingga ketika membuka mulut terlalu lebar maka akan mengakibatkan penyakit yang bernama penyakit dislokasi rahang. Ketika membuka mulut terlalu lebar menyebabkan sendi-sendi yang terdapat di dalam tersebut bergeser dari tempat semulanya. Sehingga sendi rahang tidak dapat berfungsi dengan baik. Dimana penyakit dislokasi rahang ini jika tidak ditangani dengan cepat akan mengakibatkan operasi atau pertukaran rahang yang baru atau rahang tiruan.