Disrupsi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) menuntut transformasi fundamental dalam kepemimpinan pendidikan, dari peran manajerial menuju peran yang lebih adaptif dan beretika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pemimpin pembelajaran di SMK Muhammadiyah 1 Baturetno, sebuah sekolah kejuruan di wilayah non-urban, memaknai dan mentransformasikan bermaksud untuk mengintegrasikan AI secara etis dan berkeadilan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berdesain studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan beberapa guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi peran terjadi melalui tiga tahapan utama: (1) pergeseran makna kepemimpinan dari 'manajer' menjadi 'arsitek ekosistem belajar'; (2) penerapan strategi 'koalisi-terbatas' untuk menavigasi resistensi dan memantik inovasi dari bawah; dan (3) munculnya kesadaran akan dilema antara mendorong inovasi dengan memastikan keadilan digital bagi siswa dari latar belakang sosial-ekonomi yang beragam. Temuan ini mengimplikasikan bahwa kepemimpinan yang efektif di era AI tidak hanya menuntut kecakapan teknis, tetapi juga kecerdasan emosional untuk mengelola perubahan dan kompas moral yang kuat untuk menempatkan keadilan sebagai inti dari kebijakan teknologi.