Claim Missing Document
Check
Articles

Konsep Akidah dan Akhlak bagi Penegak Hukum dan Implementasinya dalam Aspek Penegakan Hukum Aziz Zaenudin; Dika Kurnia Dikrillah; Ali Maulida
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 5 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i5.1008

Abstract

Penelitian ini mengkaji urgensi integrasi nilai-nilai akidah dan akhlak dalam praktik penegakan hukum. Fokus utama adalah menganalisis problematika individu dan sistemik yang dihadapi penegak hukum, serta menawarkan solusi berbasis pendekatan teosentris, keadilan restoratif, dan keteladanan pemimpin. Ditemukan bahwa akidah berfungsi sebagai sistem kontrol internal, sementara akhlak menjadi standar perilaku yang menjamin keadilan substansial. Implementasi nilai-nilai ini terwujud dalam kejujuran penyidikan, objektivitas penuntutan, dan kebijaksanaan hakim. Pendidikan karakter dan internalisasi nilai tauhid berperan penting dalam membentuk penegak hukum yang berintegritas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan akidah dan akhlak adalah prasyarat untuk mewujudkan penegakan hukum yang berkeadilan.
Akhlak Kepada Rasulullah dalam Perspektif Islam: Integrasi Nilai Mahabbah, Ta'zhim, dan Ittiba' Sebagai Kerangka Pendidikan Karakter Islami Syahdan Muhammad Fauzi; Iman Margarahmana; Ali Maulida
Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 5 Nomor 1 Februari (2026)
Publisher : Pusdikra Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/khazanah.v5i2.3578

Abstract

Akhlak kepada Rasulullah ﷺ merefleksikan esensi keimanan Muslim sekaligus fondasi karakter Islami. Penelitian ini mengkaji integrasi tiga nilai inti mahabbah (cinta), ta'zhim (pengagungan), dan ittiba' (pengikutan) serta merumuskan kerangka relasional integratif di antara ketiganya. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis library research dengan analisis konten, sumber data primer mencakup Al Qur'an, hadis, serta kitab Iḥyā' 'Ulūm al Dīn (al Ghazali), al Risālah al Qushayriyyah (al Qushayri), dan Madārij al Sālikīn (Ibnu Qayyim), sementara sumber sekunder terdiri dari artikel jurnal terbitan 2020 2025. Temuan menunjukkan bahwa mahabbah melahirkan ta'zhim terhadap kedudukan dan pribadi beliau, sementara ittiba' merupakan implementasi konkret pengamalan sunnah secara proporsional tanpa ghuluw maupun tafrith. Kebaruan penelitian ini adalah Siklus Akhlak MTA yang menggambarkan hubungan resiprokal dan rekursif: mahabbah mendorong ta'zhim, ta'zhim melahirkan ittiba', dan ittiba' memperdalam mahabbah serta memperkokoh ta'zhim. Kontribusi teoretisnya menyatukan tiga nilai yang sebelumnya dikaji secara terpisah ke dalam kerangka akhlak utuh. Penelitian merekomendasikan penguatan ketiga nilai terintegrasi dalam kurikulum pendidikan karakter Islami melalui pendekatan berbasis cinta dan keteladanan.
Relevansi Nilai-nilai Istiqomah terhadap Penguatan Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Islam Nurdin Sahid Wijaksana; Saim Kurniawan; Ali Maulida
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.949

Abstract

Istiqomah merupakan salah satu nilai fundamental dalam akhlak Islam yang menekankan konsistensi dalam keimanan, ibadah, dan perilaku sehari-hari. Istiqomah tidak hanya dimaknai sebagai keteguhan dalam menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi juga sebagai kemampuan mempertahankan integritas moral di tengah berbagai tantangan kehidupan. Dalam konteks akhlak Islam, istiqomah mencerminkan keselarasan antara hati, ucapan, dan tindakan yang dilandasi oleh nilai-nilai tauhid, kesabaran, dan keikhlasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai istiqomah dalam perspektif akhlak Islam serta relevansinya terhadap pembinaan kepribadian individu. Istiqomah mengandung makna bahwa kualitas keimanan tidak dinilai dari banyaknya amal saleh yang dilakukan dalam waktu tertentu, tetapi dari kemampuan seseorang untuk mempertahankan dan mengamalkan kebaikan tersebut secara berkelanjutan sepanjang hidupnya. Seorang muslim yang memiliki sikap istiqomah akan tetap teguh berpegang pada ajaran Islam serta senantiasa menjauhi segala larangan Allah Swt, dan tidak mudah goyah meskipun menghadapi cobaan yang berat. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui studi kepustakaan dengan pendekatan analisis isi dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap istiqomah dapat memberikan dampak yang baik terhadap pendidikan kepribadian seorang muslim. Istiqomah juga dapat menjadi wasilah seorang hamba mendapatkancinta dari Allah subhanahu wa ta’ala. Pelakunya akan dibalas dengan beragam kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Penelitian ini menghasilkan sintesis konseptual mengenai model pembinaan kepribadian berbasis nilai istiqomah dalam pendidikan Islam.
Etika Medis Berbasis Tauhid Dalam Teknologi Reproduksi: Analisis Relasi Iman, Ilmu, Dan Amal Perspektif Bioetika Islam Sri Sukmawati; Erlani; Ali Maulida
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 April 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i1.1024

Abstract

The development of assisted reproductive technologies, particularly in vitro fertilization (IVF), offers hope for infertile couples to have children. However, this advancement also raises ethical issues concerning human intervention in the reproductive process, lineage status, human dignity, and the legitimacy of its use in Islam. Previous studies have generally examined reproductive technologies from the perspectives of fiqh law, maqāṣid al-sharī‘ah, or medical bioethics in a partial manner. Nevertheless, there remains limited research that specifically integrates the concept of Tawhid as a medical ethics paradigm through the relationship between faith, knowledge, and action in analyzing modern reproductive technologies. This gap forms the basis of the present study. This research aims to analyze the role of Tawhid as a foundation of medical ethics and to explain the relationship between faith, knowledge, and action as a framework of Islamic bioethics in responding to developments in assisted reproductive technologies. The study employs a library research method with a normative-philosophical approach and a conceptual research design. Data were obtained from 25 sources consisting of scientific articles, fatwas issued by Islamic institutions, and literature related to Islamic bioethics, infertility, IVF, gamete donation, surrogate motherhood, maqāṣid al-sharī‘ah, and Islamic medical ethics published during the 2021–2026 period. The data were analyzed using content analysis techniques through the identification, categorization, interpretation, and synthesis of Islamic bioethical concepts. The findings indicate that Tawhid functions as an ontological, epistemological, and axiological foundation in Islamic medical ethics. The relationship between faith, knowledge, and action serves as a regulatory mechanism to ensure that the use of reproductive technologies remains consistent with Sharia values. IVF is permissible when it uses sperm and ova from a legally married husband and wife without the involvement of a third party. In contrast, gamete donation and surrogate motherhood are rejected because they have the potential to compromise lineage and conflict with the principle of hifẓ al-nasl (preservation of lineage). This study produces a conceptual model of Tawhid-based reproductive bioethics as a guideline for ethical decision-making in contemporary medical practice.
Relevansi pemikiran al-ghazali tentang belajar Dan pembelajaran bagi pendidikan islam kontemporer Halimah; Mayasari; Ali Maulida
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 April 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i1.1030

Abstract

Contemporary Islamic education faces the challenge of balancing academic knowledge with moral and spiritual values in learners’ development. This study aims to analyze the concept of learning and instruction from the perspective of Abū Ḥāmid al-Ghazālī and to identify its relevance to contemporary Islamic educational practices. The main issue addressed is how to integrate al-Ghazālī’s principles into modern Islamic education, which tends to emphasize cognitive aspects without neglecting moral and spiritual dimensions. The research method employed is a literature review, analyzing al-Ghazālī’s classical works as well as relevant academic articles and journals on contemporary Islamic education. The findings indicate that al-Ghazālī’s educational concept, which emphasizes the balance between worldly (dunyāwī) and otherworldly (ukhrawī) knowledge, can be implemented within a holistic Islamic education design. The study produces a conceptual synthesis in the form of an al-Ghazālī-based holistic learning model consisting of spiritual objectives, integration of knowledge and faith, student ethics, teacher exemplarity, reflective learning, and character-based evaluation. The implications of this study highlight the necessity of curriculum reform in Islamic education that integrates moral and spiritual values with ethically grounded educational technology, as well as strengthening the role of teachers as both intellectual and spiritual mentors in the learning process. This study offers a conceptual framework for transforming al-Ghazālī’s thought into contemporary Islamic educational design oriented toward intellectual, moral, and spiritual balance.
Konsep Belajar Ibnu Taymiyyah Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Kontemporer Nisa Ayanti; Nia Kurniawati; Ali Maulida
Dirosah Islamiyah Vol 1 No 3 (2026): Juli
Publisher : Dirosah Islamiyah: Jurnal Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Contemporary Islamic education faces various challenges related to technological developments, globalization, moral crises, and the tendency toward a dichotomy in knowledge. Underthese circumstances, the educational thought of classical scholars has once again gained attention as a source of values and an educational paradigm relevant to the needs of the times. One figure who has made a significant contribution to the field of Islamic education is Ibn Taymiyyah. This study aims to analyze Ibn Taymiyyah’s concept of learning and examine its relevance to contemporary education. The study employs a literature review (library research) method with a descriptive qualitative approach. Data were obtained from the works of Ibn Taymiyyah and various scholarly articles discussing Islamic educational thought. The results of the study indicate that the concept of learning according to Ibn Taymiyyah is built upon the principle of tawhid, the integration of knowledge and action, the proportional development of reason, the cultivation of character, and the importance of experience in acquiring knowledge. These concepts have strong relevance to contemporary educational paradigms, particularly in strengthening character education, holistic learning, student-centered learning, the integration of knowledge, and the comprehensive development of students’ competencies. Ibn Taymiyyah’s thought can serve as a conceptual alternative in addressing the challenges of modern education without neglecting Islamic values.
Pendidikan Akhlak Perspektif Ibnu Miskawaih Dan Relevansinya Dalam Pendidikan Islam Kontemporer Mutiara; Ali Maulida
Dirosah Islamiyah Vol 1 No 3 (2026): Juli
Publisher : Dirosah Islamiyah: Jurnal Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine Ibn Miskawayh’s concept of moral education and its relevance to contemporary Islamic education. The study is motivated by the moral crisis in modern education, reflected in the decline of honesty, responsibility, and social awareness, which highlights the need to strengthen education that balances intellectual, spiritual, and moral dimensions. This research employed a qualitative approach with a library research design. Data were collected from relevant academic literature and analyzed descriptively through content analysis. The findings reveal that, according to Ibn Miskawayh, moral education is the core of education, aiming to shape the human soul toward goodness and happiness. Morality, in his view, can be developed through habituation, supervision, discipline, role modeling, early childhood education, and the strengthening of spiritual values. His thought also emphasizes the balance of reason, anger, and desire as the foundation for forming a virtuous personality. In the context of contemporary Islamic education, Ibn Miskawayh’s ideas remain relevant to character education, the integration of moral values into learning, the development of an Islamic school culture, and the synergy between family and school. This study concludes that Ibn Miskawayh’s thought can serve as a conceptual foundation for developing moral education that is more integrative, contextual, and oriented toward producing individuals who are intellectually capable and morally virtuous.
Integrasi Model Pembelajaran PAI dan Teori Belajar Islam: Analisis Konseptual Terhadap Pengembangan Pembelajaran Holistik Nurdin Sahid Wijaksana; Ali Maulida
Invention: Journal Research and Education Studies Volume 7 Nomor 2 Juli 2026| IN PRESS
Publisher : CV. PUSDIKRA MITRA JAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/invention.v7i2.3579

Abstract

Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) seringkali dipandang sebagai mata pelajaran yang kurang diminati dan cenderung membosankan oleh sebagian siswa. Persepsi ini muncul bukan tanpa sebab, melainkan salah satunya dipengaruhi oleh lemahnya kompetensi guru dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran yang tepat dan efektif. Penelitian ini didasarkan pada kesadaran bahwa keberhasilan proses pendidikan dipengaruhi oleh berbagai komponen utama, antara lain guru, peserta didik, kurikulum, lingkungan belajar, serta model pembelajaran yang diterapkan. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana model-model pembelajaran yang digunakan dalam PAI selaras dengan prinsip-prinsip teori belajar dalam Islam, seperti pembelajaran yang menekankan aspek akal (kognitif), hati (afektif), dan tindakan (psikomotorik). Dengan demikian, dapat diketahui apakah model pembelajaran yang diterapkan sudah mencerminkan nilai-nilai pendidikan Islam seperti keteladanan (uswah), pembiasaan (‘adah), nasihat (mau‘izhah), dan pengalaman langsung (tajribah). Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui studi kepustakaan dengan pendekatan analisis isi dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran untuk mata pelajaran PAI yang dikombinasikan dengan teori belajar dalam perspektif Islam memberikan hasil yang jauh lebih baik. Pengintegrasian model pembelajaran modern dengan prinsip-prinsip teori belajar Islam—seperti keteladanan (uswah), pembiasaan (‘adah), nasihat (mau‘izhah), dan pengalaman langsung (tajribah)—mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan aplikatif. Penelitian menghasilkan model integratif yang menghubungkan teori behaviorisme dengan pembiasaan ibadah, kognitivisme dengan penguatan pemahaman akidah, konstruktivisme dengan pembelajaran kontekstual, dan humanisme dengan pembinaan spiritual peserta didik.
Perbedaan Individual Peserta Didik dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam: Implikasi Terhadap Pembelajaran Diferensiatif Choirul Anwar; Ali Maulida; Lina Marlina
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 5 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i5.1031

Abstract

Perbedaan individu peserta didik merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan Agama Islam karena setiap peserta didik memiliki karakteristik, potensi, kemampuan, minat, bakat, serta perkembangan psikologis yang berbeda-beda. Dalam perspektif pendidikan Agama Islam, peserta didik dipandang sebagai individu yang memiliki fitrah dan potensi yang harus dikembangkan secara optimal melalui proses pendidikan yang humanis, adaptif, dan berorientasi pada pembentukan insan kamil (mutakamil). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan individual peserta didik dalam perspektif pendidikan Agama Islam serta implikasinya terhadap proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui studi dokumentasi dan studi literatur dari berbagai jurnal ilmiah, buku, serta hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan tema penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan teknik content analysis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan individual peserta didik meliputi aspek intelegensi, minat, bakat, gaya belajar, perkembangan emosional, latar belakang sosial, dan spiritualitas peserta didik. Perbedaan tersebut memiliki implikasi yang signifikan terhadap pemilihan strategi, metode, media, dan pendekatan pembelajaran. Pendidikan Agama Islam menekankan pentingnya pembelajaran diferensiatif yang menghargai keragaman peserta didik serta berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman terhadap perbedaan individual peserta didik sangat penting dalam menciptakan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang efektif, inklusif, humanis, dan sesuai dengan perkembangan peserta didik di era modern. Penelitian ini menghasilkan sintesis konseptual bahwa pembelajaran diferensiatif dalam pendidikan modern memiliki keselarasan filosofis dengan konsep fitrah, potensi, dan penghargaan terhadap keragaman individu dalam pendidikan Agama Islam, sehingga dapat menjadi dasar pengembangan pembelajaran PAI yang humanis dan inklusif. 
Konsep Pembelajaran Berbasis Adab Menurut al-Zarnuji dan Implikasinya bagi Pendidikan Islam Kontemporer Saim Kurniawan; Mulyono Mulyono; Ali Maulida
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 3 (2026): September
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i3.981

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep pembelajaran berbasis adab yang dirumuskan al-Zarnuji dalam Ta'lim al-Muta'allim serta implikasinya bagi pendidikan Islam kontemporer. Melalui studi kepustakaan kualitatif, penelitian ini mensintesiskan literatur ke dalam kerangka terintegrasi yang mencakup tujuan pendidikan, kualifikasi pendidik, etika peserta didik, kurikulum, dan metode pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa al-Zarnuji menempatkan adab sebagai mahkota ilmu, di mana keikhlasan niat, penghormatan terhadap guru, kesabaran yang disiplin, serta penguasaan bertahap menjadi fondasi pembelajaran yang bermakna. Dalam konteks Society 5.0 dan Industri 4.0, prinsip tersebut menjadi penyeimbang budaya serba instan dan orientasi pragmatis yang mendominasi pendidikan era digital. Penelitian ini berargumen bahwa pemikiran al-Zarnuji menawarkan antidote spiritual bagi merosotnya karakter generasi masa kini, sekaligus menegaskan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan otoritas moral keteladanan guru. Penelitian ini menghasilkan sintesis baru yang memposisikan adab sebagai fondasi epistemologis yang relevan bagi pendidikan Islam, pembelajaran berpusat pada peserta didik, dan pemikiran kritis di tengah disrupsi teknologi yang terus berlangsung.
Co-Authors Abdul Jabar Idharudin Aceng Ali Aceng Zakaria Ade Kohar Agus Sarifudin Agus Sarifudin Agus Sarifudin, Agus Ahmad Syaripudin Ahmad Ubaedilah Aji Mustopa Angga Erlangga, Angga Arijulmanan, Arijulmanan Aripin, Imam Asyiroh Islami Aziz Zaenudin Balkis Nur Azizah Budi Heryanto Budi Heryanto Bulloh, Muhammad Naji Choirul Anwar Dendi Iskandar Suhendri Didin Hafidhuddin MS Dika Kurnia Dikrillah Dika Kurnia Dikrillah Dika Kurnia Dikrillah Dikrillah, Dita Kurnia Dita Kurnia Dikrillah Erlani Erlani Erlani Farhan Farhan Ghofar Ismail Ghofar Ismail Haji Aziz S. Koli Halimah Halimah Halimah Harun Sutara Harun Sutara Hendrawan Hendrawan Heriyansyah, Heriyansyah Herman Herman Ibadurrahman, Muhammad Ibrahim Bafadhol, Ibrahim Imam Aripin Iman Margarahmana Indri Machtifaliandri Iskandar Iskandar Iyas Ilyasa Kamus Lina Marlina Lina Marlina Lina Marlina M Hidayat Ginanjar M Sarbini Mayasari Mayasari Maya Miftah Wangsadanureja Moch Yasyakur Mowafg Abrahem Masuwd Muhamad Priyatna Muhamad Priyatna Muhamad Priyatna Muhammad Izzuddin Alqosam Muhammad Naji Bulloh Muhammad Naji Bulloh Najib Muhammad Sarbini Muhammad Sarbini, Muhammad Mulyono Mulyono Muslim, Zulpian Mustopa, Aji Mutia Isfah Ardilah Mutiara Mutiara Mutiara Mutiara Nafisah Nurfaidah Nia Kurniawati Nia Kurniawati Nia Kurniawati Nisa Ayanti Nisa Ayanti Novi Ayu Wulandari Nurdin Sahid Wijaksana Nurdin Sahid Wijaksana Nurul Safrina Jindan Nurul Safrina Jindan Nurwahdah, Ulama Priyatna, Muhamad Qorik Maghfirah R. Muhamad Ramdan Raaniah Mumtaz Rahendra Maya Rahendra Maya, Rahendra Rahman Rahman Rasid, Husni Muhammad Rosalina Zulhijjah Rumba Triana Saim Kurniawan Salma Raniah Samsuddin Samsuddin Samsuddin Samsuddin Samsuddin Samsuddin Samsuddin Samsuddin Saqoikul Ilmi Sarifudin sarifudin, Sarifudin Siti Humaira Nur Hasanah Siti Wardah Nabilah Siti Zulfah Tri Wardah SOLAHUDIN SOLAHUDIN, SOLAHUDIN Sri Sukmawati Sri Sukmawati Suhada Suhada, Suhada Sujian Suretno Suretno, Sujian Syaeful Rokim Syafri, Ulil Amri Syahdan Muhammad Fauzi Syahdan Muhammad Fauzi Syahdan Syamsiar, Syamsiar Tamam, Abas Mansur Tomi Yuliansyah Ujang Andi Yusuf Ujang Andi Yusuf, Ujang Andi Unang Sodikin Unang Wahidin Unang Wahidin Unang Wahidin Unang Wahidin, Unang Utama, Eko Satria Wahyu Utami, Syifarahmi Hari Wartono Wartono Wartono Wartono Yani Sukarni Yulianti Zakaria, Aceng