Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Annulment of Marital Property Agreements Due to Vitiating Factors: A Comparative Study Between Indonesian and English Law Sirait, Priscila; Marsal, Irsyaf
Journal of Law, Politic and Humanities Vol. 6 No. 1 (2025): (JLPH) Journal of Law, Politic and Humanities
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jlph.v6i1.2523

Abstract

This article examines how annulment of marital property agreements occurs when consent is tainted by vitiating factors. The research object focuses on prenuptial agreements in Indonesia and financial settlement agreements in England. The objective of this study is to analyze the legal framework, judicial practice, and consequences of annulment caused by error, misrepresentation or fraud, or duress in both jurisdictions. Using normative legal research, this study employs statutory, conceptual, comparative, and case approaches, supported by deductive analysis of legislation, jurisprudence, and scholarly opinion. The results show that under Indonesian law, annulment is possible when an agreement is proven to be based on false or misleading information, as exemplified by Denpasar District Court Decision No. 1308/Pdt.G/2019/PN.Dps, which annulled a prenuptial agreement due to misrepresentation. Meanwhile under English law, annulment is recognized in cases of fraudulent misrepresentation, as highlighted in Sharland v Sharland [2015] UKSC 60, where intentional dishonesty invalidated a financial settlement agreement. The conclusion affirms that such agreements are voidable and although annulment safeguards fairness and genuine consent, the division of marital property must still be pursued through separate judicial proceedings as the consequences in both legal systems.
Transformasi Paradigma Kebijakan Publik: Integrasi Prinsip Hukum Progresif dalam Pembangunan Hukum Responsif di Indonesia Evi Fitriani; Ahmad Ahsin Thohari; Irsyaf Marsal
Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 5 No. 2 (2025): Juni : Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/khatulistiwa.v5i2.6298

Abstract

This article discusses the transformation of the public policy paradigm in Indonesia through the integration of progressive legal principles in order to realize legal development that is responsive to the social needs of society. Progressive law, as initiated by Satjipto Rahardjo, emphasizes that the law must side with substantive justice and the needs of the people, not merely enforce rigid and procedural legal certainty. This research uses a normative juridical approach with qualitative analysis of various laws and regulations, legal doctrines, and relevant case studies. The results of the study show that the integration of progressive legal principles into public policy has great potential in bridging the gap between social reality and formalistic legal construction. However, the implementation of this principle is faced with a number of challenges, such as institutional resistance from conservative legal institutions, a legal education paradigm that is still legal-formalistic, and limited public participation in the legislative process. To overcome these obstacles, a comprehensive strategy is needed, including reforming the legal education curriculum, revitalizing law enforcement officials, strengthening the role of civil society, and optimizing information technology in the justice system. With these steps, legal transformation is expected to be not only structural, but also cultural and paradigmatic, so as to realize a national legal system that is more inclusive, fair, and relevant to the dynamics of contemporary Indonesian society.
Politik Hukum Pembentukan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara: Implikasinya terhadap Dosen di Perguruan Tinggi Negeri Sari, Intan Permata; Marsal, Irsyaf
AHKAM Vol 4 No 4 (2025): DESEMBER
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/ahkam.v4i4.7831

Abstract

Indonesia, as a rechtstaat (rule of law) state, implicitly adopts the principles of a welfare state, one of which is reflected in the regulation of the national civil service system. Following the enactment of Law Number 20 of 2023 concerning State Civil Apparatus (UU ASN 2023), the management of civil servants has become more organized and adaptive to the needs of government institutions. However, this regulation presents normative issues, particularly for non-civil servant (non-PNS) lecturers at public universities. This study aims to examine the legal politics behind the enactment of UU ASN 2023 and its implications for the regulation of lecturers within the public higher education system. A normative juridical method was employed, utilizing statutory and conceptual approaches. The findings indicate that the legal politics of UU ASN 2023 are directed at reforming civil servant management to be more flexible and competitive, including in the recruitment of talent in the public sector. Nonetheless, the implementation of this regulation generates normative conflicts with Law Number 14 of 2005 on Teachers and Lecturers (UU Guru Dosen), particularly regarding the recognition of non-PNS lecturers in public universities. Therefore, in drafting implementing regulations for UU ASN 2023, the government should refer to UU Guru Dosen as lex specialis to ensure legal certainty and continuity for non-PNS lecturers. These findings underscore the importance of regulatory harmonization in the higher education sector to prevent legal uncertainty and to safeguard the professional rights of lecturers.
Pendidikan Karakter: Membangun Generasi yang Islami, Kreatif, dan Kompetitif Irawan, Dio Rizqi; Ulfah, Khofshotul; Danibao, Masitaria Aci; Imanah, Nur Syahdatul; Alfiansa, Sendi; Rahman, Siti Muthia; Aprilia, Tia; Estuningtyas, Retna Dwi; Marsal, Irsyaf
Jurnal Pengabdian Masyarakat (JUDIMAS) Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKes Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/judimas.v2i2.291

Abstract

Pengabdian Masyarakat telah dilaksanakan di Masjid Jami’yatul Khair, Kayu Putih selama satu bulan dimulai pada tanggal 18 November 2023. Masjid Jami’yatul Khair ini merupakan masjid yang dipilih menjadi tujuan pengabdian masyarakat sebagai sentral kegiatan Islami untuk memakmurkan masjid dan memandirikan umat serta memberikan motivasi, dan perlombaan. Pengabdian masyarakat diawali dengan proses observasi masjid guna melihat potensi masjid yang akan menjadi sasaran utama dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat. Program-program dirancang berurutan mulai dengan diskusi kelompok pengabdian masyarakat, serta pengurus masjid setempat, khususnya yang bersinggungan langsung dengan program-program yang dirancang. Pelaksanaan program pengabdian masyarakat dilakukan secara seimbang diawali dengan perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi di akhir program. Hasil yang dicapai dari program pengabdian masyarakat diantaranya meningkatkan kemampuan anak-anak lingkungan masjid khususnya dalam semangat menghafal surat-surat pendek, mewarnai kaligrafi Arab, serta mengumandangkan adzan. Disisi lain, kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi peserta dan masyarakat setempat, khususnya jamaah Masjid Jami’yatul Khair dalam upaya memakmurkan masjid.
Revolusi Teknologi dan Tantangan Hukum: Perspektif Privasi dan Keamanan Data dalam Era Internet of Things (IoT) Sembiring, Tamaulina Br.; Koynja, Johannes Johny; Maharaja, Tegen; Febryani, Evy; Marsal, Irsyaf
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jcm.v3i2.2202

Abstract

Revolusi teknologi yang disaksikan dalam era Internet of Things (IoT) telah menghadirkan manfaat besar dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, pertumbuhan pesat IoT juga membawa tantangan baru dalam hal privasi dan keamanan data. Artikel ini mengeksplorasi dampak revolusi teknologi dalam konteks hukum, dengan fokus pada isu-isu privasi dan keamanan data dalam lingkungan IoT. Dalam artikel ini, kami melakukan tinjauan mendalam tentang perkembangan hukum yang berkaitan dengan IoT dan dampaknya terhadap privasi individu serta keamanan data. Kami menyajikan hasil penelitian terbaru yang mengungkapkan tantangan-tantangan hukum yang dihadapi dalam mengatasi isu privasi dan keamanan data dalam ekosistem IoT yang semakin kompleks. Kami juga membahas inisiatif kebijakan dan regulasi yang telah diadopsi oleh beberapa yurisdiksi untuk mengatasi isu-isu tersebut. Kami menggarisbawahi pentingnya perlindungan privasi dan keamanan data dalam era IoT yang terus berkembang, serta implikasinya terhadap pemegang kepentingan seperti konsumen, produsen perangkat IoT, dan penyedia layanan. Artikel ini mengidentifikasi kebijakan dan tindakan yang perlu diambil untuk memitigasi risiko dan menjaga kepatuhan terhadap hukum dalam lingkungan IoT.
TINJAUAN HUKUM KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA YANG MENYEBABKAN LUKA BERAT Marsal, Irsyaf; Rina Septiani; Kalijunjung Hasibuan; Vivi Puspita Sari; Hasudungan Sinaga
IBLAM LAW REVIEW Vol. 4 No. 1 (2024): IBLAM LAW REVIEW
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM IBLAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52249/ilr.v4i1.238

Abstract

Selama ini kekerasan terjadi karena kurangnya komunikasi dan komitmen dalam satu keluarga untuk merespon dinamika/ permasalahan hidup, sering sekali perempuan dan anak yang justru menjadi korbannya. Kekerasan dengan alasan apapun dari waktu ke waktu akan berdampak terhadap keutuhan keluarga, yang pada akhirnya bisa membuat keluarga berantakan. Jika kondisinya demikian, yang paling banyak mengalami kerugian adalah anak-anaknya terlebih bagi masa depannya. Beberapa waktu lalu terjadi kekerasan terhadap artis Venna Melinda. Ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga di salah satu hotel di Kota Kediri, Jawa Timur, pada hari Minggu tanggal 8 Januari 2023. Kekerasan tersebut dilakukan Ferry diduga sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir venna melinda menikah dengan Ferry Irawan. Venna Melinda mengalami Hidung Berdarah dan tulang rusuk yang retak akibat pukulan Ferry irawan. Hal inilah yang menjadi dasar pelaporan Venna melinda sebagai korban Kekerasan dalam Rumah Tangga yang dilakukan suaminya. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan (statute aproach), pendekatan konsep (conseptual approach) dan pendekatan kasus (case approach).
Politik Hukum Kebijakan Makan Bergizi Gratis: Pembebanan APBN atau Menuju Indonesia Emas 2045 Putra, Samudra Farasi; Marsal, Irsyaf
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 5 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i5.2344

Abstract

Program makan bergizi gratis menajdi suatu fokus penelitian yang unik untuk dikaji, terutama dalam dimensi politik hukum dengan melihat kepentingan penguasa atas program ini. Program ini secara tidak langsung membawa pesan yang mulia dalam pelaksanaannya, yakni mengurangi angka stunting di Indonesia. Namun menilik pada realitanya, program ini justru membebani APBN begitu besar, yakni hampir 44% dari alokasi biaya pendidikan dipergunakan untuk program makan bergizi gratis ini. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil dan pembahasna menunjukkan bahwa program makan bergizi gratis muncul dari pelaksanaan kampanye pemilihan umum presiden dan wakil presiden tahun 2024 dari pasangan calon nomor urut 2, yakni Prabowo Gibran, yang selanjutnya diimplementasikan pada saat teripiihnya pasangan calon tersebut dengan tanpa melibatkan dasar hukum yang pasti dalam pelaksanaannya. Kemudian, politik hukum dari pelaksanaan program ini adalah melihat pada tujuan yang mulia atas program ini, yakni pengurangan angka stunting dengan memberikan makanan kepada siswa di SD, SMP, dan SMA dalam merealisasikan Indonesia Emas 2045, di samping terdapat gerakan akar rumput untuk merealisasikan janji kampanye Presiden dan Wakil Presiden terpilih
Politik Hukum Pembentukan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana: Peluang dan Hambatannya dalam Penegakan Hukum di Indonesia Ningsih, Putu Ayu Veguita Putri; Marsal, Irsyaf
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 5 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i5.2375

Abstract

Pembentukan KUHP Baru di Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana memberikan pandangan bahwa adanya urgensi atas kebutuhan hukum acara yang baru. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana dinilai sudah tidak relevan atas kebutuhan hukum pidana formill di Indonesia dan muncullah pembahasan terkait dengan RKUHAP yang akan dimasukkan ke dalam Prolegnas tahun 2026. Hal ini memunculkan permasalahan dan analisis komprehensif mengenai kebutuhan hukum pidana formil baru dalam perspektif politik hukum pembentuk undang-undang di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undnagan dan pendekatan konseptual. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hukum acara pidana berkembang dari zaman kolonial Belanda di HIR hingga pengundangan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana atas respon hukum acara pidan ayang lama dengan nuansa kolonial dan disesuaikan dnegan kebutuhan prosedur pidana nasional. Kemudian, politik hukum pembentukan hukum acara pidana yang baru menunjukkan kecenderungan adanya kebutuhan atas hukum acara pidana yang baru akibat dari adanya KUHP baru yang diundangkan dalam UU No. 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Dengan demikian, kebutuhan dan koherensi atas hukum pidana materill baru akan terpenuhi secara total dengan adanya hukum pidana formil yang baru setelah RKUHAP diajukan dalam Prolegnas tahun 2026
Civil Law Implications for Children Born Through Surrogacy (Surrogate Mother) Thalib, Sabrina Riyadh; Marsal, Irsyaf
Journal of Law, Politic and Humanities Vol. 6 No. 1 (2025): (JLPH) Journal of Law, Politic and Humanities
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jlph.v6i1.2556

Abstract

This study analyzes the legal status of children born from surrogacy in Indonesia, a practice considered illegal yet a potential solution for infertility, creating a serious rechtsvacuüm. The research objective is a juridical analysis of this issue under Indonesian civil law using a normative juridical method. The findings indicate that surrogacy agreements are legally invalid and considered null and void (van rechtswege nietig) because they fail to meet the "lawful cause" requirement stipulated in Article 1320 in conjunction with Article 1337 of the Civil Code. This legal void creates uncertainty for the child. Based on the principle of mater semper certa est, the surrogate is legally recognized as the mother, disregarding genetic parentage. This situation infringes upon the child's fundamental rights to identity and inheritance, undermining the principle of pro bono infantis. The study concludes that there is an urgent need for definitive state regulation, either through a strict prohibition or by permitting altruistic surrogacy under rigorous judicial oversight, to provide legal certainty and paramount protection for the child
HOAXES AND DEFAMATION: LEGAL LIMITATIONS IN ASSESSING NON-MATERIAL DAMAGES Annazali, Ahmad Haqqi; Marsal, Irsyaf; Syarkun, Mufarikha Binti
Jurnal Kajian Ilmu Hukum Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Kajian Ilmu Hukum
Publisher : Yayasan Pendidikan Islam Almatani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/jkih.v4i2.1681

Abstract

The rapid spread of hoaxes and defamation in the digital age has become a destructive phenomenon, causing serious consequences that include not only material losses, but also significant non-material damages such as ruined reputations, loss of public trust, and profound psychological suffering for both individuals and corporations. This condition creates a crucial juridical problem because positive law in Indonesia, despite having instruments like the ITE Law, has not yet provided clear boundaries (limitations) or objective, measurable parameters for assessing and quantifying such non-material damages within the judicial system. This research utilizes a normative legal method employing a statute approach and a conceptual approach, qualitatively analyzing primary legal sources such as the Civil Code, Criminal Code, the ITE Law and its amendments, as well as secondary legal sources through a comprehensive literature review. The results and discussion demonstrate that the forms of non-material damage, as recognized in Article 1365 of the Civil Code and legal theory, encompass a broad spectrum ranging from damage to honor (eer) and good name (goede naam) to psychological suffering (trauma and stress); however, the legal boundaries in Indonesia are dominantly penal-centric, focusing only on punishing the perpetrator (deterrence) rather than restoring the victim. This strong penal orientation in the ITE Law is proven to create systemic fragmentation separating the criminal and civil processes and a legal vacuum (rechtsvacuüm) in non-material remediation mechanisms, thereby necessitating a paradigm shift towards restorative justice supported by Supreme Court Guidelines (PERMA) to provide clear parameters for judges to assess non-material damages fairly and proportionally.