Claim Missing Document
Check
Articles

Penatalaksanaan Anestesi pada Operasi Kraniotomi Cedera Kepala Berat P, Inggita Dyah; Rahardjo, Sri; Sudadi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 1 No 3 (2014): Volume 1 Number 3 (2014)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v1i3.7194

Abstract

Telah dilakukan penatalaksanaan anestesi pada wanita 38 tahun dengan diagnosis SDH akut et causa fraktur temporoparietal dextra yang akan dilakukan tindakan craniotomi decompresi dan removal hematom. Dari pemeriksaan didapatkan status fi sik ASA III E dengan GCS E1VTM2. Anestesi dilakukan dengan General Anestesi dengan teknik Rapid Sequence Intubation dan untuk pemeliharaan digunakan propofol continous dan fentanyl continous tanpa penggunaan agen inhalasi dan N2O. Operasi berlangsung selama 155 menit dengan hemodinamik stabil dan perdarahan kurang lebih 1000 cc. Post operasi pasien dirawat di PACU tanpa dilakukan ekstubasi.
TIVA Propofol dengan TCI Model Marsh P, Inggita Dyah; Sudadi; Rahardjo, Sri
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 1 (2014): Volume 2 Number 1 (2014)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i1.7196

Abstract

Total intravenous Anesthesia (TIVA) telah menjadi popular karena sifat farmakokinetik & farmakodinamis obat intravena yang semakin berkembang.Propofol merupakan obat anestesi yang paling sering diberikan untuk induksi anestesi. Propofol digunakan pula selama pemeliharaan anestesi dan sedasi dikamar operasi dan diruang rawat intensif.Kinetik dari propofol setelah pemberian bolus tunggal dan setelah infuse kontinyu paling bagus digambarkan dengan model 3 kompartemen. Model matematika ini telah digunakan sebagai dasar pengembangan infuse dengan target terkontrol (TCI). Model yang dibuat oleh Marsh et al secara historis penting karena merupakan sistem TCI pertama yang dikomersialkan.
TIVA (Total Intravenous Anesthesia) Iqbal, Muhammad; Sudadi; Ngurah, I Gusti
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 1 (2014): Volume 2 Number 1 (2014)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i1.7197

Abstract

Anestesi umum idealnya dapat memberikan induksi yang cepat dan tenang, kehilangan kesadaran yang dapat diprediksi, kondisi intraoperatif yang stabil, efek samping minimal, pemulihan refl eks proteksi dan fungsi psikomotor yang cepat dan lancar. Anestesi umum telah mengalami banyak perkembangan dan modifi kasi, begitu pula yang terjadi dengan anestesi intra vena sejak diperkenalkan pertama kalinya dalam praktek klinis yang telah berubah dari hanya sebagai induksi pada anestesi umum menjadi anestesi intramvena seluruhnya (Total Intravenous Anesthesia) [TIVA]. TIVA adalah teknik anestesi umum di mana induksi dan pemeliharaan anestesi didapatkan dengan hanya menggunakan kombinasi obat-obatan anestesi yang diberikan melalui jalur intra vena tanpa penggunaan anestesi inhalasi termasuk N2O untuk mencapai 4 komponen penting dalam anestesi yaitu ketidaksadaran, analgesia, amnesia dan relaksasi otot.
Faktor - Faktor Risiko Terjadinya AKI (Acute Kidney Injury) pada Pasien di ICU RSUP Dr. Sardjito Musda, Diva; RW, Calcarina Fitriani; Sudadi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7205

Abstract

Latar belakang : Kejadian AKI (Acute Kidney Injury) masih mempunyai angka kematian yang tinggi dan seringkali tidak terdiagnosis. AKI (Acute Kidney Injury) bisa diprediksi dengan menggunakan kriteria RIFLE (Risk-Injury-Failure-Loss-End stage renal failure). Kejadian AKI cukup tinggi ditemukan di unit rawat intensif. AKI merupakan terminologi baru dari gagal ginjal akut. Terminologi ini dianggap dapat menggambarkan tahapan kerusakan ginjal dari tahap awal sampai terjadinya kegagalan fungsi ginjal. Penggunaan istilah AKI diharapkan dapat mengenali gangguan fungsi ginjal sejak awal. Kriteria AKI menggunakan urin output dan angka kreatinin sebagai parameter pengukuran. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui bahwa Sepsis, Hipovolemia, Hipotensi, Operasi jantung, DM, Usia > 60 tahun, penggunaan obat nefrotoksik, Gagal jantung kongestif dan Pre eklampsi berat merupakan faktor risiko terjadinya acute kidney injury (AKI) pada pasien yang dirawat di ICU RSUP dr.SardjitoMetode : Studi kohort retrospektif. Subyek penelitian yaitu 121 pasien yang menjalani rawat inap di ICU RS Sardjito pada bulan januari hingga maret 2013. Pasien yang dirawat di ICU RS Sardjito dengan data lengkap. Tidak ada pasien gagal jantung kongetif yang ditemukan dalam penelitian ini.Hasil : Dari penelitian ini hipotensi (RR 18.46 dan P value 0.0001), PEB (RR 15.85 dan P value 0.0001), dan sepsis (RR 5.32 dan P value 0.001) merupakan faktor risiko yang paling kuat dan secara independen dapat menyebabkan terjadinya AKI pada pasien yang dirawat di ICU RSUP dr Sardjito. Faktor risiko lain yang mempengaruhi terjadinya AKI yaitu hipovolemia, penggunaan obat nefrotoksik, dan usia lebih dari 60 tahun. Sedangkan DM tanpa komplikasi dan operasi jantung bukan merupakan faktor risiko AKI.Kesimpulan : Hipotensi, PEB, dan sepsis merupakan faktor risiko yang paling kuat dan secara independen dapat menyebabkan terjadinya AKI pada pasien yang dirawat di ICU RSUP dr Sardjito. Faktor risiko lain yang mempengaruhi terjadinya AKI yaitu hipovolemia, penggunaan obat nefrotoksik, dan usia lebih dari 60tahun. Sedangkan DM tanpa komplikasi dan operasi jantung bukan merupakan faktor risiko AKI.
Anestesi Regional Intravena Farid, Anisa Fadhila; Sudadi; Artika, I Gusti Ngurah Rai
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 3 (2015): Volume 2 Number 3 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i3.7215

Abstract

Intravenous regional anesthesia (IVRA) atau Bier’s block merupakan teknik pemberian anestesi regional yang dilakukan dengan menginjeksikan obat anestesi lokal ke vena ekstremitas atas atau bawah yang telah dieksanguinasi dengan kompresi atau dengan elevasi dan telah diisolasi dengan tornikuet dari sirkulasi sentral. Teknik ini merupakan metode anestesi yang efektif untuk prosedur bedah di ekstremitas, dengan tingkat kesuksesan 94-98%, mudah dikerjakan dan hanya membutuhkan keterampilan kanulasi intravena.
Perbandingan Lama Blok Sensorik dan Motorik pada Anestesi Spinal antara Bupivacain 5 mg dengan Penambahan Fentanyl 25μg dan Bupivacain 10 mg pada Operasi Trans Uretral Resection Kurniawan, Novianto; Sudadi; Widyastuti, Yunita
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 3 (2015): Volume 2 Number 3 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i3.7219

Abstract

Efek sinergis antara obat lokal anestesi dengan penambahan opioid pada anestesi spinal telah diketahui. Pada penelitian ini sengan penambahan fentanyl pada bupivacain dosis minimal diharapkan dapat meningkatkan lamakerja blok sensorik dan pemulihan yang cepat blok motorik. Desain penelitian acak terkontrol. Ruang lingkup penelitian adalah pasien yang menjalani operasi TUR elektif di Gedung Bedah Sentral Terpadu RS Dr. Sadjito Yogyakarta. Subjek berjumlah 70 pasien yng memenuhi kriteria inklusi, dibagi menjadi dua kelompok yang masing masing terdiri dari 35 pasien. Kelompok A adalah yang mendapatkat bupivacain 10 mg, kelompok B adalah yang mendapatkan bupivacain 5 mg+fentanyl 25μg. Dilakukan pengamatan onset dan durasi blok saraf spinal, tingkat blok sensorik denganmetode pinprick dan tingkat blok motorik dengan Bromage score. Kelompok A memiliki durasi blok sensorik 111,43±18,73 menit sedangkan kelompok B memiliki durasi blok sensorik 97,71±15,11 menit. Terdapat perbedaan bermakna diantara kedua kelompok dengan p<0,05. Lama blok motorik kelompok A 142,29±13.08 menit sedangkan lama blok motorik kelompok B 78,86±16,18 menit, terdapat perbedaab bermakna p<0,05. Kelompok B memiliki lama pulih blok motorik yang lebih cepat dibandingkan kelompok A. Bupivacain 5 mg + Fentanyl 25μg menghasilkan durasi blok sensorik dan motorik yang lebih singkat dibandingkan bupivacain 10mg ( p<0,05).
Blok Pleksus Brakhialis Infraklavicula Vertikal pada Close Fraktur 1/3 Tengah Humerus Nugroho, Wahyu; FRW, Calcarina; Sudadi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 3 (2015): Volume 2 Number 3 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i3.7220

Abstract

Telah dilakukan penatalaksanaan anestesi regional berupa blok Pleksus brakialis Infraklavikula Vertikal pada seorang wanita usia 31 tahun yang didiagnosis fraktur tertutup sepertiga tengah humerus kiri dengan ASA I yang akan menjalani operasi ORIF. Pasien dipremedikasi dengan midazolam 2 mg dan fentanyl 50 mcg intravena. Blok Pleksus Brakhialis dilakukan dengan menggunakan pendekatan Infraklavikula Vertikal. Agen yang digunakan adalah lidokain 1% sebanyak 10 ml dan bupivakain 0,5% isobarik sebanyak 10 ml. Operasi berlangsung selama dua jam dengan hemodinamik pasien stabil. Pasca operasi pasien diobservasi di ruang pulih sadar selama 2 jam. Status kesadaran dan hemodinamik selama observasi baik. Skala nyeri menggunakan VAS menunjukkan angka 1-2. Pasien kemudian diperbolehkan kembali ke bangsal.
Blok Femoral pada Operasi Orif Tibia Fibula Proksimal pada Pasien dengan Subdural Hematoma Fakhrudin N, Rifdhani; Sudadi; Mahmud
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 3 (2015): Volume 2 Number 3 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i3.7221

Abstract

Telah dilakukan penatalaksanaan anestesi regional berupa blok femoral pada seorang wanita usia 60 tahun yang didiagnosis fraktur terbuka sepertiga proksimal tibia fi bula sinistra dengan subdural hematoma dan edema serebri, status fi sik ASA II yang akan menjalani operasi ORIF.Pasien dipremedikasi dengan diazepam 5 mg peroral, midazolam 2 mg dan fentanyl 50 mcg intravena. Blok femoral dilakukan dengan teknik nerve stimulator menggunakan pendekatan dari ligametum inguinalisdan lipatan paha. Agen yang digunakan adalah lidokain 1% sebanyak 10 ml dan bupivakain 0,5% isobarik sebanyak 10 ml. Selama operasi pasien disedasi dengan midazolam 2 mg intravena bolus intermitten.Operasi berlangsung selama dua jam dengan hemodinamik pasien stabil.Pasca operasi pasien diobservasi di ruang pulih sadar selama 2 jam. Status kesadaran dan hemodinamik selama observasi baik. Skala nyeri menggunakan VAS menunjukkan angka 1-2. Pasien kemudian diperbolehkan kembali ke bangsal.
Management PDPH (Post Dural Puncture Headache) as a Neurologic Complication after Regional Anaesthesia Hariyadi S, Arief; Ngurah, I Gusti Ngurah; Sudadi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 3 (2015): Volume 2 Number 3 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i3.7223

Abstract

PDPH (Post Dural Puncture Headache) merupakan efek samping yang paling umum terjadi pada anestesi regional terutama spinal anestesi. Patofi siologi PDPH. Pertama, penurunan tekanan cairan serebrospinalsehingga terjadi penekanan pembuluh darah yang sensitif terhadap nyeri. Kedua, vasodilatasi struktur vaskuler menyebabkan nyeri PDPH mirip migrain Dari beberapa penelitian, sebagian besar PDPH dapat sembuh spontan, namun ada juga yang harus mendapatkan terapi yang serius. Terapi PDPH bermacam-macam mulai dari konservatif sampai dengan yang invasive. Dari sekian banyak terapi invasif yang telah digunakan, blood patch epidural menunjukkan angka keberhasilan yang tinggi dengan insidensi komplikasi minimal.
Manajemen Blok Subarachnoid pada Pasien dengan Obesitas Anindita, Triatma; Ngurah, I Gusti; Sudadi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 2 No 2 (2015): Volume 2 Number 2 (2015)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v2i2.7224

Abstract

Obesitas adalah masalah seluruh dunia, jumlah pasien kelebihan berat badan dan obesitas meningkat secara signifi kan, sehingga ahli anestesi secara rutin menghadapi pasien obesitas setiap hari dalam praktek klinis dan menimbulkan situasi yang sulit bagi banyak ahli anestesi. Anestesi umum, bahkan pada prosedur yang sederhana dapat menjadi sangat rumit dan berpotensi sulit pada populasi ini. Dibandingkan dengan anestesi umum, penggunaan anestesi spinal menjadi semakin populer pada pasien obesitas Keuntungan dari anestesi spinal termasuk intervensi minimal pada saluran napas, kurangnya depresi kardiopulmoner, kurangnya mual dan muntah paska operasi, dan masa rawatan di ruang pemulihan dan rumah sakit yang singkat. Hal ini sangat penting pada pasien obesitas. Ulasan ini membahas penerapan teknik anestesi subarachnoid pada pasien obesitas. Studi klinis lebih lanjut diperlukan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tentang anestesi dan outcome pada pasien obesitas.
Co-Authors AA Sudharmawan, AA Abdul Tahir Adi Hidayat Adityo, Galang Martin Adiyatma, Krisna Hario Adrin, Olga Elenska Akbar, Shonnif Akhmad Ramli Akhmad Yun Jufan Alya Fadila Ana Supriati Anindita, Mohammad Pradhana Anindita, Triatma Anisa Fadhila Farid Antoni Arifin, Achmad Reza ARIFUDDIN Artika, I Gusti Ngurah Rai Bahrani Bahrun, Nugraha Septian Bayu, Timor Krisna Benny Kurniawan, Benny Bhirowo Yudo Pratomo Bowo Adiyanto Calcarina Fitriani Retno Wisudarti Calcarina Fitriani Retno Wisudarti Calcarina FRW Cholid Shihabul Hikam Djayanti Sari Dona Eriyadi Esa Claudia Putri Esti Susiloningsih Fakhrudin N, Rifdhani Fansori, Rosihan Farihatun Fitri, Lillah Frisianto, Rinaldi Tri FRW, Calcarina Gentong, Metia Gledis G. Gunawan, Fanny Gustiawan, Fathan Hamdany, Ferry Hanafi, Irham Hariyadi S, Arief Herlambang, Panji Hermawan, Hendra Hernandes, Crodia Hery Widijanto Hifni Hisam, Muhammad Yusuf Husen Husnul Puad IG Ngurah Rai Artika Ikhsan, Isroful Ikhwandi, Arief Indah Munastari Ningsih Iqbal Alfiandy Irawati, Junita Ismail Iswari, Aryani Tri Izzatul Faizah Juni Kurniawaty Muhdar Abubakar Djayanti Sari Khojir Krisna Bayu, Timor Kuncoro, Kusuma Edhi Kurniawan, Novianto Loho, Irvan Revaldi Maryani, Nova Masbiyanti Miftaku Ni'amah Mochammad Imron Awalludin Mufaizin, Mufaizin Muhammad al-Fain Arrafi Muhammad Fikri Putra Perdana Muhammad Firdaus Muhammad Yunus Muna Fauziah Musda, Diva Nasution, Rusdi Anwar Ngurah, I Gusti Ngurah, I Gusti Ngurah Novianto Kurniawan Nur Malik, Novi Nur, Nopian Nur, Rifdhani Fakhrudin Nuraini Nurlatifah, Mahanani Nurun Nikmah P, Inggita Dyah Parjiman Prasamya, Erlangga Prasetya, Sandie Pratomo, Bhirowo Y. Pujoko Rafiatul Latifah Rahmatiana Azizatun Nisa Rahmita, Siti Rahmita Ramdhan, Tri Wahyudi Rani, Hajar Rafika Rasiman Redza, Muhammad Redza Madzkuri Rezkiawan, Dika Rezkiawan Rina Riyanti Rini, Isworo Ristianto, Muhammad Brian Rose Kusumaningratri RW, Calcarina Fitriani Sadiyanto, Dewang Saputra, Dya Saputra, Rory Denny Sarosa, Pandit Setiono, Agus Siti Helmyati Siti Munawaroh Siti Rahmah Diana Soedjono Sri Rahardjo Sri Rahardjo Stanie, Shianita Suharso, Pamungkas Hary Sumarno Sunantara, I Gusti Ngurah Putu Mandela Sutarman Syahputra , Anggi Tamam, Badrut Tamam Taneo, Desy Chery Marlyn Teguh Setiawan Wibowo Tjokronolo, Yudistira Tony Irawan Umi Umi Zulfa Untung Widodo, Untung Urmila Utomo, F uad Cipto Utomo, Prattama Santoso Utomo, Wandito Gayuh Wahyu Nugroho Wahyu, Wahyu Kharisma Murdani Wicaksono, Galih Sahid Wijaya, Indriyani Wikantama, Aswin Wiratama, Ristiya Adi Yasinta Qur’aini Nurdiniyya Yoiceta Vanda, Yoiceta Yunita Widyastuti Yusmein Uyun Yusron, Ali Yusuf Hisam Zaki, Wildan Arsyad