Claim Missing Document
Check
Articles

PENYULUHAN PENCEGAHAN HIPERTENSI DAN DIABETES MELLITUS DI PUSKESMAS TALANG JAWA TAHUN 2024 Aryawati, Wayan; Sary, Lolita; Kelana Benni, Agus; Perdana Kusuma Zain, Bagus; Nurzana, Desi; Sintwati, Dewi; Gusnita Silaen, Rahel; Abkonita, Ria; Riantik, Sofia; Sihotang, Lydia
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 12 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i12.4731-4740

Abstract

Penyakit tidak menular adalah penyakit atau kondisi medis yang tidak dapat ditularkan dari satu individu ke individu lainnya. Berdasarkan data WHO, PTM merupakan penyebab dari 68% kematian di dunia. Di Indonesia, prevalensi PTM mengalami kenaikan, antara lain pemeriksaan gula darah diabetes melitus naik dari 6,9% menjadi 8,5%, dan hasil pengukuran tekanan darah, hipertensi naik dari 25,8% menjadi 34,1%. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk memberikan edukasi ke masyarakat terkait pencegahan serta pengendalian penyakit hipertensi dan diabetes. Metode yang digunakan adalah dengan pre-test, peresentasi, diskusi, tanya jawab, serta post-test. Sasarannya adalah siswa masyarakat di Puskesmas Talang Jawa. Berdasarkan hasil nilai rata-rata atau mean yang didapatkan pada pre-test pengetahuan terkait (hipertensi adalah 5,90) dan (diabetes 8,55), sedangkan untuk post tes terkait (hipertensi adalah 6,05) dan (diabetes 8,55) dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pre-test dan post test masyarakat terhadap pengetahuan terkait penyakit hipertensi dan diabetes. Berdasarkan hasil uji T-Test diketahui nilai sig. terkait hipertensi sebesar (0,000 0,05) dan terkait diabetes (0,000 0,05), dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan rata-rata antara hasil pre-test dengan post test terkait pengetahuan hipertensi dan diabetes, yang artinya ada pengaruh pengetahuan masyarakat terhadap penyakit hipertensi dan diabetes di Puskesmas Talang Jawa.
EDUKASI KESEHATAN MENTAL UNTUK MENCEGAH DEPRESI DAN STRESS PADA LANSIA DI UPTD PSLU TRESNA WERDHA NATAR Khoirur Rizqi, Afifah; Hayati, Amelia; Kania Fatihah, Azzahra; Astri Aulia, Hanifah; Aprilia Belkis, Happy; Lestari, Juwita; Jaya, Satrya; Viandra Yoanisa, Karunia; Lintang Safitri, Nafisa; Aprilia Susanti, Fitri; Shabrina, Hanifah; Sari, Yunila; Aryawati, Wayan
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 3 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i3.812-816

Abstract

Lansia cenderung lebih rentan terhadap peningkatan insiden masalah kesehatan, dengan penurunan kekuatan dan daya tahan sistem kekebalan tubuh, seiring bertambahnya usia. Saat seseorang  semakin tua, mereka menghadapi tantangan psikososial, sehingga penanganan masalah tersebut harus ditangani secara efektif dan memerlukan perawatan yang lebih intensif. Hal ini menyoroti pentingnya panti jompo sebagai fasilitas yang didedikasikan untuk pemeliharaan dan kesejahteraan lansia. Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk fokus pada kesehatan mental lansia di UPTD PSLU Tresna Werdha Natar. Tujuan dari tinjauan literatur ini adalah untuk menjelaskan masalah kesehatan mental yang umum terjadi pada lansia di UPTD PSLU Tresna Werdha Natar. Metode yang digunakan pada edukasi tentang kesehatan yang diadakan di UPTD PSLU Tresna Werdha Natar adalah pre-test, pemaparan materi, diskusi tanya jawab, dan post-test.  Tujuan dari kegiatan ini diharapkan adanya peningkatan rata-rata nilai pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan edukasi. Hasil pengabdian ini diharapkan agar para lansia memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara menjaga Kesehatan mental mereka.  Sebagai kesimpulan, dari hasil yang didapatkan tiga masalah kesehatan mental pada lansia yaitu: depresi, kecemasan, dan demensia. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya masalah kesehatan mental pada lansia seperti: usia, dukungan keluarga, hubungan spiritual, riwayat medis, hipertensi, merokok, dan konsumsi alkohol
Upaya Penurunan Perilaku Merokok Masyarakat di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung Tahun 2021 Aryawati, Wayan; Daka, Rohman; Rafika, Echa; Sari, Fadhilah Amanda; Yusuf, Ghina Gabriella
Poltanesa Vol 23 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : P3KM Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/tanesa.v23i2.1217

Abstract

Prevalensi perokok di provinsi Lampung tahun 2013 berada pada urutan ke-7 dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Dimana jumlah perokok tiap harinya sebanyak 26,5% di mana posisi ini di atas posisi rata - rata perokok Indonesia yaitu 24,3% Sementara untuk perokok pada usia 10 - 15 tahun, Lampung terletak pada urutan ke-13 dengan persentase sebanyak 12,1 % dimana posisi ini hampir mendekati persentasi rata rata yaitu sebesar 12,3 %. Perilaku tidak merokok masyarakat di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung tahun 2021 yaitu 62,86% dengan target 80%. Tujuan pengabdian ini untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan remaja terkaitan bahaya dan dampak merokok dengan menggunakan media leaflet sehingga dalam hal ini dapat berupaya dalam penurunan angka prilaku merokok masyarakat khusus nya remeja di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung tahun 2021. Kegiatan pengabdian ini menggunakan metode edukasi dengan menggunakan media leafleat kepada lima belas yang berstatus sebagai pelajar di kota Bandar Lampung . Berdasarkan dari hasil wawancara yang dilakukan dengan pemegang program PHBS, “perilaku merokok masih tinggi dikarenakan sejak mewabahnya virus covid-19 pada tahun 2020 – 2021 di Indonesia, khususnya di Kota Bandar Lampung. Maka semua kegiatan yang berhubungan dengan Upaya Berhenti Merokok (UBM) di Kota Bandar Lampung tidak dilaksanakan berkaitan dengan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang membatasi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Selain itu, masyarakat yang ingin mengakses layanan kesehatan di puskesmas mengalami penurunan yang signifikan terutama yang ingin konsultasi berhenti merokok”. Sehingga dalam hal ini penulis menentukan satu prioritas masalah terpilih dalam upaya peningkatan pemahaman dan pengetahuan masyarakat khususnya remaja dalam menekan angka perilaku merokok di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung yaitu dengan mendesain leafleat terkait terkait bahaya dan dampak merokok bagi remaja. Diharapkan pemegang program pemegang program PHBS perilaku merokok dapat terus berupaya dalam memberikan edukasi secara berkala kepada remaja di Kota Bandar Lampung.
Faktor–faktor yang berhubungan dengan manajemen laktasi pada ibu menyusui yang bekerja di luar rumah Sari, Putri Puspita; Aryawati, Wayan; Febriani, Christin Angelina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 7 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i7.12025

Abstract

Background: The coverage of exclusive breastfeeding in Lampung Province is 67.06 percent, the prevalence in South Lampung is 50.14 percent and the Tanjungsari Natar Health Center is 41.09 percent. Lactation management is an effort that mothers can make to achieve success in breastfeeding their babies.Purpose: To find out the factors related to lactation management for working mothers at the Tanjung Sari Natar Health Center in South Lampung in 2022.Method: Type of quantitative research with a comparative descriptive design. The population in this study were all working mothers who had children aged 6-24 months and residing in the working area of the Tanjung Sari Natar Health Center, South Lampung, consisting of 108 working mothers. The sampling technique uses total sampling. Data were analyzed by chi-square and logistic regression.Results: The results showed that there was a relationship between knowledge of exclusive breastfeeding (p value: 0.025 OR: 3.0), breastfeeding technique (p value: 0.033 OR: 2.53), knowledge of milking techniques (p value: 0.020 OR: 2.57) , husband support (p value: 0.002 OR: 0.26), health workers support (p value: 0.009 OR: 0.24) and family support (p value: 0.001 OR: 0.22) with lactation management of working mothers. There is no relationship between technical knowledge of storing, using expressed breast milk (p value: 0.081 OR: 0.46) and the general environment (p value: 1.000 OR: 1.00) with lactation management of working mothers. The most dominant variable was breastfeeding technique (p-value 0.003; B: 2.939).Conclusion: The factor that has the most influence on the lactation management of working mothers is the breastfeeding technique.Suggestion: It is recommended for health agencies to provide a consultation corner with competent counselors in the field of breastfeeding techniques.Keywords: Breastfeeding; Breast Milk; Lactation Management; Working Mothers.Pendahuluan: Cakupan ASI eksklusif di Provinsi Lampung yaitu sebesar 67,06 persen, prevalensi di Lampung Selatan 50,14 persen dan Puskesmas Tanjungsari Natar sebesar 41,09 persen. Manajemen laktasi adalah upaya yang dapat dilakukan ibu untuk mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya.Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan manajemen laktasi ibu pekerja di Puskesmas Tanjung Sari Natar Lampung Selatan Tahun 2022.Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain deskriptiif komparatif. Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu pekerja yang memiliki anak 6-24 bulan dan bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Sari Natar Lampung Selatan sebanyak 108 ibu pekerja. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Data dianalisis dengan chi-square dan regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan pengetahuan ASI ekslusif (p value: 0,025 OR: 3,0), teknik menyusui (p value: 0,033 OR: 2,53), pengetahuan teknik memerah (p value: 0,020 OR: 2,57), dukungan suami (p value: 0,002 OR: 0,26), dukungan nakes (p value: 0,009 OR: 0,24) dan dukungan keluarga (p value: 0,001 OR: 0,22) dengan manajemen laktasi ibu pekerja. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan teknik menyimpan, menggunakan ASI perah (p value: 0,081 OR: 0,46) dan lingkungan umum (p value: 1,000 OR: 1,00) dengan manajemen laktasi ibu pekerja. Variabel yang paling dominan adalah teknik menyusui (p-value 0,003; B: 2.939).Simpulan: Faktor yang paling berpengaruh terhadap manajemen laktasi ibu pekerja adalah teknik menyusui.Saran: Disarankan untuk instansi kesehatan agar disediakannya pojok konsultasi dengan konselor yang kompeten dibidang teknik menyusui. 
Kegiatan observasi status gizi dan kesehatan pada penyandang disabilitas Sari, Fitri Eka; Perdana, Agung Aji; Aryawati, Wayan
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1576

Abstract

Backghround: Meeting nutritional needs in children and adolescents is a key component of growth and development, particularly for persons with disabilities who have physical limitations. A 2023 UNICEF report revealed that children with disabilities in Indonesia face higher rates of malnutrition than children without disabilities. The prevalence of underweight and wasting is also higher in this group. Purpose: To describe the nutritional status of persons with disabilities aged 15–30 years at the Lampung Province Social and Disability Service Unit. Method: Observation activities to collect data by directly observing behavior or phenomena without intervention were conducted using a descriptive observational design at the Lampung Province Social and Disability Service Unit. Data collection was carried out through a survey with observation and interviews. The population in this study was all persons with disabilities aged 15–30 years in Bandar Lampung City, specifically those registered with the Uptd Disability Service Unit. Using a random sampling technique, 30 respondents were selected, consisting of individuals with hearing impairments, blindness, and physical disabilities. The instruments used have been designed to elicit relevant information regarding the experiences and needs of people with disabilities. Results: The majority of persons with disabilities at the Lampung Province Social and Disability Service Unit (UPTD) experience nutritional problems, primarily being underweight, likely due to low consumption of nutritious food and physical activity. Data shows that 69.9% of respondents are underweight, with low consumption of fruits, vegetables, protein (meat, fish, eggs, milk), and water. Seventy-three percent of respondents skip breakfast, with nearly half (46.7%) experiencing difficulty accessing nutritious food, lacking regular physical activity, and most only exercising once or twice a week. Common health problems include anemia, dizziness, fatigue, and digestive disorders. The majority (73.4%) of respondents have never received nutrition counseling, but consumption of supplemental vitamins remains uneven. Conclusion: This observation indicates that the majority of persons with disabilities at the Lampung Province Social and Disability Service Unit experience nutritional problems, with 69.9% of respondents categorized as underweight based on their body mass index (BMI). Furthermore, only 26.7% of respondents have received counseling on nutrition and healthy eating patterns. These findings indicate an urgent need for better nutritional interventions for people with disabilities, particularly in terms of education, food access, and nutritional status monitoring. Suggestion: Regular nutritional counseling programs, particularly on balanced nutrition and healthy eating patterns, are needed for people with disabilities in social institutions, using a friendly and easy-to-understand approach. Providing healthy food assistance by the government or social institutions is essential to ensure the availability and easy access of nutritious food for people with disabilities through subsidies or nutritional food assistance programs. As a follow-up program, health services are expected to conduct regular health monitoring, including nutritional and health status checks, for early detection of malnutrition and related diseases. Keywords: Disability health check-up; Nutritional needs; Nutritional status; People with disabilities Pendahuluan: Pemenuhan kebutuhan gizi pada anak dan remaja merupakan wujud utama dari proses pertumbuhan dan perkembangan. Khususnya bagi penyandang disabilitas yang memiliki kekurangan fisik. Laporan UNICEF tahun 2023 mengungkapkan bahwa anak penyandang disabilitas di indonesia menghadapi tingkat malnutrisi yang lebih tinggi dibandingkan anak tanpa disabilitas. Prevalensi underweight dan wasting juga lebih tinggi pada kelompok ini. Tujuan: Menggambarkan kondisi gizi penyandang disabilitas usia 15–30 tahun di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung Metode: Kegiatan observasi untuk mengumpulkan data dengan mengamati langsung perilaku atau fenomena tanpa intervensi, yang dilakukan dengan disain deskriptif observasional yang dilaksanakan di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung. Merupakan kegiatan pengambilan data melalui survei dengan observasi dan wawancara. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penyandang disabilitas usia remaja hingga dewasa (15–30 tahun) yang berada di wilayah Kota Bandar Lampung, khususnya mereka yang terdaftar di Uptd Dinas Sosial Disabilitas. Dengan menggunakan teknik random sampling mendapatkan 30 orang sebagai responden yang terdiri dari individu dengan kondisi tuna rungu, tuna netra, dan tuna daksa. Instrumen yang digunakan telah dirancang untuk menggali informasi yang relevan terkait pengalaman dan kebutuhan penyandang disabilitas. Hasil: Mayoritas penyandang disabilitas di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung mengalami masalah gizi, terutama kekurangan berat badan dan besar kemungkinan karena konsumsi makanan bergizi dan aktivitas fisik yang masih rendah. Data menunjukkan sebanyak 69.9% responden tergolong underweight, konsumsi buah, sayur, protein (daging, ikan, telur, susu), dan air putih masih rendah. Sebanyak 73.4% responden tidak sarapan setiap pagi dimana hampir setengah responden (46.7%) mengalami kesulitan mengakses makanan bergizi, aktivitas fisik rutin masih kurang, dan sebagian besar hanya olahraga 1-2 kali seminggu. Masalah kesehatan yang sering dialami antara lain anemia, pusing, mudah lelah, dan gangguan pencernaan. Sebagian besar (73.4%) responden belum pernah mendapat penyuluhan gizi tetapi konsumsi vitamin tambahan masih belum merata. Simpulan: Berdasarkan kegiatan observasi ini menunjukkan bahwa mayoritas penyandang disabilitas di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung mengalami masalah gizi, dengan 69.9% responden berada dalam kategori underweight berdasarkan indeks massa tubuh (IMT). Di samping itu, hanya 26.7% responden yang pernah mendapatkan penyuluhan tentang gizi dan pola makan sehat. Temuan ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan intervensi gizi yang lebih baik bagi penyandang disabilitas, khususnya dalam hal edukasi, akses pangan, dan pemantauan status gizi. Saran: Perlunya dilakukan penyuluhan gizi dengan program yang berkala terutama mengenai gizi seimbang dan pola makan sehat bagi penyandang disabilitas di lembaga sosial, dengan pendekatan yang ramah dan mudah dipahami. Pemberian bantuan pangan sehat oleh pemerintah atau lembaga sosial sangat diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan kemudahan akses bagi penyandang disabilitas terhadap makanan bergizi berupa subsidi atau program bantuan pangan bergizi. Sebagai program lanjutan, diharapkan pihak dinas kesehatan untuk melakukan pemantauan kesehatan secara berkala meliputi pemeriksaan status gizi dan kesehatan untuk mendeteksi dini masalah malnutrisi dan penyakit terkait.  
Effect Of Health Promotion On The Bride And Groom Knowledge About The First 1000 Days Of Life Ermawati, Rosi; Mariza, Ana; Astriana, Astriana; Aryawati, Wayan
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 11 (2025): Volume 11 Nomor 11 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i10.7875

Abstract

Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) merupakan fase kehidupan yang sangat penting dalam upaya pencegahan stunting. Berdasarkan data UNICEF (United Nations Children's Fund) tahun 2019, sebanyak 21,3% anak mengalami stunting, khususnya di Kabupaten Lampung Tengah sebanyak 1420 balita, di Wilayah Kerja Puskesmas Candi Rejo. Balita tersebut termasuk dalam kategori sangat pendek sebanyak 107 orang dan balita pendek sebanyak 263 orang. Upaya penurunan stunting yang dilakukan adalah dengan memberikan promosi kesehatan kepada calon pengantin terkait fase 1000 HPK balita. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan calon pengantin tentang 1000 hari pertama kehidupan di Wilayah Kerja Puskesmas Candi Rejo, Kecamatan Way Pengubuan, Kabupaten Lampung Tengah tahun 2022.Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan one group pretest-postest. Populasi penelitian ini adalah seluruh calon pengantin dengan sampel sebanyak 31 orang secara total sampling dengan pendekatan one group pretest-postest. Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Candi Rejo, Kecamatan Way Pengubuan, Kabupaten Lampung Tengah pada bulan Juli 2022. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi.Hasil rerata pengetahuan calon pengantin tentang 1000 hari pertama kehidupan sebelum diberikan promosi kesehatan adalah 35,3 dan setelah diberikan promosi kesehatan adalah 95,9. Pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan calon pengantin tentang 1000 hari pertama kehidupan di Wilayah Kerja Puskesmas Candi Rejo, Kecamatan Way Pengubuan, Kabupaten Lampung Tengah tahun 2022 menunjukkan nilai p = 0,000. Saran: Bagi tenaga kesehatan, diharapkan untuk lebih meningkatkan edukasi yang diberikan berupa leaflet kepada calon pengantin tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan. Kata Kunci : 1000 hari pertama kehidupan, promosi kesehatan, pengetahuan, calon pengantin ABSTRACT The First Thousand Days of Life (1000 HPK) is a very important phase of life in stunting prevention efforts. Based on UNICEF (United Nations Children's Fund) data in 2019, as many as 21,3% of children are stunted, particularly in Central Lampung Regency as many as 1420 toddlers, in the Working Area of the Candi Rejo Health Centre. The toddler is included in the very short category as many as 107 people and short toddlers as many as 263 people. The efforts to reduce stunting are providing health promotion to brides and grooms related to the 1000 HPK toddler phase. The purpose of the study is to determine the effect of health promotion on the bride and groom's knowledge about the first 1000 days of life in the Working Area of the Candi Rejo Health Center, Way Pengubuan District, Central Lampung Regency in 2022.Quantitative research was used with one group pretest-postest approach. The population of this study is the entire bride and groom with a sample used as many as 31 people in total sampling by means of one group pretest-postest. The study was conducted in the Working Area of the Candi Rejo Health Center, Way Pengubuan District, Central Lampung Regency in July 2022. Data collection used observation sheet.The average results of the bride and groom knowledge about the first 1000 days of life before given health promotion was 35.3 and after given health promotion was 95.9. The effect of health promotion on the knowledge of the bride and groom about the first 1000 days of life in the Working Area of the Candi Rejo Health Center, Way Pengubuan District, Central Lampung Regency in 2022 showed a p-value = 0.000. Suggestion: For health workers, it is expected to further improve the education given in the form of leaflets to the bride and groom on the importance of 1000 days of life. Keywords : first 1000 days, health promotion, knowledge, bride and groom 
Internal Factors Associated with the Tendency of Lesbians in Women's Correctional Institutions in Bandar Lampung in 2024 Nadya Salsabilla; Wayan Aryawati; Nurul Aryastuti; Anita Bustami; Octa Reni Setiawati
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.43060

Abstract

Lesbianism refers to women who are physically, emotionally, spiritually, and sexually attracted to other women. Indonesia ranks as the fifth-largest country in the world contributing to the spread of LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender) populations, following China, India, Europe, and America. Independent survey institutions, both domestic and international, estimate that 3% of Indonesia's total population identifies as LGBT. This equates to approximately 7.5 million individuals, meaning that in a gathering of 100 people, around three may be LGBT. This phenomenon is also observed in confined environments such as women's correctional institutions, where internal factors may influence the tendency toward lesbianism. This study aims to analyze internal factors associated with the tendency toward lesbianism in the Class IIA Way Hui Women's Correctional Institution in Bandar Lampung. This research employs a descriptive-analytical approach with a cross-sectional study design. The population consists of 182 female inmates, selected using a total sampling technique. Data were collected through a questionnaire and analyzed using univariate (frequency distribution), bivariate (chi-square test), and multivariate (multiple logistic regression) analyses. Results The study found that 36 respondents (19.8%) exhibited a tendency toward lesbianism. Psychological problems were reported by 37 respondents (20.3%), while 145 (79.7%) did not experience such issues. Additionally, 74 respondents (40.7%) had biological factors contributing to their behavior, whereas 108 (59.3%) did not. Educational background also played a role, with 102 respondents (56.0%) having lower education levels and 80 (45.5%) having higher education. Furthermore, 77 respondents (42.3%) had experienced traumatic or negative past events, while 105 (57.7%) had not. Age was also analyzed, with 117 respondents (64.3%) considered at-risk and 65 (35.7%) not at-risk. Statistical analysis revealed significant associations between lesbian tendencies and physical factors (p-value = 0.000), psychological factors (p-value = 0.026), past experiences (p-value = 0.000), and education (p-value = 0.000). However, no significant relationship was found between age and lesbian tendencies (p-value = 0.091). The most dominant influencing factor was physical factors (p-value = 0.003, OR = 4.010). Conclusion Internal factors, particularly physical and psychological aspects, play a dominant role in the tendency toward lesbianism in correctional institutions. Therefore, it is recommended that the Bandar Lampung Women's Correctional Institution enhance educational, counseling, religious, and therapy programs focusing on prevention and psychological well-being.
Analisis Faktor Risiko Analisis Paritas Terhadap Kejadian Stunting Usia 0-24 Bulan di Indonesia (Studi Data Sekunder Ssgi 2022) Wayan Aryawati; Dyah Gaby Kesuma; Christin Angelina F; Fitri Eka Sari; Nova Muhani
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49513

Abstract

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, khususnya pada anak usia 0–24 bulan, dengan dampak meliputi keterlambatan pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, produktivitas masa depan, dan risiko penyakit kronis. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan antara paritas ibu dan faktor pelayanan kesehatan, seperti kunjungan antenatal care (ANC), ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI), serta akses layanan kesehatan, dengan kejadian stunting. Metode: Penelitian cross-sectional menggunakan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, melibatkan 124.250 anak usia 0–24 bulan, dianalisis dengan regresi logistik univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Prevalensi stunting sebesar 7,7%. Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara stunting dengan paritas (p=0,000), ASI eksklusif (p=0,006), dan kunjungan ANC (p=0,000). Analisis multivariat mengonfirmasi paritas sebagai determinan signifikan stunting (p=0,000; OR=0,908; 95% CI: 0,871–0,946), terutama pada anak dari ibu multiparitas. Kesimpulan: Pencegahan stunting perlu fokus pada peningkatan cakupan dan kualitas ANC, akses layanan kesehatan, serta edukasi kesehatan reproduksi untuk ibu multigravida.
Analisis Faktor Risiko Antenatal Care Terhadap Stunting Usia 0-24 Bulan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022 Wayan Aryawati; Annisa Indriani; Christin Angelina F; Fitri Eka Sari; Nova Muhani
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49514

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi utama yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Pelayanan antenatal (ANC) menjadi strategi kunci pencegahan stunting, namun kepatuhan terhadap standar ANC masih rendah. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan kepatuhan ANC standar dengan kejadian stunting pada anak usia 0–24 bulan di Indonesia menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Metode: Studi potong lintang kuantitatif ini menggunakan data sekunder SSGI 2022 dengan populasi 334.878 individu dan sampel 118.736 anak usia 0–24 bulan. Data dianalisis dengan metode univariat, bivariat (Chi-Square), dan multivariat (regresi logistik biner). Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara stunting dengan kunjungan ANC standar (p=0,000), paritas (p=0,000), ASI eksklusif (p=0,000), dan akses layanan kesehatan (p=0,000). Usia ibu saat hamil pertama (p=0,776) dan pemberian MP-ASI (p=0,349) tidak signifikan. Anak dari ibu tanpa ANC standar berisiko stunting 1,33 kali lebih tinggi. Kesimpulan: Ketidakpatuhan ANC meningkatkan risiko stunting. Penguatan layanan ANC dan edukasi kesehatan ibu hamil penting untuk menurunkan stunting.
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Bhayangkara Bandar Lampung Wayan Aryawati; Bella Kurniane Hartono; Dhiny Easter Yanti; Nurul Aryastuti; Setiawati Setiawati
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49515

Abstract

Masalah kesehatan ibu dan anak merupakan isu global dalam SDGs 2030, menargetkan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) ≤70 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) ≤12 per 1.000 kelahiran hidup. Pada 2021, kematian balita di Indonesia mencapai 27.566, turun dari 28.158 pada 2020, dengan 73,1% terjadi pada masa neonatal, terutama usia 0–6 hari (79,1%). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor penyebab asfiksia neonatorum di RS Bhayangkara Bandar Lampung pada 2024. Menggunakan desain case control, penelitian kuantitatif analitik ini melibatkan 276 bayi (138 kasus dan 138 kontrol) dari 394 persalinan, dengan data sekunder dari rekam medis. Hasil menunjukkan hubungan signifikan antara asfiksia dengan usia kehamilan (p=0,000; OR=2,361), hipertensi (p=0,001; OR=2,255), anemia (p=0,002; OR=2,144), ketuban pecah dini (p=0,004; OR=2,040), dan berat lahir (p=0,016; OR=1,795). Faktor dominan adalah usia kehamilan (OR=2,629). Disarankan ibu hamil rutin memeriksakan kehamilan untuk memantau usia kehamilan dan mencegah risiko kelahiran prematur atau postterm. Kata Kunci: neonatus, asfiksia dan usia kehamilan
Co-Authors Ab, Fitriana Abadi, Adelia Nurul Abkonita, Ria Achmad Farich Afifah Khoirur Rizqi Agung Aji Perdana Agung, Rahmat Agus Kelana Benni Akhmalbih, Muhamad Alek Iskandar Amelia Hayati Amelia Hayati Angelina F, Christin Angkas Mandala Putra Anisa Ermasari Anita Bustami Annisa Indriani Aprilia Belkis, Happy Aprilia Susanti, Fitri Aprina Apriwesa, Teloe Artina, Selvi Aryastuti, Nurul Astari, Yulia Astawa, I Gusti Made Yoga Astri Aulia, Hanifah Astriana Astriana, Astriana Aulyya Rahmah Ayu L, Dwi Azzahra Kania Fatihah Azzahra, Dhika Bagus Perdana Kusuma Zain Bella Kurniane Hartono Bernadeta Ramah Antika Bustami, Anita Christin Angelina Christin Angelina F Christin Angelina Febriani Daka, Rohman Daniel Happy Putra Dekotyanti, Trivira Desi Nurzana Desy Fatmawaty Devita Anggraini Dewi Sintwati Dian Purnama Oktera Diana Sari Dina Dwi Nuryani Divia Oktari Khairunnisa Dwi Nuryani, Dina Dwiyana, M Rizal Dyah Ayu, Dyah Dyah Gaby Kesuma Easter Yanti, Dhiny Echa Rafika Eka Sari, Fitri Eka Yuliana Ekasari, Fitri Elsa Rizki Lilian Nofita Sari Ermawati, Rosi Ernawati Ernawati Evi Herlinda Evi Mefriyanti Fadhilah Amanda Sari Farah Ulya Suryadana Farida Aryani Farra Hayka Salsabilla Febrani, Christin Angelina Febriani, Christin Febrianti Febrianti Febrianti Fidel Rama Nugraha Fiqri Ardiansyah Romadon Fitri Aprilia Susanti Fitri Eka Sari Fitri Eka Sari Siregar Fitri Ekasari Forcepta, Chania Ghina Gabriella Yusuf Gusnita Silaen, Rahel Hadinata, Andri Hafiratul Fitri Usfa Hanifah Astri Aulia Hanifah Shabrina Happy Aprilia Belkis Herlinda, Evi Hermawan, Desi Hermawan, Dessy Ida Maya Meika Sari Iing Lukman Indah Mulia Herwisdiane Ismunarti, Diah Jaya, Satrya Juwita Lestari Kania Fatihah, Azzahra Karbito Karbito Karunia Viandra Yoanisa Kelana Benni, Agus Kharisma, Rr.Salwa Zasya Aura Khoidar Amirus Khoirur Rizqi, Afifah Kiswari Kiswari Kundayani, Tri Kurniasari, Devi Lathifah, Neneng Siti Lestari, Juwita Lina Safitri Lintang Safitri, Nafisa Lolita Sary Lydia Sihotang Marina, Ni Nyoman Marisa Marisa Mariyam, Riyanti Mariza, Ana Maryam, Riyanti Muhammad Shendy Febrian Sahapati Muhani, Nova Mukhlisin Mukhlisin Nabigha, Zehan Aura Nabila, Nia Nadya Salsabilla Nafisa Lintang Safitri Natalia, Betseba Nawawi, Achmad Nova Muhan Nova Muhani Nuke Indrawati Nur Hasanah Nur Izzati, Syahdila Nurhalina Sari Nurhasanah Nurliyani Nurliyani Nurul Aryastuti Nurzana, Desi Octa Reni Setiawati Oktari Khairunnisa, Divia Perdana Kusuma Zain, Bagus Pramata, Gilang Raka Pratama, Gilang Raka Puspita, Elvia Putra, Indra Jaya Putri Puspita sari Rafika, Echa Rahel Gusnita Silaen Rahmat Agung Rahmat Effendi, Rahmat Ratih Mary Farahdisa Rayhan Arnando, RD RD Rayhan Arnando Renna Oktavia Rudi Reviza SF, Zeni Ria Abkonita Riantik, Sofia Risdinar, Risa Rismaya Riyanti Riyanti Rohman Daka Rohman Taufik Safitri, Lina Salsabilla, Nadya Samino Samino Samino Samino Samino, Saminp Saputri, Desty Alifia Saputri, Firdha Azzahra Sari Prawardani Sari, Fadhilah Amanda Sari, Fitri Eka Sari, Nita Evriana Sari, Yunila Sastini, Ketut Satrya Jaya Setiawati Setiawati Setiawati, Tengku Ani Setya P., Kevin Andhara Shabrina, Hanifah Shintani, Clara Sihotang, Lydia Silaen, Rahel Gusnita Sintawati, Dewi Sintwati, Dewi Siti Lis Jarsiyah Sofia Riantik Sri Diastuti Sri Utami Sri Wahyuni Suharman Suharman Suharman Suharman, Suharman Sunarsih Sunarsih Sutarmi, Sutarmi Suti, Shalsabila Suti, Shasabila Tamara, Yayang Suci Trikundayani, Trikundayani Utami, Vida Wira Vera Yulyani Viandra Yoanisa, Karunia Wirawan Anggorotomo, Wirawan Yanti, Dhiny Yanti, Dhiny Easter Yogi Ari Ghopican Yohanes, Efriza Yolandha Adinda Pratiwi Yulia Astari Yulyani, Vera Yunila Sari Yunita Sari Yusuf Firmansyah Yusuf, Ghina Gabriella Zahra Shafa Anisa Zainab Nazaahah Zeni Reviza SF Zulius Alfandi