Claim Missing Document
Check
Articles

COMMUNITY REVITALIZATION STRATEGY IN AKSARA INCUNG Nurcahya, Yan; Oksa Putra, M Zikril; Syah, Muhammad Kautsar Thariq; Supriadi, Dedi; Sugiarto, Deri; Hambaliana, Dandie
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol. 21 No. 2 (2024): Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v21i2.33435

Abstract

The Aksara Incung is an old Kerinci script that is threatened with extinction because it is no longer known by the Kerinci community. The Kerinci script is a cultural heritage of Kerinci and a source of pride for the Kerinci community. However, with the emergence of Islamic civilization and the Dutch colonial period, many Kerinci people began to be introduced to new cultures, resulting in fewer and fewer people studying, teaching and implementing the existence of the incung script in everyday life. The objectives of the study were (1) to explain the development of the Kerinci Incung script batik motif, (2) to express ideas derived from the Kerinci Incung script in the creation of craft works of art in the form of stamped batik motifs and (3) to understand and explore the meaning contained in the Kerinci Incung script as a cultural product of the community in the past. The research method used a qualitative approach. with observation, documentation and interviews with batik craftsmen and activists. Data collection was carried out using the purposive sampling method and the research location was Kerinci Regency and Sungai Penuh City. The method of creating Incung script motifs includes three stages, namely the exploration stage, the design/motif making process stage and the realization process. The Incung script revitalization strategy in the community is one way to reintroduce and preserve the Incung script. through painting media starting from motifs on Kerinci batik, motifs on musical instruments, establishing an Incung script school, bringing up Incung on every place name, street name, office name in the Kerinci area, and teaching school children by bringing up additional subjects. So that all of this can facilitate the effort to introduce the Incung script to the community.
Jejak Awal dan Perkembangan Islam di Bengkulu: Dari Dakwah Ulama hingga Institusionalisasi Keagamaan Nurcahya, Yan; Wulandari, Hesti; Sulasman; Ajid Hakim; Aziz, Muhammad Fadhlan; Putra, Almawardi; Salsabila, Marisa Jahra
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 6 (2025): NOVEMBER
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/7rdpyn14

Abstract

Penelitian ini membahas jejak awal dan perkembangan Islam di Bengkulu dengan menelusuri proses dakwah para ulama serta transformasi sosial keagamaan yang terjadi sejak abad ke-17 hingga abad ke-20. Bengkulu, sebagai wilayah pesisir barat Sumatera, memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan internasional yang mempertemukan para pedagang Muslim dari Arab, Gujarat, dan Aceh. Melalui interaksi ekonomi dan sosial tersebut, nilai-nilai Islam mulai terinternalisasi dalam masyarakat lokal. Dakwah para ulama seperti Syekh Burhanuddin Ulakan dan jaringan ulama dari Minangkabau turut memperkuat proses islamisasi di wilayah ini. Pada masa kolonial Inggris dan Belanda, Islam di Bengkulu menghadapi tantangan politik dan budaya, namun tetap berkembang melalui lembaga pendidikan tradisional seperti surau dan pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis dengan analisis kualitatif terhadap sumber tertulis, arsip kolonial, dan tradisi lisan masyarakat Bengkulu. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses institusionalisasi Islam di Bengkulu berakar pada integrasi nilai-nilai dakwah dan kearifan lokal, yang hingga kini membentuk identitas keagamaan masyarakat. Studi ini menegaskan pentingnya peran ulama dan lembaga keislaman dalam membangun kesinambungan tradisi Islam di daerah pesisir Sumatera.
Literature Review Kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Nurcahya, Yan
Journal of Literature Review Vol. 1 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/h6m2ev05

Abstract

Buku Historisitas dan signifikasi: Kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, merupakan buku karya Dr. Ajid Thohir, M.Ag yang diterbitkan tahun 2011. Buku ini memberikan pandangan, secara garis besar memberikan gambaran yang cukup jelas dalam mengenalkan salah satu jenis historiografi sufisme yang selama ini banyak diabaikan oleh para pengamat sejarah Islam. Metode penelitian terkait historiografi tentang eksistensi Kitab Manaqib Syekh Abdul Qadil al-Jilani KMSA ini, identik dengan metode kajian sejarah. Pada dasarnya secara argumentatif menginformasikan berbagai jenis penulisan Kitab Manaqib dan KMSA secara khusus sebagai bentuk sufi, merupakan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian perkembangan historiografi Islam yang sangat dinamis, serta kontribusi dan pengaruhnya dalam membentuk kekuatan komunitas pada lingkungan madzab fiqih dan tasawuf.
Hayam Wuruk: Penerapan Konsep Filologi dalam Kearsipan Sejarah Nurcahya, Yan
Journal of Literature Review Vol. 1 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/s1xyct71

Abstract

Hayam Wuruk adalah raja keempat Kerajaan Majapahit yang memerintah antara tahun 1350-1389 masehi. Setelah resmi menjadi raja, gelarnya adalah Sri Rajasanagara. Hayam Wuruk adalah raja terbesar dalam sejarah Kerajaan Majapahit yang memerintah didampingi oleh Patih Gajah Mada. Di bawah kekuasaannya, Kerajaan Majapahit mampu mencapai puncak kejayaannya. Hayam Wuruk adalah putra dari pasangan Tribhuwana Tunggadewi (penguasa ketiga Majapahit) dan Sri Kertawardhana alias Cakradhara yang lahir pada 1334 masehi. Di Indonesia, penerapan kajian filologi sama dengan negara Belanda yaitu untuk mengkaji asal-usul teks, makna, hingga latar belakang budayanya. Orang yang ahli dalam bidang filologi disebut filolog. Seorang filolog memiliki tugas untuk mengungkapkan kebenaran dalam teks sejarah, juga membuka fakta dari ilmu-ilmu di masa lalu yang dapat dimanfaatkan ilmunya di masa kini. Menilik pada makna secara kebahasaan dari berbagai bahasa di atas dapat ditegaskan bahwa pengertian sejarah menyangkut dengan waktu dan peristiwa. Oleh karena itu, masalah waktu penting dalam memahami satu peristiwa, maka para sejarawan cenderung mengatasi masalah ini dengan membuat periodisasi.Dulu, penelitian tentang sejarah terbatas pada penelitian atas catatan tertulis atau sejarah yang diceritakan
Sejarah Perkotaan Kota Bandung Nurcahya, Yan; Sugiarto, Deri
Journal of Literature Review Vol. 1 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ze737998

Abstract

Penulisan Sejarah Perkotaan Kota Bandung, bertujuan memberikan gambaran perkembangan Kota Bandung, Sejarah perkotaan adalah bidang sejarah yang meneliti sifat historis kota dan kota kecil, serta proses urbanisasi. Pendekatannya sering kali multidisiplin, melintasi batas ke bidang-bidang seperti sejarah sosial, sejarah arsitektur, sosiologi perkotaan, geografi perkotaan, sejarah bisnis, dan arkeologi. Metode yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan melalui empat  tahapan.  Tahapan  yang  dilalui  yaitu  heuristic,  kritik  (ekstern  dan  intern),  interpretasi,  dan  historiograhfi. Dalam kurun waktu yang panjang, sejarah kota di Indonesia belum mendapat perhatian kalangan akademisi. Perhatian pada penulisan sejarah Indonesia sekian lama lebih tertarik dalam penulisan sejarah politik, sejarah tokoh-tokoh besar, atau juga warisan sejarah kerajaan masa lampau. Dalam dekade terakhir ini, perhatian akan penelitian dan penulisan sejarah kota mengalami peningkatan dan perhatian yang sangat berarti, melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandangan Sejarah Kota Bandung.
Muslim Leadership in the United States: A Case Study of Zohran Mamdani as the First Muslim Mayor of New York Nurcahya, Yan
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 6 (2025): NOVEMBER
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/tb616b94

Abstract

This study examines the emergence of Muslim leadership in the United States through the case of Zohran Mamdani, recognized as the first Muslim mayor in New York City. His political journey represents a significant shift in the visibility and participation of Muslim Americans within the multicultural and pluralistic landscape of U.S. politics. The research aims to analyze how Mamdani’s leadership style, socio-political engagement, and community-oriented policies reflect both Islamic ethical values and the democratic principles of American governance. Using a qualitative approach and sociopolitical analysis, this paper explores the intersections of faith, identity, and civic participation in Mamdani’s political career. The findings highlight his advocacy for social justice, racial equality, and economic reform as manifestations of an inclusive and progressive form of Muslim leadership. Furthermore, Mamdani’s success challenges stereotypes about Islam in Western political contexts and demonstrates the evolving role of Muslim citizens in shaping public discourse and policy. In conclusion, Zohran Mamdani’s leadership embodies a new paradigm of Muslim representation in American politics — one that balances faith-based values with civic responsibility, contributing to a more equitable and multicultural democratic society.
Strategy to Revive Bandung Skywalk; Refunctional Concept of Failed City Area Nurcahya, Yan; Syah, M Kautsar Thariq; Sugiarto, Deri; Negara, Teddiansyah Nata; Putra, Rian Ananda; Hilmayani, Syalwa Linda
Journal of Architectural Research and Education Vol 8, No 1 (2026): Journal of Architectural Research and Education
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jare.v8i1.84542

Abstract

The purpose of this study is to provide insight to the government, society, and further researchers in reviving the Bandung Skywalk. As we know, the Skywalk or Teras Bandung is one of the icons of the City of Bandung which was built in 2017 and has become one of the tourist destinations for local people or tourists from Jabodetabek and other tourists. This study applies the use of descriptive qualitative methods with a phenomenological approach and the theory of urban spatial atmosphere. Apart from the occurrence of the Copid-19 event which has had a negative impact on life in many countries, to the point of preventing the movement or activities of people gathering or moving to public places. The Bandung Skywalk has no initial target when the city's public facilities are not functioning after Covid-19 can be resolved. With this study, we provide the concept of refunctioning the Bandung Skywalk to the Bandung City government so that it can revive and utilize public facilities better.Keywords – City Area, Refunction, Skywalk Bandung, Teras Bandung
MODERNISASI TRANSPORTASI DAN MOBILITAS SOSIAL-EKONOMI DI JAWA BARAT: Dari Preanger Stelsel ke Jalur Kereta Api Tahun 1880–1930 Syah, M. Kautsar Thariq; Sa’adah, Putri Lailatus; Nurcahya, Yan; Negara, Teddiansyah Nata; Murni , Fitria Eka Dewi
BANDA HISTORIA: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Studi Budaya Vol 3 No 2 (2025): BANDA HISTORIA : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Studi Budaya
Publisher : Universitas Banda Naira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62176/bastoria.v3i2.560

Abstract

This study analyzes the role of railway development in shaping regional integration and socio-economic transformation in West Java between 1880 and 1930. Employing a historical method with a qualitative, library-based approach, the research examines primary and secondary documents related to colonial transportation policies. The findings demonstrate that the transition from the Preanger Stelsel—a forced coffee cultivation system dependent on traditional transport networks—to modern railway infrastructure fundamentally altered patterns of mobility and economic exchange. The Dutch colonial administration introduced railway lines, maritime routes, and road systems to address logistical constraints caused by the long distance between inland plantations and coastal ports. The establishment of railways not only facilitated the efficient movementof plantation commodities and strengthened export capacity but also reconfigured spatial connectivity, enabling broader social mobility among local populations. The study argues that railway expansion served as a strategic instrument of colonial economic consolidation while simultaneously laying the groundwork for long-term regional integration in West Java.
The Historical Impact of the Mongol Invasion on Islamic Civilization: A Study of the Ilkhan Dynasty, Timur Lenk, and Their Socio-Cultural Legacy Najmudin, Salman; Avicena, Muhamad Zaky; Mulyanudin, Mulyanudin; Hernawan, Wawan; Kusdiana, Ading; Nurcahya, Yan
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 5 No. 4 (2025): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v5i4.48617

Abstract

This study aims to analyze the political and social instability experienced by Muslim societies during the Mongol era, particularly during the Ilkhan Dynasty and the reign of Timur Lenk. This study is based on the urgency of understanding the historical roots of disruption in Islamic civilization as a contribution to efforts to prevent future conflict and fragmentation. This study uses historical methods by applying heuristics, source criticism, interpretation, and historiography to reconstruct the events of the Mongol invasion, the establishment of the Ilkhan Dynasty (1260–1343), and the expansion and pacification of Timur Lenk (1370–1404). The research findings show that the Mongol conquests destroyed Islamic political, social, and scientific institutions to a large extent, but simultaneously opened up space for new cultural integration, the Islamization of the Mongol elite, and the formation of a hybrid power structure that combined steppe traditions and Islamic-Persian values. The Ilkhan Dynasty became a space of ideological transition, while Timur Lenk inherited the logic of Mongol military expansion with a strategy of terror and power symbolism. Although both created short-term stability, they failed to build lasting institutional legitimacy. This study contributes to the understanding of the resilience of Islamic civilization, post-conquest power dynamics, and the complex relationship between foreign militarism and the political-religious adaptations of Muslim societies. The research's originality lies in its integrative historical narrative, which links military conquest with its long-term socio-political and cultural impacts on Muslim territories, offering a critical perspective largely unexplored in previous studies.
JEJAK ISLAM DAN KEKUASAAN DI INDONESIA DALAM KONTEKS POLITIK ASIA TENGGARA Nurcahya, Yan; Putra, Rian Ananda; Murni, Fitria Eka Dewi; Negara, Teddiansyah Nata; Sugiarto, Deri
Nusantara Journal for Southeast Asian Islamic Studies
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/nusantara.v21i2.38496

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan hubungan Islam dan kekuasaan dalam sejarah politik Indonesia melalui pendekatan historis dan teori-teori politik kontemporer. Dengan menggunakan metode penelitian historis yang melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, penelitian ini menelusuri transformasi peran Islam dari basis legitimasi kekuasaan kerajaan pra-kolonial, kekuatan resistensi sosial pada masa kolonial, hingga aktor moral dalam negara demokratis modern. Analisis mengintegrasikan perspektif political theology, legitimacy theory, civil religion, public sphere, serta paradigma post-Islamism dan deliberative democracy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan politik Islam di Indonesia bersifat evolutif dan dialogis, bukan revolutif, dan menghasilkan model Islam moderat yang menekankan etika publik dan kemaslahatan umum. Pengalaman Indonesia memperlihatkan sintesis antara Islam, demokrasi, dan pluralisme yang membedakannya dari negara Muslim lain di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei. Penelitian ini menegaskan bahwa Islam di Indonesia berperan sebagai kekuatan moral dan civil society, bukan instrumen perebutan kekuasaan formal, dan menawarkan model signifikan bagi dunia Islam global dalam membangun tatanan politik yang adil, inklusif, dan demokratis.Kata Kunci: Islam; Politik; Kekuasaan; Asia Tenggara; Indonesia; Sejarah
Co-Authors Abdul Aziz Abdul Karim, Mohamad Aqbil Wikarya Ading Kusdiana Ahmad, Nurwadjah Ajid Hakim Akbar, Adha Syahidil Al Fatah, Ichsan Buchyatutthalibin Alfahmi, Ibrahim Nasrul Haq Allatif, I Gilang Miftah Arsyad, M Fikri Arsyad, Muhammad Fikri Asep Yudi Permana Aufaa Ahdillah, Zaahidah Avicena, Muhamad Zaky Aziz, Muhammad Fadhlan Basor, Saepul Darmilah, Diah Dedi Supriadi Dwidayati, Kunthi Herma Gumilar, Setia Hadiansyah, Tantan Hafiy Bin Abdul Rashid, Muhammad Hakim, Ajid Hambaliana, Dandie Hawari, Ilham Faisal Hesti Wulandari Hidayat, Asep Achmad Hilmayani, Syalwa Linda Ilham Maulana istiqomah istiqomah Kautsar Thariq Syah, Muhammad Lucy Yosita M Kautsar Thariq Syah M Zikril Oksa Putra M. Kautsar Thariq Syah Maulana, Ahmad Sobri Mulyanudin, Mulyanudin Murni , Fitria Eka Dewi Murni, Fitria Eka Dewi Najmudin, Salman Negara, Teddiansyah Nata Noor, Arba'iyah Mohd Nugraha, Patra Sentosa Oksa Putra, M Zikril Oksa Putra, M. Zikril Putra, Almawardi Putra, M Zikril Oksa Putra, M. Zikril Oksa putra, rian ananda Putri Lailatus Sa’adah Qolbiya Sakinah, Syahidah Riyan Haqi Khoerul Anwar Sa'adah, Putri Lailatus Sakinah, Syahidah Qolbiya Salsabila, Marisa Jahra Samsudin Samsudin Sari, Ana Ramdani Sa’adah, Putri Lailatus Sidik, Mohammad Dindin Hamam Solehudin, Solehudin Sudana, Djojo Sukardjo Sufriadi, Dedi Sugiarto, Deri Sulasman Sulasman Sulasman Suparman Suparman Supendi, Usman Supi Septia Wahyuni Suprianto, Sopian Suwanda, Satya Adilaga Syah, M Kautsar Thariq Syah, M. Kautsar Thariq Syah, Muhammad Kautsar Thariq Syakira, Mutiara Khansa Teddiansyah Nata Negara Thariq Syah, M Kautsar Thariqq Syah, M Kautsar Tjahyani Busono Wahyuni, Supi Septia Wawan Hernawan Yuda, Dendi Zaahidah Aufaa Ahdillah