Claim Missing Document
Check
Articles

The Role of the British East India Company (EIC) in the Collapse of the Mughal Empire From Trade Competition to Political Domination Solehudin, Solehudin; Nurcahya, Yan; Basor, Saepul; Suprianto, Sopian
HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 13, No 2 (2025): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v13i2.11363

Abstract

The aim of this research is to determine the influence of the British EIC (East India Company) on the process of the collapse of the Mughal Empire, researching from the economic stage to the political field in the Indian subcontinent. This article uses qualitative research of a library nature. Library research uses library data, as well as analysis of each source. After collecting several sources, it emerged that the British with their EIC controlled India starting with controlling trade in all strategic areas of the Indian subcontinent as well as collaborating with local residents, and influencing the rulers to obtain more facilities and trade monopoly opportunities. Then, after the rise of the EIC Economy, the next step was to slowly control politics by influencing local regional policies up to the Mughal Empire and carrying out divisive politics in order to prioritize the position of the EIC in India. So it can be concluded that the EIC was the starting point for imperialism in the Indian subcontinent, from economic control to political influence.
The Role of Sri Baduga Maharaja in the Spread of Islam in The Sunda Region Supendi, Usman; Nurcahya, Yan; Maulana, Ahmad Sobri; Nugraha, Patra Sentosa; Syakira, Mutiara Khansa; Salsabila, Marisa Jahra
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 4 (2025): JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/xxmcgf21

Abstract

Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) was a great king of the Sunda Kingdom who ruled around 1482–1521 AD, and was known as a just, wise, and peace-loving leader. The data is then analyzed using qualitative data analysis techniques, starting with data reduction to filter relevant information from all sources. From this statement, it can be concluded that at that time there was a religious shift, with many Pajajaran people converting to Islam. Sri Baduga Maharaja did not directly spread Islam, but he played a role in creating peaceful and tolerant conditions that allowed Islam to spread well in the Sunda Kingdom. His open attitude towards religious differences made his reign one of the important periods in the early history of Islam in the Land of Sunda. reflecting how religion and culture are harmoniously intertwined. In this context, studying this collection of relics is an important means of understanding how Islam grew and took root in the cultural expressions of the Sundanese people.
KITAB MANAQIB SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI Resume Buku Hakim, Ajid; Nurcahya, Yan; Syah, M Kautsar Thariq; Sugiarto, Deri; Hambaliana, Dandie; Noor, Arba'iyah Mohd
International Journal of Nusantara Islam Vol 13 No 1 (2025): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v13i1.45227

Abstract

The Book of Manaqib of Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani, published in 2011, by Ajid Thohir, offers a significant contribution to the study of Sufi historiography by illuminating a genre that is often neglected in Islamic historical scholarship. Focusing on the hagiographic narratives surrounding Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani—a central figure in the Qadiriyya Sufi order—the book systematically examines the various versions and traditions of Manaqib literature, highlighting their role in shaping religious identities and spiritual practices among Muslim communities, particularly followers of the Qadiriyya-Naqshabandiyya orders. Using historical research methods, the study analyzes the structure, authorship, and epistemological foundations of several key Manaqib texts, arguing that these works are not only important sources for understanding the development of Islamic historiography but also serve to strengthen communal ties within the fiqh and Sufi traditions. The book shows how the Book of Manaqib functions as more than a record of miraculous deeds and virtues; It is an influential vehicle for spreading Islamic values, fostering piety, and cultivating collective memory in various Muslim societies.
Effective Strategies in Developing Sustainable Cities: Cases Diverting the New National Capital Nurcahya, Yan; Hambaliana, Dandie
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 1 (2025): JANUARI-MARET 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sustainable development has become a mandatory concept in today's world of Architecture and Urban Planning. The Indonesian government plans to move the State Capital in this case the New State Capital (IKN), by shifting the state capital to Kalimantan. The government expects New IKN to become a city with sustainable urban development, apart from Jakarta as the main economic center in Indonesia. The new IKN development is expected to have a sustainable city concept, because building an area into a city is not only for now but can be used for our next nation.
Islam Pada Zaman Kerajaan Sumedanglarang (Abad 14-15) Supendi, Usman; Putra, M Zikril Oksa; Nurcahya, Yan
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 1 (2025): JANUARI-MARET 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerajaan Sumedanglarang, yang terletak di wilayah Jawa Barat, Indonesia, merupakan salah satu kerajaan yang memainkan peran penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Pada masa kejayaannya, kerajaan ini menjadi salah satu pusat pertemuan kebudayaan dan agama, termasuk masuknya ajaran Islam melalui jalur perdagangan, dakwah, dan interaksi dengan kerajaan-kerajaan sekitarnya. Islam mulai diperkenalkan di Sumedanglarang pada abad ke-15, dengan pengaruh besar dari para wali songo dan pedagang Muslim yang datang dari kawasan pesisir utara Jawa. Proses islamisasi di Sumedanglarang berlangsung secara bertahap, menggabungkan unsur-unsur tradisi lokal dengan ajaran Islam, sehingga menciptakan bentuk khas dalam praktik keagamaan dan budaya masyarakatnya. Meskipun bukti-bukti sejarah yang jelas tentang proses islamisasi di Sumedanglarang terbatas, catatan-catatan dari sumber sejarah menunjukkan bahwa raja dan masyarakat Sumedanglarang mulai menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan. Perubahan ini juga terlihat dalam kebijakan politik dan sosial, seperti penerimaan terhadap hukum Islam dan adaptasi dalam sistem pemerintahan. Islamisasi di Sumedanglarang juga berhubungan erat dengan penyebaran kebudayaan Islam, termasuk seni, arsitektur, serta pendidikan agama yang semakin berkembang. Abstrak ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai proses islamisasi di Kerajaan Sumedanglarang, peran Islam dalam perubahan sosial dan budaya, serta kontribusinya terhadap perkembangan sejarah Islam di Jawa Barat pada masa itu.
Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal Terhadap Perkembangan Islam di Anak Benua India Hambaliana, Dandie; Nurcahya, Yan; Sugiarto, Deri; Thariq Syah, M Kautsar; Oksa Putra, M Zikril; Al Fatah, Ichsan Buchyatutthalibin
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 1 (2025): JANUARI-MARET 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerajaan Mughal, juga dikenal sebagai Mogul atau Moghul, adalah negara yang memerintah Afganistan, Balochistan, dan sebagian besar India antara tahun 1526 M dan 1857 M. Mughal adalah kata Mongol versi Indo-Arya, karena merupakan bagian dari Dinasti Timuriyah dari Asia Tengah. Resmi rakyat Mughal adalah Islam. Pada periode ini terbentuk tiga raja besar: Usmani di Turki, Shafawi di Persia, dan Mughal di India. Mughal menguasai seluruh wilayah, menyebabkan perubahan signifikan di dunia Islam. Babur adalah orang pertama yang mendirikan kerajaan Islam di India, dan putranya, Nashiruddin Humayun (1530-1539 M), menggantikannya. Muslim di India dianggap minoritas, dan pengaruh mereka terasa di berbagai agama. Muslim dianggap minoritas dalam Islam, dan pengaruh mereka semakin disebarkan oleh pemerintahan Mughal. Pada masa inilah Islam menyebar dan berkembang di kawasan Anak Benua India. Dari segi metodologi penelitian sejarah merupakan kajian terhadap berbagai sumber sejarah baik primer maupun sekunder. Dari makalah yang disampaikan kita bisa melihat kontribusi Kerajaan Mughal Terhadap Perkembangan Islam di Anak Benua India dalam berbagai aspek pada masanya baik pada; Politik, Pendidikan, Ilmu, Kesustraan, Arsitektur, Teknologi, dan Pembangunan Kota.
Desain Arsitektur Masjid Al-Jabbar dalam Menunjang Sejarah Islam dan Terapan Ilmu Sosial Humaniora Nurcahya, Yan
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 1 (2025): JANUARI-MARET 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Al-Jabbar di Kota Bandung, Indonesia. Memiliki Desain Arsitektur tersendiri yang di desain oleh Arsitek Ridwan Kamil yang pada saat desain dan dibangun masjid tersebut, arsitek tersebut sendiri sedang menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Masjid umumnya berfungsi sebagai lokasi untuk salat, buka puasa Ramadan, salat Jenazah, pelaksanaan pernikahan dan bisnis, pengumpulan dan distribusi sedekah, serta tempat penampungan tunawisma. Secara historis, masjid telah berfungsi sebagai pusat komunitas, pengadilan, dan sekolah agama. Di zaman modern, mereka juga mempertahankan perannya sebagai tempat pengajaran dan debat agama. Ketertarikan masyarakat, dengan Bangunan Masjid Al-Jabbar yang Menciptakan sarana perkembangan Agama Islam dan menjadikanya sarana wisata baru di Kota Bandung, yang tentunya tanpa membatasi pengunjung Masjid Al-Jabbar harus seorang muslim. Karena selain tempat beribadah, masjid ini memiliki kontribusi Museum tentang sejarah Islam di Indonesia serta terkoneksi dengan terapan Ilmu Sosial Humaniora.
Konsep Modifikasi untuk Rumah Berkelanjutan Di Permukiman Informal Perkotaan: Systematic Literature Review Nurcahya, Yan
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 1 (2025): JANUARI-MARET 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urbanisasi yang pesat dan kebutuhan mendesak untuk pembangunan berkelanjutan telah menyebabkan munculnya kawasan permukiman kumuh di area perkotaan. Kawasan ini  ditandai dengan kondisi fisik, sosial-ekonomi, dan sosial-budaya yang menurun, sering kali padat penduduk serta dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah dengan akses terbatas pada fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Sebagai solusi menangani kepadatan penduduk diperkotaan, Konsep Modifikasi untuk Rumah Berkelanjutan Di Permukiman Informal Perkotaan perlu direncanakan dan diterapkan. Penelitian ini menggunakan tinjauan literatur sistematis untuk memahami Konsep Modifikasi untuk Rumah Berkelanjutan Di Permukiman Informal Perkotaan, dengan fokus pada bagaimana partisipasi tersebut mempengaruhi keberhasilan dan keberlanjutan proyek. Tinjauan ini mengevaluasi berbagai cara partisipasi masyarakat dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi Konsep Modifikasi untuk Rumah Berkelanjutan Di Permukiman Informal Perkotaan. Metode systematic literature review digunakan untuk menilai literatur yang relevan, mengidentifikasi tema-tema utama, dan mengembangkan kerangka kerja untuk analisis serta sintesis temuan. Hasil awal menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat meningkatkan keberlanjutan proyek, memperkuat kemandirian, memungkinkan inovasi dalam mengatasi masalah lokal, serta mempromosikan pembangunan yang inklusif dan efektif.  
KAJIAN FOLKLORE: MAKNA DAN SIMBOL PRABU SILIWANGI BERTAPA DAN MENYUCIKAN DIRI SEBELUM MASUK ISLAM DI MATA AIR CITARUM Nurcahya, Yan; Supendi, Usman
Historia Islamica: Journal of Islamic History and Civilization Vol 4 No 1 (2025): Historia Islamica
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/historia.v4i1.1249

Abstract

Abstract: Folklore is a discipline, which stands alone in Indonesia, which has not been developed for long. Folklore is part of a collective culture, which is spread and passed down from generation to generation. To be able to distinguish it from culture. History is an empirical science. The consequence is that every historical statement must be based on a reliable source (fact). There is no historical source, no historical source then there is no history. This is what distinguishes history from fairy tales. Storytelling is a product of fictional imagination. In fairy tales, there is no claim that the story is told based on empirical facts or not, whether it really happened or not. Through Patilasan Dipatiukur and Prabu Siliwangi we can reflect on the struggle and courage that shaped the history of this nation. The traces of Dipatiukur and Prabu Siliwangi carved in every stone and puddle of water in this place remind us of the importance of respecting and studying valuable historical heritage.Keywords: Pajajaran Kingdom, Spread of Religion, Islam, Sundanese History Abstrak:Folklor merupakan suatu disiplin, yang berdiri sendiri di Indonesia, yang belum lama dikembangkan. Folklore merupakan sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun temurun. Untuk dapat membedakan dengan kebudayaan. Sejarah merupakan ilmu empiris. Konsekuensinya adalah setiap pernyataan sejarah harus didasarkan pada sumber (fakta) yang dapat diandalkan. Tidak ada sumber sejarah, tidak ada sumber sejarah maka tidak ada sejarah. Inilah yang membedakan sejarah dari dongeng. Bercerita merupakan produk imajinasi fiktif. Dalam dongeng, tidak ada klaim bahwa cerita tersebut diceritakan berdasarkan fakta empiris atau tidak, benar-benar suatu kejadian atau tidak. Melalui Patilasan Dipatiukur dan Prabu Siliwangi kita dapat merenungi perjuangan dan keberanian yang membentuk sejarah bangsa ini. Jejak Dipatiukur dan Prabu Siliwangi yang terukir dalam setiap batu dan genangan air di tempat ini mengingatkan kita akan pentingnya menghormati dan mempelajari warisan sejarah yang berharga Keywords: Kerajaan Pajajaran, Penyebaran Agama, Sejarah Sunda, Folklor
Internal Conflict of Jama'ah Tabligh (2015-2023): A Case Study from Parongpong West Bandung Hakim, Ajid; Nurcahya, Yan; Syah, M Kautsar Thariq; Wahyuni, Supi Septia; Noor, Arba'iyah Mohd
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i1.30392

Abstract

Jama’ah Tabligh (JT), a global Islamic revivalist movement, has undergone an unprecedented internal conflict that disrupted nearly a century of organizational harmony. A major leadership rift divided the movement into two factions: the Nizamuddin-based Maulana Saad (MS) group and the Pakistan-based Syuro Alami (SA) faction led by Sheikh Abdul Wahab. Over time, distinct characteristics have developed between the two factions, becoming particularly evident in Parongpong, West Bandung, although similar patterns appear elsewhere. While JT has often been studied as a peaceful, apolitical missionary movement, few scholarly works have systematically examined the causes and local consequences of its internal division. This study addresses that gap by analyzing the impact of the schism between the MS and SA factions, focusing on Parongpong as a microcosm of the global split. Employing a historical method that includes heuristic, critical, interpretive, and historiographical stages, the study draws upon oral sources collected between 2015 and 2023 through informal interviews with JT members in West Java—particularly in Parongpong and Bandung—as well as written materials such as the Buku Musyawarah Halakoh and publications from tablighi-jamaat.com. The findings reveal that the conflict stems from divergent perspectives on leadership structures, spiritual allegiance (bai‘at), missionary strategies, and theological interpretation. The SA group, often more digitally engaged and scholarly, contrasts with the orally oriented and tradition-centered MS followers. The conflict has deeply affected JT’s internal social fabric and global outreach. In Parongpong, it manifests in disrupted religious routines and divided loyalties among members. The novelty of this study lies in linking a global religious schism to its localized sociological expressions, offering new insights into how spiritual authority is contested, negotiated, and redefined within transnational Islamic movements. These findings contribute to broader understandings of organizational dynamics and internal fragmentation in contemporary Islamic movements. Jama’ah Tabligh (JT), sebuah gerakan kebangkitan Islam berskala global, telah mengalami konflik internal yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mengguncang hampir satu abad tradisi keharmonisan organisasional. Perpecahan kepemimpinan yang signifikan membagi gerakan ini menjadi dua faksi: kelompok Nizamuddin yang dipimpin oleh Maulana Saad (MS) dan faksi Syuro Alami (SA) yang berbasis di Pakistan di bawah pimpinan Syaikh Abdul Wahab. Seiring waktu, kedua faksi ini menunjukkan perbedaan karakteristik yang mencolok, terutama di Parongpong, Bandung Barat, meskipun pola serupa juga tampak di wilayah lain. Meskipun JT selama ini banyak dikaji sebagai gerakan dakwah yang damai dan apolitis, hanya sedikit penelitian yang secara sistematis menelaah penyebab serta dampak lokal dari perpecahan internal tersebut. Penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis dampak perpecahan antara faksi MS dan SA, dengan fokus pada Parongpong sebagai cerminan mikro dari perpecahan global. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang mencakup tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh dari sumber lisan—yang dikumpulkan antara tahun 2015 hingga 2023 melalui wawancara informal dengan anggota JT di Jawa Barat, khususnya Parongpong dan Bandung—serta sumber tertulis seperti Buku Musyawarah Halakoh dan publikasi di tablighi-jamaat.com. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik ini berakar pada perbedaan pandangan mengenai struktur kepemimpinan, ikatan spiritual (bai‘at), metode dakwah, dan interpretasi teologis. Faksi SA, yang cenderung lebih aktif secara digital dan akademis, berbeda dengan pengikut MS yang lebih berorientasi pada tradisi lisan dan konservatif. Konflik ini berdampak mendalam terhadap struktur sosial internal dan jangkauan global JT. Di Parongpong, perpecahan tampak melalui terganggunya rutinitas keagamaan dan terbelahnya loyalitas anggota. Kebaruan penelitian ini terletak pada upayanya menghubungkan perpecahan keagamaan global dengan manifestasi sosiologis lokal, sehingga memberikan wawasan baru mengenai bagaimana otoritas spiritual diperdebatkan, dinegosiasikan, dan didefinisikan ulang dalam gerakan Islam transnasional. Temuan ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas tentang dinamika organisasi dan fragmentasi internal dalam gerakan Islam kontemporer.
Co-Authors Abdul Aziz Abdul Karim, Mohamad Aqbil Wikarya Ading Kusdiana Ahmad, Nurwadjah Ajid Hakim Ajid Thohir Akbar, Adha Syahidil Al Fatah, Ichsan Buchyatutthalibin Alfahmi, Ibrahim Nasrul Haq Allatif, I Gilang Miftah Ana Ramdani Sari Arsyad, M Fikri Arsyad, Muhammad Fikri Asep Yudi Permana Aufaa Ahdillah, Zaahidah Avicena, Muhamad Zaky Aziz, Muhammad Fadhlan Basor, Saepul Dandie Hambaliana Darmilah, Diah Dedi Supriadi Dedi Supriadi Dendi Yuda S Dwidayati, Kunthi Herma Fikri, Ahmad Ma’mun Gumilar, Setia Hadiansyah, Tantan Hafidz, Muhammad Al Hafiy Bin Abdul Rashid, Muhammad Hakim, Ajid Hawari, Ilham Faisal Hesti Wulandari Hidayat, Asep Achmad Hilmayani, Syalwa Linda Ilham Maulana istiqomah istiqomah Kautsar Thariq Syah, Muhammad Lucy Yosita M Kautsar Thariq Syah M Zikril Oksa Putra M. Kautsar Thariq Syah Maulana, Ahmad Sobri Mostafa, Mohamed Abd El Motaleb Mulyanudin, Mulyanudin Murni , Fitria Eka Dewi Murni, Fitria Eka Dewi Najmudin, Salman Noor, Arba'iyah Mohd Nugraha, Patra Sentosa Oksa Putra, M Zikril Oksa Putra, M. Zikril Priyatna, Haris Putra, Almawardi Putra, M Zikril Oksa Putra, M. Zikril Oksa putra, rian ananda Putri Lailatus Sa’adah Qolbiya Sakinah, Syahidah Ridwan, Ahmad Fauzi Riyan Haqi Khoerul Anwar Sa'adah, Putri Lailatus Sakinah, Syahidah Qolbiya Salsabila, Marisa Jahra Samsudin Samsudin Sa’adah, Putri Lailatus Sidik, Mohammad Dindin Hamam Solehudin, Solehudin Sudana, Djojo Sukardjo Sufriadi, Dedi Sugiarto, Deri Sukamto, Ika Sumiyarsi Sulasman Sulasman Sulasman Suparman Suparman Supendi, Usman Supi Septia Wahyuni Suprianto, Sopian Suwanda, Satya Adilaga Syah, M Kautsar Thariq Syah, M. Kautsar Thariq Syah, Muhammad Kautsar Thariq Syakira, Mutiara Khansa Teddiansyah Nata Negara Thariq Syah, M Kautsar Thariqq Syah, M Kautsar Tjahyani Busono Wahyuni, Supi Septia Wawan Hernawan Wijayanto, Rizky Zaahidah Aufaa Ahdillah