Claim Missing Document
Check
Articles

Sinisme dan Peringatan Moral dalam Puisi Hendak Jadi “Orang Besar?” Karya Bung Usman: Kajian Stilistika Siti Asmaul Husna; Edi Suyanto; Eka Sofia Agustina; Munaris Munaris; Siti Samhati
ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia Vol. 8 No. 2 (2025): November
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/estetik.v8i2.13055

Abstract

The poem Hendak Jadi “Orang Besar?” by Bung Usman is a literary work that delivers profound social criticism and moral admonition. This study adopts a stylistic approach using a descriptive qualitative method to analyze linguistic elements such as metaphors, irony, and satire that create a critical tone in the poem. Data were obtained through library research and analyzed based on the poet's choice of words, structure, and linguistic style to convey the intended message.The findings indicate that the poem Hendak Jadi “Orang Besar?” by Bung Usman employs metaphors to depict the negative impact of uncontrolled ambition, irony to highlight the emptiness of achievements without morality, and satire to critique selfish behaviors that disregard social values. The poem sharply illustrates the social realities of its time while inviting readers to reflect on values such as integrity, responsibility, and humanity in achieving true success. The moral messages conveyed in this poem remain relevant today, making it a meaningful social reflection worthy of appreciation.
Makna dan Fungsi Puisi Rakyat Lampung Nyapou Hendri Firmansyah; Farida Ariyani; Dina Maulina; Munaris Munaris
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7985

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan makna pada puisi rakyat Lampung Nyapou. Metode yang digunakan ialah pendekatan deskriptif kualitatif  dengan teknik pengumpulan data berupa studi dokumen terhadap naskah Nyapou serta literatur terkait tradisi lisan Lampung. Analisis data dilakukan dengan pendekatan hermeneutik Paul Ricoeur untuk menafsirkan pesan-pesan budaya, nilai moral, dan simbol-simbol adat yang terdapat dalam syair Nyapou. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyapou memiliki tiga fungsi utama. Pertama, Nyapou berfungsi sebagai identitas kelompok yang ditandai dengan penyebutan tokoh atau marga adat sebagai penanda jati diri komunitas. Kedua, Nyapou berfungsi sebagai sarana penghormatan terhadap tamu yang hadir dalam upacara adat, karena secara hakikat Nyapou bermakna menyapa dengan penuh tata krama. Ketiga, Nyapou berfungsi sebagai sarana pendidikan informal yang memuat nilai tanggung jawab, kepedulian, kemandirian, dan keberanian. Dengan demikian penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat kajian sastra lisan Lampung dan menyediakan dasar teoretis, praktis-pedagogis, serta kebijakan bagi integrasi Nyapou dalam pembelajaran dan pelestarian budaya Lampung.
KAJIAN STILISTIKA PADA KUMPULAN PUISI KEKASIHKU KARYA JOKO PINURBO Asyifa Zaharani; Heru Prasetyo; Munaris Munaris
Wiyata Budaya: Jurnal Pendidikan Dalam Konteks Humaniora Vol. 2 No. 1 (2025): Wiyata Budaya
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/wiyatabudaya.v2i1.1193

Abstract

This study uncovers the stylistic beauty in Joko Pinurbo’s poetry collection Kekasihku, highlighting the diverse linguistic expressions that offer emotional depth and aesthetic appeal. Through sharp use of figures of speech, the poems blend irony, metaphor, and personification, depicting the complexities and paradoxes of love. The imagery evoked is vivid, allowing the reader to not only see but also feel and hear the atmosphere, creating a profound multisensory experience. The careful selection of diction weaves each line with a harmonious rhythm, captivating the reader to reflect on every word spoken. Through fresh and poetic language, Joko Pinurbo creates not just literature but a journey of the soul, inviting the reader to explore the complexities of human relationships, with a deep philosophical touch. This work stands as a testament to how stylistics can evoke emotions and shape broader meanings in Indonesian literature. Penelitian ini mengungkap keindahan stilistika dalam kumpulan puisi Kekasihku karya Joko Pinurbo, dengan menyoroti keberagaman gaya bahasa yang menghadirkan kedalaman emosional dan estetika. Melalui permainan majas yang tajam, puisi-puisi ini memadukan ironi, metafora, dan personifikasi, menggambarkan dinamika cinta yang penuh paradoks dan kerumitan. Citraan yang dihadirkan begitu kuat, membawa pembaca merasakan suasana yang tidak hanya terlihat, tetapi juga dapat dirasakan dan didengar, menciptakan pengalaman multisensorial yang mendalam. Pemilihan diksi yang cermat dan penuh arti menyulam setiap baris puisi dengan irama yang harmonis, memikat pembaca untuk lebih merenung dalam setiap kata yang diucapkan. Melalui gaya bahasa yang segar dan puitis, Joko Pinurbo tidak hanya menciptakan karya sastra, tetapi juga sebuah perjalanan batin yang mengajak pembaca menyelami kompleksitas hubungan manusia, dengan sentuhan filosofis yang mendalam. Karya ini menjadi bukti nyata bagaimana stilistika mampu menggugah emosi dan membentuk makna yang lebih luas dalam dunia sastra Indonesia.
ANALISIS SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE PADA ANTOLOGI PUISI SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUISI KARYA JOKO PINURBO Najwa Chautsar Adhelia; Heru Prasetyo; Munaris Munaris
Wiyata Budaya: Jurnal Pendidikan Dalam Konteks Humaniora Vol. 2 No. 2 (2025): Wiyata Budaya
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/wiyatabudaya.v2i2.1197

Abstract

Poetry is a type of literary work that conveys ideas and feelings of the poet with language as a beautiful medium bound by structure, rhythm, and rhyme. This research aims to conduct a semiotic study of Ferdinand de Saussure on the poetry anthology "Selamat Menunaikan Ibadah Poisi" by Joko Pinurbo with each poem entitled "Pulang Malam", "Pada Mata", and "Ranjang Ibu". The semiotic analysis in this study aims to explore the deeper meaning of a poem by identifying and explaining the relationship between words and symbols used by the poet. The qualitative method was chosen because it allows us to give a richer and deeper interpretation of the poems. The results show that the poems are rich in symbolism that refers to various themes such as love, loss, hope, and death. Puisi adalah jenis karya sastra yang menyampaikan ide dan perasaan penyair dengan bahasa sebagai media indah yang diikat oleh struktur, irama, dan rima. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian semiotika Ferdinand de Saussure pada antologi puisi “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi” karya Joko Pinurbo dengan masing-masing puisi yang berjudul “Pulang Malam”, “Pada Matanya”, dan “Ranjang Ibu”. Analisis semiotika dalam penelitian ini bertujuan untuk menggali makna yang lebih dalam dari sebuah puisi dengan cara mengidentifikasi dan menjelaskan hubungan antara kata-kata dan simbol yang digunakan penyair. Metode kualitatif dipilih karena memungkinkan kita untuk memberikan interpretasi yang lebih kaya dan mendalam terhadap puisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi-puisi tersebut kaya akan simbolisme yang mengacu pada berbagai tema seperti cinta, kehilangan, harapan, dan kematian.
KAJIAN STILISTIKA DALAM KUMPULAN PUISI SUARAMU JALAN PULANG YANG KUKENALI KARYA ADIMAS IMMANUEL Putri Aulia Zahra; Heru Prasetyo; Munaris Munaris
Wiyata Budaya: Jurnal Pendidikan Dalam Konteks Humaniora Vol. 2 No. 2 (2025): Wiyata Budaya
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/wiyatabudaya.v2i2.1198

Abstract

Stylistic study on Adimas Immanuel's poetry book, Your Voice is the Way Home that I Recognize. The three main objectives of this study are to reveal the use of diction; the use of images and poetry; and the majas contained in Adimas Immanuel's poetry. To answer these problems, there are three stylistic approaches used. The results show that Adimas Immanuel's poems use a lot of frontal and easy-to-understand language; five poem titles were used as data for this study. Diction is used to describe circumstances related to love. It gives a clear picture of the reader's state. Majas has the purpose of enhancing the meaning of poetry through the use of aesthetic sentences. Kajian Stilistika pada buku puisi Adimas Immanuel, Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali. Tiga tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengungkapkan penggunaan diksi; penggunaan gambar dan puisi; dan majas yang terkandung dalam puisi Adimas Immanuel. Untuk menjawab masalah ini, ada tiga pendekatan stilistika yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi karya Adimas Immanuel banyak menggunakan bahasa yang frontal dan mudah dipahami; lima judul puisi digunakan sebagai data penelitian ini. Diksi digunakan untuk menggambarkan keadaan yang berkaitan dengan cinta. Cipta memberikan gambaran yang jelas tentang keadaan pembaca. Majas memiliki tujuan untuk meningkatkan makna puisi melalui penggunaan kalimat yang estetis.
ANALISIS GAYA BAHASA DALAM PUISI EPIGRAM 60 KARYA JOKO PINURBO (KAJIAN STILISTIKA) Shinta Oktafiani; Heru Prasetyo; Munaris Munaris; Latifatul Azizah
Wiyata Budaya: Jurnal Pendidikan Dalam Konteks Humaniora Vol. 2 No. 2 (2025): Wiyata Budaya
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/wiyatabudaya.v2i2.1199

Abstract

Poetry is an intellectual expression that uses rhyme and a methodical framework to arouse emotions and stimulate the senses. Stylistics is the area of literary science that focuses on object- based style. Language style serves as the research object. One of the things that makes poetry better is linguistic style, which includes the author's viewpoint that enhances the writer's words or language. There are four categories of language styles: repetitious, connective, contrastive, and comparative. Examining the language types in Joko Pinurbo's collection of poetry "Epigram 60" is the goal of this study. The poems "Tembang Tidur," "Kesusu," and "Anak Wesel" are among the sources of data used in this investigation. Qualitative research methodology is used. Stylistic analysis techniques are used in the study of Joko Pinurbo's collection of poems "Epigram 60": (1) reviewing earlier studies on the poems in the book, (2) taking notes or writing down passages from the poems, and (3) examining the language styles and meanings in the quoted passages. Based on the results presented, the stylistic devices used in the book Epigram 60 by Joko Pinurbo, specifically in the poems titled 'Tembang Tidur,' 'Kesusu,' 'Anak Wesel,' and 'Parkiran Elit,' include comparative language, irony, metonymic connections, and repetition. Puisi adalah ekspresi intelektual yang menggunakan rima dan kerangka kerja sistematis untuk membangkitkan emosi dan merangsang indra. Stilistika adalah bidang ilmu sastra yang berfokus pada gaya berdasarkan objek. Gaya bahasa berfungsi sebagai objek penelitian. Salah satu hal yang membuat puisi lebih baik adalah gaya bahasa, yang mencakup sudut pandang penulis yang memperkaya kata-kata atau bahasa penulis. Ada empat kategori gaya bahasa: repetitif, konektif, kontrastif, dan komparatif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis jenis-jenis bahasa dalam kumpulan puisi Joko Pinurbo “Epigram 60”. Puisi-puisi “Tembang Tidur”, ‘Kesusu’, dan “Anak Wesel” merupakan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini. Metodologi penelitian kualitatif digunakan. Teknik analisis gaya bahasa diterapkan dalam studi kumpulan puisi Joko Pinurbo “Epigram 60”: (1) meninjau studi sebelumnya tentang puisi-puisi dalam buku tersebut, (2) mencatat atau menuliskan kutipan dari puisi-puisi, dan (3) menganalisis gaya bahasa dan makna dalam kutipan yang dipilih. Berdasarkan hasil yang disajikan, perangkat stilistik yang digunakan dalam buku Epigram 60 karya Joko Pinurbo, khususnya dalam puisi berjudul ‘Tembang Tidur,’ 'Kesusu,‘ 'Anak Wesel,’ dan ‘Parkiran Elit,’ meliputi bahasa perbandingan, ironi, hubungan metonimik, dan pengulangan.
ANALISIS KAJIAN SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE PADA PUISI “TEDUH HUTAN JATI” DAN “BERJALAN DI PEMATANG SAWAH” KARYA BAMBANG SUPRANOTO Vinna Cahya Safitri; Heru Prasetyo; Munaris Munaris
Wiyata Budaya: Jurnal Pendidikan Dalam Konteks Humaniora Vol. 2 No. 2 (2025): Wiyata Budaya
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/wiyatabudaya.v2i2.1200

Abstract

This research analyzes two poems by Bambang Supranoto, namely "Shady Teak Forest" and "Walking On The Rice Fields", using Ferdinand de Saussure's semiotic theory with a descriptive qualitative approach. This semiotic theory focuses on the relationship between signifier and signified in poetry. The aim of this research is to reveal the meaning contained in the language elements used by poets to convey messages and emotions. The results of the analysis show that in the poem "Shady Teak Forest", markers such as "wind" and "lush teak leaves" describe the soothing calm of nature, with signs of peace and blessings given by God through nature. Meanwhile, in the poem "Walking On The Rice Fields", markers such as "joyful singing" and "lush rice" describe an atmosphere of joy and gratitude for God's grace which is manifested from fertile nature. This second poem shows the harmony between humans and nature, as well as the importance of protecting and being grateful for the existence of nature as a gift from God. It is hoped that this research can add more insight into the dynamics of signs in poetry and enrich readers' understanding of the hidden meanings contained in literary works. Penelitian ini menganalisis dua puisi karya Bambang Supranoto, yaitu “Teduh Hutan Jati” dan “Berjalan di Pematang Sawah”, menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Teori semiotika ini menitikberatkan pada hubungan antara penanda (signifier) dan petanda (signified) yang ada dalam puisi. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap makna yang terdapat dalam elemen-elemen bahasa yang digunakan oleh penyair untuk menyampaikan pesan dan emosi. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam puisi “Teduh Hutan Jati”, penanda seperti “angin” dan “rimbun daun-daun jati” menggambarkan ketenangan alam yang menyejukkan, dengan petanda berupa kedamaian dan keberkahan yang diberikan Tuhan melalui alam. Sedangkan dalam puisi “Berjalan di Pematang Sawah”, penanda seperti “lagu gembira” dan “rimbun padi” menggambarkan suasana gembira dan rasa syukur terhadap karunia Tuhan yang tercermin dalam alam yang subur. Kedua puisi ini menunjukkan keharmonisan antara manusia dengan alam, serta pentingnya menjaga dan mensyukuri keberadaan alam sebagai berkah Tuhan. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan lebih dalam tentang dinamika tanda dalam puisi dan memperkaya pemahaman pembaca terhadap makna tersembunyi yang terkandung dalam karya sastra.
Co-Authors Abdul Ageng Firmansyah Aditya Pratama Aditya Pratama Adiwena, Maria Widhi Majesta Agung Abadi Kiswandono Alamsyah Alamsyah Alben Ambarita Alfanny Pratama Fauzy Ali Mustofa Ali Mustofa Ali Mustofa Ana Juwita Andri Ardianto Andri Widiastuti Anggraini, Tia Anggun Fitri Anggun Setiana Annisa Diah Pertiwi Annisa Elvira Apri Yanto Arantika Arvi Arini Wastiti Ariyadi Ariyadi Asyifa Zaharani Ayu Atidhira Ayu Setiyo Putri Baiti Kurnia Sari Budi Risnawati Buyung Buyung Chairunnisa Pratami Chythia Andhini Desty N Cindy Agustin Cita Dani Apriyanti Citra Winda Ulvia Cucu Sutarsyah Deasy Triyani Saputri Delvi Iskandar Desembri Desembri Desi Iryanti Desti Wulandari Desyandri Desyandri Deta Kristiana Devi Kusmitha Sari Devitalisa M, Wulan Dewi Kartika Sari Dhini, Maudy Sukma Dian Kurniasari Dimas Dwi Pramudia Dina Maulina Dwi Satria Yuda Edi Suyanto Edi Suyanto Eka Meliani Eka Sofia Agustina Eka Sofia Agustina Eka Sofia Agustina Eko Rusminto, Nurlaksana Elliyanti Elliyanti Evita Fratiwi Farida Ariyani Farida Ariyani farida ariyani Fathimah Nurhalimah S Faturrohman, Aji Fauzie Purnomo Sidi Febri Ramadani Febriel Mayangsari Feralisa Usmarianti Figo Fajar Aprian Fisnia Pratami Fitayah Fatimah Ramadhani Fitri Angraini Fitri Daryanti Fitri Nursilawati Gustira, Yinda Dwi Hana Yakfi Aningsih Hendri Firmansyah Heni Siswanto Herda Silviana Herlambang, Agung Putra Herni Idayati Heru Arip Rahman Hakim Heru Prasetyo Heti Kus Endang Hindun Kusuma Dewi I Nyoman Tri Dharma Astika I Wayan Mustika Imam Rejana Indah Yuni Wulandari Indar Agus Susilowati Indri Arnaselis Iqbal Hilal Iqbal Hilal Irma Oktaviani Ismania Triyanova Janie Irma Suryani Joko Setyo Nugroho Kahfie Nazaruddin Kahfie Nazaruddin Khoirunnisa Khoirunnisa Kukuh Prasetyo Kurnia Ning Tyas Lady Pramesti Handoko Lady Pramesti Handoko Lailatul Rohmah Latifatul Azizah Lela Tri Indriani Lenny Rahmawati Lia Annisa Lida Sari Lilik Sabdaningtyas Linda Ocviliana Lusy Tri Lestari M Ghufroni An’ars Maharani, Salwa Pramesti Margareta Finasehati Mediyansyah Mediyansyah Mei Ariyanti Meiry Susanti Melisa Alwi Merina Tri Rahma Okta Metha Puspita Mita Rilyanti Moulia Mahyu Muhammad Fuad MUHAMMAD FUAD Muhammad Fuad Muhammad Sabilli Muharsyam Dwi Anantama Mulyanto Widodo Murniati Murniati Najwa Chautsar Adhelia Nanda Ulvana Nazella Putri Sari Neli Yana Nesiana Imania Neti Herawati Ni Nyoman Wetty Suliani Ningsih, Iraliya Nuning Anggrainingsih Nur Fadilla Nur Laili Nuraeni, Intan Nurfeni Nurfeni Nurlaksana Eko Rusminto Nurlaksana Eko Rusminto Nurlaksana Eko Rusminto Nurrokhmah Prabawati Ocha Holida Pramudiyanti Pramudiyanti Puspita Trie Utami Putri Astari Makki Putri Aulia Zahra Putri Shima Arifani Putri, Risna Estuning Putri, Tiara Rey Putu Debby Yolanda Qonita Afriyani Qori Tri Arviki Rahayu, Putri Shogita Rahmat Prayogi, Rahmat Reffky Reza Darmawan Reny Handayani Riadi, Bambang Rian Andri Prasetya Riana Dwi Putra Rika Ridiawati Rini Susianti Risca Yumithasari Roni Mustofa Rusada, Nia Sahara Anggraini Salwa Pramesti Maharani Sandika Ali Seldatri Hairani Shinta Oktafiani Shinta Wulandari Siti Asmaul Husna Siti Nurlaili Siti Samhati Sudirman Husin Sukesi Hermansyah Sukmawati Sukmawati Sumarti Sumarti Sumarti Sumarti Sumiharni Sumiharni Sumiharni Sumiharni Sunyono Sunyono Supriadi Supriadi Susi Wendhaningsih Susilowati, Indar Agus Takahashi, Tasuku Teguh Teguh Tiara Rey Putri Tika Febi Astuti Tri Adhitya Tri Wahyuni Usmarianti, Feralisa Vemi Puspita Sari Vhica Penida Vinna Cahya Safitri Wahyu Hidayat Wahyu Riyanti Wardani, Okta Adelia Waseso, Dito Jati Wayan Tiadilona Widyasni Amanda Winda Liahani Windi Prawati Windu Budiarta Wira Apri Pratiwi Witono Witono Wulandari, Jesika Yesi Desiana Yesie Lia Dirwanti yoga irawan Yolanda, Putu Debby Yorista Indah Astari Yulia Kusuma Wardani Yulia Kusuma Wardani Zaima Novita