Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Kesantunan Berbahasa pada Komunitas Paduan Suara Gereja: Kajian Pragmatik Berdasarkan Teori Kesantunan Leech Juwita Maya Sari. S; Nandita Septika Baeha; Dini Deswina Sagala; Cahyani Oktavia Saragih; Dwi Aulia Syafira Purba; Qania Gultom; M. Oky Fardian Gafari
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesantunan dalam berbahasa adalah salah satu aspek krusial dalam komunikasi yang berperan menjaga keharmonisan hubungan sosial di dalam suatu komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai bentuk dan penerapan prinsip kesantunan dalam berbahasa di kalangan anggota Paduan Suara Gereja HKBP Pardamean berdasarkan teori kesantunan yang dikemukakan oleh Leech. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif, dengan sumber data berasal dari tuturan tiga anggota komunitas yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan cara wawancara dan dianalisis menggunakan enam maksim kesantunan menurut Leech, yaitu kebijaksanaan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, kesepakatan, dan simpati. Temuan penelitian menunjukkan bahwa prinsip kesantunan dalam berbahasa diterapkan dalam berbagai bentuk interaksi antaranggota komunitas.Maksim penghargaan dan maksim kesepakatan merupakan maksim yang paling menonjol, tercermin dari penggunaan tuturan yang menghargai kontribusi dari anggota lain, menjaga keharmonisan dalam komunikasi, serta membangun kolaborasi dalam kegiatan pelayanan. Di samping itu, teridentifikasi beberapa tuturan yang melanggar prinsip kesantunan, terutama dalam situasi yang melibatkan perbedaan pandangan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan prinsip kesantunan dalam berbahasa berperan penting dalam menciptakan komunikasi yang efektif, memperkuat hubungan antarpersonal, dan mendukung kelancaran aktivitas pelayanan dalam komunitas paduan suara gereja.
Polemik Pernyataan Alumni LPDP “Cukup Saya WNI” Dalam Perspektif Media Dan Kajian Tindak Tutur Bahasa Bertiana Putri Saragih; Aulia Syahfitri Harahap; Devi Enjelina Nainggolan; Elisabeth Siska Limbong; Natal Fransiska Manalu; M. Oky F. Gafari; Herning Puspitarini
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 01 (2026): Februari - Maret 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Polemik mengenai pernyataan seorang alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang menyatakan kebanggaannya karena anaknya menjadi warga negara asing memicu perdebatan luas di masyarakat dan media massa. Pernyataan yang berbunyi “cukup saya saja yang WNI, anak-anak jangan” menjadi viral dan memunculkan berbagai respons yang berkaitan dengan isu nasionalisme, tanggung jawab penerima beasiswa negara, serta etika dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis polemik tersebut melalui perspektif pemberitaan media serta mengkaji penggunaan bahasa dalam pernyataan tersebut menggunakan pendekatan pragmatik, khususnya teori tindak tutur. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa pemberitaan dari beberapa media daring nasional seperti Detik, BBC Indonesia, CNBC Indonesia, dan laman Universitas Gadjah Mada. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi dalam pernyataan yang menjadi sumber kontroversi. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara lokusioner pernyataan tersebut hanya menyampaikan informasi mengenai status kewarganegaraan anak, namun secara ilokusioner mengandung ekspresi sikap yang dapat ditafsirkan sebagai kritik atau ketidakpuasan terhadap kondisi tertentu. Sementara itu, secara perlokusioner pernyataan tersebut menimbulkan dampak sosial yang luas berupa kritik publik, perdebatan di media sosial, hingga respons dari pemerintah terkait evaluasi pengelolaan beasiswa dan kewajiban pengabdian penerima LPDP. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan dalam ruang publik, khususnya di media sosial, memiliki potensi besar dalam mempengaruhi opini publik serta membentuk wacana sosial dan politik di masyarakat
ANALISIS TINDAK TUTUR DALAM KONFLIK DIGITAL SEABLINGS DAN KNETZ: KAJIAN PRAGMATIK BERDASARKAN PERSPEKTIF AUSTIN Desi Sanjung Ayu Harepa; Andini Aulia; Kristiani Purba; Cindy Adelia; Santa Ulina; Sahputra Sihombing; M OKY Fardian Gafari; Herning Puspitarini
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2617

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang berfokus pada teori pragmatik, khususnya teori tindak tutur, untuk menyelidiki bentuk dan fungsi sindiran linguistik dalam interaksi digital pada konflik antara SEAblings dan K-Netz di platform X. Data dikumpulkan dari komentar pengguna yang mengandung sindiran, penghinaan, dan parodi bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ujaran dalam konflik digital didominasi oleh tindak tutur ilokusi evaluatif dan konfrontatif. Sindiran linguistik dan parodi bahasa digunakan sebagai cara tidak langsung untuk menyampaikan ejekan, sementara ujaran rasis dianggap sebagai bentuk penghinaan yang memanfaatkan perbedaan budaya. Dari perspektif perlokusi, sebagian besar audiens menanggapi dengan humor dan solidaritas, sehingga tanggapan yang muncul tidak selalu sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh pembicara. Hal ini menunjukkan bahwa konteks dan interpretasi pengguna sangat memengaruhi makna ujaran dalam komunikasi digital. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa bahasa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi tetapi juga berfungsi untuk membangun identitas, konflik, dan dinamika sosial.
BENTUK DAN FUNGSI GAYA BAHASA DALAM TUTURAN KOMIKA PADA COMIC 8 REVOLUTION WILAYAH MEDAN: KAJIAN STILISTIKA Raniko S. Maha; M. Oky Fardian Gafari
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2675

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan fungsi gaya bahasa dalam tuturan komika pada stand up comedy Comic 8 Revolution Medan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami penggunaan bahasa sebagai strategi dalam membangun humor sekaligus menyampaikan kritik soA Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan fungsi gaya bahasa dalam tuturan komika pada stand up comedy Comic 8 Revolution Medan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami bagaimana bahasa digunakan sebagai strategi untuk membangun humor sekaligus menyampaikan kritik sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa video pertunjukan Comic 8 Revolution Medan yang diakses melalui platform YouTube. Data penelitian berupa tuturan komika yang mengandung gaya bahasa dan dipilih secara purposif, dengan total 25 tuturan dari beberapa komika Medan yang dianalisis. Data dikumpulkan melalui observasi, transkripsi, serta klasifikasi berdasarkan bentuk dan fungsi gaya bahasa menurut teori stilistika Geoffrey Leech. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk gaya bahasa yang dominan meliputi ironi, hiperbola, repetisi, dan paradoks yang digunakan secara kreatif dalam membangun efek humor. Sementara itu, fungsi gaya bahasa bersifat multifungsional dengan kecenderungan dominasi fungsi ekspresif yang sering muncul bersamaan dengan fungsi estetik, terutama dalam tuturan yang memanfaatkan pengulangan dan permainan diksi. Temuan ini menunjukkan bahwa gaya bahasa dalam stand up comedy tidak hanya berfungsi menciptakan kelucuan, tetapi juga menjadi medium untuk mengekspresikan pengalaman personal, menyampaikan kritik sosial, serta merepresentasikan identitas budaya lokal.   sial. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa tuturan komika yang diperoleh dari video pertunjukan pada platform digital. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, transkripsi, serta klasifikasi berdasarkan aspek linguistik dan fungsi bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk gaya bahasa yang dominan meliputi diksi, struktur wacana, ritme, dan pola sintaksis yang dimanfaatkan secara kreatif melalui penyimpangan dan pengulangan bahasa. Sementara itu, fungsi gaya bahasa yang ditemukan bersifat multifungsional dengan dominasi fungsi ekspresif dan estetik, disertai fungsi informatif, direktif, dan imajinatif. Temuan ini menunjukkan bahwa gaya bahasa tidak hanya berfungsi untuk menciptakan humor, tetapi juga menjadi medium untuk mengekspresikan pengalaman, menyampaikan kritik sosial, serta merepresentasikan identitas budaya lokal.
Kesantunan atau Tindak Tutur Masyarakat Sosial: Komunitas Kesehatan M. Oky Fardian Gafari; Kristin Agustina Simanjuntak; Mey Waty Aulia; Triya Ayu Anggreni; Intan Mumtazah Assaidah
Khidmat Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : CV Edu Tech Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65311/j.khidmat.v3i1.1542

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk tindak tutur dan strategi kesantunan berbahasa dalam interaksi sosial di komunitas kesehatan, khususnya dalam komunikasi antara tenaga medis, pasien, dan keluarga pasien. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipatif di beberapa fasilitas layanan kesehatan. Analisis data dilakukan dengan mengacu pada teori tindak tutur Searle serta prinsip kesantunan menurut Leech, dengan fokus pada klasifikasi jenis tindak tutur seperti direktif, deklaratif, ekspresif, dan komisif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tenaga kesehatan secara dominan menggunakan tindak tutur direktif dan representatif untuk menyampaikan anjuran, larangan, dan penjelasan medis kepada pasien. Strategi kesantunan positif dan negatif juga diterapkan secara konsisten, misalnya melalui penggunaan kata-kata inklusif, kalimat tidak langsung, serta nada komunikasi yang ramah dan tidak menggurui. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi dalam komunitas kesehatan tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga oleh cara penyampaian yang santun, empatik, dan sesuai konteks budaya.
Analisis Tindak Tutur dan Kesantunan Berbahasa Masyarakat Kelas Sosial Pada Komunitas Kesehatan Artha Uly Sitorus; Amanda Rizky Audia; Nasya Kholisha; Trifena Euodia Keren Happuch Simangunsong; M. Oky Fardian Gafari
Khidmat Vol 3 No 2 (2025)
Publisher : CV Edu Tech Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65311/j.khidmat.v3i2.1678

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk tindak tutur dan kesantunan bahasa dan kesantunan bahasa yang digunakan Masyarakat dari berbagai kelas sosial dalam komunitas kesehatan. Fokus utama dalam penelitian adalah bagaimana perbedaan kelas sosial memengaruhi praktik komunikasi antara tenagaa Kesehatan, pasien, dan pengunjung. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara dengan tenaga kesehatan di beberapa rumah sakit, praktik bidan, dan klinik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur yang muncul meliputi Lokasi, perlokusi, dan ilokusi, dengan penerapan kesantunan yang tinggi untuk menjaga efektivitas komunikasi. Perbedaaan kelas sosial tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kualitas kesantunan berbahasa. Sebaliknya, tenaga kesehatan tetap mempertahankan perilaku sopan, ramah, dan komunikatif dalam berintekraksi dengan pasien. Penelitian ini menegaskan bahwa pentingnya kesantunan berbahasa sebagai strategi komunikasi yang efektif dalam menjaga hubungan interpersonal di komunitas kesehatan.
Kegagalan Felicity Conditions dan Pelanggaran Maksim Grice dalam Tuturan Fitnah Aparat: Studi Kasus Sudrajat Es Gabus Fadhilah Sabrina; Zai Alpris; Saibil Aprilia; Yusnika Sihite; Rini Syarifah; Herning Puspitarini; M. Oky Fardian Gafari
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/wfpmgm34

Abstract

Dalam penelitian ini, kondisi felicity teori speech acts (Austin & Searle) dan maksim Grice digunakan untuk menganalisis kegagalan komunikatif yang melanggar prinsip pragmatik ketika aparat negara menuduh Sudrajat Es Gabus. Dengan menggunakan pendekatan pragmatik kualitatif, data primer dari transkrip tuturan fitnah aparat di media sosial dan konferensi pers diuji menggunakan checklist felicity conditions (sincerity, preparatory, propositional, essential) dan klasifikasi pelanggaran maksim (Quantity, Quality, Relation, Manner). Mengungkapkan kegagalan sincerity condition karena niat manipulatif dan pelanggaran kualitas karena informasi palsu dan pelanggaran hubungan yang menimbulkan implikasi fitnah.
Analisis Tindak Tutur Driver Ojek Online dalam Interaksi dengan Pelanggan: Kajian Bahasa pada Masyarakat Kelas Pekerja Digital Delima br Pakpahan; Enjel Mitra Wati; Putri Indahyani Tarigan; Yuliana Santa Lore Purba; Berlianta Saragih; M. Oky Fardian Gafari
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 2 (2026): April-Juni, Ilmu Sosial dan IPA
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/dqn00605

Abstract

This study aims to analyze the speech acts used by online motorcycle taxi drivers in their interactions with customers within the digital working-class community. This research employed a qualitative method with a descriptive approach. The data were collected through direct interviews with six online motorcycle taxi drivers consisting of two Grab drivers, two Gojek drivers, and two Maxride drivers around the environment of Universitas Negeri Medan. Data collection techniques included interviews. The results showed that three forms of speech acts were found in the interaction between drivers and customers, namely locutionary acts, illocutionary acts, and perlocutionary acts. Locutionary acts were used by drivers to convey information related to trips and road conditions. Illocutionary acts were used to maintain customer comfort and build social interaction during the trip. Meanwhile, perlocutionary acts were reflected in the influence of drivers’ speech on customer comfort and application ratings. The study also found differences in communication patterns among Grab, Gojek, and Maxride drivers. However, all drivers emphasized the importance of polite language in providing services to customers. Therefore, language plays an important role in online transportation services and becomes part of the work quality within the digital working-class community.
REPRESENTASI PEMERINTAH DALAM DISKURSUS PENANGANAN BANJIR & LONGSOR DI SUMATERA PADA PODCAST BOCOR ALUS POLITIK: ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH Maharani Siahaan, Elisa; Fardian Gafari, M. Oky
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.49633

Abstract

This study aims to analyze the representation of the government in the Bocor Alus Politik podcast using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis. The study is motivated by the floods and landslides in Sumatra, which were interpreted differently in the Bocor Alus Politik podcast. This gave rise to a discourse conflict regarding whether the disasters should be interpreted as natural disasters or as man-made disasters. Using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis, this study seeks to examine how the government is positioned and evaluated within the disaster discourse constructed through textual dimensions, discursive practices, and the underlying sociocultural practices. The method employed in this study is descriptive qualitative. Research data was obtained by transcribing the podcast “Bocor Alus Politik” titled “Government Incompetence and the Causes of Floods and Landslides in Sumatra” into text form. Data analysis was conducted through the stages of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that the analysis of text dimensions in the podcast yielded 35 data points divided into three main categories: representation (17 data points), relations (5 data points), and identity (13 data points). Meanwhile, discursive practices are also explained through three main categories: text production, text distribution, and text consumption. Sociocultural practices are also explained through three categories: situational, institutional, and social. It can be concluded that the podcast Bocor Alus Politik demonstrates that discourse on disasters is not neutral but is influenced by social and institutional practices that shape the public’s understanding of them.
REPRESENTASI MASYARAKAT ADAT DALAM PEMBERITAAN KONFLIK PT TOBA PULP LESTARI DI SUMATERA UTARA: ANALISIS WACANA KRITIS MODEL DISKURSIF-HISTORIS RUTH WODAK Sopiana Sembiring, Kamelia Rut; Fardian Gafari, M. Oky
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.53728

Abstract

This study aims to analyze the representation of indigenous communities in the news coverage of conflicts between indigenous communities and PT Toba Pulp Lestari in North Sumatra across online media. The study is motivated by differences in media discourse construction, which not only present facts but also shape reality through language choices, perspectives, and specific interests. The issues examined include the representation of indigenous communities at the textual level, discursive practices, and socio-historical practices in conflict reporting. This research employs a qualitative descriptive method. Data were collected using observation and note-taking techniques from news texts in five online media outlets: tirto.id, tempo.co, IDN Times Sumut, AMAN, and kompas.id. Data analysis was conducted through stages of data collection, reduction, presentation, and conclusion drawing, applying discourse strategies such as nomination, predication, argumentation, perspectivization, as well as intensification and mitigation. The findings reveal that the representation of indigenous communities is not singular but varies according to each media outlet’s construction. At the textual level, indigenous communities are represented as victims, as actors of resistance, and as part of the conflict through specific language use. In discursive practices, there is an imbalance in the selection of discourse sources, which influences the direction of reporting. Meanwhile, at the socio-historical level, the conflict reflects structural issues related to the history of land disputes, power relations between indigenous communities, corporations, and the state, as well as media ideology. This study confirms that the media function not only as conveyors of information but also as constructors of social reality, thus requiring a critical approach in understanding agrarian conflict reporting.
Co-Authors Abdurahman Adisaputera Abdurahman Adisaputera Abdurrahman Adisahputera Adinda Andini Aditia Hizki Tarigan Afriani Sasmita Br Manurung Alya Alya Amanda Rizky Audia Andini Aulia Anggita Lydia Sirait Anis Safrita Arianto, Tomi Artha Uly Sitorus Assalam, Muhammad Hafidz Astuti, Wahyu Wiji Aulia Syahfitri Harahap Ayu Nadira Nadira Wulandari Berlianta Saragih Bertiana Putri Saragih Cahyani Oktavia Saragih Chairunnisa, Hera Cindy Adelia Cristin Ameria Damanik, Bea Anantha Daniel Try Daulat Saragi David Ferdinan Debora Simamora Delfira Almuharomah Lubis Delima Br Manullang Delima br Pakpahan Desi Sanjung Ayu Harepa Devi Enjelina Nainggolan Dewi Wahyuni Dhita Dhita Dinda dinda Dinda Safira Devianda Dinda Ujung Dini Deswina Sagala Dwi Aulia Syafira Purba Elisabeth Siska Limbong Elly Prihasti W Elvredo Banjarnahor Enjel Mitra Wati Escha Purba Fadhilah Sabrina Fahmy Dalimunthe, Syairal Geovany Panjaitan Goklas Sihombing Gomoses Stevencus Simarmata Grecia Margarethe Harlan Nikolas Situmorang HENDRA KURNIA PULUNGAN, HENDRA KURNIA Henni Julia Citra Sitorus Herning Puspitarini Herza Alwanny Intan Mumtazah Assaidah Intan Valiza Irfansyah Barus Irwandy Isah Cahyani Izky TrisyaPutri Jonner P Naibaho Juanda Alfario Turnip Jumaedi Nainggolan, Febrian Juwita Maya Sari. S Khairil Ansari Kristiani Purba Kristin Agustina Simanjuntak Kusmariati Kusmariati Ledy Novwanty Nainggolan Lensi sigalingging Lusia Gita Vanesa M Anggie J Daulay M. Surip Maharani Siahaan, Elisa Mara Untung Martina Sihotang Maturianus Laia Meiriati Simanjuntak Melinda Maria Sitanggang Melyanty Nababan Mersi Doknauli Simatupang Mesi Tambunan Mesya Fadila Sani Harahap Mey Waty Aulia Mhd. Zidan Aris Fatih Mika Charolin Mohd. Apryanta Sukasa Muhammad Hafidz Assalam Muhammad Hafidz Assalam Muhammad Ridho Afarrel Mutsyuhito Solin Nabila Putri Adha Nadilla Putri Nandita Septika Baeha Nasya Kholisha Natal Fransiska Manalu Natalia Nadeak Natalia Siagian Natanael Naibaho Nilfais Laia Noni Aulia Pratiwi Novita Manik Novita Paskah Paino, Novhira Putri Priska Br Kaban Pulungan, Hendra K. Puspita Sari Br Tarigan Putri Diana Putri Indahyani Tarigan Qania Gultom Rachel Mia Novriyanti Tobing Rahel Namisa Ginting Raniko S. Maha Reviani Manullang, Ester Riky Gunawan Siregar Rini Syarifah Rismauli Natalia Sahputra Sihombing Saibil Aprilia Sakinah Warohmah Santa Ulina Septiani Sihaloho, Jelita Shema Eklesiya Hutasoit Sihombing, Erlina Silalahi, Maysarah Sopiana Sembiring, Kamelia Rut Sri Lestari Siregar Sri Malem Teta Tarigan Stevanie Diva Marpaung Syahiba Nadin Yusuf Syairal Fahmy Dalimunthe Syarah Amaliyah Usman Theresia Anggi Natama Trifena Euodia Keren Happuch Simangunsong Triya Ayu Anggreni Valerina Leo Sinaga Veronika Simbolon Vina salya Wahyu Wiji Astuti Wahyu Wiji Astuti Wijar Pakpahan Yuliana Kristina Sinurat Yuliana Santa Lore Purba Yuni Tamba Yusnika Sihite Zai Alpris