Articles
Membangun kesehatan mental anak usia dini dengan pengasuhan positif
Dewi Retno Suminar;
H Hamidah
Indonesia Berdaya Vol 2, No 1: January 2021
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/ib.202175
Early childhood who are in PAUD often get developmental stimulation. Apart from providing stimulation, Bunda and Yanda are the closest people to PAUD apart from their parents. Parenting principles are also applied in PAUD. Good parenting at an early age will make children grow up well in the future. A person's mental health problems are often related to early parenting. On this basis, counseling on positive parenting for Bunda and Yanda in early childhood education was carried out. The socialization activities were carried out in Dengok Village, Padangan District, Bojonegoro Regency. Activities carried out to provide solutions to existing parenting problems. Counseling is carried out in two days at intervals of one week to provide opportunities for Bunda and Yanda in PAUD to look for parenting problems in the field so far. The results obtained are quite encouraging because of the increased understanding of Mothers and Yanda in PAUD about positive parenting methods which in turn will make children happier and improve mental health.
Efektifitas Penerapan Individual Work System untuk Meningkatkan Kemandirian Penyelesaian Tugas Anak dengan Autisme
adinda istiqomah;
Dewi Retno Suminar
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 17, No 1 (2021): Insight: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32528/ins.v17i1.2281
The deficit in independen can be seen on the teacher often helps or directs children with ASD (Autism Spectrum Disorder) to complete tasks. The aim of this study is to investigate the effectiveness of Individual Work System for students with autism. The research is being conducted by applying individual work system for children with autism to improve completing the task. This research uses quasi experimental using reversal design A-B design in five subjects diagnosed with mild autism, aged elementary school, had problems in completing the tasks and have ability to simple intruction. The data collection tool uses observations that assess off-task/on-task behavior, teacher prompting, task completion. Data obtained were analyzed using Wilcoxon statistical test. The result showed that the intervention using that idividual work system was effective increase independence of task completion for children with ASD (p=0.04). Observations on all subjects showed increased on-task behavior, increased task completion, and reduced teacher prompting.
Penerapan Teknik Total Task Presentation untuk Meningkatkan Keterampilan Bina Diri Berpakaian pada Disabilitas Intelektual Berat
Syarifah Rachmedi Amran;
Dewi Retno Suminar
Psychopolytan : Jurnal Psikologi Vol 4 No 1 (2020): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36341/psi.v4i1.1241
Kriteria dalam menegakan diagnosa disabilitas intelektual berat salah satunya adalah memiliki hambatan fungsi adaptif. Salah satu bentuk permasalahan fungsi adaptif yang dimiliki individu dengan disabilitas intelektual berat adalah permasalahan dalam keterampilan bina diri yang di dalamnya termasuk berpakaian. Individu dengan disabilitas intelektual berat merupakan individu yang mampu dilatih dengan intens dalam hal keterampilan bina diri sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bina diri berpakaian pada individu remaja dengan disabilitas intelektual berat. Subjek dalam penelitian ini adalah laki-laki berusia 15 tahun yang didiagnosa disabilitas intelektual berat. Penelitian ini menggunakan metode dengan desain single case ABA. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah total task presentation. Penerapan teknik dilakukan dengan total 9 sesi yang terdiri dari 1 sesi pengukuran baseline dan 8 sesi penerapan total task presentation. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa teknik total task presentation dapat meningkatkan keterampilan bina diri berpakaian pada individu dengan disabilitas intelektual.
Kecukupan Asupan Zinc Berhubungan dengan Perkembangan Motorik Pada Balita Stunting dan Non-Stunting
Hesty Dwi Septiawahyuni;
Dewi Retno Suminar
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 1 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (805.365 KB)
|
DOI: 10.20473/amnt.v3i1.2019.1-6
Background: One Indicator of successful health development are toddlers free from stunting. The cause of stunting is a lack of macro and micro nutrients and chronic infectious diseases. Micronutrients such as zinc have a role in growth which affects the hormones that play a role in bone growth. The role of zinc in motoric development indirectly is in arranging and releasing neurotransmitters that can affect nerve stimulation in the brain. This neurotransmitters will deliver nerve stimulation so that motor motion occurs. Motor development is a motion that involves muscles, brain and nerve that are controlled by the central part of the motor that is brain. Objectives: The purpose of this study was to analyze the relationship between adequacy of zinc intake and motoric development in stunted and non-stunted toddlers.Methods: This type of research is an observational study with cross sectional design. The sample size was 50 toddlers, consisted of 25 stunting toodlers and 25 non-stunting toddlers and lived in Puskesmas Wilangan, Nganjuk District, chosen by simple random sampling technique. Adequacy of zinc intake data was assessed using the Food Recall Form 3x 24 hours. Measurement of motoric development using the Pre-Screening Development Questionnaire (KPSP). Descriptive and inferential data analysis using Chi Square Test. Results: The result showed that there was a correlation between the level of zinc adequacy and motor development in the stunting toddler group (p=0.04) and non-stunting toddlers group (p=0.031).Conclusions: The level of adequacy of zinc has enough motor development better than the level of zinc sufficiency is less in the group of non-stunting toddlers.ABSTRAKLatar Belakang: Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan adalah balita terbebas dari stunting. Penyebab stunting yaitu kekurangan zat gizi makro maupun mikro dan penyakit infeksi kronis. Zat gizi mikro seperti zinc mempunyai peran pada pertumbuhan yaitu mempengaruhi hormon-hormon yang berperan dalam pertumbuhan tulang. Selain itu, peran zinc pada perkembangan motorik secara tidak langsung yaitu dalam menyusun dan melepas neurotransmitter yang dapat mempengaruhi rangsangan syaraf di dalam otak. Neurotransmitter ini akan menghantarkan rangsangan syaraf sehingga gerak motorik terjadi. Perkembangan motorik merupakan gerak yang melibatkan otot, otak dan syaraf yang dikontrol pada bagian pusat motorik yaitu otak.Tujuan: Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis hubungan kecukupan asupan zinc dengan perkembangan motorik pada balita stunting dan non-stunting. Metode: Jenis penelitian tergolong penelitian observasional dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 50 balita, terdiri dari 25 balita stunting dan 25 balita non-stunting yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Wilangan Kabupaten Nganjuk, dipilih dengan teknik simple random sampling. Data kecukupan asupan zinc dinilai menggunakan formulir Food Recall yang dilakukan 3x24 jam. Pengukuran perkembangan motorik menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Analisis data secara deskriptif dan Inferensial menggunakan uji Chi Square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat kecukupan zinc dengan perkembangan motorik pada kelompok balita stunting (p=0,04) dan kelompok balita non-stunting (p=0,031). Kesimpulan: Tingkat kecukupan zinc cukup mempunyai perkembangan motorik yang lebih baik daripada tingkat kecukupan zinc kurang pada kelompok balita non-stunting.
Hubungan Citra Tubuh dengan Status Gizi pada Siswi di SMA Negeri 9 Surabaya
Muhammad Dimas Bimantara;
Merryana Adriani;
Dewi Retno Suminar
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 2 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (314.081 KB)
|
DOI: 10.20473/amnt.v3i2.2019.85-88
Background: Teenage age is a period of transition from childhood to adulthood. At this age there will be changes in body shape that can affect teenagers' perceptions of body image, especially adolescent girl. The result of a preliminary study at Senior High School 9 Surabaya showed that 7 out of 10 female students were dissatisfied with their body shape so they made certain efforts, such as managing their diet to exercise for get an ideal body.Objective: The purpose of this study was to analyze whether there was a relationship between body image and nutritional status in female students at Senior High School 9 Surabaya.Methods: The study used a cross-sectional design carried out 76 of 11th and 12th grades in Senior High School 9 Surabaya. The inclusion criteria in this study were the students not undergoing special diet. The sampling technique used was proportional random sampling. Research data collection was conducted by interview method using body image questionnaire (BSQ-34) and anthropometric measurements. Data analysis used spearman correlation test (α=0.05).Results: The results of this study showed that more than half of the respondents have a positive body image (74%) and normal nutritional status (71%). There was significant relationship between body image and nutritional status of female students at Senior High School 9 Surabaya (p<0.001). Conclusion: Female nutritional status is influenced by body image. Students with a positive body image tend to have normal nutritional status.ABSTRAKLatar Belakang: Usia remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Pada usia ini akan terjadi perubahan bentuk tubuh yang dapat mempengaruhi persepsi remaja mengenai citra tubuh khususnya remaja putri. Hasil studi pendahuluan di SMA Negeri 9 Surabaya menunjukkan bahwa 7 dari 10 siswi merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya sehingga mereka melakukan upaya tertentu, seperti mengatur pola makan hingga berolahraga demi mendapatkan tubuh yang ideal.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah terdapat hubungan antara citra tubuh dengan status gizi pada siswi di SMA Negeri 9 Surabaya.Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional dilakukan pada 76 siswi kelas XI dan XII di SMA Negeri 9 Surabaya. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah siswi tidak sedang menjalani diet khusus. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner citra tubuh (BSQ-34) dan pengukuran antropometri. Analisis data menggunakan uji korelasi spearman (α=0,05).Hasil: Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden mempunyai citra tubuh yang positif (74%) dan status gizi yang normal (71%). Ada hubungan antara citra tubuh dengan status gizi pada siswi di SMA Negeri 9 Surabaya (p<0,001).Kesimpulan: Citra tubuh berhubungan dengan status gizi pada siswi di SMA Negeri 9 Surabaya. Siswi dengan citra tubuh positif maka cenderung memiliki status gizi normal.
STIMULASI PSIKOSOSIAL UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN EMOSI ANAK KEBUTUHAN KHUSUS
Tasyia Zharifah Arindayani;
Dewi Retno Suminar
Berajah Journal Vol. 2 No. 1 (2022): February
Publisher : Penerbit Lafadz Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47353/bj.v2i1.59
Tujuan dari kajian ilmiah ini adalah untuk menemukan rangsangan psikososial yang dapat membantu pengelolaan emosi anak berkebutuhan khusus. Desain penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan metode deskriptif. Partisipan dalam penelitian ini adalah anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan penanganan psikologis berupa rangsangan psikososial untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan emosinya. Strategi pengumpulan data untuk penelitian ini adalah studi terdokumentasi. Dalam penelitian ini yang melibatkan analisis data penelitian, yaitu reduksi data, penyajian data dan validasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak penyandang disabilitas mendapat manfaat dari hubungan positif dan rasa memiliki di rumah, sekolah, dan komunitas. Sayangnya, anak-anak penyandang disabilitas mungkin menghadapi pengucilan sosial dan mengalami stereotip sosial yang negatif. Di sisi lain ada banyak contoh orang tua yang telah mendukung anak-anak mereka melawan segala rintangan dan orang tua ini menunjukkan potensi dan pentingnya dukungan psikososial pengasuh anak untuk perkembangan anak.
EFEKTIVITAS PERMAINAN “MAMABOO” DALAM MENINGKATKAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK PRA SEKOLAH
Isnaini Igna Puspita;
Dewi Retno Suminar
Berajah Journal Vol. 2 No. 3 (2022): August
Publisher : Penerbit Lafadz Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47353/bj.v2i3.107
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah permainan Mamaboo efektif dalam meningkatkan perkembangan motorik halus anak usia pra sekolah (3-6 tahun). Penelitian ini dilakukan pada 14 anak yang memiliki rentang usia 4 sampai 6 tahun yang terdiri dari 9 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan alat pengumpul data yang mengacu pada denver II yang telah dimodifikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Desain eksperimen yang digunakan adalah pre test post test control group. Hasil analisis data penelitian diperoleh dari nilai uji n gain score pada kelompok eksperimen yaitu 489,955 atau 48,9% dengan nilai minimal 22,2% dan nilai maksimal 62,5%. Pada kelompok kontrol rata-rata skor yang diperoleh adalah -9,7222 dengan nilai minimal -55,5% dan nilai maksimal 16,7%. Hal ini menunjukkan jika permainan Mamaboo kurang efektif dalam meningkatkan perkembangan motorik halus anak.
RISK FACTORS FOR ANEMIA IN PREGNANT WOMEN: LITERATURE REVIEW
Dwi Rukma Santi;
Dewi Retno Suminar;
Shrimarti R Devy;
Mahmudah Mahmudah;
Oedojo Soedirham
International Journal of Midwifery Research Vol. 1 No. 3 (2022): International Journal of Midwifery Research
Publisher : Department of Midwifery, Faculty of Nursing and Midwifery, Institut Ilmu Kesehatan Nahdlatul Ulama Tuban
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Twenty percent (20%) of maternal mortality in developing countries is caused by iron deficiency anaemia. Meanwhile, the prevalence of anaemia in pregnancy in Asia is estimated at 48.2%, Africa 57.1%, America 24.1%, and Europe 25.1%. The trend of anaemia in pregnancy has increased in every years. To find out the risk factors that cause anaemia in pregnant women based on the research results in the health sector from 2014 to 2018. A literature review, by analyzing various studies regarding risk factors for anaemia in pregnant women. There are 17 studies from Indonesian and international researchers. From the results obtained, the educational factor is the most widely studied with a significant result (OR=2.467). Maternal factors that have significant influence are gestational age (OR=1.29) and nutritional status (OR=2.921), while nutrient intake factors that have a significant effect on anaemia in pregnant women are food intake (OR=2.54) and fluid intake (OR=2.91). Education level, nutritional status, food and beverage consumed are risk factors that have an effect on anaemia in pregnant women. Therefore, prevention measures for anaemia in pregnant women can be done by increasing maternal education and improving nutritional status with adequate nutrient intake.
Psikoedukasi untuk Meningkatkan Pemahaman Terkait Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pada Guru TK Inklusi ‘X’ Denpasar
Anak Agung Ayumas Pradnyaswari;
Dewi Retno Suminar;
Adijanti Marheni
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 3 (2022): Volume 11, Issue 3, September 2022
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30872/psikostudia.v11i3.8318
To reach their full potential, children with special needs require special education and related services. One of educational services that are currently still a challenge is inclusive education services. Particularly in Indonesia, the implementation of inclusive schools has not gone well or in accordance with relevant theories and principles. Constraints were faced such as the limited number of special education teachers and infrastructure. This study aims to increase kindergarten teachers’ understanding of special needs and educational services for them, namely inclusive education. It is hoped that with adequate understanding, teachers can carry out inclusive education optimally. The study used an action research design with lecture methods, video screenings, discussions, and questions and answers. Evaluation using pre-test and post-test values tested using Wilcoxon. The significance level is 0.018 (p<0.05), indicating that there is a statistically significant difference between teachers’ comprehension before and after receiving psychoeducation. The result shows that psychoeducation can improve kindergarten teachers’ understanding of special needs and educational services for special needs students. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) membutuhkan pendidikan khusus dan pelayanan terkait, untuk mencapai potensinya secara maksimal. Salah satu layanan pendidikan yang saat ini masih merupakan suatu tantangan ialah layanan pendidikan inklusif. Pelaksanaan sekolah inklusif khususnya di Indonesia belum berjalan dengan optimal atau belum sesuai dengan konsep dan pedoman yang berlaku. Kendala yang dihadapi seperti terbatasnya guru berlatar belakang pendidikan luar biasa dan keterbatasan sarana prasarana. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru TK terkait ABK dan layanan pendidikan untuk ABK yaitu pendidikan inklusif. Sehingga diharapkan dengan pemahaman yang memadai guru dapat melaksanakan pendidikan inklusif dengan optimal. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan dengan metode ceramah, pemutaran video, diskusi, dan tanya jawab. Evaluasi menggunakan pre-test post-test kemudian diuji menggunakan uji Wilcoxon. Angka signifikansi adalah 0.018 (p<0.05) yang dapat diartikan terdapat perbedaan yang signifikan antara pemahaman guru TK inklusi sebelum diberikan psikoedukasi dan setelah diberikan psikoedukasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psikoedukasi dapat meningkatkan pemahaman terkait ABK dan layanan pendidikan bagi ABK pada guru TK inklusif.
Compassion pada Pengasuhan Anak dengan Autism Spectrum Disorder
Dinie Ratri Desiningrum;
Fendy Suhariadi;
Dewi Retno Suminar
Buletin Psikologi Vol 28, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (456.783 KB)
|
DOI: 10.22146/buletinpsikologi.45926
Compassion adalah berbelas kasih terhadap penderitaan orang lain dan ditindaklanjuti dengan menolongnya. Compassion penting dalam kehidupan manusia, dan diterapkan di berbagai lapisan masyarakat. Dalam ranah keluarga, compassion dapat menstimulasi kesejahteraan individu dan keluarga. Penelitian terbaru belum banyak yang mengkaji compassion dalam konteks pengasuhan anak, khususnya anak dengan autism spectrum disorder. Tujuan dari studi hasil pemikiran ini adalah mencoba menggambarkan compassion, yaitu dalam hal ontologi dan penelitian-penelitian yang berkaitan dengan compassion khususnya compassion pada pengasuhan anak, dan lebih khusus lagi adalah compassion pada pengasuhan anak dengan autism spectrum disorder. Metode yang digunakan adalah studi literatur. Hasil studi ini menemukan pemahaman compassion secara komprehensif, dan menemukan konsep compassion dalam pengasuhan anak dengan autism spectrum disorder. Hasil penelitian bisa menjadi dasar konsep yang digunakan oleh peneliti lain yang berminat dalam ranah studi yang sama, yaitu untuk pengembangan studi lebih lanjut terkait pengasuhan anak berkebutuhan khusus, sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat.