Claim Missing Document
Check
Articles

FUNGSI TARI MALAM TABUR DI SANGGAR KEMUNING BELINYU Metha Liantina Eka Putri; Tati Narawati; Agus Budiman
Ringkang : Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari Vol 1, No 1 (2021): Februari, 2021
Publisher : Departemen Pendidikan Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ringkang.v1i1.32139

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan fungsi Tari Malam Tabur di Sanggar Kemuning Belinyu Kabupaten Bangka.Tari Malam Tabur ini merupakan salah satu tari kreasi baru yang ada di Sanggar Kemuning.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis.Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti yaitu observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi pustaka.Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data dengan menyeleksi data-data yang telah didapatkan oleh peneliti secara lansung terjun kelapangan.Berdasarkan hasil analisis peneliti bahwa Tari Malam Tabur diangkat dari cerita ritual Suku Lom yang dilakukan oleh ketua adat setiap satu tahun sekali sebelum pesta Nuju Jerami atau setelah masa panen diselenggarakan. Tari Malam Tabur mengalami perubahan fungsi pada tahun 2013 sebagai pertunjukan dan di tahun 2014 hingga saat ini berfungsi sarana hiburan.
TARI NARANTIKA RARANGGANIS mira agniati; Tati Narawati; Tatang Taryana
Ringkang : Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari Vol 2, No 1 (2022): Februari, 2022
Publisher : Departemen Pendidikan Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ringkang.v2i1.44424

Abstract

Tari Narantika Rarangganis adalah tarian dengan tema heroik dan memiliki ciri khas sendiri yaitu Narantika dibawakan oleh laki-laki, sedangkan Rarangganis dibawakan oleh perempuan, memiliki gerakan yang berbeda tetapi dibawakan dalam satu lagu dalam tarian. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana latar belakang, struktur koreografi, rias dan busana dari Tari Narantika Rarangganis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Partisipan dalam penelitian ini yaitu pewaris, pelatih dan pencipta Tari Narantika Rarangganis serta Ketua Paguyuban Seni Tari Klasik Sunda Galih Pakuan Kota Bandung. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat gerak-gerak Tari Narantika yang merupakan perkembangan dari Tari Monggawa pada rumpun Tari Keurseus yang diciptakan oleh Raden Nugraha Soediredja begitupun Rarangganis perkembangan dari Tari Kandagan, yang pada saat itu Raden Nugraha Soediredja dibantu oleh Irawati Durban Ardjo dan Indrawati Lukman.
Tari Almadad Ing Banten di Sanggar Rajawali Kabupaten Pandeglang Dinda Damayanti Sudrajat; Tati Narawati; Ace Iwan Suryawan
Ringkang : Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari Vol 1, No 3 (2021): Desember, 2021
Publisher : Departemen Pendidikan Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ringkang.v1i3.36852

Abstract

Judul dari penelitian ini adalah “Tari Almadad Ing Banten di Sanggar Rajawali Kabupaten Pandeglang” yang mana merupakan tari kreasi yang terinspirasi dari sebuah seni tradisi atau sebuah alat yang disebut dengan Almadad, Almadad adalah Seni Debus yang ada di Banten. Tarian ini menjelaskan tentang proses masuknya islam di Banten dengan menggunakan Almadad sebagai alat atau media penyebarannya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menganalisis Tari Almadad Ing Banten yang meliputi elemen-elemen komposisi tari seperti struktur koreografi, rias busana dan properti serta makna yang terkandung di dalamnya. Menggunakan kajian Etnokoreologi sebagai payung utama dalam penelitian dengan metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, studi literature dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tari Almadad Ing Banten terdapat 33 gerak yang terbagi menjadi 7 gerak Locomotor, 12 gerak Pure Movement dan 15 gerak Gesture. Rias yang digunakan yaitu rias corrective dengan busana islami yang sudah dikreasikan sesuai konsep garapan dan property yang dimainkan adalah Almadad kecil, Almadad besar dan Teras Lawang Gapura. Kemudian makna tarian terdapat pada elemen properti yang dimainkan, rias busana yang digunakan serta gerak-gerak permohonan pertolongan agar diberi kekuatan untuk bela diri karena arti dari Almadad adalah meminta bantuan atau pertolongan kepada Allah SWT.
PERAN PENDIDIKAN TARI PUTRI KLASIK GAYA YOGYAKARTA BAGI PEREMPUAN JAWA, DULU DAN KINI Tati Narawati
Humaniora Vol 21, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2643.872 KB) | DOI: 10.22146/jh.958

Abstract

This paper is a research report concerning Rama Sas, one of the great classical master dancers and choreographers of the court of Yogyakarta. As a boy, he had to master the female dancing because of the court rule that women of the aristocrat cannot appear in public in a wayang wong dance drama production. So because of his beautiful face, slender body, and delicate appearance, Rama Sas became a court dancer specializing in female characters. Women of the aristocrat concentrated on bedhaya and srimpi female dances. Due to the court restriction, women of the aristocrat were not allowed to move and act freely like men. This is a problem of gender of course. Rama Sas knew this problem and successfully tried to choreograph dances for women.
Dari Ritual Ke Panggung Pertunjukan: Perkembangan Tari Dalam Kehidupan Masyarakat Tati Narawati
Humaniora Vol 16, No 3 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2282.991 KB) | DOI: 10.22146/jh.1313

Abstract

There are three primary functions of dance in human life, i.e., for ritual,for personal entertainment, and for aesthetic presentation. All dance experts believe that the oldest function of dance in human life is for ritual. Dance is needed on the occasion of birth, circumcision, marriage, death, war, changes of the moon and sickness. Bali is the richest island of dance in Indonesia and known as "paradise in the world of arts. The Balinese dance ritual dances for gods, for spirits of the ancestors, for religious seers, for human beings, and also for the underworld spirits. Indonesia is rich in dance for personal entertainment, such as tayuban in Central and East Java, Jaipongan in West Java, gandrung in East Java, joget in Bali, ronggeng Melayu in Sumatera, etc. The development of urban population with sufficient income has influenced the development of dance as aesthetic presentation, because the urban people, categorized as the cultural consumers, need some aesthetic entertainment for their leisure time. The best country in the world whose amazing development of her dance as aesthetic presentation is the United States of America and New York is widely known as "the mecca of performing arts"
CONCEPT OF CHILDREN’S DANCE COMPOSITION BASED TRADITIONAL GAMES IN ELEMENTARY SCHOOL Ayo Sunaryo; Tati Narawati; Juju Masunah; Trianti Nugraheni
JPSD (Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar) Vol 6, No 1 (2020): JPSD (Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar)
Publisher : Department of Primary education, Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Su

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpsd.v6i1.7198

Abstract

The composition is interpreted simply, namely regulating traditional dances, especially on floor patterns, directions, and level settings in the form of group dances. This dance composition is applied to prospective dance teachers to enhance their understanding and skills in dance composition, applied in creating children's dance compositions. The purpose of this paper is to discuss the techniques of dance composition of children in prospective dance teachers to make children's dance works. This article is the result of research using an experimental method. The qualitative paradigm is a method of discourse analysis to synthesize theories and concepts of dance composition from seven figures, namely: Brenda McCutchen, Anne Gilbert, Alma Hawkins, Jacqueline Smith, Larry Lavender, and Eko Suprianto. The concept of creating traditional children's game-based compositions can be used as teaching material for creating children's dance for prospective dance teachers in elementary schools.Keywords: traditional game, children's dance, composition
ETNOKOREOLOGI : PENGKAJIAN TARI ETNIS & KEGUNAANNYA DALAM PENDIDIKAN SENI Tati Narawati
International Conference on Languages and Arts Proceeding of the 2nd ISLA 2013
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.907 KB)

Abstract

Istilah etnokoreologi (ethnochoreology) sebagai pengganti istilah yang di Barat lazim disebut sebagai etnologi tari (dance ethnology) atau antropologi tari (dance anthropology) mulai diperkenalkan di Indonesia sejak akhir abad ke-20. Istilah ini ternyata lebih tepat digunakan karena dalam pelaksanaan penelitiannya lebih bisa mencakup aspek-aspek tekstual dan kontekstual dengan pendekatan   multidisiplin.  Makalah ini mencoba mengaplikasikan teori etnokoreologi  dengan mengurai praktis mengamati seni tari untuk selanjutnya diakomodasikan dalam praktis  menyaji
Laras dan Rumpaka dalam Garap Karawitan Jaipongan Jugala Ismet Ruchimat; R.M. Soedarsono -; Timbul Haryono; Tati Narawati
PANGGUNG Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.081 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v23i4.155

Abstract

ABSTRACT   This paper analyzes characteristic and musical identity of garap karawitan Jaipongan which is focused on the identity of laras and rumpaka. The identity of karawitan Jaipongan is a genre of today’s Sundanese karawitan which developes without any acculturation influence. Most verbal form of rumpaka on garap karawitan Jaipongan Jugala represents a dialogue or text that requires comprehension of the content. The characteristic of laras and rumpaka which are verbal and musical in garap karawitan Jaipongan show a multidimensional artistic expression. Keywords: characteristic, laras, rumpaka, Jaipongan, and jugala    ABSTRAK Tulisan ini menguraikan ciri-ciri atau identitas musikal garap karawitan Jaipongan Ju- gala yang dititikberatkan pada identitas laras dan rumpaka. Identitas karawitan Jaipongan merupakan suatu genre karawitan Sunda kiwari yang berkembang tanpa pengaruh besar akulturasi. Bentuk verbal rumpaka pada garap karawitan Jaipongan Jugala sebagian besar merepresentasikan suatu pembicaraan atau teks yang menuntut pemahaman isi. Karakter- istik laras dan rumpaka yang bersifat verbal dan musikal dalam garap karawitan Jaipongan menunjukkan ekspresi artistik yang multidimensional. Kata kunci: karakteristik, laras, rumpaka, Jaipongan, dan jugala  
Tari Rampoe Sebagai Cerminan Karakteristik Masyarakat Aceh Rika Restela; Tati Narawati
PANGGUNG Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.192 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v27i2.260

Abstract

ABSTRAKArtikel ini adalah kajian Etnokoreologi yang dipadudengansosiologidan folkloreyang digunakanuntukmenganalisistariRampoeyang merupakan tariankolektif dari lima tarian Aceh, yaitu Seudati, Pho, Laweut, Ratoh Duek dan Saman. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan karakteristik masyarakat Aceh serta keterkaitannyaantara struktur pemerintahan adat dankepemimpinan dalam tari, serta keterkaitan antara pola tatanan masyarakat danesensi syair maupun gerak tari Rampoe. Untuk itudibutuhkan analisis yang tajam terhadap teks dan konteks pada tarinya.Penelitiankualitatifini, membuktikan hasil, bahwa: (1) bentuk kepemimpinan tari diadopsi dari pemerintahan adat, (2) sifat masyarakat Aceh yang tegas, memilikihargadiri yang tinggi, kompak, setia kawan, menjunjung nilai-nilai persaudaraan, dan pantang menyerah, tercermin dalam esensi gerak dan syair pada tari Rampoe.Kata kunci: Tari Rampoe, Etnokoreologi, karakteristik masyarakat AcehABSTRACT This article is a study of ethnochoreology wich combined with sociology and folklore, and used to analyze ‘Rampoe’ dance that consists of five Aceh dances such as namely ‘Suedati, Pho,Laweut, RatohDuek and Saman’. The objective of this study is to reveal the characteristics of the Acehnese and its associations between traditional governance structure (sultan, ulama,ulleebalang), andleadership in the dance (syekh, aneuksyahi, apiet), as well as the relation pattern of social order with the essence of poetry and movements of ‘Rampoe’ dance. So it needs a sharp analysis of the text and the contexts of dance. Theresult of thequalitative research that related to the essence of movement and poetry, are: (1) The form of leadership in the dance adopted from traditional administration:, (2) The nature of Acehnese attitudesarefirm, having high self concept, compact, loyal, uphold the brotherhood values, and never give up.Keywords: ‘Rampoe’ dance, Etnochoreology, Acehnese characteristics. 
Reog Bulkiyo Dance Learning to Increase Student Patriotism Values in Madrasah Tsanawiyah Sunan Ampel Doko Blitar Regency Ayu Ridho Saraswati; Tati Narawati
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.222 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.274

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Kesundaanyaitucageur, bageur, bener, pinter, singer yang telah luput dari kehidupan siswa. Terkikisnya nilai-nilai budaya lokal menimbulkan permasalahan, yaitu degradasi karakter yang dipengaruhi oleh lemahnya etika dan estetika.Penelitian ini terdiri atas dua tahapan, yaitu mengkaji tari dengan menggunakan Teori Etnokoreologi yang dibantu dengan pendekatan Etnopedagogik dan Folklor, serta implementasi pembelajaran dengan menggunakan Teori Lickona dan Gardner. Hasil kajian tari memperoleh nilai-nilai yang berkenaan dengan nilai cageur, bageur, bener, pinter, tur singer yang kemudian diimplementasikan melalui sebuah pembelajaran tari etnis yaitu Tari Pakujajar dengan menggunakan model pembelajaran sinektik.Penelitian ini menggunakan metode penelitian Action Research dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan proses yang telah dilakukan, terjadi peningkatan yang signifikan yang dibuktikan dengan meningkatnya daya imajinasi serta pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan sikap siswa yang peduli serta saling menghormati baik pada guru maupun antar sesamanya. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan model pembelajaran tari etnis.Kata Kunci :Nilai-nilai Kesundaan, Tari Pakujajar, Implementasi Pembelajaran Tari ABSTRACTThis research aims to inculcate the Kesundaan’s values that is cageur, bageur, bener, pinter,singer that have been disappeased from life of students. The erosion of local cultural values creates problems, as well as character degradation that influenced by the weakness of ethics and aesthetics. This research consist of two steps, that is review the dance by using Etnochooreology Theory with Etnopedagogy approach and Folklore, while the implementation of dance learning using Lickona and Gardner Theory. The results of dance studies obtain the values contained inside it, with pertains to cageur, bageur, bener, pinter, tur singer and these values are implemented through an ethnic dance learning that is Pakujajar Dance by using sinektik learning model. This research uses Action Research method with qualitative approach. Based on the process that have been done, there is a significant increase that is shown by the increasing the imagination power and understanding of studentsto the subject matter, and student’s attitudes who care and mutual respect both of teachers and each other. Thus, this research produces the ethnic dance learning model.Keyword : Kesundaan’s Values, Pakujajar Dance, Implementation of Dance Learning
Co-Authors abdul ajis jatnika Ace Iwan Suryawan Ace Iwan Suryawan Ace Iwan Suryawan, Ace Iwan Agus Ahmad Wakih Agus Budiman Agus Budiman Agus Dian Agus Supriatna Ali, Qifthi Amalia ramadhani Annastasya Nur Intandiani Annisa Nurkhadijah Ayo Sunaryo Ayu Ridho Saraswati Ayu Ridho Saraswati, Ayu Ridho Ayu Vinlandari Wahyudi Beben Barnas, Beben Cantika, Anindyajati Cepi Riyana, Cepi Dedi Rosala Devita Juniawan Dinda Damayanti Sudrajat Dinda Satya Upaja Budi Fallen, Aryuda Fakhleri Fifiet Dwi Tresna Santana Fifiet Dwi Tresna Santana, Fifiet Dwi Tresna Fitri Kurniati Hapidzin, Rivaldi Indra Hardina, Meisi Hayani Wulandari Hayani Wulandari, Hayani heni julia adila Intandiani, Annastasya Nur Ismet Ruchimat Ismet Ruchimat, Ismet Juju Masunah Juju Musunah Kemala Dwina Putri Khori Nurfaida Agniawan Kokom Komalasari Lalan Erlani Lanang Riyadi Mariah, Yoyoh Siti Maryani, Dian Maulana, Marsel Ridky Metha Liantina Eka Putri mira Agianti mira agniati Mubiar Agustin Muqri, Al Musunah, Juju Mutiara Difa Fauziyah Noviyanti Maulani Nugraheni, Trianti Nurfalah, Asep Rizwan Nurjatisari, Trimulyani Nurulloh Ramdani oriza sathyfa pertama Peppy Irmaniar Rahman Puri, Tia Destiana Putri Lilis Dyani Putri Lilis Dyani Putri, Aisyah Rahma Putri, Febrianti Ersa Qifthi Ali R. M. Soedarsono R.M. Soedarsono - R.M. Soedarsono -, R.M. Soedarsono Rahayu, Sesi Febi Rahmawati, Uci Rakhmat, Cece Ramadhan, Alvin Pratama Ria Sabaria Riana Rosa Prastika Ridwan Simon Ridwan, Ridwan Rika Restela Rika Restela, Rika Rivaldi Indra Hapidzin Rizqi Maulana Rosi Rosmawati Saian Badaruddin Satya, Royys Bagja Rizky Sembiring, Piter Slamet, Deni Sofyan, Agung Muhamad Srilestari, Widia Sunaryo, Ayo Surya, Dhea Elvionita Suwandi, Miranto Taram Abdul Roji Taryana, Tatang Timbul Haryono Timbul Haryono Tresnadi, Soni Tri Karyono Tri Reda Julianti Anugrah Trianti Nugraheni uus karwati Wakih, Agus Ahmad Widi Eka Yulita Widia Srilestari Yudi Sukmayadi Zaenal Alimin