Caulerpa racemosa merupakan salah satu makroalga yang memiliki kandungan senyawa bioaktif dan berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Kandungan metabolit sekunder pada C. racemosa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya umur panen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% C. racemosa pada berbagai umur panen. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan perlakuan umur panen 20, 25, 30, 35, 40, dan 45 hari. Skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif terhadap senyawa flavonoid, alkaloid, tanin/fenol, terpenoid, dan saponin. Aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan metode DPPH dan dinyatakan sebagai nilai IC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% C. racemosa pada seluruh umur panen positif mengandung alkaloid, triterpenoid, dan saponin, namun negatif terhadap flavonoid, tanin/fenol, dan steroid. Aktivitas antioksidan meningkat seiring bertambahnya umur panen yang ditunjukkan oleh penurunan nilai IC₅₀. Nilai IC₅₀ tertinggi diperoleh pada umur panen 20 hari sebesar 2394,07 μg/mL dan terendah pada umur panen 45 hari sebesar 126,01 μg/mL. Aktivitas antioksidan pada umur panen 45 hari tergolong kategori sedang, sedangkan umur panen lainnya termasuk kategori sangat lemah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur panen berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan C. racemosa dan umur panen 45 hari merupakan waktu panen terbaik untuk memperoleh aktivitas antioksidan yang lebih tinggi. Caulerpa racemosa is a macroalga containing various bioactive compounds and has potential as a natural antioxidant source. The accumulation of secondary metabolites in C. racemosa can be influenced by several factors, including harvest age. This study aimed to evaluate the phytochemical composition and antioxidant activity of 70% ethanol extracts of C. racemosa harvested at different ages. An experimental method was applied using six harvest ages: 20, 25, 30, 35, 40, and 45 days. Phytochemical screening was conducted qualitatively to detect flavonoids, alkaloids, tannins/phenolics, terpenoids, and saponins. Antioxidant activity was determined using the DPPH method and expressed as IC₅₀ values. The results showed that all extracts positively contained alkaloids, triterpenoids, and saponins, while flavonoids, tannins/phenolics, and steroids were not detected. Antioxidant activity increased with harvest age, as indicated by decreasing IC₅₀ values. The highest IC₅₀ value was observed at 20 days of harvest (2394.07 μg/mL), whereas the lowest value was obtained at 45 days of harvest (126.01 μg/mL). The antioxidant activity of the 45-day harvest extract was classified as moderate, while the other harvest ages were categorized as very weak. These findings indicate that harvest age influences the antioxidant activity of C. racemosa, with 45 days being the optimum harvest age for obtaining higher antioxidant potential.