Claim Missing Document
Check
Articles

Eksploitasi Kolonial Prancis di Jawa: Sistem Kontingen dan Penyerahan Wajib sebagai Bentuk Pemiskinan Sistematis (1808-1811) Khadijah, Siti; Sihombing, Juliani; Sinaga, Rosmaida; Hidayah, Mutiara; Sembiring, Rahmi Asyifa Hidayah; Fakhriza, Alya; Damanik, Selvia Andriani Putri; Ivanka, Ririn; Simbolon, Ronald Gemsar
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 3, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v3i2.7155

Abstract

Penelitian ini menganalisis kebijakan Sistem Kontingen dan Penyerahan Wajib yang diterapkan oleh Herman Willem Daendels selama masa pemerintahannya di Jawa (1808-1811). Penelitian ini berargumen bahwa kedua kebijakan tersebut bukan sekadar kebijakan fiskal, melainkan instrumen pemiskinan sistematis terhadap rakyat Jawa. Kebijakan ini lahir dari konflik geopolitik Eropa, di mana Jawa dijadikan benteng pertahanan Prancis untuk menghadapi ancaman Inggris. Melalui metode penelitian sejarah, penelitian ini menemukan bahwa Daendels memberlakukan sistem eksploitasi ganda: Sistem Kontingen merampas hasil pangan pokok rakyat, sementara Sistem Penyerahan Wajib memaksa petani menjual komoditas ekspor dengan harga murah. Untuk melancarkan sistem ini, Daendels mengubah para bupati menjadi alat pemerintah kolonial dengan memberikan target ketat dan ancaman sanksi. Dampaknya, rakyat Jawa mengalami pengurasan kekayaan, beban ganda (menyerahkan hasil bumi dan tenaga untuk kerja rodi), serta krisis kelaparan. Seluruh keuntungan dari sistem ini dialirkan untuk membiayai ambisi militer Prancis, tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat Jawa. Simpulannya, pemerintahan Daendels menandai peralihan menuju negara kolonial yang terpusat dan sangat eksploitatif.
Dampak Sosial, Ekonomi, dan Politik Era Raffles di Jawa: Sebuah Analisis Historis 1811–1816 Sinaga, Rosmaida; Pakpaha, Delima Br; Sipayung, Dinda Valica; Surbakti, Vinc Jae Lestari
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 3, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v3i2.7640

Abstract

Pemerintahan Inggris di Pulau Jawa pada masa Thomas Stamford Raffles (1811–1816) membawa perubahan signifikan dalam bidang ekonomi, sosial, dan politik. Penelitian ini membahas secara komprehensif dampak multidimensional dari kebijakan kolonial Inggris yang diterapkan selama periode tersebut. Dalam aspek ekonomi, penerapan landrent system menggantikan pola tanam paksa VOC dan mengubah struktur agraria Jawa, namun pelaksanaannya menghadapi hambatan administratif serta menimbulkan beban fiskal yang berat bagi petani. Di bidang sosial, perubahan sistem pajak perorangan dan penataan administrasi menciptakan ketegangan sosial di pedesaan, sementara kebijakan budaya dan infrastruktur turut memberikan pengaruh terhadap mobilitas dan pelestarian warisan budaya. Dalam aspek politik, Inggris melakukan reorganisasi kekuasaan melalui penguatan administrasi kolonial, pengurangan otoritas feodal, serta penaklukan wilayah strategis seperti Yogyakarta untuk menegaskan kontrol imperial. Meskipun masa kekuasaan Inggris relatif singkat, berbagai kebijakan yang diterapkan Raffles meninggalkan dampak jangka panjang dan menjadi fondasi bagi sistem pemerintahan kolonial Belanda pada periode berikutnya. Dengan demikian, periode ini menjadi salah satu fase penting dalam pembentukan struktur ekonomi-politik modern di Jawa.
Pendudukan Jepang di Indonesia: Dampak Sosial dan Politik pada Masa Perang Dunia II Sinaga, Rosmaida; Latif, Abdul; Nasution, Delila Agustina; Gea, Natalman; Atira, Nurul; Muhajir, Shafa Al; Masni, Siti; Azimah, Siti Syariah
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 3, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v3i2.7156

Abstract

Penelitian ini menganalisis dampak multidimensional dari pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945) terhadap perjalanan menuju kemerdekaan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi dampak sosial, politik, dan implikasinya bagi kemerdekaan Indonesia. Hasil penelitian mengungkap karakter paradoksal dari periode ini: kebijakan eksploitatif Jepang menimbulkan penderitaan masif, namun secara bersamaan menciptakan kondisi yang mendorong konsolidasi nasional. Penghapusan struktur kolonial Belanda membuka ruang bagi elite lokal, sementara pelatihan militer bagi pemuda dalam organisasi seperti PETA membentuk tulang punggung pertahanan awal Indonesia. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pendudukan Jepang berperan sebagai katalisator kritis yang mempersiapkan landasan infrastruktural dan mental bagi proklamasi kemerdekaan 1945.
Models of Female Coolie Clothes in the Deli Tobacco Plantation of East Sumatra in 1863-1942 Sinaga, Rosmaida; Tusaddiah, Halimah; Br Tarigan, Jussi Eka Ulitta; Nababan, Dora Irene; Napitu, Ulung
KASTA : Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Vol. 6 No. 1 (2026): April
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kasta.v6i1.2580

Abstract

This study aims to find out the background of the different models of women's coolie clothing in the Deli tobacco plantation and the factors that affect it. The method used is the Kuntowijoyo historical method with the stages of topic selection, heuristic, verification, interpretation, and historiography. The results of the study show that the background of different clothing models is influenced by differences in ethnic origin and economic conditions, so that female coolies continue to use clothes brought from their home regions. Chinese female coolies wear simple long-sleeved blouses, Javanese coolies wear kebaya with batik cloth or sarongs, and Indian coolies wear traditional sarees. In addition, the difference in clothing models was also influenced by low wages, social stratification in colonial society, and changes in roles from ordinary coolies to nyai. The novelty of this research lies in the use of colonial photo archives as the main source for studying women's coolie clothing models. This study describes the clothing of various ethnicities and analyzes the differences in clothing models between Chinese, Javanese, and Indian coolies. This approach provides a new perspective by placing clothing as a social representation related to ethnic identity, economic conditions, and social stratification in colonial-era plantations.
Bongal Site of Central Tapanuli: Early Traces of the Spread of Christianity as a Learning Resource for History Subject in High Schools Sinaga, Rosmaida; Azhari, Ichwan; Simangunsong, Lister Eva; Sumantri, Pulung
Journal Evaluation in Education (JEE) Vol 6 No 3 (2025): July
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/jee.v6i3.1693

Abstract

Purpose of the study: This study aims to present the findings from the Bongal Site as an essential learning resource for the History subject in Senior High Schools, particularly in exploring the dynamics of cultural interaction and the spread of religion in the Indonesian archipelago during ancient times. Methodology: This research employs a qualitative methodology, integrating historical and archaeological approaches. The historical approach is used to reconstruct the process of Christianity’s arrival on the west coast of Sumatra. At the same time, archaeological data are supported by an extensive literature review and field observations. Main Findings: The findings reveal that the spread of early Christianity to Sumatra, though still debated among historians, is evidenced by written sources indicating the presence of the Nestorian Church in the Fansur (Barus) region. Archaeological excavations at the Bongal Site uncovered various artifacts such as rings engraved with crosses, Roman beads, carved stones with Christian symbols, and Byzantine liturgical spoons that support this narrative. Novelty/Originality of this study: The originality of this study lies in the identification and comparative analysis of artifacts that bear significant resemblance to early Roman and Byzantine Christian objects. These findings not only offer new insights into the early presence of Christianity on Sumatra’s west coast but also support the use of the Bongal Site as a contextual and meaningful historical learning resource in secondary education.
Co-Authors Abdul Latif alexander Ananda, Risky Dwi Andira, Bagas Ibnu Annisa P A, Einina arfan diansyah Asrul, Annisa Aprilia Atira, Nurul Azhari, Ichwan Azimah, Siti Syariah Azmy, Fauzan Bella, Sinta Berutu, Anzelina Cristiani Br Bangun, Shaniya Kristiani Br Perangin-angin, Desta Riani br Sembiring, Santa Hoky Br Surbakti, Adelia Charoline Amayta Br Tarigan, Ade Leora Br Tarigan, Jussi Eka Ulitta br Tarigan, Talenta Butar-butar, Samuel Chandra, Muhammad Diki Cofifah S M, Indah Damanik, Fatur Rahman Damanik, Pria Satria Sanjaya Damanik, Selvia Andriani Putri Dania, Alya Putri Fahlevi, Tengku Riza Fakhriza, Alya Febriana Pulungan, Dona Gea, Natalman Ginting, Aggy Adinda Gultom, Fajar Ridwan Syah Putra Harahap, Apriani Harahap, Rayhan Harifin, Harifin Hidayah, Mutiara Ismail, Syamsul Anuar Ivanka, Ririn Jesika Indah Sari Purba Larasati, Suci Lubis, Salsa Bila Lubis, Yenny Maharani Lukitaningsih Lukitaningsih Lumbantoruan, Ruth Manalu, Agrifa Ido Arta Manalu, Jesika Febrianty Manalu, Valentino Manik, Hiu Yuri Manurung, Muhammad El Fachrurrozi Marpaung, Adrian Masni, Siti Mawaddah Mawaddah, Mawaddah Muhajir, Shafa Al Muham, Setia Esra S Muliani, Indah Chofifah Suge Mulyani, Fini Fajri Nababan, Dora Irene Nababan, Marhenta Nababan, Sarah Amelia Nadiyah Nadiyah Nainggolan, Klara Minar Sari Nainggolan, Lorenti Br Napitu, Ulung Nasih, Munajatun Nasution, Abd. Haris Nasution, Amanda Fayrisha Nasution, Delila Agustina Nasution, Muhammad Ikhsan Syahaf Nazwa, Dirham Nduru, Fandi Saputra Nur Fadillah, Nur Nurul Hasanah Pakpaha, Delima Br Pasaribu, Santha Sepatya Hotmaria Pasaribu, Tiara Nia’ammusyifa Perangin-angin, Desta Riani Br Purba, Agnesia Margareta Purba, Amelia Purba, Destry Stepani Purba, Jesika Indah Sari Purba, Maharani Br Purba, Muhammad Naufal Syafiq Putri, Shella Ananda Rahmadhani, Nurdilla Rajagukguk, Arisya Rangga Sanjaya, Rangga Rezkinah, Intan Rianti, Novita Paskah Ricardo, Fransiscus Ronauli, Anggun Rut, Shintya Ryanto, Ammar Zhafran Sabana, Sobri Safitri, Fivie Santika, Lisa Saputri, Adinda Dwi Saputri, Erika Afrilia Saragih, Berlianta Sari Harahap, Armyla Sari, Alpida Sartika, Dian Sebayang, Reva Natasya Br Sembiring, Marselinus Eprimsa Sembiring, Rahmi Asyifa Hidayah Sembiring, Santa Hoky Br Siagian, Deviyana Sri Marini Siagian, Dewi Br Sianipar, Marliana Sianturi, Doni Frides Sianturi, Felix Raphael Sianturi, Ramlan Anri Sibarani, Ayu Ashari Sidauruk, Ida Maria Sihite, Dina Sihombing, Juliani Sihotang, Marnita Simamora, Lilis Putri Simamora, Rapmaita Lamaida Simangunsong, Lister Eva Simanjuntak , Duana Angel Simanjuntak, Juan Vito Simanjuntak, Santa Hotnauli Simanulang, Risky Simanullang, Ezra Tamar Kristalia Simanullang, Yuda Sanrico Simarmata, Diva Nancy Audissa Simarmata, Rendi Rianto Simbolon, Ronald Gemsar Simbolon, Roulina Simbolon, Veronika Sinaga, Sinta Lidiana Sinambela, Marshal Gilbert Sipayung, Dinda Valica Siregar, Halimatu Syadiah Sitanggang, Engelni Mei Sitanggang, Hertati Sitepu, Jeim's Keyhezkiel Iberena Putra Siti Khadijah Situmeang, Sherly Natasya Solihah Titin Sumanti, Solihah Titin Soriente, Antonia Sumbayak, Djumar Surbakti, Adriel Surbakti, Vinc Jae Lestari SURYA AYMANDA NABABAN Syarifah Syarifah, Syarifah Tanjung, Flores Tarigan, Adolf Enrico Tarigan, Devit Eskan Putrama Tungkup, Jopita Afnatasia Lumban Turnip, Rafli Edelweis Tusaddiah, Halimah Yogi Kurniawan, Yogi Zahrah, Alfiyyah Zai, Diraningsih Zai, Juanda Fanotona Zalukhu, Desveromika Zalukhu, Desveronika Zebua, Irvan