Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi Asuhan Keperawatan Pada Pasien Asma (Manajemen Serangan Akut Di Tingkat Rumah Tangga) Faharuddin Faharuddin; Rezqiqah Aulia Rahmat
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1417

Abstract

Latar Belakang: Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang ditandai dengan hiperresponsivitas bronkus dan penyempitan jalan napas yang bersifat reversibel. Serangan asma akut dapat terjadi secara tiba-tiba akibat paparan alergen, infeksi saluran pernapasan, aktivitas fisik, perubahan cuaca, maupun faktor pencetus lainnya. Keterlambatan dalam penanganan awal sering menyebabkan perburukan kondisi pasien sehingga meningkatkan risiko kunjungan ke instalasi gawat darurat, rawat inap, bahkan komplikasi yang mengancam jiwa. Keluarga sebagai pemberi perawatan utama di rumah memiliki peran penting dalam mengenali tanda bahaya, melakukan tindakan pertolongan pertama, memberikan obat sesuai anjuran, serta menentukan waktu yang tepat untuk mencari pertolongan medis. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di salah satu wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 peserta yang terdiri atas pasien asma dan anggota keluarga sebagai caregiver. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif, demonstrasi teknik penggunaan inhaler, simulasi penanganan serangan asma akut di rumah, diskusi kelompok, pembagian media edukasi, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 59,8 sebelum intervensi menjadi 92,1 setelah edukasi. Sebanyak 96,0% peserta mampu mengenali tanda awal serangan asma, 94,0% mampu mempraktikkan teknik penggunaan inhaler dengan benar, 92,0% memahami langkah-langkah penanganan awal serangan akut di rumah, 90,0% mampu mengidentifikasi faktor pencetus asma, dan 98,0% peserta menyatakan puas terhadap pelaksanaan kegiatan. Kesimpulan: Edukasi asuhan keperawatan pada pasien asma efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam melakukan manajemen serangan akut di tingkat rumah tangga. Penguatan peran keluarga sebagai caregiver diharapkan mampu meningkatkan keberhasilan pengendalian asma, mengurangi risiko kekambuhan, serta menurunkan angka kunjungan ke fasilitas kesehatan akibat serangan asma yang dapat dicegah.
Pemberdayaan Remaja Melalui Pendidikan Seksualitas Berbasis Nilai Moral Dan Kesehatan Reproduksi Susi Rabuana; Rezqiqah Aulia Rahmat
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1427

Abstract

Latar Belakang: Remaja merupakan kelompok usia yang mengalami perubahan fisik, psikologis, sosial, dan emosional secara cepat sehingga memerlukan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas. Kurangnya pengetahuan, pengaruh media digital, tekanan teman sebaya, serta rendahnya komunikasi dengan orang tua dan guru dapat meningkatkan risiko perilaku seksual yang tidak sehat, kehamilan pada usia remaja, Infeksi Menular Seksual (IMS), serta berbagai dampak psikososial. Pendidikan seksualitas yang dipadukan dengan penguatan nilai moral dan etika merupakan salah satu pendekatan promotif dan preventif untuk membantu remaja mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi, memperkuat pemahaman tentang nilai moral dalam pergaulan, meningkatkan kemampuan mengenali perilaku seksual berisiko, serta mendorong perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 di salah satu sekolah menengah atas yang berada di wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 remaja usia 15–19 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, simulasi (role play), tanya jawab, pembagian media edukasi, dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 60,2 sebelum edukasi menjadi 92,8 setelah kegiatan. Sebanyak 96,0% peserta memahami perubahan fisik dan psikologis pada masa remaja, 94,0% memahami kesehatan reproduksi, 92,0% mampu mengidentifikasi perilaku seksual berisiko, 90,0% mengetahui langkah-langkah pencegahan IMS dan kehamilan remaja, serta 96,0% menyatakan kegiatan sangat bermanfaat. Kesimpulan: Pendidikan seksualitas yang dipadukan dengan penguatan nilai moral efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kesiapan remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Program serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Faktor Yang Berhubungan Dengan Healthy Aging Pada Lanjut Usia (Lansia) Di Komunitas Djusmadi Rasyid; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1412

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan angka harapan hidup menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat. Kondisi tersebut diikuti oleh meningkatnya kebutuhan terhadap upaya untuk mencapai healthy aging, yaitu proses mempertahankan kemampuan fungsional yang memungkinkan lansia tetap sehat, mandiri, aktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Healthy aging dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, gaya hidup, serta akses terhadap pelayanan kesehatan. Identifikasi faktor-faktor tersebut penting sebagai dasar penyusunan program intervensi yang mendukung penuaan sehat di tingkat komunitas. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan healthy aging pada lansia di komunitas. Metode: Penelitian menggunakan mixed methods dengan desain Sequential Explanatory Design. Tahap pertama menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 300 lansia yang dipilih menggunakan multistage random sampling. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Tahap kedua menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap 15 informan yang dipilih secara purposif untuk menjelaskan hasil kuantitatif. Hasil: Sebagian besar lansia memiliki kategori healthy aging yang baik (64,3%). Analisis multivariat menunjukkan bahwa aktivitas fisik (OR=4,12; p<0,001), status gizi (OR=3,54; p=0,002), dukungan keluarga (OR=3,26; p=0,003), penyakit kronis (OR=2,87; p=0,007), partisipasi sosial (OR=2,61; p=0,012), dan akses pelayanan kesehatan (OR=2,18; p=0,024) berhubungan signifikan dengan healthy aging. Hasil wawancara menunjukkan bahwa dukungan keluarga, lingkungan yang ramah lansia, dan keikutsertaan dalam kegiatan masyarakat menjadi faktor utama dalam mempertahankan kesehatan fisik maupun psikososial lansia. Kesimpulan: Healthy aging dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, keluarga, lingkungan sosial, dan pelayanan kesehatan. Pendekatan multidisiplin berbasis komunitas diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia.
Efektivitas Agen Imunomodulator Dalam Modulasi Respons Imun Pada Pasien Penyakit Autoimun Meillisa Carlen Mainassy; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1424

Abstract

Latar Belakang: Penyakit autoimun merupakan kelompok penyakit kronis yang ditandai oleh hilangnya toleransi imun terhadap antigen tubuh sendiri sehingga menyebabkan inflamasi kronis dan kerusakan jaringan. Diperkirakan lebih dari 80 jenis penyakit autoimun telah diidentifikasi, termasuk rheumatoid arthritis, systemic lupus erythematosus, multiple sclerosis, psoriasis, inflammatory bowel disease, dan autoimmune thyroid disease. Perkembangan terapi imunomodulator telah mengubah tata laksana penyakit autoimun melalui pengendalian aktivitas sistem imun tanpa menyebabkan imunosupresi total. Tujuan: Menganalisis efektivitas agen imunomodulator dalam memodulasi respons imun pada pasien penyakit autoimun berdasarkan bukti ilmiah terkini. Metode: Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review sesuai pedoman PRISMA 2020. Artikel dicari melalui PubMed, Scopus, Web of Science, Embase, dan Cochrane Library dengan rentang publikasi 2020–2025. Kualitas artikel dinilai menggunakan Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Tools, sedangkan risiko bias dievaluasi menggunakan RoB 2 dan ROBINS-I. Hasil: Sebanyak 27 artikel memenuhi kriteria inklusi. Agen biologik seperti inhibitor TNF-α, inhibitor IL-6, inhibitor IL-17, inhibitor IL-23, rituximab, abatacept, dan inhibitor JAK menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam menurunkan aktivitas penyakit, kadar sitokin proinflamasi, autoantibodi, serta biomarker inflamasi. Terapi biologik juga meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan angka kekambuhan dibandingkan terapi konvensional. Kesimpulan: Agen imunomodulator modern memberikan manfaat yang signifikan dalam mengendalikan penyakit autoimun melalui modulasi berbagai jalur imun. Pemilihan terapi perlu disesuaikan dengan karakteristik penyakit, profil imunologis pasien, keamanan, dan risiko efek samping.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pembayaran Iuran Jaminan Kesehatan Nasional Pada Peserta Mandiri Marlin Eppang; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1461

Abstract

Latar Belakang: Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah Indonesia dalam mewujudkan cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage). Keberlangsungan program JKN sangat bergantung pada kepatuhan peserta dalam membayar iuran, khususnya peserta mandiri atau Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU). Namun, tingkat kepatuhan pembayaran iuran masih menjadi tantangan karena dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, dan perilaku. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pembayaran iuran Jaminan Kesehatan Nasional pada peserta mandiri. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja salah satu puskesmas di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel sebanyak 220 responden dipilih menggunakan proportional random sampling. Variabel dependen adalah kepatuhan pembayaran iuran JKN. Variabel independen meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan tentang JKN, persepsi manfaat, kemampuan membayar iuran, dukungan keluarga, dan lama menjadi peserta JKN. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat, uji Chi-Square, serta regresi logistik ganda. Hasil: Berdasarkan data simulasi, sebanyak 64,5% responden patuh membayar iuran JKN. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa pendapatan (p=0,001), pengetahuan (p=0,003), persepsi manfaat (p=0,006), kemampuan membayar (p<0,001), dan dukungan keluarga (p=0,012) berhubungan signifikan dengan kepatuhan pembayaran iuran. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kemampuan membayar iuran merupakan faktor yang paling dominan (Adjusted OR=4,18; 95% CI=2,01–8,67). Kesimpulan: Kepatuhan pembayaran iuran JKN pada peserta mandiri dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pengetahuan, persepsi terhadap manfaat program, serta dukungan keluarga. Peningkatan edukasi dan strategi pembayaran yang lebih fleksibel diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan peserta
Model Komunikasi Terapeutik Perawat Dalam Meningkatkan Recovery Pasien Skizofrenia: Studi Cross-Sectional Rahmat Pannyiwi; Cakrawati R Cakrawati R; Rezqiqah Aulia Rahmat; Maelia Unayah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1504

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis yang memengaruhi fungsi kognitif, emosional, sosial, dan okupasional pasien. Proses pemulihan (recovery) tidak hanya ditentukan oleh pengobatan farmakologis, tetapi juga oleh kualitas hubungan terapeutik antara pasien dan tenaga kesehatan, khususnya perawat. Komunikasi terapeutik merupakan salah satu intervensi keperawatan yang berperan dalam membangun kepercayaan, meningkatkan kepatuhan terhadap terapi, memperkuat harapan, dan mendukung kemandirian pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara model komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat recovery pasien skizofrenia. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 80 pasien skizofrenia yang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Data komunikasi terapeutik perawat dikumpulkan menggunakan kuesioner persepsi pasien, sedangkan recovery diukur menggunakan instrumen pemulihan psikososial. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien menilai komunikasi terapeutik perawat berada pada kategori baik (67,5%). Pasien yang menerima komunikasi terapeutik kategori baik lebih banyak menunjukkan tingkat recovery tinggi dibandingkan pasien yang menilai komunikasi terapeutik kurang baik. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara komunikasi terapeutik perawat dan recovery pasien skizofrenia (p<0,05). Komunikasi terapeutik yang efektif dapat memperkuat hubungan saling percaya, meningkatkan partisipasi pasien dalam perawatan, dan mendukung proses pemulihan. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi komunikasi terapeutik perlu menjadi bagian penting dalam pelayanan keperawatan jiwa.
Analisis Kebutuhan Sumber Daya Manusia Farmasi Sebagai Dasar Perencanaan Pelayanan Kefarmasian Yang Optimal Puti Mandasari; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1508

Abstract

Sumber daya manusia farmasi memiliki peran penting dalam menjamin mutu, keamanan, efektivitas, dan kesinambungan pelayanan kefarmasian. Ketidakseimbangan antara beban kerja dan ketersediaan tenaga farmasi dapat menyebabkan keterlambatan pelayanan, peningkatan beban kerja, penurunan mutu pelayanan, serta peningkatan risiko kesalahan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan sumber daya manusia farmasi sebagai dasar perencanaan pelayanan kefarmasian yang optimal. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode analisis beban kerja. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan pengukuran kegiatan pelayanan kefarmasian yang meliputi skrining resep, penyiapan dan penyerahan obat, pelayanan informasi obat, pengelolaan persediaan, kegiatan administrasi, serta kegiatan kefarmasian lainnya. Analisis mempertimbangkan jumlah tenaga yang tersedia, waktu kerja efektif, volume kegiatan, dan waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan. Hasil analisis digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan tenaga farmasi. Perencanaan kebutuhan sumber daya manusia berbasis beban kerja diharapkan memberikan dasar yang lebih objektif dalam menentukan kebutuhan tenaga dibandingkan hanya menggunakan rasio normatif. Ketersediaan tenaga farmasi yang sesuai dengan beban kerja dapat mendukung efisiensi pelayanan, meningkatkan keselamatan pasien, dan memperkuat mutu pelayanan kefarmasian. Oleh karena itu, analisis beban kerja perlu diintegrasikan dalam perencanaan dan evaluasi sumber daya manusia secara berkala.
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Fear Of Childbirth Pada Ibu Hamil Primigravida Ayu Bella Fauziah; Rezqiqah Aulia Rahmat; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1524

Abstract

Latar Belakang: Fear of childbirth (FOC) atau ketakutan menghadapi persalinan merupakan kondisi psikologis yang dapat dialami ibu selama kehamilan, terutama ibu primigravida yang belum memiliki pengalaman melahirkan sebelumnya. Ketakutan menghadapi persalinan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, kecemasan, stres, dukungan suami, dan keikutsertaan dalam pendidikan kehamilan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang berhubungan dengan fear of childbirth pada ibu hamil primigravida. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 80 ibu hamil primigravida yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan tentang persalinan, kecemasan, stres, dukungan suami, keikutsertaan kelas ibu hamil, dan fear of childbirth. Ketakutan menghadapi persalinan diukur menggunakan Wijma Delivery Expectancy/Experience Questionnaire version A (W-DEQ-A). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 26 responden (32,5%) mengalami fear of childbirth tinggi dan 54 responden (67,5%) mengalami fear of childbirth rendah sampai sedang. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang persalinan (p=0,008), tingkat kecemasan (p=0,001), tingkat stres (p=0,004), dukungan suami (p=0,006), dan keikutsertaan kelas ibu hamil (p=0,021) dengan fear of childbirth. Kesimpulan: Pengetahuan, kecemasan, stres, dukungan suami, dan keikutsertaan dalam kelas ibu hamil berhubungan secara signifikan dengan fear of childbirth pada ibu hamil primigravida. Edukasi antenatal yang komprehensif dan dukungan psikologis diperlukan untuk membantu mengurangi ketakutan menghadapi persalinan.
Peningkatan Kesadaran Masyarakat Tentang Pentingnya Menjaga Kesehatan Pencernaan Untuk Mencegah Konstipasi Dan Gangguan Gastrointestinal Rezqiqah Aulia Rahmat; Farida Fakhrunnisa
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1445

Abstract

Latar Belakang: Gangguan kesehatan pencernaan, khususnya konstipasi, masih menjadi masalah kesehatan yang sering dialami masyarakat di berbagai kelompok usia. Konstipasi tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga dapat menurunkan kualitas hidup, produktivitas, serta meningkatkan risiko terjadinya komplikasi apabila tidak ditangani dengan baik. Faktor penyebab konstipasi sebagian besar berkaitan dengan pola hidup yang kurang sehat, seperti rendahnya konsumsi serat, kurang minum air putih, aktivitas fisik yang rendah, kebiasaan menahan buang air besar, serta penggunaan obat pencahar yang tidak rasional. Rendahnya literasi masyarakat mengenai kesehatan pencernaan menyebabkan upaya pencegahan belum dilakukan secara optimal. Edukasi kesehatan berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan serta mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup sehat. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan pencernaan, mengenali faktor risiko konstipasi, serta menerapkan pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan gangguan gastrointestinal. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Februari 2026 di wilayah kerja puskesmas dengan melibatkan 50 peserta berusia 20–65 tahun. Metode yang digunakan meliputi pre-test, ceramah interaktif, diskusi kelompok, demonstrasi penyusunan menu tinggi serat, simulasi aktivitas fisik ringan, edukasi hidrasi, pembagian booklet, post-test, dan evaluasi kepuasan peserta. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 60,5 sebelum intervensi menjadi 93,1 setelah edukasi. Sebanyak 96,0% peserta memahami penyebab konstipasi, 94,0% memahami pentingnya konsumsi serat dan cairan, 92,0% mampu menyusun pola makan sehat untuk menjaga kesehatan pencernaan, 90,0% berkomitmen meningkatkan aktivitas fisik dan kebiasaan hidup sehat, serta 96,0% menyatakan program sangat bermanfaat. Kesimpulan: Edukasi kesehatan mengenai kesehatan pencernaan efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan komitmen masyarakat dalam mencegah konstipasi dan gangguan gastrointestinal melalui penerapan gaya hidup sehat. Program edukasi berkelanjutan perlu dikembangkan sebagai bagian dari promosi kesehatan di tingkat masyarakat.
Pendampingan Ibu Hamil Risiko Tinggi Melalui Intervensi Perawat Maternitas Untuk Meningkatkan Derajat Kesehatan Maternal Dan Neonatal Lumastari Ajeng Wijayanti; Rezqiqah Aulia Rahmat
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1446

Abstract

Latar Belakang: Kehamilan risiko tinggi merupakan salah satu kondisi yang berkontribusi terhadap meningkatnya morbiditas dan mortalitas maternal maupun neonatal. Rendahnya pengetahuan ibu hamil mengenai faktor risiko, tanda bahaya kehamilan, pentingnya pemeriksaan antenatal, serta persiapan persalinan dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi. Perawat maternitas memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada ibu hamil sebagai upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di salah satu wilayah pelayanan kesehatan masyarakat dengan melibatkan 20–30 ibu hamil risiko tinggi sebagai peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, edukasi mengenai kehamilan risiko tinggi, diskusi interaktif, konsultasi individual, serta pendampingan oleh perawat maternitas. Evaluasi dilakukan menggunakan metode pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta, disertai observasi terhadap partisipasi dan perubahan perilaku selama kegiatan berlangsung. Hasil: Kegiatan berlangsung dengan baik dan diikuti secara aktif oleh seluruh peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil setelah mengikuti penyuluhan dan pendampingan, ditunjukkan oleh peningkatan nilai rata-rata pretest dari 63,4 menjadi 86,8 pada posttest. Selain itu, terjadi peningkatan pemahaman mengenai faktor risiko kehamilan, tanda bahaya kehamilan, pentingnya pemeriksaan antenatal secara rutin, pemenuhan kebutuhan gizi, kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah, serta kesiapan menghadapi persalinan. Peserta juga menunjukkan motivasi yang lebih tinggi untuk menerapkan perilaku hidup sehat selama kehamilan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan secara optimal. Kesimpulan: Pendampingan ibu hamil risiko tinggi melalui intervensi perawat maternitas terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku kesehatan ibu hamil. Program ini berkontribusi terhadap upaya peningkatan derajat kesehatan maternal dan neonatal melalui deteksi dini faktor risiko, peningkatan kepatuhan terhadap pelayanan antenatal, serta penguatan kesiapan menghadapi persalinan. Kegiatan serupa direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat.
Co-Authors Abdul Rahim Abdullah Achmad Hilal Agung Nur Cahyanta Agustina Agustina Ainun Mardiah Akbar Akbar Akbar Andi Ernawati Manuntungi Andi Kamal M. Sallo Anisa Purnamasari Arnianti Ayu Bella Fauziah Baso Witman Adiaksa Baso Witman Adiaksa Cakrawati R Cakrawati R Cakrawati R Cici Pratiwi Cici Yusnayanti Darmi Arda DEVI KRISTINA HUTAGALUNG Dia Rejeki Utami Djunaedi Djunaedi Elvira Safidni Endang Ernandini Faharuddin Faharuddin Farida Fakhrunnisa Fitriah S. Jamin Halbina Famung Halmar Hartati Hartaty Hasnia Hasnia Hendri Parluhutan L. Tobing Henry A Ruagady Henry A. Ruagadi I Ketut Swastika Iin Fadhilah Jean Christy Ade Putri Jukarnain Jukarnain Kasmiati Lailiana Garna Nurhidayati M. Agus Jabir M. Khalid Fredy Saputra Maelia Unayah Mahoklory, Serly Sani Marlin Eppang Marwan Ahmad Manoko Masrikat Maya Diana Claartje Meillisa C. Mainassy Moh. Nisar Sy Abd Azis Moh. Nisyar Sy. Abd. Azis Muhammad Hanif Muhammad Ilyas Musaidah Musaidah Natalia Debi Noyumala Nur Cahyani Ari Lestari Nur Fatimah Nur Syamsi Norma Lalla Nurril Cholifatul Izza Nursinah Nuryanti Thahir Pudyastuti, Rita Rena Puti Mandasari Rachmat Ramli Rahmat Pannyiwi Rahmat Pannyiwi Rahmat Pannyiwi Raissa Patrisia Ramadhan Putra Satria Rasyid, Djusmadi Rini Herdiani Risma Putri Utama Rizki Andita Noviar Rizky Aprilia Rosmini Rasmin Rumiris Simatupang Rusnita Sara Surya Sastrika Handayani Marpaung Siti Badria Asikin Sri Ariyanti Susanti Susanti Susi Rabuana Viyan Septiyana Achmad Wahidyanti Rahayu Hastutiningtyas Warda M Warda M Warda M Warda M Warda M Wicaksono, Rizky Rahadian Wijayanti, Lumastari Ajeng Wulan Citra Sari Yanti Mustarin Yarnita Yarnita Zulhijriani Zulhijriani Zumrotul Ula Zuriani Rizki