Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Perencanaan Kebutuhan Obat, Alat Kesehatan, SDM, Dan Anggaran Untuk Mendukung Pelayanan Farmasi Yang Optimal Rezqiqah Aulia Rahmat; Agung Nur Cahyanta
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1467

Abstract

Latar Belakang: Perencanaan kebutuhan merupakan salah satu komponen penting dalam pengelolaan pelayanan farmasi di klinik. Perencanaan yang kurang tepat dapat menyebabkan kekosongan atau kelebihan persediaan obat dan alat kesehatan, pemborosan anggaran, serta ketidaksesuaian antara kebutuhan pelayanan dengan ketersediaan sumber daya. Selain itu, keterbatasan kemampuan tenaga kefarmasian dalam melakukan perencanaan kebutuhan secara sistematis dapat memengaruhi efisiensi dan mutu pelayanan farmasi. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuan tenaga kefarmasian dalam melakukan perencanaan kebutuhan berdasarkan data pelayanan dan kebutuhan fasilitas. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan tenaga kefarmasian dalam melakukan perencanaan kebutuhan obat, alat kesehatan, sumber daya manusia (SDM), dan anggaran untuk mendukung pelayanan farmasi yang optimal di klinik. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dilaksanakan melalui pelatihan kepada 25 tenaga kefarmasian di klinik. Metode kegiatan meliputi penyampaian materi, diskusi, studi kasus, demonstrasi perhitungan kebutuhan, latihan penyusunan rencana kebutuhan, dan evaluasi menggunakan pretest dan posttest. Materi mencakup identifikasi kebutuhan, analisis data penggunaan obat, perencanaan alat kesehatan, estimasi kebutuhan SDM berdasarkan beban kerja, serta penyusunan estimasi anggaran. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan skor pengetahuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta setelah mengikuti pelatihan. Rerata skor pretest sebesar 62,4 meningkat menjadi 85,6 pada posttest. Peningkatan terutama terlihat pada kemampuan menghitung kebutuhan obat berdasarkan pola konsumsi, menentukan kebutuhan alat kesehatan, mengidentifikasi kebutuhan SDM, dan menyusun estimasi anggaran. Peserta juga mampu menyusun contoh rencana kebutuhan secara lebih sistematis berdasarkan data pelayanan klinik. Kesimpulan: Pelatihan perencanaan kebutuhan obat, alat kesehatan, SDM, dan anggaran dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kefarmasian dalam menyusun perencanaan sumber daya pelayanan farmasi. Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkala dan diintegrasikan dengan evaluasi kebutuhan serta penggunaan sumber daya di klinik.
Optimalisasi Peran Laboratorium Kesehatan Sebagai Upaya Preventif Dan Promotif Di Lingkungan Masyarakat Rita Rena Pudyastuti; Rezqiqah Aulia Rahmat
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1468

Abstract

Latar Belakang: Laboratorium kesehatan memiliki peran penting dalam mendukung upaya preventif dan promotif melalui pemeriksaan kesehatan, deteksi dini faktor risiko penyakit, serta pemantauan kondisi kesehatan masyarakat. Rendahnya pengetahuan mengenai manfaat pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat menyebabkan faktor risiko penyakit tidak terdeteksi sejak dini. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemanfaatan layanan laboratorium sebagai bagian dari upaya preventif dan promotif serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali pemeriksaan laboratorium yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di lingkungan desa/komunitas dengan melibatkan 30 orang masyarakat umum. Metode kegiatan meliputi edukasi, penyuluhan interaktif, diskusi, demonstrasi, konsultasi sederhana mengenai pemeriksaan laboratorium, serta evaluasi melalui pretest dan posttest. Materi meliputi fungsi laboratorium kesehatan, manfaat pemeriksaan berkala, deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular, pemeriksaan gula darah, kolesterol, hemoglobin, serta pentingnya tindak lanjut hasil pemeriksaan. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan layanan laboratorium. Rerata skor pengetahuan peserta meningkat dari 61,8 sebelum kegiatan menjadi 85,2 setelah kegiatan. Peserta juga menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai manfaat pemeriksaan laboratorium secara berkala, faktor risiko penyakit tidak menular, interpretasi sederhana hasil pemeriksaan, serta pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan. Kegiatan juga meningkatkan kesadaran peserta untuk memanfaatkan layanan laboratorium tidak hanya ketika sakit tetapi sebagai bagian dari deteksi dini dan pemantauan kesehatan. Kesimpulan: Edukasi dan pendampingan mengenai pemanfaatan laboratorium kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam menggunakan layanan laboratorium sebagai bagian dari upaya preventif dan promotif. Optimalisasi peran laboratorium di tingkat komunitas perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara tenaga laboratorium, tenaga kesehatan, kader, pemerintah desa, dan masyarakat.
Penguatan Literasi Kesehatan Reproduksi Untuk Membentuk Perilaku Seksual Berisiko Rendah Di Kalangan Remaja Yarnita Yarnita; Rezqiqah Aulia Rahmat; Natalia Debi; Cakrawati R Cakrawati R
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Maret)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i2.1482

Abstract

Masa remaja merupakan periode perkembangan yang ditandai dengan perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang dapat memengaruhi perilaku kesehatan, termasuk perilaku terkait kesehatan reproduksi. Rendahnya literasi kesehatan reproduksi dapat menyebabkan remaja memperoleh informasi yang tidak tepat, kurang mampu mengenali risiko perilaku seksual, serta mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan pada remaja usia 15–19 tahun di lingkungan sekolah/komunitas dengan melibatkan 30 peserta. Kegiatan menggunakan metode edukasi interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, permainan edukatif, dan pendampingan. Materi meliputi konsep kesehatan reproduksi remaja, perubahan pubertas, kebersihan dan perawatan organ reproduksi, batasan diri, hubungan yang sehat, pengambilan keputusan, risiko perilaku seksual, pencegahan infeksi menular seksual, pencegahan kehamilan tidak direncanakan, serta pemanfaatan layanan kesehatan ramah remaja. Evaluasi dilakukan menggunakan pretest dan posttest. Kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta mengenai kesehatan reproduksi. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 60,7 sebelum edukasi menjadi 86,3 setelah edukasi. Peningkatan terutama terlihat pada pemahaman mengenai faktor risiko perilaku seksual, kemampuan mengenali situasi berisiko, batasan diri, pencegahan infeksi menular seksual, dan akses terhadap sumber informasi serta pelayanan kesehatan yang tepat. Peserta juga menunjukkan peningkatan kemampuan dalam menganalisis kasus dan menentukan pilihan perilaku yang lebih aman dan bertanggung jawab. Penguatan literasi kesehatan reproduksi melalui edukasi interaktif, diskusi, studi kasus, dan pendampingan dapat meningkatkan pengetahuan serta kemampuan pengambilan keputusan kesehatan pada remaja. Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial remaja.
Promosi Kesehatan Reproduksi Melalui Pendidikan Komunitas Untuk Meningkatkan Perilaku Seksual Yang Bertanggung Jawab Hartati; Rahmat Pannyiwi; Rezqiqah Aulia Rahmat
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1498

Abstract

Latar Belakang: Kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari kesehatan individu yang perlu diperhatikan sejak masa remaja. Perkembangan teknologi informasi dan perubahan lingkungan sosial memberikan kemudahan bagi remaja dan pemuda dalam memperoleh informasi, tetapi tidak seluruh informasi yang diterima memiliki dasar yang benar. Keterbatasan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dapat memengaruhi kemampuan individu dalam mengambil keputusan dan meningkatkan kerentanan terhadap perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab.. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja serta pemuda mengenai kesehatan reproduksi dan mendorong terbentuknya perilaku seksual yang bertanggung jawab. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan pada komunitas remaja dan pemuda dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Metode kegiatan meliputi pendidikan kesehatan interaktif, diskusi kelompok, tanya jawab, studi kasus, dan pendampingan. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest. Hasil: Kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah diberikan pendidikan kesehatan. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 61,2 sebelum kegiatan menjadi 86,7 setelah kegiatan. Peningkatan pemahaman terutama terlihat pada materi mengenai batasan diri, hubungan sehat, pengenalan risiko perilaku seksual, pencegahan infeksi menular seksual, dan kemampuan memilih sumber informasi kesehatan yang dapat dipercaya. Peserta juga menunjukkan peningkatan kemampuan dalam menganalisis permasalahan kesehatan reproduksi dan menentukan pilihan perilaku yang lebih bertanggung jawab. Kesimpulan: Pendidikan komunitas mengenai kesehatan reproduksi dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja serta pemuda mengenai perilaku seksual yang bertanggung jawab. Kegiatan perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan keluarga, komunitas, institusi pendidikan, dan tenaga kesehatan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan reproduksi.
Co-Authors Abdul Rahim Abdullah Achmad Hilal Agung Nur Cahyanta Agustina Agustina Ainun Mardiah Akbar Akbar Akbar Andi Ernawati Manuntungi Andi Kamal M. Sallo Anisa Purnamasari Arnianti Ayu Bella Fauziah Baso Witman Adiaksa Baso Witman Adiaksa Cakrawati R Cakrawati R Cakrawati R Cici Pratiwi Cici Yusnayanti Darmi Arda DEVI KRISTINA HUTAGALUNG Dia Rejeki Utami Djunaedi Djunaedi Elvira Safidni Endang Ernandini Faharuddin Faharuddin Farida Fakhrunnisa Fitriah S. Jamin Halbina Famung Halmar Hartati Hartaty Hasnia Hasnia Hendri Parluhutan L. Tobing Henry A Ruagady Henry A. Ruagadi I Ketut Swastika Iin Fadhilah Jean Christy Ade Putri Jukarnain Jukarnain Kasmiati Lailiana Garna Nurhidayati M. Agus Jabir M. Khalid Fredy Saputra Maelia Unayah Mahoklory, Serly Sani Marlin Eppang Marwan Ahmad Manoko Masrikat Maya Diana Claartje Meillisa C. Mainassy Moh. Nisar Sy Abd Azis Moh. Nisyar Sy. Abd. Azis Muhammad Hanif Muhammad Ilyas Musaidah Musaidah Natalia Debi Noyumala Nur Cahyani Ari Lestari Nur Fatimah Nur Syamsi Norma Lalla Nurril Cholifatul Izza Nursinah Nuryanti Thahir Pudyastuti, Rita Rena Puti Mandasari Rachmat Ramli Rahmat Pannyiwi Rahmat Pannyiwi Rahmat Pannyiwi Raissa Patrisia Ramadhan Putra Satria Rasyid, Djusmadi Rini Herdiani Risma Putri Utama Rizki Andita Noviar Rizky Aprilia Rosmini Rasmin Rumiris Simatupang Rusnita Sara Surya Sastrika Handayani Marpaung Siti Badria Asikin Sri Ariyanti Susanti Susanti Susi Rabuana Viyan Septiyana Achmad Wahidyanti Rahayu Hastutiningtyas Warda M Warda M Warda M Warda M Warda M Wicaksono, Rizky Rahadian Wijayanti, Lumastari Ajeng Wulan Citra Sari Yanti Mustarin Yarnita Yarnita Zulhijriani Zulhijriani Zumrotul Ula Zuriani Rizki