Claim Missing Document
Check
Articles

Species of Sea Urchins (Echinoidea) in the Intertidal Zone of Pahawang Island, Pesawaran, Lampung Mulyana, Jeane Siswitasari; Maretta, Gres; Maulana, Muhammad Aqil; Novriadi, Novriadi; Darmawan, Andy
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 11, No 2: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus June 2025
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v11i2.6544

Abstract

Background: Sea urchins are susceptible to environmental changes, including ones caused by anthropogenic activities in coastal area. They are commonly found in coral reef areas, seagrass beds, and mixed sand and coral rubble substrates. These marine ecosystems face critical problem as a result of water pollution, thus affecting their ecological roles as habitats for sea urchins. Pahawang Island is located in the Lampung Bay area and has substrate characteristics that are suitable for the habitat preferences of sea urchins. On the contrary, Pahawang Island becomes famous tourist destination and this can potentially cause damage to habitats of sea urchin. The purpose of this research is to identify sea urchin species (Echinoidea) in the intertidal zone of Pahawang Island, Lampung. Methodology: Samples were collected using surveying method by walking along the intertidal zone during low tide. Sampling locations include Jelarangan Hamlet, Suwak Buah Hamlet, Andreas Resort around Kalangan Hamlet, and Pahawang Hamlet. Sea urchins were identified based on morphological characteristics. Findings: Sea urchins found in the intertidal zone of Pahawang Island consist of four species: Echinothrix calamaris, Diadema setosum, and Diadema antillarum, and Mespilia globulus. E. calamaris and D. setosum were found on substrates such as seagrass beds, coral, and sand, while Diadema antillarum and Mespilia globulus were only found in waters with coral substrates. These four species of sea urchins inhabit diverse habitats and play important ecological roles in the ecosystem, even influencing the conditions of other benthic organism communities in intertidal zone of Pahawang Island. Contribution: This study provides baseline data on sea urchin species within specific area to later plan conservation strategies related to human-induced environmental changes.
On the Interaction between Trichogramma chilonis and Jatiroto Flies with Stem Borer Pests in Sugarcane Plantation Fauzi, Rifky; Mufidah, Zunanik; Maretta, Gres; Edriani, Tiara Shofi; Rizka, Nela; Mukhaiyar, Utriweni; Utami, Riani; Haryani, Sri; Saefudin, Saefudin; Styaningrum, Amalia; Soewono, Edy
Journal of Mathematical and Fundamental Sciences Vol. 56 No. 3 (2024)
Publisher : Directorate for Research and Community Services (LPPM) ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.math.fund.sci.2024.56.3.3

Abstract

Pests in sugarcane plantations are a major cause of damage, which could lead to severe damage to the crop, reduction of sugar quality, and significant economic loss. One of the major pests known in sugarcane plantations is stem borer (Chilo sacchriphagus), which attacks the canes. Two primary parasitoids, Trichogramma chilonis, which predates the stem borer eggs, and the Jatiroto fly (Diatraeophaga striatalis), which predates the stem borer larvae, are discussed here. This paper presents a time-dependent ten-dimensional dynamical mathematical model consisting of four-stage stem borer compartments, three-stage Trichogramma compartments, and three-stage Jatiroto compartments. Simulations are presented to describe the phenomenon of Trichogramma predation, Jatiroto predation, and simultaneous predation of both predators. It is shown that the release rate of each predator and a combined release of two predators can significantly reduce the infestation levels to a tolerable level for sugarcane production. The oscillatory dynamics of the stem borers and the Jatiroto flies affected the release timing strategy based on the level of infestation in the field. The results are expected to help us better understand the predator-prey phenomenon in the field and improve the forecasting of infestations in the field.
PENGARUH VARIASI TEMPERATUR TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI YOGHURT SUSU JAGUNG Widiani, Nurhaida; Maretta, Gres; Setianingrum, Syarifah
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 8 No 1 (2017): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosf.v8i1.1261

Abstract

Abstrak: Jagung manis (Zea mays L. Saccharata) atau  sweet corn merupakan jenis jagung yang belum lama dikenal dan baru dikembangkan di Indonesia. Selama ini masyarakat mengolah jagung menjadi jagung rebus, jagung bakar, atau dibuat kue. Penganekaragaman produk makanan dengan bahan baku jagung perlu dilakukan untuk memberi nilai tambah bagi jagung. Untuk itu dalam penelitian ini jagung akan diolah menjadi yoghurt. Agar dapat diterima dipasaran yoghurt susu jagung yang dihasilkan harus memenuhi syarat mutu berdasarkan kriteria Standar Nasional Indonesia (SNI 2981:2009). Temperatur merupakan salah satu faktor penting dalam proses fermentasi. Dalam penelitian ini menggunakan variasi temperatur untuk menemukan temperatur yang paling tepat untuk pembuatan yoghurt yang berkualitas. Berdasarkan penelitian yoghurt susu jagung yang paling memenuhi syarat mutu berdasarkan kriteria SNI adalah yoghurt yang difermentasi pada temperatur 44°C. Yoghurt yang dihasilkan memiliki tekstur yang agak kental, bau khas yoghurt, rasa asam, dan warna kuning. Yoghurt yang dihasilkan memiliki kadar protein 2,052 % - 2,072 dan aman dari kontaminasi coliform.
KEANEKARAGAMAN SERANGGA POLLINATOR PADA BUNGA TANAMAN TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM) DI KECAMATAN GISTING KABUPATEN TANGGAMUS Andrian, Rizki Fajar; Maretta, Gres
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 8 No 1 (2017): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosf.v8i1.1269

Abstract

Abstrak: Serangga pollinator merupakan salah satu layanan jasa ekosistem yang sangat penting bagi manusia maupun lingkungan dan berperan sebesar 35% penyediaan sumber pangan dunia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman serangga pollinator yang ada di lahan perkebunan Gisting Kabupaten Tanggamus. Penelitian ini telah dilakukan di bulan september 2015. Identifikasi serangga dilakukan dengan menggunakan kunci identifikasi Michener (2001). dengan metode scan sampling.Berdasarkan penelitian yang dilakukan, temuan spesies  serangga pollinator diperkebunan tomat Gisting Kabupaten Tanggamus sebanyak 17 individu yang berasal dari 4 genus,Colletes ,Amegilla, Xylocopa dan Ceratina. Hasil perhitungan dari Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener di lokasi perkebunan tomat  adalah 1.00, hasil tersebut dikategorikan Indeks sedang.
PENGARUH VARIASI TEMPERATUR TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI YOGHURT SUSU JAGUNG Widiani, Nurhaida; Maretta, Gres; Setianingrum, Syarifah
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 8 No 2 (2017): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosf.v8i2.2297

Abstract

Jagung manis (Zea mays L. Saccharata) atau sweet corn merupakan jenis jagung yang belum lama dikenal dan baru dikembangkan di Indonesia. Selama ini masyarakat mengolah jagung menjadi jagung rebus, jagung bakar, atau dibuat kue. Penganekaragaman produk makanan dengan bahan baku jagung perlu dilakukan untuk memberi nilai tambah bagi jagung. Untuk itu dalam penelitian ini jagung akan diolah menjadi yoghurt. Agar dapat diterima dipasaran yoghurt susu jagung yang dihasilkan harus memenuhi syarat mutu berdasarkan kriteria Standar Nasional Indonesia (SNI 2981:2009). Temperatur merupakan salah satu faktor penting dalam proses fermentasi. Dalam penelitian ini menggunakan variasi temperatur untuk menemukan temperatur yang paling tepat untuk pembuatan yoghurt yang berkualitas. Berdasarkan penelitian yoghurt susu jagung yang paling memenuhi syarat mutu berdasarkan kriteria SNI adalah yoghurt yang difermentasi pada temperatur 44°C. Yoghurt yang dihasilkan memiliki tekstur yang agak kental, bau khas yoghurt, rasa asam, dan warna kuning. Yoghurt yang dihasilkan memiliki kadar protein 2,052 % - 2,072 dan aman dari kontaminasi coliform.
PENGARUH PENAMBAHAN BERBAGAI KONSENTRASI KUNYIT (Curcuma longa L.) TERHADAP MUTU BEKASAM IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus) Aulia, Hana; Anggoro, Bambang Sri; Maretta, Gres; Kesuma, Andri Jaya
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 9 No 1 (2018): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosf.v9i1.2884

Abstract

Budidaya ikan lele di kota bandar lampung tergolong pesat sehingga perlu dilakukan pendistribusian dan pengolahan yang tepat untuk menghindari penyia-nyiaan bahan pangan. Salah satunya adalah dengan membuat bekasam ikan lele. Bekasam adalah produk fermentasi ikan yang memanfaatkan bakteri asam laktat. Hasil fermentasi bekasam menghasilkan rasa asam asin dan aroma khas yang kurang disukai masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penambahan konsentrasi kunyit (Curcuma longa) 1%, 1,5%, 2% dan 2,5% selama 7 hari fermentasi sebagai flavouring agent dan menstimulasi pertumbuhan bakteri asam laktat pada pembuatan bekasam ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) terhadap mutu produknya berdasarkan sifat kimia (pH), sifat biologis (jumlah koloni bakteri) serta nilai hedonik. Mutu produk berdasarkan wawancara ahli pembuat bekasam yaitu bertekstur lembut. Hasil uji mikrobilogi dan kimia menunjukan bahwa bekasam 0% memiliki jumlah bakteri > 250 koloni dan nilai pH 4 (asam). Uji organoleptik menunjukan panelis menyukai bekasam pada kriteria warna dengan nilai hedonik 3,71 dan aroma 3,63. Penambahan berbagai konsentrasi kunyit pada bekasam tidak berpengaruh terhadap mutu bekasam karena sifat antimikroba kunyit yang menekan pertumbuhan bakteri.  Hasil uji organoleptik menunjukan bahwa penambahan berbagai konsentrasi kunyit memiliki nilai hedonik atau kesukaan pada kriteria warna dan aroma.
Efektifitas Ekstrak Daun Patikan Kebo (Euphorbia Hirta L) sebagai Ovisida terhadap Nyamuk Demam Berdarah Dengue (Aedes Aegypti) Maretta, Gres; Kuswanto, Eko; Septikayani, Nur Intan
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 10 No 1 (2019): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosfer.v10i1.4051

Abstract

Salah satu penyakit yang berbahaya dan dapat menyebabkan angka kematian tinggi yaitu virus Dengue yang di tularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Demam Berdarah Dengue (Aedes aegypti) betina. Untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetik maka diperlukan penggunaan pestisida nabati yaitu ekstrak daun patikan kebo (Euphorbia hirta L.) karena di dalam daun ini terdapat kandungan senyawa metabolit sekunder yang dapat berperan sebagai ovisida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak daun patikan kebo (Eupborbia hirta L.) dapat digunakan sebagai ovisida terhadap telur nyamuk Demam Berdarah Dengue (Aedes aegypti), dan mengetahui konsentrasi yang paling efektif dari ekstrak daun patikan kebo (Eupborbia hirta L.) sebagai ovisida nyamuk Demam Berdarah Dengue (Aedes aegypti). Penelitian ini dengan menggunakan metode Rancangan Acak lengkap (RAL) yaitu terdapat empat pengulangan dengan enam perlakuan yaitu kontrol negatif (Aquades) dan kontrol positif (Tween 80) serta konsentrasi 0,125%, 0,25%, 0,5% dan 1 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ekstrak daun patikan kebo (Euphorbia hirta L) dapat digunakan sebagai ovisida terhadap telur nyamuk Demam Berdarah Dengue (Aedes aegypti) dari konsentrasi 0,125% - 1%. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun patikan kebo (Euphorbia hirta L) yang digunakan maka semakin banyak telur yang tidak menetas.
Pengaruh Jenis dan Variasi Umur Sampah Organik Pada Makrofauna Tanah Lubang Resapan Biopori (LRB) Maretta, Gres; Satrio, Dwiki Sigap; Kesuma, Andri Jaya
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 2 No. 1 (2022): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v2i1.11808

Abstract

Biopore is a space or a pore in soil that is formed by living creatures. The form of a biopore resembles burrows or small tunnels in the soil and branched. A Biopore hole serves to drain water and air into the soil. This biopore hole is formed by the activity of soil macrofauna. Organic waste can be used as food by soil macrofauna by decomposition in a ground hole. The purpose of this study was to determine the effect of the type and age variation of organic waste towards soil macrofauna in the biopore infiltration hole (LRB). This type of research was experimental research using a 3x3 factorial complete randomized design (RAL) with two factors, namely the type of waste (P) with 3 treatment levels, namely P1 = canteen waste, P2 = dry leaf waste, P3 = second mixture of waste and age of waste variation factors (K) with 3 levels namely K1 = 7 days, K2 = 14 days, K3 = 21 days. Each treatment was repeated 3 times. Data analysis was carried out by two-way  ANOVA. Based on the results, it was found that no data analysis had no effect on the type and variation of age of waste on soil macrofauna in biopore infiltration holes (LRB). Soil macrofauna was found in 5 orders, namely Orthoptera, Hymenoptera, Blattodea, Coleoptera and Entomobryomorpha. Diversity index (H ') <1 and evenness (E) <0.3 showed that diversity and evenness are low.AbstrakBiopori merupakan ruang atau pori dalam tanah yang dibentuk oleh makhluk hidup, bentuk biopori menyerupai liang atau terowongan kecil didalam tanah dan bercabang-cabang. Lubang biopori berfungsi mengalirkan air dan udara kedalam tanah. Lubang biopori ini terbentuk oleh adanya aktivitas makrofauna tanah. Sampah organik dapat dijadikan makanan oleh makrofauna tanah dengan proses dekomposisi didalam lubang tanah. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh jenis dan variasi umur sampah organik terhadap makrofauna tanah pada lubang resapan biopori (LRB). Jenis penelitian ini adalah penelitian ekperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 3x3 dengan dua faktor yaitu variasi jenis sampah (P) dengan 3 taraf perlakuan yaitu P1= sampah kantin, P2= sampah daun kering, P3= campuran kedua sampah dan faktor variasi umur sampah (K) dengan 3 taraf yaitu K1= 7 hari, K2= 14 hari, K3= 21 hari. Masing masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Analisis data menggunakan  two-way ANOVA. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa tidak terdapat pengaruh jenis dan variasi umur sampah terhadap makrofauna tanah pada lubang resapan biopori (LRB). Makrofauna tanah yang ditemukan sebanyak 5 ordo, yaitu Orthoptera, Hymenoptera, Blattodea, Coleoptera dan Entomobryomorpha. Indeks keanekaragaman (H’) < 1 dan kemerataan (E) < 0,3 menunjukan bahwa keanekaragaman dan kemerataan jenis rendah
Keanekaragaman Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas Perairan Sungai Langsep Kecamatan Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah Kesuma, Andri Jaya; Alimiah, Umi Syahadah; Maretta, Gres
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 2 No. 1 (2022): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/organisms.v2i1.11850

Abstract

Langsep River is located in Kalirejo District, Central Lampung Regency. Langsep River is often used by some people to meet their daily needs such as washing, bathing and for agricultural waters. These community activities can affect the river's biological, physical and chemical conditions. This study aims to determine the water quality of the Langsep river which is determined by biological parameters, physical parameters and chemical parameters in the Langsep river. Determination of the research location in the study using purposive sampling technique. There are 3 sampling stations, namely station I taken upstream to be precise at the Langsep river spring, station II taken at the Langsep river flow which is close to the palm oil industry, and station III taken at the downstream of the Langsep river. The sampling technique was carried out using the line transect method. Based on the research conducted, it was found 57 individuals from 4 classes. The gastropod class found consisted of several families, namely Ampullaridae and Pleuroceridae. The Malacostara class consists of the Gecarcinucidae and Palaemonoidae families. The class Insecta consists of the families Gerridae and Chironomidae. The class Bivalves only consists of the family Unionidae. The class Insecta is dominated by the family Chironomidae. The results of the calculation of the Shannon-Wiener diversity index on the Langsep river, the highest is 1.078 and the lowest is 0.AbstrakSungai Langsep berada di Kecamatan Kalirejo Kabupaen Lampung Tengah. Sungai Langsep sering digunakan sebagian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan sehari seperti mencuci, mandi dan untuk perairan pertanian. Aktivitas masyarakat tersebut dapat mempengaruhi kondisi sungai baik biologi, fisika dan kimia sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan sungai Langsep yang ditentukan dengan parameter biologi, parameter fisika dan parameter kimia pada sungai Langsep. Penentuan lokasi penelitian dalam penelitian mengunakan teknik purposive Sampling. Terdapat 3 stasiun pengambilan sampel yaitu stasiun I diambil pada hulu tepatnya pada mata air sungai Langsep, stasiun II diambil pada aliran sungai langsep yang dekat dengan perindustrian minyak kelapa sawit, dan stasiun III diambil pada hilir aliran sungai Langsep. Teknik sampling dilakukan dengan menggunakan metode transek garis. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan 57 individu yang berasal dari 4 kelas. Kelas Gastropoda yang ditemukan terdiri dari beberapa famili yaitu Ampullaridae, dan Pleuroceridae. Kelas Malacostara terdiri dari Famili Gecarcinucidae dan Palaemonoidae. Kelas Insecta terdiri dari Famili Gerridae dan Chironomidae. Kelas Bivalvia hanya terdiri dari famili Unionidae. Kelas Insecta didominasi oleh famili Chironomidae. Hasil perhitungan dari Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener pada sungai Langsep tertinggi adalah 1.078 dan terendah 0.
Diversity of Pollinator Insects in the Kebun Raya Institut Teknologi Sumatera Maretta, Gres; Prastyo, Agung; Darmawan, Andy
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 5 No. 1 (2025): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/dt11gv20

Abstract

Pollinator insects are insects that help the pollination process in plants by transferring pollen to other plants. The pollen attaches to the hairs and legs of the insect at the time when the pollinator's insect is foraging. This study aimed to analyze the diversity index and dominance index of pollinator insects in the Kebun Raya Institut Teknologi Sumatera. This research was conducted at the Kebun Raya Institut Teknologi Sumatera, specifically the orchard (guava and dragon fruit) and aesthetic garden. This study used purposive sampling by taking data directly at the observation site. Data analysis was used to calculate the diversity of pollinator insects within the ecosystem. The analysis involved calculating the diversity index (H') and dominance index (D). The study shows that pollinator insects come from 5 orders: Coleoptera, Diptera, Hemiptera, Hymenoptera, and Lepidoptera. Each observation location in the Kebun Raya Institut Teknologi Sumatera has a moderate category diversity index: guava orchards 1.93, dragon fruit orchards 1.53, and aesthetic gardens 1.60. The dominance index of each observation site showed values with low categories, namely guava orchards at 0.18, dragon fruit orchards at 0.32, and aesthetic gardens at 0.28. Visiting activities in the morning are dominated by the family Apidae, while daytime and afternoon are dominated by the family Nymphalidae. High temperatures lead to decreased activity of pollinator insects.
Co-Authors Agung Prastyo, Agung Agustin, Karista Sandra Ahmad Fadhil Al Qodri, Ali Hafiz Alimiah, Umi Syahadah Andri Jaya Kesuma Andy Darmawan Andy Darmawan Andy Darmawan ANDY DARMAWAN Aniesti, Frigia Rafilia Antonius Antonius Ashafila, Tsalsha Astuti, Ayu Widia Aulia, Hana Aulia, Hana Azizah, Najla Nur Azmi, Sarah Bambang Sri Anggoro Bobby Permana Putra Desi Budiono Desri Yohanna Christiani Nainggolan Dewi Chusniasih Dian Anggria Sari Dian Anggria Sari Dwiki Sigap Satrio Dylla Alya Putri Edriani, Tiara Shofi Edy Soewono Eko Kuswanto Enjelina, Rohani Fajri Arif Wibawa Fatriani, Rizka Ferdinanda, Thierry Hana Aulia Handayani, Sri Astuti Fiteri Hariyandi, Yopi Hidayat, Thaariq Hutauruk, David Iffa Afiqa Khairani Ika Fitriya Jeane Siswitasari Mulyana Jeane Siswitasari Mulyana Jeane Siswitasari Mulyana Khaerunissa Anbar Istiadi Khusnul, Ramadhan Kumara, Latif Kurnia Wahyu Kurnia Wahyuni Leksikowati, Sovia Santi Lilis Martines Manurung Lily Arseliana Lisana Husna Imaniar Luxiana, Eri Marhaeni, Agustina Marpaung, David Septian Sumanto Maruli, Berkat Afni Maulana, Muhammad Aqil Melinia, Nur Astri Mufidah, Zunanik Muhammad Zulhiyadi Nanda Mulyadi, Salsa Pratiwi Mulyana, Jeane Siswitasari Nella Indry Septiana Nisa Yulianti Suprahman Nisa, Fadinda Khoirun Novriadi Novriadi, Novriadi Novrianti, Rima Arini Nur Intan Septikayani Nurcahya, Gebriel Nurhadi Ramadhan Nurhaida Widiani Nurhaida Widiani Hasan Nurhayu, Winati Nurul Adhha Nurul Adhha Putri, Claudia Tiara Putri, Isnaini Anggraini Ramadhani Eka Putra Ramadhani, Desvita Putri Ramadhani, Untia Kartika Sari Restina, Syefia Azmi Riana, Elisa Nurma Rifky Fauzi Rizka, Nela Rizki Fajar Andrian Rizki Fajar Andrian, Rizki Fajar Rohid Morantana Perhiba Simamora Sadira Maharani Putri Saefudin Saefudin Saeli, Pinka Mustika Sari, Dian Anggria Sari, Dian Anggria Sari, Rara Mulia Satrio, Dwiki Sigap Septikayani, Nur Intan Simanullang, Gayatri Simon Martinus Sinaga, Ayu Oshin Yap Sofyan, Ichvan Sri Haryani Styaningrum, Amalia SUBKI Suryanti, Erma Syafitri, Dewi Rana Syarifah Setianingrum Syarifah Setianingrum Syarifah Setianingrum, Syarifah Tumangger, Juliana Esteria Umi Syahadah Alimiah Untia Kartika Sari Ramadhani Utami, Riani Utriweni Mukhaiyar Wandasari, Septi Putri Winati Nurhayu Yanti Ariyanti Yanti Ariyanti, Yanti Ariyanti Zahra, Anisa Mumtaz Zihad, Benny Pramana