Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI EKSTRAK ALANG-ALANG (Imperata cylindrica L.) DAN EKSTRAK BABADOTAN (Ageratum conyzoides L.) TERHADAP PERTUMBUHAN GULMA Digitaria sanguinalis L. Pramuswari, Dilla Ayu; Maretta, Gres; Sari, Dian Anggria
MAXIMUS: Journal of Biological and Life Sciences Vol. 3 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Sumatera, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/maximus.v3i2.2114

Abstract

Gulma merupakan bagian dari organisme pengganggu tanaman (OPT), yang memiliki dampak signifikan terhadap penurunan produksi tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi ekstrak alang-alang (Imperata cylindrica L.) dan ekstrak babadotan (Ageratum conyzoides L.) serta menentukan konsentrasi kombinasi ekstrak yang paling efektif dalam menekan pertumbuhan gulma Digitaria sanguinalis L. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Jenis ekstrak yang digunakan berasal dari dua jenis tumbuhan yaitu ekstrak alang-alang dan ekstrak babadotan dengan 7 perlakuan K+ (100% herbisida komersil Promoquat 276 SL), K- (100 % air), P1 (75% Alang-alang + 25% babadotan), P2 (50 % alang-alang + 50 % babadotan), P3 (25 % alang-alang + 75 % babadotan), P4 (100 % alang-alang), dan P5 (100 % babadotan) dengan 4 kali pengulangan. Hasil perlakuan menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak alang-alang dan babadotan P3 (25% alang-alang + 75% babadotan) berpengaruh secara signifikan dalam menghambat pertumbuhan gulma pada parameter tinggi (10.500 cm), jumlah daun (2.25), bobot basah (0.004825 g) dan bobot kering (0.001900 g). Senyawa alelokimia yang terdapat dalam ekstrak berkontribusi terhadap penghambatan pertumbuhan gulma, sehingga kombinasi ekstrak alang-alang dan babadotan dapat dijadikan alternatif pengendalian gulma yang ramah lingkungan.
Daily Behavior of Long-Tailed Macaques (Macaca fascicularis) In the Elephant Training Center Area Taman Nasional Way Kambas Maretta, Gres; Alayda Anggraini, Putri; Darmawan, Andy; Nurhayu, Winati; Handoko, Mahfud; Siswitasari Mulyana, Jeane
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 16 No 2 (2025): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosfer.v16i2.29178

Abstract

Macaca fascicularis is a diurnal primate that lives in social groups. In Taman Nasional Way Kambas, particularly in the Elephant Training Center area, long-tailed macaques are frequently observed interacting with tourists, and such interactions through ecotourism activities are suspected to influence their natural behavior. Therefore, research on their daily behavioral patterns is essential as part of conservation efforts. Observations were conducted using the scan sampling method over a 30-day period during morning (06:00–10:00 WIB) and afternoon (16:00–18:00 WIB) hours at 5-minute intervals. The results indicate that feeding was the predominant daily behavior (42%), whereas mating was the least frequently observed (2%). Overall, Macaca fascicularis in the Elephant Training Center area of Taman Nasional Way Kambas still maintain their natural behaviors but have begun to show adaptations to human presence that may potentially alter their long-term activity patterns. Perilaku Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Di Kawasan Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas ABSTRAK: Macaca fascicularis merupakan primata diurnal yang hidup dalam kelompok sosial. Di Taman Nasional Way Kambas, khususnya di kawasan Elephant Training Center, monyet ekor panjang sering diamati berinteraksi dengan wisatawan, dan interaksi tersebut melalui aktivitas ekowisata diduga dapat memengaruhi perilaku alaminya. Oleh karena itu, penelitian mengenai pola perilaku harian monyet ekor panjang menjadi penting sebagai bagian dari upaya konservasi. Pengamatan dilakukan menggunakan metode scan sampling selama 30 hari pada waktu pagi (06.00–10.00 WIB) dan sore hari (16.00–18.00 WIB) dengan interval pengamatan setiap 5 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku makan merupakan aktivitas harian yang paling dominan (42%), sedangkan perilaku kawin merupakan yang paling jarang diamati (2%). Secara keseluruhan, Macaca fascicularis di kawasan Elephant Training Center Taman Nasional Way Kambas masih mempertahankan perilaku alaminya, namun mulai menunjukkan adaptasi terhadap keberadaan manusia yang berpotensi memengaruhi pola aktivitas jangka panjangnya.
Sleep Quality Among Employees of Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Lampung, Indonesia: A Cross-Sectional Study in Higher Education Using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) Esra Maduma Sinurat; Gres Maretta; Yanti Ariyanti
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 12 No 2 (2026)
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v12i2.12894

Abstract

Sleep is a vital physiological process essential for overall health and productivity. Among university employees, poor sleep quality has been linked to reduced job performance, increased risk of mental health disorders, and heightened susceptibility to occupational burnout. These risks are particularly salient in academic environments, where high administrative demands and blurred work-life boundaries are increasingly common. This study evaluated sleep quality among employees at Institut Teknologi Sumatera (ITERA) while investigating key demographic predictors. Employing a cross-sectional quantitative design, data were collected from 300 administrative and academic staff using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Initially, a chi-square goodness-of-fit test was conducted to assess the associations among categorical variables, and a generalized linear model (GLM) was subsequently utilized to identify factors influencing sleep quality, with a significance threshold of p < 0.05. The results revealed that approximately 75.67% of employees exhibited good sleep quality. Notably, significant sex differences were observed: females demonstrated a higher prevalence of poor sleep quality compared to males. Furthermore, age emerged as a critical predictor, with employees in the 41–50 age group reporting better sleep quality than those in the 21–30 and 31–40 age groups. These findings underscore the importance of considering demographic factors when developing targeted interventions aimed at improving sleep health in organizational settings.
Prevalensi dan Deteksi Parasit Anisakis simplex Pada Euthynnus affinis di Teluk Lampung Kesuma, Andri Jaya; Lestari, Farida Ayu; Supriyadi, Supriyadi; Maretta, Gres
ORYZA: Jurnal Pendidikan Biologi Vol 14 No 2 (2025): ORYZA: Jurnal Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi STKIP Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/oz.v14i2.3991

Abstract

Ikan tongkol (Euthynnus affinis) merupakan salah satu ikan laut yang paling banyak dikonsumsi di Lampung. Namun, spesies ini rentan terhadap infeksi parasit oleh nematoda Anisakis simplex, yang dapat menyebabkan pembusukan cepat dan menimbulkan risiko zoonosis bagi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi A. simplex pada E. affinis dan menentukan tingkat prevalensinya di beberapa pelabuhan pendaratan ikan utama di Lampung. Survei deskriptif kuantitatif dilakukan di tiga lokasi pendaratan, yaitu PPI Lempasing, PPI Gudang Lelang, dan PPI Rangai Tritunggal. Sebanyak 150 sampel E. affinis (50 per lokasi) diperiksa. Analisis parasitologi dilakukan dengan membedah saluran pencernaan dan hati, kemudian mengidentifikasi larva nematoda secara mikroskopis. Prevalensi infeksi A. simplex pada E. affinis adalah 54% di PPI Lempasing (27/50), 32% di PPI Gudang Lelang (16/50), dan 28% di PPI Rangai Tritunggal (14/50). Semua lokasi yang disurvei menunjukkan tingkat infeksi yang tergolong sedang. Kehadiran A. simplex di seluruh lokasi pengambilan sampel menunjukkan bahwa E. affinis di Lampung secara konsisten terpapar kontaminasi parasit. Temuan ini memberikan kontribusi bagi bidang biologi kelautan dan kesehatan masyarakat dengan mendukung pengelolaan sumber daya ikan yang lebih higienis, memandu upaya pemantauan parasit laut, serta membantu penyusunan kebijakan keamanan pangan untuk melindungi konsumen dari infeksi zoonosis.
Determinants of Aggression in Non-Urban Sumatra: Age, Handedness, and Regional Context Putri, Isnaini Anggraini; Badriah, Nur; Muktiono, Permesyawari; Mulyana, Jeane Siswitasari; Maretta, Gres; Nurhayu, Winati; Darmawan, Andy
Khazanah Sosial Vol. 8 No. 2 (2026): Khazanah Sosial
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ks.v8i2.49227

Abstract

This study aims to analyze regional variation in aggressiveness in non-urban areas of Sumatra and to examine the simultaneous influence of demographic, biological, and regional factors on individual aggression levels. This study is important because comparative quantitative research across regions in Indonesia, particularly outside urban contexts, remains limited, even though aggression directly relates to social dynamics and regional violence risks. The study employs a quantitative approach with a cross-sectional design. The researchers collected data from 610 respondents aged 14–87 years in Simalungun Regency (North Sumatra), as well as South Lampung, Way Kanan, and Central Lampung, using convenience sampling. The researchers measured aggressiveness using the Buss–Perry Aggression Questionnaire (BPAQ) and analyzed the data through Kendall’s correlation and multiple linear regression. The findings show a mean aggressiveness score of 2.815 (on a 1–5 scale), with the verbal subscale recording the highest score. The regression model explains 7.6 % of the variance in aggression and identifies four significant predictors: Simalungun region, age (negatively correlated), left-handedness, and Lampung ethnicity. Sex, income, and birth order do not demonstrate significant effects. These findings indicate that aggression is shaped more strongly by developmental factors, biological proxies, and sociocultural and regional dynamics than by economic factors alone. This study implies the importance of regionally and culturally based interventions to strengthen emotional regulation, particularly among young populations in areas with higher aggression scores. In terms of originality, this study represents the first comparative quantitative research that integrates regional, ethnic, and handedness variables within a single regression model in a non-urban Sumatran context, thereby providing empirical and methodological contributions to locally grounded social policy development.
Species of Sea Urchins (Echinoidea) in the Intertidal Zone of Pahawang Island, Pesawaran, Lampung Jeane Siswitasari Mulyana; Gres Maretta; Muhammad Aqil Maulana; Novriadi Novriadi; Andy Darmawan
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 11, No 2: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus June 2025
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v11i2.6544

Abstract

Background: Sea urchins are susceptible to environmental changes, including ones caused by anthropogenic activities in coastal area. They are commonly found in coral reef areas, seagrass beds, and mixed sand and coral rubble substrates. These marine ecosystems face critical problem as a result of water pollution, thus affecting their ecological roles as habitats for sea urchins. Pahawang Island is located in the Lampung Bay area and has substrate characteristics that are suitable for the habitat preferences of sea urchins. On the contrary, Pahawang Island becomes famous tourist destination and this can potentially cause damage to habitats of sea urchin. The purpose of this research is to identify sea urchin species (Echinoidea) in the intertidal zone of Pahawang Island, Lampung. Methodology: Samples were collected using surveying method by walking along the intertidal zone during low tide. Sampling locations include Jelarangan Hamlet, Suwak Buah Hamlet, Andreas Resort around Kalangan Hamlet, and Pahawang Hamlet. Sea urchins were identified based on morphological characteristics. Findings: Sea urchins found in the intertidal zone of Pahawang Island consist of four species: Echinothrix calamaris, Diadema setosum, and Diadema antillarum, and Mespilia globulus. E. calamaris and D. setosum were found on substrates such as seagrass beds, coral, and sand, while Diadema antillarum and Mespilia globulus were only found in waters with coral substrates. These four species of sea urchins inhabit diverse habitats and play important ecological roles in the ecosystem, even influencing the conditions of other benthic organism communities in intertidal zone of Pahawang Island. Contribution: This study provides baseline data on sea urchin species within specific area to later plan conservation strategies related to human-induced environmental changes.
Co-Authors Agung Prastyo, Agung Agustin, Karista Sandra Ahmad Fadhil Al Qodri, Ali Hafiz Alayda Anggraini, Putri Alimiah, Umi Syahadah Andri Jaya Kesuma Andy Darmawan Andy Darmawan Andy Darmawan ANDY DARMAWAN Aniesti, Frigia Rafilia Antonius Antonius Ashafila, Tsalsha Astuti, Ayu Widia Aulia, Hana Aulia, Hana Azizah, Najla Nur Azmi, Sarah Badriah, Nur Bambang Sri Anggoro Bobby Permana Putra Desi Budiono Desri Yohanna Christiani Nainggolan Dewi Chusniasih Dian Anggria Sari Dian Anggria Sari Dwiki Sigap Satrio Dylla Alya Putri Edriani, Tiara Shofi Edy Soewono Eko Kuswanto Enjelina, Rohani Esra Maduma Sinurat Fajri Arif Wibawa Fatriani, Rizka Ferdinanda, Thierry Hana Aulia Handayani, Sri Astuti Fiteri Handoko, Mahfud Hariyandi, Yopi Hidayat, Thaariq Hutauruk, David Iffa Afiqa Khairani Ika Fitriya Jeane Siswitasari Mulyana Jeane Siswitasari Mulyana Jeane Siswitasari Mulyana Khaerunissa Anbar Istiadi Khusnul, Ramadhan Kumara, Latif Kurnia Wahyu Kurnia Wahyuni Leksikowati, Sovia Santi Lestari, Farida Ayu Lilis Martines Manurung Lily Arseliana Lisana Husna Imaniar Luxiana, Eri Marhaeni, Agustina Marpaung, David Septian Sumanto Maruli, Berkat Afni Mega Fatimah Rosana Melinia, Nur Astri Mufidah, Zunanik Muhammad Aqil Maulana Muhammad Zulhiyadi Nanda Muktiono, Permesyawari Mulyadi, Salsa Pratiwi Mulyana, Jeane Siswitasari Nella Indry Septiana Nisa Yulianti Suprahman Nisa, Fadinda Khoirun Novriadi Novriadi Novriadi Novriadi, Novriadi Novrianti, Rima Arini Nur Intan Septikayani Nurcahya, Gebriel Nurhadi Ramadhan Nurhaida Widiani Nurhaida Widiani Hasan Nurhayu, Winati Nurul Adhha Nurul Adhha Pramuswari, Dilla Ayu Putri, Claudia Tiara Putri, Isnaini Anggraini Ramadhani Eka Putra Ramadhani, Desvita Putri Ramadhani, Untia Kartika Sari Restina, Syefia Azmi Riana, Elisa Nurma Rifky Fauzi Rizka, Nela Rizki Fajar Andrian Rizki Fajar Andrian, Rizki Fajar Rohid Morantana Perhiba Simamora Sadira Maharani Putri Saefudin Saefudin Saeli, Pinka Mustika Sari, Dian Anggria Sari, Dian Anggria Sari, Rara Mulia Satrio, Dwiki Sigap Septikayani, Nur Intan Simanullang, Gayatri Simon Martinus Sinaga, Ayu Oshin Yap Siswitasari Mulyana, Jeane Sofyan, Ichvan Sri Haryani Styaningrum, Amalia Supriyadi Supriyadi Suryanti, Erma Syafitri, Dewi Rana Syarifah Syarifah Setianingrum, Syarifah Tumangger, Juliana Esteria Umi Syahadah Alimiah Untia Kartika Sari Ramadhani Utami, Riani Utriweni Mukhaiyar Wandasari, Septi Putri Winati Nurhayu Yanti Ariyanti Yanti Ariyanti, Yanti Ariyanti Zahra, Anisa Mumtaz Zihad, Benny Pramana