p-Index From 2021 - 2026
7.768
P-Index
This Author published in this journals
All Journal HAYATI Journal of Biosciences Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Jurnal Simetris Jurnal AgroBiogen Jurnal Penelitian Tanaman Industri Buletin Plasma Nutfah Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri AGRIVITA, Journal of Agricultural Science TAZKIYAH Mimbar Sekolah Dasar Qistie: Jurnal Ilmu Hukum PROSIDING SENATEK FAKULTAS TEKNIK UMP Pembaharuan Hukum BERITA BIOLOGI Jurnal Biologi Tropis JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) KHOZANA: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Islam Media Akuakultur Jurnal Surya Masyarakat NUANSA Jurnal Basicedu AL-TANZIM : JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Scripta Biologica Jurnal Edueco JURNAL CRANKSHAFT Jurnal Komunikasi Pendidikan Infotekmesin Jurnal Aplikasi Dan Inovasi Ipteks SOLIDITAS Sosio Dialektika Jurnal Educatio FKIP UNMA JP2M (Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika) JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan) Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri) Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri JURNAL USM LAW REVIEW AGRITEXTS: Journal of Agricultural Extension 'A Jamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Jurnal Evaluasi dan Pembelajaran International Journal of Educational Research and Social Sciences (IJERSC) Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran Jurnal Minda Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Journal of Education Research Journal of Agribusiness Science and Rural Development Jurnal Ilmiah SOSIO AGRIBIS Journal of Applied Management Research Jurnal Basicedu Malcom: Indonesian Journal of Machine Learning and Computer Science Jurnal Keperawatan Journal of Islamic Business Management Studies (JIBMS) Research Horizon Journal of Food Security and Agroindustry Socius: Social Sciences Research Journal RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal West Science Islamic Studies Proceeding of International Conference on Humanity Education and Society Buitenzorg: Journal of Tropical Science Jurnal Greenation Pertanian dan Perkebunan Ngaliman Rayah Al-Islam : Jurnal Ilmu Islam
Claim Missing Document
Check
Articles

UJI ADAPTASI VARIETAS UNGGUL TEBU PADA KONDISI AGROEKOLOGI LAHAN KERING / Adaptation Test of Superior Varieties Sugarcane in Dryland Agroecological Conditions SANTOSO, BUDI; MASTUR, MASTUR; DJUMALI, DJUMALI; NUGRAHENI, SUMINAR DIYAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n3.2015.109-116

Abstract

ABSTRAKPemilihan  varietas unggul  baru  yang  beradaptasi  pada  kondisi agroekologi kering merupakan langkah yang bijak dalam mendukung program pengembangan tebu. Karena kebutuhan air tanaman tebu di lahan kering  hanya  dipenuhi  dari  hujan, diperlukan  strategi  untuk  tetap mengoptimalkan produksi dengan mengeliminasi cekaman kekeringan. Penelitian ini dilakukan dari bulan Februari sampai dengan November 2012 untuk melakukan pengujian terhadap adaptasi enam varietas unggul tebu yang toleran terhadap lahan kering. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Ngemplak, Pati. Penelitian disusun dalam rancangan petak terbagi yang diulang sebanyak lima kali. Juringan (sistem tanam tebu dalam baris) yang digunakan berukuran panjang 8 m dan lebar 10 m, serta jarak pusat ke pusat (pkp) 1 m. Parameter yang diamati meliputi persentase tumbuh,  tinggi  tanaman,  panjang  batang,  jumlah  dan  panjang  ruas, diameter batang, bobot batang per meter, persen brix nira, dan rendemen. Hasil   penelitian   menunjukkan  bahwa  varietas  Kentung   dan   BL menghasilkan bobot tebu (721,75 g/m dan 749,25 g/m) dengan rendemen masing-masing sebesar 8,54% dan 8,25%. Kedua varietas ini cocok untuk dikembangkan pada kondisi agroekologi lahan kering.Kata kunci: Saccharum officinarum, uji adaptasi, lahan kering, varietas unggul  ABSTRACTSelection of new superior varieties adapted to dry agroecology was a wise move to support the development of sugarcane. In general, the land thus fulfilled its water from the rain. Therefore we need a strategy for optimizing the production of sugarcane by eliminating barriers. In fiscal year 2012 research activities was  carried out to test six varieties of sugarcane for sugar cane clones tolerant of dry land. Research activities were located at Ngemplak, Pati. The design used is split plot design repeated 5 times. Plot size, are 8 m long, 10 m wide and center to center distance 1 m. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by LSD 5%. The parameters observed were growth percentage, plant height, stem lenght, number of segments, segment length, stem diameter, weight stem per meter, percent brix of sap, and yield of sugarcane per meter. The results are superior sugarcane varieties, BL and Kentung varieties produce cane weight 721.75 g / m and 749.25 g / m showed  that  respectively;  and  yield     8.54%  and 8.25% the highest respectively. Both varieties  are s uitable to be developed in dry land agroecological condition.Keywords:  Saccharum officinarum, adaptation test, dry land, superior varieties
EFEKTIVITAS TEKNIK KONSERVASI LAHAN DALAM MENEKAN EROSI DAN PENYAKIT LINCAT DJAJADI, .; MASTUR, .; DALMADIYO, GEMBONG; MURDIYATI, A. S.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n4.2004.135-141

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung pada bulan Maret sampai Desember tahun 2001 untuk mcngcvaluasi pengaruh penerapan teknik konservasi lahan dalam pengendalian erosi dan penyakit lincat terhadap erosi, sifat fisik tanah, populasi patogen, kematian tanaman, serta hasil tembakau. Perlakuan yang diuji adalah teknik pengendalian erosi yang meliputi penanaman rumput Setaria pada bibir teras dan tanaman Elemingia congesta pada bidang tampingan, seta pembuatan rorak di dasar saluran teras dan pengolahan tanah minimum. Perlakuan tersebut dikombinasikan dengan teknologi pengendalian penyakit lincat, yaitu penanaman galur tembakau tahan (BC3-C51) dan pembcian/penyemprotan mikrobia antagonis Aspergillus fumigatus dan Bacillus cereus. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan dua perlakuan (konservasi dan kontrol) dan enam ulangan. Setiap satuan percobaan tersusun atas petak berukuran 22 m x 4 m dan masing-masing dipasang satu unit bak penampung erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik konservasi dapat menekan besanya erosi dari 30.2 ton/ha menjadi 16.7 ton/ha atau turun 44.8 %. Kombinasi teknik pengendalian penyakit lincat dapat menekan perkembangan patogen lincat dan mengurangi kematian tanaman tembakau sebesar 53.6%. Hasil daun tembakau basah dan rajangan kering pada perlakuan konservasi masing-masing 41.7% dan 42.1% dibanding kontrol.Kata kunci: Tembakau, Nicotiana tabacum, tembakau temanggung. konservasi tanah, erosi, patogen tanah ABSTRACTEffectiveness of land conservation technique in reducing soil erosion and lincat plant diseasesField trial was conducted in Glapansari Village, Parakan, Temang¬ gung District from March to December 2001 to evaluate the effect of land conservation by controlling soil erosion and plant disease on soil erosion, soil physical characteristics, soil pathogens population, dead tobacco plant, and tobacco yield. The treatments were soil conservation technique by planting of Setaria grass on Ihe terrace edge and planting Elemingia congesta on the riser, and digging of sediment trap on the base of terrace ditch. The treatments were planting tobacco line (BC3-C51) tolerant to lincat disease combined with the application of antagonistic microbes (Aspergillus fumigatus and Bacillus cereus). The research used complete randomized block design with two treatments and six replications. Each expeimental units composed of plot sized 22 m x 4 m and soil erosion collector. Results showed that the land conservation technique reduced soil erosion rom 30.2 to 16.7 tones/ha or 44.8%. This technique reduced soil pathogen population and dead tobacco plant 53.6%. The land conservation technique increased signiicantly tobacco fresh leaves yield 41.7% and dried sliced tobacco yield 42.1 % compared to that of control.Key words: Tobacco, Nicotiana tabacum, temanggung tobacco, soil conservation, erosion, soil pathogen
RESPON TEMBAKAU MADURA TERHADAP DUA TIPE PUPUK ORGANIK . MASTUR; A. S. A. MURDIYATI; . DJAJADI; . HERIISTIANA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n4.2004.142-148

Abstract

Penelitian dilaksanakan untuk menclaah pengaruh dua tipe pupuk organik yaitu pupuk organik dari hasil samping industri yang diperkaya atau selanjutnya disebut Pupuk Organik Diperkaya (POD) dan pupuk kandang dari kotoran sapi terhadap sifat fisik tanah, serapan hara, keragaan tanaman, hasil dan mutu tembakau madura. Percobaan dilakukan dari bulan April sampai September 2002. Percobaan lapang pada tanah tegal di Desa Guluk-guluk, Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep. Per¬ lakuan tcrdiri dari sembilan kombinasi dosis (0-7 000 kg/ha) dan tipe pupuk organik (POD dan pupuk kandang) dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POD lebih unggul dalam kandungan hara dan pengaruhnya pada tembakau dibanding pupuk kandang. POD dapat meningkatkan kadar air tanah pada kapasitas lapang dan konsentrasi K dalam tanaman. Perlakuan terbaik adalah POD dosis 5 000 kg/ha dengan bobot daun rajangan kering 1 156 kg/ha, indeks mutu 73.4 dan indeks tanaman 77.2. POD dosis 1 000 kg/ha menghasilkan daun rajangan kering 849 kg/ha, indeks mutu 76.8 dan indeks tanaman 60.0. Dosis POD tersebut lebih baik dibanding pupuk kandang yang sama. Respon tembakau terhadap dosis POD 7 000 kg/ha lebih jelek dibanding 5 000 kg/ha.Kata kunci : Tembakau, Nicotiana tabacum L., pupuk organik, pupuk kandang, hasil mutu ABSTRACT Responses of madura tobacco to two types of organic fetilizersThe research was conducted to find out the effect of the Enriched Organic Fertilizer (POD) of industrial by product and Farmyard Manure (FYM) on soil physical properties, nutrient uptake, plant performance, yield, and quality of madura tobacco. Field experiment was conducted from April to September 2002 in upland ield of Guluk-guluk village, Guluk-guluk sub district, Sumenep. The research used randomized completely block design (RCBD) with 9 combinations of organic fertilizer kinds and dosages and 4 replications. The results showed that the POD gave higher effect and nutrient contents than that of FYM. The POD could increase the field capacity soil moisture and K biomass concentration. The best treatment of the POD was 5 000 kg/ha, which gave yield I 156 kg, dried sliced leaves/ha, quality index 73.4 and crop index 77.2. The application of the POD 1 000 kg/ha produced 849 kg dried sliced leaves/ ha, quality index 76.8, and crop index 60.0, which was better than that of FYM 5 000 kg/ha. The application of POD 7 000 kg/ha caused worse response of tobacco compared to that of 5 000 kg/ha.Key words : Tobacco, Nicotiana tabacum L. organic fetilizers, farmyard manure, yield, quality
Conservation and Sustainable Use of PGRFA in Indonesia Muhamad Sabran; Puji Lestari; Mastur Mastur
Buletin Plasma Nutfah Vol 25, No 2 (2019): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v25n2.2019.p67-78

Abstract

The high diverse of plant genetic resources for food and agriculture (PGRFA) in Indonesia needs to be conserved for sustainable use to achieve food security despite a still growing population. Therefore, database and information system which could add value to the PGRFA have been developed by many international initiatives and conventions which impact to national level. Two international agreements that Indonesia intensively involved to govern access and share the benefit arising from the use of the valuable PGRFA are the International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (ITPGRFA) and the Nagoya Protocol of the United Nations Convention on Biological Diversity. Agriculture development in Indonesia, however, is still faced many challenges. This review described and discussed the high biodiversity in Indonesia, utilization and conservation of PGRFA, supporting regulation and policy on PGRFA along with the progress of database and information system. Overall, promoting conservation and the sustainable use of PGRFA is a key goal of various national, regional, and global efforts, initiatives, and agreements governing them for human well-being.
Sinkronisasi Source dan Sink untuk Peningkatan Produktivitas Biji pada Tanaman Jarak Pagar . Mastur
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n1.2015.52-68

Abstract

Saat ini dunia sedang menghadapi masalah penurunan cadangan minyak dan dampak lingkungannya. Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan sumber bahan baku biodiesel yang potensial. Pengembangan jarak pagarsaat ini masih terbatas disebabkan usaha tani yang belum menguntungkan terutama disebabkan produktivitas tanaman rendah. Makalah dimaksudkan untuk membahas pendekatan source dan sink untuk peningkatan produktivitas tanaman jarak pagar. Strategi penelitian untuk meningkatkan produktivitas dilakukan dengan peningkatan produksi biologi (biomassa) dan ekonomi (biji dan minyak). Produktivitas dapat meningkat jika terjadi sinergi antara source dan sink. Peningkatan source dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan tanaman dalam memanen energi cahaya melalui peningkatan produksi asimilat dengan peningkatan laju fotosintesis daun individual, perbaikan arsitektur kanopi, serta memperpanjang umur produktif daun terutama selama pembentukan biji. Perbaikan sink dapat dilakukan dengan meningkatkan proporsi bunga betina, meningkatkan proporsi buah jadi, serta meningkatkan laju dan lama pembentukan biji melalui dukungan source. Perbaikan source dan sink tersebut dilakukan melalui pemilihan genotipe tanaman dengan sifat-sifat source dan sink optimal untuk dijadikan bahan perakitan varietas. Perbaikan teknologi budi daya dapat dilakukan dengan pengaturan jarak tanam yang tepat, pemangkasan, pemupukan, pengairan, dan penggunaan ZPT yang tepat baik untuk mendukung kanopi yang produktif sebagai pemasok asimilat, maupun untuk memperbesar kemampuan biji sebagai sink utama dalam memanfaatkan semaksimal mungkin pasokan asimilat untuk sintesis biji dan lemak. Dengan demikian, diharapkan diperoleh tanaman jarak pagar dengan produktivitas tinggi sebagai hasil dari produksi biomassa dan indeks panen tinggi. Nowadays, the world is facing problem of lowering petroleum fuel stocks and its environmental impact. Physic nuts (Jatropha curcas L.) is a plant that can be used as biodiesel feedstock. Extention problem of physic nuts cropping area and its role as biodiesel source is still limited due to low economical value and low productivity. This paper elucidates source and sink and their correlation to productivity based on research. Research strategies are directed to study increase biological yield (biomass) and economical yield (seed and oil content) of physic nut. The yield can be increased by  synergizing between source and sink. Alleviating source could be done byincreasing the ability of plant in increasing photoshinthesis rate, arranging canopy architecture, and prolonging the age leaves especially during seed development. Sink process could be optimized through promoting numberof female flower, number of seeds, and increasing seed initiation and development. The source and sink improvement can be implemented through genotype selection for breeding materials. Cultivation technologyimprovement can be conducted plant optimum spacing and population arrangement, prunning, fertilizing, watering/irrigation, and plant growth regulator application to support productive canopy as assimilat supplier, and also enlarge seed capacity and strength as main sink trough optimum use assimilate for seed and lipid biosynthesis. Therefore, it will be achieved high productivity of physic nuts as a consequences of high biomass and highharvest index.
Potensi Beberapa Isolat Bakteri Pelarut Fosfat Asal Lahan Tebu di Jawa Timur Berdasarkan Aktivitas Enzim Fosfatase Farida Rahayu; . Mastur; Budi Santoso
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n1.2014.23-31

Abstract

 Fosfor (P) merupakan hara esensial untuk pertumbuhan tanaman karena P berperan penting dalam banyak ak-tivitas metabolisme tanaman. Tanaman memperoleh P dari larutan tanah dalam bentuk anion. Namun, anion P sangat reaktif dan dapat mudah terikat oleh unsur Al, Fe, Mg, dan Ca. Dalam bentuk tersebut, P sangat tidak terlarut sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) berperan penting dalam meningkatkan ketersediaan P dalam tanah sehingga potensi BPF yang diisolasi dari lahan tebu perlu diidentifikasi. Kegiatan identifikasi potensi bakteri pelarut fosfat dilakukan mulai Januari–Desember 2012 di Laboratorium Bioprosesing Balai Penelitan Tanaman Pemanis dan Serat, Malang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan eksplorasi bakteri pelarut fosfat dan seleksi berdasarkan kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat. Isolat dieksplorasi dari lahan tebu di Jawa Timur yaitu di Kabupaten Sidoarjo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo. Dari 65 isolat bakteri yang berhasil diisolasi, 22 isolat bakteri diantaranya berpotensi sebagai bakteri pelarut fosfat (BPF). Setelah dilakukan uji lebih lanjut, diperoleh 9 isolat unggul bakteri pelarut fosfat yaitu SD-10, Bl-1, KD-5, ML-2, LJ II-3 yang menunjukkan aktivitas fosfatase tinggi di hari pertama, sedangkan LJ I -3 dan BD-2 menunjukkan aktivitas fosfatase pada hari kedua dan SD-7 serta BL-4 termasuk dalam 9 besar isolat dengan diameter zona bening terbesar. Luas daerah zona bening secara kualitatif menunjukkan besar kecilnya kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat. Isolat BPF tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki ketersediaan P di tanah dan mampu memperbaiki kualitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu. Phosphorus (P) is an essential nutrient for plant growth, because it plays an important role in many metabolisms activities. Plants obtain P from soil solution as anion. However, phosphate anions are very reactive and can be immobilized through precipitation with Al, Fe, Mg, and Ca. In these form, phosphate is insoluble and unavailable to plants. Phosphate solubilizing bacteria (PSB) plays important role in dynamics and availability of P in soil. So, the potency of PSB isolates which were explored from sugarcane soil of East Java might be important to be identified. Identification based on activity of phosphatase enzyme was conducted from January–December 2012 in Bioprocessing Laboratory Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute, Malang. The aim was to explore and select PSB based on their ability to dissolve of P. Isolation of PSB was collected from sugar cane land of East Java included Sidoarjo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Bondowoso and Situbondo. Among 65 bacterial isolates, 22 bacterial isolates were potentially as PSB. After a further test, we obtained 9 isolate had high enzyme activities, ie. SD-10, BL-1, KD-5, ML-2 and LJ II-3 had phosphatase activity on the first day, whereas LJ I-3 dan BD-2 had an activity at the second day, while SD-7 and BL-4 had largest diameter of clear zones. Phosphate solubilizing bacteria isolate is expected to increase improve availability of P in the soil, quality and development of plants.
Respon Fisiologis Tanaman Tebu Terhadap Kekeringan . Mastur
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v8n2.2016.99-112

Abstract

Produksi tebu nasional sering terhambat oleh adanya masalah kekeringan.  Tujuan dari penulisan tinjauan ini adalah untuk membahas hasil-hasil penelitian tentang respon fisiologi tanaman tebu terhadap kekeringan sebagai dasar bagi pengelolaannya baik secara genetik maupun teknologi budi daya. Melalui tinjauan ini diharapkan kegiatan perakitan varietas unggul toleran kekeringan dan teknologi budi daya untuk penurunan dampak kekeringan lebih efektif. Kekeringan menyebabkan perubahan aktivitas fisiologis  penting dimulai dari penutupan stomata untuk menekan transpirasi, penurunan input karbondioksida, penurunan jumlah klorofil, dan pada akhirnya penurunan laju fotosintesis netto. Akar merespon kekeringan dengan mensintesis dan mengirimkan sinyal asam absisat (ABA) yang mengakibatkan penutupan stomata sehingga menurunkan transpirasi dan serapan CO2. Kekeringan menyebabkan penurunan kandungan klorofil a, b, dan nisbah klorofil a/b. Penurunan laju fotosintesis dan kegiatan fisiologis lain menurunkan pertumbuhan tanaman tebu, dan akhirnya produktivitas gula. Genotipe yang toleran kekeringan menunjukkan kemampuan untuk meminimalkan pengaruh buruk kekeringan. Tingkat kerugian dari kekeringan paling besar pada fase perpanjangan, karena fase kebutuhan air yang besar untuk meningkatkan bobot tebu, terutama untuk pemanjangan batang. Fase pemasakan membutuhkan air paling sedikit, namun sangat penting karena menentukan rendemen gula. Konsentrasi senyawa osmoprotektan, yang membantu mengatasi peningkatan potensial osmosis sel, pada genotipe tanaman toleran kekeringan meningkat tinggi pada kondisi kekeringan.  Senyawa osmoprotektan dapat berupa kelompok asam amino, gula atau amonium kuarter, seperti prolin, trehalosa, dan glisin betain.  Senyawa lain untuk ketahanan kekeringan adalah larutan kompatibel yang memiliki bobot molekul rendah, mudah larut dan non-toksik dalam sitosol. Pemahaman biosintesis dan fungsi senyawa tersebut merupakan dasar dari upaya pemanfaatannya untuk penelitian dan pengelolaan kekeringan terutama melalui pemuliaan bioteknologi, konvensional, maupun produksi senyawa osmoprotek-tan untuk aplikasi eksogen. National sugarcane production is often inhibited by drought problem. The objective of this review is to discuss research findings on physiological responses of sugarcane to drought as a base for genetic and cultivation management. Through this review drought tolerance breeding activities and cultivation technology for mitigationimpact will be coped with more effectively.  Drought influencesesimportant physiological activities from stomata closure to minimize transpiration, reducing carbon dioxide input, chlorophylland nettphotosynthesis. Plant roots respond to drought througoutbiosynthesis and send signalto abscisic acid (ABA) for closing stomata to reduce transpiration and CO2 absorption. Drought reduces chlorophyll a, b, and a/b ratio. Reducing photosynthesis rate and other physiological activities inhibit sugarcanegrowth, and finally sugar productivity.  Drought tolerance genotype hasabilityto minimize these negative impacts.  The most lost productivity caused by drought is taking place during elongation phase, especially stalk elongation. Ripening phase requires least water, but it is very important to sucrose accumulation. Concentration of osmoprotectant compounds, which helps to cope with increasing cell osmosis potential on drought tolerance plant genotypes, increases during drought condition, however, it is high during drought, especially in tolerance genotype, Osmoprotectant compounds are amino acid, sugar, or quartenary ammonium, such as proline, trehalosa, and glicine betain.  Other compounds for plant tolerance to drought is compatible solute which has low molecular weight, high solable, and nontoxic cytosolic.  Understanding on biosynthesis and function of osmoprotectant are required as a base for further research on drought tolerance mechanism and managing drought especially in biotechnology plant breeding, conventional, and producttion of osmoprotectant for exogenous application. 
Peran dan Pengelolaan Hara Nitrogen pada Tanaman Tebu Untuk Peningkatan Produktivitas Tebu . MASTUR; . SYAFARUDDIN; M. SYAKIR
Perspektif Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n2.2015.73-86

Abstract

ABSTRAKUsaha peningkatan produktivitas tebu memerlukan varietas unggul baru (VUB) tebu berpotensi rendemen tinggi didukung teknologi budidaya yang tepat. Pengelolaan hara nitrogen (N) yang efektif dan efisien membutuhkan pemahaman peran fisiologis N dan responnya. Tinjauan ini dimaksudkan untuk membahas hasil-hasil penelitian dan implikasinya tentang penyerapan N, reduksi, biosintesis asam amino, respon dan pengaruh N dan interaksi dengan hara lain, serta aspek penyediaan hara N meliputi dosis, dan cara pemberian hara N dalam hubungannya dengan produktivitas dan rendemen pada tanaman tebu. Melalui tinjauan ini diharapkan dapat diperoleh rekomendasi pengelolaan hara N yang tepat untuk peningkatan produktivitas gula. Penyerapan N dalam bentuk nitrat membutuhkan energi dan peran enzim nitrat reduktase. Hal tersebut tidak berlaku untuk serapan N dalam bentuk amonium, namun ketersediaan yang terlalu tinggi dapat beresiko keracunan. Dalam akar atau daun, nitrat akan mengalami reduksi hingga terbentuk amonium, untuk selanjutnya dimanfaatkan dalam biosintesis asam amino. Nitrogen dibawa masuk ke tanaman umumnya melalui pupuk dalam bentuk amonium atau nitrat, dengan ion lain yang menyertai seperti pupuk amonium sulfat, amonium klorida, amonium nitrat, kalsium nitrat, dan juga urea. Nitrogen yang tepat dapat meningkatan pertumbuhan vegetatif (LAI dan anakan), laju fotosintesis, tertekannya pembungaan, kerebahan, dan kenaikan produktivitas tebu. Respon pemupukan N berbeda tergantung bentuk N dan ion pasangannya. Aplikasi dosis pupuk N kurang dari 150 kg N/ha disarankan satu kali yaitu pada fase awal pertumbuhan, namun bila dosis lebih tinggi aplikasi sebaiknya secara split dengan pemberian pupuk susulan pada umur tiga bulan. Dosis optimal umumnya berkisar antara 125 hingga 250 kg N/ha. Pemupukan N pada dosis tepat nyata meningkatkan produktivitas tebu, namun pengaruhnya pada rendemen umumnya tidak nyata.Kata-kata kunci: Tebu, nitrogen, gula sukrosa, produktivitas gulaABSTRACTRole and Management of Sugarcane Nitrogen Nutrient to Increase ProductivityEfforts to increase sugarcane productivity requires sugarcane with high sucrose yielding potency completed by proper cultivation method. Effective and efficient N management require on understanding physiological role and its responses. This review is aimed to discuss research findings and its implication on nutrient absorption and uptake, reduction, and amino acid biosynthesis, responses and N effects and its interaction, and supply aspect such as dossage, application method in relation to productivity and sucrose content to increase sugarcane productivity and its sucrose content. Through this review will be gotten proper N management to increase sugar productivity. Nitrate uptake needs energy and nitrate reductase. It is not for ammonium, but it need excess availability promoted toxicity., Nitrate will be reduced in roots or leaves to be ammonium, and then utilize for amino acid synthesis. Nitrogen enters to plants through fertilizer as nitrate or ammonium with other ion in fertilizer such as sulphate ammonium, chlorida ammonium, nitrate ammonium, nitrate calsium, and also urea. Proper N application wiil raise vegetative growth (LAI and tillering), photoshynthetic rate, flowering delay, lodging, and productivity rise. Response on N depend on N form and its pairs. N fertilizer dosage lower than 150 kg N/ha recomended once, at early growth phase, but dossage the higher one, supplemental application at 3 months. Right N dossage is significantly increasing sugarcane productivity, but its effect on sucrose content generally is not significantly.Keywords: Sugarcane, nitrogen, sucrose, sugar productivity
STRATEGI PRODUKSI BENIH TEBU DALAM MENDUKUNG SWASEMBADA GULA Strategy Of Sugar Cane Seed Production In Supporting Self Sufficiency Parnidi Parnidi; Mastur Mastur
Perspektif Vol 19, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v19n2.2020.122-135

Abstract

AbstrakTebu merupakan penghasil gula yang utama serta merupakan komoditas strategis di Indonesia.Benih bermutu merupakan faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan rendemen Salah satu upaya penting yang menentukan keberhasilan budidaya tebu adalah ketersediaan benih berkualitas. Tinjauan ini dimaksudkan untuk mengkaji aspek perbenihan tebu dan strategi untuk memperoleh benih dalam jumlah banyak, seragam, sehat, waktu sesuai, distribusi dan aspek ekonominya. Perbanyakan benih tebu umumnya dilakukan dengan pendekatan konvensional. Beberapa kendala yang dihadapi dalam upaya perbanyakan benih tebu konvensional adalah faktor perbanyakan benih hanya 5-8. (?) Metode alternatif kultur in vitro mampu menghasilkan benih dalam jumlah banyak, seragam, sehat, dan waktu sesuai jadwal.Namun pengembangan kultur in vitro memerlukan fasilitas laboratorium, sumber daya manusia dan anggaran memadai.  Perbanyakan benih selanjutnya dilakukan berjenjang dengan bagal atau benih tumbuh satu mata.Metodebenih tumbuh satu mata(bud chips ataupun single bud sett) meskipun lebih mahal, mampu memperbanyak benih lebih cepat, sehat, dan seragam karena dapat diberikan perlakuan benih dengan pestisida dan zat pengatur tumbuh, memiliki multiplikasi lebih banyak karena banyaknya anakan, serta dapat melakukan seleksi untuk memilih benih yang tumbuh seragam dan sehat yang akan ditanam. Pengembangan sistem perbenihan tebu harus didukung faktor sosial ekonomi terutama aspek kelayakan finansial, kelembagaan dan sistem permodalan serta dukungan program dan kebijakan pemerintah. Abstracts Sugarcane is dominant to provide sweetener crop and its a strategic commodity in Indonesia.Qualified seeds are important factor increasing yield and sugar content of sugarcane.This review is purposed to discuss sugarcane seeds aspects and solution get seeds in more, hogenous, healthy, and proper shedule. Generally, source of KBPU multiplication seeds is conducted by breeder. Alternative method of tissue culture can produce much, homogenous, healty, and proper timetable. However, tissue culture development requires enough laboratory facillities, human resources, and budget.Following seeds mult. Fllowing multiplication are conducted hierracy through billets and bud chip.Eventhough bud chips or single bud sett are expencive, but it can produce seeds more quicly, helsty, and hommogenous due to able to threath of pesticide and plant growth regulator, higher multiplication due to many tillering, and selection of healthy and homogenous seeds.Sugarcane seeds system development has to be supported by socio-economic factors, particularly financial, institutional, and capital system. 
PERBAIKAN BIOPROSES UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI BIOETANOL DARI MOLASE TEBU / Bioprocess Improvement for Enhanching Bioethanol Production of Sugarcane Molase Suminar Diyah Nugraheni; Mastur Mastur
Perspektif Vol 16, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n2.2017.69-79

Abstract

ABSTRAK Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang strategis untuk dikembangkan. Salah satu substrat yang menjanjikan untuk digunakan adalah molase.  Molase merupakan hasil samping industri gula kristal tebu yang masih  mengandung gula yaitu sekitar 45-54,6%.  Bioetanol dari molase tebu  berpotensi untuk dikembangkan karena sangat menguntungkan, pasokan cukup besar, tersedianya teknologi proses, serta tidak bersaing dengan pangan. Tulisan ini mengulas hasil-hasil penelitian dan implikasinya tentang bahan baku, proses, lingkungan yang berpengaruh serta strategi untuk meningkatkan produktivitas bioetanol dari molase tebu melalui rekayasa proses fermentasi. Pada pembuatan etanol, fermentasi merupakan proses yang memegang peranan penting.  Pengaturan lingkungan fermentasi seperti suhu, pH, dan tekanan berpengaruh terhadap bioproses dalam fermentasi.  Begitu pula penambahan bahan suplemen seperti gula, garam, dan ion logam menurut jenis dan konsentrasi yang tepat juga dapat mengoptimalkan proses fermentasi.  Selain pengelolaan lingkungan dan penambahan bahan suplemen, strategi untuk peningkatan produktivitas bioetanol dari molase dapat dilakukan dengan: 1) penggunaan mikrobia selain Saccharomyces cerevisiae; 2) pretreatment; dan 3) metode fermentasi kontinyu. Penggunaan mikrobia selain Saccharomyces cerevisiae, seperti Zymomonas mobilis dapat meningkatkan produktivitas etanol hingga 55,8 g/L atau 27,9% dari total gula reduksi.  Perlakuan pretreatment dapat meningkatkan produktivitas mikrobia dalam mengkonversi gula menjadi etanol, sedangkan penggunaan metode fermentasi secara kontinyu dapat meningkatkan produktivitas sebesar + 4.75 g/L/jam.  ABSTRACT Bioethanol is one of strategic alternative fuel to develop.  One of substrate that promises to be used is molasses. Molasses is by-product of sugar industry which contain of sugar about 45-54,6%. Bioethanol from sugarcane molase is necessary to develope because it is very profitable, large supply, availability technology, and no-competion to  food.  This paper was aimed to reviews some research results and their implications on raw materials, processes, advanced environments and strategies to increas bioethanol productivity of molasses through the fermentation process engineering. In the manufacture of ethanol, fermentation is an important holding process.  In ethanol production, fermentation plays an important role.  Fermentation environments arragement such as temperature, pH, and pressure can effect on bioprocess of fermentation. Similarly, the addition of supplemental ingredients such as sugar, salt, and metal ions by appropriate type and concentration can also optimize the fermentation process. In addition to environmental arrangement and supplemental adding, strategies to improve bioethanol productivity of molasses can be accomplished by 1) the use of microbes other than Saccharomyces cerevisiae; 2) pretreatment; and 3) continuous fermentation method. The use of microbes other than Saccharomyces cerevisiae, such as Zymomonas mobilis can increase ethanol productivity up to 55.8 g / L or 27.9% of total sugar reduction.  Pretreatment can increase microbial productivity in converting sugar to ethanol, while continuous use of fermentation method can increase productivity by + 4.75 g / L / hr. 
Co-Authors . DJAJADI . HERIISTIANA . SYAFARUDDIN A. S. A. MURDIYATI AA Sudharmawan, AA Aat Atnikasari Agus Purwito Ainur Rohimah Amalia Prihaningsih Andi Aziz Anwar, Muhamad Ali Anwar, Muhamad Ali Anwar Apriani Putri Arin Khairunnisa, Arin Arsita Dewi, Ery Azhar Maulana Azmy, M. Noor Baehaqi Bahari, Anggri Septa Bambang Sugiantoro Budi Santoso Budi Santoso Bulkaini (Bulkaini) Bunyamin Maftuh Catur Nugroho DALMADIYO, GEMBONG Dani Satyawan Dewi Sukma Dimas Yediya Satria Adiguna DJAJADI, . Djumali Djumali Djumali, Djumali Dody Dwi Handoko Dwi Budi Santoso DWI N. SUSILOWATI Dwi N. Susilowati Dwinita Wikan Utami Dyah, Rosliana Purwaning Dzulfikar, Dzulfikar Edison HS Eka Fitriani Eko Binti Lestari, Eko Binti Encep Syarief Nurdin, Encep Syarief Endang Gati Lestari Epsi Euriga Epsi Euriga Fadhil Ahla Firdaus Fajar Setianingrum , Rahmawati Famila Dwi Winati Farida Rahayu Farida Rahayu Febrina, Fenny Uswati Feri irawan Fitriningdyah Tri Kadarwati Fitrotus S, Dewi Gufron, Moh HABIB RIJZAANI Habib Rijzaani Hafidz, Putra Hamsi Mansur Hanny Handiyani Hapsah, Hapsah Hartono Hartono Hasan Hasan Hasim Abdul Jamil I Gusti Komang Dana Arsana I Made Jana Mejaya I Made Tasma I. Roostika Ina Fitria Ismarlin Indramawan, Anik Intan Rahana Irwansya, Irwansya Karden Mulya Khairiyah, Dhea Kristianto Nugroho Kristianto Nugroho Kristianto Nugroho KRISTIANTO NUGROHO, KRISTIANTO Kuncoro, Fiki Wahyu KUNTO WIBISONO Kurniawan, Yuniar Denny Latief, Jenny Lestari, Puji Linda Apriliani, Linda Lucky Nugroho Lukman Hakim M Ashari M. SYAKIR Magfiroh, Binti Latifatul Mamik Setyowati Mamik Setyowati, Mamik MARIA BINTANG Media Fitri Isma Nugraha Mia Kosmiatin MIFTAHOL ARIFIN, MIFTAHOL Mohamad Athar Monry Fraick Nicky Gillian Ratumbuysang Mubarok, Iqbal Muhamad Sabran Muhammad Farhan Mukharomah, Syaidatul MURDIYATI, A. S. Muskhairillah Salmy Nabila Noor Qisthani Nana Supriyana Nanda Ardelya Ni Wayan Siti Nik Haryanti Nugrah Rekto Prabowo Nugraheni, Suminar Diyah Nugroho, Kristianto Nuning Artati Nur Fuad Nurmalasari, Yunita Parnidi Parnidi Parnidi, Parnidi Praharto, YB Prasetya, Adita Dwi Priatna Sasmita Puji Lestari PUJI LESTARI Puji Lestari Puji Lestari Puji Lestari Puji Lestari Purwaningdyah, Rosliana Purwanto, Oky Dwi Puspitojati, Endah Putri, Isnah Faradiba Qomario Rahma, Leily Vidya Rahmawati, Rahmawati Raudah Raudah Reflinur Reflinur REFLINUR REFLINUR Rerenstradika Tizar Terryana Rerenstradika Tizar Terryana Rossa Yunita Rosyidah Arafat, Rosyidah Salsabela, Yuliyana samiyono samsudin, ivan SANTOSO, BUDI Sativa, Risya Oriza Satyawan, Dani Siti Nurlaela Siti Nurlaela Sofwan Manaf Soim, Soim Sudiarto Sudiarto Suhendar, Ace Sukmawati Sukmawati Suminar Diyah Nugraheni Suniati, Suniati Suparjo Suparman Suparman Supiyana, Nana Surya, Ananta Susanti Sufyadi Sutarno Sutarno SYAFARUDDIN, . SYAKIR, M. Tasma, I Made Tohawi, Agus TRI JOKO SANTOSO Trijatmiko, Kurniawan R. Tris Sugiarto Umaeroh, Teli Rosma Umar Umar Us’an, Us’an Utama, Agus Hadi Utari Praba Ningrum Utari, Ratna Utis Sutisna Utomo, Achmad Fauza Setyo Waldiono, Jenjang Warso Warso, Warso Witjaksono Witjaksono Yani, N. P. Mega Gena Yudi Sastro Yuli Dianto, Alfin Zainuddin, Zainuddin Zaki Ahmad Farid