p-Index From 2021 - 2026
11.75
P-Index
This Author published in this journals
All Journal International Journal of Nusantara Islam Intizar Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya Syifa al-Qulub : Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora TEMALI : Jurnal Pembangunan Sosial Rayah Al Islam : Jurnal Ilmu Islam Jurnal Dirosah Islamiyah RESLAJ: RELIGION EDUCATION SOCIAL LAA ROIBA JOURNAL Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Jurnal Syntax Imperatif : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Al-Kawakib Az-Zahra: Journal of Gender and Family Studies Jurnal Iman dan Spiritualitas ZAD Al-Mufassirin Mauriduna : Journal of Islamic studies Definisi: Journal of Religion and Social Humanities Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Jurnal Penelitian Ilmu Ushuluddin SPECTRUM: Journal of Gender and Children Studies QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies Indonesian Journal of Islamic Studies Al-Ibanah IJED JUQUTS Gunung Djati Conference Series Socio Politica : Jurnal Ilmiah Jurusan Sosiologi RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal International Journal of Nusantara Islam Bulletin of Islamic Research Journal of Society and Development Senarai: Journal of Islamic Heritage and Civilization Mashadiruna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Claim Missing Document
Check
Articles

Penyatuan Istilah dalam Studi Ilmu Tafsir (Eksplorasi Keragaman Istilah Metodologi dalam Tafsir) Zulaiha, Eni
AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Vol. 7 No. 3 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/alquds.v7i3.6332

Abstract

Standardization of Terminology in Tafsir Studies (Exploring the Diversity of Methodological Terminology in Tafsir)This article aims to find to offer a uniformity of terms in the science of exegesis. This study uses a qualitative method by implementing library research with content analysis. The results of this study indicate that the causes of differences in the use of terms in the science of interpretation are due to differences in paradigms and the use of terms that do not come from the interpreter and the original source. Thus, a more mature study is needed on the use of technical terms and the constructs of the science of interpretation itself. Meanwhile, the offer of terms and construction of the science of interpretation focuses on the study of the sources of interpretation, the method of interpretation and the style of interpretation, because these three are the essence and basis of the science of interpretation. The conclusion of the research proves that in the study of exegesis there are differences in the use of terms that come from restrictions on different definitions in the discussion of sources, methods and styles of interpretation. It takes a uniform use of terms to facilitate learning interpretation and several other sciences related to it. This study recommends that further research be carried out on other technical terms in the study of interpretation.
Prophet Muhammad's Communication Strategy Perspective of Tafsir Maudu'i al- Wajiz Zulaiha, Eni
International Journal of Nusantara Islam Vol 12, No 1 (2024): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v12i1.31073

Abstract

This article aims to identify the communication strategy of the Prophet Muhammad as described in the Qur'an. This study used qualitative methods through library research. Thematic interpretation was used as the analytical technique. The results indicate that the Prophet's communication principles are as follows: First, using striking words (qawlan balīghā). Second, we selected easily digestible words (qawlan maysūrā). Third, noble words (qawlan karīmā) were used. Fourth are constructive words (qawulan ma'rūfā). Fifth, using gentle words (qawulan layyinā). The Prophet's communication strategy prioritizes deliberation in solving problems. The conclusion from the research proves that the principles and communication strategies of the Prophet Muhammad in conveying God's message, as outlined in the Qur'an, are essential elements for the success of his mission. This study recommends further research on other critical elements supporting the success of prophetic preaching based on Quranic verses
Manhaj Al-Khash: Studi atas Tafsir Fath Al-Qadir Karya Imam Al-Syaukani pada QS. Al-Hajj Fangesty, Maolidya Asri Siwi; Ikhsan, Mocammad; Hamdan Taviqillaah, Muhamad; Zulaiha, Eni; Taufiq, Wildan; M. Yunus, Badruzzaman
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 5 No 2 (2024): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, November 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v5i2.1215

Abstract

Manhaj tafsir merupakan salah satu aspek dalam disiplin ilmu Tafsir Al-Qur’an yang digunakan untuk melihat kecenderungan dari suatu kitab tafsir. Penelitian ini berusaha untuk melihat kecenderungan Kitab Tafsir Fath Al-Qadir pada QS. Al-Hajj karya Imam Al-Syaukani, baik ditinjau metode umumnya maupun metode khususnya. Penelitian ini dirasa penting dilakukan karena ingin mengetahui kecenderungan Al-Syaukani dalam menafsirkan Al-Qur’an pada karya tafsirnya tersebut, karena diketahui ia berasal dari latar belakang lingkungan Syi’ah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan penyajian analisis deskriptif yang pengumpulan datanya menggunakan studi literatur. Penulis berkesimpulan bahwa Al-Syaukani dalam metode umumnya, ia menggunakan metode tahlili dan dominan menggunakan sumber bi al-ra’y, sedangkan metode khususnya selalu konsisten dengan sebelas langkahnya, seperti menyajikan ayat dan mengelompokkannya ke dalam kelompok ayat tertentu, menganalisis bahasa, menyebutkan riwayat-riwayat yang terkait, dll. Adapun dugaan kecenderungan Syi’ah, penulis tidak menemukannya pada penafsiran Al-Syaukani di dalam QS. Al-Hajj tersebut. Manhaj tafsir is one aspect in the discipline of Tafsir Al-Qur'an which is used to see the tendency of a book of interpretation.This study attempts to see the tendency of the Book of Tafsir Fath Al-Qadir in QS.Al-Hajj by Imam Al-Syaukani, both in terms of its general method and its special method.This study is considered important to be carried out because it is intended to determine Al-Syaukani's tendency in interpreting the Qur'an in his tafsir work, because it is known that he came from a Shiite background.This study is a qualitative study with the presentation of descriptive analysis whose data collection uses literature studies.The author concludes that Al-Syaukani in his general method, he uses the tahlili method and predominantly uses bi al-ra'y sources, while his special method is always consistent with his eleven steps, such as presenting verses and grouping them into certain groups of verses, analyzing language, mentioning related narrations, etc. As for the alleged Shiite tendency, the author did not find it in Al-Syaukani's interpretation in QS. Al-Hajj.
Re-Interpretasi Makna Perintah Isti’faf Perspektif Relasi Akhlak Mubadalah: Kajian Surah An-Nur Ayat 33 Fangesty, Maolidya Asri Siwi; Zulaiha, Eni
Az-Zahra: Journal of Gender and Family Studies Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Gunung Dajti Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/azzahra.v5i1.40770

Abstract

Penafsiran bias gender memaknai isti’faf dengan menjauhi zina yakni meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah. Namun, penafsiran adil gender memandang itu bukan satu-satunya makna. Maka dari itu diperlukan pembacaan ulang mengenai perintah isti’faf menggunakan relasi akhlak mubadalah dalam QS. An-Nur ayat 33. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prinsip-prinsip relasi laki-laki dan perempuan dalam metode mubadalah, mengetahui penafsiran bias gender dan adil gender mengenai isti’faf serta menemukan analisa gender dalam penafsiran isti’faf. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan library research. Penelitian ini menunjukkan bahwa prinsip mubadalah adalah keadilan, kemaslahatan dan anti kemudaratan yang didasarkan pada prisip resiprokal atau kesalingan, bermuara pada akhlakul karimah, oleh, dari serta untuk laki-laki dan perempuan. Penafsiran isti’faf yang bias gender didapat dari Al-Qurthubi, Ath-Thabari dan Hasby Ash-Shiddieqy. Sedangkan penafsiran yang adil gender didapat dari Faqihuddin Abdul Kodir. Isti’faf dalam perspektif bias gender hanya menyasar pada laki-laki dan dimaknai menjauhi zina. Sementara perspektif adil gender menyasar laki-laki dan perempuan dan dimaknai bukan hanya menjauhi zina, tapi mendisiplinkan diri agar tidak terjerumus pada zina, yakni melakukan hal yang halal berupa hal positif dan produktif. Pemaknaan ini pada akhirnya akan menciptakan keluarga yang maslahat, berkeadilan dan minim konflik. Re-interpretasi seperti ini sesuai dengan prinsip tafsir adil gender yakni etika maslahah dan sesuai dengan maqashid syariah yakni hifdzu al-nasl (menjaga keturunan). Selain terjaganya status anak setelah menikah, terjaga pula diri pribadi anak, sebab lahir dari orangtua yang memiliki kualitas diri sehingga meniru orangtua dalam berprilaku dan berkiprah. Kemudian akan menghasilkan keturunan yang berkualitas pula bukan hanya mengedepankan kuantitas.
Analisa Gender Pada Ayat-Ayat Alquran yang Mengisyaratkan Pernikahan Anak: Menyoal Makna Bulugh al-Nikah Pada Surah al-Nisa Ayat 6 Tauviqillah, Muhamad Hamdan; Naufal Mahdy, Widyanto; Zulaiha, Eni
Rayah Al-Islam Vol 8 No 4 (2024): Rayah Al Islam November 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v8i4.1250

Abstract

Artikel ini membahas perbedaan tafsir klasik dan tafsir kontemporer mengenai hukum pernikahan anak dan penetapan bulugh al-nikah (batas usia menikah). Tujuan artikel ini adalah meneliti dan menganalisis ayat-ayat yang mengisyaratkan pernikahan anak, bagaimana pandangan penafsiran klasik yang cenderung bias gender dan penafsiran kontemporer yang bersifat adil gender tentang bulugh al-nikah. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan metode analisis deskriptif. Pengumpulan data dengan mengumpulkan ayat-ayat yang mengisyaratkan pernikahan anak dan menganalisis pandangan ulama klasik dan tokoh feminis. Penelitian ini menemukan bahwa ulama klasik tidak menetapkan bulugh al-nikah. Bulugh al-nikah dalam surah al-Nisa ayat 6 ditafsirkan dengan baligh dalam konteks pengelolaan harta anak yatim dan ulama empat mazhab tidak menjadikan baligh dan ‘aqil sebagai syarat sah nikah. Pandangan klasik ini melandaskan pada surah al-Thalaq ayat 4 tentang masa ‘iddah perempuan yang belum haid dan riwayat pernikahan Nabi Muhamad Saw dan Siti Aisyah yang masih berusia 6 tahun. Sedangkan tafsir feminis melarang pernikahan anak yang diajukan tokoh-tokoh feminis seperti, Husein Muhamad, Musdah Mulia dan Badriyah Fayumi. Mereka menetapkan bulugh al-nikah. Baligh menurut mereka tidak hanya terkait aspek biologis, tetapi memiliki kesiapan, kedewasaan dan kematangan baik secara fisik, finansial, dan mental sebagai bekal menjalani bahtera rumah tangga. Pandangan mereka melandaskan pada tujuan atau maqashid syariah pernikahan yang dijelaskan oleh ayat lain, seperti surah al-Rum ayat 21 dan Surah al-Nisa ayat 9 bahwa pernikahan bukan sebatas hubungan fisik dan biologis, tetapi sampai pada institusi sentral, yaitu keluarga yang bahagia dalam ikatan yang suci (mitsaqan ghaliza). This article discusses the differences between classical and contemporary interpretations regarding the law on child marriage and the provisions on bulugh al-nikah (marriage age limit). The purpose of this article is to examine and describe the verses that describe child marriage, how classical interpretations tend to be gender biased and contemporary gender-just interpretations of bulugh al-nikah appear. This type of research is library research (library research) with descriptive analysis methods. Data collection by collecting verses that indicate child marriage and analyzing the views of classical scholars and feminist figures. This research found that classical ulama did not stipulate bulugh al-nikah. Bulugh al-nikah in surah al-Nisa verse 6 transactions with puberty in the context of managing the assets of orphans and scholars of the four schools of thought does not make baligh and 'aqil a condition for a valid marriage. This classic view is found in surah al-Thalaq verse 4 regarding the 'iddah period of women who have not yet menstruated and the history of the marriage of the Prophet Muhammad Saw and Siti Aisyah who was still 6 years old. Meanwhile, feminist interpretations prohibit child marriages featuring feminist figures such as Husein Muhamad, Musdah Mulia and Badriyah Fayumi. They established the bulugh al-nikah. According to them, puberty is not only related to biological aspects, but also having readiness, maturity and maturity both physically, financially and mentally as preparations for living the household. Their view is based on the purpose or maqashid of marriage sharia which is explained by other verses, such as surah al-Rum verse 21 and surah al-Nisa verse 9 that marriage is not limited to physical and biological relations, but reaches the central institution, namely a happy family in bondage. . the holy (mitsaqan ghaliza).
The Personality of the Prophet Moses in the Al-Quran: Study of the Verses of Moses in the Al-Quran Review of Personality Psychology Theory Ai Syaripah; Zulaiha, Eni; Taufiq, Wildan
Bulletin of Islamic Research Vol. 1 No. 4 (2023)
Publisher : Educational Foundation for Qur'anic Exegesis and Hadith Studies (Yayasan Pendidikan Tafsir Hadis)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69526/bir.v1i4.19

Abstract

The purpose of the research is to know the structure of the story of Prophet Moses in the Qur'an, the description of his personality viewed from the psychological theory of personality, and the message from the personality of Prophet Moses in the Qur'an. This research uses a literary psychology approach. The method used is the thematic interpretation method, and the type of research is qualitative descriptive analysis. The results of the research on the personality of Prophet Moses in the Qur'an are reviewed from the psychological theory of personality: 1). The division of the structure of the story of Prophet Moses that has been formulated in this research is based on the sequence of the story from the time of his birth to the end of the story in the Quran, including: the first episode, the childhood of Prophet Moses; the second period of adulthood of Moses; the third period of prophethood of Moses; the fourth period of the preaching of Prophet Moses to Pharaoh; the fifth time of his prophethood with the children of Israel regarding the heifer incident; the sixth time of his prophethood with the incident of burying Qarun; and the seventh meeting with Prophet Khidir. 2). The description of Prophet Moses' personality in the Qur'an is reviewed from Allport's personality psychology theory: Moses has a healthy and mature personality. Because all the personality maturity criteria classified by Allport can be found in Moses. Then the personality of Moses, which is reviewed with the personality theory of the Islamic view, is also found in the personality of Moses, which covers Nafs Lawwamah, Muthmainnah Nafs, and an angry soul. 3). Messages from the personality of the Prophet Musa in the Qur'an, as analyzed from each of his journeys, have a message for the life of one of them: that justice requires patience, courage to uphold the truth, a willingness to help, the obligation to fulfill the agreed contract, and patience in spreading religious teachings.
Kajian Historis Tafsir Falsafi Syam, Ishmatul Karimah; Alfathah, Suryana; Zulaiha, Eni; Ahmad, Khader
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol 6, No 1 (2023): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v6i1.18321

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah corak tafsir falsafi meliputi sejarah kemunculan tafsir falsafi, batasan tafsir falsafi, perdebatan ulama tentang tafsir falsafi, dan kitab-kitab tafsir yang bercorak falsafi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan melalui studi kepustakaan dengan pendekatan sejarah dan tafsir. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa Tafsir Falsafi adalah salah satu corak penafsiran yang menggunakan teori-teori dan pendekatan filsafat. Sejarah kemunculan corak falsafi ini bermula pada dinasti Abbasiyah dimana pada kekhalifahan Al-Manshur, banyak sekali buku-buku filsafat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sehingga menyebabkan masuknya kajian-kajian filsafat ke dalam dunia Islam terkhusus pada khazanah penafsiran Al-Quran. Adapun batasan dalam tafsir falsafi meliputi pembahasan-pembahasan seputar filsafat seperti wujud tuhan, sifat-sifat Allah, dan juga terkait ayat-ayat mutasyabihat. Corak tafsir falsafi tentunya menuai pro dan kontra, di antaranya yang menolak adalah karena corak falsafi menggunakan akal dan teori-teori filsafat yang bertentangan dengan ajaran dan aqidah Islam. Adapun yang mendukung adalah karena mereka menganggap ada titik temu antara filsafat dengan agama dan juga tafsir. Kitab-kitab yang bercorak falsafi di antaranya adalah kitab Fushus Al-Hikam karya Al-Farabi, Rasail Ibnu Sina, Rasail Ikhwan As-Shafa, Mafatih Al-Ghaib karya Fakhrudin Ar Razi dan Tafsir Al Mizan karya Thabathaba’i. Penelitian sederhana ini diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi para pengkaji Al-Quran dan tafsirnya.
Pengaruh Sosial Politik Pada Metodologi Penafsiran di Indonesia (Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi) Zulaiha, Eni; Agustin, Kartini Fujiyanti; Rahman, Nida Al
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol 5, No 1 (2022): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v5i1.15538

Abstract

This paper tries to further examine the responses of commentators in the midst of the upheavals of the government during the Old Order, New Order, and Reformation eras. Interpretation which is a human product can be used as a parameter of Islam that the government running is state is in accordance with the teachings or not, so that in these three periods a continuous commentator was born with the politics that was going on at that time. The method used in this research is descriptive analysis based on library research. The findings of this study are that from the three periods of power, namely the Old Order, the New Order, and the Reformation, the are similarities in the style of interpretation used, namely Adab Ijtima’i, but different from the method of interpretation used, namely in the Old Order period, the method of interpretation used is the Tahlili method while the next two perioeds, namely the Thematic method according to the development of interpretation at that time.
Tafsir ‘Aqa'idi dalam Kajian Baru Agustin, Kartini Fujiyanti; Rahman, Nida Al; Zulaiha, Eni
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol 5, No 2 (2022): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v5i2.18225

Abstract

Tulisan ini mencoba menelaah lebih lanjut mengenai tafsir ‘aqa>idi> dengan menjelaskan sejarah kemunculan corak ‘aqa>idi> dalam dunia tafsir al-Quran, batasan istilah pembahasannya, akseptabilitas para ulama serta contoh kitab-kitab tafsir bercorak ‘aqa>idi>. MetodeNyang digunakanndalam penelitiannini adalahndeskriptif analisisnberbasis penelitiannkepustakaan dengannpendekatan sejarah dan tafsir. Temuan dari penelitian ini bahwa Tafsir ‘Aqa>idi> merupakan salah satu nuansa penafsiran yang menggunakan teori-teori dan pendekatan Teologis. Sejarah kemunculan corak teologis ini bermula pada setelah terjadi perangnSiffin antarankelompok Alinbin Abi Thalibndengan Muawwiyahnbin AbunSufyan. Adapun batasan istilah tafsir ‘aqa>idi> mencakup pembahasan yang berkenaan dengan teologi ketuhanan dan politik kepemimpinan karena keduanya merupakan tema penting yang menyangkut ideologi sekte. Dalam  akseptabilitasnya, para ulama memberikan beberapa syarat yang dapat mengklasifikasikan tafsir ‘aqa>idi> dapat diterima ataukah tidak, diantara indikasi sebuah tafsir ‘aqa>idi> tidak dapat diterima adalah jika upaya penafsirannya terindikasi oleh hawa nafsu melegitimasi kelompoknya. Kitab-kitab tafsir bercorak ‘aqa>idi> dapat ditemukan dalam Tafsirnal-Kasysyaf karyanal-Zamakhsyarinyang bernuansanakidah Muktazilah, TafsirnMafatihnal-Ghaib karyanFakhruddinnAl-Razi yangnbermadzhab Asy’ariyyah serta Tafsir Al-Mizan yang ditulis oleh seorang tokoh Syiah, Husein Thabathaba’i.
The Problems of The Marriage Age Changing in Indonesia in the Perspectives of Muslim Jurists and Gender Equality Zulaiha, Eni; Mutaqin, Ayi Zaenal
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol 4, No 2 (2021): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v4i2.13538

Abstract

The rules regarding the age limit for marriage as contained in Article 7 of Law no. 1 of 1974, which states that the minimum age of marriage for men is 19 years and for women is 16 years. These rules were amended through law no. 16 of 2019, which stipulates that the age limit for marriage, both for men and women, are in the same age, 19 years old. This change is intended to bring benefits of marriage minimizes the conflict in the household. But in fact, the changing age limit for marriage still creates some problems; for example, not a few Muslims view that in Islam, there are no provisions regarding age limits and there are dispensations for those forced to marry under a predetermined age. This research aims to find out the problematics of the law on changing the age limit for marriage. The research approach used qualitative with descriptive analysis methods and literature review. The results of the study indicate that there are several problems regarding the age limit between First, Islamic law does not stipulate a minimum age for marriage, so that some people do not heed the provision; Second, there are some rules regarding dispensation for those who want to get married at the age of 19 by putting forward to the court. This is an opportunity to violate the regulations; Third, changes to the law that have raised the age limit for marriage, in reality, in society, have not been able to stop the rate of early-age marriage.
Co-Authors Abdul Gofur Abdul Rohman Abdul Rohman Abdul Rohman Abdurrohim Abdurrohim, Abdurrohim Agus Salim Hasanudin Agustin, Kartini Fujiyanti Ahmad Izzan, Ahmad Ahmad Jalaluddin Rumi Durachman Ahmad, Khader Ai Syaripah Aisyiyyah, Lu'luatul Alfani, Isa Imadussalam Alfathah, Suryana Amin, Imam Muslim Andi Malaka Andika Tegar Pahlevi Andini Andini Anindita Ahadah Anisa Nurfauziah Arif Maulana Asep Muhyiddin, Asep Ash-Shiddiq, Hawary Anshorulloh Asniah Asniah Az Zahra Salsabila Azkiya, R. Muhammad Farhal Basyiruddin, Muhammad Hafizh Busro, B. Dede Kurniawan Dedi Junaedi Fangesty, Maolidya Asri Siwi Farhan Muhammad Farid, Ahmad Fathurrohman, Asep Ahmad Fauziah, Debibik Nabilatul Fitri Meliani, Fitri Ghinaurraihal Ghinaurraihal Gunara, Yusman Gunawan, Iwan Caca Hafid, Moc Hamdan Taviqillaah, Muhamad Hanifiah, Diany Mumtaz Hanna Salsabila Haririe, Muhammad Ruhiyat Hendrawan, Yogi Muldani Husni, Abdi Risalah Ikhsan, Mocammad Imaduddin, Ihsan Imelda Helsyi Irsad, Nursalim Irsyad, Nursalim Izzah Faizah Siti Rusydati Khaerani Jajang A Rohmana Jenjen Zainal Abidin Khasanah, Zumrotun Komarudin, R. Edi M. Yunus, Badruzzaman Mubarok, Ahmad Ajik Nur Fata Muhamad Yoga Firdaus Muhamad Yoga Firdaus Muhamad, Zia Azkamalaki Muhammad Hafizh Basyiruddin Muhammad Ihsan Muhammad Rijal Maulana Muhammad Sofyan Muhammad Yahya Muhlas Muhlas Muhyi, Asep Abdul Mulyaden, Asep Mutaqin, Ayi Zaenal Nabil Fasha Inaya Nabilah Nuraini Najihah, Bannan Naelin Nana Najatul Huda Nani Nuranisah Djamal, Nani Nuranisah Naufal Mahdy, Widyanto Nazar Fadli nia kurniasih Nida Husna Abdul Malik Nugraha, Sandi Nuraini, Nabilah Nurdin, Aldi Nurdin, Aldi Nurhayat, Tasya Putri Nursaufa, Syifa Nurzaman, Irfan Paelani Setia Pauzian, Muhamad Hilmi Pebriani Srifatonah Permana, Asep Amar Puspa Rahayu, Tami Dewi Rahman, Nida Al Rahmi, Yabqiah Ratih Rahmawati Ratminingtyas, Ratminingtyas Restu Ashari Putra Ridwan, Ali Rika Dilawati Rika Dilawati Rizal Abdul Gani Rohmatulloh, Acep Ihsan Rohmatulloh, Yasin Sandi Nugraha Sholihat, Novi Nur Sholikul Hadi Siti Aminah Siti Chodijah Srifatonah, Pebrianu Supriyatin, Tintin Suryana Alfathah Susanti Vera Syam, Ishmatul Karimah Syu'aib Z., Ibrahim Taryudi Taryudi Taufiq, Wildan Taufiq, Wildan Tauviqillah, Muhamad Hamdan Tina Dewi Rosahdi, Tina Dewi Umillah, Hasya an Vera, Susanti Yeni Huriani Yeni Huriani