p-Index From 2021 - 2026
11.619
P-Index
This Author published in this journals
All Journal International Journal of Nusantara Islam Intizar Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Jaqfi : Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya Syifa al-Qulub : Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora TEMALI : Jurnal Pembangunan Sosial Rayah Al Islam : Jurnal Ilmu Islam Jurnal Dirosah Islamiyah RESLAJ: RELIGION EDUCATION SOCIAL LAA ROIBA JOURNAL Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Jurnal Syntax Imperatif : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Al-Kawakib Az-Zahra: Journal of Gender and Family Studies Jurnal Iman dan Spiritualitas ZAD Al-Mufassirin Mauriduna : Journal of Islamic studies Definisi: Journal of Religion and Social Humanities Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Jurnal Penelitian Ilmu Ushuluddin SPECTRUM: Journal of Gender and Children Studies QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies Indonesian Journal of Islamic Studies Al-Ibanah IJED JUQUTS Gunung Djati Conference Series Socio Politica : Jurnal Ilmiah Jurusan Sosiologi RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal International Journal of Nusantara Islam Journal of Society and Development Mashadiruna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Claim Missing Document
Check
Articles

Re-Interpretasi Makna Perintah Isti'faf Perspektif Relasi Akhlak Mubadalah: Kajian Surah An-Nur Ayat 33 Fangesty, Maolidya Asri Siwi; Zulaiha, Eni
Az-Zahra: Journal of Gender and Family Studies Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Gunung Dajti Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/azzahra.v5i1.40770

Abstract

Penafsiran bias gender memaknai isti’faf dengan menjauhi zina yakni meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah. Namun, penafsiran adil gender memandang itu bukan satu-satunya makna. Maka dari itu diperlukan pembacaan ulang mengenai perintah isti’faf menggunakan relasi akhlak mubadalah dalam QS. An-Nur ayat 33. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prinsip-prinsip relasi laki-laki dan perempuan dalam metode mubadalah, mengetahui penafsiran bias gender dan adil gender mengenai isti’faf serta menemukan analisa gender dalam penafsiran isti’faf. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan library research. Penelitian ini menunjukkan bahwa prinsip mubadalah adalah keadilan, kemaslahatan dan anti kemudaratan yang didasarkan pada prisip resiprokal atau kesalingan, bermuara pada akhlakul karimah, oleh, dari serta untuk laki-laki dan perempuan. Penafsiran isti’faf yang bias gender didapat dari Al-Qurthubi, Ath-Thabari dan Hasby Ash-Shiddieqy. Sedangkan penafsiran yang adil gender didapat dari Faqihuddin Abdul Kodir. Isti’faf dalam perspektif bias gender hanya menyasar pada laki-laki dan dimaknai menjauhi zina. Sementara perspektif adil gender menyasar laki-laki dan perempuan dan dimaknai bukan hanya menjauhi zina, tapi mendisiplinkan diri agar tidak terjerumus pada zina, yakni melakukan hal yang halal berupa hal positif dan produktif. Pemaknaan ini pada akhirnya akan menciptakan keluarga yang maslahat, berkeadilan dan minim konflik. Re-interpretasi seperti ini sesuai dengan prinsip tafsir adil gender yakni etika maslahah dan sesuai dengan maqashid syariah yakni hifdzu al-nasl (menjaga keturunan). Selain terjaganya status anak setelah menikah, terjaga pula diri pribadi anak, sebab lahir dari orangtua yang memiliki kualitas diri sehingga meniru orangtua dalam berprilaku dan berkiprah. Kemudian akan menghasilkan keturunan yang berkualitas pula bukan hanya mengedepankan kuantitas.
Spiritual Motivation in the Quran: Insights from ESQ 165 by Ary Ginanjar Agustian Abdurrohim, Abdurrohim; Rohmana, Jajang A.; Zulaiha, Eni
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 8 No. 1 (2025): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v8i1.44747

Abstract

Religion and spirituality are intertwined, with spirituality at the core of religious experience. Recent studies highlight the connection between spirituality and mental health, self-efficacy, and self-respect. In 2001, Ary Ginanjar Agustian introduced ESQ 165, a religious phenomenon aimed at enhancing human resources through spirituality. However, this concept faced criticism from some Islamic scholars, including Malaysian mufti Datuk Hj. Wan Zahidi bin Wan Teh, who argued it contradicts Islamic teachings. Conversely, research by Daromir Rudnyckij links ESQ 165 to "Spiritual Economy," merging Islamic principles with neoliberal economic practices to boost productivity. This qualitative study employs library research to analyze Agustian's interpretations of the Quran in his work "Secrets of Success in Building Spiritual Emotional Intelligence ESQ 165." Findings reveal that ESQ 165 integrates intellectual (IQ), emotional (EQ), and spiritual intelligence (SQ) with Islamic values of Faith, Islam, and Ihsan. Agustian's interpretations differ from traditional ulama due to methodological influences and a psychological approach, positioning them outside conventional interpretation rules. Despite critiques, his insights resonate with Gadamer's understanding of interpretation shaped by personal horizons, aligning ESQ 165 with Quranic spiritual motivation and Danah Zohar's God Spot theory.
The Correlation of I'jaz Bayani with Scientific Signals in the Story of Maryam: A Study of the Miracles of Language and Science in the Qur'an Nurhayat, Tasya Putri; Fathurrohman, Asep Ahmad; Zulaiha, Eni
International Journal of Nusantara Islam Vol 13 No 1 (2025): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v13i1.44978

Abstract

This research aims to study the correlation between i’jaz bayani and scientific hints in the story of Maryam in the Qur’an. Using a language and science approach, this research analyzes the choice of diction, sentence structure, and word use in Surah Maryam, which shows the miracle of the language of the Qur'an. The main focus of this study is the use of the word "rutab" (wet dates), which is scientifically proven to have great benefits for pregnant and giving-birth women. This finding shows that the meaning contained in this choice of words is not only linguistically beautiful but also in accordance with modern medical facts. This shows that there is a close relationship between i’jaz bayani and scientific signals in the Al-Qur'an, as well as being a protest against orientalist accusations that doubt the miracles of the stories in the Al-Qur'an.
Analisa Gender Pada Ayat-ayat Yang Mengisyaratkan Aborsi Rahmawati, Ratih; Zulaiha, Eni
Journal of Ulumul Qur'an and Tafsir Studies Vol. 4 No. 1 (2025): JUQUTS: Journal of Ulumul Quran and Tafsir Studies
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/070zf979

Abstract

Al-Quran memberi wawasan terhadap perubahan masyarakat dalam artian sebagai bentuk antisipasi dari perubahan-perubahan yang bersifat negatif maupun sebaliknya,yaitu mencipta perubahan yang positif ditengah-tengah masyarakat. Fenomena aborsi hari ini semakin menjamur dengan berbagai jenis kasus, ditengah hadirnya undang-undang yang menghalalkan praktik tersebut namun dalam beberapa Tafsir al-Qur’an masih banyak yang secara mutlak mengharamkannya . Penelitian ini membahas terkait bagaimana isyarat al-Qur’an tentang ayat aborsi yang dihadirkan dari mufassir lintas generasi dan perspektif. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa hukum melakukan aborsi adalah boleh dengan alas an yang benar. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang bertujuan untuk mengungkap penafsiran terkait isyarat mengenai ayat-ayat aborsi melalui pendekatan yang adil gender.
Analisa Gender pada Ayat-Ayat Al-Qur’an yang Mengisyaratkan Isti’faf Sholihat, Novi Nur; Nursaufa, Syifa; Zulaiha, Eni
SPECTRUM: Journal of Gender and Children Studies Vol 5 No 1 (2025): June
Publisher : The Center for Gender and Children Studies, the Institute for Research and Communing Service, State Islamic Institute of Manado (IAIN) Manado, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/spectrum.v5i1.1199

Abstract

Penafsiran mufassir klasik yang bias gender tidak sedikit cenderung lebih menekan kepada satu gender saja. Seperti pada penafsiran terhadap ayat-ayat yang mengisyaratkan isti’faf. Mufassir bias gender menafsirkan isti’faf hanya bagi siapa saja yang belum mampu menikah untuk menjaga kesucian diri dari perkara-perkara yang haram saja. Karena dalam kenyataannya zina bisa terjadi kepada seseorang yang sudah dalam relasi perkawinan, dan bagi yang sudah menikah pun tetap diperintahkan untuk isti’faf. Tujuan penelitian ini mengungkap bagaimana dalam pandangan ulama tafsir bias gender dan pandangan ulama tafsir adil gender. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data studi pustaka (library research). Adapun hasil dan pembahasan pada penelitian ini adalah pada penafsiran tafsir bias gender yang mengisyaratkan isti’faf ini cenderung lebih menekan kepada perempuan, yang mana dalam menjaga aurat dan perilaku mereka. Dan memaknai isti’faf dengan bagi siapa saja yang belum mampu menikah untuk menjaga kesucian diri dari perkara-perkara yang haram saja. Namun, mufassir adil gender yang penulis merujuknya kepada Faqihuddin Abdul Kodir, ia menjelaskan bahwa yang seharusnya menjaga pandangan dan menjaga kemaluan itu laki-laki dan perempuan. Dan isti’faf itu tidak hanya diartikan menghindari zina, karena zina juga tetap bisa terjadi pada saat seseorang sudah dalam relasi perkawinan, dimana yang sudah menikah juga tetap diperintahkan untuk isti’faf. Isti’faf menurut Faqihuddin mengenai relasi akhlak terpuji (mahmudah) dan menjauhi akhlak yang tercela (madzmumah). Pendapat adil gender mencerminkan semangat tauhidullah dan menjadi salah satu tujuan dari maqshid syari’ah, yakni hifz an-Nasl.
The Correlation of I'jaz Bayani with Scientific Signals in the Story of Maryam: A Study of the Miracles of Language and Science in the Qur'an Nurhayat, Tasya Putri; Fathurrohman, Asep Ahmad; Zulaiha, Eni
International Journal of Nusantara Islam Vol 13 No 1 (2025): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v13i1.44978

Abstract

This research aims to study the correlation between i’jaz bayani and scientific hints in the story of Maryam in the Qur’an. Using a language and science approach, this research analyzes the choice of diction, sentence structure, and word use in Surah Maryam, which shows the miracle of the language of the Qur'an. The main focus of this study is the use of the word "rutab" (wet dates), which is scientifically proven to have great benefits for pregnant and giving-birth women. This finding shows that the meaning contained in this choice of words is not only linguistically beautiful but also in accordance with modern medical facts. This shows that there is a close relationship between i’jaz bayani and scientific signals in the Al-Qur'an, as well as being a protest against orientalist accusations that doubt the miracles of the stories in the Al-Qur'an.
Potensi Dasar Individu Muslim Sebagai Penunjang Kehadiran Diri Dalam Peran Khalifatullah dan ‘Abdullah Vera, Susanti; Zulaiha, Eni; Yunus, Badruzzaman M
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol. 7 No. 2 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 2, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i2.18392

Abstract

Humans as creatures who have the title "the best form" is an affirmation of Allah SWT that He has created and made a complete spiritual and physical form. This event indicates that humans have basic potential that continues to develop biologically as well as their knowledge, so that humans are given the mandate to carry out two roles as well as the purpose of their presence, namely as khalifatullah and 'Abdullah on earth. However, the orientation of a Muslim's life is currently being hit by the development of a life style that follows trends and the pace of the times which results in the mingling of global ideologies, so that the basic human potential is no longer directed to achieving the essence of his presence as the representative of Allah (khalifatullah) and the servant of Allah ('Abdullah) in the world. earth. Thus, a study of basic human potential and how to develop it is needed in the order of life and human life. The purpose of this study is to discuss the basic potential of Muslim individuals in the Qur'an as a supporter of carrying out their roles as khalifatullah and 'abdullah on earth. This study applies a qualitative step. This research approach is human axiological aspect. The results and discussion of this research include the definition of human potential in the Qur'an, basic potential as eternal existence, and procedures for maximizing potential so that it can support the role of both humans as khalifatullah and 'abdullah. The conclusion of this study is that there are six approaches that are considered capable of activating human potential, in order to achieve awareness of the role and purpose of presence in this universal reality, namely social, moral, philosophical, chronological, meditation, and functional approaches.
Analisis Tafsir Maqāṣidī Muḥammad Ṭāḥir bin ‘Āsyūr Pada Ayat Qiṣāṣ Rohman, Abdul; Zulaiha, Eni; Taufiq, Wildan
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v17i1.13195

Abstract

AbstractThis paper discusses the concept of maqāṣidī Ibn 'Asyūr's interpretation and its implementation in qiṣāṣ verses. The purpose of this paper is to find out the construction of maqāṣidī Ibn 'Āsyūr's interpretation and the implementation of the interpretation of the qiṣāṣ verses in the Qur'an. The method used is descriptive analysis with literature study. The analytical approach used is the Jasser Audah systems approach. The result obtained is that the maqāṣidī interpretation constructed by Ibn 'Āsyūr is generally oriented towards achieving benefit and rejecting damage. Its achievement is based on the realization of safeguarding the five most basic things, namely protecting religion, soul, lineage, property, and mind; This benefit is realized in three forms of maqāṣid, namely maqāṣid 'ām (general), maqāṣid khāṣṣ (special) and maqāṣid juziyyah (partially); Implementation of the interpretation of the maqāṣidī Ibn 'Āsyūr concept in the verse qiṣāṣ results in an interpretation that qiṣāṣ law has five main objectives (maqāṣid), namely enforcing fair laws, preventive goals, nuanced equality, protecting life and creating stability and security of society.Keywords: Ibn ‘Āsyūr; Interpretation of Maqāṣidī; Qiṣāṣ. AbstrakTulisan ini membahas tentang konsep tafsir maqāṣidī Ibn 'Asyūr dan implementasinya pada ayat-ayat qiṣāṣ. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui konstruksi tafsir maqāṣidī Ibn 'Āsyūr dan implementasi penafsiran pada ayat-ayat qiṣāṣ dalam Al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis dengan studi pustaka. Pendekatan analisis yang digunakan adalah pendekatan sistem Jasser Audah. Hasil yang didapatkan adalah bahwa tafsir maqāṣidī yang dikonstruksikan oleh Ibn 'Āsyūr pada umumnya berorientasi pada pencapaian kemaslahatan dan penolakan pada kerusakan. Pencapaiannya didasarkan pada terjaganya lima hal yang paling mendasar, yaitu menjaga agama, jiwa, keturunan, harta dan akal; kemaslahatan ini diwujudkan dalam tiga bentuk maqāṣid, yaitu maqāṣid 'ām (umum), maqāṣid khāṣṣ (khusus) dan maqāṣid juziyyah (sebagian); Implementasi penafsiran konsep maqāṣidī Ibn 'Āsyūr dalam ayat qiṣāṣ menghasilkan tafsir bahwa hukum qiṣāṣ memiliki lima tujuan utama (maqāṣid), yaitu menegakkan hukum yang berkedilan, tujuan preventif, bernuansa persamaan hukum, melindungi kehidupan serta menciptakan stabilitas dan keamanan masyarakat. Kata Kunci: Ibn ‘Āsyūr; Qiṣāṣ; Tafsir Maqāṣidī.
SIGNIFIKASI POTRET PEREMPUAN MULIA DALAM AL-QUR’AN SERTA KORELASINYA DENGAN PRINSIP KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER Aisyiyyah, Lu'luatul; Taufiq, Wildan; Zulaiha, Eni
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 1 (2025): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.20424

Abstract

This study aims to examine the Qur'anic verses that contain noble female figures using Roland Barthes' signification theory approach. Signification enriches the understanding of God's word through linguistic and mythical analysis. The object of study includes seven female figures immortalized in the Qur'an, namely Maryam, the mother of Moses, Asiyah, Bilqis, two daughters of Prophet Shu'aib, Siti Sarah, and Siti Hajar. This research uses a qualitative method based on library research, with a thematic approach (dirāsat al-mawḍū'iyyah) to one main verse of each character. The results of the analysis show that the portraits of these noble women not only serve as ibrah, but also reflect the principles of gender equality and justice. The reinterpretation of these figures reveals the spiritual and social roles of women in the construction of revelation. The novelty of this research lies in the specific focus on female figures endowed with noble degrees in the Qur'an as well as the integration of Barthes' semiotic approach with the discourse of gender equality. The findings contribute to the development of gender-sensitive Qur'anic interpretation and open up space for a fairer interpretation of the role of women in religious texts. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat tokoh-tokoh perempuan mulia dengan menggunakan pendekatan teori signifikasi Roland Barthes. Signifikasi memperkaya pemahaman firman Allah melalui analisis linguistik dan mitos. Objek kajian mencakup tujuh tokoh perempuan yang diabadikan dalam Al-Qur’an, yakni Maryam, ibunda Musa, Asiyah, Bilqis, dua putri Nabi Syu’aib, Siti Sarah, dan Siti Hajar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka (library research), dengan pendekatan tematik (dirāsat al-mawḍū‘iyyah) terhadap satu ayat utama dari masing-masing tokoh. Hasil analisis menunjukkan bahwa potret perempuan-perempuan mulia tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ibrah, tetapi juga mencerminkan prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan gender. Pemaknaan ulang terhadap figur-figur tersebut mengungkap peran spiritual dan sosial perempuan dalam konstruksi wahyu. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus spesifik terhadap tokoh perempuan yang dikaruniai derajat mulia dalam Al-Qur’an serta integrasi pendekatan semiotika Barthes dengan wacana kesetaraan gender. Temuan ini berkontribusi terhadap pengembangan tafsir Al-Qur’an yang peka gender dan membuka ruang pemaknaan yang lebih adil terhadap peran perempuan dalam teks keagamaan.
Inventory of Science Verses in Islamic Religious Education Learning Zulaiha, Eni; Srifatonah, Pebrianu
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol. 17 No. 1 (2025): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v17i1.6938

Abstract

Integrating Islamic religious teachings and modern science in the Islamic Religious Education (PAI) curriculum is an important challenge in holistic basic education. This study examines the process of inventorying Qur'anic verses integrated with scientific concepts in Islamic Education learning books at Manaaratul Iman Elementary School. Using a qualitative approach through document analysis and Seyyed Hossein Nasr's hermeneutic framework, this study found that identifying, selecting, and interpreting verses was not fully systematic and still lacked the application of thematic (maudhu’i) methods. The lack of teacher involvement and contextual information, such as asbabun nuzul, also weakens the integration between science and religion. The findings fill the void of practical studies integrating science and religion at the basic education level. This research analyzes the curriculum process by concretely integrating the Qur'an and science. Through periodic evaluations, the involvement of tafsir experts and scientists to apply the maudhu’i method systematically, and teacher training in thematic methods are also important recommendations so that the integration of religion and science does not stop at the concept level, but becomes a transformative Islamic curriculum model that is relevant to the times.
Co-Authors Abdul Rohman Abdul Rohman Abdul Rohman Abdurrohim Abdurrohim, Abdurrohim Agus Salim Hasanudin Agustin, Kartini Fujiyanti Ahmad Izzan, Ahmad Ahmad Jalaluddin Rumi Durachman Ahmad, Khader Ai Syaripah Aisyiyyah, Lu'luatul Alfathah, Suryana Amin, Imam Muslim Andi Malaka Andika Tegar Pahlevi Andini Andini Anindita Ahadah Anisa Nurfauziah Arif Maulana Asep Muhyiddin, Asep Asniah Asniah Az Zahra Salsabila Basyiruddin, Muhammad Hafizh Busro, B. Dede Kurniawan Dedi Junaedi Fangesty, Maolidya Asri Siwi Farhan Muhammad Farid, Ahmad Fathurrohman, Asep Ahmad Fauziah, Debibik Nabilatul Fitri Meliani, Fitri Ghinaurraihal Ghinaurraihal Gunara, Yusman Gunawan, Iwan Caca Hafid, Moc Hamdan Taviqillaah, Muhamad Hanna Salsabila Haririe, Muhammad Ruhiyat Husni, Abdi Risalah Ikhsan, Mocammad Imaduddin, Ihsan Imelda Helsyi Irsad, Nursalim Irsyad, Nursalim Jajang A Rohmana Jenjen Zainal Abidin M. Yunus, Badruzzaman Muhamad Yoga Firdaus Muhamad Yoga Firdaus Muhammad Hafizh Basyiruddin Muhammad Ihsan Muhammad Nur Hidayat Muhammad Rijal Maulana Muhammad Sofyan Muhammad Yahya Muhlas Muhlas Muhyi, Asep Abdul Mulyaden, Asep Mutaqin, Ayi Zaenal Nabil Fasha Inaya Nabilah Nuraini Najihah, Bannan Naelin Nana Najatul Huda Nani Nuranisah Djamal, Nani Nuranisah Naufal Mahdy, Widyanto Nazar Fadli nia kurniasih Nida Husna Abdul Malik Nugraha, Sandi Nuraini, Nabilah Nurdin, Aldi Nurdin, Aldi Nurhayat, Tasya Putri Nursaufa, Syifa Paelani Setia Pauzian, Muhamad Hilmi Pebriani Srifatonah Permana, Asep Amar Puspa Rahayu, Tami Dewi R. Edi Komarudin Rahman, Nida Al Ratih Rahmawati Ratminingtyas, Ratminingtyas Restu Ashari Putra Ridwan, Ali Rika Dilawati Rika Dilawati Rizal Abdul Gani Rohmatulloh, Acep Ihsan Rohmatulloh, Yasin Rusydati Khaerani , IzzahFaizah Siti Sandi Nugraha Sholihat, Novi Nur Sholikul Hadi Siti Aminah Siti Chodijah Srifatonah, Pebrianu Supriyatin, Tintin Suryana Alfathah Susanti Vera Syam, Ishmatul Karimah Syu'aib Z., Ibrahim Taryudi Taryudi Taufiq, Wildan Taufiq, Wildan Tauviqillah, Muhamad Hamdan Tina Dewi Rosahdi, Tina Dewi Umillah, Hasya an Vera, Susanti Yeni Huriani Yeni Huriani