Claim Missing Document
Check
Articles

Metode Penafsiran Abu al-Su’ud Al-‘Imadi dalam Kitab Irsyad al-‘Aql al-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim Basyiruddin, Muhammad Hafizh; Zulaiha, Eni
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i2.25238

Abstract

Tujuan tulisan ini adalah untuk mengkaji metodologi dalam buku tafsir “Irsyad al-‘Aql al-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim” karya Abu al-Su’ud Al-‘Imadi. Kajian mencakup aspek-aspek seperti sumber-sumber penafsiran (mashdar), metode penafsiran (manhaj), dan orientasi penafsiran (ittijah). Selain itu, tulisan juga memberikan gambaran singkat tentang biografi mufassir, wawasan keilmuan mufassir, dan latar belakang penulisan tafsir tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitab tafsir “Irsyad al-‘Aql al-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim” karya Abu al-Su’ud Al-‘Imadi, dari segi sumber penafsiran, masuk dalam kategori tafsir bi al-Ra’yi. Dari segi metode penafsiran, kitab ini menggunakan metode tahlili. Sementara dari segi orientasi penafsiran, tafsir ini cenderung memiliki orientasi kebahasaan (lughawi). Abu al-Su’ud al-‘Imadi hidup pada masa kejayaan Kesultanan Utsmaniyah, di mana masyarakat menikmati kemakmuran dan keamanan, serta ilmu pengetahuan berkembang pesat. Oleh karena itu, orientasi penafsiran dalam kitabnya tidak banyak berfokus pada isu-isu sosial dan kemasyarakatan. Sebaliknya, orientasi penafsiran Abu al-Su’ud lebih dominan pada aspek kebahasaan. Kecintaannya yang mendalam terhadap sastra Arab dan kemahirannya dalam bidang tersebut menjadi faktor kuat yang menjadikan tafsirnya berorientasi kebahasaan (lughawi).
Reinterpretasi Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an untuk Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Zulaiha, Eni; Yunus, Badruzzaman M.
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 3 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i3.25243

Abstract

Pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu hal penting untuk menjaga stabilitas kehidupan. Maka, dibutuhkan formula baru yang bersifat konstruktif dan variatif berupa strategi pemberdayaan ekonomi umat secara khusus, yakni dengan menggunakan perspektif Al-Qur’an melalui kisah Nabi Yusuf AS pada QS. Yusuf ayat 46 hingga 49. Penulisan karya ini menggunakan teknik kualitatif serta metode maudhu'i. Tulisan ini secara implisit menyimpulkan bahwa Melalui pesan hikmah dalam Al-Qur’an, Islam memberi tahu setiap Muslim tentang kemampuan digitalpreneur dengan meningkatkan ide dan kapabilitas terkait digitalisasi untuk melahirkan formula atau produk baru, baik berupa barang, makanan, aplikasi, ataupun produk lainnya. Kemudian, manfaatkan kekuatan era digital untuk meningkatkan layanan zakat melalui digitalisasi sebagai layanan utama yang baik, seperti halnya layanan zakat melalui aplikasi yang bernama BAZUTAKWA atau BAZNAS untuk kesejahteraan warga, serta menghilangkan sikap hedonis yang dapat menyebabkan umat kurang peka terhadap situasi sosial dan ekonominya dengan menghadirkan program khusus tentang penyuluhan kemapanan ekonomi tentang urgensi hidup hemat oleh pemegang kebijakan. Kekurangan dari tulisan ini ialah hanya membahas pemberdayaan ekonomi dalam Al-Qur’an semata. Dalam tulisan-tulisan berikutnya, studi ini menyarankan untuk beralih ke literatur tafsir Al-Qur’an lainnya sebagai solusi untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip pemberdayaan ekonomi dalam agama Islam.
Konsep Membela Allah dalam Al-Qur’an: Analisis Komparatif Penafsiran Ar-Razi, Ibn Al-Khathib dan Quraisy Shihab Mulyaden, Asep; Zulaiha, Eni
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v3i1.29979

Abstract

Terdapat banyak konsep dalam al-Qur’an yang dijelaskan secara terpisah dalam berbagai ayatnya. Salah satu konsep yang sering kali menjadi polemik di khalayak umum adalah mengenai konsep membela Allah. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengungkap konsep membela Allah dalam al-Qur’an yang mencakup makna dan bentuk dari membela Allah tersebut dengan menggunakan sudut pandang tiga mufasir, yaitu Ar-Razi, Ibn Al-Khathib dan Quraisy Shihab. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan serta merujuk pada kitab tafsir yang ditulis oleh tiga mufasir yang telah disebutkan. Hasil yang didapatkan adalah bahwa makna membela Allah dalam al-Qur’an adalah membela agama-Nya, rasul-Nya, golongan atau kelompok-Nya, ajaran atau pengajaran-Nya dan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Sedangkan bentuk implementasi dari membela Allah tersebut dilakukan dengan beragam bentuk, seperti: seperti jihad, dakwah, menyampaikan dalil agama, memerintahkan pada kebaikan dan mencegah terjadinya kemunkaran. Semua bentuk tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dari pelakunya masing-masing.
Qur'anic Ethics for Social Media: Insights from Indonesia's Thematic Tafsir Alfathah, Suryana; Zulaiha, Eni; Fathurrohman, Asep Ahmad
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2025): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v4i1.38417

Abstract

Social media's rapid growth has transformed communication, but neglecting ethical principles rooted in the Quran, like those explained in the Indonesian Ministry of Religious Affairs' Thematic Tafsir, has led to issues such as misinformation, conflict, and privacy breaches. This qualitative library research uses descriptive analysis to highlight the importance of Quran-based ethics in social media. It identifies five key principles: caution and responsibility, verifying information (tabayyun), constructive communication, avoiding prejudice and gossip, and protecting privacy. The study offers actionable guidelines for fostering responsible and ethical social media use, promoting harmony and accountability in digital interactions.
Makna Ikhlas dalam Tafsir Fakhruddin Ar-Razi dan Ibn Kaṡīr Gunawan, Iwan Caca; M. Yunus, Badruzzaman; Zulaiha, Eni
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 3 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v3i3.38465

Abstract

Konsep ikhlas merupakan nilai fundamental dalam Islam yang telah diinterpretasikan secara mendalam oleh para mufassir, seperti Fakhruddin Ar-Razi dan Ibn Kaṡīr, yang memberikan kontribusi penting dalam memperkaya pemahaman tentang makna dan implementasi ikhlas dalam tradisi tafsir Al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan membandingkan makna ikhlas dalam tafsir Fakhruddin Ar-Razi dan Ibn Kaṡīr, serta menganalisis implikasi penafsiran mereka terhadap pemahaman kontemporer tentang konsep ikhlas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis komparatif untuk membandingkan interpretasi konsep ikhlas antara Fakhruddin Ar-Razi dan Ibn Kaṡīr. Data yang digunakan berasal dari studi literatur yang mencakup karya-karya tafsir kedua mufassir, serta penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Ar-Razi dan Ibn Kaṡīr sepakat bahwa ikhlas adalah kunci utama dalam pengabdian murni kepada Allah, namun mereka menekankan aspek yang berbeda dalam tafsir mereka. Ar-Razi melihat ikhlas sebagai manifestasi tauhid sejati yang melindungi dari godaan, sementara Ibn Kaṡīr menekankan pemurnian niat dalam ibadah hanya untuk Allah tanpa perantara; Penafsiran makna ikhlas dalam Al-Qur'an oleh Fakhruddin Ar-Razi dan Ibn Kaṡīr sama-sama menekankan pentingnya ketulusan hati dan kemurnian niat dalam beribadah kepada Allah, namun Ar-Razi lebih fokus pada aspek teologis dan filosofis, sedangkan Ibn Kaṡīr menyoroti implementasi praktis dan syariat dalam kehidupan sehari-hari; Konsep ikhlas memiliki dampak mendalam dalam kehidupan modern dengan menekankan kemurnian niat kepada Allah, hal ini bisa membantu mengatasi godaan materialisme dan tekanan sosial, serta mendorong dedikasi, integritas, dan hubungan yang tulus dalam konteks profesional dan sosial.
Bridging text and reality: The principles of Tadabbur from An-Nabulsi's perspective in modern tafsir studies Ridwan, Ali; Zulaiha, Eni
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2025): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v4i2.48558

Abstract

This study deeply examines the principles of Tadabbur (contemplation) of Surat Al-Baqarah in Muhammad Ratib An-Nabulsi's exegesis, "Tadabbur Āyātillāh fī al-Nafsi wa al-Kawni wa al-Ḥayāti," and its relevance to contemporary Qur'anic interpretative studies. Tadabbur is essential for holistic Qur'anic comprehension, yet systematic literature on its principles remains limited, especially approaches integrating spiritual, cosmological, and practical life aspects. An-Nabulsi offers a unique methodology bridging sacred texts with modern realities. Employing a qualitative-analytical approach, this study explores An-Nabulsi's Tadabbur principles, highlighting how his exegesis provides a transformative framework for applicable Qur'anic understanding. Findings indicate that An-Nabulsi's principles are highly relevant, offering a new lens for addressing modern human challenges, while enriching the scholarly treasury of tafsir, rendering the Qur'an a dynamic life guide. This research contributes to the development of comprehensive Qur'anic Tadabbur methodologies.
Implementation of the concept of social ethics in the Quran: Analytical study of tafsīr al-munīr fī al-aqīdah wa al-sharīah wa al-manhaj Husni, Abdi Risalah; Zulaiha, Eni
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 5 No. 3 (2025): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v5i3.45879

Abstract

This study aims to analyze the implementation of social ethics concepts in the Qur'an based on Wahbah az-Zuhaili's interpretation, namely Tafsīr Al-Munīr Fī Al-Aqīdah wa Al- Shari’ah wa Al-Manhaj. The research emphasizes the identification of social ethics principles that can be applied in everyday life to build a harmonious and civilized society. The research method employs library research, with Tafsīr Al-Munīr by Wahbah az-Zuhaili serving as the primary source. The primary data consists of verses from the Qur'an and their interpretations, while the secondary data comes from books, scientific journals, and literature related to Islamic social ethics. The analysis was conducted using thematic interpretation. The results of the study show that the application of social ethics includes lowering one's voice when speaking, tabayyun (verifying the truth of news), reconciling disputing parties, being fair, and not criticizing or mocking others. These values can be used as guidelines for social behavior for individuals and society. This study is useful for the fields of religious education, interpretation studies, Islamic social sciences, character and moral development, community development, and as a practical reference for educators, scholars, policymakers, and Muslim communities who wish to apply the social ethics of the Qur'an in practice. This research highlights Wahbah az-Zuhaili's modern interpretation, which integrates aspects of faith, Shari‘ah, and social issues in understanding the social ethics of the Qur'an. This study provides a comprehensive and contextual understanding of the application of social ethical values in contemporary society, while also combining classical and contemporary interpretations to offer an innovative perspective on the study of Islamic social ethics.
Interpretation Method Of Al-Tafsir Al-Tarbawi Li Al-Qur'an Al-Karim By Anwar Al-Baz: Study Of Surah Al-Muzammil Nurdin, Aldi; Rohmatulloh, Acep Ihsan; Haririe, Muhammad Ruhiyat; Zulaiha, Eni
ZAD Al-Mufassirin Vol. 6 No. 2 (2024): ZAD Al-Mufassirin December 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) ZAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55759/zam.v6i2.248

Abstract

The study of the methodology of interpretation not only leads us to be able to understand the content of the Qur'an, but more than that we can know the processes and procedures and ways of each mufassir in interpreting the Qur'an. The purpose of this study is to analyze the method of interpretation of al-Tafsir al-Tarbawi li al-Qur'an al-Karim by Anwar Al-Baz. This research belongs to the type of qualitative research based on literature study using a descriptive analysis approach. The results of this study conclude that there are five specific methods applied by Anwar al-Baz in his tafsir, namely maintaining the writing system based on the mushaf, explaining the meaning of mufradat, explaining the procedural purpose of the verse, explaining the content of verses that have relevance to education, and explaining globally the instructions of verses related to education. The aim of the tarbawi interpretation approach brought by Anwar Al-Baz aims to explore the educational values ​​contained in the verses of the Koran, not specifically to form an educational system or methodology.
Identifikasi Penafsiran Quraish Shihab Tentang Bias Pandangan Ulama terhadap Perempuan: Analisis Hermeneutika Kritis Kurniasih, Nia; Zulaiha, Eni
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 6 No. 12 (2024): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal 
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v6i12.4648

Abstract

Quraish Shihab, an Indonesian Qur'anic exegete, argues that there is a biased perspective towards women rooted in the views of classical scholars and contemporary intellectuals, which, according to him, stems from a misunderstanding of religious texts. Therefore, the aim of this research is to identify Shihab's interpretation of these biases as they relate to specific verses in the Qur'an. Using a qualitative approach and content analysis method, this research is a literature study, with primary data sources being Shihab's thematic exegesis titled Perempuan and Habermas's The Theory of Communicative Action, as well as secondary sources from other relevant literature. The data collection technique employed is documentation, while the data analysis technique utilizes Habermas's critical hermeneutics. The findings reveal that Shihab rejects these biased perspectives. He critiques traditional views by referencing Qur'anic verses and critiques contemporary scholars by correcting their understanding of the verses they cite. Furthermore, based on Habermas's critical hermeneutics analysis, several forms of action and communication are identified in Shihab's interpretation, including normative, communicative, and teleological actions and communication. Criticisms of Shihab's interpretations, as examined through this approach, include several key aspects: an indication of the preservation of patriarchal culture, where some traditional views are upheld; the reinforcement of traditional gender roles, where certain roles are maintained in line with past perspectives; and the limitation of progressive interpretation, which highlights challenges in developing a more contemporary understanding of women's roles in society
The Problems of The Marriage Age Changing in Indonesia in the Perspectives of Muslim Jurists and Gender Equality Zulaiha, Eni; Mutaqin, Ayi Zaenal
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 4 No. 2 (2021): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v4i2.13538

Abstract

The rules regarding the age limit for marriage as contained in Article 7 of Law no. 1 of 1974, which states that the minimum age of marriage for men is 19 years and for women is 16 years. These rules were amended through law no. 16 of 2019, which stipulates that the age limit for marriage, both for men and women, are in the same age, 19 years old. This change is intended to bring benefits of marriage minimizes the conflict in the household. But in fact, the changing age limit for marriage still creates some problems; for example, not a few Muslims view that in Islam, there are no provisions regarding age limits and there are dispensations for those forced to marry under a predetermined age. This research aims to find out the problematics of the law on changing the age limit for marriage. The research approach used qualitative with descriptive analysis methods and literature review. The results of the study indicate that there are several problems regarding the age limit between First, Islamic law does not stipulate a minimum age for marriage, so that some people do not heed the provision; Second, there are some rules regarding dispensation for those who want to get married at the age of 19 by putting forward to the court. This is an opportunity to violate the regulations; Third, changes to the law that have raised the age limit for marriage, in reality, in society, have not been able to stop the rate of early-age marriage.
Co-Authors Abdul Ghoni Abdul Rohman Abdul Rohman Abdul Rohman Abdurrohim Abdurrohim, Abdurrohim Agus Salim Hasanudin Agustin, Kartini Fujiyanti Ahmad Izzan, Ahmad Ahmad Jalaluddin Rumi Durachman Ahmad, Khader Ai Syaripah Aisyiyyah, Lu'luatul Alfathah, Suryana Amin, Imam Muslim Andi Malaka Andika Tegar Pahlevi Andini Andini Anindita Ahadah Anisa Nurfauziah Arif Maulana Asep Ahmad Fathurrahman Asep Ahmad Fathurrohman Asep Amar Permana Asep Muhyiddin, Asep Asniah Asniah Az Zahra Salsabila Bannan Naelin Najihah Basyiruddin, Muhammad Hafizh Busro, B. Dede Kurniawan Dedi Junaedi Fangesty, Maolidya Asri Siwi Farhan Muhammad Farid, Ahmad Fathurrohman, Asep Ahmad Fauziah, Debibik Nabilatul Fitri Meliani, Fitri Fuad Salim Ghinaurraihal Ghinaurraihal Gunara, Yusman Gunawan, Iwan Caca Hafid, Moc Hamdan Taviqillaah, Muhamad Hanna Salsabila Hari Fauji Haririe, Muhammad Ruhiyat Husni, Abdi Risalah Ikhsan, Mocammad Imelda Helsyi Irsad, Nursalim Irsyad, Nursalim Jajang A Rohmana Jenjen Zainal Abidin Lu'luatul Aisyiyyah M. Yunus, Badruzzaman Muhamad Khabib Imdad Muhamad Yoga Firdaus Muhamad Yoga Firdaus Muhammad Bayu Fitriansyah Muhammad Hafizh Basyiruddin Muhammad Ihsan Muhammad Nur Hidayat Muhammad Rijal Maulana Muhammad Sofyan Muhammad Yahya Muhlas Muhlas Muhyi, Asep Abdul Mulyaden, Asep Mutaqin, Ayi Zaenal Nabil Fasha Inaya Nabilah Nuraini Najihah, Bannan Naelin Nana Najatul Huda Nani Nuranisah Djamal, Nani Nuranisah Naufal Mahdy, Widyanto Nazar Fadli nia kurniasih Nida Husna Abdul Malik Nugraha, Sandi Nuraini, Nabilah Nurdin, Aldi Nurdin, Aldi Nurhayat, Tasya Putri Nursaufa, Syifa Paelani Setia Pauzian, Muhamad Hilmi Pebriani Srifatonah Permana, Asep Amar Puspa Rahayu, Tami Dewi R. Edi Komarudin Rahman, Nida Al Ratih Rahmawati Ratminingtyas, Ratminingtyas Restu Ashari Putra Reyazul Jinan Haikal Reza Firmansyah Ridwan, Ali Rika Dilawati Rika Dilawati Rizal Abdul Gani Rohmatulloh, Acep Ihsan Rohmatulloh, Yasin Rusydati Khaerani , IzzahFaizah Siti Sandi Nugraha Sholihat, Novi Nur Sholikul Hadi Siti Aminah Siti Chodijah Srifatonah, Pebrianu Supriyatin, Tintin Suryana Alfathah Susanti Vera Syam, Ishmatul Karimah Syu'aib Z., Ibrahim Taryudi Taryudi Tasya Putri Nurhayat Taufiq, Wildan Taufiq, Wildan Tauviqillah, Muhamad Hamdan Thariq Ibrahim Tina Dewi Rosahdi, Tina Dewi Umillah, Hasya an Vera, Susanti Wahyu Muhammad Abdul Wahid Yeni Huriani Yeni Huriani