Claim Missing Document
Check
Articles

Implementasi Project Based Learning Berbasis Assemblr Edu dalam Membentuk Kreativitas Peserta Didik Kelas VII Mata Pelajaran IPS di SMP Shefira Ninda Kurnia; Sugiantoro, Sugiantoro; Ali Imron; Katon, Katon
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol. 15 No. 4 (2025): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v15i4.3556

Abstract

Model pembelajaran project based learning adalah pembelajaran yang inovatif dan berorientasi pada peserta didik, karena melibatkan peserta didik dalam kegiatan belajar untuk menciptakan proyek sebagai inti proses pembelajaran. Latar belakang penelitian ini berangkat dari permasalahan kurangnya kreativitas peserta didik dalam pembelajaran IPS yang diakibatkan oleh model pembelajaran konvensional, kondisi tersebut mendorong adanya inovasi pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menggali bagaimana implementasi model project based learning berbasis assemblr edu dapat membentuk kreativitas peserta didik dalam pembelajaran IPS kelas VII di SMPN 2 Taman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model PjBL berbasis Assemblr Edu mampu meningkatkan kreativitas dalam pembelajaran IPS. Melalui kegiatan proyek dengan memanfaatkan teknologi dari aplikasi Assemblr Edu, peserta didik menjadi lebih antusias, inovatif, dan terampil dalam menciptakan produk pembelajaran digital yang kontekstual dan menarik. Implementasi model ini juga memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran berbasis teknologi di sekolah menengah pertama.
Pengaruh Penggunaan Media Kahoot Berbasis Kearifan Lokal terhadap Motivasi Belajar dalam Pembelajaran IPS di SMPN 2 Buduran. Rosa Yanuar Widiyanto; Sugiantoro, Sugiantoro; Ali Imron; Katon Galih Setyawan
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol. 15 No. 4 (2025): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v15i4.3557

Abstract

Penelitian ini tujuannya untuk mengetahui pengaruh penggunaan media Kahoot yang berbasis kearifan lokal terhadap motivasi belajar didalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMPN 2 Buduran. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kondisi motivasi belajar yang rendah, sehingga dibutuhkan pembelajaran yang lebih menarik dan sesuai budaya lokal. Penelitian ini memakai desain quasi eksperimen yang dibagikan pada dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan eksperimen. Kelompok eksperimen berjumlah 32 di mana menerima pembelajaran pada kuis Kahoot yang berisi materi berbasis kearifan lokal berupa tradisi Nyadran, sementara kelompok kontrol berjumlah 32 di mana memakai kuis Kahoot dengan materi umum. Data yang dikumpulkan diperoleh dari kuesioner motivasi belajar yang diberi sebelum dan sesudah pembelajaran, kemudian dianalisis dengan uji validitas, reliabilitas, normalitas, uji-t independen, serta skor n-gain. Hasil penelitian memberi petunjuk jika penggunaan media Kahoot yang berbasis kearifan lokal bisa meningkatkan motivasi belajar peserta didik secara signifikan dibandingkan dengan penggunaan media Kahoot dengan konten kuis biasa atau secara umum. Temuan ini memberi petunjuk jika menyisipkan konten kearifan lokal ke didalam pembelajaran digital dapat menjadi cara yang efektif dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik terutama dalam konteks sosial dan budaya mereka.
Potensi Wisata Budaya Siti inggil Sebagai Situs Sejarah Peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto Sayyida Nafisah; Lutfiyatul Laili; Nabila Dini Cantika; Rahma Ayu Clorika; Sugiantoro Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.38

Abstract

Mojokerto merupakan Provinsi di Jawa Timur yang terkenal akan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. Salah satu situs penting di kawasan ini adalah Siti Inggil, yang terletak di Trowulan, Mojokerto. Siti Inggil, yang berarti "Tanah Tinggi" dalam bahasa Jawa, diyakini sebagai tempat penyimpanan setengah dari abu jenazah Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Siti Inggil memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang erat kaitannya dengan Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Tempat ini dipercaya sebagai lokasi persemayaman Raden Wijaya dan berfungsi sebagai petirtaan yang digunakan dalam ritual agama Hindu-Buddha. Di situs ini ditemukan berbagai artefak penting seperti candi, makam, dan Sumur Jatimulya, yang airnya dianggap suci. Melalui penelitian kualitatif dengan studi literatur dan wawancara, untuk mengeksplorasi nilai spiritual dan sejarah Siti Inggil di Trowulan. Selain menjadi tempat ziarah, Siti Inggil juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata budaya yang bisa mendukung pelestarian warisan Majapahit dan meningkatkan ekonomi lokal. Namun, tantangan seperti keterbatasan dana dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga situs ini masih menjadi hambatan, sehingga dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk memastikan pengembangan dan pelestarian yang berkelanjutan.
Eksistensi Rawat Ruwat Ranu Masyarakat Klakah Sebagai Kearifan Lokal Dalam Menghadapi Perubahan Budaya Dan Arus Globalisasi Alya Nainawatsaqifah; Lina Dwi Lestari; Nihayatus Sa'adah; Razita Atsilah; Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.39

Abstract

Indonesia melambangkan negara yang kaya akan keberagaman suku, budaya, bahasa serta agama. Hal ini menunjukkan bahwa tiap-tiap daerah di negara kita yaitu Indonesia memiliki tradisi atau kearifan lokal yang berbeda-beda. Bahkan seiring kemajuan zaman dan arus perubahan globalisasi, tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa daerah yang masih menjaga kearifan lokalnya. Kearifan lokal disetiap daerah sangat bervariasi, misalnya saja tradisi Rawat Ruwat Ranu Klakah masyarakat Desa Papringan, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang termasuk salah satu kearifan lokal berupa kampanye pelestarian lingkungan melalui jalan kebudayaan. Penelitian ini tergolong dalam macam jenis penelitian kualitatif. Dengan metode deskriptif yang digunakan yaitu deskriptif analisis, yaitu penelitian berwujud kutipan peristiwa dalam bentuk kata- kata, kalimat, serta paragraf yang mendemonstrasikan bentuk kearifan lokal tradisi Rawat Ruwat Ranu. Sumber datanya berasal dari data primer melewati tahap wawancara dan data sekunder dari referensi sumber bacaan dan artikel internet. Teknik perolehan data pada penelitian ini memakai metode studi pustaka serta studi lapangan, sementara itu metode pengkajian data terhadap riset ini menerapkan penelitian deskriptif analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya simbol simbol yang mendasari unsur tradisi Rawat Ruwat Ranu. Tradisi ini telah melewati perubahan yang panjang, baik segi nama maupun dari segi tradisi serta tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan tradisi ini. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk memahami makna dan simbolisme tradisi Rawat Ruwat Ranu.
Mengungkap Makna Gendhing-Gendhing : Tradisi dalam Kearifan Lokal Waduk Bunder Gresik Shafa Yuniar Putri Rosyadah; Afifah Wardah Ariesty; Ananda Dwi Setya Dewi; Ivanda Melia Putri; Sugiantoro Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.40

Abstract

Dalam artikel ini, kita akan menemukan makna tradisi gendhing-gendhing dalam kearifan lokal Waduk Bunder Gresik. Gendhing tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai budaya, moral, dan spiritual yang penting bagi masyarakat. Artikel ini mempelajari bagaimana gendhing berperan dalam menjaga keseimbangan sosial dengan memperkuat ikatan komunitas dan memberikan hubungan spiritual yang menghubungkan masyarakat dengan nilai-nilai keagamaan dan leluhur. Gendhing juga mengandung pesan lingkungan yang mengajarkan masyarakat tentang pentingnya pelestarian alam. Dengan demikian, tradisi gendhing-gendhing di Waduk Bunder Gresik menjadi refleksi kearifan lokal yang mampu mengikuti perkembangan zaman sambil tetap mempertahankan identitas budaya dan meningkatkan kesadaran lingkungan. Penelitian ini menekankan betapa pentingnya menjaga tradisi ini untuk generasi berikutnya agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam gendhing tetap hidup dan relevan dalam masyarakat.
Peluang Dan Tantangan Dalam Transformasi Tradisi Sadranan : Studi Kasus di Gunung Kelud Kecamatan Ngancar Viona Aurellia Hadi Widjajanto Putri; Nabiilah Putri Syahrani; Aura Bebyna Zahrotul; Jihan Bilqis; Sugiantoro Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.41

Abstract

Tradisi Sadranan di Gunung Kelud, Kecamatan Ngancar, adalah warisan budaya lokal yang telah berlangsung selama bertahun-tahun sebagai cara untuk menghormati alam dan leluhur. Di tengah pergeseran tradisi ini, ada peluang dan tantangan untuk menjaga keberlanjutan budaya di tengah modernisasi dan perkembangan zaman. Potensi untuk menarik wisatawan, memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda, dan memperkuat identitas masyarakat setempat adalah beberapa peluang yang muncul. Sebaliknya, masuknya elemen asing, komersialisasi budaya, dan kurangnya regenerasi pelaku tradisi menyebabkan perubahan nilai-nilai tradisi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana tradisi Sadranan berubah, serta untuk mempelajari peluang dan kesulitan yang muncul dalam mempertahankan tradisi tersebut di zaman sekarang. Observasi dan wawancara mendalam dengan pelaku tradisi dan tokoh masyarakat, serta wisatawan yang terlibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan aspek spiritual dan sosial budaya menjadi kunci dalam menjaga kelangsungan tradisi Sadranan di Gunung Kelud.
Tradisi Grebek Suro Sebagai Bentuk Rasa Syukur Masyarakat Trowulan Mojokerto Mita Selvia Anggreini; Bening Nur Laili; Abshar Albani; Anggin Puspa Anggraeni; Sugiantoro Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.43

Abstract

Grebeg Suro merupakan salah satu tradisi tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat Trowulan, Mojokerto, sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan serta penghormatan kepada leluhur. Tradisi ini memiliki akar budaya yang kuat, terutama dalam konteks adat Jawa dan kepercayaan lokal yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Grebeg Suro yang biasanya diadakan pada bulan Suro (Muharram) dalam kalender Jawa, mencakup serangkaian upacara adat, doa bersama, dan berbagai pertunjukan seni tradisional. Melalui acara ini, masyarakat Trowulan menunjukkan kebersamaan dan mempererat tali persaudaraan antarwarga. Selain itu, Grebeg Suro juga dianggap sebagai sarana untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan bagi lingkungan sekitar. Artikel ini bertujuan untuk mengulas peran Grebeg Suro dalam mengekspresikan rasa syukur masyarakat Trowulan, Mojokerto, serta melestarikan kearifan lokal di era modern. Kajian ini menggunakan metode kualitatif yaitu kajian literatur. Dimana akan dilakukan pengumpulan data seperti mencatat mencari literatur untuk digunakan dalam mengidentifikasi penelitian agar dapat menjelaskan apa yang didapatkan dari hasil penelitian tersebut. Dengan menggunakan metode ini di harapkan para pembaca dapat dengan mudah memahami penjelasan yang kami berikan dalam artikel ini. Hasil kajian ini dapat memberikan wawasan baru mengenai pentingnya tradisi lokal dalam menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi.
Tradisi Tahunan Grebeg Apem di Kabupaten Jombang Sebagai Simbol Kebersamaan dan Keberkahan Andini Herlina Putri; Nur Elsa Maulidini; Septia Wardani; Tsabita Ayuni Susanti; Katon Galih Setyawan; Sugiantoro Sugiantoro
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.45

Abstract

Abstrak Grebeg apem, sebuah tradisi unik yang berasal dari tanah jawa, merupakan perpaduan menarik antara ritual keagamaan, perayaan budaya, dan ekspresi syukur atas karunia tuhan. Secara simbolis, apoem yang menjadi pusat perhatian dalam upacara ini memiliki makna yang mendalam. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperkenalkan tradisi grebeg apem yang dilakukan masyarakat Jombang sebagai simbol kebersamaan dan keberkahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalambentuk wawancara serta literatur riview yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang relevan mengenai grebeg apem. Tradisi ini menghadapi berbagai tantangan, seperti modernisasi. Namun, semangat pelestarian tradisi ini terus menyala. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga kelangsungan grebeg apem, baik oleh pemerintah, masyarakat, maupun para budayawan. Melalui berbagai inovasi grebeg apem diharapkan dapat terus hidup dan berkembang sebagai salah satu warisan budaya yang ada di Jombang dan tak ternilai harganya. Grebeg apem dapat dikaitkan dengan teori interaksi simbolik dimana kue apem memiliki simbol permohonan maaf kepada Allah SWT. Kemudian, tradisi grebeg apem sendiri bermakna kesyukuran, pembersihan diri, solidaritas sosial dan warisan budaya bagi Masyarakat Jombang. KATA KUNCI Agama;Grebeg apem;Kebudayaan;Simbol
Pelestarian Pencak Silat Lirboyo Kediri sebagai Upaya Merawat Warisan Budaya di Tengah Arus Modernisasi Muhammad Wildan Jauharuddin; Muhammad Galang; Andiva Nailus Mustofa; Muhammad Habib Nasrudin; Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.47

Abstract

Indonesia memerankan negara yang kaya akan kemajemukan dari suku, budaya, bahasa, serta agama. Mengenai hal ini menunjukkan bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal yang berbeda-beda. Terlebih seiring kemajuan zaman dan arus modernisasi tidak dapat dipungkiri bahwa tiap-tiap daerah masih melindungi kearifan lokalnya. Kearifan lokal di setiap daerah sangat beragam, Misalnya saja Tradisi Pencak Lirboyo di Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri termasuk salah satu kearifan lokal berupa aktivitas bela diri melalui jalan kebudayaan. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif. Dengan metode deskriptif analisis yakni penelitian yang berupa kejadian peristiwa dalam bentuk kalimat yang terukur kedalam tradisi Pencak Lirboyo. Datanya bermula dari data primer melampaui tahap wawancara dan dat sekunder dari artikel di internet. Hasil analisi ini menunjukkan pentingnya tradisi Pencak Lirboyo dari unsur kearifan lokal. Tradisi ini telah menempuh transfigurasi sangat panjang dari segi media promosi serta upaya yang dihadapi untuk memepertahankan tradisi ini. Bersamaan dengan ini peneliti terobsesi untuk menghargai makna dari Pencak Lirboyo.
Pemaknaan Simbol dalam Tradisi Ma’nene di Daerah Toraja Arina Eliana Fitria; Nur Farikhatun Nisa’; Aisyah Lailya Nafitri; Maudelyne Nasywa Maulida; Sugiantoro Sugiantoro; Katon Galih Setyawan
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 6 No. 3 (2024): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v6i3.50

Abstract

Tradisi Ma’nene di kalangan masyarakat Toraja merupakan ritual unik yang mencerminkan penghormatan mendalam kepada leluhur melalui pembersihan jenazah. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis simbolisme dalam ritual Ma’nene dan makna sosial yang mendasarinya. Metode kualitatif deskriptif digunakan dengan data primer yang dikumpulkan dari wawancara dengan penduduk Toraja dan data sekunder dari literatur yang relevan. Temuan menunjukkan bahwa simbol-simbol seperti Patane, tau-tau, hewan kurban memiliki makna yang mendalam yang mewakili hubungan spiritual dan status sosial masyarakat Toraja. Ritual ini tidak hanya melestarikan hubungan antara orang yang masih hidup dengan para leluhur, namun juga memperkuat identitas budaya dan kohesi sosial. Kesimpulannya, elemen-elemen simbolis dalam Ma’nene memainkan peran penting dalam melestarikan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi.
Co-Authors Abshar Albani Adelya Dewi Afifah Wardah Ariesty Afifah, Silvi Nur Agustinus Sugeng Priyanto Agustinus Sugeng Priyanto Ahmad Dhani Ahmad Imam Khairi Aisyah Lailya Nafitri Akhila, Akhna Khoiro Ali Imron Ali Imron Ali, Mukti Alya Nainawatsaqifah Ananda Dwi Setya Dewi Andini Herlina Putri Andiva Nailus Mustofa Anggin Puspa Anggraeni Anggraini, Mayla Indah Prihar Anis, Madhan Arina Eliana Fitria Asnimawati, Asnimawati Assegaf, Abd. Rachman Aulia Bayu Aulia Rahman Auliya, Warodil Aqwalil Aura Bebyna Zahrotul Ayu, Friska Az Zahra Wahyu Afifah Azki Faisal Hamdani Bening Nur Laili Buamona, Agung Pratama Dannis Indra Kuncoro Dany Miftah M. Nur Diana Hernawati Dina Feronica Dina Maulina Dwi Faqihatus Syarifah Has Eka Nurmala Sari Agustina, Eka Nurmala Sari Fadli Wahyudianto Fandriya, Adinda Putri Fauziah, Laila Ferani Mulianingsih Fisabilillah, Aqillah Gabriela Kusumo Pratiwi Hartono Hartono Hensliani Malo Heri Cahyo Bagus Setiawan Hutagalung, Malthus Icha Dwi Listari Imam Khairi, Ahmad Indah Amalia, Indah Indra Gumay Febryano Iphan Fitrian Radam Ivanda Melia Putri Januari, Aisyah Firly Wulan Jihan Bilqis Joko Widodo Joko Widodo KACUNG WAHYUDI, KACUNG Katon Galih Setyawan Katon Galih Setyawan Katon, Katon Khaeruddin Khaeruddin Kusnul Khotimah Lina Dwi Lestari Lina Favourita Sutiaputri Lutfiyatul Laili Malo, Hensliani Masrukhi Masrukhi Maudelyne Nasywa Maulida Mimien Henie Irawati Mita Selvia Anggreini Moch. Sahri Moch. Zakki Mubarok Moh. Shofi Mubarok Mohamad Amin Mufidah, Salma Muhammad Afdal Muhammad Alkaff Muhammad Galang Muhammad Habib Nasrudin Muhammad Naharuddin Arsyad Muhammad Wahyudin Muhammad Wildan Jauharuddin Nabiilah Putri Syahrani Nabila Dini Cantika Nihayatus Sa'adah Niswatin Niswatin Niswatin Niswatin Niswatin Niswatin Niswatin Nuansa Bayu Segara Nur Elsa Maulidini Nur Farikhatun Nisa’ Nurani , Ilmi Tri Nurani, Ilmi Tri Nurani, llmi Tri Okhaifi Prasetyo Oktafia Nur Halima Pardiyawan, Pardiyawan Parlindungan Purba, Parlindungan Pratiwi, Rachmawatika Puspasari, Eny Rahma Ayu Clorika Rahma, Nabila Zalia Ratriwardhani, Ratna Ayu Raudya Setya Wismoko Putri Razita Atsilah Reynaldi , Ivan Alvian Reynaldi, Ivan Alvian Rina Hidayati Pratiwi Rini Nurindarwati Riyani, Mufti Rizka Nurlaili Rosa Yanuar Widiyanto Rosyid MA, Ikhsan Rudi Antonius Antonius Salman Al Farisi, Salman Salsabila, Suci Aini Salsabilla Wida Pratama Samsul Arifin Arifin Samsul Bakri Saragih, Dikki Saputra Sayyida Nafisah Septia Wardani Septianingrum, Eka Lutviana Setyawan, Katon Galih Shafa Yuniar Putri Rosyadah Shefira Ninda Kurnia Shena, Aristo Siregar, Berlian Siti Dwi Makhzumah Suhartono Suhartono Suhartono Sunaryan, Rosita Putri Sunaryani , Rosita Putri Sunaryani, Rosita Putri Sunaryo, Merry Supendi, Dita Pertiwi Syafi’i, Imam Telaumbanua, Jelita Purnamasari Tianah, Itaanis Tri Naryawant, Eric Rayfaido o Tsabita Ayuni Susanti Victorynie, Irnie Viona Aurellia Hadi Widjajanto Putri Vivi Novianti Wahyu Widodo Wahyudianto, Fadli Yuliani, Fitria Yuni Suprapto, Yuni Zaiturrahmi, Fauziah Zulkifli Abdurrahman Usman